November 19, 2008

Laras Bahasa: 'Kuntel' karena 'Sekilit'

Oleh Adian Saputra*

SEWAKTU Chris John bertanding melawan Enoki beberapa waktu lalu, saya dan beberapa rekan sekantor ikut menyaksikan melalui televisi. Pertandingan berlangsung seru. Hal itu dibuktikan dengan muka kedua petinju yang lebam karena terkenal pukulan.

Mungkin saking serunya, rekan senior kami, Heru Zulkarnaen, sampai berteriak, "Kuntel, kuntel sana."

Terus terang, sudah lama saya tidak mendengar kata itu. Mang Cek, sapaan akrab Heru Zulkarnaen, ternyata menghadirkan memori kanak-kanak saya dengan kata itu. Insya Allah yang seumur dengan saya dan masih bermain wayang (gambaran) dan kelereng pada 1990-an, akan tahu makna kata itu.

Kuntel, sebagaimana yang saya pahami, artinya berkelahi sampai seru. Bertarung. Suasananya ramai. Gigih. Itulah makna kata kuntel. Namun, saya harus jujur, saya tidak tahu apakah kata itu asli dalam bahasa Lampung atau buatan saja sehingga dikenal banyak orang.

Yang pasti, jika kami dahulu mengadu semut hitam dan kedua ekor serangga itu saling menggigit, pasti kami bilang, "Kuntel, kuntel." Seru pokoknya.

Kalau kami mau berkelahi, kata itu juga acap dipakai. Misalnya, "Ngapa lo. Kuntel yuk. Di Klutum!" Klutum itu nama bukit di daerah Kotabaru, Tanjungkarang Timur, di atas Jalan Dr. Harun II.

Ada pula kata lain yang sering dipakai dan agak lebih terkenal dibanding dengan kuntel. Kata itu ialah sekilit. Sekilit artinya curang. Kalau sedang main wayang (gambaran) ada saja teman yang sekilit. Caranya dengan melapisi sisi gambaran dengan gambar yang sama.

Jadi, kalau setelah dilepas ke udara, nanti pas jatuh ada gambarnya. Terang saja karena kedua sisi ada gambarnya. Itulah contoh sekilit, curang, culas, tidak jujur.

Atau kalau sedang main gundu (kelereng) ketika akan menembak kelereng lawan, tangan kita agak dimajukan, menjulur. Jadi, peluang untuk kenanya lebih besar. Itu juga sekilit. Atau kalau sedang main petak umpet, saat kita menjaga benteng, mata kita sedikit mengintip di mana musuh kita sembunyi. Sekilit juga namanya. Namun, kadar sekilit ini tidak akan sama dengan bentuk kecurangan semisal korupsi, penyelewengan jabatan, dan sebagainya. Kadar sekilit lebih kecil, ya paling-paling dalam ragam permainan anak-anak sehari-hari.

Kata kuntel dan sekilit memang tidak ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sehingga jika akan ditulis pasti dicetak miring. Namun, karena bahasa Indonesia itu dibentuk dari beragam kata dan istilah yang ada, peluang kuntel dan sekilit masuk kamus pun bukan tidak mungkin terjadi.

Syaratnya tentu saja pengguna bahasa lisan sering menggunakan kata ini sehingga skala penggunaan kedua kata itu masif. Minimal untuk skop orang se-Lampung. Kalau diperhatikan juga, ada banyak kata di kamus, tapi tidak banyak dipakai orang.

Proses pengindonesiaan yang mungkin tidak berselera, menjadikan beberapa kata jarang dipakai. Kata file dalam bahasa Inggris sudah ada di kamus dan berubah menjadi fail. Kata chaos di kamus bahasa Inggris, ditulis kaos dalam KBBI.

Karena proses pengindonesiaannya agak tidak sesuai dengan selera dan citarasa, yang kemudian dipakai ya tetap file dalam bahasa Inggris untuk menunjukkan berkas, data. Kata chaos dipertahankan ketimbang memilih kaos yang jangan-jangan diartikan sebagai jenis pakaian (kaus).

Provinsi Lampung memang menyumbang wai yang berarti sungai atau kali. Tapi, ini juga rada tidak kompak karena pilihan menulis wai itu oleh banyak media ditulis way (pakai huruf y, tidak i).

Kembali ke kuntel dan sekilit. Peluang kedua kata itu masuk kamus terbuka lebar. Syaratnya, kita yang ada di Bumi Lada ini rajin mengartikulasikannya dalam percakapan, insya Allah lambat laun akan diterima.

Tapi, ya jangan sampai ada perdebatan kemudian saling menegangkan urat leher karena tidak setuju dengan isi tulisan ini. Jangan sampai kita kuntel, apalagi gara-gara sekilit.***

* Adian Saputra, Staf Tim Bahasa Lampung Post

Sumber: Lampung Post, Rabu, 19 November 2008

1 comment:

  1. Anonymous10:25 PM

    selain itu ada juga kata kongek (ngatain), sumpuk (norak), sampai merantau k bandung untuk kuliah pun, kata-kata itu masih k bawa-bawa, apa lagi kalo anak lampung udah kumpul, kleluar semua kata-kata keramat itu,
    hehehe...

    ReplyDelete