April 12, 2010

Profil: Rapanie, Pakar Aksara Kaganga dari Sumsel

KELESTARIAN aksara kaganga yang merupakan aksara khas dari kawasan Sumatera bagian selatan, khususnya di Sumsel, semakin terancam. Namun, aksara tersebut belum menarik banyak orang untuk mempelajarinya.

Rapanie Igama (WAD)

Satu-satunya pakar bahasa kaganga di Sumsel yang mampu membaca, mengartikan, dan memahami filologi (ilmu tentang naskah kuno) adalah Rapanie Igama (46), pamong budaya ahli pada Museum Negeri Sumsel.

Kepada Kompas yang menemui Rapanie di Museum Tekstil Sumsel, Minggu (11/4), Rapanie mengatakan, awal ketertarikannya terhadap aksara kaganga karena di Museum Negeri Sumsel tempatnya bekerja terdapat beberapa naskah dengan aksara kaganga. Namun, Rapanie tidak dapat membaca, apalagi mengartikannya.

Merasa tertantang, Rapanie menemui pakar aksara kaganga dari Universitas Bengkulu, Sarwit Sarwono, pada tahun 1996. Rapanie meminjam buku-buku tentang aksara kaganga milik Sarwit kemudian mempelajarinya.

Setelah mempelajari selama empat tahun, Rapanie baru bisa memahami seluk beluk aksara kaganga, termasuk filologi yang terkait aksara kaganga.

Menurut Rapanie, Museum Negeri Sumsel memiliki empat naskah dengan aksara kaganga. Dua naskah berupa kakhas (semacam kitab terbuat dari kulit kayu), satu naskah berupa gelumpai (berbentuk buluh dari bambu), dan satu naskah berupa gelondongan dari bambu. Adapun di Museum Nasional, Jakarta, tersimpan 74 naskah dengan aksara kaganga.

”Saya pernah meneliti naskah aksara kaganga milik warga di Bumiayu dan Pagar Alam. Saya sempat mendokumentasikannya. Sayangnya, naskah-naskah itu dikeramatkan pemiliknya sehingga justru tidak tersimpan dengan baik,” ujar ayah dari Prima Ahmadi dan Suryaninda itu.

Pria yang lahir di Palembang, 23 Maret 1964, itu mengatakan masih sangat banyak naskah dengan aksara kaganga yang tersimpan di rumah-rumah. Sebagian besar pemilik naskah mendapatkan naskah tersebut secara turun-temurun.

Naskah yang pernah dibaca Rapanie berisi tentang ajaran agama Islam dan kisah mengenai Nabi Muhammad. Naskah tersebut diperkirakan berasal dari abad XVII Masehi.

”Di Bandung, ada orang asal Sumsel yang menyimpan banyak naskah aksara kaganga. Saya mau ke sana untuk mendokumentasikan, tetapi anggarannya tidak tersedia. Tidak mungkin saya pakai uang sendiri pergi ke sana,” ungkapnya.

Menurut alumnus Fakultas Sastra Indonesia UGM itu, telantarnya naskah dengan aksara kaganga disayangkan karena aksara kaganga merupakan bukti tingginya kebudayaan masyarakat Sumsel. Sebab, tidak semua suku di Indonesia memiliki sistem aksara.

Rapanie mengungkapkan, kurangnya dukungan dari pemerintah daerah untuk melestarikan naskah aksara kaganga juga sangat disayangkan. Pemerintah daerah seharusnya memiliki inisiatif untuk mendokumentasikan dan meneliti naskah aksara kaganga yang tersebar di mana-mana. (WAD)

Sumber: Kompas, Senin, 12 April 2010

April 11, 2010

[Perjalanan] Asyiknya Bercengkerama dengan Lumba-Lumba

MENYAKSIKAN ikan lumba-lumba di gelanggang atau sirkus memberikan kesenangan tersendiri. Terlebih melihat satwa air yang jinak itu menunjukkan kebolehannya bersama sang pelatih atau pawang.


Namun, saat melihat lumba-lumba bermain di laut lepas sambil mengiringi kapal yang kita tumpangi, chemistry-nya menjadi berbeda. Bukan senang, tapi sangat-sangat senang, bahkan membuat takjub.

Bagaimana tidak, kita bisa bercengkerama langsung dengan si dolphin yang ramah ini.

***

Kamis (1-4), sekitar pukul 09.00, tim perjalanan Lampung Post didampingi Fadliansyah (Yeye) dari Cikal (Cinta kepada Alam), salah satu LSM mengurusi ekowisata di Teluk Kiluan, memulai perjalanan ke Kiluan, Kecamatan Kelumbayan, Tanggamus, dengan kendaraan minibus.





Kami memilih jalan darat karena sudah mampu dilalui dengan kendaraan roda empat. Sebelumnya, kendaraan roda empat hanya sampai di Pasar Bawang saja dan harus melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor sampai di Desa Kiluan Negeri.

Perjalanan kami menuju lokasi memakan waktu sekitar empat jam, termasuk istirahat makan siang. Padahal jarak tempuh hanya sekitar 80-an km saja.

Hal ini disebabkan jalan yang mulai tak bersahabat, berlubang hingga berkubang, selepas dari pangkalan TNI AL di Piabung, Padangcermin, Pesawaran.

Rata-rata kecepatan sekitar 40 km/jam, bahkan di bawah itu. Belum lagi medan yang terjal, menukik dan menurun hingga 30 derajat, yang si sisi kiri dan kanan terdapat jurang yang menganga. Beruntung siang itu cuaca cerah menyengat, padahal semalam baru saja hujan mengguyur bumi Lampung secara merata.

Ya, selepas dari Desa Bawang, jalan tak lagi beraspal, tetapi tanah yang baru saja diperbaiki. Kami melihat ada alat berat yang tengah memperbaiki jalan yang longsor. Rasanya adrenalin langsung berpacu. Di sinilah nikmatnya perjalanan menuju Kiluan yang mulai tersohor hingga ke mancanegara.

Dirhamsyah, koordinator Pokmaswas (kelompok masyarakat pengawas), ikut dalam rombongan kami. Namun, ia menggunakan kendaraan roda dua yang ternyata lebih lincah dan lebih cepat menuju ke lokasi sasaran.

Sekitar pukul 13.00, kami tiba di Kiluan Negeri. Pemandangan indah terlihat di sini, di mana masjid dan pura (tempat ibadah agama Hindu) saling berdampingan satu sama lain. Ah, kerukunan beragama yang terjaga di desa ini rupanya.

Kendaraan kami parkir di salah satu rumah Kadek, kepala dusun setmpat. Kami menuju perahu yang akan menyeberangkan ke Pulau Kiluan. Sebelumnya mampir di sebuah toko serbalengkap, untuk membeli aneka kebutuhan makanan serta peralatan mancing. Maklum, selain melihat lumba-lumba, kami pun ingin memancing di Teluk Kiluan ini.

Perahu Sudarno ternyata telah menunggu. Wow! perahu katir dan lumayan kecil. Namun, perahu tersebut mampu membawa kami ber-10 orang, termasuk nakhoda menuju ke Pulau Kiluan yang berjarak sekitar 1 km saja dari daratan. Deg-geg plas juga sih, soalnya kelebihan muatan nih.

Wow! pekik itu kembali terucap begitu melihat air di sekitar Teluk Kiluan yang berwarna biru jernih hingga biru pekat yang kami lintasi. Apalagi saat perahu kami mendarat di pantai berpasir putih bak mutiara.

Ah, pupus sudah rasa penat dan deg-deg plas perjalanan kami tadi. Apalagi saat kaki tenjang ini menginjakkan kaki di pasir yang lembut.

"Cakepnya," kata Pipi, salah satu dari rombongan kami berucap. Saya langsung menyetujuinya. "Indah sekali dan alami."

Kami langsung membawa berbagai perbekalan ke pondokan, rumah panggung yang dikelola Pak Abdullah dan Ibu Rohana. Rumah adem yang nyaman. Ada 8 kamar yang bisa disewakan kepada pengunjung. Kami mengambil beberapa kamar.

Kami rehat sebentar sambil minum kopi dan mempersiapkan pancing, serta ngobrol dengan pengelola pondokan yang telah 16 tahun mendiami Pulau Kiluan tersebut. Ramah dan bersahabat. Di pulau itu hanya tinggal mereka berdua bersama Sudarno, sang nakhoda bersuara serak-serak basah itu. Setiap akhir pekan, pasti banyak tamu yang datang ke pondokan mereka.

Pukul 14.30, matahari masih terik. Kami mulai mendorong perahu sambil membawa perlengkapan. Saatnya memancing!

Lokasi memancing tak jauh-jauh dari pulau, kami berdelapan mulai berdesakan di atas kapal mengambil PW (posisi wuenak, red). Tak ada pelampung!

Setelah menemukan lokasi, pancing mulai diturunkan. Ternyata Pipi yang pertama mendapatkan ikan kerapu merah. Tidak besar, tapi cukup memacu kami untuk terus menggerakkan mata pancing. Ah, peruntungan saya belum di hari itu, umpan di pancing cuma ditotol-totol saja.

Kami memancing hingga matahari terbenam, dan menyaksikan keindahan sunset yang jatuh di ufuk barat. Wah...cantiknya...jarang-jarang melihat sunset jatuh di kaki laut.

***

Malamnya kami mulai membakar hasil tangkapan ikan. Ada ikan kerapu merah, kambingan, jelendok, raja ganteng, dan lain-lain...

Kami membuat api punggun di pinggir pantai, di bawah cahaya bulan purnama. Duhai, indah nian cahaya bulan ini. Di pasir yang putih dan halus itu, saya terpekur menatap sang rembulan yang luar biasa lembutnya. Wow! Romantis.

Tak lama kami pun menyatap ikan bakar hasil olahan tangan Meza, Erlian, dan Yeya. Hmmm...nyumi, cocolan sambal botol menambah cita rasa ikan yang manis. Memang, ikan yang baru saja ditangkap dari laut tersebut akan terasa manis karena masih segar, ketimbang ikan yang dijual di pasar atau pelelangan.

Tiba-tiba awan hitam menggumpal dan hujan pun turun. Kami beranjak dari pinggir pantai dan naik ke rumah panggung dan menikmati hiburan televisi sambil minum kopi hingga pukul 02.00 dini hari.

***

Pukul 05.40. Langit di luar mulai terang dan cuaca seperti cerah. Saya tergopoh-gopoh bangun untuk salat subuh, setelah dibangunkan Pipi. Maklum, alarm tidak dihidupkan karena di pulau tersebut jaringan telekomunikasi cukup payah, hanya pesawat briker yang mampu menembusnya.

Teman-teman lain ikut terbangun dan bergegas siap-siap melihat lumba-lumba serta mancing.

Kami menggunakan dua perahu katir yang masing-masing berisi empat orang, Yeye yang kerap bercengkerama dengan lumba-lumba, memilih untuk tinggal di pulau. "Mudah-mudahan masih bisa bertemu dengan kumpulan lumba-lumba," ujarnya.

Kami menuju ke Pulau Tabuhan yang ditempuh sekitar 30 menit dari Pulau Kiluan. Lumayan juga ombaknya saat menuju ke laut sekitar Tabuhan. Warnanya biru pekat yang menandakan laut cukup dalam.

Matahari pagi mulai terasa membakar punggung kami. "Ah, ini vitamin D," pekik saya yang jarang-jarang bisa menikmati matahari pagi.

Tak lama, kami menemukan satu dua lumba-lumba meloncat. Lalu menghilang. Kami mengitarinya lagi, setelah hampir 15 menit berputar-putar, lumba-lumba kembali muncul dan kali ini populasinya lebih banyak.

Dengan tanpa rasa takut, lumba-lumba mengiringi perahu kami yang mengitari laut di sekitar Pulau Tabuhan dan Kiluan, Kelumbayan, Tanggamus.

Sesekali kelompok lumba-lumba ini bermanuver di depan perahu kami, dari kiri ke kanan dan sebaliknya, tentu saja sambil mempertontonkan keahliannya meloncat. Kami menyebutnya tarian luma-lumba. Tarian itu kian kencang saat kami membuat suara gaduh memanggil mereka. "Wowowo...wowowo...wowowo...," teriak kami dari atas kapal.

Dengan dua kapal katir yang kami tumpangi, masing-masing kapal berisi empat penumpang, kami mengitari kumpulan lumba-lumba yang ukurannya tidak seragam. Ada yang besar (dewasa) dan ada pula yang kecil (anakan).

Begitu dekatnya lumba-lumba dengan kapal kami, saya sampai khawatir jika tubuh hewan berwarna abu-abu tua itu terantuk katir kapal kami.

"Hai lumba-lumba, jangan terlalu dekat, nanti kena katir kapal," ujar saya.

Semua wajah yang ada di atas kapal semringah. Bahkan saya sampai-sampai lupa untuk mengabadikan gambar si lumba-lumba berwajah jenaka itu, saking asyiknya bercengkerama.

Namun, hanya sebentar si lumba-lumba ini muncul di perairan berwarna biru pekat. Selepas pukul 09.00, mereka mulai tak terlihat lagi, kata Dirhamsyah, yang memandu kapal kami menuju ke populasi lumba-lumba.

"Kalau mau lihat lumba-lumba, biasanya berangkat mulai pagi sekitar pukul 06.00, sambil menikmati sinar matahari dan indahnya laut," kata dia lagi.

Benar saja, lumba-lumba mulai menjauh. Kami pun memutuskan kembali ke tepian untuk memancing ikan. Ternyata peruntungan saya mulai terlihat pagi itu, lumayan ikan kambingan dan kakak tua ukuran sedang terjerat pancing. Hmmm...asyik. (SRI AGUSTINA/MEZA SWASTIKA/ERLIAN/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 11 April 2010

April 10, 2010

Pariwisata: Jalan Sempit Kendala Wisata Lumbok

LIWA (Lampost): Jalan yang terlalu sempit menjadi kendala pengelola objek wisata Lumbok untuk menarik minat pengunjung. Oleh karena itu, Pemkab diminta untuk memperlebar jalan agar PAD (pendapatan asli daerah) bisa dihimpun dari sektor tersebut.

Rusman, salah satu anggota DPRD Lambar, sangat menyayangkan keberadaan jalan raya menuju objek wisata Lumbok yang hingga kini belum juga diperlebar. Padahal, jika kendaraan bus bisa hilir mudik, dipastikan pengunjung yang memasuki wilayah ini meningkat.

Objek wisata Lumbok sendiri kini dilengkapi sarana hotel yang cukup memadai (megah) serta ditunjang panorama Danau Ranau yang asri yang merupakan ciri khas Kabupaten Lambar.

Dari semua potensi yang ada, menurut Rusman, sudah seharusnya objek wisata itu diimbangi dengan sarana jalan yang juga memadai. Faktanya, kata Rusman, jalan yang ada selain terjal, juga sempit, sehingga tak bisa dilalui bus.

Dia mencontohkan panitia MTQ ke-38 yang akan diselenggarakan di Lampung Barat berniat memprogramkan peserta tur ke Lumbok. Tetapi, karena jalan menuju objek wisata tersebut kecil sehingga sulit dilalui bus, niat tersebut urung.

Sebagai alternatif, panitia berencana mengalihkan kunjungan wisata peserta MTQ ke Krui.

"Itu contoh kecil. Bayangkan jika wisatawan yang datang berskala nasional. Hanya lantaran jalan menuju lokasi sempat, mereka akan kecewa. Kita semua yang rugi," ujar dia lagi.

Dengan kondisi jalan yang seadanya, Rusman menyangsikan Lampung Barat akan mengalami peningkatan pengunjung.

Agar tak jalan di tempat, kini sudah saatnya Pemkab melakukan pembenahan, terutama untuk akses jalan menuju lokasi. Sehingga, apa yang diharapkan bersama dapat cepat terwujud.

"Bila tidak segera dicarikan solusi, bukan tidak mungkin objek wisata Lumbok hanya akan menjadi menara gading," ujar dia. (CK-7/D-1)

Sumber: Lampung Post, Senin, Sabtu, 10 April 2010

Teknokra, Jejak Langkah Pers Mahasiswa

gambar dipinjam dari Maspril Aries di Facebooknya


Judul
Teknokra, Jejak Langkah Pers Mahasiswa

Penulis
Abdul Gofur dkk.

Editor
Budisantoso Budiman
Udo Z. Karzi

Rancang sampul/ilustrasi
Sani Kurniawan

Tata letak
Supendi

Hak cipta dilindungi undang-undang
All right reserved
c Teknokra

Diterbitkan atas kerjasama
Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) Teknokra
Universitas Lampung
Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Lt. 1
Jl. Soemantri Brojonegoro No. 1
Gedungmeneng, Bandar Lampung 35145
Telp. (0721) 788717
http://teknokra-unila.com

Pustaka LaBRAK
Perum Wismamas Kemiling
Jl. Teuku Cik Ditiro
Blok S12A No. 16
Bandar Lampung


Cetakan I, Maret 2010
xvii + 325 hlm., 14 x 21 Cm

ISBN: 978-602-96731-0-4




TIM PENYUSUN

Penulis Sejarah
Abdul Gofur, Andri Kurniawan, Iskandar Saputra,
Padli Ramdan, Yudi Nopriansyah

Kontributor
Anton Bahtiar Rifa’i, Budiyanto Dwi Prasetyo, Budisantoso Budiman, Fadilasari, Ferry Fathurokhman, Heri Kurniawan, Hersubeno Arief, Idi Dimyati, Juwendra Asdiansyah, Machsus Thamrin, M.A. Irsan Dalimunthe, Maspril Aries, Maulana Mukhlis, M. Fakhruriza Pradana, M. Thoha B. Sampurna Jaya, Muhajir Utomo, Muhammad Ma’ruf, M. Yamin Panca Setia, Roni Sepriyono, Taufik Jamil Alfarau, Turyanto, Zulkarnain Zubairi




Dari Penerbit


BILA ditilik dari makna leksikal, pers mahasiswa (persma) terdiri dari dua kata berbeda, pers dan mahasiswa. Pers dalam arti sempitdiartikan sebagai segala macam media informasi baik cetak maupun elektronik. Dalam arti luas, pers dimaknai sebagai media penyampai informasi berupa fakta atas realitas.

Sementara itu, kata mahasiswa mereposisikan sosok intelektual muda yang digadang-gadang memiliki idealisme, juga sebagai agen perubahan (agent of change) negeri ini. Jadi, secara utuh persma dimaknai sebagai media penyampai informasi yang dikelola langsung oleh mahasiswa sebagai motor penggerak organisasi.

Berbicara persma tak lepas dari berbicara soal romantisme gerakan mahasiswa di negeri ini. Bila menilik sejarah, persma memiliki peran strategis sebagai media penyulut semangat gerakan mahasiwa. Bukan main perannya, persma hadir sebagai alat dan corong kekuatan aktivis gerakan mahasiswa. Melalui tulisan–tulisannya, aktivis persma mencoba menghadirkan nuansa propaganda dengan tujuan menyatukan semangat mahasiswa di seantero negeri ini.

Tak hanya itu, persma sebagai wujud organisasi kampus juga dijuluki sebagai media alternatif yang bebas menyampaikan kritik soal bobroknya kebijakan pemerintah. Itu tak lain karena pers umum dalam masa pemerintahan otoriter mengalami distorsi kebebasan menyampaikan informasi dan kritik pada pemerintah.

Seiring berjalannya waktu, persma kemudian mulai kehilangan arah. Tujuan awal dibentuknya persma sebagai media propaganda mulai mengalami pembiasan makna. Ini tak lepas dari campur tangan pemerintah terhadap normalisasi organisasi kampus. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed Joesoef pada tahun 1978 kala itu menerapkan peraturan tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan membentuk Badan Koordinasi Kampus (BKK).

Peraturan NKK/BKK yang merupakan pengganti Dewan Mahasiswa (DEMA) mensyaratkan adanya peran serta dosen sebagai pemimpin dalam sebuah organisasi kemahasiswaan termasuk persma. Wacana soal pembatasan ruang gerak aktivitas mahasiswa pun mencuat kala itu. Pemberlakuan aturan baru ini menyebabkan persma menjadi lebih sulit bergerak dalam menyampaikan informasi.

Terlepas dari hal tersebut, persma tetaplah berkiprah layaknya pers umum–bahkan dalam beberapa hal memiliki kelebihan sebagai konsekuensi dari eksistensi mahasiswa yang mengelolanya--sebagai media penyaji informasi dan pengungkap fakta. Prinsip yang diterapkan pun tetap mengacu pada paham jurnalisme, kode etik jurnalistik dan Undang-Undang Pers.

Dalam elemen kedua jurnalisme, pers haruslah setia pada warga dalam menyampaikan informasi sekaligus penjaring aspirasi menyoal kepentingan warga. Persma dalam hal ini sangat jelas perannya, yakni sebagai media penyampai aspirasi dan penyedia informasi kepada komunitasnya, mahasiswa dan lingkungan internal kampus.

Inilah yang kemudian membedakan persma dan pers umum. Ranah audience/pembaca persma fokus pada internal kampus. Sedangkan pers umum mengarah pada masyarakat secara luas. Namun tak dimungkiri, kiprah persma pun terkadang berkecimpung dalam ranah masyarakat umum baik dalam sekup daerah maupun nasional.

Aktivis persma memang terbilang unik. Penggiatnya memiliki peranan ganda, selain sebagai mahasiswa juga sebagai aktivis persma/jurnalis kampus. Selain itu, aktivitas persma pun dilakukan secara sosial, tidak dibayar layaknya pers umum yang menggaji wartawannya. Ini karena memang persma sebagai wadah organisasi kemahasiswaan lebih dijadikan sebagai tempat pembelajaran berorganisasi, khususnya dalam menambah wawasan jurnalistik.

Namun tak dimungkiri, fenomena ini terkadang membuat persma kurang profesional dalam menjalankan rutinitasnya. Sebut saja soal deadline terbitan yang sering “molor“ dan kontinuitas terbitan yang tak sesuai dengan yang diagendakan di awal kepengurusan. Kesibukan aktivitas kuliah terkadang menjadi alasan yang sulit terbantahkan. Belum lagi embel-embel kepentingan pribadi dan keluarga.

Persma meski hidup dalam “cengkraman” birokrat kampus juga tetap konsisten pada penerapan prinsip jurnalisme dalam mengungkap fakta. Berbagai permasalahan menyangkut kepentingan mahasiswa, dosen dan kebijakan kampus tetap disajikan secara konfrehensif melalui proses jurnalistik (mencari, menulis, menyunting hingga menyebarkan informasi).

Prinsip inilah yang mewarnai aktivitas persma saat ini, tak terkecuali Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) Teknokra Unila. Teknokra yang sedari 1 Maret 1977 berdiri turut menjadi pelaku sejarah dalam romantisme persma Indonesia. Sebagai salah satu persma tertua di Indonesia, Teknokra juga banyak menghasilkan bibit-bibit unggul penggiat pers, baik di tingkat daerah maupun nasional.

Banyak kisah menarik dan mengharukan mewarnai jejak langkah perjalanan panjang Teknokra terangkum dalam buku ini. Sebut saja dalam momentum tragedi UBL Berdarah 28 September tahun 1999. Salah seorang fotografer Teknokra, alm. Saidatul Fitria kala itu gugur dalam proses peliputan karena terkena popor senjata dari aparat keamanan.
Buku ini selain menyajikan sekelumit kisah perjalanan Teknokra, juga menampilkan secercah kesaksian para penggiatnya. Selamat Membaca!

Tetap berpikir merdeka!



Gedongmeneng, Maret 2010

Kru Teknokra




Antaran Editor



SEJARAH panjang (1975-2009) perjalanan Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) Teknokra Universitas Lampung (Unila), di Provinsi Lampung telah menginspirasi banyak mantan aktivisnya untuk menuangkan dalam sebuah buku agar terdokumentasi secara utuh. Ide besar yang lama terpendam itu, akhirnya berujung, menyusul gelombang dukungan dari para tokoh kunci setiap zaman ketika mereka tampil mengelola pers mahasiswa ini. Disokong pula para pengurus aktif Teknokra, ide besar itu akhirnya dikonkretkan.

Walaupun ternyata untuk mewujudkannya tak cukup hanya dengan semangat besar semata, karena memerlukan waktu sampai bertahun-tahun. Mafhum saja, banyak orang dari generasi yang berbeda dengan kesibukan masing-masing, serta tempat tinggal dan pekerjaan yang bertebar di mana-mana, harus pula dihubungi untuk memberikan kontribusi demi kelengkapan dan aktualitas buku ini. Para tokoh ini pun harus menuangkan pengalaman pada era masing-masing dengan panduan umum yang diberikan. Ibarat membuka memori lama, dengan kadar ingatan yang serba terbatas dan dokumentasi yang berceceran. Tapi akhirnya, benang merah perjalanan Teknokra itu pun terkuakkan juga.

Sekali lagi, tekad kuat belaka tak cukup dalam mewujudkan impian besar bersama itu, dan ternyata untuk mewujudkan buku sejarah Teknokra ini perlu napas dan stamina yang panjang serta kuat. Semula banyak orang bersemangat terlibat aktif di dalamnya, tapi akhirnya mengerucut sendiri, dan beberapa saja yang merasa berkewajiban terus menyelesaikan tugas besar bersama itu, dengan segala keterbatasannya, hingga akhir. Jadilah buku ini tersaji ke publik, juga berkat partisipasi pimpinan Unila yang sejak awal memberikan dukungan penuh termasuk pendanaannya.

Alur buku ini merupakan dua bagian besar episode jejak sejarah pers mahasiswa Teknokra, yaitu episode pertama yang berkisah tentang realitas sejarah jejak langkah perjalanan Teknokra dengan segala lika-likunya, berdasarkan penuturan dan penulisan aktualitas dari para saksi sejarahnya masing-masing. Episode berikutnya, merupakan aneka ragam (bunga rampai) pengalaman luar biasa, aneh, unik, menarik, lucu, mengerikan, menakjubkan dan paling berkesan yang ditulis oleh saksi sejarah para tokoh di Teknokra dimaksud dengan ”langgam”, versi dan logat serta lagak gaya masing-masing.

Editor akhir (Budisantoso Budiman dan Udo Z. Karzi)—setelah dibantu tim/panitia buku sebelumnya—berhasil menghimpun pengalaman, data dan tulisan yang berserak itu, sehingga meneruskan semuanya itu, untuk mensinkronkan bahan baku buku ini yang telah tersedia dan sempat bertahun-tahun mengendap, memolesnya di sana-sini seperlunya, dan berusaha menghadirkannya menjadi satu bagian utuh perjalanan sejarah Teknokra dengan segala pernak-perniknya ini.

Waktu editing dan target deadline penerbitan yang relatif singkat—seperti biasanya kerja jurnalistik berlaku--menjadi kendala untuk dapat menampilkan buku ini secara lebih komprehensif dan lengkap lagi. Keterbatasan bahan awal menjadi salah satu kendala utamanya. Jadilah, buku ini walaupun dengan susah payah dan lama baru bisa diterbitkan, pada akhirnya tetaplah akan menjadi sangat terbuka untuk dikoreksi, diperbaiki, ditambah dan dikurangi serta mungkin saja untuk ditulis kelanjutan episode perjalanan sejarah Teknokra selanjutnya, melalui penerbitan revisi atau menerbitkan edisi baru berikutnya sebagai sebuah bagian dokumentasi pengalaman mengelola sebuah penerbitan pers mahasiswa.

Buku ini dipersembahkan tidak lain untuk para alumni Unila yang pernah aktif di Teknokra secara keseluruhan, juga bagi seluruh sivitas akademika Unila dan para alumninya, bagi seluruh aktivis pers mahasiswa, dan mahasiswa umumnya di kampus-kampus seluruh Indonesia, termasuk para intelektual dan pegiat prodemokrasi dan pers bebas, serta masyarakat dan bangsa ini keseluruhannya.

Bagi pengurus aktif Teknokra saat ini, buku ini menjadi persembahan besar menyambut peringatan HUT ke-33 Teknokra, 1 Maret 2010, untuk sekaligus membuktikan aktivis pers mahasiswa Teknokra Unila sampai kini masih terus berbuat dan berkarya menjadi yang terbaik pada zaman masing-masing.

Mudah-mudahan isi buku ini dapat menginspirasi dan memberi manfaat yang besar bagi semua pembacanya tanpa kecuali.

Selamat membaca.


Palembang-Bandar Lampung, Maret 2010


Budisantoso Budiman
Udo Z. Karzi




Daftar Isi


Dari Penerbit
Antaran Editor
Tentang Penulis

BAGIAN PERTAMA
LINTASAN SEJARAH TEKNOKRA
1. Pembuka
2. Terjal Merintis Jalan (1975-1985)
3. Pencarian Jati Diri (1986-1992)
4. Metamorfosis Pers Alternatif (1993-1998)
5. Pergulatan Pascareformasi (1999-2009)
6. Meneruskan ‘Kegilaan’

BAGIAN KEDUA
TEKNOKRA DALAM CATATAN ALUMNI
1. Dua Bulan Ditahan di Korem - Muhajir Utomo
2. Catatan yang Tercecer di Teknokra - M. Thoha B. Sampurna Jaya
3. Tantangan Merevitalisasi Teknokra - M.A. Irsan Dalimunthe
4. Teknokra, Rumah Kedua… - Hersubeno Arief
5. Makan Siang Dibayar Kaset - Maspril Aries
6. Cerita Zaman Pers Mahasiswa: Catatan Ringan Seputar Teknokra - Machsus Tamrin
7. Fakultas” Teknokra Membentuk Profesionalisme Kepenulisan - Budisantoso Budiman
8. Manusia Terkutuk Itu... - Zulkarnain Zubairi
9. Menggapai Mimpi Melalui Pers Alternatif - Anton Bahtiar Rifa’i
10. Merintis Hidup dari Pojok PKM - Fadilasari
11. Anak-Anak Malam - Heri Kurniawan
12. Tepuk Tangan dalam Keheningan - Juwendra Asdiansyah
13. Kegagalan Terbesar Hidup Manusia adalah Keengganan untuk Berani Mencoba - Maulana Mukhlis
14. Teknokra itu Candu - Idi Dimyati
15. Perjalanan Seorang Manusia di Teknokra - M. Fakhruriza Pradana
16. Menantang Slogan Berpikir Merdeka - Muhammad Ma’ruf
17. Mengais Masa Depan dari Pojok PKM - M. Yamin Panca Setia
18. Buku, Pesta, dan Cinta - Budiyanto Dwi Prasetyo
19. Sekeping Perjalanan di Teknokra - Ferry Fathurokhman
20. Bara Cinta di Bilik Ruang Berita - Turyanto
21. Super- Man! - Roni Sepriyono
22. Sepenggal Cerita di Pojok PKM - Taufik Jamil Alfarau

April 5, 2010

Pemprov Lampung Diharapkan Dukung Pekajian Seni Tari

Bandarlampung, 5/4 (ANTARA) - Seniman dan akademisi Universitas Lampung, I Wayan Mustika, berharap Pemerintah Provinsi Lampung membantu pengkajian seni tradisi asli daerah tersebut.

"Masih banyak seni dan budaya Lampung yang belum tergali, saya memprediksi masih ada ribuan tarian, dan ritual budaya yang harus dikaji oleh akademisi seni di daerah ini, dan peran pemerintah sangat menentukan," katanya, di Bandarlampung, Senin.

Dia menyatakan, dukungan pemerintah itu dapat berupa pemberian bantuan dana penelitian, atau membantu mendokumentasikan dan memublikasikan hasil kajian para seniman dan akademisi tersebut.

"Saya sangat prihatin, berdasarkan penelusuran saya, ada ribuan seni tradisi dan ritual budaya Lampung yang referensi dan catatan tertulisnya tidak terdokumentasi dengan baik," kata dia.

Wayan mencontohkan, beberapa tarian yang belum terdokumentasi dengan baik itu adalah Tari Sakura dan Tari Nyambai dari Lampung Barat, Tari Tupping dari Lampung Selatan, atau Tari Bedayo dari Tulangbawang.

Dia melanjutkan, untuk melakukan riset terhadap tarian dan budaya tersebut tidak murah, karena selain riset, dibutuhkan juga peragaan untuk kepentingan pendokumentasian dalam bentuk gambar.

"Sebagai gambaran, saat melakukan riset tentang Tari Bedayo Tulangbawang, sedikitnya saya harus mengeluarkan Rp55 juta dari kantong saya sendiri," kata dia.

Dia menggambarkan, sejumlah tarian kuno itu saat ini hanya tersimpan pada pemikiran masyarakat, pemangku adat, dan kaum tradisional yang rata-rata belum tergali.

Sementara semua tarian tradisi Lampung yang ada saat ini, merupakan karya bentuk varian kreasi seniman dari tarian asli.

Wayan mengklaim jumlah tarian Lampung yang muncul ke permukaan saat ini hanyalah sebagian kecil dari ribuan tari tradisi yang dimiliki Lampung.

Dia berharap, ribuan tarian tradisi Lampung itu dapat digali secara akademis dan didokumentasikan untuk kepentingan referensi bagi generasi penerus.

"Dana untuk risetnya harus disiapkan, karena akan sangat mahal harga yang harus dibayar apabila budaya tersebut ikut punah," kata dia.

Sumber: Antara, 5 April 2010

Menulis Selamatkan Peradaban

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Menulis bisa menyelamatkan peradaban manusia. Baik tulisan di pers atau media massa maupun buku menjadi dokumentasi perjalanan sejarah perkembangan sistem sosial.

PELUNCURAN BUKU. Wakil Pemimpin Umum Lampung Post Djadjat Sudradjat (kanan) sedang berbicara dalam peluncuran buku Teknokra, Jejak Langkah Pers Mahasiswa di Gazebo Beringin Unila, Minggu (4-4). Tampil juga sebagai narasumber Kepala Biro LKBN Antara Budisantoso Budiman dan koordinator penulis Yudi Nopriansyah dengan moderator Rio Nugraha Prasetya. (LAMPUNG POST/M. REZA)

Hal itu dikatakan Wakil Pemimpin Umum Lampung Post Djadjat Sudradjat saat menjadi pembahas pada peluncuran buku Teknokra, Jejak Langkah Pers Mahasiswa di Gazebo Beringin Universitas Lampung (Unila), Minggu (4-4).

Selain Djadjat, narasumber lain adalah alumnus Teknokra yang juga Kepala Biro Antara Sumatera Selatan Budisantoso Budiman dan koordinator penulis buku Yudi Nopriansyah dengan moderator Rio Nugraha Prasetya.

"Dengan menulis, bisa menceritakan peristiwa yang bisa diambil nilai-nilai kebaikan untuk kehidupan manusia pada generasi selanjutnya," kata Djadjat dalam acara yang sekaligus menjadi ajang reuni dan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-33 Teknokra ini.

Unila harus merasa beruntung mempunyai pers mahasiswa Teknokra yang bisa menyelamatkan peradaban kampus. Terutama kampus sebagai tempat berkumpulnya para intelektual yang juga menjadi gudang ilmu bagi generasi kini dan mendatang.

"Rektorat bisa dianalogikan sebagai sebuah pemerintahan yang perlu dikritisi dan diberi masukan. Teknokra sebagai elemen pers harus menjalankan fungsi kontrol sosial," kata dia.

Djadjat Sudrajat sangat mengapresiasi penerbitan buku yang dieditori alumni Teknokra Budisantoso Budiman dan Udo Z. Karzi. Menurut dia, setelah diluncurkan, buku sudah menjadi milik publik atau masyarakat. Sementara itu, penulis tidak bisa memberi penjelasan mengenai kesulitan dan kekurangan yang dialaminya dalam pembuatan buku itu. "Memang, menerbitkan sebuah buku bukanlah hal yang mudah," ujarnya.

Sederhana dan Menyentuh

Djadjat menilai tulisan dalam buku Teknokra, Jejak Langkah Pers Mahasiswa disampaikan secara sederhana, ringan, dan menyentuh. Isi buku yang bercerita tentang manusia selalu menarik untuk dibaca. Apalagi, sudut pandang tulisan yang berbeda-beda di buku itu kuat dan menarik dibaca.

"Cerita-cerita di dalam buku ini merupakan cerita yang luar biasa. Ada cerita manusia yang harus survive dengan segala keterbatasannya," kata dia.

Djadjat juga menyampaikan masukan terhadap kekurangan buku itu. Salah satu kekurangannya karena tidak adanya foto atau gambar di buku itu. "Ada yang tidak bisa direfleksikan dengan kata-kata, hanya bisa melalui gambar," ujar Djadjat.

Selain itu, dia juga menyayangkan buku tersebut tidak mengulas pahlawan Teknokra, Saidatul Fitria, yang meninggal dalam tugasnya. Saidatul Fitria meninggal saat meliput bentrokan mahasiswa dengan aparat keamanan pada demonstrasi yang dikenal dengan Tragedi UBL Berdarah. "Sebaiknya untuk revisi ke depannya, buku ini dapat memasukkan indeks dan juga ada tulisan orang di luar Teknokra," kata dia.

Budisantoso Budiman mengatakan untuk revisi ke depan, ada beberapa tokoh Teknokra yang penting yang harus ikut menulis di buku ini, misalnya Eddy Rifai dan Asep Unik. Selain itu dalam revisi itu harus memperkuat logika sejarah didukung bukti dan saksi melalui catatan alumni. "Penerbitan buku itu membuktikan Teknokra selama 33 masih eksis," kata Budisantoso. (MG17/U-3)

Sumber: Lampung Post, Senin, 5 April 2010

Teater: KSS Pentaskan 'Ratna Manggali'

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Kelompok Studi Seni (KSS) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila) mementaskan dua pertunjukan monolog Ratna Manggali yang dimainkan KSS di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unila, Sabtu (3-4) malam.

Lakon Ratna Manggali karya Arief ini berkisah tentang gugatan janda dari Calon Arang, seorang raja dalam mitologi Bali dan Jawa kuno, yang merasa kesepian setelah kematian sang suami. Lakon itu dimainkan dengan apik oleh Karlina, mahasiswi FKIP program studi (prodi) Bahasa Inggris.

Ratna Manggali menggugat tentang perlakuan kaum patriark yang selalu menekan perempuan dengan segala keadidayaan takdir untuk mengatur perempuan. Namun, ia pun tak memungkiri kenyataan akan kebutuhan kehidupan yang seimbang antara laki-laki dan perempuan.

Lakon ini berusaha memberi makna bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan adalah kehidupan yang berdasarkan relasi, bukan hierarki, bukan hubungan yang timpang antara superior dengan inferior.

Ada dua lakon monolog yang dipentaskan oleh KSS pada malam pementasan yang bertajuk Pentas Monolog Jilid 2 tersebut. Pementasan kedua dengan lakon berjudul Cincin Bernama yang diadopsi dari cerpen karya Rini T.S.

Cincin Bernama ini berkisah tentang seorang editor majalah yang jatuh cinta kepada seorang penulis. Berawal dari kekaguman akan tulisan-tulisan "Sang Abang" alias si penulis, perasaan sang editor tersebut kemudian berkembang menjadi rasa cinta ketika akhirnya mereka bertemu pada sebuah pertemuan antarpenulis. Kisah lalu berlanjut dengan saling bertukar cincin yang berukirkan nama masing-masing.

Berbeda

Nuansa lakon tersebut agak berbeda dengan cerpen aslinya. Nuansa dan situasi yang miris serta akhir cerita yang sedih dirombak menjadi kisah yang lucu. Permainan Eni Samiasih, mahasiswi FKIP prodi Sejarah, pun kerap mengundang gelak penonton yang memenuhi lantai PKM tersebut.

Sebagai sebuah pementasan monolog, sebenarnya pertunjukan tersebut belum bisa dikatakan maksimal. Kedua aktris masih sering terjebak dengan persepsi dan emosi yang belum terkendali. Namun, jika melihat bahwa itulah pementasan perdana dari kedua aktris, hal itu bisa dimaklumi.

"Sebagai pemula, khususnya kepada Karlina, potensi dan naluri permainannya dapat dikatakan lumayan bagus. Apa yang disuguhkan sudah lebih dari cukup," kata Iswadi Pratama, tokoh seni dan pendiri Teater Satu, yang hadir pada malam tersebut.

"Secara keseluruhan, pementasan sudah termasuk bagus untuk pemula. Permainan kedua aktris bersih dan rapi," ujar Ari Pahala Hutabarat dari Teater Komunitas Berkat Yakin (Kober). (MG13/S-1).

Sumber: Lampung Post, Senin, 5 April 2010

April 1, 2010

Festival Musikalisasi Puisi dan Sayembara Penulisan Cerpen Remaja Se-Provinsi Lampung

Salam sejahtera,

Dengan ini diberitahukan bahwa Kantor Bahasa Provinsi Lampung mengadakan "Festival Musikalisasi Puisi dan Sayembara Penulisan Cerpen Remaja Se-Provinsi Lampung".


Festival Musikalisasi Puisi Tingkat SLTA Se-Provinsi Lampung

Persyaratan:

1. Setiap sekolah hanya dapat mengirim satu grup musikalisasi puisi dan satu orang guru pendamping

2. Grup yang mewakili sekolah-sekolah adalah grup yang diutus langsung oleh pihak sekolah dengan membawa surat keterangan dari sekolah

3. Setiap grup maksimal terdiri atas enam siswa

4. Peserta menyediakan sendiri alat musik yang akan digunakan saat pentas

Pelaksanaan

1. Pendaftaran s.d. 10 Mei 2010 (Gratis)

2. Pendaftaran ditutup jika peserta sedah mencapai 25 Tim

3. Festival dilaksanakan pada 27 Mei 2010 di Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Jalan Beringin II No. 40 Kompleks Gubernuran Telukbetung, Bandarlampung. Telepon: 486408 atau Diah 08127903005 dan Moses 081318514911

Hadiah

1. Pemenang I Rp. 2.500.000,00

2. Pemenang II Rp. 2.000.000,00

3. Pemenang III Rp. 1.500.000,00

4. Pemenang IV Rp. 1.000.000,00


Sayembara Penulisan Cerpen 2010

Syarat:

1. Remaja usia 13-19 tahun Se-Provinsi Lampung

2. Tema cerpen bebas, sesuai dengan dunia remaja, tetapi tidak mengandung SARA dan Pornografi

3. Cerpen harus asli (bukan saduran atau terjemahan), belum pernah dipublikasikan di majalah atau media massa lainnya, serta belum pernah iikutkan dalam sayembara apapun

4. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah cerpen dan maksimal tiga cerpen

5. Cerpen ditik dengan komputer, panjang 7-12 halaman, ukuran kertas kuarto (Times New Roman ukuran 12 poin, spasi 1,5)

6. Naskah cerpen yang dikirim disertai dengan data pribadi

7. Pengiriman naskah dimulai tanggal 5 April s.d. 27 Juli 2010, cap pos

8. Pengumuman pemenang 10 Agustus di Kantor Bahasa Provinsi Lampung



Panitia,



Ferdinandus Moses

Pondok Baca-Kha Gha Nga Gelar Lomba Baca Puisi

BANDAR LAMPUNG -- Pondok Baca bekerja sama dengan Komunitas Sastra Kha-Gha-Nga menggelar lomba baca puisi tingkat SMP/SMA se Provinsi Lampung. Lomba yang semestinya dilaksanakan 2--4 April ini diundur menjadi 17--18 April karena bersamaan dengan ujian nasional.

Menurut Ketua Pelaksana Yunanda Saputra, lomba ini akan memperebutkan Pila Gubernur Lampung, Ketua Umum DKL, dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung. Lomba ini mengusung tema “Aku Cinta Lampung akan memilih juara I, II, dan III masing-masing tingkatan. “Para juara itu akan mendapat piala, uang tunai, hadiah, dan piagam. Selain itu, kepala sekolah dan guru pendamping dari tiap sekolah akan diberi piagam,” jelas Yunanda.

Yunanda mengatakan, hingga 31 Maret, baru terdaftar 11 peserta. Padahal panitia optimistis lomba ini akan diikuti lebih dari 50 orang,” kata Yunanda.

Menurutnya, Pondok Baca dan Komunitas Sastra Kha-Gha-Nga sangat peduli terhadap pendidikan sastra bagi siswa sekolah. Oleh sebab itu, ia yakin, pihak sekolah akan mendukung kegiatan ini dengan mengirim siswanya ke lomba ini. “Itu sebabnya, lomba ini kami undur untuk menampung keinginan sekolah,” ungkapnya.

Lomba baca puisi Tingkat SMP/SMA se Provinsi Lampung direncanakan akan berlangsung di Teater Terbuka Dewan Kesenian Lampung (DKL) Jalan Gedung Sumpah Pemuda Kompleks PKOR Wayhalim, Bandarlampung. Ada pun materi puisi yang disediakan panitia merupakan karya-karya dari penyair Lampung terkemuka, seperti Iswadi Pratama, Ari Pahala Hutabarat, Isbedy Stiawan Z.S., Jimmy Maruli Alfian, Agit Yogi Subandi, Fitri Yani, dan lain-lain.

Selain lomba baca puisi, kegiatan ini juga akan diisi apresiasi puisi untuk pelajar, baik peserta lomba maupun utusan dari sekolah, dengan pembicara Isbedy Stiawan ZS dan Udo Z. Karzi. “Kami harapkan diskusi dengan kedua sastrawan Lampung itu, makin membuka wawasan dan apresiasi pelajar mengenai sastra. Diharapkan juga akan menumbuhkan semangat menulis karya sastra,” jelas Yunanda.

Pembina Pondok Baca dan Komunitas Sastra Kha-Gha-Nga sastrawan Syaiful Irba Tanpaka menjelaskan, melalui lomba ini diharapkan mampu mengisi kekosongan bagi pelajar yang berbakat dalam membaca puisi. Di samping mereka memahami dan bisa mengapresiasi sastra.

“Di era 90-an lomba-lomba serupa ini marak di Lampung. Sebelum dihapus BP-7 merupakan instansi yang komitmen setiap tahunnya menyelenggaran lomba cipta dan baca puisi bagi pelajar dan masyarakat umum, Tapi belakangan ini terasa sepi,” katanya.

Karena itu, kata Syaiful Irba, Pondok Baca dan Komunitas Sastra Kha-Gha-Nga memncoba memfasilitasinya. “Kita tentunya ingin menyaksikan pembacaan-pembacaan puisi yang disampaikan oleh para pembaca berkualitas. Atas dasar itu kami ingin mencari dan menemukannya,” ungkapnya.

Panitia masih membuka kesempatan pendafatran peserta hingga 15 April 2010, di sekretariat Pondok Baca Pondok 21 Pasar Seni Enggal contak person Udin Sandi (0721) 7599581; sekretariat DKL CP Afrizal (0721) 703077. Persyaratan membawa surat keterangan dari sekolah dan membayar kontribusi sebesar Rp30.000. (MG14/S-1)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 1 April 2010

Kunjungan Wisman di Pesisir Lampung Barat Meningkat

Liwa, Lampung Barat, 1/4 (ANTARA) - Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke kawasan perairan pesisir Lampung Barat, sekitar 270 km dari Kota Bandarlampung, mencapai 50 orang setiap pekannya atau meningkat hingga 60 persen dibandingkan sebelumnya.

"Saat ini ombak di perairan pesisir cukup besar, dan para wisatawan yang berkunjung lebih menikmati bermain 'surfing' (selancar)," kata pengelola penginapan di pantai Karang Nyimbor, Kecamatan Pesisir Selatan, Mahendra, di Lampung Barat, Kamis (1/4).

Ia menyebutkan, kawasan pantai di sepanjang pantai itu juga cukup eksotik, sehingga banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara datang ke objek wisata tersebut.

Ketinggian ombak di pantai itu, katanya, bisa mencapai tiga meter lebih dan sangat cocok untuk bermain selancar. Meningkatnya kunjungan wisatawan itu, juga berdampak positif bagi pengusaha penginapan dan pedagang

Namun kata dia, keindahan objek wisata itu belum diimbangi dengan fasilitas penunjang seperti informasi dan bank untuk penukaran uang. Para wisman itu harus menuju Bandarlampung untuk menukar uangnya yang dapat ditempuh dalam waktu enam jam.

Selain itu, menurut Mahendra, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat belum serius menangani objek wisata tersebut, padahal potensi tidak kalah dengan pantai di provinsi lain.

Sementara itu, salah seorang turis asal Belanda, Briand Jonson (25), mengatakan, pantai pesisir ini indah, tetapi masih kurang terawat.

"Memang sangat indah melihat pantai pesisir, selain terumbu karang yang masih terjaga, pengunjung bisa bermain 'surfing', dan dapat melihat matahari tenggelam, tetapi sayangnya keindahannya masih belum tergarap," tuturnya.

Jonson menjelaskan, pantai pesisir cukup eksotik dan tidak kalah dibandingkan pantai yang ada di daerah lain.

"Pantai di pesisir sangat bagus, ini seharusnya menjadi nilai jual untuk turis, bila dapat dikelola dengan baik, sekaligus pemerintah dapat membuat terobosan untuk membuat even, sehingga ekspos pesisir dapat dikenal luas," paparnya.

Sementara itu, berdasarkan data dinas pariwisata setempat jumlah kunjungan wisata pada tahun 2009 mencapai 200 ribu orang dan sekitar 1.600 di antaranya wisatawan asing yang mengunjungi objek wisata pantai di kawasan pesisir tersebut.

Sumber: Antara, 1 April 2010