January 4, 2009

Pustaka: Kisah TKW di Paris

Judul novel: Luka di Champ,s Elysees
Penulis : Rosita Sihombing
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House, Jakarta, 2008
Tebal : 190 halaman


PARIS. Menara Eiffel. Kota impian semua orang. Di negeri penuh gemerlapan ini ternyata tak selamanya indah. Terutama bagi tenaga kerja wanita asal Indonesia yang berteduh di sana. Bukankah TKW Indonesia disedot oleh negara Timur-Tengah, Malaysia, Korea, dan Hongkong? Memang ada TKW di Eropa? Novel perdana karya Rosita Sihombing akan menjawabnya.

Novel ini adalah kisah nyata seorang TKW asal Indonesia yang malang-melintang di Paris. Sikrit sapaan akrab Rosita tidaklah sulit menemui mereka. Selain jumlahnya banyak, mereka memiliki komunitas sendiri. Pada tanggal tertentu berkumpul di bawah Menara Eiffel, lambang kota Paris. Arisan, curhat, dan saling berbagi. Gaya dan dandanan mereka unik menyesuaikan dengan tren mode di kota Paris. Wow

Rosita membutuhkan waktu empat tahun menyelami kehidupan para TKW di negeri pusatnya mode dunia ini. Kehidupan TKW Indonesia penuh dengan haru-biru. Penyebab utamanya, keberadaan mereka ilegal. Mereka, sebenarnya TKW di Timur Tengah. Beruntung memiliki majikan kaya-raya membawa liburan pelesir ke Paris. Kesempatan itu dimanfaatkan para TKW melarikan diri. Mereka ingin terlepas dari penyiksaan, pemerkosaan, rodi, dan upah tak dibayar dari majikan. Selanjutnya berharap bisa menata hidup lebih baik. Tapi, kenyataannya semakin memprihatinkan. Terlunta-lunta di negara kaya-raya, nan ketat dengan aturan.

Novel Luka di Champ,s Elysees berkisah tentang Karimah --Muslimah Indonesia yang bekerja di Riyadh. Karimah sebagai baby sitter, mengasuh Nassar (4 tahun) dan Omar (11 bulan). Majikan pria pengusaha sukses sering ke luar kota dan luar negeri. Sedangkan majikan perempuan, parasnya cantik, tapi malas bekerja. Yang menyakitkan, dia sering main tangan hingga menimbulkan bekas. Kekasaran panggilan majikan perempuan- yang membekas di hati Kari.

Musim semi 2005, majikan pria, Alkahtani mengajak sekeluarga liburan ke Paris. Dari tiga tenaga kerja di rumahnya, Kari yang dipilih mendampingi majikan. Sejak masih di Riyadh, Kari sudah merencanakan kabur setiba di Paris. Dia berharap bisa bertemu teman sekampungnya yang lebih dulu kabur ke Negara Napoleon itu.

Tiba di Paris, Kari mulai ancang-ancang mencari waktu yang tepat. Momen yang tepat, saat kedua majikannya sibuk memilih mainan untuk Nassar, Omar terlelap di kereta bayi. Kari melepaskan kerudungnya, menyelinap di antara pembeli yang memadati toko pusat mainan. Berhasil.

Dia terus berlari melewati Jalan Champ,s Elysees, di kawasan favorit wisatawan. Berlari entah ke mana. Dia tersungkur, terguling-guling, darah menetes dari kaki kanannya. Kakinya sulit digerakkan. Minta tolong dengan siapa? Jangankan mengucapkan kata-kata, mendengar bahasanya saja sulit dimengerti. Pelarian terhenti di Stasiun Metro Charles de Gaulle Etoile. Kari pingsan hingga ditemukan Hamed. Selanjutnya, Hamed menjadi dewa penolong sekaligus teman hidup Kari. Dia warga negara Aljazair yang hidup ilegal pula di Paris. Kerjanya serabutan.

Inilah sisi nyata yang ingin digambarkan Rosita. Kehidupan TKW ilegal Indonesia memilih hidup bersama dengan pria-pria Magreb (warga keturunan Aljazair, Maroko, Tunisia), India, atau Pakistan. Namanya menumpang, mereka harus melayani apa pun keinginan teman hidup bersamanya. Tak jarang kekerasan fisik dan hinaan menghinggapi para TKW. Namanya pendatang ilegal, pekerjaan yang didapat pun ilegal. Menjadi cleaning service, pembantu, baby sitter, atau perempuan jalanan. Getir-getir kesedihan tak seindah gemerlap lampu-lampu di Menara Eiffel di malam hari.

Penderitaan bertambah ketika Kari mengandung hasil hubungan dengan Hamed. Malam dingin menusuk, bayi bergerak-gerak ingin segera keluar. Tanpa Hamed, Kari tertatih-tatih menelusuri jalan, naik metro menuju rumah sakit. Sakit perut dan kegundahaan terus melanda. Bagaimana jika bertemu polisi, menanyakan identitasnya? Di rumah sakit petugas administrasi pasti menanyakan pula identitas dirinya. Bagaimana jawabnya, nanti saja. Yang pasti si orok sudah berontak.

Lahirlah si cantik Maharani. Bayi mungil ini membawa kebahagiaan. Hamed datang ketika semuanya sudah beres. ''Ke mana saja kamu selama ini?!'' Hamed meminta maaf. Tapi, tak ada artinya. Pertengkaran kembali memuncak. Hamed tidak terima nama anaknya didaftarkan tanpa mencantumkan nama 'ayah'. Alasan Kari lebih karena emosi, kemana 'ayah'-nya saat dia bertaruh nyawa mengeluarkan bayi mungil dari rahim?

Jerit tangis Maharani tak meredakan keegoisan kedua orangtuanya. Hamed semakin emosi, mendorong Kari yang sedang menggendong Maharani. Ibu dan anaknya terjatuh tersungkur. Tangis Maharani terhenti, dan tak bergerak lagi. Bayi cantik itu meninggal.

Kesedihan masih terus bergelayut. Kari memutuskan berpisah dengan Hamed. Dia menumpang dengan sobatnya Enah yang tinggal bersama dengan pria asal India. Setiap Enah pergi, Kari ikut pergi. Dia tak mau ditinggal bersama pasangan Enah yang 'nakal'.

Titik kebahagiaan tiba ketika Kari bertemu Imel, WNI legal yang tinggal di Paris. Imel sebagai dewi penyelamat yang bisa mengembalikan kebahagiaan Karimah. Kari kembali berkerudung, berkumpul dengan suami aslinya, Pardi, dan anak semata wayangnya, Tari.

Selembar surat terselip di saku baju Kari. Dari Hamed, isinya ungkapan maaf dan pengakuan dirinya selama ini sudah memiliki istri dan anak di Aljazair. Ternyata Hamed lebih jujur dibandingkan Kari yang juga meninggalkan anak dan suami di Tanah Air.

Peluncuran novel Luka di Champ,s Elysees, Ahad (14 Desember 2008). Rosita sengaja terbang dari Paris menuju Jakarta. Menurut dia, di novel ini ia sengaja mematikan Maharani dan membuat Karimah berbahagia di akhri cerita. Walaupun kenyataan kata bahagia jauh dari harapan para TKW: Kehidupan ibu dan anak di Paris sama-sama menderita.

Novel yang dihiasi kata-kata Prancis ini cukup sederhana, namun menarik. Bahasanya mengalir, enak dibaca, dan penuh makna. Banyak pengetahuan berkenaan Paris yang diketahui dari novel ini. Pembaca pun bisa belajar kalimat-kalimat sederhana Prancis. Tergambarkan kalau Rosita sangat menguasai hingga detail lekuk-lekuk Paris. Nama-nama jalan, taman, rute-rute bus mencerminkan kalau penulis lama berkecimpung di Paris.

Rosita memang tinggal di Paris. Dia menetap di Paris, sejak menikah dengan suaminya Patrick Monlouis, asal Paris. Kini dikarunia seorang putra berusia 3,5 tahun. Bagi Rosita, Paris menjadi kota kedua, setelah Tanjungkarang, Lampung, kota kelahirannya. vie

Sumber: Republika, Minggu, 04 Januari 2009

January 3, 2009

[Esai] Bacaan dan Pengajaran Bahasa Lampung

Oleh Udo Z. Karzi*

PELAJARAN Bahasa Lampung sudah lama jadi muatan lokal (mulok) di sekolah dasar dan menengah di Provinsi Lampung. Namun, sejauh ini upaya pewarisan bahasa Lampung pada generasi muda di Lampung mengalami hambatan.

Alih-alih siswa mahir berbahasa Lampung, yang terjadi malah kebingungan luar biasa dari siswa setelah diajari atau lebih tepatnya diperkenalkan bahasa Lampung. Berkali-kali saya mendengar keluhan pelajar dan orang tua tentang rumitnya belajar bahasa Lampung.

Jangankan dari keluarga yang bukan penutur bahasa Lampung, siswa-siswa yang di rumahnya sehari-hari berbicara bahasa Lampung sekalipun keluhan tentang pengajaran bahasa Lampung juga timbul. Seorang siswa bercerita bagaimana di sekolah menemui banyak kosakata bahasa Lampung yang diajarkan gurunya yang jauh sama sekali dengan kata-kata yang ia praktekkan di rumah dan di lingkungannya.

Kasus lain, saya menemukan seorang berbicara bahasa Lampung dengan dialek yang sangat tidak jelas. Campur-campur tidak keruan di antara banyak dialek dan subdialek, entah a (api), entah o (nyo). Saya sebagai penutur bahasa Lampung jelas sangat prihatin dengan kondisi ini.

Peta Bahasa Lampung

Kondisi kacau semacam ini tidak akan terjadi jika guru atau pengajar mengerti dan paham peta bahasa Lampung. Sebelumnya (baca: Peta Bahasa-Budaya Lampung, Lampung Post, 16 dan 23 Maret 2008), saya sudah menyebutkan daerah masing-masing penutur bahasa dialek-subdialek bahasa Lampung. Namun pemetaan bahasa Lampung ini masih dikacaukan dengan pembagian suku Lampung secara adat. Secara adat, masyarakat adat Lampung terdiri dari Pepadun dan Peminggir. Pembagian suku Lampung berdasarkan adat dan berdasarkan bahasa berbeda.

Ada persepsi keliru yang menganggap masyarakat adat Lampung Pepadun menggunakan bahasa Lampung dialek o (nyo). Padahal tidak. Boleh dibilang--kalau mau menyederhanakan masalah--masyarakat Lampung Pepadun yang dialek o hanya dua: Abung dan Menggala. Daerah subetnik Lampung bisa dipetakan dengan gampang, apalagi jika mendasarkan pada pembagian marga-marga di Lampung.

Masyarakat adat Lampung selebihnya di luar Abung dan Menggala, baik Pepadun maupun Peminggir (orang lebih suka menyebutnya Pesisir atau Saibatin), semuanya penutur bahasa Lampung dialek a (api). Termasuk penutur dialek api adalah Ranau dan Komering-Kayu Agung (di Provinsi Sumatera Selatan) dan Cikoneng (di Provinsi Banten).

Dengan memahami peta bahasa Lampung ini, sudah seharusnya pengajar bahasa Lampung di Lampung Barat, misalnya, tidak bisa memaksa mengajarkan bahasa dialek o (Abung atau Menggala). Kalau itu masih dilakukan, akan sia-sia belaka. Bukannya membuat siswa cakap berbahasa Lampung, justru membuat siswa bingung dan stres karena pelajaran sekolah di luar pengalaman berbahasa di lingkungannya sehari-hari.

Pengajaran Bahasa Lampung

Kritik utama terhadap pengajaran bahasa Lampung sebagai muatan lokal selama ini, pertama, kurikulum pendidikan bahasa Lampung yang masih belum memenuhi syarat mencapai tujuan belajar berbahasa Lampung dan bukan sekadar belajar tentang bahasa Lampung.

Kedua, kurikulum ini juga berkaitan dengan sistem pengajaran yang benar-benar mengajak siswa belajar berbahasa Lampung dan bukan hanya mengajarkan menulis aksara Lampung (kaganga).

Ketiga, saya melihat bagaimana buku pelajaran bahasa Lampung yang mencampur-adukkan dialek o (nyow) dan a (api) dalam satu buku membuat suasana pengajaran menjadi jauh dari nyaman. Siswa menjadi bingung, stres, dan malah menjadi phobia dengan bahasa Lampung.

Alasan memperkenalkan dua dialek sekaligus kepada pelajar menjadi sesuatu yang debatable. Pertanyaannya, siswa mau diarahkan mahir berbahasa Lampung (sebagaimana halnya pelajaran bahasa asing lain seperti bahasa Inggris, Prancis, Arab, Mandarin, dll.) atau sekadar memperkenalkan, "Ini lo bahasa Lampung yang sangat beragam dan karena itu sulit belajar berbahasa Lampung!"

Kondisi seperti harus segera diakhiri. Lebih baik buku pelajaran bahasa Lampung itu dibuat saja dua versi. Versi pertama menggunakan dialek o untuk sekolah-sekolah di daerah penutur bahasa Lampung dialek o. Sedang versi kedua menggunakan dialek a untuk sekolah-sekolah di daerah penutur bahasa Lampung dialek a.

Buku pelajaran bahasa Lampung juga harus dimodifikasi sedemikian rupa agar siswa tidak terbebani, bahkan senang belajar bahasa Lampung, sehingga diharapkan mampu berbahasa Lampung (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) dengan baik.

Keempat, dari sisi penyediaan sumber daya manusia (tenaga pendidik), Universitas Lampung sebagai pusat kebudayaan Lampung dan satu-satunya universitas negeri yang harus lebih peduli dengan bahasa Lampung justru mengesampingkan peran ini. Penghapusan Program Studi Bahasa dan Sastra Lampung dari ilmu-ilmu yang diajarkan di perguruan tinggi kebanggaan orang Lampung ini; apa pun argumennya sebagai bentuk kemasabodohan itu.

Berkali-kali diingatkan bahasa menunjukkan bangsa. Kalau mau menghancurkan kebudayaan Lampung, ya abaikan saja bahasa Lampung. Kalau tidak, pengajaran atau "cara pewarisan" bahasa Lampung harus kita pikirkan bersama.

Bacaan Bahasa Lampung

Satu hal lagi yang membuat orang kesulitan belajar berbahasa Lampung adalah betapa sulitnya mencari teks berbahasa Lampung. Saya jelas ikut bersedih kalau khazanah sastra lisan atau sastra tradisional terancam punah sebagaimana dikeluhkan para seniman tradisional Lampung dan para akademisi. Namun saya akan lebih miris lagi jika orang-orang tidak lagi kenal bahasa Lampung.

Di tengah gempuran globalisasi dan betapa bangganya orang berbahasa asing, upaya pemertahanan bahasa Lampung, selain melestarikan sastra lisan, salah satunya yang paling niscaya adalah menyediakan sebanyak-banyak teks (tertulis) berbahasa Lampung.

Upaya terakhir ini yang agaknya terseok-seok jalannya. Hampir tidak ada yang peduli masalah ini. Upaya kami (BE Press) misalnya, untuk menerbitkan buku sastra berbahasa Lampung selalu terbentur dengan dana. Dengan setengah mengemis, kami bertanya adakah yang mau membantu? Atau, tidak adakah yang tahu betapa pentingnya menyediakan bacaan berbahasa Lampung untuk sesuatu yang bernama kebudayaan Lampung?

* Udo Z. Karzi, tukang tulis dan editor, tinggal di Bandar Lampung

Sumber: Lampung Post, Minggu, 4 Januari 2009

[Apresiasi] Buku 'Penyelamat' Aktor

--- Iswadi Pratama*

PULUHAN tahun sejak berdirinya ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia), hampir setiap orang yang belajar teater secara akademik maupun nonformal mengenal sebuah buku "wajib" yang jadi landasan pengetahuan keaktoran: Persiapan Menjadi Aktor karya Constantin Stanislavski.

-----

"You learn stand by standing, you learn walk by walking."

(Robert Wilson)

Tokoh-tokoh teater di Indonesia yang juga menulis buku serupa sebagai rujukan para aktor seperti Teknik Bermain Drama (W.S. Rendra), Menyentuh Teater (Nano Riantiarno) dll. juga mengacu pada buku klasik itu.

Demikian "populer" dan "pentingnya" buku tersebut sehingga insan teater di Indonesia hampir-hampir tidak mengetahui bahwa Stanislavski sebenarnya menulis buku lain yang tidak kalah hebat dan penting dibaca sutradara dan aktor. Ada Building a Character yang diterbitkan Teater Garasi dalam judul Membangun Tokoh (April, 2008). Sebagaimana buku pertamanya yang merupakan catatan Stanislavski selama berproses sebagai aktor hingga menjadi direktur di sebuah akademi teater di Rusia, semua tema penting dan kompleks mengenai hal-ihwal dan pernik keaktoran dituturkan dalam gaya bahasa ringan, mengalir, tapi bernas penuh kejutan dan perenungan. Seakan-akan ia berbicara langsung pada pembaca.

Keunggulan Stanislavski mengurai teori, metode atau pengalaman keaktoran dibanding dengan para "resi" teater dunia lain seperti Bolelavsky, Grotowsky, Artaud, Peter Brook, adalah kemampuannya membicarakan hal-hal paling teknis sekalipun dengan cara menggugah dan inspiratif. Melalui tulisannya, aspek paling subtil, pelik, dan abstrak dalam seni peran mampu diungkap sebagai realitas yang intim bagi setiap orang.

Ia tidak semata-mata membeberkan data kering dan formal sebagaimana diktat-diktat perkuliahan. Karyanya mampu menyalakan imajinasi pembaca (khususnya aktor) seakan kita menghadapi sebuah rangkaian gambar hidup yang mengundang kita menyentuh dan mengenalnya lebih jauh, lengkap dengan detailnya.

Misalnya perihal "menubuhkan tokoh". Dalam setiap proses pemeranan, sudah lumrah setiap sutradara atau aktor akan menghadapi persoalan, bagaimana memberi bentuk fisik peran/karakter yang dimainkan sehingga citraan-citraan lahir maupun batin peran bisa sampai.

Bahkan, tidak jarang ada semacam keraguan di kalangan mereka untuk menentukan apakah aspek-aspek batin peran terlebih dahulu yang harus diserap aktor kemudian diberi bentuk fisik; ataukah citraan-citraan fisikal lebih dahulu yang dikejar aktor barulah "jiwa" peran diberikan?

Mengenai masalah ini, Stanislavski menuliskan: "sangat sering khususnya di kalangan aktor berbakat, perwujudan fisik tokoh yang akan diciptakan muncul dengan sendirinya begitu nilai-nilai batin tokoh itu ditetapkan dengan mantap." Lalu, ada pertanyaan: Jika kita kurang beruntung dan tidak mengalami semacam kebetulan tiba-tiba seperti itu, apa yang harus dilakukan aktor?

Mengenai hal ini, Stanislavski menceritakan pengalamannya saat menjadi aktor di bawah bimbingan Torstov. Ia menjelaskan bagaimana Pak Torstov menjawab pertanyaan di atas: "Saya kenal perempuan cantik yang mulutnya disengat lebah. Bibirnya bengkak dan seluruh bentuk mulutnya jadi tidak keruan. Ini tidak hanya mengubah penampilannya sehingga orang tidak mengenalinya, tapi juga mengubah ucapan dia waktu berbicara. Saya kebetulan bertemu dia, omong-omong dengannya beberapa menit, barulah saya sadar dia salah seorang teman dekat saya."

Sambil menggambarkan pengalaman-pengalaman pribadi ini, tulis Stanislavski, Pak Torstov menyipitkan sebelah matanya hampir tanpa kentara, seakan baru terserang timbil. Sedangkan sebelah matanya yang lain dibukanya lebar-lebar dengan alis ditarik ke atas. Semua ini dia lakukan begitu rupa sehingga nyaris luput dari perhatian orang yang berada sangat dekat dengannya sekalipun.

Walau begitu, perubahan yang sangat kecil ini menimbulkan akibat yang aneh. Tentu saja ia tetap Pak Torstov, tapi Pak Torstov yang berbeda, yang mengesankan seperti orang yang tidak dapat dipercaya, licik, tidak sopan. Baru ketika ia berhenti bersandiwara dengan matanya, ia kembali menjadi Pak Torstov yang menyenangkan seperti yang kami kenal.

Melalui gambaran di atas, Stanislavski hendak menegaskan menjadi atau menghayati sebuah peran/karakter tidak berarti seorang aktor harus mengubah kepribadian dan batinnya menjadi sama sekali berbeda. Seorang aktor tidak perlu berhenti menjadi diri sendiri hanya untuk memainkan sebuah peran. Apa yang harus dilakukan hanyalah memberi citraan fisik dan batin si peran melalui perencanaan, latihan, dan terus membiasakannya secara sadar.

***

Kekeliruan selama ini sering terjadi di kalangan aktor. Ada prasangka, untuk memainkan sebuah peran/tokoh/karakter, seorang aktor harus menjelma menjadi tokoh yang dimainkan secara harfiah baik lahir maupun batin. Ini adalah kesalahpahaman yang sangat celaka apabila terus dibiarkan.

Aktor tiba-tiba menjadi "orang lain" di luar panggung. Atau sebaliknya si aktor merasa keberatan secara mental terhadap karakter yang harus dimainkannya dan melakukan penolakan-penolakan dari dalam dirinya seraya terus memerankan peran tersebut. Hasilnya adalah kepanikan!

Pada bab lain yang mengurai "pengekangan dan pengendalian", Stanislavski mengatakan untuk menghasilkan sebuah permainan yang menggetarkan dan memukau penonton di atas pentas, setiap aktor harus memiliki kemampuan mengekang dan mengendalikan seluruh perangkat ekspresi dan akting. Ibarat seorang yang menggambar di atas kertas, untuk mendapatkan gambar yang jelas setiap seginya harus dipastikan kertas yang menjadi bidang tempat gambar itu ditempatkan benar-benar dibersihkan dari setiap titik atau garis yang tidak perlu.

Demikian pula permainan aktor. Untuk mendapatkan citraan permainan yang jelas, bersih, dan terpahami, aktor harus membuang semua hal yang tidak dibutuhkannya di atas pentas. Bahkan, biarpun itu sekadar gerakan jari-jari atau lirikan mata atau gestikulasi (gerak tubuh) lain. Semua ini berkaitan dengan kemampuan pengendalian dan pengekangan.

"Makin aktor melaksanakan pengekangan dan pengendalian diri dalam proses penciptaan ini, makin jernih bentuk dan gambaran perannya serta makin kuat pengaruhnya terhadap penonton." Semua itu mensyaratkan seorang aktor harus memulai seninya dengan bersabar dan cermat terhadap hal-hal yang paling kecil sekalipun.

Stanislavski memberi ilustrasi: "Suatu hari, ketika pelukis terkenal Bryulov sedang mengritik salah satu karya seorang muridnya, ia mengambil kuas untuk memberikan satu sentuhan saja di atas lukisan yang belum selesai. Lalu gambar dalam lukisan itu seketika menjadi hidup. Si murid terkejut menyaksikan keajaiban ini. Tentang hal ini, Bryulov menjelaskan seni berawal dengan sentuhan-sentuhan paling kecil."

Demikian tangkas dan cermat Stanislavski menguraikan setiap segi dari seni peran yang sekadar membacanya saja pun, kita bisa merasakan seolah-olah ingin segera menjelma menjadi aktor. Pengalaman-pengalaman yang sederhana dan intim, ilustrasi yang jernih, dan abstraksi-abstraksi yang mengundang gairah sekaligus permenungan, semua ini menjadikan buku Membangun Tokoh seperti "obat-kuat" yang bisa membuat aktor tua sekalipun ingin muda lagi.

Tapi, masih berminatkah para aktor kita hari ini membaca hal-hal seperti ini? Di saat proses berteater (menjadi aktor) telah sedemikian instan dan bahkan oleh sebagian orang dilakukan dengan cara yang amat konyol; menjadi aktor ok! Mempelajari ilmunya, no!

***

Keberhasilan seorang aktor di atas pentas maupun dalam hidupnya sebagai seniman tidak pernah bisa terlepas dari tiga hal pokok: kehidupan intelektual, kehidupan rohani, dan perkembangan keterampilan/skill. Salah satu saja dari ketiga faktor itu terhenti dalam proses keaktorannya, maka sebenarnya ia telah "tamat" sebagai aktor (seniman). Yang tersisa kemudian hanyalah seseorang dengan mimpinya sebagai aktor!

Banyak aktor yang ingin segera mewujudkan obsesinya di atas pentas seperti seseorang yang melihat gunung dan langsung hendak memeluknya. Mereka lupa, pengalaman-pengalaman besar dan hebat tersusun dari sejumlah episode dan momen yang terpisah-pisah.

Itu semua harus diketahui, dipelajari, diserap, dan dipenuhkan. Jika aktor tidak melakukannya, dia akan jatuh menjadi korban stereotip dan gampang menjadi besar kepala atau sebaliknya langsung terjun bebas ke jurang frustrasi.

Buku ini, setidaknya dapat mengungkit kembali gairah dan kecintaan terhadap profesi, tanggung jawab, dan peran seorang aktor; bukan saja bagi dirinya dan pertunjukannya, melainkan bagi masyarakatnya. Dengan menjadi aktor yang terlatih, seseorang setidaknya bisa mempersembahkan sebuah karya seni yang dapat menggugah masyarakatnya terhadap banyak hal.

* Iswadi Pratama, Sutradara di Teater Satu

Sumber: Lampung Post, Minggu, 4 Januari 2009

[Kronika] Lampung Bentuk Federasi Teater Indonesia

BANDAR LAMPUNG--Bulan ini, Lampung akan membentuk Federasi Teater Indonesia (FTI). Pimpinan Teater Satu Iswadi Pratama dipercaya sebagai penanggung jawab pembentukan FTI Lampung.

Iswadi ditunjuk sebagai penanggung jawab berdasar pada pertemuan FTI III di Graha Bhakti Budaya, Jakarta, yang berlangsung 27--28 Desember lalu. "Saya targetkan, Januari ini FTI Lampung sudah terbentuk. Tahap pertama, saya akan mengundang kawan-kawan seniman dan pihak-pihak yang peduli pada teater untuk membicarakan masalah ini," kata Iswadi di Bandar Lampung, Selasa (30-12).

FTI bukan wadah eksklusif seniman teater. "Siapa saja yang peduli dengan tetaer bisa bergabung. Karena bergerak di bidang advokasi, FTI tentu sangat membutuhkan dukungan kawan-kawan dari berbagai latar belakang untuk membesarkan wadah ini," ujar sastrawan yang baru menerbitkan antologi puisi Gema Secuil Batu ini.

FTI III yang berlangsung dua hari itu diisi diskusi yang membahas perkembangan teater modern di Tanah Air. Pembicaranya antara lain Mudji Sutrisno, Slamet Rahardjo, dan Fazrul Rahman.

Selain itu, berlangsung juga penganugerahan FTI III kepada Nano Riantiarno. Sebelumnya, W.S. Rendra menerima anugerah FTI I, kemudian FTI II diberikan pada Putu Wijaya. n MAT/P-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 4 Januari 2009

[Traveling] Menjejak Jalur Aulia di Puncak Gunung Betung

SUATU perjalanan bertema jejak spiritual napak tilas ke makam penyebar agama Islam di Lampung dilaksanakan jemaah Majelis Tolabul Ilmi Al Hanif, Sukarame II, Telukbetung, Minggu (28-12) lalu. Mereka menempuh perjalanan selama delapan jam menuju puncak Gunung Betung yang berada di perbatasan Bandar Lampung-Pesawaran itu.

Tahun baru Hijriah mempunyai makna sangat besar bagi umat Islam. Tahun yang ditandai dengan hijrahnya (berpindah) Nabi Muhammad saw. dari Mekah ke Madinah itu dinilai sebagai tonggak perubahan peradaban dari jahiliah (sesat) kepada keimanan. Maka, banyak umat Islam yang menandai momen pergantian tahun, yakni memasuki tanggal 1 Muharam dengan berbagai kegiatan.

Majelis Tolabul Ilmi Al Hanif, misalnya, mengambil momen ini untuk melakukan muhasabah dengan mengingat para ulama yang telah mengenalkan Islam kepada umat. Ada yang istimewa pada pergantian tahun 1429 ke 1430 ini bagi jemaah Al Hanif. Yakni, mereka melakukan ziarah ke tujuh makam yang dikenal sebagai aulia atau pengajar agama Islam di wilayah sekitar Bandar Lampung dan Pesawaran. Perjalanan mereka menjadi menarik karena letak tujuh makam itu berada di puncak Gunung Betung.

Salah satu anggota tim, Sugito, menceritakan perjalanan jejak aulia ke tempat yang disebut Bukit Keramat Buluh Perindu itu diikuti 253 jemaah dibagi menjadi 26 regu. Lokasi ini dapat dijangkau dari sisi barat melalui Desa Wiyono, Kecamatan Gedongtataan, Pesawaran, dan dari sisi timur, dari kawasan Batu Putu, Bandar Lampung. Rombongan ekspedisi ini memilih rute Batu Putu yang dinilai lebih ringan medannya.

Bendera start dikibarkan pukul 05.45. Diawali dengan lintasan jalan aspal yang mulus dan nyaman, selanjutnya menembus jalan onderlaag dan jalan tanah selepas Taman Wisata Batu Putu. Di kawasan ini, suasana perdesaan nan terbelakang mulai terasa. Ini ditandai dengan rumah-rumah penduduk yang sederhana, jalan tanah, dan tidak terlihat jaringan listrik. Hanya kabel-kabel sederhana yang tersampir di tonggak-tonggak bambu yang menghubungkan rumah-rumah sederhana itu. Kabel itu adalah saluran listrik generator set (genset) milik salah satu warga yang cukup mampu. Ya, warga mengandalkan penerangan rumah dengan mesin generator dan lampu minyak tanah. Padahal, kawasan itu merupakan kampung cukup tua.

Meskipun sudah cukup jauh, seunit bangunan terlihat cukup megah di tengah tanah lapang. Yakni, bangunan bertajuk Sekolah Dasar Negeri Sinar Mulya Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran. Tempat ini kemudian dijadikan sebagai posko pertama perjalanan jemaah.

Di posko pertama inilah seluruh anggota berkumpul kembali untuk memeriksa sekali lagi perlengkapan pendakian. Ketua rombongan H. Suhaimi Yusuf yang juga pengasuh MTI Al Hanif memberikan perbekalan materi. Tak begitu lama, rombongan mulai merangsek rerimbunan kebun, menaiki jalan menanjak, menembus belukar, dan mendaki bukit.

Tak jauh dari posko, tim memasuki memasuki daerah perbukitan. Sepanjang jalan hanyalah perkebunan kopi milik warga. Sesekali ada terlihat pohon yang tidak begitu besar. Padahal daerah ini merupakan kawasan hutan lindung yang semestinya tumbuh pohon-pohon besar yang mampu menahan erosi.

Kepastian bahwa daerah ini merupakan wilayah hutan lindung yaitu dengan adanya sisa-sisa pohon sonokeling jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Seunit papan nama bertulisan peringatan dan larangan menebang pohon dari Departemen Kehutanan yang kami jumpai saat memasuki perbukitan tak jauh dari posko pertama.

Tak terasa satu jam sudah perjalanan, waktunya istirahat sambil menunggu rekan-rekan yang ada di belakang. Lima belas menit kemudian, perjalanan dilanjutkan. Pada etape inilah perjalanan mulai terasa berat. Selain jalan yang mulai menanjak cukup tinggi, beban bawaan yang cukup banyak, mulai dari peralatan tenda, stok makanan, dan air minum. Sebab, informasi yang ada menyatakan di puncak Gunung Betung sulit untuk mendapatkan air.

Sepanjang perjalanan suasana cukup ceria dengan berbagai perbincangan. Namun, mengingat ini adalah salah satu bentuk wisata religi, fokus mengingat dan menyebut asma Allah dalam hati menjadi warna lain dari seluruh rangkaian perjalanan.

Selepas perkebunan kopi, perladangan warga yang membentuk umbulan (ngumbul) terlewati. Para petani menjadikan lahan ini sebagai tempat bercocok tanam padi darat/gogo. Beberapa gubuk bertakhta di lereng-lereng yang cukup tajam. Dari lokasi ini, penunjuk arah menyatakan perjalan berikutnya merupakan etape ketiga yang relatif lebih menantang.

Pada etape ketiga, perjalanan mendaki gunung yang sesungguhnya. Jalan setapak, lembab, licin dan terjal, serta banyaknya binatang pengisab darah, lintah dan pacet. Di hadapan, sudah menjulang tinggi lereng bukit Gunung Betung dengan kemiringan kurang lebih 85 derajat seperti menghentikan langkah. Namun, suhu udara sekitar 19 derajat Celsius dan suasana ramai dan menantang membuat pendakian begitu menyenangkan.

Bertumpu pada tongkat yang dibawa serta berpegangan pada batang pohon kecil yang ada di sekitar jalan, tim merambat naik. Tak sedikit yang terperosok karena licin dan sulit mencari pijakan kaki. Ucapan asma Allah terus bergelayut, baik yang sir (dalam hati) maupun yang disuarakan. Bentangan jurang curam mendecakkan mulut dan hati untuk senantiasa menyenandungkan doa kepada Allah swt.

Di bawah pohon besar dan rindang dengan tiupan sepoi-sepoi angin pegunungan yang sejuk tim beristirahat untuk makan siang.

Setengah jam beristirahat, tim melanjutkan kembali untuk menempuh etape ke empat yang kurang lebih memakan waktu satu setengah jam untuk sampai pada puncak gunung betung. Yakni, tempat bersemayamnya para aulia Allah atau dikenal dengan nama Bukit Puluh Perindu sebagai akhir dari etape perjalanan.

Pukul 14.00 siang seluruh rombongan sampai di tempat. Kemudian seluruh peserta bahu-membahu mendirikan tenda, ada sebagian memasak air panas untuk membuat kopi dan lainnya. Kami pun beristirahat sampai menjelang magrib. Setelah makan malam dan solat isya, di tengah terpaan angin kencang disertai suara gumuruh angin menerpa ranting pepohonan, dengan menggunakan mantel jas hujan kami mengelar zikir dan doa bersama sambil menunggu bergantinya tahun Hijriah 1429 ke 1430.

Doa kami kepada Allah swt. agar perjuangan para aulia Allah bermanfaat bagi kami dan seluruh umat Islam. Kami pun berharap rida Allah swt. agar karamah serta hidayah yang telah diberikan kepada para aulia Allah tersebut, dapat juga diberikan kepada kami semua.

H. Suhaimi Yusuf, pembina Al Hanif yang juga salah satu pewaris wilayah Gunung Betung, berkisah tentang keberadaan para aulia yang dimakamkan di puncak gunung itu. Ia mengatakan Bukit Keramat tersebut sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Keterangan itu ia dapatkan berdasarkan keterangan Datuk Muhammad Isa yang pernah bertapa di lokasi itu.

Ia mengatakan belum banyak yang mengetahui keberadaan makam orang alim itu di puncak Gunung Betung. Masyarakat di Lampung umumnya mengetahui para aulia itu berada di Pulau Jawa. Padahal di Lampung cukup banyak para aulia Allah. Mereka memilih mengungsi ke pegunungan untuk menghindari perburuan dari kaum penjajah. Pada saat penjajahan Belanda mereka dikejar-kejar dan dibunuh.

Agar dapat terus menyampaikan ajaran Islam, para aulia ini memutuskan untuk bersembunyi. Dan tempat itu salah satunya di puncak Gunung Betung. Di sini bersemayam para aulia Allah, di antaranya Kiai Sultan Alamsyah, Batin Panji, Dalom Kesuma Ratu, Raden Jaya Kesuma Ratu, Pangeran Jaya Sakti, dan Pangeran Jaya Sampurna.

Prosesi peringatan tahun baru Hijriah di lokasi ini usai. Keesokan harinya pukul 07.00, tim meninggalkan lokasi. Perjalan pulang sama sulitnya. Namun, semua berjalan lancar hingga pukul 13.00 tiba di rumah.

Perjalanan menuju puncak Gunung Betung memang mengundang banyak kisah. n M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 4 Januari 2009

[Profil] Bahagia jika Membantu Orang Lain

BUKIT Tinggi, Sumatera Barat. Kota dengan Jam Gadang sebagai ikon itu memang daerah tujuan wisata yang cukup menarik perhatian. Sejak lama, daerah wilayah pegunungan nan sejuk itu selalu didatangi wisatawan, baik domestik maupun dari mancanegara. Kota itu adalah tempat lahir dan besar Ir. Citra Persada, M.Sc.

"Sejak kecil, saya sudah akrab dengan bahasa Inggris. Ayah dan ibu saya guru Bahasa Inggris. Dan sering ada bule (wisatawan mancanegara, red) datang ke Bukit Tinggi kekurangan atau kehabisan uang, mereka datang ke sekolah ayah saya menjadi native speaker atau mengajar. Jadi, saya sangat familier dengan bahasa Inggris," kata istri mantan Bupati Lampung Timur, Irfan Nuranda Djafar, Jumat (2-1).

Latar belakang kehidupan masa kecilnya, kata Citra, sangat berpengaruh terhadap perjalanan hidupnya. Ayah ibunya yang pendidik mengantar mentalitasnya menyatu dengan atmosfer pendidikan. Selain itu, daya dukung lingkungan juga sangat besar. "Orang tua saya sangat mementingkan pendidikan. Dan orang-orang Bukit Tinggi memang sejak lama dikenal sangat banyak yang menuntut ilmu ke Jawa, bahkan ke luar negeri," kata dia.

Selepas SMA di Padang, tahun 1984 ia diterima di Institut Teknologi Bandung pada Fakultas Teknik dengan Jurusan Planologi. Kemampuan menyerap ilmu perencanaan mendorong dosen pembimbingnya, Mira Gunawan, untuk mengajak dalam beberapa penelitian. "Lalu, saya terlibat penelitian untuk pembuatan masterplan pariwisata Indonesia. Saya juga diajak merintis program perencanaan tata ruang pariwisata," kata dia.

Meski lulus sebagaiu sarjana perencana tata kota, ketertarikannya dengan bidang pariwisata sangat besar. Sebab, beberapa tugas penelitian dalam bidang pariwisata telah mengantarnya keliling Indonesia untuk mengobservasi ke tempat-tempat wisata. Salah satunya ke Lampung hingga bertemu dengan seorang jejaka bernama Irfan Nuranda yang kemudian mempersuntingnya menjadi istri.

Diterima menjadi dosen pada Fakultas Teknik Unila, Citra tetap lebih tertarik kepada studi kepariwisataan. Gelar masternya diperoleh pada 1999 di University of Surrey, Guildford, Inggris dengan konsentrasi pada perencanaan dan pembangunan pariwisata. "Memang saya mengajar perencanaan tata kota di Unila. Tetapi, ilmu kepariwisataan menjadi nilai tambah bagi mahasiswa. Sebab, fakultas itu belum ada di Unila."

Sebagai dosen, ia tampaknya masih kekurangan kegiatan untuk menuangkan ilmu dan dinamisnya gerak. Maka, ia masih sangat intens dalam studi dan penelitian dalam bidang tata ruang kota dan masterplan pariwisata untuk beberapa daerah di Lampung. Berbagai simposium, diskusi, seminar, dan kegiatan keilmuan yang bersinggungan dengan bidang tata ruang dan kepariwisataan masih terus diburu dan memburu. Diburu dalam arti dia masih menyempatkan diri mengikuti event-event skala nasional dan regional sebagai peserta. Memburu dalam arti, ia sering diminta untuk menjadi pemateri.

Selain itu, ia juga menjadi ketua Yayasan Sekolah Alam yang mengelola pendidikan tingkat TK dan SD di bilangan Way Huwi, Lampung Selatan. Ia tertarik dengan bidang ini karena ketidakpuasan dengan model sekolah konvensional yang lebih mengedepankan aspek intelligence quotient (IQ). Sementara sisi emotional quotient (EQ) dan spiritual quotient (SQ) kurang mendapat perhatian.

"Ini saya sadari saat saya mau mencarikan sekolah TK untuk anak saya. Maka, saya mencari alternatif. Saya ketemu satu model di Jakarta, lalu saya pelajari, kemudian saya mendirikan sekolah alam. Ini jawabannya," kata ibu tiga anak (satu meninggal dunia) ini.

Tentang harmoni keluarga, meskipun mempunyai suami politisi, Citra mengaku tidak tertarik dengan politik. "Keluarga kami sangat demokratis dan punya komitmen bersama. Kami menjaganya dengan rutinitas sarapan dan makan malam bersama. Kalau makan siang, sulit karena anak saya makan di sekolah dan mobilitas suami saya sangat tinggi. Di meja makan itulah kami bangun komunikasi," kata dia.

Bergerak dinamis dengan prestasi yang cukup luar biasa, Citra Persada hanya punya obesesi sederhana. "Saya hanya takut jika hidup ini tidak bermanfaat bagi orang lain. Demikian pula, saya sangat bahagia jika bisa membantu orang lain dari masalahnya." Sungguh mulia.... n SUDARMONO


Biodata

Nama: Ir. Citra Persada, M.Sc
Pekerjaan: Dosen Fakultas Teknik Unila
Kelahiran: Bukit Tinggi, 8 November 1965
Suami: Ir. Irfan Nuranda Djafar, C.E.S.
Anak:
1. Alifa Farras Irfani (15)
2. Rohyan Syakura (alm.)
3. Anggo Hamidi Syafiq (9)

Pendidikan:
- SD Franciscus Bukit Tinggi (1977)
- SMPN 1 Bukit Tinggi (1981)
- SMAN 2 Padang (1984)
- S-1 Institut Teknologi Bandung(1990)
- S-2 University of Surrey, Inggris (1999)

Organisasi:
- Ketua Tim Penggerak PKK Lampung Timur (2000--2002)
- Ketua Dekranasda Lampung Timur (2001--2002)
- Ketua Dewan Pendidikan Lampung Timur (2002-2003)
- Ketua Bidang Kerjasama Ikatan Ahli Lanskap Indonesia (AILI) Lampung (1999--2004)
- Ketua Yayasan Sekolah Alam Lampung (2003--sekarang)
- Sekretaris Komite Pariwisata Lampung (2004--sekarang)
- Wakil Ketua I Ikatan Ahli Perencana (IAP) Lampung (2006--sekarang)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 4 Januari 2009

[Profil]: Pariwisata Lampung Jalan Sendiri

* Citra Persada, Pengamat dan Konsultan Pariwisata

PROVINSI Lampung mencanangkan tahun 2009 sebagai Tahun Kunjungan Wisata ke Lampung (Visit Lampung Year 2009). Namun, banyak kalangan meragukan kesungguhan pemerintah dalam program ini.

Sejak tahun 2007, Visit Lampung Year (VLY) 2009 sudah direncanakan. Pada Maret 2008, soft launching program itu dilakukan untuk merespons atau setidaknya mendukung program nasional, Visit Indonesia Year 2008 yang dicanangkan pemerintah pusat. Dan event-event pariwisata sudah dilaksanakan.

Pada pengujung 2008, rencana itu dimatangkan kembali dengan digelarnya grand launching VLY 2009. Bendera start benar-benar sudah dikibarkan. Tetapi tampaknya, pemerintah masih belum padu dengan stakeholder, antara lain dunia usaha yang berkait dengan industri pariwisata.

Kini, tahun 2009 sudah hadir. Suasana kemeriahan pesta tahun baru yang juga merupakan event pariwisata membuka VLY 2009. Apakah kemeriahan pariwisata Lampung dapat melanjutkan kemeriahan pesta tahun baru 2009?

Untuk memberi gambaran potensi, prospek, pengelolaan, dan dukungan lain terhadap pariwisata Lampung dengan VLY-nya, wartawan Lampung Post Sudarmono mewawancarai pengamat dan konsultan pariwisata Ir. Citra Persada, M.Sc. Berikut petikannya.

Pariwisata. Banyak daerah atau negara mengandalkan sektor ini sebagai salah satu program unggulan. Apa sebenarnya keunggulannya?

Ya, pariwisata menjadi sektor primadona karena keunggulannya dalam banyak hal. Pertama, pariwisata merupak bidang jasa yang mudah menghasilkan uang, bahkan uang banyak. Mengapa? Sebab, harga sebentuk layanan pariwisata amat relatif.

Kedua, pariwisata identik dengan keindahan dan tatanan masyarakat yang ideal. Artinya, pada daerah wisata yang mapan, daerah itu relatif akan menjadi daerah yang tertib, aman, ramah, peduli, dan menyejukkan. Ini keunggulan pariwisata.

Apakah itu akan berimbas kepada kesejahteraan rakyat? Sebab, kini kesejahteraan rakyat Indonesia relatif rendah?

Untuk diketahui, pada 2020, diperkirakan ada 1,6 miliar orang akan melakukan perjalanan wisata di seluruh dunia. Data prakiraan itu, antara lain berasal dar Eropa Timur (717 juta), Asia Timur (397 juta), dan Amerika Serikat (282 juta). Mereka membutuhkan jasa layanan yang paripurna. Dan ini suatu peluang besar bagi daerah yang memiliki potensi pariwisata. Saya kira Lampung harus mengambil peluang itu lebih dari sekadar menjalankan rutinitas.

Bagaimana kondisi pariwisata di Lampung?

Ya, secara nasional, Lampung memang masih berada di klasemen bawah sebagai daerah tujuan wisata (DTW) Indonesia. Padahal, potensinya sangat besar.

Tetapi, situasi pariwisata sangat dipengaruhi kondisi global dan nasional. Kita masih ingat, sebelum 1997, pariwisata nasional berkembang pesat. Krisis ekonomi melanda, pariwisata melemah. Lalu, tahun 2000 mulai pulih. Belum pulih betul, ada tragedi WTC (menara kembar World Trade Centre di New York ditabrak pesawat, red) pada 2001. Lalu, ada peristiwa bom Bali (2002 dan 2005), lalu ada tsunami Aceh 2004. Tahun 2006--2007 mulai bangkit. Tetapi, akhir 2008 kembali terjadi krisis keuangan global. Ini berpengaruh.

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) tahun 2007 ke Lampung 8.832 dan wisatawan nusantara (wisnus) 1.176.581. Tahun 2008 diperkirakan meningkat. Dikhawatirkan tahun 2009 wisman akan turun lagi dan wisnus tetap naik. Target kunjungan optimistis 2 juta untuk VLY 2009 bisa tercapai jika agenda yang direncanakan dijalankan bersama-sama pemangku kepentingan. Tahun 2008 saja wisman diperkirakan 9.000 orang dan wisnus 1,3 juta orang.

Melihat grand launching pertengahan Desember lalu, seperti kurang gereget, apa komentar Anda?

Mungkin, pertanyaan itu bisa dilengkapi dengan pariwisata Lampung untuk siapa? Apakah untuk masyarakat, pemerintah atau untuk dunia usaha. Ini yang tidak terjawab dalam konteks VLY.

Kalau untuk masyarakat, seharusnya pakai cara pandang masyarakat, artinya harus ada dampak positif (ekonomi) pada kelompok masyarakat banyak (industri kecil, restoran, rumah makan, homestay, dll.). Kalau untuk dunia usaha (sektor pariwisata), apakah memang sudah melibatkan mereka dalam berbagai perencanaan dan kegiatan? Kalau saya lihat, ini masih cenderung untuk pemerintah. Yang dipakai adalah kacamata proyek.

Dengan pencanangan VLY 2009, apa yang baru di Lampung?

Yang baru? Saya kira cuma kepala dinasnya, haha....

Jadi?

Ya, berjalan begitu saja. Sebab, memang pariwisata tanpa dibuat program seperti VLY pun tetap berjalan. Tanpa ada kebijakan dari pemerintah pun, pariwisata itu tetap ada. Sebab, orang butuh rekreasi, butuh suasana baru, dan mereka harus dilayani.

Tetapi, untuk menjadikan suatu daerah memiliki keunggulan pariwisata, tidak bisa berjalan seperti begitu, apa adanya. Peran pemerintah dalam menyediakan infrastruktur dan perangkan pendukung lain sangat menjadi kunci. Sebab, pariwisata melibatkan multifaktor yang sangat erat. Dan jika itu dilakukan, imbal baliknya kepada kesejahteraan rakyat sangat besar dan cepat.

Anda menilai pemerintah di Lampung belum mengambil prakarsa itu?

Belum. Yang ada hanya seremonial belaka. Kalaupun ada event atau program, orientasinya sangat bias. Ya, itu tadi, proyek.

Jadi, kalau ada peningkatan jumlah wisman ke Lampung dari tahun ke tahun, saya pikir itu adalah prestasi para pengusaha pariwisata yang menawarkan program-program secara mandiri. Para pengusaha biro perjalanan itu berjalan sendiri. Tetapi, setelah ditotal dan ketemu angka kunjungan wisman sekian, misalnya, yang dapat nama adalah pemerintah. Padahal, peran pemerintah sangat kurang.

Apa kendalanya di pemerintahan?

Ya, kelembagaan yang lemah. Ada Komite Pariwsata yang ide awalnya adalah tourism board, tetapi dalam perjalanannya kurang optimal juga karena kurangnya keterlibatan stakeholder pariwisata dalam lembaga ini. Promosi dan pemasaran tidak pernah devalusi efektif atau tidak. Pemerintah Provinsi dan kabupaten/kota rutin melaksanakan promosi ke berbagai daerah dalam dan luar negeri, tetapi nyatanya justru mereka hanya berwisata, bukan berpromosi.

Sebenarnya, apa yang bisa dijual Lampung?

Hakikat pariwisata itu kan adanya keunikan/kekhasan dan hubungan antarmanusia (budaya). Sedangkan roh pariwisata adalah hospitality atau keramahtamahan yang meliputi hangat, hormat, persahabtan, dan persaudaraan. Dan ini sesungguhnya sangat banyak dimiliki Lampung.

VLY 2009 sudah direncanakan sejak 2007, tetapi ketika masuk 2009, seperti tidak bergema. Apa komentar Anda?

Saya tahu VLY 2009 ini sudah disiapkan sejak November 2007. Saya pernah mengusulkan tiga langkah yang harus segera dilakukan. Pertama, sosialisasi ke berbagai lapisan. Kedua, persiapan infrastruktur secara menyeluruh di kabupaten/kota (paling tidak dapat dianggarkan pada 2008). Dan ketiga, menyepakati fokus kawasan wisata mana yang akan diunggulkan.

Semua sepakat, tetapi pada perjalanan prakteknya, itu tidak dilaksanakan. Ya, sudah. Saya tidak punya hak untuk selanjutnya.

Ada persoalan pendanaan, mungkin?

Itu mungkin saja. Yang saya sayangkan, dana yang ada justru dialokasikan untuk hal yang tidak begitu penting. Saat grand launching, misalnya, itu kan diharapkan dihadiri masyarakat banyak. Tetapi, dananya justru digunakan membuat kaus dan atribut lain yang kemudian dibagikan kepada para pejabat dan pegawai dinas. Sementara itu, masyarakat yang diminta datang tidak dapat apa-apa dan hanya mendengar sambutan-sambutan. Ini yang saya tidak habis pikir.

Memang besarnya dana tidak menjamin suksesnya Visit Lampung. Saya ambil contoh Visit Musi yang menghabiskan Rp18 miliar dan persiapan sejak 2001, tetap saja tidak maksimal. Karena masyarakat tidak merasakan dampaknya, infrastruktur tidak siap karena jalan ke objek wisata sempit dan rusak, masyarakat belum sadar wisata.

Apa yang harus dilakukan sekarang dalam VLY 2009?

Segera berbenah karena tamu sudah telanjur diundang pada 2009. Susun rencana untuk setahun bersama-sama stakeholders, bagi tugas dan tanggung jawab. Pemerintah Provinsi, kabupaten/kota mengadakan pertemuan dengan stakeholders untuk bekerja sama menyambut tamu. Road show ke kabupaten/kota, ekspose dengan bupati dan wali kota apa rencana tiap daerah.

Untuk informasi, Hotel Sheraton akan kedatangan tamu Jepang dan India sebanyak 90 orang untuk menyaksikan gerhana di Ngaras. Apa yang bisa Pemerintah Provinsi lakukan atau Kabupaten Lampung Barat siapkan atau Tanggamus yang akan mereka lewati. Mungkin ada hospitality dari Bupati Tanggamus untuk mengundang calon wisatawan coffee morning sambil menyaksikan tarian setempat?

Bekerja sama dengan pihak keamanan. Kan sudah ada polisi pariwisata dan mobil polisi pariwisata di Bandar Lampung. Ini tentu dapat menjadi pusat informasi berjalan di samping member rasa aman dan menjaga keamanan.

Benahi bandara dan pelabuhan serta terminal. Para petugas di pintu masuk tersebut diminta peduli dengan tamu yang datang sebagai wisatawan sehingga dapat membantu dan memberi pelayanan yang lebih baik. Contoh, cek kamar mandi Bandara Radin Inten II karena terakhir saya ke sana kunci toiletnya rusak. Tebarkan senyum.

Ada lagi?

Dinas Pariwisata setempat hendaknya keliling mengecek persiapan setiap produk wisata yang diunggulkan di daerahnya.

Adakan pertemuan dengan PT, yang mempunyai link dengan luar negeri untuk mengundang teman, kolega seminat atau penelitian di Lampung dan list kemudahan atau hospitality apa yang dapat diberikan pemerintah jika mereka datang (seminar internasional, kesenian, olahraga, forum bisnis, sosial, dll.).

Dari sisi masyarakat?

Di masyarakat harus di bangun kepedulian tentang pariwisata Lampung. Jaga keamanan, kenyamanan di tempat-tempat umum. Jangan sampai tamu tahu kekurangan. Yang ditonjolkan hal-hal yang positif. Undang teman dan relasi untuk datang ke Lampung. Begitu...

Sumber: Lampung Post, Minggu, 4 Januari 2009

[Fokus] VLY 2009 Minim Publikasi

BANDAR LAMPUNG--Memasukkan kata kunci "Pariwisata Lampung" pada mesin pencari di internet Google, web yang muncul pada urutan pertama adalah Lampunggech.blogspot.com. Ketika diklik, banner di halaman utama blog ini adalah "Lampung" dengan tulisan "Sang Bumi Ruwa Jurai" di bawahnya. Di bagian samping kanan, tertulis "Wisata Lampung, tourism cataloque of Lampung".

Pada urutan kedua dan seterusnya, ada beberapa nama website surat kabar nasional dan lokal yang mengandung kata "pariwisata Lampung". Baru, pada urutan ketujuh, ada portal milik pemerintah daerah, yakni www.lampungbarat.go.id yang mempunyai content tentang pariwisata Lampung.

Kita bersyukur ada Lampunggech.blogspot.com. Portal blog ini menulis tentang "dirinya" sebagai sebuah divisi wisata Lampung yang bergerak di bidang publikasi pariwisata Lampung secara online. Ia juga sedang mengembangkan divisi usaha yang mengangkat local heritage.

Ya, pariwisata Lampung memang sedang dikumandangkan gebyarnya. Sirene yang ditekan Gubernur Lampung Syamsurya Ryacudu, 23 Desember 2008, telah membulatkan tekad pemerintah daerah untuk menarik sekitar dua juta wisatawan asing ke Lampung. Juga jutaan wisatawan nusantara. Pertanyaannya; kok yang gencar promosi malah pihak lain?

Ditelusuri lebih lanjut, dengan kata kunci lain, memang ditemukan website pemda yang mempromosikan pariwisata Lampung. Namun, dilihat dari isinya, pengelola publikasi dunia maya itu hanya mengutip atau mengambil dari portal surat kabar daerah yang menerbitkan informasi soal pariwisata.

Mereka tampaknya tidak serius menggarap publikasi tentang pariwisata Lampung. Padahal, publikasi dan sosialisasi adalah salah satu kunci utama pengembangan pariwisata. Namun, tampaknya pemda tidak mempunyai kesadaran tentang pentingnya publikasi. Akibatnya, gaung pariwisata Lampung dengan program Visit Lampung Year 2009 pun tidak nyaring terdengar.

Soal publikasi, sesungguhnya media massa lokal sudah mengingatkan kepada pemda, jauh sebelum grand launching. Saat pencanangan awal (soft launching) VLY 2009 yang mengambil momen hari ulang tahun ke-44 Provinsi Lampung, 18 Maret 2008, media massa lokal, termasuk Lampung Post, sudah menulis tentang minimnya publikasi. Namun, hingga grand launching dan memasuki hari-hari VLY 2009, kritik itu tidak mendapat sambutan.

Kantor berita Antara, misalnya, mengutip seorang peserta peluncuran maskot dan logo VLY 2009 saat itu, menyayangkan kegiatan besar dan menghabiskan dana tidak sedikit tersebut sanat minim publikasi. "Memang ada sejumlah media lokal yang membuat beritanya. Namun, pada pencanangan tidak ada media televisi swasta yang berkantor pusat di Jakarta meliputnya. Padahal, tujuan penjualan objek wisata kita adalah orang dari luar daerah, bahkan luar negeri," kata Hariman, salah seorang yang hadir dalam acara itu.

Meskipun demikian, kata dia, di awal pencanangan VLY 2009, masih lebih baik jika publikasi lebih digencarkan lagi. n SDM/M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 4 Januari 2009

[Fokus] VLY 2009 Sekadar Seremonial Belaka

BANDAR LAMPUNG--Program Visit Lampung Year (VLY) 2009 yang digulirkan Pemprov Lampung dinilai beberapa kalangan sebagai basa-basi. Penilaian ini disebabkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung seperti bekerja dan meluncurkan sendiri program ini dengan beberapa upacara seremonial. Padahal, pariwisata sangat berkait erat dengan bidang lain.

Kegiatan yang menelan biaya Rp1,2 miliar itu hanya diisi penekanan tombol sirine oleh Gubernur Lampung Syamsurya. Sementara itu, masa depan sektor lain tidak dapat mendukung kemajuan pariwisata tanpa didukung kesiapan infrastruktur.

Pariwisata bukan sekadar keindahan, tapi kenyamanan dan keamanan. Jika wisatawan tidak dibuat nyaman dalam berwisata terutama aksesibilitas ke objek wisata, tinggal menunggu "kapoknya" orang berkunjung. Alhasil VLY bukan hanya basa-basi, melainkan juga tidak bakal menghasilkan apa pun.

Konsultan pariwisata dari Association of the Indonesian Tours an Travel Agencies (Asita) Nicolaus Lumanauw mengatakan kesiapan infrastruktur menjadi salah satu indikator daya tarik wisatawan. "Aksesibilitas harus benar-benar diperhatikan, jangan sampai orang tidak mau datang karena sulitnya akses ke tempat wisata," kata Nicolaus.

Ia menambahkan instansi terkait harus memiliki data akurat tentang lokasi tujuan wisata. Mulai jumlah, lokasi, paket yang ditawarkan, akses menuju ke lokasi, bila perlu sampai biaya yang harus dikeluarkan wisawatan dengan tawaran fasilitas yang tersedia.

Dengan demikian, akan sangat mudah promosi tentang pariwisata di daerah kepada calon wisatawan. "Perlu juga ada event wisata yang digelar dengan mengundang instansi terkait dari negara luar. Sebab, kunci pariwisata sekarang ada di promosi," kata dia.

Ketidaksiapan infrastruktur itu, hanya salah satu tambahan koreksi atas gelar VLY. Lainnya kekecewaan pengelola hotel di Bandar Lampung karena tidak dilibatkan dalam peluncuran VLY 2009. "Kami tahu ada peluncuran VLY dari surat kabar. Tetapi, tidak ada sosialisasi langsung kepada pengelola hotel," kata Marketing & Public Relation Hotel Indra Puri, Indrawansyah, kemarin.

Namun, menurut dia, Hotel Indra Puri tetap berbenah untuk menyambut VLY ini. Indra Puri telah meningkatkan layanan mulai renovasi gedung dan interior hingga layanan hotspot untuk mendukung jaringan komunikasi.

Hal senada diungkapkan Senior Sales Supervisor Bukit Randu Hotel dan Restoran, Raban. Menurut dia, sebagai pihak terkait pihak hotel tidak mendapat sosialisasi VLY 2009. "Kami memang diundang menghadiri pembukaan VLY, tapi sosialisasi program VLY-nya tidak ada. Jadi kami tidak tahu arahnya ke mana," ujar Raban.

Menurut dia, meski peluncuran VLY yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat melalui jalan sehat cukup baik, gebyarnya masih kurang. Ia menyesalkan mengapa tamu hotel tidak disertakan. "Sebenarnya sejak tahun lalu, VLY sudah digaungkan. Tapi, strateginya seperti kurang kena sasaran," kata dia.

Resepsi

Pada peresmian VLY 2009 atau Tahun Kunjungan Lampung 2009, pada 23 Desember 2008 itu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Lampung menyosialisasikan 42 kegiatan umum bidang pariwisata dalam satu tahun. Mulai Januari, pemerintah kabupaten/kota mengumpulkan catatan tentang kegiatan pariwisata dan budaya yang akan digelarnya. Kegiatan di kabupaten/kota itu pun berupa hal-hal yang sudah rutin dilakukan dan terkesan diselenggarakan seadanya.

Setelah Gubernur Lampung Syamsurya Ryacudu menandai pembukaan VLY 2009 di lapangan parkir GOR Saburai itu dengan penekanan tombol sirene. Acara hanya berlangsung diatur dengan protokoler, mulai sambutan Gubernur sampai Kepala Disbudpar M. Natsir Ary.

Dalam sambutannya, Gubernur berharap VLY 2009 dibarengi dengan keseriusan program untuk menarik sebanyak-banyaknya wisatawan berkunjung ke Lampung.

Mulai peningkatan infrastruktur hingga peningkatan kualitas produk dan pelayanan serta diversifikasi destinasi. "Momentum ini harus menjadi pemacu semangat untuk memberikan yang terbaik kepada Sai Bumi Ruwa Jurai," kata Syamsurya.

Gubernur berpesan agar pemerintah kabupaten/kota sebagai pemilik wilayah yang akan dikunjungi wisatawan agar segera berbenah. Pembenahan itu baik dalam bidang kepariwisataan dan pelestarian budaya untuk mengangkat harkat dan martabat daerah. "Selain pemerintah kabupaten/kota, dunia usaha juga harus dapat memberi kenyamanan wisatawan berkunjung ke Lampung," kata dia.

Infrastruktur ke Depan

Di sisi lain, kondisi infrastruktur sebagai penunjang wisata belum juga menjadi perhatian. Salah satu indikatornya dalam penyusunan APBD 2009, alokasi dana perbaikan dan perawatan jalan turun. Perbaikan dan perawatan jalan sepanjang 2.369 kilometer, turun dari tahun 2008 Rp250 miliar menjadi Rp130 miliar pada 2009.

Ketua Komisi B DPRD Lampung Indra S. Ismail mengatakan alokasi anggaran perbaikan dan perawatan jalan sebesar itu hanya mampu memperbaiki sebagian kecil jalan provinsi. Sebab itu, lanjutnya, target kondisi jalan mantap juga turun. Jika pada 2008, jalan mantap sebanyak 68 persen, dengan turunnya anggaran kondisi jalan mantap menjadi 40 persen. "Dengan kondisi jalan mantap hanya 40 persen, 60% jalan provinsi pada 2009, kondisinya rusak sampai rusak berat," kata dia.

Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Lampung Indra Bangsawan mengatakan buruknya kondisi infrastruktur di Lampung makin buruk jika moralitas pemborongnya sudah buruk. Terlebih di Kota Bandar Lampung dengan buruknya sistem drainase dan kualitas pembangunan jalan menyebabkan kondisi jalan makin memprihatinkan. Kerusakan jalan terjadi di hampir semua ruas jalan mulai dari jalan nasional, jalan provinsi, hingga jalan kota.

Jalan nasional seperti Jalan Soekarno-Hatta kondisinya sangat memprihatinkan. Seperti di perempatan lampu merah Way Halim, ada lubang sebesar kubangan kerbau di sisi utara jalan sehingga menyebabkan kemacetan di jalan tersebut.

Jalan bergelombang dan berlubang juga ditemui di sepanjang ruas Jalan Soekarno-Hatta mulai Panjang hingga bundaran patung Raden Intan. Bila hujan turun, pengguna jalan kerap terjatuh atau terpeleset karena lubang tertutup air dan tidak terlihat. n NOV/AAN/M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 4 Januari 2009

[Fokus] Visit Lampung Year 2009: Lampung Harus Aman dan Nyaman

VISIT Lampung Year 2009 dapat sukses apabila semua pihak memberikan dukungan. Baik kesiapan jalan maupun infrastruktur, termasuk jaminan keamanan dan kenyamanan dari masyarakat.

Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Parwisata dan Kebudayaan Lampung Lukmansyah mengatakan tiga hal yang dilakukan setelah grand launching Visit Lampung Year (VLY) 2009. Ketiganya adalah melakukan supervisi ke kabupaten/kota, memantau kesiapan objek daerah tujuan wisata, dan menjaring dukungan dari stakeholder.

"Seperti jalan rusak, seharusnya diperbaiki, nah untuk kesiapan infrastruktur seperti ini kan butuh dukungan instansi lain atau pihak swasta. Dukungan masyarakat juga sangat penting dalam rangka jaminan keamanan dan kenyamanan," kata Lukmansyah ketika dihubungi melalui telepon, Sabtu (3-1).

Dia mengaku sedang berada di makam pahlawan Rade Intan untuk menyurvei kesiapan sarana dan prasaran objek wisata. Sedangkan Kepala Dinas Pariwisata sedang menyurvei kesiapan objek wisata di Lampung Timur.

Selain itu, untuk memasarkan wisata di Lampung, dia juga menerapkan strategi pemasaran terpadu. Setiap kabupaten/kota yang berpromosi ke luar negeri tidak hanya memperkenalkan objek wisata di daerahnya, tetapi juga mempromosikan objek wisata se-Lampung. "Minimal, ada leaflet dan brosur tentang objek wisata di kabupaten/kota lain," kata dia.

Pada bagian lain, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lampung, M. Natsir Ari menjelaskan keberhasilan VLY 2009 itu bukan hanya ditentukan instansinya. Namun, juga harus didukung satuan kerja dan instansi lain agar wisatawan datang ke Lampung sebanyak-banyaknya.

Terutama pemerintah kabupaten/kota sebagai pemilik objek wisata harus berjuang mendukung VLY 2009 dengan membuat kegiatan wisata. "Jangan sampai program yang diluncurkan ini tidak ada pergerakannya sampai akhir tahun," kata dia.

Natsir menargetkan tahun ini Lampung akan dikunjungi dua juta wisatawan dengan target waspada 1,5 juta wisatawan dan minimal satu juta wisatawan. Menurut dia, ada beberapa event andalan pada VLY 2009, yakni Festival Krakatau dan Festival Way Kambas. Kemudian ada satu lagi ajang andalan wisata di Lampung, yakni Festival Durian yang digelar di Bandar Lampung pada Januari 2009.

"Event perdana dalam kalender kegiatan wisata Lampung itu direncanakan jadi andalan karena substansinya untuk mengangkat produk pertanian masyarakat," kata Natsir ditemui beberapa waktu lalu.

Menurut dia, kini Bandar Lampung telah memosisikan daerahnya menjadi sentra durian. Keseriusannya ditandai dengan membangun tugu durian di daerah yang menjadi penghasil durian, pasar durian dan wisata durian, yakni Sukadanaham-Batu Putu. "Kami berharap tugu durian itu jangan hanya cukup dibangun, tapi ada kegiatan yang berkaitan dengan pembangunannya itu," kata dia.

Natsir menjelaskan keberhasilan VLY 2009 itu bukan hanya di tangan Disbudpar, melainkan di satuan kerja dan instansi di sektor lain harus mendukung agar wisatawan datang ke Lampung sebanyak-banyaknya. Terutama pemerintah kabupaten/kota sebagai pemilik objek wisata harus berjuang mendukung VLY dengan membuat kegaiatan wisata.

"Jangan sampai program yang kami luncurkan ini tidak ada pergerakannya sampai akhir tahun. Targetnya tahun ini kunjungan dua juta wisatawan dengan target waspada 1,5 juta wisatawan dan minimal satu juta wisatawan," kata Natsir.

Lukmansyah menambahkan seluruh elemen masyarakat juga diundang untuk mengontribusi VLY 2009. Misalnya, pada awal Januari 2009, Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Lampung akan menggelar Kemah Pemuda Lintas Agama Peduli Lingkungan di Youth Camp Gunung Betung.

Sementara itu, pengamat pariwisata Lampung Citra Persada mengatakan penyelenggaraan Visit Lampung Year 2009 kurang melibatkan stakeholder. Ia mencontohkan hal sederhana ketika acara grand launching VLY 2009 pada 23 Desember 2008 di GOR Saburai, banyak pengelola tempat pariwisata yang mengaku tidak tahu atau hanya diberi undangan acara grand launching. Padahal, kata dia, mereka adalah para ujung tombak dari suksesnya suatu perhelatan besar pariwisata.

"Beberapa pengelola hotel dan restoran tidak tahu atau tahu karena mendapat undangan. Ya, bagaimana mereka bisa berpartisipasi secara maksimal untuk mendukung program. Seharusnya mereka dilibatkan secara aktif," kata dia, Jumat (2-1).

Citra mengakui sebagai sekretaris Komiter Pariwisata Lampung dilibatkan pada beberapa pembahasan. Namun, dia sering kecewa karena gelaran yang direncanakan tidak mengakomodasi usulan atau rekomendasi dari berbagai pihak.

"Program itu sesungguhnya sangat baik untuk membangkitkan gairah pariwisata Lampung. Sayangnya, dinas dan panitia merancang acara dan agenda dengan kacamata mereka sendiri. Saya menilai orientasinya bukan sukses menjamu wisatawan dengan program-program terstruktur dan terlembaga, tetapi lebih kepada sukses seremoni. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana menyelenggarakan acara grand launching atau festival atau agenda seremonial lain sukses. Bukan bagaimana mewujudkan iklim pariwisata Lampung nyaman dikunjungi wisatawan kapanpun," kata dia.

Persoalan pariwisata, kata master perencanaan dan pembangunan pariwisata dari University of Surrey, Inggris ini, bukan sekadar hajatan seremonial. Pariwisata sesungguhnya, kata dia, adalah atmosfer alamiah yang dimiliki suatu wilayah atau daerah agar wisatawan mendapatkan sesuatu yang menyenangkan. Ciri-cirinya adalah adanya keunikan/kekhasan dan berbeda dengan yang lain dan di tempat lain. "Meskipun demikian, adanya rekayasa juga tidak ada masalah dalam bidang pariwisata. Yang penting, wisatawan mendapatkan sesuatu yang berbeda dengan di tempat lain," kata dia.

Menurut dia, potensi pariwisata Lampung yang cukup banyak harus didukung semua pihak jika ingin dikembangkan. "Membangun pariwisata bukan cuma urusan Dinas Pariwisata. Sebab, pariwisata yang sesungguhnya adalah atmosfer suatu wilayah. Selain tempat wisata dan penyelenggara wisata, infrastruktur dan masyarakat juga harus disiapkan untuk senantiasa ramah dan dapat menerima kunjungan wisatawan. Sebab, mereka butuh kenyamanan, bukan sekadar keamanan." n RIN/AAN/M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 4 Januari 2009