September 2, 2009

'Cetik' Jadi Mata Kuliah di ISI Yogyakarta

YOGYAKARTA (Lampost): Dipastikan musik gamolan peghing atau cetik asal Lampung menjadi mata kuliah tambahan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta B. Bramanto usai workshop gamolan pekhing yang menghadirkan narasumber Wayan Sumertha Dana, S. Sn alias Wayan Mochoh di Aula Kampus ISI, Yogyakarta, akhir Agustus 2009 ini. Demikin rilis yang diterima Lampung Post, Selasa (1-9).

Dalam workshop yang diikuti para mahasiswa Etnomusikologi ISI Yogyakarta ini juga dihadiri Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI B. Bramanto dan Ketua Jurusan Seni Pertunjukan ISI Untung ini, diserahkan dua unit cetik dan 10 eksemplar buku notasi cetik.

Sedangkan dari ISI memberikan cendera mata dan buku panduan masuk ISI Yogyakarta. "Saya berharap musik Lampung bisa dipelajari secara akademis. Apalagi sudah punya aturan yang baku seperti; tehnik permainan dan notasi lagu," ujar B. Bramanto dalam sambutanya.

Mochoh yang menemukan laras cetik pada tahun 2003 ini yang menamakan pelog 6 nada, yakni: 1, 2, 3, 5, 6, 7, (1) oktav, terus berusaha menyosialisasikan musik ini, baik di daerah maupun di luar Lampung. "Sasaran strategis kalangan akademis dari anak sekolah sampai perguruan tinggi juga guru dan dosen," ujar Mochoh.

Moccoh mengatakan bersama kelompok Penggiat Cetik Lampung terus berupaya memperkenalkan musik cetik keluar Lampung. Sebelum ke ISI Yogyakarta, Mochoh juga pernah menggelar workshop di ISI Denpasar. Selain itu, lanjut Mochoh, juga pada festival musik anak-anak di Gedung Kesenian Jakarta belum lama ini menyuguhkan musik cetik.

Mochoh bertekad pada saatnya nanti musik tradisional Lampung khususnya, bisa menjadi mata kuliah di setiap perguruan tinggi seni di Indonesia.

"Saya ke depan punya obsesi menggelar festival musik cetik nasional di Lampung. Ini sekaligus untuk mempromosikan budaya dan pariwisata Lampung," ujar Mochoh.

Di Lampung Mochoh bersama A. Barden, Syafril Yamin, dan Riki juga terus berupaya memasyarakatkan musik cetik lewat TVRI dan audensi dengan siswa-siswa sekolah dasar se-Bandar Lampung. Selain itu, mereka bekerja sama dengan DKL menggelar workshop guru-guru kesenian SMA se-Bandar Lampung dan FKIP Unila. UNI/S-2

Sumber: Lampung Post, Rabu, 2 September 2009

September 1, 2009

Khazanah: Lampung Harus Patenkan Aset Budaya

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pemerintah Provinsi Lampung harus bertindak cepat mematenkan aset budaya dan kerajinan daerah untuk menghindari klaim dari pihak luar.

Beberapa produk khas Lampung yang perlu segera dipatenkan di antaranya kain tapis, sulam usus, dan batik. "Jangankan hak paten, hak demografi saja kita belum punya. Kami sudah mengupayakan melalui Disperindag, Dekranas, dan HAKI namun belum ada hasilnya. Lampung juga belum mendapat hak demografi atas kain tapis dan sulam usus," kata pimpinan Perajin Tapis Helau, Raswan, di Bandar Lampung, Senin (31-8).

Raswan menyampaikan hal itu terkait dengan maraknya klaim negara asing atas aset budaya lokal Indonesia. Tempe yang jelas-jelas makanan asli Indonesia telah dipatenkan Jepang, sementara batik, reog, lagu Rasa Sayange, dan terakhir tari pendet asal Bali diklaim Malaysia. Raswan mengungkapkan dokumen lengkap tentang tapis kini tersimpan di sebuah museum di Amsterdam, Belanda. "Seharusnya pemerintah segera mengambil aset-aset budaya yang masih bisa diselamatkan sebelum dipatenkan negara lain," ujarnya.

Secara terpisah, Gatot Kartiko, pengusaha batik khas Lampung, Gabovira, mengungkapkan para perajin enggan mematenkan produk mereka karena terkendala mahalnya biaya dan lamanya pengurusan. Ia menjelaskan untuk setiap satu desain perajin harus mengeluarkan biaya sekitar Rp800 ribu. "Sekarang saya punya 50 desain batik, berapa puluh juta saya harus membayar," kata dia.

Selain itu, lanjutnya, Undang-Undang Hak Cipta tidak mengikat; sedikit saja ada perubahan pada desain, misalnya warna, sudah tidak bisa disebut sebagai penjiplakan meskipun banyak kemiripan lainnya. Namun, maraknya penjiplakan dan klaim justru membuat Gatot semakin gencar membuat desain-desain baru.

"Saya sedang menunggu hak paten batik. Saya mendaftar sejak tahun 2007, tapi belum ada kelanjutannya," ujarnya.

Masih berkaitan dengan kepemilikan budaya, Pemprov Sumatera Selatan segera mematenkan aset budaya daerahnya. "Beberapa produk budaya Sumsel sudah dibuat hak ciptanya, tetapi hak patennya belum. Misalnya tari Gending Sriwijaya, kain songket, dan pempek. Semua segera dipatenkan," kata Wakil Gubernur Sumsel Eddy Yusuf di Palembang, kemarin.

Menurut Eddy, langkah mematenkan produk itu selain untuk menjaga identitas kebudayaan juga menghindari klaim dari pihak lain. "Namun proses mematenkan produk perlu waktu lama, melibatkan Departemen Hukum dan HAM dan PBB. Kami sifatnya hanya membantu," kata Eddy. n */U-1

Sumber: Lampung Post, Selasa, 1 September 2009

August 30, 2009

[Perjalanan] Mendengar Alam Sungai Mesuji

SUNGAI itu menjadi batas wilayah Provinsi Lampung dengan Sumatera Selatan. Ada sumber daya, ada kearifan, dan ada sesuatu yang spektakuler.

Semilir angin Selasa (6-8) pagi yang cerah menyapu permukaan Sungai Mesuji yang tenang berwarna kecokelatan. Beberapa burung pemakan ikan sesekali melintas di permukaannya. Di sisi kiri dan kanan sungai berjajar tumbuhan khas pinggir sungai yang orang setempat menyebut raso.

Dari kejauhan lamat-lamat terdengar deru perahu bermesin, yang menepi tepat di bawah jembatan perbatasan antara Kabupaten Mesuji dan OKI, di Pematang Panggang, Sumatera Selatan. Sebuah pejalanan dimulai.

Tiga speedboat bersiap menjadi pengantar satu cerita perjalanan tim yang digagas Penjabat Bupati Mesuji Husodo Hadi untuk dapat memaksimalkan potensi Sungai Mesuji bagi masyarakat. Wartawan Lampung Post Juan Santoso ikut dalam ekspedisi itu.

"Kita akan melihat langsung dan menyusuri Sungai Mesuji untuk mengindentifikasi masalah, mengoptimalkan potensi sungai agar bermanfaat lebih banyak bagi masyarakat. Maka saya mengajak dinas terkait untuk melihat langsung dan membuat program pemanfaatan Sungai Mesuji sesuai dengan bidang masing-masing. Kita akan mendengar suara alam," kata Husodo Hadi saat akan memimpin perjalanan tersebut.

Dengan bunyi mesin speedboat yang mulai dihidupkan, rombongan dibagi menjadi tiga dan mulai memasuki satu per satu perahu yang disiapkan. Rombongan pertama, Husodo Hadi didampingi Dandim 0412 Lampung Utara Letkol Gigih, staf Balai Besar Daerah Aliran Sungai (DAS) Provinsi Lampung, Baskoro, pimpinan PT BSMI Yongki dan Kapolsek Simpang Pematang AKP M. Pulungan.

Rombongan kedua, Camat Simpang Pematang, Murni S.P., Kepala Bappeda Ismet Paisol, staf Dinas Kesehatan Budiman Nainggolan, Novi dari Balai Besar DAS Provinsi Lampung, dan Kepala Dinas Pendidikan Nawawi.

Rombongan penutup, Camat Tanjungraya Riprianto, Kepala Dinas PU Huminsa Lubis, Kepala Dinas Perhubungan Sudirman Solehu, dan staf Dinas Pertanian Jaya.

Pukul 09.30. Tiga perahu bermesin itu menghentak saat mesin pendorong Yamaha 4 PK mulai mengerang.

Tiga puluh menit pertama, setelah melewati Kampung Pematang Panggang, OKI, yang berada di sisi sungai, kampung pertama yang dilewati. Konsentrasi masih terfokus pada kegiatan masyarakat setempat. Di atas bong (semacam rakit yang ditambat di belakang rumah tepat di sisi sungai, biasa digunakan untuk mencuci, mandi dan kakus), ibu-ibu mencuci. Anak-anak kecil berlompatan ke air dengan teriakan khasnya.

Meninggalkan kampung tersebut alam mulai berkisah. Sisi kiri dan kanan sungai hanya terlihat tiga jenis tanaman raso yang menjulang. Dengan daun-daunnya serupa pedang yang berjajar bagai kipas raksasa dan batang-batangnya menyerupai tebu. Berbuku-buku.

Beberapa tegak menjulang dengan tinggi rata-rata 3--6 meter dari permukaan air. Batang lainnya meliuk seperti ular. Tanaman tersebut tumbuh rapat, setia memagari sungai, di kiri dan kanan sepanjang usia sungai. Tumbuhan lainnya, pohon ingas dengan daunnya yang malas tumbuh. Hanya beberapa helai daun serupa daun jengkol di tiap rantingnya. Dan tanaman rumpun pandan yang hijau dengan tinggi hanya 1--2 meter dari permukaan air.

Sementara, permukaan air masih tenang dan cokelat. Lebar sungai sejak awal perjalanan masih antara 10--16 meter dengan kedalaman 10--17 meter. Perahu terus melaju dengan suara mesin konstan. Sesekali perahu lidah, sebutan perahu yang bentuknya diadopsi dari Thailand itu, meliuk-liuk mengikuti aliran Sungai Mesuji yang dahulu merupakan sarana transportasi utama di wilayah tersebut. Mulai dari perahu kecil hingga jenis kapal pengangkut kayu olahan yang akan dibawa ke Jakarta.

Satu jam perjalanan. Kemilau cahaya matahari seperti intan yang dipantulkan permukaan air berpendar memaksa mata menyipit. Di kiri dan kanan sungai masih berbaris raso yang membuat kontur sungai kadang menyempit.

Sesekali masih terlihat di sudut kerimbunan raso, nelayan dengan menggunakan sampan kecil memancing dan memasang jala. Sayang, tidak ada ikannya.

Memang, sungai mulai sakit. Ada bagian kehidupan yang hampir hilang. Tidak ada kecipak ikan, tidak ditemukannya gerombolan burung pemangsa ikan menjadi pertandanya. Hanya dua ekor elang sebagai puncak rantai makanan yang ditemui sepanjang perjalanan. Itu pun hanya termangu di puncak ranting pohon yang mati. Menatap malas ke permukaan sungai.

Satwa lain, monyet berbulu abu-abu berbuntut panjang, juga tampak gelisah. Jenis simpanse yang harusnya berkelompok dengan jumlah bisa mencapai ratusan ekor hanya terlihat 4--8 ekor di pepohonan ingas. Hutan sudah tidak ada di sepanjang aliran Sungai Mesuji yang seharusnya menjadi penyangga keberlangsungan sungai.

Rombongan terus melaju dengan kecepatan speedboat 21--30 knot. Saat akan memasuki Kampung Sungai Sidang, kondisi sungai menyempit dan permukaan sungai hampir dipenuhi tumbuhan eceng gondok sepanjang dua kilometer.

Memasuki Kampung Jurangkuali, permukaan air berubah warna menjadi hijau kebiru-biruan. Dan permukaan sungai melebar menjadi 40--80 meter. Perjalanan terus menuju Kampung Pagardewa dan Sungai Menang.

Pemandangan berubah, di balik kerimbunan raso di sisi kanan sungai mulai terlihat kelapa sawit yang berjajar rapi milik PT BSMI.

Alam kembali bercerita. Di kedalaman sungai yang mencapai 37 meter, di balik jernihnya air, kadungan residu air Sungai Mesuji sudah mulai rusak. Hal itu mengakibatkan biota air dan berbagai jenis ikan mulai punah. "Hal itu karena prilaku ependuduk sekitar yang terus meracuni ikan," kata Yongki.

Ia menambahkan di kanal-kanal buatan perusahaannya sering ditemui masyarakat yang menggunakan tiodan dan potasium (sejenis insektisida) untuk meracuni ikan. Hal tersebut dilakukan berulang dan dalam jangka waktu yang sudah cukup lama. Hingga akibatnya kini, ikan sudah tidak ada.

Akhirnya rombongan tiba di Kampung Kagungan Dalam, Kecamatan Tanjungraya pada pukul 11.30. Rombongan berdialog dengan warga setempat mengenai pemanfaatan sungai dan program pembangunan Kabupaten Mesuji ke depan.

Begitu juga ketika rombongan tiba di Kampung Sritanjung. Hal yang sama, berdialog dengan warga juga dilakukan Bupati. Hingga pukul 13.00 rombongan tiba di Kampung Nipahkuning menghadiri perhelatan olahraga. Pukul 16.30 rombongan pulang kembali melalui Sungai Mesuji ditemani sinar mentari yang memerah dan bayangannya yang memanjang di permukaan air dan burung-burung seriti yang akan pulang ke sarang.

Akhir perjalanan, staf Balai Besar DAS Provinsi Lampung Baskoro mengidentifikasi masalah. Dan merencanakan program buat Sungai mesuji. Ia mengatakan untuk saat ini Sungai Mesuji akan dijadikan menjadi sarana transportasi seperti waktu dahulu. Dan mempertahankan kondisi sungai (konservasi) dan memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat sekitar bantaran sungai dengan menanam tanamanan di sepanjang aliran sungai yang mempunyai nilai ekonomi.

Mengenai jenis tanamannya ia mengaku masih dikaji. "Kami akan membuat Sungai Mesuji menjadi sarana transportasi. Mempertahankan kondisi sungai. Dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat dengan menanam tanaman di sepanjang DAS, jenisnya belum tahu. Karena bukan bidang saya," ujarnya.

Sementara, di guest house PT BSMI, Penjabat Bupati mengharapkan agar Balai Besar DAS membuat program untuk Sungai Mesuji. "Tahun 2010 saya minta ada kegiatan di Sungai Mesuji, bentuknya seperti apa, silakan," ujarnya.

Sedangkan pihaknya sendiri akan membuat program membuat jaring apung di sepanjang sungai, dengan membudidayakan ikan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan sudah langka. Selain pembudiayaan, juga diadakan penangkaran.

"Dan banyak program lainnya. Seperti konservasi agar mengembalikan flora dan fauna yang seharusnya ada di sepanjang sungai. Yang jelas, Sungai Mesuji harus lebih memberi manfaat bagi masyarakat karena Sungai mesuji merupakan ikon Kabupaten Mesuji," kata dia. n M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 30 Agustus 2009

August 25, 2009

Budaya: KPL Minta Budaya Lampung Dilegalisasi

BANDAR LAMPUNG (Lampost/Ant): Komite Pariwisata Lampung (KPL) meminta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lampung segera melegalisasi seluruh produk budaya daerah itu, seperti kerajinan, sastra, dan kesenian.

"Pemerintah daerah, dalam hal ini Disbudpar Lampung, harus segera melakukan tindakan strategis untuk melindungi kebudayaannya. Karena dapat mudah diklaim bangsa lain apabila tidak segera dilakukan," kata Sekretaris Komite Pariwisata Lampung, Citra Persada, di Bandar Lampung, Senin (24-8).

Menurut dia, kebudayaan Indonesia sudah berulang kali diklaim oleh bangsa lain, khususnya Malaysia. Dan hal itu disebabkan kealpaan pemerintah dalam mendata sekaligus mengurus legalisasi kebudayaannya.

"Bali, yang secara mendasar budayanya jauh dari unsur-unsur Melayu, dapat mereka klaim. Apalagi budaya Lampung, yang unsur kebudayaannya sangat dekat dengan budaya Melayu. Jadi, pemerintah daerah harus bergerak cepat," kata dia.

Berkaitan dengan itu, ia mengatakan Disbudpar Lampung harus segera melakukan langkah dalam rangka perlindungan kebudayaan, yaitu mengumpulkan stakeholder di bidang kebudayaan, melakukan inventarisasi, legalisasi, dan memasukkannya ke dalam kurikulum pendidikan.

"Langkah pertama adalah mengumpulkan para stakeholder kebudayaan di Lampung dan mengoordinasikan upaya legalisasi yang telah mereka lakukan terhadap produk kebudayaan mereka selama ini," kata dia.

Menurut Citra, hal itu harus dilakukan karena ada kemungkinan legalisasi terhadap produk kebudayaan Lampung telah dilakukan secara sporadis.

Setelah itu, sebagai langkah lanjut, pemerintah memfasilitasi semua stakeholder untuk melakukan inventarisasi terhadap produk kebudayaan Lampung yang selama ini belum terdaftar dalam Lembaga Hak Kekayaan Intelektual.

Setelah melakukan inventarisasi, pemerintah harus mendaftarkan produk kebudayaan Lampung yang belum terdaftar secara hukum agar memiliki legalitas kepemilikan yang jelas atas karya kesenian dan kebudayaan yang dibuat. n K-2

Sumber: Lampung Post, Selasa, 25 Agustus 2009

August 23, 2009

Festival Film Pendek 2009: Mimpi, Perempuan, dan Kue Tart

Oleh Syaiful Irba Tanpaka

MENONTON film buat saya adalah sebuah perjalanan menikmati realitas batin dari para pekerjanya; penulis skenario, sutradara, juru kamera, penata musik, editor, serta kru lainnya. Bagaimana gagasan-gagasan mereka bersinergi mewujudkan mimpi dari kehidupan yang penuh kontradiksi.

Sebuah mimpi yang mengusung nilai-nilai kemanusiaan untuk memahami dan memaknai realitas secara jujur dan terbuka. Bahwa hitam adalah hitam sesungguhnya dan bahwa putih adalah putih sesungguhnya, bukan abu-abu. Setelah pengalaman empiris sering memosisikan kebenaran secara kacau, dan melemparnya ke dalam jaring-jaring relativitas. Inilah ziarah batin dengan kenikmatan dan kepuasan yang melimpah ruah.

Bagaimana misalnya takdir mencibir dan mengejek rasa cinta dan kasih sayang orang-orang miskin. Apalah artinya semangat, apalah artinya tekad ketika harus berhadapan dengan nasib yang dingin dan angkuh. Masih adakah obat bagi rasa sakit, kesepian dan kerinduan orang-orang terpinggirkan. Apakah arti pertemuan, perpisahan, persahabatan, idealisme, cinta, dan kehilangan?

Rasa lirih serupa ini ternyata telah menjadi tema yang mengemuka dalam film-film peserta Festival Film Pendek 2009 yang diselenggarakan Komite Film Dewan Kesenian Lampung bekerja sama dengan MM Studio SMKN 5 Bandar Lampung dan Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Cabang Lampung yang digelar tanggal 6 Agutus lalu. Festival dengan kategori film fiksi dan film dokumenter ini diikuti 28 peserta, terdiri dari 19 film fiksi dan 9 film dokumenter dengan mayoritas sineas yang masih terbilang remaja.

Menggembirakan! Barangkali ini adalah kata yang tepat sebagai bentuk apresiasi untuk merayakan potensi mereka. Sebab; pertama, mereka mampu menyodorkan keragaman dan kekayaan tema dari ruang-ruang kehidupan yang mungkin luput dari perhatian kita. Hal-hal sederhana yang mengabarkan keperihan hidup masyarakat kecil dari sebuah negara besar yang dipuja sebagai tanah surga. Siapa mau mendengarkan, siapa mau merasakan, dan siapa mau memedulikan di tengah kesibukan sebagian orang-orang yang sibuk merebut pangkat dan jabatan, menimbun kekayaan sebagai harta karun tujuh turunan.

Sudah tentu kita berharap onggokan mimpi ini dapat menjadi kenyataan (the dream come true) dengan adanya kerja sama dan sinergisitas dari semua stakeholder. Para sineas yang visioner dan kompak yang tidak lelah untuk terus meningkatkan kualitas diri, para produser, para sponsor, media penyiaran, pemerintah daerah, dan penonton yang yang memberikan apresiasi. .

Kedua, buat saya ini suatu fenomena yang menarik ketika mencermati bahwa banyak sutradara yang menggarap film dalam festival ini adalah perempuan. Seperti pada kategori film fiksi, tercatat nama-nama: Endras Astuti (Bunda), Melisa (Just Do It, Hanya Mimpi dan Sang Pemimpin), Erliana (Edelweis), Susi Rodiyanti (Kue Tart Tengah Malam), Frecilia (Tara), Rully O.P. (Forbidden of Love dan Di Manakah Engkau Seruit). Di kategori Dokumenter, ada Indah Mayshinta (Mang Rusli), Ika Yulistia (Mbah Rinam), Dwi Ria Nurmalia (Kisah Hidupku), Mery (Merah Gulaku Gula Merah dan Perayaan Odalan).

Para perempuan sutradara yang relatif muda ini ternyata mampu memilih dan menyajikan karya-karya yang penuh muatan sosial. Dari tema problematika kemanusiaan yang berseliweran di sekitar kita sampai dengan norma-norma ideal yang terjadi dalam pertarungan pemikiran. Mereka kaya akan tema dan gagasan.

Penaka idealisme yang digarap Melisa dalam Just Do It. Bagaimana seorang remaja laki-laki menyikapi teman-temannya yang datang dengan segepok uang yang dicurigai olehnya didapat secara haram. Konflik batin terjadi dalam diri remaja laki-laki itu. Melisa tidak memberi keputusan, kecuali membiarkan tokoh remaja laki-laki itu akhirnya mengambil uang bagiannya yang ditinggalkan teman-temannya dan menuju ke arah luar rumah. Kita dipersilakan untuk menginterpretasikan apakah tokoh itu memang menerima bagiannya atau ingin mengembalikan uang itu kepada teman-temannya atau pemiliknya yang entah di mana.

Kue Tart Tengah Malam yang dibesut Susi Rodiyanti merupakan kisah horor romantis dari sebuah persahabatan di kalangan remaja. Film ini menjadi menarik lantaran menyodorkan surprise ending. Ketika tokoh remaja putri yang ulang tahun pada malam itu ditinggal sendiri dan dikerjain teman-temannya yang berdandan serupa hantu. Saat skenario seperti April Mop itu dianggap selesai, mereka merayakan ultah sang remaja putri. Namun ketika acara tiup lilin akan berlangsung, tiba-tiba lampu mati, dan ketika lampu hidup kembali, di antara mereka ada hantu sesungguhnya.

Kemudian apa yang disajikan oleh Rully O.P. dalam Forbidden of Love buat saya merupakan keberanian tersendiri. Betul-betul tampil beda. Mengingatkan saya pada pernyataan dramawan Putu Wijaya bahwa karya seni harus bisa memberikan teror mental. Menggedor batin kita. Dalam versi sastra Budi Darma juga menuliskan bahwa karya yang baik justru mengungkapkan dunia yang seharusnya menurut moral tidak terjadi. Sifat-sifatnya menuntut orang untuk melihat kenyataan, kalau perlu yang tidak sejalan dengan kepentingan moral.

Melalui kemasan cinta segitiga yang unik Forbidden of Love punya daya betot yang lumayan kuat. Tokoh A (putri) menaruh cinta dengan tokoh B (putra) yang berpacaran dengan tokoh C (putri), tapi tokoh A dan C juga menjalin hubungan sebagai lesbi. Cerita ini juga menampilkan dunia tokoh D (lelaki banci) yang kemudian dibunuh oleh ayahnya sendiri saat mereka berkencan. Sang ayah merasa malu ketika mengetahui bahwa teman kencannya adalah anak lelakinya sendiri. Ending yang sama dimunculkan untuk tokoh A yang akhirnya membunuh tokoh C dan tokoh B. Hasrat birahi telah membuat seseorang menjadi buta hati dan pikir. Menjadi alasan yang fakir bagi seseorang melakukan pembunuhan. Tapi begitulah crime of sex menyodorkan kenyataan. Tragis!

Film ini sebetulnya memberikan ruang eksplorasi yang cukup luas jika didukung kemampuan teknis yang piawai. Mulai dari karakteristik tokoh, sudut pengambilan, artistik visual yang memperhitungkan faktor pencahayaan dan setting lokasi hingga proses editing-nya. Forbidden of Love memang masih banyak menghadapi kendala teknis serupa itu. Sehingga yang kita saksikan adalah visualisasi-visualisasi gambar yang verbal dengan adegan-adegan percintaan dan pembunuhan yang sedikit seronok. Ternyata keberanian saja belum cukup. Namun saya menghargai keberanian Rully bereksplorasi.

Dan bila saja para perempuan sutradara ini konsisten berkarya dan mengasah diri, daerah Lampung akan menjadi satu lumbung sineas yang menambah panjang deretan perempuan sutradara di antara nama-nama Mira Lesmana, Nia Dinata, dll.

Kendala teknis tampaknya menjadi persoalan krusial bagi para peserta. Dan ini adalah catatan saya yang ketiga. Jika film dianalogikan sebagai kue tart, proses pemilihan bahan menjadi penting. Sebab di sinilah asal mula kualitas cita rasa ditentukan. Meskipun itu belum cukup, karena cita rasa yang lezat sebaiknya harus juga ditunjang oleh kemasan tampilan yang menarik, dan ini akan menjadi kekuatan kreativitas yang bernilai tinggi.

Mulai dari memilih skenario, berlangsungnya proses produksi hingga pengeditan. Film membutuhkan koki-koki yang memiliki wawasan dan kemampuan teknis yang baik. Penulis skenario, sutradara, kameramen, penata artistik, penata musik, dan editor. Ini merupakan faktor-faktor utama yang menentukan kualitas sebuah film. Bayangkan jika skenarionya terbilang buruk, proses kerja sutradara, kameramen, dll juga menjadi persoalan yang berat.

Dalam Festival Film Pendek kali ini kemampuan teknis para peserta relatif sama. Sama-sama mendekati standar. Namun potensi mereka sungguh bersahaja. Senja Terakhir garapan Budi Stiawan merupakan film yang cukup kuat dari segi cerita, penokohan, dan visual.

Film yang menceritakan cinta kasih seorang anak (remaja putri) kepada ibunya, sehingga rela bekerja sambilan untuk membeli obat bagi ibunya yang sakit. Dengan cerita yang sederhana, Senja Terakhir mampu memberikan sajian yang membetot emosi kita.

Jauh berbeda dengan film-film yang ditaja Hendrik Liu (Kotak sakti, Di Antara Dua Pilihan dan Cape Deh) yang begitu "cerewet" untuk menjelaskan cerita dengan kata-kata. Padahal, bukankah dunia film adalah dunia audiovisual, dunia pandang dengar yang mengandung gagasan-gagasan idiologis dari sineasnya?

Garin Nugroho lewat Bulan Tertusuk Ilalang justru menawarkan konsep inovatif untuk membebaskan film dari keterjajahan sastra (kata-kata). Bagaimana adegan-adegan yang disajikan mampu berbicara dan membetot sukma penontonnya tanpa harus banyak dijelaskan oleh kata-kata.

Pada kategori dokumenter, saya menyayangkan kealpaan (?) Mery yang menggarap dokumentasi Perayaan Odalan tanpa ada penjelasan dari narasumber maupun yang disampaikan lewat narator. Sungguh saya dibuat tidak paham dan merasa kesulitan mengapresiasinya. Kalau ada penjelasan dari narasumber atau narator, tentu saya bisa menikmati setiap prosesi yang berlangsung, namanya apa dan tujuannya apa.

Dengan mempertimbangkan di antara kreteria-kreteria di atas dan dengan perdebatan yang romantis, maka dewan juri Festival Film Pendek 2009 yang terdiri dari Syaiful Irba Tanpaka, Didi Pramudya Mukhtar, dan Budi Meong bersepakat menetapkan para pemenang sebagai berikut: Kategori film fiksi juara I Senja Terakhir sutradara Budi Stiawan; juara II Kue Tart Tengah Malam (Susi Rodiyanti); juara III Sang Pemimpin (Melisa). Kategori film dokumenter juara I Seuntai Harapan Dari Pulau Tabuan (Balya Kretarta), juara II Sang Penambang (Nanang Tarzan), juara III Merah Gulaku Gula Merah (Mery).

Namun, secara keseluruhan selain yang telah dituliskan, film-film para peserta lainnya seperti Hendrik berjudul Sekolah; Dayat, Selamat Jalan yang merupakan sebuah visioklip; Angga Ong, Aden Jangan Marah; Ajat Sudrajat, Angin Dari Barat; Balya Kretarta, Sholeha; Rangga, Halimi; juga cukup menjanjikan sebagai benih-benih yang dapat menyemarakkan dunia perfilman di bumi Lampung bersama para seniornya seperti Dede Safara Wijaya, Ibrahim Wardin, Hermansyah G.A., Irwan Wahyudi, dll. Tabik pun.

* Syaiful Irba Tanpaka, Juri Festival Film Pendek 2009, Sutradara Film Rindu tak Hilang di Tokyo

Sumber: Lampung Post, Minggu, 23 Agustus 2009

[Perjalanan] Tambling Jadi Wisata Mendunia (2-Habis)

OBJEK Wisata Alam Tampang-Belimbing (Tambling) terletak di ujung selatan Pulau Sumatera-Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) bakal menjadi kawasan wisata mendunia. Dalam laporan perjalanan edisi pertama, Tambling banyak menyimpan flora dan fauna yang tidak dimiliki daerah lain. Wartawan Lampung Post, Iskandar Zulkarnain, melaporkan hasil kunjungannya dalam catatan terakhir dari dua tulisan. Berikut catatannya.

TAMPANG BELIMBING--Jika dilihat dari udara, kawasan ini sungguh menakjubkan. Daerah yang dikeliling laut dan ditumbuhi ribuan jenis flora dan didiami ribuan hewan dilindungi membuat Tambling menjadi mahal dan "tertutup" bagi pemburu atau pencinta alam.

Decak kagum itu keluar dari mulut Dubes AS Cameron R. Hume saat dia bersama 15 duta besar dan perwakilan negara sahabat mengunjungi Tambling Wildlife Nature Conservation (TNWC). TNWC sendiri dikelola oleh Bos Artha Graha, Tommy Winata.

"Kawasan Tambling sangat indah karena alamnya menyimpan ribuan jenis flora dan satwa liar langka. Hutannya terjaga dan pengunjung dapat menikmatinya nanti," kata Cameron R. Hume. Itu pun juga disampaikan oleh Dubes Lebanon Victor Zmeter.

Keinginan dubes tadi pun, disambut baik Tommy. Namun bos Artha Graha meminta komitmen pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus menjaga kelestarian kawasan tersebut. "Hutan dan hewan harus dilindungi. Jangan sampai dibuka akan mematikan kehidupan flora dan fauna. Biarkanlah kawasan ini hidup dengan sendirinya," kata Tommy. Dia mengaku menghabiskan dana miliaran rupiah melakukan konservasi lingkungan di kawasan Tampang Belimbing.

Usai menikmati kerang panggang, rombongan dubes menaiki mobil berburu menuju menara mercusuar. Menara setinggi 70 meter itu dibangun Belanda pada 1879, pada masa pemerintahan Z.M. Willem III. Di situ kami melihat kejayaan Belanda, masih berdiri kokoh menara dengan bangunan pendukung lainnya.

Di sisi kanan-kiri kawasan menara, kami melihat ratusan rusa yang hilir mudik masuk dalam hutan. Saya pun menyaksikan bagaimana, seorang dubes turun naik mobil berburu dengan keringat yang mengucur dari tubuhnya, hanya ingin melihat dari dekat, flora dan fauna yang tumbuh dan hidup di kawasan Samudera Hindia itu.

Festival Krakatau

Kunjungan dubes ini ke Tambling, menurut Gubernur Sjachroedin, merupakan ajang promosi pariwisata dan menjadi salah satu kegiatan menyukseskan tahun kunjungan wisata Lampung 2009 dalam rangkaian Festival Krakatau.

Lampung, kata Gubernur, memiliki TNBBS. Kerusakan TNBBS telah mencapai 40 persen. "Para duta besar diajak untuk melihat kondisi TNBBS agar mereka mau membantu pemeliharaannya," kata dia. Perjalanan ke Tambling memang sangat mengesankan bagi duta besar.

Dubes Lebanon mengatakan negaranya hidup dan dibiayai dari hasil kunjungan wisata. "Kami tidak mempunyai cukup sumber daya alam seperti Indonesia. Indonesia bisa mencontoh Lebanon memperbesar pendapatan negara melalui wisata. Tambling ini bisa juga dinikmati wisatawan dan dibuka untuk umum," kata Victor Zmeter.

Setelah menikmati mercusuar dan pantai di Samudera Hindia pada pukul 16.30, rombongan meninggal kawasan itu menuju lapangan terbang untuk mengakhiri penjelajahan kawasan TNWC.

Sebelum pulang ke Bandara Radin Inten II, Bandar Lampung, dengan menggunakan pesawat cassa dan helikopter lagi, dubes dan Tommy pun saling bertukar cendera mata serta diabadikan dengan foto bersama.

Diguyur hujan gerimis, satu per satu pesawat yang ditumpangi dubes meninggalkan Tambling dengan sejuta kenangan agar dapat membawa wisatawan dan investor untuk menamankan serta ikut mendanai kelestarian hutan di kawasan hutan di Provinsi Lampung. n M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 23 Agustus 2009

August 19, 2009

Budaya: Lomba Perahu Dayung Meriahkan HUT RI di Mesuji

MESUJI (Lampost): Puncak peringatan HUT ke-64 RI di Kabupaten Mesuji berlangsung meriah dengan diadakannya lomba-lomba yang mewakili kebudayaan daerah setempat. Salah satu lomba yang paling terkenal dan kini kembali diadakan adalah lomba perahu hias dan lomba perahu dayung di aliran Sungai Mesuji.

Ratusan pengunjung mulai dari anak-anak dan orang tua dari kampung-kampung sepanjang Sungai Mesuji memadati lokasi lomba yang dipusatkan di Kampung Wiralaga I dan Wiralaga II. Lomba yang dalam bahasa setempat disebut lomba bidar itu diikuti 18 perahu.

Lomba bidar tingkat kabupaten itu merupakan lomba perdana di Kabupaten Mesuji, sejak kabupaten tersebut dibentuk. Selain istimewa, karena bertepatan peringatan HUT RI, lomba juga dibuka Penjabat (Pj.) Bupati Mesuji Husodo Hadi dan unsur Muspida setempat.

Rombongan Pj. Bupati menuju Kampung Wiralaga, yang berada di alur Sungai Mesuji untuk menyaksikan lomba yang sudah menjadi tradisi turun-temurun itu, sekitar pukul 15.00. Sebelumnya, Husodo Hadi menjadi inspektur upacara pada puncak peringatan HUT RI di Kampung Brabasan, Tanjungraya. Kedatangan Husodo langsung disambut dengan tarian adat Mesuji.

Lomba perahu tersebut dibagi menjadi dua katagori, yaitu perahu hias dan perahu dayung. Untuk perahu hias diikuti 7 perahu dengan berbagai motif hiasan. Sedangkan untuk perahu dayung diikuti 11 perahu dengan 10 orang pedayung.

Garis awal lomba dimulai dari Kampung Wiralaga II dan finish di Kampung Wiralaga I. Untuk lomba katagori perahu hias, juara I dimenangkan Perahu Lesahan Mesuji, juara II Perahu F-16, dan juara III direbut Perahu Wiralaga II.

Sedangkan untuk lomba perahu dayung, juara I diraih grup Preman Insaf, juara II diraih Putra Unggul, dan juara III direbut grup Samudra Sakti.

Usai lomba, Husodo Hadi berkenan memberikan piala dan trofi bagi para pemenang. Pemenang pertama dari kedua kategori lomba mendapat hadiah Rp1 juta, juara II Rp500 ribu, dan juara III mendapat Rp250 ribu. Setelah memberikan hadiah, Husodo secara spontan memberi bonus kepada setiap pemenang Rp500 ribu.

Dalam sambutannya, Husodo mengatakan keunggulan sungai dan budaya Mesuji harus terus dilestarikan. Bahkan dengan seringnya dilakukan penelusuran Sungai Mesuji, kata Husodo, menarik minat Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. untuk menyusuri sungai itu. "Rencananya, Gubernur akan datang waktu Lebaran untuk melihat lomba perahu di Mesuji," ujar dia. n UAN/D-3

Sumber: Lampung Post, Rabu, 19 Agustus 2009

August 18, 2009

Pustaka: Budaya Baca Cerita Masih Minim

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Project Manajer Read a Story Erlangga for Kids, Dwi Kartika Wardana, mengatakan saat ini kesadaran orang tua tentang pentingnya membacakan cerita masih minim. Mayoritas anak belum dibesarkan dengan membaca buku bersama orang tua.

Dwi Kartika mengatakan beranjak dari hal tersebut pihaknya menggelar kegiatan untuk membudayakan kultur membaca pada anak Indonesia. "Kegiatan ini kami beri nama Read a Story. Tujuannya mengajak semua elemen masyarakat untuk mengembalikan budaya bercerita sebagai landasan dini bagi putra-putrinya," kata dia dalam kampanye Read a Story di Gedung Wanita, Sabtu (15-8).

Menurut Kartika, program ini dimulai dengan memberikan kesempatan kepada guru dan orang tua mengirimkan rekaman video mereka saat membacakan cerita. "Kami menerima 917 CD dan kemudian kami pilih 20 semifinalis yang bertanding di depan dewan juri di Mal Pejaten Village (1-6). Dari 20 semifinalis kemudian terpilih 10 terbaik yang masuk dalam final Read a Story," kata dia.

Dia mengatakan dari 10 finalis kemudian digelar final pada (4-6) lalu dan terpilihlah tiga pemenang utama, masing-masing Ryan Shahrezane (Jakarta, juara I), Kartikanita (Surabaya, juara II), dan Iim Hilman (Yogyakarta, juara III).

Erlangga For Kids menggelar kampanye Read a Story dengan menggelar road show di sejumlah kota termasuk di Bandar Lampung. "Kami berharap melalui kegiatan ini bisa menjadi fondasi dasar kemampuan berbahasa, juga meningkatkan kemampuan komunikasi verbal, meningkatkan kemampuan mendengar dan masih banyak lagi," kata dia.

Di Bandar Lampung, Erlangga bekerja sama dengan Ikatan Guru Taman Kanak-kanak (IGTK) dengan menghadirkan ratusan anak untuk mendengarkan dongeng yang disampaikan Kartikanita. Selain itu anak-anak juga mendapatkan buku dari Erlangga. n UNI/S-1

Sumber: Lampung Post, Selasa, 18 Agustus 2009

August 17, 2009

[Perjalanan] Lima Jam Menjelajah Tambling

OBJEK Wisata Alam Tampang-Belimbing (Tambling) terletak di ujung selatan Pulau Sumatera-Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Kawasan ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Tanggamus (Tampang) dan Kabupaten Lampung Barat (Belimbing). Wartawan Lampung Post, Iskandar Zulkarnain, melaporkan kunjungan bersama 15 duta besar rangkaian kegiatan Festival Krakatau XIX, akhir Juli lalu. Berikut catatannya.

TAMPANG BELIMBING--Kawasan ini dapat dicapai melalui laut dan juga udara. Kalau melalui laut dengan menggunakan kapal motor laut ke Tampang selama empat jam dan ke Belimbing selama enam jam. Jika melalui udara dapat ditempuh dengan pesawat kecil jenis cassa dari Bandara Radin Inten II, Bandar Lampung, langsung ke Belimbing selama 30 menit. Sedangkan dengan helikopter selama 45 menit.

Dalam sejarah Festival Krakatau, kali pertama ini, kawasan wisata alam "dijual" ke peserta mancanegara. Sedikitnya 15 duta besar (dubes) dan utusan perwakilan negara-negara sahabat mendapat kehormatan dari Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. dan bos Artha Graha Tommy Winata mengunjungi Tambling. Usai mengikuti pembukaan Festival Krakatau XIX di PKOR Way Halim, Bandar Lampung, pekan terakhir Juli lalu, Sabtu (25-7), tamu Lampung ini menggunakan bus menuju Bandara Radin Inten II.

Ikut dalam rombongan itu antara lain Dubes Amerika Serikat (AS) Cameron R. Hume, Dubes Lebanon Victor Zmeter, Dubes Jerman Paul Freiherr Von Malzahn, Dubes Turki Ali Kihcarslan Toyus, Dubes Qatar Jasin Jumat, Dubes Suriname Angelic Del Castilho, Dubes Afghanistan Bismillah Bismil, Dubes Brunei Darussalam Datok Harimau Padang, staf perwakilan dari negara Singapura, Taiwan.

Perjalanan menuju bandara, pemandu wisata memperkenalkan sejumlah tempat-tempat bersejarah di Kota Tapis Berseri ini. Sampai di bandara, tiga pesawat cassa, dua helikopter Puma dan TNI AU sudah siap. Satu per satu pesawat take off sekitar pukul 11.30. Saya bersama mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Assidiqie, Kepala Dinas Kehutanan Lampung Arinal Djunaidi, dan Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Hanan menumpang heli milik TNI AU.

Selama 45 menit mengudara, tibalah kami di atas kawasan Tambling. Pohon dari berbagai jenis terlihat dari atas. Beberapa menit kemudian, kami pun mendarat di Lapangan Terbang Tambling beralas rumput yang ditata rapi oleh Artha Graha.

Rombongan dubes disambut Tommy Winata. Dengam wajah dan senyum semringah, dubes dan Tommy saling berjabat tangan berjalan menuju vila. Di sisi kanan kiri, tamu disambut pekikan burung dan ringkik kuda. Jauh di pinggiran hutan ada puluhan rusa dan kerbau hutan. Kami sudah memasuki kawasan Tambling Wildlife Nature Conservation (TNWC) Lampung Barat.

Flora dan Fauna

Kawasan Tampang-Belimbing terdiri ekosistem hutan pantai sampai hutan hujan dataran rendah yang relatif masih asli. Ini merupakan habitat penting bagi berbagai jenis flora penyusun hutan pantai dan hutan hujan dataran rendah, jenis-jenis satwa liar langka seperti rusa (Cervus unicolor), kerbau liar (Buba/us bubalis), dan mentok rimba (Caerina sp). Di muara Way Sleman terdapat pulau endapan yang didoininasi oleh jenis Nypa fruticans dan merupakan habitat bagi populasi kalong yang jumlahnya ribuan ekor. Lobster dan buaya banyak hidup di kawasan tersebut.

Selain itu dapat dijumpai pantai pasir yang panjang dan indah, pantai karang Sawang Bajau, Savana Kobakan Bandeng, Way Sleman, Way Blambangan, Danau Menjukut yang dipisahkan dengan laut hanya oleh pasir pantai selebar puluhan meter, mercusuar setinggi 70 meter berdiri di zaman penjajahan Belanda, habitat penyu laut di Penipahan dan enklave Pemekahan.

Di kawasan hutan di Tambling itu terdapat dua perkampungan di dalam hutan (enklave) yang telah dihuni warga sejak tahun 1940-an. Di Dusun Pengekahan, Desa Way Haru, Kecamatan Bengkunat Belimbing, dalam areal hutan TNBBS itu, tinggal sedikitnya 164 KK (500 jiwa) warga yang belum dipindahkan dan masih tinggal di sana.

Pesona Tambling

Di kawasan ini dapat dilakukan berbagai kegiatan olahraga air (swimming, surfing, snorkeling, diving), foto hunting, penjelajahan hutan dan pantai, susur sungai, pengamatan flora fauna, memancing, safari malam melihat ratusan rusak berjalan menyusuri hutan dapat dilakukan. Kawasan wisata ini dikelola Artha Graha. Tommy, bos Artha Graha, diberikan lahan 100 hektare sesuai SK sejak 1992.

Di situ, tersedia sarana-prasarana yang cukup lengkap, di antaranya dermaga, air strip sepanjang 1,5 km, shelter, empat unit cottage, guest house, kendaraan roda empat, kendaraan roda dua, kuda, speed boat, kapal motor laut bronco, restoran, pondok kerja, pos jaga, dan jalan setapak.

Sekolah Harimau

Matahari menyengat, tetapi hawa pegunungan membuat silir. Tetamu asing dubes yang ingin tahu isi hutan naik jip modifikasi dengan kursi di atas kap mengeliling kawasan TNWC.

Tempat pertama yang dikunjungi adalah lokasi penglepasliaran harimau sumatera (Panthera tigris Sumatrae) atau sekolah harimau. Di sini, kita melihat bagaimana harimau dijinakan dan bagaimana pula raja hutan itu memangsa hewan untuk dimakan.

Kepada Dinas Kehutanan Lampung Arinal Djunaidi mengatakan Artha Graha dipercaya juga oleh Departemen Kehutanan ikut mengawasi lima ekor harimau Sumatera asal Aceh Selatan. "Hewan itu untuk dijinakkan agar tidak buas dan memakan manusia. Sebelumnya, ada dua dari lima harimau diberi nama Pengeran dan Agam dilepas di hutan TNBBS. Kini Artha Graha masih menjinakkan empat ekor harimau lagi, yang diberi nama Buyung, Ucok, Panti, dan satu lagi harimau didatangkan dari Jambi bernama Salma," kata Arinal.

Ada danau yang menyimpan ribuan kerang (sea food) yang sengaja dikembangbiakkan di sungai tersebut. Tetamu para dubes itu pun menikmati kerang yang dimasak di atas panggangan api alami hanya dengan bumbu kecap, saus, dan sambal botol.

"Kawasan Tambling sangat indah karena alammnya menyimpan ribuan jenis flora dan satwa liar langka. Hutannya terjaga dan pengunjung dapat menikmatinya nanti," kata Dubes AS Cameron R. Hume di sela-sela kunjungannya.

Jimly pun menginginkan Tambling dibuka untuk umum, dan daerah lain dapat mencontoh Tambling sebagai kawasan untuk dilindungi. "Pengusaha seperti Pak Tommy, tidak hanya mencari keuntungan dari usaha. Namun dia juga ikut memikirkan kelestarian alam di tengah global warming," kata dia. n M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 16 Agustus 2009

August 15, 2009

Teater: DKL Kekurangan Naskah Monolog

BANDAR LAMPUNG (Lampost/Ant): Komisi Teater Dewan Kesenian Lampung (DKL) mengaku kekurangan naskah monolog (pementasan teater dengan aktor tunggal) pada koleksi naskah mereka, untuk keperluan pembinaan bagi aktor dan aktris teater yang dinaungi lembaga tersebut.

"Sebagai sebuah lembaga kesenian yang dibentuk oleh pemerintah, DKL memiliki kewajiban untuk membina semua aktor dan aktris teater di Lampung. Dan kelengkapan fasilitas dasar untuk pembinaan seperti naskah menjadi kebutuhan mutlak," kata Anggota Divisi Teater DKL Iin Mutmainah, Kamis.

Naskah teater monolog yang dimiliki DKL selama ini, kata Iin, masih sebatas naskah-naskah lama, yang nyaris semuanya sudah tereksplorasi. Sehingga diperlukan beberapa naskah tambahan untuk lebih memperluas wawasan para aktor dan aktris.

"Kami mengakui untuk mendapatkan sebuah naskah monolog sangat sulit, jauh lebih sulit daripada naskah teater untuk pementasan beramai-ramai," kata dia.

Dia menambahkan untuk membuat sebuah naskah teater monolog, diperlukan taste dan referensi yang luas, karena hampir kebanyakan naskah monolog merupakan bentuk adaptasi dari cerpen.

"Biaya untuk mengadaptasi naskah itu cukup mahal, karena pembuatan naskah monolog lebih mengandalkan pendekatan adaptasi ketimbang menerjemahkan," kata dia.

Pada tahun 2008, DKL telah melakukan adaptasi terhadap sebelas cerpen populer, seperti Simon Carmigel, Edgar Alan Poe, dan Osman Saadi, menjadi naskah teater monolog, untuk menambah perbendaharaan naskah monolog mereka.

Pascaprogram adaptasi tersebut, naskah teater monolog yang dimiliki DKL saat ini bertambah menjadi 50 naskah, tapi Iin mengatakan jumlah tersebut masih belum mencukupi.

Iin mengatakan keinginan untuk memasyarakatkan kembali kesenian monolog, sudah mulai dimunculkan pada 2007, di mana untuk pertama kalinya DKL mengadakan festival monolog bagi aktor dan aktris dari berbagai komunitas teater di Lampung.

"Pada saat itulah kami menyadari, bahwa kami sangat kekurangan naskah monolog. Karena itulah pada 2008, program adaptasi naskah diadakan," kata dia. n K-2

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 15 Agustus 2009