February 2, 2008

Penghargaan: Sastrawan Lampung Terima Hadiah Rancage

BANDUNG -- Sastrawan Lampung, Udo Z. Karzi atau Zulkarnain Zubairi, meraih Hadiah Sastra Rancage 2008 berkat karyanya berjudul Mak Dawah Mak Dibingi. "Mulai 2008, para sastrawan yang menulis dalam bahasa Lampung juga akan mendapat Hadiah Rancage," tutur Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi dalam keterangan tertulisnya yang diterima Tempo kemarin.

Selain Udo, ada tiga sastrawan lain yang menerima penghargaan ini. Mereka adalah Godi Suwarna (karya berbahasa Sunda berjudul Sandekala), Turiyo Ragilputra (karya berbahasa Jawa berjudul Bledheg Segara Kidul), dan I Nyoman Manda (karya berbahasa Bali berjudul Depang Tiang Bajang Kayang-kayang).

Menurut Ajip, selain untuk karya unggulan, Hadiah Rancage 2008 dianugerahkan kepada orang atau lembaga yang dianggap berjasa besar dalam memelihara serta mengembangkan bahasa ibunya. Mereka adalah Grup Teater Sunda Kiwari pimpinan R. Dadi Danusubrata; redaktur majalah Jawa, Jaya Baya Sriyono; dan I Made Suatjana, penemu program penulisan aksara Bali yang disebut Bali Simbar.

Ajip menambahkan, tahun ini pihaknya juga memberikan Hadiah Samsudi kepada penulis buku bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda, yang jatuh kepada Ai Koraliati dengan karyanya Catetan Poean Rere.

Upacara penyerahan Hadiah Sastra Rancage dan Hadiah Samsudi akan dilakukan pada Mei mendatang. Para peraih Rancage 2008 masing-masing akan mendapatkan piagam dan uang Rp 5 juta. Adapun peraih Hadiah Samsudi 2008 mendapatkan piagam dan uang Rp 2,5 juta. RANA AKBARI FITRIAWAN

Sumber: Koran Tempo, Sabtu, 2 Februari 2008

Teater: STAIN Jurai Siwo Tampilkan Monolog 'Auk'

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Seorang laki-laki dengan pakaian compang-camping tampak asyik sendiri. Berceloteh tentang segala sesuatu dengan sangat nyinyir di ruangan sempit yang hanya berisikan kursi kayu, meja kayu, piring, dan botol bir.

Sesekali dari mulutnya keluar berbagai kisahnya ketika menjadi seorang bramacorah. Atau sebuah kenangan ketika dirinya berasyik masyuk dengan kekasihnya, Tumirah, yang akhirnya dibunuhnya karena berselingkuh. Serta kisah lainnya yang sangat berwarna dan begitu kelam, di mana kesemuanya menggambarkan sebuah kesinisan akan kondisi yang ada dan dialaminya saat ini.

Itulah gambaran yang terlihat dalam pertunjukan Monolog Auk karya Putu Wijaya yang diusung M. Insan Jaya dari Teater Kapook STAIN Jurai Siwo Metro, di Gedung PKM Unila, Kamis (31-1) malam. Secara umum, apa yang dibawakan M. Insan Jaya belum maksimal baik dari penguasaan naskah hingga adegan yang dibawakannya.

Pada awal pertunjukan, Insan sudah memberikan satu pertunjukan yang apik. Power yang dimiliki sangat baik, begitu juga artikulasi serta gesture, blocking panggung, hingga kemampuan meruangnya.

Namun setelah lima menit berjalan, pertunjukan menjadi semakin kedodoran. Bahkan, terlihat Insan sudah kehilangan konsentrasi dan kelelahan yang terbawa hingga akhir pertunjukan.

Akhirnya pertunjukan yang awalnya mengalir, bergerak dengan lambat dan monoton. Apalagi emosi yang dikeluarkan Insan sama sekali tidak terlihat. Semua terlihat datar saja.

Begitu juga dengan dialog yang diucapkannya begitu kelam. Padahal, seharusnya ada permainan emosi yang bisa diciptakannya dengan mengucapkannya dengan sedikit komedian satire yang gelap.

Namun, Insan yang juga berperan sebagai sutradara mengaku kalau dirinya memang baru menguasai naskah selama dua bulan. "Bahkan untuk pentas saja, saya baru melakukannya sebanyak dua kali. Makanya masih banyak kekurangan yang sangat terlihat."

Rektor STAIN Jurai Siwo Metro Syarifuddin Basyaar mengatakan selain mementaskan monolog Auk, para mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiwa Pecinta Seni (Impas) di Teater Kapook juga akan mementaskan lakon Pensiunan atawa Sementara Menunggu Gaji.

"Teater ini akan dipentaskan di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung, pada Sabtu (2-2) mulai pukul 14.00," kata dia.

Selain akan dipentaskan di Lampung, kedua naskah ini akan dibawakan berkeliling ke beberapa wilayah. "Awal pertunjukannya sudah digelar di STAIN Metro pada 30 November lalu. Kemudian dilanjutkan di PKM Unila pada (31-1), pada 7 Februari di UIN Syarief Hidayatullah Jakarta, dan UIN Bandung pada 9 Februari," kata dia. n TYO/K-2

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 2 Februari 2008

Pendidikan: Seni Membentuk Manusia Seutuhnya

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pendidikan seni di perguruan tinggi (PT) penting untuk membentuk manusia seutuhnya. Dengan demikian, mereka tidak hanya berintelektual tinggi, tapi juga memiliki kepandaian emosional dan spiritual.

Rektor Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Negeri (STAIN) Jurai Siwo Metro, Syarifuddin Basyaar, mengemukakan hal tersebut usai pementasan monolog yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Impas STAIN Jurai Siwo di Gedung PKM Unila, Kamis (31-1) malam.

Dia menjelaskan kesenian merupakan subtansi sebuah pendidikan. "Karena itu kegiatan seni sangat baik untuk perkembangan kepribadian mahasiswa. Sebab, kesenian membentuk manusia menjadi seutuhnya."

Untuk itu Syarifuddin sangat mendukung kegiatan seni yang diselenggarakan mahasiswa STAIN Jurai Siwo. "Malahan saya menginginkan mahasiswa tidak terisolasi dari dunia luar. Maka saya mengajak mereka bisa bersosialisasi dengan seniman-seniman di Kota Bandar Lampung, hingga Jakarta dan Bandung untuk menimba pengalaman."

Sebab, selama ini pendidikan kesenian masih dipandang belum begitu penting. "Padahal pendidikan kesenian itu bisa membentuk karakter mahasiswa sehingga dia bisa menjadi manusia yang bermartabat," ujar Syarifuddin.

Sebagai wujud keseriusan pada penerimaan dosen beberapa waktu lalu, pihaknya mencari lulusan S-2 kesenian untuk menjadi dosen di tempatnya. "Awalnya banyak yang mempertanyakan mengapa saya mencari dosen kesenian untuk di STAIN. Setelah dijelaskan, mereka mengerti. Sebab, saya memang ingin mahasiswa STAIN bisa mendapatkan bimbingan kesenian dari yang memiliki pengetahuan di bidangnya," ujar dia.

Penyair Lampung Iswadi Pratama, setuju dengan pendapat Syarifuddin. "Selama ini sistem pendidikan yang ada di Indonesia lebih mengedepankan kemampuan kognitif. Sementara itu, kemampuan afektifnya selama ini tidak tergarap dengan baik. Kesenian menjadi salah satu jembatan untuk mencapai kemampuan afektif tersebut."

Apalagi, menurut dia, dengan kesenian, kemampuan emosional dan spiritual bisa dicapai. "Jadi hendaknya yang harus diubah adalah paradigma dalam memandang seni itu sendiri. Sebab, selama ini seni hanya dipandang sebatas pementasan tari atau pertunjukan teater. Padahal, dampak yang dirasakan lebih panjang. Karena pendidikan kesenian membangun manusia tidak secara instan, tapi membutuhkan waktu panjang untuk melihat hasilnya," ujar Iswadi. TYO/S-2

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 2 Februari 2008

Tata Kota: Water Front City Dipastikan Tidak Merusak Lingkungan

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pembangunan water front city (kota menghadap laut) tidak akan merusak lingkungan pantai, terutama terumbu karang dan hutan mangrove.

Hal itu ditegaskan tenaga ahli Pemkot Bandar Lampung Prof. Dr. Ali Kabul Mahi menjawab kekhawatiran banyak pihak tentang rencana pemerintah menata kawasan pesisir Teluk Lampung dapat merusak lingkungan hidup di tempat itu.

"Kita tetap memperhatikan garis sempadan pantai (GSP) dan mempertahankan kawasan konservasi yang sudah ditetapkan. Selain itu, proses reklamasi pantai yang akan dilakukan dalam penataan kawasan pesisir pun tidak akan menggangu lingkungan hidup pantai," kata Ali Kabul, Jumat (1-2).

Menurut Ali Kabul, penataan kawasan pesisir memenuhi standar reklamasi yang ditentukan. Sehingga, bisa dipastikan tidak akan terjadi pelumpuran dan terumbu karang yang ada di sekitar pantai tidak rusak akibat reklamasi.

"Selain itu, dalam penataan kawasan pesisir, tidak semua bagian yang akan ditata direklamasi. Kawasan konservasi pantai dan hutan mangrove tetap terjaga dan terhindar dari kerusakan. Kita berprinsip lingkungan yang masih bagus dipertahankan dan lingkungan mangrove yang rusak diperbaiki," kata dia.

Sebelumnya, Wali Kota Bandar Lampung Eddy Sutrisno menjelaskan Pemkot akan kembali mendapatkan bantuan dana sebesar Rp1,5 miliar dari pemerintah pusat. Bantuan tersebut untuk pengembangan kawasan pesisir. Bantuan pengembangan kawasan pesisir, lanjut Eddy, merupakan bantuan dari Departemen Perikanan dan Kelautan tahun anggaran 2008.

Menurut Eddy, pengembangan kawasan pesisir Bandar Lampung merupakan salah satu kawasan yang menjadi target pemerintah pusat. Apalagi, pencanangan pengembangan kawasan tersebut sudah dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di PKOR Way Halim saat puncak Hari Pangan Sedunia, beberapa waktu lalu.

"Tinggal bagaimana kita dapat memulai pembangunan kawasan pesisir tersebut. Tentunya harus berdasarkan rencana strategis (renstra) pengembangan kawasan yang sudah kita buat. Sehingga, pembangunan akan berjalan secara berkesinambungan," kata dia.

Selain pemerintah pusat, lanjut Eddy, Pemprov Lampung juga sudah menyatakan akan membantu Pemkot dalam penataan kawasan pesisir. Bantuan Pemprov Lampung tersebut terutama dalam soal pembangunan WFC. "Sebagai ibu kota provinsi, Bandar Lampung harus memiliki kawasan pantai yang indah, sebagai penunjang keindahan ibu kota," kata dia. n KIM/K-1

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 2 Februari 2008

February 1, 2008

Sastra Daerah: Udo Z. Karzi Raih Hadiah Rancage 2008

BANDUNG (Lampost): Buku antologi sajak Mak Dawah Mak Dibingi (Tak Siang Tak Malam) karya Udo Z. Karzi, nama pena wartawan Lampung Post Zulkarnain Zubairi, mendapat Hadiah Sastera Rancage 2008 dalam pengumuman yang disampaikan Sekretaris Yayasan Kebudayaan Rancage di Aula Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Kamis (31-1).

"Hadiah ini dapat menjadi momentum mengembangkan dan melestarikan bahasa Lampung. Kami berharap penerbitan buku berbahasa Lampung bisa menjadi tradisi baru intelektual di Lampung," kata Hawe Setiawan, Sekretaris Yayasan Kebudayaan Rancage, seusai membacakan pengumuman Hadiah Sastra Rancage 2008.

Pengumuman digelar bersamaan dengan perayaan 70 tahun Ajip Rosidi, sastrawan yang juga pendiri Yayasan Kebudayaan Rancage.

Acara dimeriahkan pembacaan puisi oleh penyair Rendra, Taufiq Ismail, Godi Suwarna, dan Ganjar Kurnia, serta diisi dengan diskusi buku autobiografi Ajip Rosidi, Hidup Tanpa Ijazah: Yang Terekam Dalam Kenangan, yang menampilkan pembicara Rosihan Anwar dan Setia Permana, dengan moderator Ahmad Syubhanuddin Alwy.

Dalam seremoni acara itu dibeberkan bagaimana Ajip Rosidi mendirikan Yayasan Kebudayaan Rancage dan berkiprah untuk melestarikan bahasa-bahasa daerah yang ada di Nusantara.

Menurut Hawe, Hadiah Sastera Rancage mulai diberikan untuk sastra berbahasa daerah pada 1989, diawali dari sastra berbahasa Sunda. Tahun 1994, Ajip Rosidi bersama Yayasan Kebudayaan Rancage memperluas penghargaan menjadi sastra berbahasa Sunda dan Jawa. Pada 1997, Hadiah Rancange diperluas lagi untuk sastra berbahasa Sunda, Jawa, dan Bali. "Sastra berbahasa Lampung baru diberi penghargaan tahun ini. Semoga tahun depan tetap dapat penghargaan," kata dia.

Selain buku Udo Z. Karzi, Hadiah Sastera Rancage 2008 juga diberikan untuk karya sastra berbahasa Sunda, Jawa, dan Bali. Untuk penulisan sastra Sunda, penghargaan diberikan kepada penyair Godi Suwarna untuk ketiga kalinya lewat novel Sandekala (Kelir, 2007). Sebelumnya, Godi menerima hadiah yang sama untuk kumpulan puisi Blues Kere Lauk (1993) dan Serat Sarwasatwa (1996) untuk kumpulan cerita pendek. Sedangkan untuk bidang jasa, dalam pengembangan bahasa dan sastra Sunda, diterima oleh R. Dadi Danusubrata, Pimpinan Teater Sunda Kiwari.

Untuk sastra Jawa, penghargaan diterima oleh Bledeg Segara Kidul, kumpulan puisi karya Turiyo Ragilputra, serta bidang pengembangan bahasa dan sastra Jawa diterima oleh Sriyono. Untuk sastra Bali, penghargaan diterima oleh I Nyoman Manda lewat roman Depang Tiang Bujang Kayang-kayang. Sedangkan untuk bidang jasa dalam mengembangkan bahasa sastra Bali diterima oleh I Made Saatjana.

Mereka masing-masing mendapat piagam dan uang senilai Rp 5 juta, yang akan diberikan dalam sebuah acara khusus.

Yayasan Rancage juga memberikan Hadiah Sastra Samsudi untuk penulis cerita anak-anak terbaik dalam bahasa Sunda. Hadiah berupa piagam dan uang Rp 2,5 juta tersebut, diterima oleh Ai Koraliati untuk cerita anak-anak Catetan Poean Rere. n HUT/U-2

Sumber: Lampung Post, Jumat, 1 Februari 2008

Pengumuman Hadiah Sastera Rancage 2008

Keputusan
HADIAH SASTERA “RANCAGÉ” 2008

Tahun 2008 ini genaplah Hadiah Sastera “Rancagé” 20 tahun diberikan kepada para sasterawan yang menulis dalam ahasa-bahasa ibu. Pertama kali pada tahun 1989, diberikan hanya kepada sasterawan yang menulis dalam bahasa Sunda. Tetapi sejak 1994 para sasterawan yang menulis dalam bahasa Jawa juga mendapat hadiah sastera “Rancagé”. Dan sejak 1997, para sasterawan yang menulis dalam bahasa Bali juga mendapat hadiah “Rancagé”. Insya Allah mulai tahun 2008, para sasterawan yang menulis dalam bahasa Lampung juga akan mendapat hadiah “Rancagé”.

Pada tahun pertama, hadiah “Rancagé” hanya diberikan kepada sasterawan yang menerbitkan buku unggulan. Tetapi sejak tahun kedua, hadiah untuk karya itu didampingi oléh hadiah untuk jasa, yang diberikan kepada orang atau lembaga yang dianggap besar jasanya dalam memelihara serta mengembangkan bahasa ibunya. Dengan demikian setiap tahun Yayasan Kebudayaan “Rancagé” mengeluarkan 6 hadiah untuk tiga bahasa ibu, yaitu Bali, Jawa dan Sunda. Di samping itu kadang-kadang memberikan Hadiah “Samsudi” buat pengarang yang menerbitkan buku bacaan anak-anak unggulan dalam bahasa Sunda.

Alhamdulillah dengan ridho Allah dan uluran tangan para dermawan yang menyadari pentingnya bahasa ibu dan sasteranya dalam kehidupan bangsa, tahun ini juga, Hadiah Sastera “Rancagé” akan disampaikan kepada para sasterawan yang menulis dalam bahasa ibu.

Dua tahun yang lalu kami mendapat kiriman buku karya sastera dalam bahasa Lampung. Yang satu karya para sasterawan yang tinggal di Lampung dalam bahasa Indonésia, sedang yang satu lagi merupakan kumpulan sajak dalam bahasa Lampung yang ditulis oléh seorang penyair. Tapi buku itu diterbitkan beberapa tahun sebelumnya (2002), sehingga tidak dapat dipertimbangkan untuk mendapat hadiah “Rancagé”. Di samping itu, kami juga tidak yakin akan melanjutnya penerbitan karya sastera dalam bahasa tersebut. Ada pun sebab lain yang utama ialah karena dana Yayasan “Rancagé” juga sangat terbatas. Untuk memberikan hadiah kepada sasterawan dalam tiga bahasa yang sudah dilangsungkan selama belasan tahun juga – terus terang – kami ngos-ngosan. Dana untuk keperluan hadiah dan upacara penyerahannya selalu kami dapat dengan cara – yang dalam bahasa Sunda disebut – koréh-koréh cok. Yaitu seperti ayam yang mengais-ngais makanan untuk dipatuknya. Syukurlah bahwa setiap tahun ada saja dermawan yang sadar akan pentingnya memelihara bahasa ibu yang sebenarnya merupakan kekayaan budaya bangsa kita.

Kami akhirnya memutuskan untuk memberikan juga hadiah kepada sasterawan yang menulis dalam bahasa Lampung, karena didorong oléh keyakinan bahwa para usahawan yang berbahasa ibu bahasa Lampung tidak akan berdiam diri melihat ada lembaga yang hendak memberikan penghargaan terhadap bahasa bundanya – walaupun selama ini kami hampir tidak mendapat uluran tangan dari para usahawan Jawa atau Bali.

Karena keterbatasan dana pula maka untuk bahasa Lampung hadiah hanya diberikan untuk karya. Mudah-mudahan dalam tahun-tahun yang akan datang, untuk orang atau lembaga yang berjasa dalam melestarikan dan mengembangkan bahasa Lampung juga akan diberikan Hadiah “Rancagé”.

Meskipun selama 20 tahun tentang pemberian Hadiah “Rancagé” selalu mendapat tempat dalam pérs, namun tidak pernah mendapat perhatian pemerintah baik pusat maupun daérah. Tapi tahun ini Yayasan Kebudayaan “Rancagé” untuk pertama kalinya mendapat perhatian pemerintah: Kami mendapat kiriman formulir tagihan pajak.

Hadiah Rancagé 2008 untuk Sastera Sunda

Menjelang akhir tahun 2007, buku bahasa Sunda (dan juga Jawa) yang terbit mendadak melonjak jumlahnya. Mendadak banyak penerbit yang sebelumnya tak pernah memperhatikan buku bahasa Sunda (dan Jawa), tiba-tiba seakan-akan berlomba-lomba menerbitkan buku bahasa Sunda (dan Jawa), baik buku lama maupun karya baru. Namun hal itu bukan karena timbul kesadaran akan pentingnya atau minat para penerbit itu terhadap buku dalam bahasa ibu, melainkan karena ada bocoran tentang rencana pemerintah yang akan mengadakan proyék pembelian buku-buku dalam bahasa ibu yang dananya milyaran bahkan puluhan milyar rupiah. Meskipun pembeliannya – sesuai dengan aturan main yang dibuat oléh para pejabat yang cerdik — melalui “rékanan” yang sudah ditunjuk oléh pemerintah yang meminta kepada para penerbit diskon 40% sampai 60%, tetapi buat para “penerbit proyék” tidak jadi masalah, karena perusahaannya tidak mengeluarkam biaya rutin (overhead cost) sebab kegiatannya terutama hanya kalau ada proyék saja. Buku yang ditawarkannya hanya dicétak sebanyak yang diperlukan saja, sehingga biayanya rendah. Meréka tidak mau “berjudi” dengan menjual bukunya di toko-toko buku karena tahu bahwa daya beli dan minat baca bangsa kita sangat rendah. Artinya keuntungan yang dia peroléh dari penjualan “buku proyék” itu tidak akan disalurkan untuk memperkuat industri perbukuan nasional, melainkan akan disalurkan ke bidang usaha lain – membuat hotél misalnya. Dengan demikian program pemerintah membeli buku dalam jumlah puluhan atau ratusan ribu éksemplar, malah jutaan éksemplar sekalipun, tidaklah memperkuat modal industri perbukuan nasional yang lemah.

Dalam bahasa Sunda pada tahun 2007, terbit 32 judul buku tidak termasuk buku-buku ajar. Di dalamnya termasuk, kumpulan sajak, fiksi (roman dan cerita péndék), fiksi terjemahan, bacaan kanak-kanak, bahasan (ésai), kamus dan lelucon. Secara garis besar yang bisa dipertimbangkan untuk mendapat Hadiah “Rancagé” 2008 terdiri dari 3 kumpulan sajak (Lagu Simpé karya Asikin Hidayat, Ruhak Burahay di Palataran karya Itto Cs. Margawaluya, dan Jiwalupat karya Godi Suwarna yang merupakan cétak ulang dari beberapa kumpulan yang pernah terbit); 6 roman (Mapay-mapay Jalan Tarahal karya Itto Cs. Margawaluya, Saéni karya Hadi AKS, Sandékala karya Godi Suwarna, Dalingding Angin Janari karya Usép Romli H.M., Misteri Gunung Koromong karya Aan Merdéka Permana 6 jilid, Teu Pegat Asih terjemahan Moh. Ambri dari karangan Soeman Hs.), 4 kumpulan cerita péndék (Ceurik Santri karya Usép Romli H.M., Kingkin karya Itto Cs. Margawaluya, dan Kembang Kadengda yang merupakan kumpulan bersama) dan 3 uraian tentang pengalaman di kampung, pengalaman naik haji dan utaian tentang pentingnya memelihara hutan (Kuwung-kuwung: Catetan lalampahan ka pilemburan karya N. Ding Masku dan Ajun Mahrudin dan Dongéng Kuring di Tanah Suci karya Hj. Amalina Nurrohmah dan Nutur Galur Laku Rosul: Ngaheuyeuk Leuweung Ngolah Lahan karya Prof. Dr. M. Abdurrahman MA), kumpulan ésai (Urang Sunda jeung basa Sunda), polémik (Polémik Undak-usuk Basa Sunda oléh Ajip Rosidi dkk.) dan bungarampai (Sajak Sunda susunan Ajip Rosidi). Seperti yang sudah ditetapkan, buku cetak ulang, kumpulan karya bersama dan karya Ajip Rosidi tidak dinilai untuk mendapat hadiah “Rancagé”.

Selain Mistéri Gunung Koromong yang mémang diniatkan penulisnya sebagai cerita populér hiburan yang susunan bahasanya sembarangan, karya-karya prosa yang lain boléh dikatakan cukup baik susunan kalimatnya. Sesungguhnya tak ada salahnya menulis cerita populér atau hiburan untuk menarik minat pembaca, namun sebaiknya bahasa dan kalimatnya dijaga dengan baik. Begitu juga latar sosial kesejarahannya, apalagi kalau dimaksudkan sebagai cerita dengan latar belakang sejarah.

Ada hal yang menarik dalam karya-karya fiksi yang terbit tahun 2007 itu, terutama karya Hadi AKS, Itto Margawaluya dan Godi Suwarna, yaitu bahwa meréka seperti bersepakat menuliskan kehidupan daérah asalnya dengan mempergunakan bahasa lokal pula. Cerita Saéni karya Hadi, mengambil latarnya di pesisir barat Banten, cerita Mapay-mapay Jalan Tarahal dan cerita-cerita dalam Kingkin karya Itto mengambil latar di daerah Karawang dan Subang, sedang Sandékala karya Godi mengambil latar di kota kecamatan Kawali, Ciamis.

Karya-karya Itto melukiskan réalitas kehidupan daérah Pakaléran (Utara) dibumbui dengan kalimat-kalimat dalam bahasa Jawa setempat dalam dialog tokoh-tokohnya. Tapi hanya sampai melukiskan réalitas sehari-hari tak ubahnya dengan skétsa. Hadi dalam Saéni berhasil melukiskan kehidupan yang lebih dalam, dihubungkan dengan kepercayaan yang hidup di dalam masyarakat setempat. Hubungan batin antara Ijan (“kami”) dengan ibu tirinya dihubungkan dengan sasakala batu Nyi Jompong di dekat sungai Cibaliung, dihubungkan dengan kepercayaan akan Nyi Munigar siluman yang menghuni laut Barat. Bahasa Sunda dialék Banten dalam Saéni tidak hanya terdapat dalam dialog tokoh-tokohnya, melainkan dengan sadar digunakan oléh penulisnya. Dengan gaya cerita orang pertama, dia menggunakan kata “kami” (bukan “kuring”), yaitu sebutan orang pertama yang umum digunakan di masyarakat Banten.

Sedangkan Godi dalam Sandékala, menggunakan sebutan orang pertama “uing” (dari “kuring”, digunakan di lingkungan akrab di pedésaan) dan bahasa dialék Ciamis. Dengan latar belakang krisis sosial-ékonomi yang melanda negeri pada masa réformasi, cerita kehidupan masa kini bersilih tukar dengan kehidupan yang tumbuh dalam kepercayaan yang berakar dalam masyarakat bertalian dengan Perang Bubat beberapa abad yang lalu. Keduanya terjalin seperti tidak dapat dipisahkan, sehingga pembaca harus teliti mengikuti arus cerita yang berhasil dipelihara dengan baik oléh Godi, meskipun penggunaan yang éksésif sukukata kata kerja yang diulang seperti “ngagegebrét”, “ngahuhuleng”, “nunungguan”, “ngajajanteng”, “ngalelempéh” dll. dan sisipan “um” seperti “gumerendeng”, “gumeter”, “jumerit”, “gumalindeng” dll. yang hanya menimbulkan tandanya

Dalingding Angin Janari karya Usép Romli H.M. melukiskan usaha sia-sia gadis kurban pergaulan kota métropolitan yang berdua dengan ibunya kembali ke kampung dekat dengan lingkungan pesantrén minta dibimbing oléh kiai dan anak gadisnya yang soléh. Ibunya berhasil, tetapi dia sendiri tersérét kembali ke dunia yang dia sadari sudah merusak dirinya. Meskipun penuh dengan uraian tentang ayat-ayat Al-Qur-an dan soal-soal keagamaan lain, namun ceritanya lancar, sayang ada ketelédoran yang harusnya diperbaiki oléh éditor namun luput, yaitu keterangan tentang tempat tinggal sang ibu, pada awalnya disebutkan menumpang di rumah orang, tapi kemudian disebut bahwa dia tinggal di rumah warisannya sendiri. Begitu juga Néndah yang ketika sehabis mengantarkan Fénny ke términal pulang ke Jakarta langsung menemui ibunya Fénny, ketika pulang dari rumah ibunya Fénny itu mendapat surat Fénny dari pos.

Kumpulan sajak Lagu Simpé karya Asikin Hidayat dan Ruhak Burahay di Palataran karya Itto Margawaluya, baru merupakan usaha menggunakan sajak sebagai bentuk pengucapan, belum sampai pada gaya yang oténtik. Téma yang dimuat di dalamnya pun merupakan téma yang biasa terdapat dalam umumnya sajak-sajak bahasa Sunda.

Setelah dipertimbangkan antara Sandékala dengan Saéni, maka akhirnya diputuskan bahwa Hadiah Rancagé 2008 untuk karya sastera Sunda diberikan kepada

Sandékala
Roman karya Godi Suwarna (l. di Tasikmalaya, 1956)
Terbitan Penerbit Kelir, Bandung

Kepada Godi Suwarna akan disampaikan piagam dan uang (Rp 5 juta). Dengan hadiah ini, Godi menjadi tiga kali memperoléh Hadiah Rancagé, semuanya untuk karya, yaitu tahun 1993 untuk kumpulan sajaknya Blues Kéré Lauk dan tahun 1996 untuk kumpulan cerita péndéknya Serat Sarwasatwa. Dengan demikian ada tiga orang sasterawan yang telah mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” tiga kali. Yang lain adalah sasterawan Jawa Suparto Brata, yaitu tahun 2000 (untuk jasa), 2001 (untuk karya kumpulan cerpén Trém) dan 2005 (untuk karya roman Donyané Wong Culika). Dan yang seorang lagi ialah sasterawan Bali I Nyoman Manda yang tahun ini mendapat hadiah lagi untuk karya. Sebelumnya dia mendapat hadiah untuk jasa (1998) dan untuk karya (2003).

Sedangkan Hadiah “Rancagé 2008 untuk jasa karena telah melakukan usaha memelihara dan melestarikan basa Sunda, dihaturkan kepada

Grup Téater Sunda Kiwari (TSK)
Pimpinan R. Dadi Danusubrata (l. 15 Oktober 1950 di Bandung)

TSK didirikan oléh R. Dadi Danusubrata, R. Hidayat Suryalaga dkk. pada tahun 1975 di Bandung. Sejak itu TSK tak henti-hentinya mengadakan pertunjukan téater modéren dalam bahasa Sunda, walaupun meréka merasakan kekurangan naskah untuk dipentaskan, karena para pengarang Sunda sedikit saja yang menulis naskah drama. Sejak 1988 TSK menyelenggarakan Féstival Drama Basa Sunda (FDBS) dua tahun sekali. Tahun 2008 ini FDBS diselenggarakan untuk kesebelas kalinya. FDBS pertama diikuti oléh 9 peserta, tetapi tahun-tahun selanjutnya terus bertambah. Tahun 2006 pesertanya ada 53 dan tahun ini ada 60 peserta. Peserta féstival itu meningkat dari tahun ke tahun, meskipun belum berhasil mendorong lahirnya grup-grup téater Sunda profésional. Kebanyakan peserta FDBS itu anak-anak sekolah, karena TSK ingin membangkitkan minat dan kecintaan anak-anak terhadap bahasa ibunya.

Kepada R. Dadi Danusubrata sebagai pimpinan TSK, akan diserahkan Hadiah “Rancagé” 2008 untuk jasa berupa piagam dan uang (Rp 5 juta).

Hadiah Sastera “Rancagé” 2008 untuk sastera Jawa

Dalam tahun 2007 terbit 24 judul buku sastera Jawa, berupa 4 kumpulan sajak dan 20 fiksi. Di antara fiksi ada 15 judul berupa kumpulan dongéng dari berbagai daérah di Jawa Timur seperti Lamongan, Tuban, Magetan, Tengger Trengalék, Blitar dll. Yang lima lagi adalah Gumregeté Ati Wadon kumpulan cerpén karya Sirikit Syah, Kidung Megatruh kumpulan bersama (tidak dinilai), Intan Ora Mlebu kumpulan roman secuwil karya Ary Murdiana, kumpulan satir Dongéng Sanepa Banaran Bolosukerta karya Ki Nir Puspata dan roman Tegal Bledugan karya Lanang Setyawan (kopifotoan, tidak dinilai).

Sedangkan keempat kumpulan sajak itu ialah Banyuwangi rinengga ing Gurit kumpulan bersama (tidak dinilai), Tembang Kapang, Tembang Bebrayan karya Éfféndi Kadarisman, Bledheg Segara Kidul karya Turiyo Ragilputra, Saka Kupat Sawalan Tumekan Kupatan Manéh karya Suyanto alias Yanto Garuda.

Sajak-sajak karya Effendi Kadarisman dalam Tembang Kapang, Tembang Bebrayan, memperlihatkan keseriusan penyairnya, baik dalam pemilihan masalah maupun dalam pemilihan perangkat éstétik seperti bunyi, kata dan tanda-tanda bahasa lain. Dalam membacanya kita tidak merasa jenuh karena Kadarisman menggarap sajak-sajaknya itu dengan gaya ringan, melalui persajakan yang berirama santai tapi indah seperti tembang dolanan anak-anak dalam puisi Jawa tradisional. Sayang bahwa dalam kumpulan ini ada 14 buah puisi terjemahan (dari bahasa Inggris dan Arab).

Bledheg Segara Kidul karya Turiyo Ragilputra menggambarkan sikap dan perhatian penyair kepada kebudayaan, kepada bangsa, dan kepada kawan-kawan. Ungkapan éksprésinya bervariasi, nafasnya terkadang panjang, terkadang péndék. Terkadang gayanya menggebu-gebu marah kepada yang tidak disukainya, misalnya menggambarkan kejéngkélannya kepada pembesar yang mementingkan diri sendiri. Beberapa sajaknya mémang menunjukkan simpati kepada rakyat kecil. Sangat menonjol ialah sikapnya terhadap sebagian masrayakat Jawa yang semakin jauh dari kebudayaannya sendiri, yang diéksprésikan dengan pernyataan berulang- ulang secara paralél seperti pada “Aku Kangen” dan “Aku Pengin”. Semua gagasan yang kompléks dalam jiwa penyair ini diungkapkan dengan pilihan kata yang khas Jawa, meskipun untuk menghidupkan suasana pada sajak tertentu disisipkan kata atau ungkapan serapan. Dengan variasi yang berbagai jenis itulah kumpulan ini menjadi dinamis, tetapi utuh sebagai suatu totalitas. Keragaman variasi juga menjadi penanda bahwa penyairnya tak pernah berhenti mencari kebaruan éksprési. Pemanfaatan tipografi dan bentuk épigram dalam beberapa sajaknya adalah salah satu penandanya. Sayang dalam penulisan kata-kata serapan sering tidak konsisten.

Kumpulan sajak Saka Kupat Sawalan Tumekan Kupatan Manéh karya Yanto Garuda memuat 44 buah guritan yang témanya cenderung mengenai situasi masa kini yang digarap dengan gaya diafan atau transparan, termasuk sajak satirnya “Jaranan Buto” (Kuda lumping Raksasa). Salah satu sajaknya yang menarik ialah “Gagak Ora Bakal Memba Warna” (Burung gagak tidak akan berganti warna). Sajak itu mempertanyakan nasib bangsa dengan gaya oratoris yang puitis.

Setelah membaca dan menimbang kualitas semua buku sastera Jawa yang terbit tahun 2007, maka ditetapkan bahwa penerima Hadiah Sastera “Rancagé” 2008 adalah

Bledheg Segara Kidul
Karya Turiyo Ragilputra (l. Kebumén, 7 April 1964)
Terbitan Gema Grafika, Yogyakarta

Kepada pengarangnya akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2008 untuk karya berupa piagam dan uang (Rp 5 juta).

Adapun untuk jasa dalam pengembangan bahasa dan sastera Jawa, Hadiah Sastera “Rancagé” 2008 ditetapkan untuk dihaturkan kepada

Sriyono
(lahir di Pacitan tahun 1945)

Srijono adalah redaktur majalah Jawa Jaya Baya sejak 1979. Sebelumnya dia pernah bekerja di bank, kemudian menjadi wartawan Indonesian Daily News (IDN) yang setelah bangkrut wartawannya bergabung dengan Jawa Pos. Pada waktu itu dia mulai menulis dalam bahasa Jawa yang dikirimkan kepada majalah Jaya Baya. Karena harus menjaga ibunya yang sakit di tempat kelahirannya dia berhenti dari sk. Jawa Pos. Setelah ibunya meninggal dia bergabung dengan Jaya Baya. Salah satu rubrik yang dia selenggarakan dalam Jaya Baya ialah “Roman Secuwil” yang menjadi tempat latihan para pengarang muda pemula menulis dalam bahasa Jawa. Ruangan yang mulai dibuka tahun 1979 itu mendapat sambutan baik dari para penulis pemula sampai sekarang.

Sriyono juga penulis fiksi dan karyanya sering mendapat hadiah dalam berbagai sayémbara. Dia juga banyak menterjemahkan karya sastera asing ke dalam bahasa Jawa.

Kepada Sriyono akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2008 untuk jasa berupa piagam dan uang (Rp 5 juta).

Hadiah Sastera “Rancagé buat Sastera Bali

Tahun 2007 buku sastera dalam bahasa Bali hanya terbit 5 judul. Jauh lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya yang biasanya ada belasan judul. Meskipun secara kualitatif menurun, namun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya karya-karya terbitan tahun 2007 menunjukkan pengungkapan dan pengucapan baru tanda kreativitas jalan terus. Antaranya nampak pada pencarian dan pencapaian éstétika bunyi yang terdapat pada puisi dan éstétika bentuk yang tampak pada prosa.

Kelima buku itu ditulis oléh tiga orang, semuanya pernah mendapat Hadiah Rancagé. I Nyoman Manda menulis tiga judul buku, yaitu roman Nembangan Sayang I (Menembangkan sayang I), roman Depang Tiang Bajang Kayang-kayang (Biarkan saya sendiri selamanya) dan sebuah kisah yang dituangkan dalam pantun kilat Ajak ja Beli Mlali (Ajaklah Kakanda Rekréasi). Nyoman Manda menerima Hadiah Sastera Rancagé 1998 (untuk jasa) dan tahun 2003 (untuk karya berjudul Bunga Gadung Ulung Abancang). Dengan demikian dia menjadi tiga kali menerima Hadiah “Rancagé”.

Dua buku yang lain adalah Kunang-kunang anarung Sasi (Kunang-kunang Menantang Rembulan) ditulis oléh I Madé Suarsa penerima Hadiah “Rancagé” 2005 (untuk karya berjudul Ang Ah lan Ah Ang) dan Bangké Matah (Mayat Mentah) karya IBW Widiasa Keniten penerima Hadiah “Rancagé” 2006 (untuk karya berjudul Buduh Nglawang).

Kunang-kunang Anarung Sasi karya I Madé Suarsa memuat 118 sajak dengan téma beragam dari nilai-nilai universal, isyu korupsi, dampak pariwisata, gempa bumi Yogya sampai lumpur Sidoarjo. Semuanya itu menunjukkan keluasan perhatian penyairnya terhadap masalah aktual yang terjadi di sekitarnya. Dalam mengungkapkan téma-téma tersebut, Madé Suarsa secara konsisten menciptakan rima dan irama sehingga sajak-sajaknya menjadi indah dan segar. Kemampuan penyairnya memainkan kata menghasilkan pengungkapan makna yang dalam. Misalnya pada sajak yang berjudul “Mar Sinah” yang dalam bahasa Bali berarti kelihatan sakit atau demam, berasosiasi dengan Marsinah seorang buruh wanita yang terbunuh secara mistérius yang sampai sekarang belum terungkap. Larik akhir sajak itu berbunyi ”pamuput samar tan sinah-sinah” yang artinya “akhirnya kabur tak pernah menjadi jelas”.

Juga buku kumpulan cerpén Bangké Matah karya IBW Wiadasa Keniten memperlihatkan usaha penulisnya untuk menggarap téma-téma baru yang tidak konvénsional dengan gaya absur dan anti-réalis seperti yang berkembang dalam sastera Barat. Yang menonjol adalah suasana dan rangkaian absurditas. Gaya absur demikian sudah menjadi ciri utama Wiadasa Keniten. Karya-karya absur yang diungkapkan dalam kalimat-kalimat péndék merupakan tawaran pengucapan baru dalam dominannya pengucapan réalistik dalam dunia cerita sastera Bali.

Tawaran pengucapan alternatif juga tampak dalam Ajak ja Beli Mladi karya Nyoman Manda. Kisah percintaan muda-mudi ini dituturkan dalam pantun berbahasa Bali. Ada pantun empat baris, ada juga yang dua baris. Kisahnya dilukiskan sekitar alam indah Danau Batur. Percintaannya tidak begitu menarik, tidak mendalam, tapi pantun yang dipakai menuangkan kisah itu kréatif dan menunjukkan kekayaan éksprési dan kemampuan bahasa Bali untuk menulis pantun.

Menilai roman Nembangan Sayang I, agak sukar, karena ceritanya masih jauh dari selesai. Nampaknya sebagai sindiran halus atas kehidupan remaja déwasa ini yang santai, mengejar keriangan belaka dan terperangkap oléh gaya hidup konsumtif, sedang peran orangtua unuk mencegahnya lemah.

Roman péndék Depang Tiang Bajang Kayang-kayang melukiskan hubungan gadis Bali dengan laki-laki Australia yang tidak terhalang oléh kesenjangan kultural, namun langkahnya ke pernikahan diputuskan oléh meledaknya bom Bali. Pengarangnya seperti tidak berani atau tidak mau menyatukan keduanya, seakan mau mempertahankan tokohnya sebagai orang Bali. Yang menarik dalam roman ini bagaimana pengarangnya menggunakan tokoh Barat untuk menjelaskan keluhuran aspék kebudayaan dan kesenian Bali, baik tari, ritual maupun filsafatnya. Hal lain yang menarik juga ialah fénoména hétéroglosia dalam pengertian penggunaan beberapa bahasa dalam dialog antar-tokoh, yaitu bahasa Bali, Indonésia dan Inggris.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, maka buku yang diberi Hadiah Sastera “Rancagé” 2008 untuk karya ialah

Depang Tiang Bajang Kayang-kayang
karya I Nyoman Manda (l. Gianyar, 14 April 1939)

Kepada pengarangnya, I Nyoman Manda, akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2008 berupa piagam dan uang (Rp. 5 juga).

Sedangkan yang terpilih untuk menerima Hadiah Sastera “Rancagé” 2008 untuk jasa ialah

I Madé Suatjana
(l. di Gadungan, Tabanan 14 Méi 1947)

I Madé Suatjana adalah penemu program penulisan aksara Bali yang disebut Bali Simbar yang bisa diaplikasi di komputer léwat program Microsoft word. Program Bali Simbar mulai dirancang tahun 1986 dengan menggunakan program Chi-writer dengan melakukan modifikasi font sehingga aksara Bali bisa diketik léwat komputer.

Temuan Bali Simbar itu pertama kali disosialisasikan tahun 1989 dalam ajang paméran Pésta Kesenian Bali di Dénpasar. Tahun 1993, Yayasan Sabha Sastra Bali yang bergerak dalam pembinaan bahasa dan sastera Bali modéren mulai menggunakan temuan Madé Suatjana untuk mengetik naskah buku pelajaran tingkat SMP.

Mulai tahun 1999 program Bali Simbar dipakai di Percétakan Bali untuk mengetik buku sastera dan buku pelajaan beraksara Bali. Tahun 2001 dia menciptakan program transliterasi huruf Latin ke aksara Bali, untuk mengembangkan program terkait.

Kepada I Madé Suatjana akan dihaturkeun Hadiah “Rancagé” untuk jasa berupa piagam dan uang (Rp 5 juta).

Hadiah Sastera “Rancagé” buat Sastera Lampung

Masyarakat Lampung sebenarnya cukup kaya dengan karya sastera berupa adi-adi (pantun), warahan (cerita), hiwang (ratapan berirama) dan sebagainya, kebanyakan berupa sastera lisan, meskipun ada beberapa yang sudah dibukukan. Meréka juga mempunyai huruf sendiri meskipun sekarang tidak digunakan lagi.

Semua karya sastera tradisional itu sangat terikat oléh aturan bait, larik, dan rima dan purwakanti seperti harus berstruktur a-b-a-b dan semacamnya. Para sasterawan yang tinggal di Lampung, kebanyakan menulis dalam bahasa Indonésia baik prosa maupun puisi. Namun belakangan muncul juga sasterawan yang menulis karya modéren dalam bahasa Lampung, baik prosa maupun puisi, di antaranya ada yang terbit sebagai buku.

Yang terkemuka ialah Udo Z. Karzi (nama péna Zulkarnain Zubairi) yang telah menerbitkan buku Moméntum (2002) dan Mak Dawah Mak Dibingi (Tak Siang Tak Malam, 2007). Sajak-sajak Udo merupakan terobosan besar yang mendobrak tradisi sastera Lampung yang membeku. Téma-téma sajak Udo adalah masalah masa kini kehidupan rakyat kecil yang terpuruk, démonstrasi mahasiswa, pencemaran lingkungan, sempitnya lapangan kerja, penegakan hukum yang belum memuaskan, korupsi yang merajaléla, para politisi yang tidak memikirkan rakyat dan ada juga yang melukiskan jiwa resah yang ingin menggapai Sang Pencipta yang dilahirkan dalam struktur yang modéren. Dengan kata lain, sajak-sajak Udo Z. Karzi benar-benar mencerminkan semangat zaman. Diharapkan akan mampu merangsang para sasterawan lain untuk menulis dalam bahasa ibunya, bahasa Lampung.

Untuk pertama kali Hadiah Sastera “Rancagé” untuk karya ditetapkan untuk diserahkan kepada pengarang kumpulan sajak

Mak dawah Mak Dibingi
Udo Z. Karzi (Zulkarnain Zubairi) (l. 12 Juni 1970 di Liwa, Lampung)
Terbitan BE-Press, Tanungkarang Barat, Bandar Lampung

Kepada Udo Z. Karzi akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2008 untuk karya berupa piagam dan uang (Rp 5 juta).


Hadiah “Samsudi” 2008 untuk buku bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda

Pada tahun 2007 ada 5 judul buku bacaan untuk anak-anak yang terbit dalam bahasa Sunda, yaitu Banjir Getih di Pasantrén Cimarémé oléh Aan Merdéka Permana, Lalampahan Napoléon saduran H.A. Rochman, Si Sekar Panggung dan Ochank oléh Tatang Sumarsono dan Catetan Poéan Réré oléh Ai Koraliati.

Banjir Getih adalah “cerita sejarah” yang ditulis sembarangan tanpa usaha penulisnya untuk mengetahui latar sejarahnya, bahasanya juga sembarangan. Lalampahan Napoléon, saduran mengisahkan kehidupan Napoléon Bonaparté. Ochank karya Tatang Sumarsono naskahnya memperoléh hadiah kedua dalam sayémbara mengarang roman kanak-kanak yang diselenggarakan oléh PP-SS tahun 2007. Tentang pengalaman Ochank yang dihubungkan dengan kepercayaan akan adanya dunia siluman ular, sambil membangkitkan kesadaran anak-anak yang membacanya akan arti lingkungan. Sedang Si Sekar Panggung sangat menarik karena mengenai kehidupan anak-anak yang ingin menjadi joki dan sehari-hari bergaul dengan kuda. Pengarang dengan cermat melukiskan kehidupan orang yang mempunyai dan mengurus kuda lomba yang dalam bahasa Sunda sebelumnya tak pernah ada.

Catetan poéan Réré (Catatan Harian Réré) juga mengenai masalah yang sebelumnya tak pernah dijadikan téma cerita dalam bahasa Sunda, yaitu masalah kelainan pada kajiwaan anak banci. Dan Ai mengemukakannya dengan sederhana tetapi menjaga ketegangan dengan membukanya sedikit demi sedikit melalui catatan harian adiknya yang perempuan. Masalah yang musykil itu dikisahkan oléh Ai dari kacamata anak gadis yang secara terpaksa menjadi penanggungjawab rumahtangga keluarga, karena ibunya meninggal dan ayahnya pergi. Bahasa yang digunakannya sangat cermat dan terpelihara, sehingga baik untuk contoh bagi anak-anak yang membacanya. Naskahnya mendapat hadiah pertama dalam sayémbara mengarang bacaan anak-anak yang diselenggarakan oléh PP-SS tahun 2007.

Setelah dipertimbangkan dengan saksama, Hadiah “Samsudi” 2008 ditetapkan untuk diberikan kepada

Catetan Poéan Réré
Karya Ai Koraliati (l. di Garut, 28 April 1965)
Terbitan Penerbit Grafindo Media Pratama, Bandung

Kepada Ai Koraliati akan dihaturkan Hadiah “Samsudi” 2008 berupa piagam dan uang (Rp2.500.000).

Upacara penyerahan Hadiah Sastera “Rancagé” dan “Hadiah Samsudi” insya Allah akan dilaksanakan melalui kerjasama Yayasan Kebudayaan “Rancagé” dengan Universitas Padjadjaran pada bulan Méi 2008 di kampus universitas tersebut.

Pabélan, 31 Januari 2008
Yayasan Kebudayaan “Rancagé”

Ajip Rosidi
Ketua Déwan Pembina


* Dikutip dari webblog Irfan Anshory, 1 Februari 2008, www.blue4gie.com, 1 Februari 2008 dan PPSS, 1 Februari 2008

Sosok: Ajip Rosidi bukan "Manusia Haram"

KEGIGIHAN Ajip Rosidi menumbuhkembangkan budaya Sunda, termasuk bahasa dan sastra Sunda di dalamnya, tidak perlu diragukan lagi. Perannya tidak hanya di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga di tingkat internasional.

Rektor Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Prof. Dr. Ganjar Kurnia, D.E.A., mengatakan hal itu dalam sambutannya pada acara "70 Tahun Ajip Rosidi", Kamis (31/1) di Graha Sanusi Hardjadinata, Jln. Dipati Ukur No. 35 Bandung.

Atas jasa-jasanya itu, Ganjar Kurnia, atas nama Unpad Bandung, dalam kesempatan itu menyerahkan Anugerah Gumawat Padjadjaran kepada Ajip Rosidi. Selain itu, Ajip menerima uang kadeudeuh Rp 25 juta dari Bank Jabar, yang diserahkan Dirut Bank Jabar, Agus Ruswendi.

Dalam acara yang dimeriahkan pembacaan puisi oleh penyair Rendra, Taufiq Ismail, Godi Suwarna, dan Ganjar Kurnia, Yayasan Rancage yang dikelola penyair Ajip Rosidi memperoleh sumbangan dana Rp 100 juta dari Agum Gumelar yang hadir dalam acara tersebut.

Para peserta juga dibuat ger-geran saat membahas buku biografi Ajip Rosidi, Hidup Tanpa Ijazah: Yang Terekam dalam Kenangan, yang menampilkan pembicara Rosihan Anwar dan Setia Permana, dengan moderator Ahmad Syubhanuddin Alwy.

Menurut Rosihan Anwar, sosok Ajip Rosidi menarik untuk diapresiasi karena apa yang dilakukannya selama ini, Ajip tidak semata-mata bergerak dalam bidang sastra, tetapi juga dalam bidang intelektual, yang jejak pikirannya bisa dibaca dalam sejumlah buku yang ditulisnya.

Setia Permana menilai keberadaan Ajip Rosidi di tatar Sunda termasuk "manusia wajib" yang banyak memberikan manfaat bagi lingkungan hidupnya, dalam hal ini lingkungan budaya, bahasa, dan sastra Sunda.

Dalam pandangan Setia Permana, Ajip bukan termasuk "manusia haram" yakni manusia tidak berguna, manusia parasit, koruptor, atau mereka yang tidak pernah berpihak kepada kepentingan rakyat, bangsa dan negara.

Acara yang berlangsung selama lima jam itu, dihadiri sejumlah tokoh Jawa Barat dan tokoh-tokoh lainnya, baik di tingkat lokal maupun nasional seperti Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, Saini K.M., Uu Rukmana, Sam Bimbo, Slamet Rahardjo Djarot, Direktur Utama Pikiran Rakyat H. Syafik Umar, Komisaris Pikiran Rakyat H. Soeharmono Tjitrosoewarno, sastrawan Aam Amilia, dan praktisi hukum Dindin S. Maolani.

Hebat sejak muda

Aktor film Slamet Rahardjo Djarot mengatakan, kebesaran Ajip dalam dunia sastra Indonesia maupun Sunda tidak diragukan lagi. Kebesaran itu diperlihatkan Ajip ketika ia mampu mengolah sedemikian rupa nilai-nilai lokal di tengah-tengah keterpesonaan para sastrawan lainnya terhadap nilai-nilai yang datangnya dari Barat.

"Selain itu, Ajip adalah orang yang berhasil menghidupkan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) hingga mencapai puncak keemasannya," ujar Slamet Rahardjo Djarot.

Penyair Rendra menilai konsistensi Ajip terhadap budaya lokal dan pentingnya nilai-nilai kearifan lokal dalam perkembangan dan pertumbuhan seni di Indonesia, tidak hanya tercermin pada karya-karya yang ditulisnya, tetapi pada tindakan nyata yang dilakukan Ajip baik semasa masih di DKJ maupun setelah tinggal di Jepang lewat pemberian Hadiah Sastra Rancage.

Godi raih "Rancage"

Dalam acara "70 Tahun Ajip Rosidi" diumumkan pula pemberian Hadiah Sastra Rancage yang ke-20. Untuk penulisan sastra Sunda, penghargaan diberikan kepada penyair Godi Suwarna untuk ketiga kalinya lewat novel Sandekala (Kelir, 2007). Sebelumnya, Godi menerima hadiah yang sama untuk kumpulan puisi Blues Kere Lauk (1993) dan Serat Sarwasatwa (1996) untuk kumpulan cerita pendek. Sedangkan untuk bidang jasa, dalam pengembangan bahasa dan sastra Sunda, diterima oleh R. Dadi Danusubrata, Pimpinan Teater Sunda Kiwari.

Untuk sastra Jawa, penghargaan diterima oleh Bledeg Segara Kidul, kumpulan puisi karya Turiyo Ragilputra, serta bidang pengembangan bahasa dan sastra Jawa diterima oleh Sriyono. Untuk sastra Bali, penghargaan diterima oleh I Nyoman Manda lewat roman Depang Tiang Bujang Kayang-kayang. Sedangkan untuk bidang jasa dalam mengembangkan bahasa sastra Bali diterima oleh I Made Saatjana.

Untuk pertama kalinya, penghargaan yang sama diberikan kepada sastrawan Lampung yang menulis karya sastra dalam bahasa daerah Lampung, Udo Z. Karzi untuk kumpulan puisi Mak Dawah Mak Dibingi. Mereka masing-masing mendapat piagam dan uang senilai Rp 5 juta, yang akan diberikan dalam sebuah acara khusus.

Yayasan Rancage juga memberikan Hadiah Sastra Samsudi untuk penulis cerita anak-anak terbaik dalam bahasa Sunda. Hadiah berupa piagam dan uang Rp 2,5 juta tersebut, diterima oleh Ai Koraliati untuk cerita anak-anak Catetan Poean Rere.

Dalam pidato, Ajip Rosidi mengatakan, saat ini kebudayaan Sunda dalam keadaan kritis. Perhatian pemerintah terhadapnya hanya sebatas wacana, demikian juga perhatian para elite politik dan warga Jawa Barat pada umumnya. (Soni Farid Maulana/PR)

Sumber: Pikiran Rakyat, Jumat, 1 Februari 2008

Keberaksaraan: Budaya Menulis Siswa Meningkat

BANDARLAMPUNG (Lampost): Budaya tulis-menulis siswa dari luar Kota Bandar Lampung kini meningkat. Kreativitas itu biasanya tertuang dalam laporan karya tulis atau majalah dinding (mading) yang terdapat pada kegiatan ekstrakurikuler.

Dalam laporan karya tulis, bahan-bahan, dan referensi didapat dari hasil kunjungan karya wisata yang telah diprogramkan pihak sekolah. "Laporan karya tulis ditujukan pada siswa-siswi agar mereka memperoleh wawasan tentang dunia di luar sekolah," kata Kepala SMPN 1 Gisting, Tanggamus, Jahron, saat memimpin kunjungan karya wisata siswa-siswinya ke Harian Umum Lampung Post, Kamis (31-1).

Dalam waktu sehari, pihaknya juga berkunjung ke Museum Lampung dan Taman Wisata Lembah Hijau. Beberapa wawasan bisa didapat melalui diskusi dan pengamatan, seperti sejarah dan jurnalistik. "Mereka belajar mengenai benda-benda bersejarah, khususnya yang ada di Lampung," tambah Jahron.

Selain berwisata di dalam provinsi, sebagian siswa-siswi berbeda kelompok juga berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Monas, dan Ancol Jakarta.

Sebanyak 164 siswa tersebut mengikuti pemaparan materi yang disampaikan Pemimpin Redaksi Lampung Post Djadjat Sudradjat dan Redaktur Pendidikan Wiwik Hastuti. "Beberapa nilai yang menjadikan berita layak siar adalah kedekatan, aktualitas, ketokohan, keunikan, dan magnitude atau kebesaran," jelas Djadjat.

Ada beberapa hal yang ditanyakan dua siswi kelas VIII, masing-masing Fauziah dan Inazah Rani. "Seperti apa kriteria puisi dan cerpen?" tanya Ina, sapaan Inazah Rani.

Djadjat mengatakan, "Kriteria puisi dan cerpen salah satunya adalah yang bisa menginspirasi orang banyak."

Setelah berdiskusi, para siswa kemudian mengunjungi melihat dapur Redaksi Lampung Post yang terdiri dari ruang redaksi, setting, promosi, sirkulasi, dan percetakan. Hasil diskusi dan pengamatan tersebut disusun menjadi karya tulis yang menjadi salah satu syarat mengikuti ujian nasional (UN). n */S-2

Sumber: Lampung Post, Jumat, 1 Februari 2008

Pustaka: Mustafa 'Launching' Buku Konstruksi

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Praktisi Konstruksi Ir. Mustafa, M.H., I.P.M., akan meluncurkan buku berjudul Menuju visi Indonesia 2030, Konstruksi Lampung Prespective di Auditorium Gedung Pascasarjana Universitas Bandar Lampung (UBL), Sabtu (2-2).

Acara akan dilanjutkan dengan bedah buku dan diskusi ilmiah mengenai peranan konstruksi dalam pembangunan Lampung ini menampilkan pembicara staf ahli Menristek Prof. Carunia Mulya, Ir. Mustafa, M.H., dan dosen pascasarjana Teknik UBL Lilies Widojoko. Selain kalangan dosen, hadir juga dalam acara tersebut para praktisi konstruksi yang tergabung dalam asosiasi dan birokrat di Lampung.

Menurut Ketua Panitia, Sony Isnaini, kegiatan ini merupakan rangkaian roadshow Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) Lampung. Sebelumnya acara diskusi ilmiah digelar di kota Metro dengan tema pendidikan. Kini tema yang diangkat mengenai konstruksi. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi di Tanggamus bertema lingkungan. "Diskusi akan dilanjutkan di sepuluh kabupaten/kota di Lampung," ujarnya didampingi Sekretaris Panitia Ir. Sugirianto, M.M., yang juga ketua ADI Metro, kemarin (31-1).

Para peserta, kata Soni, akan mendapatkan sertifikat yang diharapkan dapat digunakan menambah portofolio bagi sertifikasi guru dan dosen.

Sementara itu, Mustafa mengatakan peluncuran buku ini sekaligus mengingatkan pelaku konstruksi di Lampung dalam setiap pekerjaan berpedoman pada visi Indonesia 2030. "Jangan sampai pembangunan yang dilakukan ini tidak mengarah pada visi Indonesia 2030, termasuk membangun jembatan Selat Sunda," kata dia.

Mustafa juga mengingatkan perlunya koordinasi pembangunan antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten, khususnya dalam bidang konstruksi. "Dengan perencanaan dan pembahasan semua pihak, praktisi, dosen, dan birokrat, kita tidak akan melihat pembangunan yang bongkar pasang," ujarnya. n UMB/S-2

Sumber: Lampung Post, Jumat, 1 Februari 2008

VLY 2009: Pariwisata Lampung Belum Dilirik Turis

Bandar Lampung, Kompas - Menghadapi Visit Lampung Year 2009, pengembangan obyek pariwisata di Lampung masih terhambat ketidaksiapan infrastruktur, moda transportasi, dan sumber daya manusia. Hal itu menyebabkan obyek pariwisata di Lampung belum banyak dilirik dan dipilih wisatawan.

Kasubdin Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung Renny Utari, Kamis (31/1), mengatakan, kurangnya kesiapan infrastruktur yang dimaksud di antaranya minimnya tujuan wisata alternatif sebelum menuju obyek wisata unggulan. Sehingga wisatawan tidak memiliki banyak pilihan obyek wisata.

Renny mencontohkan rute perjalanan wisata Bandar Lampung-Taman Nasional Way Kambas. Di sepanjang rute yang bisa ditempuh selama dua jam perjalanan tersebut sama sekali tidak ada obyek wisata alternatif yang menjadi pilihan selain obyek wisata utama.

Pusat jajanan atau pusat oleh- oleh hanya buka di akhir pekan, sementara tamu bisa datang kapan saja. ”Dengan demikian, rute wisata menjadi sepi dan wisatawan hanya disuguhi satu obyek saja dan pemandangan sepanjang perjalanan,” kata Renny.

Bahkan, kurangnya infrastruktur berupa akses menuju obyek wisata terjadi juga pada wisata alam unggulan Lampung, yakni Gunung Anak Krakatau. Untuk menuju lokasi wisata alam tersebut, wisatawan harus menyewa kapal sendiri.

Bagi wisatawan mancanegara (wisman), menyewa kapal laut tidak akan terasa mahal, sedangkan bagi wisatawan Nusantara (wisnus) menyewa kapal laut untuk menuju sebuah obyek wisata alam bisa dipastikan terasa mahal.

Kendala lain, bandar udara di Lampung belum terlalu dipilih sebagai bandar udara komersial alternatif. Selain jalur landasan pesawat hanya bisa didarati pesawat ukuran kecil, landasan pesawat juga pendek, sekitar 1.500 meter.

Kekurangan SDM

Pariwisata di Lampung juga belum bisa berkembang maksimal karena Lampung kekurangan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten di bidang pariwisata. Sampai saat ini, agen-agen perjalanan wisata di Lampung justru lebih banyak menjual tiket pesawat daripada menjual paket perjalanan. Akibatnya, wisman ataupun wisnus hanya mengenal sedikit saja obyek-obyek wisata unggulan di Lampung.

Renny mengaku sulit menjual paket perjalanan wisata di Lampung karena ketidaksiapan infrastruktur dan SDM. Oleh karena itu, untuk menarik kunjungan wisatawan ke Lampung pada Visit Lampung Year 2009, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung berupaya melakukan kerja sama dan koordinasi kegiatan dengan 11 kabupaten/kota.

Hanya saja, koordinasi kembali terhenti karena di setiap pemkab/kota saat ini tengah berlangsung pembahasan revisi APBD kabupaten/kota. ”Semua kabupaten/kota sudah merespons untuk membuat program pariwisata yang sinkron. Namun, semua kembali ke revisi APBD itu,” ujar Renny.

Sambil menunggu revisi, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung kini bekerja sama dengan konsultan pariwisata untuk menyiapkan sumber daya manusia. Tujuannya, supaya Visit Lampung Year 2009 sukses. (hln)

Sumber: Kompas, Jumat, 1 Februari 2008