February 3, 2007

Lupita Lukman: Puisi adalah Dunia Saya

-- Siswoyo

Tangannya terulur menyuguhkan minuman kepada Tek-News ketika menemui di rumahnya. Dia adalah Santika Lupitasari, mahasiswi D3 Ekonomi Perbankan FE Unila.

Kemudian Santika bercerita tentang dunia kesukaannya (puisi, red). “Puisi bagi saya adalah ruang kontemplasi, ruang lain di mana saya dapat masuk dan melihat dengan jujur siapa diri saya,” tutur mahasiswi angkatan 2003 ini.


Sejak SMP, Santika suka membaca karya-karya Chairil Anwar. Jika sudah bertatapan dengan karya Chairil Anwar, ia tidak merasa jemu. Bahkan bisa lupa waktu. Kecintaan Santika pada puisi ternyata terus digeluti dan berlanjut sampai sekarang. Setelah diterima menjadi mahasiswi Unila, ia mulai tertarik dengan Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKM BS).

Baginya, bidang puisi dan teater dapat ia dalami di UKM BS. Jika telah telanjur cinta dengan puisi, ia akan meluangkan waktu untuk menulis puisi dan organi­sasinya. Belajar tentang sajak dan puisi sebenarnya, menurut Santika, mulai mengerti sejak masuk organisasi itu. “Dulu sewaktu remaja, puisi bagi aku ya cuma tentang curhat-curhatan,” katanya mengingat masa remaja.

Dengan berusaha keras, ia sering menulis puisi. Akhirnya, ia membiasakan diri menulis sajak dari pukul sembilan malam hingga tengah malam. Begitu seterusnya setiap malam. Ia menyiapkan diri menulis puisi jam sembilan, mulai menulis, dan pergi tidur jika sudah tengah malam. Berminggu-minggu, berbulan-bulan untuk sebuah sajak.

Kemudian kerja keras Santika tidak sia-sia. Buktinya, sajak pertama yang ditulisnya berjudul “Dengung Ulat” dimuat Koran Tempo, 19 Desember 2004 lalu. Menurut Santika, proses menulis Sajak "Dengung Ulat" sebulan. Idenya itu datang begitu saja. Ia tidak dapat menjelaskan mendapat inspirasi seperti apa. Maknanya pun tidak bisa ia ceritakan. “Kalo sudah menjadi milik publik, pengarangnya sudah tidak berarti, sudah mati dan makna sajak itu terserah setiap orang,” ujar gadis berkacamata minus tiga ini.

Ketika sajaknya dimuat koran terbitan Jakarta itu, lantas ia tidak berhenti menelurkan karyanya kembali. Santika semakin terus berkarya. Sejak itu, puluhan karyanya mulai banyak menghiasi media-media cetak lokal sampai nasional, macam harian Lampung Post, Media Indonesia, Kompas, dan Horison.

Beberapa sajaknya juga telah dibukukan bersama penyair-penyair lain seperti Gerimis (Dalam Lain Versi) terbitan Logung Pustaka, April 2005 dan Perjalanan Senja dari Cakrawala Sastra Indonesia, September 2005.

Saat ditanya apa gaya sajak-sajaknya, ia mengatakan hal itu tidak terlalu dipikirkannya. Ia takut menjadi tidak jujur tentang apa yang ingin ia tulis. “Biarlah mengalir saja. Setelah selesai menulis, terus baru dinilai menggunakan gaya apa sajaknya itu, realiskah, surealiskah, deskriptif, naratif? Tak jadi soal,” kata gadis berusia 21 tahun ini.

Sampai saat ini, sajak-sajaknya dapat dinikmati semua orang. Namun, para penggemar sajak-sajaknya tidak menemukan namanya sebagai Santika. Jauh hari sebelum karya pertama Santika terbit, senior sekaligus gurunya, Ari Pahala Hutabarat mengusulkan menggunakan nama belakangnya, Lupita. Namun, karena dirasa masih kurang sreg, diusulkannya lagi disambung dengan nama orang tuanya. Maka teringatlah Santika dengan nama belakang almarhum ayahnya, Lukman. Ia pun merasa cocok menyandang nama pena itu dengan nama Lupita Lukman.

Di tengah hobinya menulis puisi, kuliah tetap menjadi prioritas utama bagi Santika. Meskipun ia sering pulang malam, bahkan menginap di kesekretariatan UKM BS, organisasi yang membesarkannya, ia menganggap kuliah adalah tanggung jawabnya pada orang tua. Karena orang tuanya telah memotivasi dan memberi kepercayaan kepadanya. “Saya pun akan menyelaraskan profesi keilmuan saya nantinya setelah lulus de­ngan­ hobi menulis. Saya yakin pasti bisa,” ujar anak ketiga dari empat bersaudara ini optimis.

Bagaimana cara menyiasati aktivitasnya? Lupita mengaku terbiasa menyusun jadwal. Ia membagi waktu antara kuliah, organisasi, dan bergaul dengan teman-temannya. Santika menulis puisi tidak saat luang saja, ia mencoba menulis setiap hari, agar makin matang. “Toh aku tak bisa menulis sajak sekali jadi,” ujar gadis yang kini baru terpilih menjadi Ketua UKM BS periode 2006-2007 ini.

Sumber: http://teknokraunila.com, 5 Desember 2006

No comments:

Post a Comment