April 14, 2013

[Buku] Pemilukada dalam Pusaran Konflik

Data buku
Pemilukada: Demokrasi dan Otonomi Daerah
Wendy Melfa
BE Press, Lampung, 2013
xvi + 253 hlm.
PEMILUKADA pada praktiknya memiliki dua dasar undang-undang (UU) yang berbeda, yaitu UU Pemerintahan Daerah dan UU Penyelenggaraan Pemilu. Penerapan kedua UU ini kerap menimbulkan konflik, seperti pada 2011 lalu untuk kasus konflik pemilukada di Provinsi Lampung yaitu di Kabupaten Mesuji.

Konflik tersebut disebabkan ketidaksinkronan kedua UU tersebut. UU Pemerintahan Daerah menyatakan penetapan pencalonan menjadi kewenangan partai politik. Sementara UU Penyelenggaraan Pemilu mengatakan penetapan pencalonan merupakan kewenangan penyelenggara pemilu.


April 13, 2013

'Feodalisme Modern Sebuah Wacana Kritis' Segera Diluncurkan

Oleh Wakos Gautama


Udo Z. Karzi. 2013. Feodalisme Modern, Wacana
Kritis tentang Lampung dan Kelampungan.
Bandar Lampung: Indepth Publishing.
TRIBUNLAMPUNG.co.id - Penyair cum Jurnalis Udo Z Karzi akan segera meluncurkan buku terbarunya Feodalisme Modern, Sebuah Wacana Kritis Tentang Lampung dan Kelampungan.

Managing Director Indepth Publishing Tri Purna Jaya mengatakan, setelah sukses dengan buku sebelumnya Mamak Kenut, Orang Lampung Punya Celoteh, Udo kembali mempercayakan karyanya untuk diterbitkan Indepth Publishing.


April 12, 2013

‘Api Muneh’: [Salah Satu] Akar Bahasa Melayu Sumatera*

Oleh Muhammad Harya Ramdhoni**


Feodalisme Modern, Wacana Kritis
tentang Lampung dan Kelampungan
.
Udo Z. Karzi
Indepth Publishing
I, April 2013
xii + 144 hlm
TABIK dan terima kasih kepada Udo Z Karzi yang telah memberi kehormatan luar biasa dan kesempatan kepada seorang junior seperti saya untuk menulis kata pengantar buku berbobot ini. Udo mulai dikenal sebagai pengarang muda berbakat di Lampung di era 1990-an kala saya masih ingusan dan berstatus siswa di SDN 2 Teladan, Rawa Laut. Rentang waktu karier kepengarangan Udo Z. Karzi dengan percobaan saya mengarang secara nekat dan tak tahu malu terbentang hampir 14 tahun lamanya. Itulah mengapa saya amat teruja dengan kehormatan yang Udo berikan kepada saya dalam menulis kata pengantar buku ini.

Membaca karya-karya Udo Z. Karzi, baik berupa puisi, esei maupun artikel adalah sama dengan menyelami hakikat masyarakat dan adab Lampung beserta beragam problematikanya yang khas dan unik. Sejak lebih dari dua puluh tahun silam Udo telah memulai usaha dan kerja kerasnya sebagai sebuah cita-cita luhur mengangkat harkat dan maruah bahasa dan tamadun Lampung. Mengapa bahasa dan tamadun? Sebab keduanya saling berhubung-kait. Kita dapat memulai mengkaji tamadun bangsa yang bernama Lampung dimulai dari bahasa dan aksaranya. Bahasa Lampung selain dipergunakan oleh sedikit orang di tempat-tempat tertentu juga memiliki kekhasan, keseksian, ketulenan, dan keistimewaan tersendiri. Ia merupakan warisan dari suatu zaman yang begitu purba, begitu kuno dan hampir tidak tergapai oleh imajinasi kita yang hidup di masa kini.

April 11, 2013

Indepth Konsisten Terbitkan Buku Penulis Lampung

Oleh Gatot Arifianto

BANDARLAMPUNG -- Unit usaha Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung, Indepth Publishing berupaya konsisten dengan terus menjaga buku-buku karya penulis lokal bisa mereka terbitkan setiap bulan.
 
"Dalam kurun waktu setahun, jika ditotal,  kami sudah menerbitkan 30 judul buku. Kami terus berusaha agar setiap bulannya ada buku-buku baru yang terbit untuk menggairahkan dunia literasi di Lampung," kata Managing Director Indepth Publishing, Tri Purna Jaya, di Bandarlampung, Kamis.


April 10, 2013

Indepth Terbitkan 3 Buku Baru

BANDAR LAMPUNG (Lampost.Co): Indepth Publishing akan menerbitkan tiga buku baru dalam bulan April ini. Ketiga buku itu ialah Pembangunan dan Kearifan Lokal karya Agus Mardihartono, Goro-Goro: Kucing Gering, Bagong Leong, Cerita Kebijaksanaan Hidup karya Romo Dwijandowo Pr, dan "Feodalisme Modern, Sebuah Wacana Kritis tentang Lampung dan Kelampungan karya Udo Z Karzi.

Direktur Indepth Publishing Tri Purna Jaya menjelaskan buku karya Agus Mardihartono adalah disertasi mantan Wakil Bupati Tulangbawang itu di Universitas Gajah Mada. Sedangkan buku karya Romo adalah kumpulan tulisan yang pernah dimuat majalah Nuntius.

Tak Ada Manusia Kerdil di Hutan Way Kambas

Oleh Eni Muslihah
HEBOH adanya "manusia kerdil" atau "makhluk liliput" yang diberitakan menjadi misteri di hutan Sumatera, khususnya kawasan hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Kabupaten Lampung Timur, ternyata tidak benar.

Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas membantah pemberitaan sejumlah media massa tentang adanya temuan manusia kerdil atau makhluk liliput di dalam kawasan hutan di Kabupaten Lampung Timur tersebut.


April 7, 2013

[Fokus] Kita Butuh Ruang Informal

RUANG terbuka (public space) dibutuhkan warga kota bukan saja untuk melakukan aktivitas fisik, seperti olahraga. Tapi ruang yang dapat dipakai untuk berinteraksi dengan sesama teman atau kerabat. “Bila di kantor, ruang yang dipakai sangat formal, sehingga butuh ruang informal yang lebih bebas untuk sekedar ngobrol dan kumpul bersama,” kata Hartoyo, sosiolog Universitas Lampung.

Dia menilai, ruang terbuka yang dipakai untuk ruang publik bisa dibuat lebih hijau dengan tambahan satwa. Tempat seperti itu akan menjadi hiburan tersendiri yang mudah diakses. Misalnya di dalam bangunan atau gedung, dibuat ada ruang hijau, yang bisa dijadikan tempat istirahat.
“Dalam pembangunan gedung, harus memperhatikan aspek sosial dengan membuat ruang informal. Ini bisa menjadi hiburan dan tempat istirahat sejenak,” katanya.


[Fokus] Sulitnya Mencari Tempat Kreativitas

BEBERAPA remaja yang kerap latihan break dance merasa kesulitan mencari tempat latihan yang layak. Taman-taman yang ada di Bandar Lampung tidak memadai untuk dijadikan tempat latihan mengasah kreativitas gerakan.

Meskipun tidak memadai, komunitas break dance tetap memaksakan diri berlatih di Taman Dipangga. Ade, salah seorang penari break dance, pernah dedera pada bagian tangan saat latihan di Taman Dipangga. Lantai yang tidak rata karena rusak, membuat mereka rentan cedera.


[Fokus] Bukan Sekadar Ruang Terbuka

TAMAN tidak hanya sekadar menjadi tempat rekreasi. Ruang publik ini akan menjadi wadah segala macam aktifitas sosial. Public space akan menjadi perekat sosial yang bisa meredam potensi konflik.

Rafael, balita subur itu berlarian menghindari kejaran Eva, ibunya yang memegang mangkok. Derai tawa seolah tak henti dalam canda tarik ulur dalam rangka makan sore sang bocah di Lapangan Kalpataru, Rabu ((3-4) sore lalu.

[Fokus] Bandar Lampung Darurat Taman Kota

Warga Bandar Lampung butuh ruang publik. Namun, pemerintah tak peduli. Maka, taman-taman darurat bermunculan.

Lapangan Kalpataru, Kemiling, Bandar Lampung, mulai ramai ketika menjelang sore hingga malam hari. Berbagai aktifitas menyatu dalam lapangan bola yang sudah disulap menjadi taman yang dilengkapi dengan fasilitas tempat duduk dan jogging trcak ini. Ada yang hanya duduk-duduk santai sambil mengobrol, banyak juga yang jogging sambil mendengarkan lagu melalui head set handphone.