September 7, 2014

Zulkarnain Zubairi Raih Penghargaan Kamaroeddin

JURNALIS Lampung Post, Zulkarnain Zubairi, dianugerahi Penghargaan Kamaroeddin oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung dalam malam puncak HUT ke-20 AJI, Sabtu malam, di Kafe Rumah Putih, Gotongroyong, Bandar Lampung.

Ketua Juri Tisnanta mengatakan Zulkarnain Zubairi dipilih sebagai pemenang karena berkontribusi besar terhadap perkembangan karya jurnalistik bertema budaya Lampung. Jurnalis yang juga biasa disapa Udo Z. Karzi ini juga dinilai konsisten dalam menggerakkan penulis muda di Lampung untuk berkarya, terutama menyangkut aspek lokalitas Lampung.

Indepth Publishing Siapkan Buku 100 Hari Gubernur Lampung

Oleh Gatot Arifianto

INDEPTH Publishing bekerjasama Pusat Kajian Kebijakan Publik dan Hak Asasi Manusia (PKKPHAM) Fakultas Hukum Universitas Lampung, siap menerbitkan buku "Dari Oedin ke Ridho, Kado 100 Hari Pemerintahan M Ridho Ficardo-Bachtiar Basri".

Menurut pegiat PKKPHAM FH Unila, Dr HS Tisnanta, di Bandarlampung, Minggu (7/9), buku itu berupa kumpulan tulisan para penulis dari berbagai kalangan, yaitu akademisi, budayawan, peneliti, jurnalis, dan aktivis di Lampung tentang berbagai persoalan Lampung saat ini.

Udo Z Karzi Raih Kamaroeddin Award 2014

Oleh Budisantoso Budiman


JURNALIS, penulis sekaligus pegiat seni dan budaya khususnya sastra dan bahasa Lampung Zulkarnain Zubairi (Udo Z Karzi) meraih Kamaroeddin Award 2014 yang diberikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung pada Malam Refleksi 20 Tahun AJI sekaligus penganugerahan penghargaan, di Kafe Merah Putih Bandarlampung, Sabtu (6/9) malam.

Udo Z Karzi (tengah) saat menerima Kamaroeddin Award 2014
diserahkan wakil keluarga Alm Kamaroeddin, di Bandarlampung,
Sabtu (6/9) malam. (FOTO: ANTARA LAMPUNG/Budisantoso Budiman)
Dewan juri menilai, Zulkarnain Zubairi konsisten sebagai jurnalis dan penulis yang tidak hanya mampu menuliskan dan mengangkat problematika sosial politik dan kemasyarakatan dengan kemampuan jurnalistik yang dipunyai, tapi juga konsisten dalam berkiprah mengangkat budaya Lampung khususnya bahasa dan sastra Lampung yang terancam punah, sehingga tetap menjadi lestari, berkembang, dikenal publik dan eksis sampai saat ini.


[Buku] Menyandingkan Cerpen-Sketsa, Menghormati Kebhinnekaan

Data BukuDaun-Daun HitamYuli Nugrahani dan Dana E. Rachmat
Indepth Publishing dan Caritas Tanjungkarang
I, Agustus 2014
X +90 hlm.

MENJELANG peringatan kemerdekaan Republik Indonesia, sebuah buku kumpulan cerita pendek (cerpen) dan sketsa diterbitkan untuk para pembaca sastra dan penggiat sosial. Dua segmen ini dituju terkait dengan maksud penerbitan buku ini seperti yang ditulis pada halaman awal buku, “Untuk menghormati kesejatian manusia yang memiliki keragaman cara pandang, budaya, etnis, dan keyakinan.”

Buku ini memuat 12 cerpen dari cerpenis Lampung, Yuli Nugrahani, dan 12 sketsa yang dibuat pelukis Lampung, Dana E. Rachmat. Sebanyak 12 cerpen dan 12 sketsa ini menggambarkan kesederhanaan yang mencuat dari keragaman masyarakat, khususnya masyarakat Lampung. Hal-hal yang sepele yang mudah kita jumpai sehari-hari di sekitar kita, itulah yang muncul dari padanya.


Udo Z. Karzi Raih Penghargaan Kamaroeddin

BANDARLAMPUNG - Zulkarnain Zubairi atau yang lebih dikenal dengan Udo Z. Karzi meraih Penghargaan Kamaroeddin pada malam refleksi 20 tahun Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung yang digelar di Kafe Rumah Putih yang beradi di Kelurahan Gotongroyong, Tanjungkarang Pusat, tadi malam.

Dia dinilai memiliki konsistensi sebagai budayawan Lampung. Udo Z. Karzi menyisihkan nominator lainnya dalam meraih penghargaan tersebut, yakni Iswadi Pratama, LBH, S.B. Laila, dan Uki M. Kurdi.

September 6, 2014

Kota Lama, Kota Baru, Kota Kreatif

Oleh I.B. Ilham Malik


DALAM menilai sebuah kota, tentang kondisinya saat ini dan juga dalam memproyeksikan masa depannya nanti yang berbentuk seperti apa, kita tentu tidak bisa meninggalkan apalagi menanggalkan sejarah terbentuknya kota itu sendiri. Kita sebut saja misalnya ketika kita membicarakan dan juga membandingkan tentang tata ruang Kota Metro dan Kota Bandar Lampung.

Sebab, sejarah terbentuknya kota itu sendiri berbeda-beda. Proyeksinya juga berbeda, sehingga bentukannya pada masa kini menjadi juga berbeda. Karena itu, kita tentu perlu secara objektif melihat dan juga menilai kondisi suatu kota, yang mana sebaiknya tidak terlepas dari sejarah pembentukannya sendiri pada zaman awalnya dahulu. Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas secara spesifik sejarah kota-kota kita, terutama membahas tentang sejarah Kota Metro dan Kota Bandar Lampung.


August 31, 2014

Diro Aritonang, Kalianda, dan Krakatau

Oleh Beni Setia


SEKITAR 40 tahun lampau, ketika saya mulai pendidikan pertanian di SPMA di Soreang—sekitar 20 kilometer dari Bandung—, saya sengaja menonton film Bernard Kowalski, Krakatoa, East of Java. Sebuah film yang menarik karena triller termaksud yang disajikan sebelum film inti main, karena judulnya dan sekaligus sebab judul itu mengandung kebenaran fakta serta kesalahan penandaan.

SYAIR LAMPUNG KARAM. Penyair Jawa Barat kelahiran Kalianda, Lamsel,
Diro Aritonang, membaca Syair Lampung Karam karya Muhammad Soleh,
dalam rangkaian Festival Krakatau XXIV di Pasar Seni, Enggal, Bandar
Lampung, Rabu (27/8). (FOTO ISTIMEWA)
Ada dua kepenasaran yang mengikutinya. Hingga apa yang sebenarnya terjadi dengan letusan (gunung) Krakatau itu? Setidaknya kalau dikaitkan dengan fakta: fiksi film kolosal itu punya efek khusus, sebelum era Steven Spielberg, yang melulu menggarap amukan ombak di laut.


Melirik Tanah Lampung

Oleh Frieda Amran
Penyuka sejarah, bermukim di Belanda


BELANDA dan Inggris bersepakat: mulai Maret 1824, seluruh Pulau Sumatera menjadi wilayah kekuasaan Belanda. Lampung pun tidak luput. Hampir seluruh bagian selatan Pulau Sumatera termasuk wilayah Lampung, kecuali daerah Komering (yang masuk Residensi Palembang) dan daerah di balik Bukit Barisan (yang termasuk Residensi Bengkulu).

Edward Jenner (1749—1823) dengan vaksin cacar air
yang dikembangkannya sejak 1774.
Pada awal 1800-an, diketahui Lampung termasuk wilayah kekuasaan Banten, bahkan sebelum Islam berpengaruh di sana. Namun, sejarah asal-mula terjadinya kaitan antara Lampung dan Banten tidak banyak diketahui.


August 30, 2014

Kota Budaya, Kota Kreatif

Oleh Udo Z. Karzi


BANDAR Lampung Potensi Jadi Kota Budaya. Demikian judul berita Lampung Post, 23 Januari 2009. Kedengarannya gombal ya?

Bundaran Gajah, Bandar Lampung
Namun, benarlah. Ucapan itu datang langsung dari budayawan, sastrawan, teateran Putu Wijaya. Memang denyut nadi aktivitas kesenian, baik sastra, teater, maupun seni pertunjukan lain, di kota ini sangat kuat.

August 24, 2014

Mencari Perempuan Lampung

Oleh Frieda Amran
Penyuka sejarah, bermukim di Belanda


CERITA percintaan si bujang Lampung dengan gadis idamannya belum berakhir. Walaupun si bujang sudah bolak-balik datang berkunjung dan sudah pula berlembar-lembar surat cinta ditulisnya, percintaan itu belum dapat dilanjutkan ke jenjang selanjutnya, perkawinan, sebelum persetujuan resmi dari orang tua si gadis telah diperoleh.

Burung koewou.
Persetujuan itu baru diberikan setelah si bujang menyerahkan sejumlah uang kepada calon mertuanya. Besarnya jumlah uang itu tergantung dari tingkat dan status sosial keluarga si gadis. Biasanya jumlahnya berkisar di antara $60?$300. Siapa pun dan dari mana pun asalnya boleh saja mengawini seorang gadis Lampung asal gadis itu bersedia dikawini dan lelaki itu sanggup menyerahkan uang yang dituntut untuk mendapatkan jodohnya.