April 27, 2014

[Lampung Tumbai] De Lampoengers

Oleh Frieda Amran
Penyuka sejarah, bermukim di Belanda

BIASANYA dalam setiap pertemuan Indisch Genootschap, seseorang diminta memberikan ceramah dengan topik yang dianggap relevan untuk pengembangan kepentingan Hindia-Belanda. Pada 16 Maret 1923, ketua perkumpulan itu, C. van Vollenhoven, mempersilakan R.A. Kern untuk berbicara mengenai orang Lampung. Pada hari itu, ceramahnya berjudul Over 't Lampuengsche Volk dengan kata lain Tentang Orang Lampung.

Litograf armada dagang Cornelis de Houtman, abad ke-17.
(dilukis oleh W. Hanna)
Dari mana nama Lampung? Tidak diketahui apakah di zaman dahulu kala nama itu digunakan untuk membedakan diri dengan tetangga-tetangganya di daerah lain, tetapi pada awal abad ke-20, nama orang Lampung sudah lazim digunakan. Orang Lampung sendiri menggunakan istilah aboeng (oeloen aboeng) untuk mengacu pada penduduk yang tinggal di daerah dataran tinggi, berbeda dengan penduduk yang tinggal di dataran rendah. Oleh karena itu, ada dugaan nama Lampung sebetulnya digunakan sebagai istilah untuk menyebutkan penduduk dataran rendah.


Pemerintah Hindia-Belanda secara resmi menggunakan nama Distrik Lampung. Di luar daerah administratif itu, secara etnografis daerah budaya Lampung mencakup penduduk daerah perbatasan tenggara dengan Kroe, penduduk bagian selatan Bengkulu dan penduduk bagian utara aliran Sungai Komering—mulai dari daerah Goenoeng Batoe.

Residen Lampung yang pertama J.A. Du Bois (1818—1829) menggunakan istilah marga untuk menyebutkan distrik-distrik atau wilayah administratifnya. Pada 1832, terdapat lima afdeling (daerah/wilayah) dengan beberapa marga di bawahnya. Seorang kepala distrik (goevernementsdisstriktshoofd) memimpin setiap afdeling.

Dalam sebuah artikel yang ditulis untuk Tijdschrift van Nederlandsch-Indiƫ pada 1847, H. Zollinger pertama kali menggunakan istilah Lampongsche Districten untuk mengacu pada wilayah-wilayah daerah Lampung. Pada waktu itu, distrik-distrik itu sudah bertambah menjadi enam buah. Di zaman VOC, orang menyebut keseluruhan wilayah itu sebagai de Lampoengs saja. Nama inilah yang juga biasa digunakan sehari-hari (oleh orang Belanda).

Nama ini pula yang diusulkan oleh R.A. Kern untuk tetap digunakan secara resmi.

Orang Palembang tinggal di sebelah timur laut, di dekat Masoedji, sungai yang menjadi perbatasan dengan wilayah Palembang. Di tepian Teluk Lampung dan di sekitar Teloek Betoeng tinggal penduduk pendatang dari segala daerah; yang paling banyak berasal dari Banten. Orang Jawa (dari Jawa Tengah) tinggal di daerah transmigrasi (yang ketika itu disebut kolonisatie) Gedongtataan.

Bila semua penduduk itu dijumlahkan, tidak sampai 200 ribu orang Lampung tinggal di daerah yang luasnya kira-kira sebesar negara Belanda. Dibandingkan negeri itu, Lampung memang berpenduduk sangat jarang. Tidak banyak wilayah di Sumatera yang penduduknya sesedikit Lampung.

Sejarah dari Lampung hanya dikenal dari cerita-cerita lisan. Tampaknya, awalnya permukiman dibangun pertama-tama di sebelah utara. Dari daerah Danau Ranau (yang berada di perbatasan antara Palembang dan Bengkulu), penduduk menyebar seperti kipas yang terbuka: ke arah selatan dan timur sampai ke tepian laut. Di pinggir laut itulah mereka bertemu dengan orang dari Kesultanan Banten yang berdiri sejak awal abad ke-16. Sejarah mencatat orang Banten kemudian menyeberang ke Pulau Sumatera untuk memperluas daerah kekuasaan mereka.

Orang Palembang pun berusaha menguasai Lampung, melalui jalan darat maupun laut, tetapi usaha mereka selalu saja dipatahkan oleh orang Banten. Dengan menyusutnya kekuasaan Banten oleh kedatangan dan pengaruh Kumpeni, kekuasaan mereka atas daerah Lampung dan Sumatera bagian selatan pun berkurang. Pada 1808, ketika Daendels menyerang dan akhirnya berhasil menaklukkkan Kesultanan Banten, ia sekaligus memproklamirkan de Lampongsche Provincien sebagai bagian dari wilayah Hindia-Belanda.

Raffles mengambil alih seluruh wilayah Lampung. Ia memisahkan Kroe dari Lampung dan menyatukannya dengan Bengkulu pada 1813. Ketika Belanda merebut kembali kekuasaannya, seharusnya Kroe—seperti halnya daerah-daerah lain di nusantara—kembali; tetapi itu tidak terjadi.

Baru pada 1824, ketika Belanda dan Inggris menandatangani traktat pembagian wilayah penjajahannya, zoo goed als de andere kolonien moeten zijn teruggegeven, Kroe kembali ke tangan Belanda. Walaupun begitu, daerah itu tetap menjadi bagian dari wilayah administratif Bengkulu.

Tidak beda dengan daerah-daerah dalam kategori buitenbezittingen (daerah luar Jawa), di awal abad ke-19, Lampung dan penduduknya tidak diperhatikan. Pada 1856, sebuah ekspedisi militer dikirimkan dan tanpa penolakan yang berarti, daerah itu mulai dimasukkan ke wilayah kekuasaan Hindia-Belanda. Untuk daerah Kroe dan Komering Atas tidak diperlukan ekspedisi militer lagi karena daerah-daerah itu sudah lama dikuasai Belanda.

Sejauh itu, sejarah masa lalu Lampung menunjukkan persamaan dengan banyak daerah lain di Nusantara. Hanya satu hal yang membedakannya. Di daerah lain, Belanda menemui penduduk asli yang tinggal tersembunyi di dalam belantara yang lebat tanpa diketahui atau pun dikenali oleh bangsa-bangsa luar. Lain halnya dengan Lampung. Berabad sebelum kedatangan Belanda, orang Lampung sudah banyak berhubungan dengan dunia luar karena lada yang tumbuh di tanahnya.

Ketika belum ada pelayaran langsung yang menghubungkan dunia Barat dan Timur, Nusantara masih terselubungi kabut misteri. Samar-samar orang di Barat tahu lada, rempah-rempah yang mampu mengubah makanan biasa menjadi istimewa, didatangkan dari tempat yang jauh dan tidak dikenal. Rempah-rempah itu tidak hanya menggelitik indra perasa di dalam mulut, tetapi tempat tumbuhnya juga membangkitkan rasa ingin tahu orang Eropa (dan rasa ingin menguasai sumbernya).

Orang Eropa berlomba-lomba mencari sumbernya. Diawali oleh Portugis dan disusul oleh Belanda. Ketika Cornelis de Houtman, di atas kapal Belanda yang pertama ke Nusantara, menjatuhkan sauh di lepas Pantai Banten, pedagang-pedagang lada dari Amsterdam yang ikut dalam pelayaran itu barangkali sudah membayangkan kekayaan yang dapat diraupnya.

Tidak lama setelah sauh dijatuhkan pertama kali itu, seluruh lada yang diperdagangkan di Belanda berasal dari Indonesia. Banten merupakan pemasok lada yang terbesar. Komoditasnya diperoleh dari daerah-daerah yang dikuasai kesultanan itu di Sumatera, terutama Lampung. n

Pustaka acuan:
Indisch Genootschap
Vergadering van 16 Maart 1923.

Sumber: Lampung Post, Minggu, 27 April 2014

1 comment:

  1. dimana mana tempat di dunia ini,yg nama nya penjajah dan penjajahan,ujung2 nya berakhir di penjarahan.Sama hal nya dg daerah lampung, para Demang2 yg diangkat oleh Belanda,sebagai kepanjangan tangan mereka,,sepeninggal Belanda,tetap melanjutkan pengaruh dan merasa berkuaasa atas makhluk lain nya,Begitu juga dg sebagian para pencari martabat di kesultanan Banten tempo dulu,meski kesultanan ini,sekarang hanya tinggal nama,.tetap meras bangga dg adok dan gelaran nya,.Demikian lan hal tsb berlanjut sampai sekarang,.

    ReplyDelete