April 20, 2011

Udo Z Karzi Memuliakan Bahasa Lampung dengan Puisi

Oleh Christian Heru Cahyo Saputro


PERJUANGAN pria kelahiran Liwa, Lampung Barat, 12 Juni 1970 untuk memuliakan bahasa Lampung lewat dunia sastra tak sia-sia. Kerja keras Udo Z Karzi pseudo name dari Zulkarnain Zubairi dalam jagad sastra daerah membuahkan hasil. Lewat buku kumpulan puisi berbahasa Lampung bertajuk Mak Mawah Mak Dibingi (BE Pers, 2007) Udo berhasil menyabet Hadiah Sastra Rancage 2008.

Keberhasilan Udo Z Karzi sekaligus mencatatkan diri orang pertama di luar pulau Jawa dan Bali yang menerima penghargaan yang diberikan Yayasan Kebudayaan Rancage yang dirintis sastrawan Ajip Rosidi sejak tahun 1993 ini.

Pria rendah hati yang kini ditugaskan Media Grup sebagai jurnalis di Harian Borneo News ini boleh dikatakan satu-satunya orang Lampung yang mempublikasikan karya-karya puisi berbahasa Lampung.

Kiprahnya di jagad jurnalistik sebagai wartawan lepas Lampung Post (1995-1996) dan reporter Majalah Sinar, Jakarta (1997-1998). Sempat mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar Ekonomi-Akuntansi SMA Negeri dan MAN di kota kelahirannya (1998) sebelum menjadi jurnalis Surat Kabar Umum Sumatera Post (1998-2000), Lampung Post (2000-2006), dan Harian Borneo News, Pangkalan Bun (2006- hingga kini)

Bapak dua anak yang sudah malang melintang di dunia jurnalistik ini juga suka menulis puisi, cerpen, dan esai di berbagai media lokal dan nasional sejak 1987. Udo yang nekad merilis karya-karya puisinya dalam bahasa Lampung ini dikenal sebagai pembaharu dalam tradisi perpuisian berbahasa Lampung.

Namanya mulai diperhitungkan sejak buku sajaknya Momentum diterbitkan Dinas Pendidikan Provinsi Lampung pada tahun 2002. Dia disebut-sebut juga sebagai pelopor sekaligus bapak puisi modern (berbahasa) Lampung.

Karya-karya puisinya termuat dalam Daun-Daun Jatuh, Tunas-Tunas Tumbuh (Teknokra, 1995), Lampung Kenangan (Dewan Kesenian Lampung, 2002), Konser Ujung Pulau (Dewan Kesenian Lampung, 2003), Pertemuan Dua Arus (Jung Foundation, 2004), Maha Luka Aceh (PDS HB Jassin, 2005), Ode Kampung (Rumah Dunia, 2006), dan Anthology Empathy Jogja (Pustaka Jamil,2006).

Sedangkan cerpen-cerpennya termuat dalam Sapardi Djoko Damono dkk. (Ed.) Graffiti Imaji (YMS, 2002) dan The Regala 204B (Gapuraja, 2006).

Terkini buku puisinya, Mak Dawah Mak Dibingi (BE Press, 2007) meraih Anugerah Hadiah Sastera Rancagé 2008 untuk kategori sastra Lampung.

Keberhasilan buku Mak Dawah Mak Dibingi menyabet Hadiah Sastera Rancage 2008 menurut Udo sebenarnya hanyalah pintu masuk bagi upaya memperjuangkan bahasa dan sastra Lampung. Artinya, semua ini merupakan pemicu agar sastrawan Lampung yang menggunakan bahasa Lampung sebagai media ungkapnya, harus terus berupaya melahirkan karya-karya sastra berbahasa Lampung. “Ini sebuah langkah awal ke depan diharapkan akan menyusul karya-karya sastrawan lainnya dari Lampung,” ujar Udo.

Diharapkan ke depan, para seniman tradisi Lampung yang selama ini asik dengan kelisanannya juga bisa melahirkan karya dalam bentuk teks (buku). Diharapkan Hadiah Rancage ini bisa membawa kehidupan sastra berbahasa Lampung lebih dinamis.

Setidaknya, lanjut Udo, momen ini dapat dijadikan titik tolak kebangkitan sastra Lampung dan menumbuhkan kepercayaan penutur bahasa Lampung. Kalau selama ini orang liyom bila menggunakan bahasa Lampung jadi bangga. Karena ternyata bahasa Lampung bisa modern, berdaya dan bergaya. “Harapannya ke depan bahasa Lampung bisa menjadi media ekpresi-imajinatif dan kreatif sehingga bisa melahirkan karya-karya sastra yang bernas sebagaimana bahasa Jawa, Sunda dan Bali."

Udo mengaku mulai tertarik menulis puisi dalam bahasa Lampung pada tahun 1999. Ketika sebuah puisinya bertajuk "Bagaimana Mungkin Aku Lupa" menjadi pemenang kedua Lomba Cipta Puisi Narasi Wisata-Budaya Lampung yang diselenggarakan dalam rangkaian Festival Krakatau IX tahun 1999.

Puisi itu memang merupakan pengalaman batinnya tentang apa yang – mungkin -- disebut sebagai budaya Lampung. Tapi, begitu Udo melihat betapa banyak catatan kaki yang harus dibuatnya. Kemudian Udo iseng mengalihkan puisi itu ke bahasa Lampung. Lumayan bagus dan terasa lebih tepat untuk mengembangkan imajinasi tentang kelampungan.

Dan, satu hal lagi, ketika puisi itu berubah menjadi puisi berbahasa Lampung, Udo tidak perlu membuat catatan kaki kahi untuk kata atau idiom khas bahasa Lampung

Di samping itu, Udo juga bersentuhan dengan majalah berbahasa Jawa, Penjebar Semangat yang di dalamnya memuat artikel, geguritan, cerita cekak (cerkak), cerita humor, dan lain-lain.

Pada tahun 1999 itu diselenggarakan sebuah seminar Bahasa Lampung. Secara mengejutkan pakar sosiolinguistik dari Universitas Indonesia mengatakan 75 tahun mendatang bahasa Lampung akan punah kalau tidak diupayakan pelestariannya.

Pada waktu itu Udo Z Karzi hanya ingin menulis puisi-puisi dalam bahasa Lampung. Pada tahun 2000 setelah terkumpul dalam sebuah manuskrip ditawarkannya pada penerbit yang mengaku punya komitmen terhadap pengembangan seni dan budaya Lampung. Ternyata buku puisi itu ditolak, alasannya tak kenal jenis puisi seperti itu.

Udo tak habis akal. Kalau bahasa Jawa, Sunda dan Bali bisa mengapa bahasa Lampung tidak. Akhirnya, atas beberapa saran puisi-puisi itu dibuat dalam dwibahasa dan kemudian diterbitkan Dinas Pendidikan Lampung Tahun 2002.

Udo sempat kapok menerbitkan karya-karyanya dalam bahasa Lampung. Tetapi diam-diam Udo mernyiapkan manuskrip puisi Mak Dawah Mak Dibingi (Tak Siang Tak Malam). Sentuhan perkenalannya dengan Irfan Anshory yang punya interes sama di dunia maya membangkitkan semangat Udo kembali untuk menelurkan karya sastra berbahasa Lampung.

“Namun, tradisi kepenulisan sastra berbahasa Lampung tak bergerak-gerak juga. Dengan latar itulah, saya menulis dengan bahasa Lampung. Setidaknya, ini sebuah upaya saja agar bahasa Lampung tak punah,” ujar Udo membeber strateginya.

Kebetulan BE Press yang diawaki Y Wibowo, Mustaan dan Budi Hutasuhut menggagas untuk menerbitkan bukunya dalam bahasa Lampung.

Menurut Udo tak ada kendala dalam menulis karya sastra berbahasa Lampung. Kendala itu hanya berkaitan dengan teknis belaka ketika hendak disosialisasikan atau dipublikasikan. Tidak seperti bahasa Jawa, Sunda, dan Bali , Lampung tidak memiliki majalah berbahasa Lampung. Apalagi hendak diterbitkan menjadi buku, lebih sulit lagi.

Problem besar yang dihadapi bahasa Lampung, menurut Udo, sangat kompleks. Jumlah penutur yang hanya sekitar 15 persen dari penduduk Lampung menjadi masalah utama. Upaya memperluas pemakaian bahasa Lampung sering terbentur oleh heterogenitas bahasa yang dituturkan masyarakat Lampung. Jadi, perlu kerja keras untuk itu.

Di sisi lain, Pemerintah Daerah di Lampung relatif tidak memiliki kebijakan yang jelas dan strategis bagi pemertahanan bahasa Lampung. Ketimbang terus-terusan mengeluhkan betapa generasi muda tidak lagi akrab dengan bahasa Lampung, lebih baik para pemimpin daerah Lampung merumuskan langkah konkrit bagi pengembangan bahasa Lampung.

Peraturan Daerah (Perda) Bahasa Daerah Lampung kalaupun jadi dibuat dan disahkan bisa jadi hanya menjadi dokumen hiasan jika pemerintah daerah tidak memiliki arah kebijakan yang jelas tentang bahasa Lampung. Apalagi jika semua itu lebih berbau politis ketimbang memang didasari sebuah sikap budaya untuk benar-benar memberdayakan bahasa Lampung.

Sedangkan problem besar pengembangan sastra Lampung adalah ’kemalasan’ orang Lampung saja. Orang Lampung lebih suka ngomong ketimbang nulis. Kata pengamat sastra Lampung, Lampung memiliki lebih dari 30 jenis sastra lisan. “Sastra lisan dan sastra tulisan harus mulai berjalan seiring agar sastra Lampung ke depan berkembang lebih dinamis,” ujar Udo mengingatkan.

Pemilik blog berbahasa Lampung ini mengaku nekat membuat blog berbahasa Lampung paling tidak bisa dijadikan media penyampaian unek-unek sekaligus medianya untuk mengekspresikan dan berlatih menulis dalam bahasa Lampung. “Ya, kalau pun nantinya bahasa Lampung benar-benar punah. Setidaknya dalam blog ini masih ada teks bahasa Lampung masih tersisa,” ujar Udo

Udo menyemai harapan ke depan bahasa Lampung tetap eksis, berkembang, dan mampu menjadi bahasa kreasi bagi penuturnya. Dia yakin bisa asal ada upaya yang sungguh-sungguh untuk menjaga, melestarikan, memberdayagunakan, dan membuat bahasa Lampung lebih bergengsi. “Saya beranggapan bahasa Lampung adalah penopang utama kebudayaan Lampung. Kalau bahasa Lampung punah jelas pula yang disebut kebudayaan Lampung kiamat,” ujar Udo mengingatkan.

Udo juga berharap pemerintah, kalangan swasta termasuk media massa dan penerbit buku, sastrawan lain, dan masyarakat Lampung untuk mendukung terhadap pengembangan bahasa dan sastra Lampung.

Yayasan Kebudayaan Rancage memutuskan memberikan penghargaan terhadap sastra Lampung tahun 2008 dengan harapan agar kehidupan sastra (berbahasa) Lampung menjadi lebih dinamis. Setelah Hadiah Sastra Rancage 2008 diberikan kepada Mak Dawah Mak Dibingi, maka tidak bisa tidak setiap tahun harus ada buku sastra Lampung yang masuk penilaian Rancage. Sebab, sejak 2008 Yayasan Kebudayaan Rancage akan rutin memberikan Hadiah Rancage untuk sastra daerah yang ditulis dalam bahasa Sunda, Jawa, Bali , dan Lampung.

Dengan kata lain, tidak ada pilihan lain, Lampung harus menerbitkan buku sastra Lampung minimal satu buku satu tahun. Tidak boleh putus. “Ini kabar yang menggembirakan untuk sastra dan sastrawan Lampung sekaligus tantangan yang tidak mudah. Soalnya menerbitkan buku sastra Lampung jelas jauh dari untung,” ujar Udo sembari berharap masih ada “orang gila” yang mau menerbitkan buku sastra Lampung, sehingga jalan yang dibuka tak sia-sia.

Meski hingga detik ini Udo masih was-was. Persoalannya, tak satu pun buku sastra berbahasa Lampung menjelang akhir tahun ini terbit. Padahal untuk dinilai dan untuk mengikuti Hadiah Sastra Rancage buku yang harus disetorkan akhir tahun ini. “Sangat disayangkan Pemerintah Provinsi Lampung tak punya perhatian dan tidak menganggap event ini sebuah prestise. Sedangkan orang-orang Lampung sendiri punya Piil (harga diri) kalau berebut jadi calon Gubernur."

Sumber: Horison Online, Rabu, 20 April 2011 ( http://horisononline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=230:udo-z-karsi-memuliakan-bahasa-lampung-dengan-puisi&catid=12:rampai-rampai&Itemid=12 )

No comments:

Post a Comment