PUNDUH Pidada memang dikenal sebagai kampung tua. Banyak situs yang belum tergali. Salah satunya adalah keberadaan batu telapak.
Situs legenda lainnya adalah buluh punduh yang dikenal sebagai senjata paling ampuh hanya dari bilah bambu. Senjata buluh punduh dari rumpun bambu pilihan ini juga di kalangan Jagabaya dan preman sebagai senjata setitik darah.
Senjata ini hanya butuh sedikit sayatan dari bagian tubuh lawannya dan tak sampai hitungan detik, tubuh lawan bisa langsung membiru karena racun.
Buluh punduh ini diperoleh dari rumpun bambu yang ada di kampung tua. Mitos yang berkembang adalah dahulu seorang penawar racun senjata badik membuang racun badik dengan menyimpannya di dalam batang bambu kemudian menguburnya di dalam tanah. Belakangan batang bambu berisi racun yang dikubur di dalam tanah itu tumbuh menjadi rumpun bambu beracun.
Semula banyak masyarakat Punduh Pidada yang tidak mengetahui tentang rumpun bambu beracun itu. Tetapi setelah kawanan gajah yang mati karena memakan rebung--bambu muda yang bisa dimakan--mereka mulai tahu.
Sejak itu, baru diketahui jika rumpun bambu itu beracun, dan masyarakat membiarkan rumpun-rumpun bambu itu tumbuh liar. Bahkan, kini luasnya sudah berhektare-hektare.
Untuk mencari bilah bambu pilihan untuk dijadikan senjata pun harus melalui ritual. Bambu senjata umumnya akan memantulkan sinar terang di malam hari dan dari sekian banyak rumpun itu biasanya hanya satu batang bambu saja yang memantulkan sinar itu.
"Tidak semua rumpun bambu itu bisa dijadikan senjata, prosesnya panjang dan harus melalui ritual terlebih dahulu kalau memang benar-benar ingin mencari senjata buluh punduh," tutur Hasanudin, salah satu tokoh setempat.
Batu telapak dan buluh punduh itu mungkin hanya sebagaian kecil dari sekian banyak legenda yang ada di Punduh Pidada yang bisa dijadikan sebagai kekuatan wisata. Selain itu, kekayaan perairan lautnya juga bisa dijadikan tantangan untuk para mancing mania.
Di sekitar Pulau Legundi maupun di Pulau Balak yang juga masih masuk dalam wilayah Kecamatan Punduh Pidada, potensi ikan sejenis baracuda, simba, lemadang atau tuna juga tinggi.
Lokasi ini bisa menjadi spot memancing yang paling menantang dari sekian banyak spot-spot memancing yang ada di kawasan Teluk Lampung yang sudah begitu banyak tergerus oleh limbah dan hutan-hutan mangrove yang habis disulap menjadi tambak udang.
Pemancing-pemancing asal luar Lampung bahkan sudah mengenal spot ini. Memancing hanya dengan mengandalkan alat global positioning system (GPS) khusus pencari ikan bisa diketahui dimana spot paling banyak di Pulau Legundi dan Pulau Balak.
Kayanya potensi ikan ini kami buktikan. Tiga kilogram ikan baracuda berhasil kami ditaklukan meski harus berjuang mati-matian melawan tenaga ikan baracuda.
Ikan baracuda adalah ikan yang masih satu garis keturunan dengan ikan hiu. Ikan jenis ini sama ganasnya dengan hiu, terlebih ikan jenis baracuda yang mencari mangsa secara soliter atau sendiri biasanya jauh lebih ganas dari ikan baracuda yang mencari ikan secara berkelompok.
Hampir setengah jam lebih untuk menaklukkan ikan sepanjang satu meter lebih itu. Tali senar joran bahkan nyaris putus karena kuatnya tarikan baracuda yang berusaha menggesek tali senar ke terumbu karang. Satwa laut itu takluk dan berakhir di panggangan. Ah, lezaat. n ERLIAN/M-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 18 Januari 2009
January 18, 2009
Traveling: Legenda Serunting Sakti di Punduh Pidada
SERUNTING Sakti, legenda itu lebih dikenal sebagai lakon sandiwara radio atau sinetron horor. Namun, jejaknya masih bisa dinikmati sebagai pesona wisata di bilangan Punduh Pidada, Pesawaran, Lampung.
Ada kebanggaan luar biasa mana kala bisa menyaksikan langsung sisa jejak Serunting Sakti, simbol seorang tokoh perlawanan terhadap penjajahan Belanda di Padang Cermin, Punduh Pidada dan Kelumbayan.
Serunting Sakti memang tidak meninggalkan jejak yang lebih jelas mulai dari di mana ia dimakamkan sampai rekam jejak perlawanannya. Tetapi, hampir semua masyarakat di Punduh Pidada dan Kelumbayan mengenalnya sebagai sebuah legenda masa lampau. Ia adalah ikon pemberontakan terhadap penjajah Belanda.
Serunting Sakti memang tidak banyak meninggalkan jejak "tubuh". Beberapa "kenangan" tentang dirinya hanya terucap dari mulut ke mulut saja. Sisa penjelajahan Serunting Sakti hanya tertoreh berupa jejak telapak kakinya yang seperti terpahat di sebuah batu di aliran air terjun yang ada di Desa Bawang, Punduh Pidada.
Selain jejak dua telapak kaki, dalam satu batu yang sama yang berukuran sebesar mobil itu juga terdapat bekas lutut dan kening yang juga membekas di batu tersebut. Jika dilihat bentuk jejak-jejak itu, sepertinya Serunting Sakti yang sedang bersujud.
"Penemuan" jejak Serunting Sakti itu memang terkesan tidak sengaja oleh Lampung Post. Waktu itu, kami berniat hendak memancing di Selat Legundi. Tetapi, karena hari sudah terlalu sore, kami memutuskan untuk bermalam di kantor Kecamatan Punduh Pidada.
Kebetulan, Camat Punduh Pidada M. Zulkarnain Mursyid adalah "mancing mania". Hanya karena tugasnya yang padat, hobinya itu tidak terlalu intens dilakukannya. Hanya jika di hari-hari libur saja atau ketika sedang mengunjungi warganya yang kebetulan tinggal di pulau, seperti di Pulau Legundi atau Pulau Balak yang dikenal sebagai spot paling kaya dengan ikan-ikan jenis baracuda, simba, atau tuna.
Malam itu, kami begadang. Angin sedang teduh. Obrolan bersama camat dan beberapa staf berkembang ke berbagai topik. Bahkan hingga cerita alam gaib dan sejarah zaman batu.
Di sela obrolan, Camat menyarankan agar esok pagi kami mandinya di air terjun (orang sekitar menyebutnya curup) yang jaraknya tak terlalu jauh dengan kantor camat, hanya dipisahkan oleh bukit gugusan Gunung Tanggang. Itu disarankan Camat karena rumah dinas itu tergolong sulit air. Lebih dari itu, agar kami merasakan sejuk dan alaminya alam Punduh Pidada.
Dari saran itulah terkuak dari Zulkarnain jika di air terjun itu terdapat batu yang di atasnya terdapat jejak telapak kaki manusia sepertinya sedang bersujud. "Karena selain telapak, di batu yang sama itu juga terdapat bekas lutut dan kening," tutur Zulkarnain.
Rasa penasaran membuat kami ingin menguak cerita di balik fakta yang belum kami buktikan itu. Dengan sedikit "bumbu", Zulkarnain berkisah tentang mitos Batu Tapak--begitu warga sekitar menyebut batu bertelapak itu.
"Masyarakat di sini sering menumbuk dan mencuci beras di batu itu. Mungkin semacam syarat saat menggelar ritual-ritual adat," terang Zulkarnain.
Esok, sekitar pukul 06.00, kami bertolak ke air terjun itu. Dengan dua sepeda motor, tiga orang meluncur. Pemandangan alam khas kampung memang tersaji saat menuju ke air terjun itu. Cuaca yang dingin menusuk membuat kantuk terus mengganggu, apalagi semalaman tidak tidur.
Semakin dekat ke lokasi air terjun ini kami mendapati pembangkit listrik tenaga air sederhana yang dibuat oleh masyarakat setempat untuk suplai listrik ke rumah-rumah mereka. Ide kreatif mencari sumber energi baru yang ramah lingkungan dan nggak pake bayar.
Dari Zulkarnain, kami tahu "PLTA" ini mampu memasok listrik untuk paling sedikit empat rumah. "Setidaknya kesadaran masyarakat akan pentingnya hutan timbul dari hal-hal yang penting untuk mereka juga. Seperti pembangkit listrik tenaga air ini akan sangat tergantung dengan tingginya debit air. Jika hutan di sekitarnya habis ditebangi, akan berpengaruh dengan debit air. Otomatis tidak ada energi listrik yang bisa didapat," tutur Zulkarnain.
Curup itu tidak seperti air terjun yang kita bayangkan. Ia lebih seperti air yang mengalir di tangga-tangga di "padang" batu yang menghampar. Kondisinya yang masih alami membuat air terjun ini seperti tidak terawat. Tidak banyak warga yang memanfaatkan mandi cuci kakus (MCK) di curup ini. Mereka lebih memilih menyalurkan air dari curup ini ke rumah-rumah mereka.
Sisa banjir beberapa hari sebelumnya membuat air ini sedikit berwarna. Guyuran lumpur dari hulu curup dari atas Gunung Tanggang penyebabnya. "Mungkin juga di atas sedang ada longsor karena hujan, karena biasanya airnya jernih."
Rasa penasaran membuat kami menunda untuk langsung mandi. Kami menuju ke lokasi batu telapak itu yang sedikit berada di atas curup.
Batu sebesar meja makan itu memang sepintas terlihat biasa saja. Tetapi ketika berada di atasnya, keanehan memang terlihat. Tepat di bagian bawah batu itu terdapat bekas seperti telapak kaki. Ukurannya sangat besar dan berdampingan, sepertinya membentuk telapak kaki kiri dan kaki kanan.
Beberapa sentimeter di atas dua telapak itu terdapat bulatan tapi tak membentuk lingkaran utuh. Bentuknya seperti lutut kaki yang juga berdampingan dengan lubang di sisi lainnya. Kemudian, di atasnya lagi terdapat seperti bekas kening, jika dilihat bentuknya persis seperti orang yang sedang sujud.
Kami pun mempraktikkan bentuk orang yang sujud tepat di atas jejak telapak kaki, lutut, dan kening itu, dan klop benar, batu itu memang dipakai untuk bersujud.
Jika dilihat dari ukuran telapaknya yang besarnya sama dengan dua telapak kaki orang dewasa saat ini, sangat khas dengan ciri-ciri fisik orang dahulu. Atau masyarakat Lampung biasa menyebutnya dengan Dulu Bumi atau orang-orang yang hidup pada masa lampau.
Tak jauh dari batu telapak itu, juga terdapat batu besar yang menyerupai lesung untuk menumbuk beras. Batu inilah yang biasa dipakai oleh masyarakat sebagai tempat pelaksanaan ritual-ritual adat.
Uniknya, batu ini menghadap ke utara. Padahal seharusnya, jika memang sedang menunaikkan salat, arah kiblat adalah barat. Kemungkinan besar posisi batu ini berubah saat letusan dasyat Gunung Krakatau pra letusan 1883.
Sayangnya, tidak adanya perawatan terhadap situs itu membuat batu bertelapak itu dipenuhi lumut sehingga tidak bisa dengan mudah menemukannya jika tidak jeli.
Jika ditilik, batu telapak ini sama persis dengan batu telapak yang ada di Pulau Kiluan Lunik. Di pulau ini juga terdapat batu yang sama persis membentuk seperti orang yang sedang sujud.
Serunting Sakti adalah antikomunis sejati. Dari sejarah yang berkembang dari mulut ke mulut menyebut model perlawanannya adalah menghalau kapal-kapal dagang maupun kapal artileri Belanda yang melintas di jalur laut Samudera Hindia.
Model perjuangan Serunting Sakti ini sangat terkait erat dengan keberadaan Teluk Kiluan dan daerah Kelumbayan. Kedua daerah ini diyakini sebagai pusat perjuangan Serunting Sakti kala itu. Tak heran di beberapa titik di bawah perairan laut Teluk Kiluan terdapat bangkai-bangkai kapal yang sudah berusia ratusan tahun. Uniknya kapal itu seperti disembunyikan di dalam gua-gua bawah laut.
Batu telapak ini diyakini sebagai tempat Serunting Sakti menunaikan salat ketika itu. Serunting Sakti memang melegenda, ia dikenal setidaknya di empat kemargaan yang ada di Punduh Pidada dan Kelumbayan. Empat marga itu yakni; Marga Punduh, Marga Pidada, Marga Bawang, dan Marga Kelumbayan.
Dari keempat marga itu, hanya satu yang berada di luar Kabupaten Pesawaran. Yakni, Marga Kelumbayan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Tanggamus.
Proses penamaan Kecamatan Punduh Pidada juga terbilang unik dan menunjukkan betapa masyarakat adat dari tiga kemargaan masih menjunjung tinggi musyawarah. Nama Punduh Pidada diambil dari penggabungan dua kemargaan yakni; Marga Punduh dan Marga Pidada, dan Marga Bawang kebagian sebagai ibu kota Kecamatan Punduh Pidada.
MEZA SWASTIKA/ERLIAN/M-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 18 Januari 2009
Ada kebanggaan luar biasa mana kala bisa menyaksikan langsung sisa jejak Serunting Sakti, simbol seorang tokoh perlawanan terhadap penjajahan Belanda di Padang Cermin, Punduh Pidada dan Kelumbayan.
Serunting Sakti memang tidak meninggalkan jejak yang lebih jelas mulai dari di mana ia dimakamkan sampai rekam jejak perlawanannya. Tetapi, hampir semua masyarakat di Punduh Pidada dan Kelumbayan mengenalnya sebagai sebuah legenda masa lampau. Ia adalah ikon pemberontakan terhadap penjajah Belanda.
Serunting Sakti memang tidak banyak meninggalkan jejak "tubuh". Beberapa "kenangan" tentang dirinya hanya terucap dari mulut ke mulut saja. Sisa penjelajahan Serunting Sakti hanya tertoreh berupa jejak telapak kakinya yang seperti terpahat di sebuah batu di aliran air terjun yang ada di Desa Bawang, Punduh Pidada.
Selain jejak dua telapak kaki, dalam satu batu yang sama yang berukuran sebesar mobil itu juga terdapat bekas lutut dan kening yang juga membekas di batu tersebut. Jika dilihat bentuk jejak-jejak itu, sepertinya Serunting Sakti yang sedang bersujud.
"Penemuan" jejak Serunting Sakti itu memang terkesan tidak sengaja oleh Lampung Post. Waktu itu, kami berniat hendak memancing di Selat Legundi. Tetapi, karena hari sudah terlalu sore, kami memutuskan untuk bermalam di kantor Kecamatan Punduh Pidada.
Kebetulan, Camat Punduh Pidada M. Zulkarnain Mursyid adalah "mancing mania". Hanya karena tugasnya yang padat, hobinya itu tidak terlalu intens dilakukannya. Hanya jika di hari-hari libur saja atau ketika sedang mengunjungi warganya yang kebetulan tinggal di pulau, seperti di Pulau Legundi atau Pulau Balak yang dikenal sebagai spot paling kaya dengan ikan-ikan jenis baracuda, simba, atau tuna.
Malam itu, kami begadang. Angin sedang teduh. Obrolan bersama camat dan beberapa staf berkembang ke berbagai topik. Bahkan hingga cerita alam gaib dan sejarah zaman batu.
Di sela obrolan, Camat menyarankan agar esok pagi kami mandinya di air terjun (orang sekitar menyebutnya curup) yang jaraknya tak terlalu jauh dengan kantor camat, hanya dipisahkan oleh bukit gugusan Gunung Tanggang. Itu disarankan Camat karena rumah dinas itu tergolong sulit air. Lebih dari itu, agar kami merasakan sejuk dan alaminya alam Punduh Pidada.
Dari saran itulah terkuak dari Zulkarnain jika di air terjun itu terdapat batu yang di atasnya terdapat jejak telapak kaki manusia sepertinya sedang bersujud. "Karena selain telapak, di batu yang sama itu juga terdapat bekas lutut dan kening," tutur Zulkarnain.
Rasa penasaran membuat kami ingin menguak cerita di balik fakta yang belum kami buktikan itu. Dengan sedikit "bumbu", Zulkarnain berkisah tentang mitos Batu Tapak--begitu warga sekitar menyebut batu bertelapak itu.
"Masyarakat di sini sering menumbuk dan mencuci beras di batu itu. Mungkin semacam syarat saat menggelar ritual-ritual adat," terang Zulkarnain.
Esok, sekitar pukul 06.00, kami bertolak ke air terjun itu. Dengan dua sepeda motor, tiga orang meluncur. Pemandangan alam khas kampung memang tersaji saat menuju ke air terjun itu. Cuaca yang dingin menusuk membuat kantuk terus mengganggu, apalagi semalaman tidak tidur.
Semakin dekat ke lokasi air terjun ini kami mendapati pembangkit listrik tenaga air sederhana yang dibuat oleh masyarakat setempat untuk suplai listrik ke rumah-rumah mereka. Ide kreatif mencari sumber energi baru yang ramah lingkungan dan nggak pake bayar.
Dari Zulkarnain, kami tahu "PLTA" ini mampu memasok listrik untuk paling sedikit empat rumah. "Setidaknya kesadaran masyarakat akan pentingnya hutan timbul dari hal-hal yang penting untuk mereka juga. Seperti pembangkit listrik tenaga air ini akan sangat tergantung dengan tingginya debit air. Jika hutan di sekitarnya habis ditebangi, akan berpengaruh dengan debit air. Otomatis tidak ada energi listrik yang bisa didapat," tutur Zulkarnain.
Curup itu tidak seperti air terjun yang kita bayangkan. Ia lebih seperti air yang mengalir di tangga-tangga di "padang" batu yang menghampar. Kondisinya yang masih alami membuat air terjun ini seperti tidak terawat. Tidak banyak warga yang memanfaatkan mandi cuci kakus (MCK) di curup ini. Mereka lebih memilih menyalurkan air dari curup ini ke rumah-rumah mereka.
Sisa banjir beberapa hari sebelumnya membuat air ini sedikit berwarna. Guyuran lumpur dari hulu curup dari atas Gunung Tanggang penyebabnya. "Mungkin juga di atas sedang ada longsor karena hujan, karena biasanya airnya jernih."
Rasa penasaran membuat kami menunda untuk langsung mandi. Kami menuju ke lokasi batu telapak itu yang sedikit berada di atas curup.
Batu sebesar meja makan itu memang sepintas terlihat biasa saja. Tetapi ketika berada di atasnya, keanehan memang terlihat. Tepat di bagian bawah batu itu terdapat bekas seperti telapak kaki. Ukurannya sangat besar dan berdampingan, sepertinya membentuk telapak kaki kiri dan kaki kanan.
Beberapa sentimeter di atas dua telapak itu terdapat bulatan tapi tak membentuk lingkaran utuh. Bentuknya seperti lutut kaki yang juga berdampingan dengan lubang di sisi lainnya. Kemudian, di atasnya lagi terdapat seperti bekas kening, jika dilihat bentuknya persis seperti orang yang sedang sujud.
Kami pun mempraktikkan bentuk orang yang sujud tepat di atas jejak telapak kaki, lutut, dan kening itu, dan klop benar, batu itu memang dipakai untuk bersujud.
Jika dilihat dari ukuran telapaknya yang besarnya sama dengan dua telapak kaki orang dewasa saat ini, sangat khas dengan ciri-ciri fisik orang dahulu. Atau masyarakat Lampung biasa menyebutnya dengan Dulu Bumi atau orang-orang yang hidup pada masa lampau.
Tak jauh dari batu telapak itu, juga terdapat batu besar yang menyerupai lesung untuk menumbuk beras. Batu inilah yang biasa dipakai oleh masyarakat sebagai tempat pelaksanaan ritual-ritual adat.
Uniknya, batu ini menghadap ke utara. Padahal seharusnya, jika memang sedang menunaikkan salat, arah kiblat adalah barat. Kemungkinan besar posisi batu ini berubah saat letusan dasyat Gunung Krakatau pra letusan 1883.
Sayangnya, tidak adanya perawatan terhadap situs itu membuat batu bertelapak itu dipenuhi lumut sehingga tidak bisa dengan mudah menemukannya jika tidak jeli.
Jika ditilik, batu telapak ini sama persis dengan batu telapak yang ada di Pulau Kiluan Lunik. Di pulau ini juga terdapat batu yang sama persis membentuk seperti orang yang sedang sujud.
Serunting Sakti adalah antikomunis sejati. Dari sejarah yang berkembang dari mulut ke mulut menyebut model perlawanannya adalah menghalau kapal-kapal dagang maupun kapal artileri Belanda yang melintas di jalur laut Samudera Hindia.
Model perjuangan Serunting Sakti ini sangat terkait erat dengan keberadaan Teluk Kiluan dan daerah Kelumbayan. Kedua daerah ini diyakini sebagai pusat perjuangan Serunting Sakti kala itu. Tak heran di beberapa titik di bawah perairan laut Teluk Kiluan terdapat bangkai-bangkai kapal yang sudah berusia ratusan tahun. Uniknya kapal itu seperti disembunyikan di dalam gua-gua bawah laut.
Batu telapak ini diyakini sebagai tempat Serunting Sakti menunaikan salat ketika itu. Serunting Sakti memang melegenda, ia dikenal setidaknya di empat kemargaan yang ada di Punduh Pidada dan Kelumbayan. Empat marga itu yakni; Marga Punduh, Marga Pidada, Marga Bawang, dan Marga Kelumbayan.
Dari keempat marga itu, hanya satu yang berada di luar Kabupaten Pesawaran. Yakni, Marga Kelumbayan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Tanggamus.
Proses penamaan Kecamatan Punduh Pidada juga terbilang unik dan menunjukkan betapa masyarakat adat dari tiga kemargaan masih menjunjung tinggi musyawarah. Nama Punduh Pidada diambil dari penggabungan dua kemargaan yakni; Marga Punduh dan Marga Pidada, dan Marga Bawang kebagian sebagai ibu kota Kecamatan Punduh Pidada.
MEZA SWASTIKA/ERLIAN/M-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 18 Januari 2009
In Memoriam R.M. Barusman: Berpulangnya Sang Penggerak
SEPERTI bah, puluhan pesan pendek via telepon seluler menyerbu mengomentari berpulangnya Rya Makbul Barusman. Kedukaan mengaliri kalimat mereka--para sahabat, kerabat, mantan murid, dan siapa pun yang mengenal pelopor pendidikan tinggi swasta di Lampung ini. Perasaan kehilangan yang sama menghinggapi ratusan pelayat yang mengiringi kepergian almarhum yang meninggal dunia Jumat dini hari kemarin, pukul 01.50.
Rumah duka di bilangan Jalan Sultan Agung disesaki tetamu takziah. Tampak melayat Gubernur Lampung Syamsurya Ryacudu, Wali Kota Bandar Lampung Eddy Sutrisno, Wakil Wali Kota Kherlani, Bupati Lampung Selatan Wendy Melfa, dan sejumlah tokoh di Lampung. Parkir Masjid Ad Du'a, Way Halim, tempat almarhum disalatkan usai jumatan kemarin, termasuk salat gaib di kampus UBL, sesak dan meluber ke jalan.
Yusuf Sulfarano, Rektor UBL yang juga putra tertua almarhum, mengimami salat jenazah. Dan ratusan pengiring mengantar kepergian Sang Pendidik ke haribaan Ilahi di permakaman keluarga di bilangan Pasar Tamin, Bandar Lampung.
Sebagian besar meneladani kegigihan dan ketekunan almarhum mengelola perguruan tinggi saat masyarakat masih menganggap kampus negeri seperti bintang berkilau dan universitas swasta sekadar planet kecil yang mengitari seadanya. Dan Barusman membalik "mitos" ini.
Secara perlahan, Universitas Bandar Lampung yang dikelolanya menempati hati para orang tua yang kemudian melepas putra-putrinya meniti ilmu di kampus di bilangan Labuhan Ratu, Bandar Lampung, tersebut. Dan UBL membalasnya dengan perbaikan mutu pendidikan yang tidak henti, mendirikan studi strata dua, memperbaiki kualitas tenaga pengajar, dan terus melengkapi fasilitas belajar-mengajar. Puluhan prestasi berskala nasional dan internasional mengganjar semua usaha ini.
Maka, tegaklah bangunan megah delapan lantai dan gedung-gedung lain di sekitarnya, termasuk kampus B untuk pascasarjana. Ribuan mahasiswa menyesaki kampus ini tiap hari, dengan suasana belajar formal-nonformal yang bikin pintar sekaligus bikin betah.
Sebagai pendidik, Barusman dikenal dengan visinya yang amat kuat. Dr. Edi Irawan, dosen UBL, mengatakan era 1980-en, almarhum berani berinvestasi besar menyekolahkan belasan dosen sampai tingkat doktoral. "Dia senantiasa mengayomi yang muda dan tetap hormat kepada yang berjasa membesarkan kampus."
Kelahiran Kampung Gedongmenong, Pakuonratu, Way Kanan, 6 Desember 1937 ini teladan dengan menegakkan fondasi pendidikan sampai akhir hayatnya. Bahkan, Sabtu (10 Januari) lalu pun R.M. Barusman masih memberi pembekalan kepada mahasiswa pascasarjana UBL, bahkan berpidato dengan berapi-api di hadapan mahasiswa.
Barusman merupakan anak ketiga pasangan Abdul Minin (gelar Raja Buay Marga) dan Rohana (gelar Sutan Ngekop). Sejak kelas II sekolah rakyat 1947, suami Sri Hayati dan bapak empat putra-putri ini telah merantau. Tamat SMAN 1 Tanjungkarang 1959, Barusman ke Palembang dan Jakarta. Dia menyelesaikan sarjana di Jurusan Administrasi Niaga, Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan, Universitas Tujuh Belas Agustus (FKK Untag), Jakarta, 1966.
Semasa hidup, R.M. Barusman diingat karena kegigihannya. Dia ingin karyawan dan dosen bahu-membahu membangun lembaga. Dia yakin jika yayasan berkembang, mereka yang bernaung di bawahnya bisa makin teduh.
Barusman memperlakukan karyawan dan dosen seperti keluarga besar. Almarhum jeli melihat potensi bawahannya sehingga dapat ditempatkan di posisi yang dikuasainya. Memberikan kesempatan karyawan dan dosen berkreasi dan berprestasi sesuai dengan bidang dan tanggung jawabnya. Profesionalisme menjadi sakaguru yayasan agar bisa bertahan.
Dan tidak sebatas di kampusnya sendiri. Integritas almarhum di bidang pendidikan mencetak banyak kenangan. Berikut sebagian memori yang terpatri:
"Saya mengenalnya sejak 1988; dan sampai pertemuan 20 Desember 2008, saat saya diwisuda di MM UBL, beliau masih mengingatkan agar tidak berhenti belajar. Pesannya, ke depan, ilmu terus berkembang, kita jangan ketinggalan zaman. Selamat jalan Bapak Motivator Pendidikan," tulis Zahral Mutzaini, jurnalis RRI Lampung yang juga dekan FISIP UML.
"Sosoknya yang kebapakan dan gaya kepemimpinan pendidikan yang visioner benar-benar mengayomi serta meneduhkan. Beliau inspirasi bagi para pemimpin pendidikan lain," kata Nasrullah Yusuf, Ketua Lembaga Pendidikan Tinggi Teknokra.
Safarudin, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Pascasarjana UGM mencatat ribuan sarjana telah dicetak Barusman, sosok yang penuh dedikasi dan tanggung jawab. AAN, ASM, dan UBL lahir atas sentuhannya. Ini jelas andilnya melengkapi keterbatasan PTN memproduksi sarjana. Gubernur Lampung Syamsurya Ryacudu adalah lulusan UBL. Dan itu satu dari banyak contoh anak didiknya yang sukses. Impiannya tunggal: Lampung setara dengan daerah lain di Jawa. Baginya pendidikan merupakan bagian ibadah paling konkret.
Riyan Chaniago, mahasiswa UBL, berkirim pesan singkat: "Beliau tokoh pendidikan yang penting di Bumi Ruwa Jurai."
Dr. Suwondo, Ketua Program Pascasarjana FISIP Unila bersurat: "Beliau orang tua yang bijak, sebagai atasan ataupun sesama pendidik. Dialah sang anutan; figur yang amat menghargai orang lain tanpa memandang status seseorang. Sebagai kolega sesama dosen almarhum selalu mendiskusikan berbagai isu demi kemajuan dunia pendidikan.
Saya betul-betul hormat pada beliau. Lampung kehilangan pendidik yang gigih mengangkat harkat dan kualitas SDM di Lampung.
Wakil Direktur Serse Polda Lampung AKBP Yusril Hakim Y.H.S. mengirim SMS: "Saya berutang nyawa dan tidak pernah lupa jasa almarhum. Sewaktu kelas II SMP, saya kecelakaan di Jalan Raya Pasir Putih. Kendati tidak mengenal saya, Pak Barusman langsung melarikan saya ke RSUAM Tanjungkarang. Nyawa saya pun selamat setelah operasi dan pertolongan cepat tanpa pamrih darinya. Semoga Allah menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya."
Faisal Yusuf Helmi, mantan mahasiswa UBL yang kini jaksa di Cabang Kejaksaan Negeri Panjang, menulis: "Pak Barusman merupakan figur yang sangat memperhatikan pendidikan. Ini terlihat saat beliau memperjuangkan UBL dari nol sampai sukses dengan memperoleh akreditasi sehingga para alumnus dapat bersaing dalam dunia kerja. Dan pada kenyataannya rata-rata alumni UBL banyak yang sukses."
Yoke Muelgini, dosen Fakultas Pertanian Unila, mengirim pesannya: "Kita kehilangan pelopor pendidikan yang langka. Visinya melampaui zaman. Almarhum meneladankan dan mewariskan peninggalan mulia berupa landmark yang memungkinkan masyarakat mewujudkan insaniah untuk mengarungi the greatest resource of all: Pendidikan tinggi untuk mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa."
Anshori Djausal, budayawan Lampung, mencatat: "Saya mengenal beliau ketika masih aktif di Unila awal 1980-an. Almarhum banyak membantu ketika saya mulai bertugas. Saya kian sering berkomunikasi ketika beliau mempersiapkan Fakultas Teknik UBL. Dia pribadi yang bersemangat. Sebagai perintis perguruan tinggi swasta yang serius, beliau banyak jasanya dalam upaya memperluas kesempatan bagi putra-putri Lampung yang membutuhkan pendidikan lanjut."
Andy Surya, pendiri AMIK Mitra Lampung, menuliskan pesannya: "Almarhum motivator bagi akademisi PTS. Beliaulah enterpreneur bidang pendidikan tinggi dan secara 'spekulatif' mendirikan PTS ketika belum banyak yang berani sekadar memikirkannya sekalipun. Pak Barusman telah paripurna menjalani kehidupan, mewariskan anak-anak yang saleh dan berkualitas serta PTS yang membantu masyarakat memperoleh pendidikan terbaik."
Ahmad Zahrudin, dosen UTB, mengenang R.M. Barusman sebagai tokoh pendidik yang gigih berjuang sekaligus enterpreneur yang selalu mendiversifikasi bisnis pendidikannya. "Beliau selalu menjaga hubungan baik dengan PTS lain dengan selalu menjaga silaturahmi." n HERI WARDOYO/N-2
Sumber: Lampung Post, Sabtu, 17 Januari 2009
Rumah duka di bilangan Jalan Sultan Agung disesaki tetamu takziah. Tampak melayat Gubernur Lampung Syamsurya Ryacudu, Wali Kota Bandar Lampung Eddy Sutrisno, Wakil Wali Kota Kherlani, Bupati Lampung Selatan Wendy Melfa, dan sejumlah tokoh di Lampung. Parkir Masjid Ad Du'a, Way Halim, tempat almarhum disalatkan usai jumatan kemarin, termasuk salat gaib di kampus UBL, sesak dan meluber ke jalan.
Yusuf Sulfarano, Rektor UBL yang juga putra tertua almarhum, mengimami salat jenazah. Dan ratusan pengiring mengantar kepergian Sang Pendidik ke haribaan Ilahi di permakaman keluarga di bilangan Pasar Tamin, Bandar Lampung.
Sebagian besar meneladani kegigihan dan ketekunan almarhum mengelola perguruan tinggi saat masyarakat masih menganggap kampus negeri seperti bintang berkilau dan universitas swasta sekadar planet kecil yang mengitari seadanya. Dan Barusman membalik "mitos" ini.
Secara perlahan, Universitas Bandar Lampung yang dikelolanya menempati hati para orang tua yang kemudian melepas putra-putrinya meniti ilmu di kampus di bilangan Labuhan Ratu, Bandar Lampung, tersebut. Dan UBL membalasnya dengan perbaikan mutu pendidikan yang tidak henti, mendirikan studi strata dua, memperbaiki kualitas tenaga pengajar, dan terus melengkapi fasilitas belajar-mengajar. Puluhan prestasi berskala nasional dan internasional mengganjar semua usaha ini.
Maka, tegaklah bangunan megah delapan lantai dan gedung-gedung lain di sekitarnya, termasuk kampus B untuk pascasarjana. Ribuan mahasiswa menyesaki kampus ini tiap hari, dengan suasana belajar formal-nonformal yang bikin pintar sekaligus bikin betah.
Sebagai pendidik, Barusman dikenal dengan visinya yang amat kuat. Dr. Edi Irawan, dosen UBL, mengatakan era 1980-en, almarhum berani berinvestasi besar menyekolahkan belasan dosen sampai tingkat doktoral. "Dia senantiasa mengayomi yang muda dan tetap hormat kepada yang berjasa membesarkan kampus."
Kelahiran Kampung Gedongmenong, Pakuonratu, Way Kanan, 6 Desember 1937 ini teladan dengan menegakkan fondasi pendidikan sampai akhir hayatnya. Bahkan, Sabtu (10 Januari) lalu pun R.M. Barusman masih memberi pembekalan kepada mahasiswa pascasarjana UBL, bahkan berpidato dengan berapi-api di hadapan mahasiswa.
Barusman merupakan anak ketiga pasangan Abdul Minin (gelar Raja Buay Marga) dan Rohana (gelar Sutan Ngekop). Sejak kelas II sekolah rakyat 1947, suami Sri Hayati dan bapak empat putra-putri ini telah merantau. Tamat SMAN 1 Tanjungkarang 1959, Barusman ke Palembang dan Jakarta. Dia menyelesaikan sarjana di Jurusan Administrasi Niaga, Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan, Universitas Tujuh Belas Agustus (FKK Untag), Jakarta, 1966.
Semasa hidup, R.M. Barusman diingat karena kegigihannya. Dia ingin karyawan dan dosen bahu-membahu membangun lembaga. Dia yakin jika yayasan berkembang, mereka yang bernaung di bawahnya bisa makin teduh.
Barusman memperlakukan karyawan dan dosen seperti keluarga besar. Almarhum jeli melihat potensi bawahannya sehingga dapat ditempatkan di posisi yang dikuasainya. Memberikan kesempatan karyawan dan dosen berkreasi dan berprestasi sesuai dengan bidang dan tanggung jawabnya. Profesionalisme menjadi sakaguru yayasan agar bisa bertahan.
Dan tidak sebatas di kampusnya sendiri. Integritas almarhum di bidang pendidikan mencetak banyak kenangan. Berikut sebagian memori yang terpatri:
"Saya mengenalnya sejak 1988; dan sampai pertemuan 20 Desember 2008, saat saya diwisuda di MM UBL, beliau masih mengingatkan agar tidak berhenti belajar. Pesannya, ke depan, ilmu terus berkembang, kita jangan ketinggalan zaman. Selamat jalan Bapak Motivator Pendidikan," tulis Zahral Mutzaini, jurnalis RRI Lampung yang juga dekan FISIP UML.
"Sosoknya yang kebapakan dan gaya kepemimpinan pendidikan yang visioner benar-benar mengayomi serta meneduhkan. Beliau inspirasi bagi para pemimpin pendidikan lain," kata Nasrullah Yusuf, Ketua Lembaga Pendidikan Tinggi Teknokra.
Safarudin, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Pascasarjana UGM mencatat ribuan sarjana telah dicetak Barusman, sosok yang penuh dedikasi dan tanggung jawab. AAN, ASM, dan UBL lahir atas sentuhannya. Ini jelas andilnya melengkapi keterbatasan PTN memproduksi sarjana. Gubernur Lampung Syamsurya Ryacudu adalah lulusan UBL. Dan itu satu dari banyak contoh anak didiknya yang sukses. Impiannya tunggal: Lampung setara dengan daerah lain di Jawa. Baginya pendidikan merupakan bagian ibadah paling konkret.
Riyan Chaniago, mahasiswa UBL, berkirim pesan singkat: "Beliau tokoh pendidikan yang penting di Bumi Ruwa Jurai."
Dr. Suwondo, Ketua Program Pascasarjana FISIP Unila bersurat: "Beliau orang tua yang bijak, sebagai atasan ataupun sesama pendidik. Dialah sang anutan; figur yang amat menghargai orang lain tanpa memandang status seseorang. Sebagai kolega sesama dosen almarhum selalu mendiskusikan berbagai isu demi kemajuan dunia pendidikan.
Saya betul-betul hormat pada beliau. Lampung kehilangan pendidik yang gigih mengangkat harkat dan kualitas SDM di Lampung.
Wakil Direktur Serse Polda Lampung AKBP Yusril Hakim Y.H.S. mengirim SMS: "Saya berutang nyawa dan tidak pernah lupa jasa almarhum. Sewaktu kelas II SMP, saya kecelakaan di Jalan Raya Pasir Putih. Kendati tidak mengenal saya, Pak Barusman langsung melarikan saya ke RSUAM Tanjungkarang. Nyawa saya pun selamat setelah operasi dan pertolongan cepat tanpa pamrih darinya. Semoga Allah menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya."
Faisal Yusuf Helmi, mantan mahasiswa UBL yang kini jaksa di Cabang Kejaksaan Negeri Panjang, menulis: "Pak Barusman merupakan figur yang sangat memperhatikan pendidikan. Ini terlihat saat beliau memperjuangkan UBL dari nol sampai sukses dengan memperoleh akreditasi sehingga para alumnus dapat bersaing dalam dunia kerja. Dan pada kenyataannya rata-rata alumni UBL banyak yang sukses."
Yoke Muelgini, dosen Fakultas Pertanian Unila, mengirim pesannya: "Kita kehilangan pelopor pendidikan yang langka. Visinya melampaui zaman. Almarhum meneladankan dan mewariskan peninggalan mulia berupa landmark yang memungkinkan masyarakat mewujudkan insaniah untuk mengarungi the greatest resource of all: Pendidikan tinggi untuk mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa."
Anshori Djausal, budayawan Lampung, mencatat: "Saya mengenal beliau ketika masih aktif di Unila awal 1980-an. Almarhum banyak membantu ketika saya mulai bertugas. Saya kian sering berkomunikasi ketika beliau mempersiapkan Fakultas Teknik UBL. Dia pribadi yang bersemangat. Sebagai perintis perguruan tinggi swasta yang serius, beliau banyak jasanya dalam upaya memperluas kesempatan bagi putra-putri Lampung yang membutuhkan pendidikan lanjut."
Andy Surya, pendiri AMIK Mitra Lampung, menuliskan pesannya: "Almarhum motivator bagi akademisi PTS. Beliaulah enterpreneur bidang pendidikan tinggi dan secara 'spekulatif' mendirikan PTS ketika belum banyak yang berani sekadar memikirkannya sekalipun. Pak Barusman telah paripurna menjalani kehidupan, mewariskan anak-anak yang saleh dan berkualitas serta PTS yang membantu masyarakat memperoleh pendidikan terbaik."
Ahmad Zahrudin, dosen UTB, mengenang R.M. Barusman sebagai tokoh pendidik yang gigih berjuang sekaligus enterpreneur yang selalu mendiversifikasi bisnis pendidikannya. "Beliau selalu menjaga hubungan baik dengan PTS lain dengan selalu menjaga silaturahmi." n HERI WARDOYO/N-2
Sumber: Lampung Post, Sabtu, 17 Januari 2009
January 15, 2009
Visit Lampung: Dibutuhkan Kerja Sama untuk Membangun Pariwisata Lampung
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Lampung memiliki banyak potensi pariwisata yang dapat dijual dan Lampung sudah siap memberikan pelayanan dalam Visit Lampung Year (VLY) 2009 ini. Untuk itu, dibutuhkan adanya kerja sama semua pihak, dalam menumbuhkembangkan pembangunan pariwisata di Lampung.
Ketua Komite Pariwisata Lampung Idrus Djaendar Muda mengatakan dia tidak sependapat jika wisata Lampung mengalami kemunduran. Selain begitu banyaknya objek wisata yang sudah dikembangkan, kini terdapat 42 agenda dalam VLY 2009. Sehingga, target kunjungan wisatawan ke Bandar Lampung yang hanya 2 juta orang, bukan hal yang sulit didapat.
"Kita jangan hanya melihat adanya objek wisata yang infrastrukturnya belum bagus. Masih banyak juga objek wisata yang jalannya bagus dan perlu dikembangkan. Tinggal bagaimana kita melayani wisatawan dengan baik. Tentunya harus melalui promosi yang kontinu," kata Idrus, dalam pertemuan sinergisitas pelaku wisata, di RM Pondok Bambu, Way Halim, Rabu (14-1).
Menurut Idrus, yang akrab dipanggil Yuskas, jika ditanya kesiapan, hampir semua daerah tidak akan siap dalam pengelolaan objek wisata. Terlebih dalam VLY. Mengingat, pembangunan objek wisata selalu dinamis, mengikuti selera wisatawan yang akan mengunjunginya.
"Tapi, dengan semangat kebersamaan, semua bisa dilaksanakan. Kalau menunggu kesempurnaan aksesibilitas, sampai kapan pun sulit terwujud," kata dia.
Sementara itu, pemerhati masalah budaya, Ansori Djausal, mengatakan menyambut VLY 2009, dalam waktu dekat ini, di Bandar Lampung akan dilaksanakan Festival Durian, mulai tanggal 23--25 Januari 2008. Dan, pada bulan Juni 2008, akan digelar Festival Begawi Bandar Lampung.
"Belum lagi puluhan festival lainnya. Semua memiliki nilai jual, seperti Festival Krakatau dan festival lainnya yang ada di kabupaten/kota," kata dia.
Semua pelaku wisata, lanjut Ansori, harus mampu memanfaatkan VLY 2009 sebagai momentum kebangkitan pariwisata Lampung. Terlebih, di Indonesia, dalam satu tahun, terdapat 120 juta wisatawan. Di mana 80 persennya mengunjungi objek wisata di Jakarta dan Jawa Barat. "Sehingga, sangat tidak mungkin Lampung tidak mampu meraih dua juta wisatawan dari total yang ada," kata dia. n Kim/K-2
Sumber: Lampung Post, Kamis, 15 Januari 2009
Ketua Komite Pariwisata Lampung Idrus Djaendar Muda mengatakan dia tidak sependapat jika wisata Lampung mengalami kemunduran. Selain begitu banyaknya objek wisata yang sudah dikembangkan, kini terdapat 42 agenda dalam VLY 2009. Sehingga, target kunjungan wisatawan ke Bandar Lampung yang hanya 2 juta orang, bukan hal yang sulit didapat.
"Kita jangan hanya melihat adanya objek wisata yang infrastrukturnya belum bagus. Masih banyak juga objek wisata yang jalannya bagus dan perlu dikembangkan. Tinggal bagaimana kita melayani wisatawan dengan baik. Tentunya harus melalui promosi yang kontinu," kata Idrus, dalam pertemuan sinergisitas pelaku wisata, di RM Pondok Bambu, Way Halim, Rabu (14-1).
Menurut Idrus, yang akrab dipanggil Yuskas, jika ditanya kesiapan, hampir semua daerah tidak akan siap dalam pengelolaan objek wisata. Terlebih dalam VLY. Mengingat, pembangunan objek wisata selalu dinamis, mengikuti selera wisatawan yang akan mengunjunginya.
"Tapi, dengan semangat kebersamaan, semua bisa dilaksanakan. Kalau menunggu kesempurnaan aksesibilitas, sampai kapan pun sulit terwujud," kata dia.
Sementara itu, pemerhati masalah budaya, Ansori Djausal, mengatakan menyambut VLY 2009, dalam waktu dekat ini, di Bandar Lampung akan dilaksanakan Festival Durian, mulai tanggal 23--25 Januari 2008. Dan, pada bulan Juni 2008, akan digelar Festival Begawi Bandar Lampung.
"Belum lagi puluhan festival lainnya. Semua memiliki nilai jual, seperti Festival Krakatau dan festival lainnya yang ada di kabupaten/kota," kata dia.
Semua pelaku wisata, lanjut Ansori, harus mampu memanfaatkan VLY 2009 sebagai momentum kebangkitan pariwisata Lampung. Terlebih, di Indonesia, dalam satu tahun, terdapat 120 juta wisatawan. Di mana 80 persennya mengunjungi objek wisata di Jakarta dan Jawa Barat. "Sehingga, sangat tidak mungkin Lampung tidak mampu meraih dua juta wisatawan dari total yang ada," kata dia. n Kim/K-2
Sumber: Lampung Post, Kamis, 15 Januari 2009
January 13, 2009
Edwardsyah Pernong Terpilih Ketua FMSB
LIWA (Lampost): Forum Masyarakat Sekala Bekhak (FMSB) diharapkan bisa menjadi fasilitator bagi kemajuan Lampung Barat. Forum ini juga diminta dapat menjembatani Pemkab dengan pemerintah pusat.
Hal tersebut dikatakan Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri dalam acara pengukuhkan FMSB se-Jabodetabek diketuai Pangeran Edwarsyah Pernong, berlangsung di Anjungan Lampung di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Sabtu (10-1).
Kabag Humas dan Protokol Sekretariat Pemkab Lambar Ismet Inoni, Senin (12-1), di ruangannya mengatakan Bupati selaku Dewan Pembina FMSB menyambut baik adanya organisasi tersebut. Ia berharap forum itu bisa menjadi fasilitator bagi kemajuan Lambar. Sebab, di struktur kepengurusannya FMSB banyak pakar ekonomi, pembangunan, dan tata pemerintahan.
Selain itu, FMSB juga diharapkan menjadi alat komunikasi bagi seluruh masyarakat Sekala Bekhak yang ada di Jabodetabek dan di Lambar sendiri.
Bupati juga berpesan agar FMSB memperkenalkan dan memperlihatkan budaya Lampung, khususnya Lampung Barat kepada daerah lain, terutama di Pulau Jawa, kata Ismet Inoni.
Ketua FMSB Pangeran Edwardsyah Pernong, dalam sambutannya memberi apresiasi yang tinggi pada Bupati Lambar bersama rombongannya. Pasalnya, di tengah kesibukkannya mengurusi berbagai tugas pemerintahan di Lambar, tetapi hadir juga dalam pengukuhan forum tersebut.
Ia mengatakan akan berusaha membawa organisasi ini berkiprah dan bermanfaat, baik bagi warga Sekala Bekhak dan Pemkab Lambar dalam rangka kemajuan daerah. n HEN/D-2
Sumber: Lampung Post, Selasa, 13 Januari 2009
Hal tersebut dikatakan Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri dalam acara pengukuhkan FMSB se-Jabodetabek diketuai Pangeran Edwarsyah Pernong, berlangsung di Anjungan Lampung di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Sabtu (10-1).
Kabag Humas dan Protokol Sekretariat Pemkab Lambar Ismet Inoni, Senin (12-1), di ruangannya mengatakan Bupati selaku Dewan Pembina FMSB menyambut baik adanya organisasi tersebut. Ia berharap forum itu bisa menjadi fasilitator bagi kemajuan Lambar. Sebab, di struktur kepengurusannya FMSB banyak pakar ekonomi, pembangunan, dan tata pemerintahan.
Selain itu, FMSB juga diharapkan menjadi alat komunikasi bagi seluruh masyarakat Sekala Bekhak yang ada di Jabodetabek dan di Lambar sendiri.
Bupati juga berpesan agar FMSB memperkenalkan dan memperlihatkan budaya Lampung, khususnya Lampung Barat kepada daerah lain, terutama di Pulau Jawa, kata Ismet Inoni.
Ketua FMSB Pangeran Edwardsyah Pernong, dalam sambutannya memberi apresiasi yang tinggi pada Bupati Lambar bersama rombongannya. Pasalnya, di tengah kesibukkannya mengurusi berbagai tugas pemerintahan di Lambar, tetapi hadir juga dalam pengukuhan forum tersebut.
Ia mengatakan akan berusaha membawa organisasi ini berkiprah dan bermanfaat, baik bagi warga Sekala Bekhak dan Pemkab Lambar dalam rangka kemajuan daerah. n HEN/D-2
Sumber: Lampung Post, Selasa, 13 Januari 2009
Seni: Teater di Sumatera Lebih Berkembang
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Perkembangan komunitas teater perempuan di Sumatera lebih cepat dibanding dengan Jawa. Komunitas teater perempuan di Pulau Sumatera juga dinilai lebih berani dalam menyampaikan tema tentang perempuan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Operasional Kala Sumatera Imas Sobariah, Senin (12-1), usai L:kakarya Panggung Perempuan se-Sumatera.
Menurut Imas, komunitas teater Perempuan di Sumatera terbukti lebih berani dalam mengeksplorasi tema perempuan dibanding dengan komunitas teater di Pulau Jawa. Dengan kondisi seperti ini, kata Imas, perkembangan komunitas teater perempuan di Sumatera lebih cepat dibanding dengan Jawa.
Panggung perempuan se-Sumatera diikuti 21 peserta dari 12 lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan komunitas teater, di antaranya Teater Generasi (Sumatera Utara), Kominitas Seni Intro (Sumatera Barat), Teater Sakata (Sumatera Barat), Teater Selembayung (Riau), Teater Oranye (Jambi), Teater Andung (Bengkulu), Teater Kurusetra (Lampung), Teater Baru (Sumatera Selatan), SPI Labuhan (Sumatera Utara), WCC Palembang, APM Merangin, dan Damar Lampung.
Imas mengatakan dalam lokakarya tersebut peserta harus menyampaikan draf penulisan lakon dan penyutradaraan untuk mempertajam ide teater yang akan dipentaskan pada April mendatang. Tema teater yang disampaikan peserta, kata Imas, adalah seputar dunia perempuan dan tentang rumah tangga. Teater Satu Lampung mengadakan Lokakarya Panggung Perempuan se-Sumatera di Taman Budaya, 8--12 Januari. Dalam acara ini perwakilan dari beberapa teater di Sumatera mempresentasikan ide penulisan lakon dan penyutradaraan di hadapan para pemateri.
Menurut Imas, para pembicara sangat mengapresiasi ide yang diusung komunitas teater di Sumatera. Melihat ide cerita yang disampaikan peserta, pembicara menilai perkembangan teater perempuan di Sumatera bisa lebih cepat dari teater di Jawa. Komunitas teater perempuan di Sumatera lebih berani dalam menyampaikan ide cerita. Teater yang nantinya dipentaskan antara lain berjudul Ci Apung, Emak, Sama dengan Nol, Tiga Perempuan, Koki Keluarga, Fatimah, dan Kembang Mayang. n */K-2
Sumber: Lampung Post, Selasa, 13 Januari 2009
Hal tersebut disampaikan Kepala Operasional Kala Sumatera Imas Sobariah, Senin (12-1), usai L:kakarya Panggung Perempuan se-Sumatera.
Menurut Imas, komunitas teater Perempuan di Sumatera terbukti lebih berani dalam mengeksplorasi tema perempuan dibanding dengan komunitas teater di Pulau Jawa. Dengan kondisi seperti ini, kata Imas, perkembangan komunitas teater perempuan di Sumatera lebih cepat dibanding dengan Jawa.
Panggung perempuan se-Sumatera diikuti 21 peserta dari 12 lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan komunitas teater, di antaranya Teater Generasi (Sumatera Utara), Kominitas Seni Intro (Sumatera Barat), Teater Sakata (Sumatera Barat), Teater Selembayung (Riau), Teater Oranye (Jambi), Teater Andung (Bengkulu), Teater Kurusetra (Lampung), Teater Baru (Sumatera Selatan), SPI Labuhan (Sumatera Utara), WCC Palembang, APM Merangin, dan Damar Lampung.
Imas mengatakan dalam lokakarya tersebut peserta harus menyampaikan draf penulisan lakon dan penyutradaraan untuk mempertajam ide teater yang akan dipentaskan pada April mendatang. Tema teater yang disampaikan peserta, kata Imas, adalah seputar dunia perempuan dan tentang rumah tangga. Teater Satu Lampung mengadakan Lokakarya Panggung Perempuan se-Sumatera di Taman Budaya, 8--12 Januari. Dalam acara ini perwakilan dari beberapa teater di Sumatera mempresentasikan ide penulisan lakon dan penyutradaraan di hadapan para pemateri.
Menurut Imas, para pembicara sangat mengapresiasi ide yang diusung komunitas teater di Sumatera. Melihat ide cerita yang disampaikan peserta, pembicara menilai perkembangan teater perempuan di Sumatera bisa lebih cepat dari teater di Jawa. Komunitas teater perempuan di Sumatera lebih berani dalam menyampaikan ide cerita. Teater yang nantinya dipentaskan antara lain berjudul Ci Apung, Emak, Sama dengan Nol, Tiga Perempuan, Koki Keluarga, Fatimah, dan Kembang Mayang. n */K-2
Sumber: Lampung Post, Selasa, 13 Januari 2009
January 12, 2009
Opini: Selamat Datang Wisatawan
Oleh Isbedy Stiawan Z.S.
MOMENTUM akbar di daerah ini, selain Pemilu 2009, ialah Visit Lampung Year 2009 (Tahun Kunjungan Wisata Lampung) yang telah diluncurkan Gubernur Syamsurya Ryacudu akhir Desember lalu. Harapan dan target VLY juga sudah digaungkan.
Kepala Dinas Budpar Lampung M. Natsir Ali menargetkan 1,2 juta wisatawan domestik (wisdom) dan 24 ribu wisatawan luar (Lampost, 24-8), 3 juta turis lokal-mancanegara, dan terakhir menargetkan (target waspada) 1,5 juta minimal 1 juta turis berkunjung ke Lampung (Lampost, 4-1).
Untuk mendukung kesuksesan VLY 2009, sejumlah hotel dan tempat hiburan serta berbagai kawasan strategis dimanfaatkan untuk promosi dengan berbagai spanduk atau banner. Hanya sayang, launching VLY sebagaimana pemberitaan di media massa lebih terkesan bernuansa basa-basi. Tampak kurang siapnya Pemprov menggelontorkan program wisata 2009.
Seorang karib yang terlibat menyukseskan VLY mengeluhkan minimnya anggaran promosi. Padahal, dunia pariwisata tidak bisa berjalan tanpa ditunjang dana promosi. Bali, sebagai daerah tujuan wisata (DTW) paling besar dan sukses menyedot devisa dari pasar pariwisata, tidak akan lepas dari persiapan dana promosi yang besar pula. Media promosi dilakukan tidak hanya cetak atau elektronik, tapi website maupun e-mail.
Kesuksesan dunia wisata Provinsi Bali karena kesediaan fasilitas yang baik, kesiapan masyarakat yang ikut mendukung, serta pemerintah yang tidak sekadar menjalani program (anggaran). Sehingga tiap wisatawan--terutama dari luar negeri--yang merasa terpuaskan akan mempromosikan kepada yang lain. Promosi dari mulut ke mulut dari wisatawan itu lebih cepat dipercaya ketimbang promosi yang diterima melalui brosur atau media cetak dan elektronik.
Persoalan dunia wisata di Lampung tidak mungkin bisa disejajarkan dengan Bali yang jauh lebih dahulu maju. Dengan wisata Jawa Barat saja sulit menandingi. Sebab itu, perlu pengorbanan (dalam hal ini dana) yang tidak kecil di samping keseriusan pengelolaan dunia pariwisata Lampung jika ingin memetik buah dari VLY 2009.
Dengan tagline Lampung menjadi rumah kedua sejatinya menunjukkan daerah ini tak berdaya berhadapan (bersanding) dengan daerah-daerah lain yang lebih maju pariwisatanya. Sebagai "rumah kedua", apa yang dapat diharapkan wisatawan? Mereka--para wisatawan--lebih baik dan lebih menjanjikan kepuasan mengunjungi Bali, Yogyakarta, Jawa Barat, Lombok, Sumatera Utara, Sumatera Barat atau Sumatera Selatan misalnya, ketimbang Lampung.
Banyak alasan bagi wisatawan tidak singgah atau memilih Lampung. Di antaranya, objek wisata yang ada di Lampung bisa didapat di daerah-daerah lain; wisata tualang yang mestinya digarap dengan serius sudah disediakan provinsi lain; kecerdikan gajah bermain bola sudah bukan lagi satu-satunya nilai jual daerah ini, pasalnya sejumlah daerah memiliki gajah--bahkan Bali konon kini mendatangkan gajah dari Sumatera! Lalu apa lagi yang hendak ditawarkan (dijual?) dari objek wisata di Lampung, dan rayuan apa yang akan dikemas pemerintah agar wisatawan mau menjadikan Lampung sebagai rumah kedua?
Berharap terlalu muluk pada dunia wisata dengan sarana dan fasilitas objek wisata yang belum terkelola secara profesional, rasanya hanya memperpanjang masa mimpi. Sementara itu, pasar wisata di daerah-daerah lain sudah lama mimpi itu dihapus dan sedang behadapan dengan realitas, bahkan tengah memanen. Hal inilah barangkali yang tidak pernah (belum) disadari. Kita hanya asyik dalam mimpi dan takut berhadapan dengan kenyataan.
***
Membangun kepercayaan wisatawan, butuh dana dan keseriusan kerja. Pasalnya, menjual objek wisata bukan hanya menaburkan brosur, memajang ratusan spanduk atau menggelar festival yang juga asal berlangsung, maupun mendatangkan wisatawan mancanegara yang ternyata semu. Apakah kita sudah hitung ulang objek-objek wisata yang menjadi andalan sudah siap menerima kunjungan wisatawan (mancanegara/domestik). Bagaimana fasilitas transportasi dari dan menuju objek wisata?
Wisatawan--terutama mancanegara--mengapa memilih Bali walaupun transportasi pesawat terbilang mahal, penyebabnya mereka mendapatkan apa yang diinginkan. Sadar wisata masyarakat Bali yang baik karena merasa dilibatkan bagi kemajuan pariwisata, salah satu pendukung sehingga para bule betah dan menjadikan Bali sebagai "rumah sendiri"--bukan rumah kedua seperti tagline pariwisata Lampung.
Objek pantai di Lampung, walaupun mungkin potensinya tidak kalah menarik dengan wisata pantai di daerah lain karena tidak dikelola profesional akibatnya tidak menjual. Wisatawan mancanegara lebih senang memilih wisata pantai di Bali, Lombok, Makassar untuk menyebut beberapa objek wisata pantai, ketimbang menyeberangi Selat Sunda yang menyita waktu 6--7 jam apabila lewat darat dan hanya 1 jam jika menggunakan pesawat terbang; tapi tiket melalui udara tidak berbeda banyak dengan tujuan daerah lain.
Sebab itu, perlu pembenahan jika Provinsi Lampung ingin mengandalkan wisata pantai sebagai objek yang akan dijual dan menjual. Sejumlah wisata pantai yang membentang Lampung masih dikelola apa adanya dan sangat konvensional. Misalnya pantai Leguna Helau, Karakatoa Nirwana Resort, Pantai Bagus, Pasir Putih, Pantai Selaki, Canti, Pantai Wartawan, hingga Duta Wisata. Lempasing, atau pantai sepantai sepanjang Krui mendekati Bengkulu; terkesan kurang dikelola. Tidak eksotis, sebagaimana Kuta, Sanur, Lombok, maupun Makassar.
Apakah VLY 2009 mau menjual wisata tualang? Kawasan mana lagi yang bisa disulap menjadi wisata yang penuh tantangan? Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) telah dijadikan hutan lindung, Pusat Latihan Gajah (PLG) Way Kambas sudah lama tidak terurus. Penghuninnya, bahkan, sudah dioper ke Batu Putu. Gajah lampung sudah tidak lagi menjual dijadikan ikon pariwisata.
Selain Festival Krakatau, Festival Begawi, Festival Way Kambas, dan sejumlah festival di kabupaten/kota yang menjadi andalan, panitia Visit Lampung Year 2009 berharap Festival Durian Januari ini menjadi "maskot" pula. Tetapi, yang menjadi pertanyaan dipusatkan di mana Festival Durian? Di Way Halim, Palapa ataukah sekitar Tugu Durian sepanjang Jalan Radin Imba Sukadanaham?
Pertanyaan lain, sejauhmana konsep sekaligus target Festival Durian 2009 menyedot turis berkunjung ke Lampung lantaran tergiur nikmatnya durian? Dan, kita harus jujur, Lampung bukan penghasil tunggal buah durian. Para pedagang, ketika ditanya, ia membeli durian acap dari Baturaja, selain duku. Sebab itu, saya menganggap aneh kalau Festival Durian dijadikan program pendukung VLY 2009.
Lalu soal budaya, karena mungkin kesalahan dalam sistem penggalian dan pelestarian yang dilakukan pemda selama ini, kita pun kesulitan mendata kesenian dan kebudayaan (di daerah) Lampung yang masih hidup ataupun tidak lagi dikenal. Saya kira tinggal seni budaya yang masih dimiliki Lampung jadi andalan dan kalau mungkin "dijual" dalam pasar wisata menyambut Visit Lampung Year 2009.
Pemprov Lampung mesti mencipta atau membangun kampung-kampung budaya demi melestarikan kesenian (dan kebudayaan) yang kemudian "dipasarkan" kepada wisatawan yang merindukan wisata eksotis, naturalis, dan kultural. Kalau tidak, jangan berharap muluk-muluk bahwa Visit Lampung Year 2009 bisa memenuhi target 1,5 juta turis (lokal dan mancanegara) berkunjung ke daerah ini. n
* Isbedy Stiawan Z.S., Pemerhati Pariwisata dan Kebudayaan
Sumber: Lampung Post, Senin, 12 Januari 2009
MOMENTUM akbar di daerah ini, selain Pemilu 2009, ialah Visit Lampung Year 2009 (Tahun Kunjungan Wisata Lampung) yang telah diluncurkan Gubernur Syamsurya Ryacudu akhir Desember lalu. Harapan dan target VLY juga sudah digaungkan.
Kepala Dinas Budpar Lampung M. Natsir Ali menargetkan 1,2 juta wisatawan domestik (wisdom) dan 24 ribu wisatawan luar (Lampost, 24-8), 3 juta turis lokal-mancanegara, dan terakhir menargetkan (target waspada) 1,5 juta minimal 1 juta turis berkunjung ke Lampung (Lampost, 4-1).
Untuk mendukung kesuksesan VLY 2009, sejumlah hotel dan tempat hiburan serta berbagai kawasan strategis dimanfaatkan untuk promosi dengan berbagai spanduk atau banner. Hanya sayang, launching VLY sebagaimana pemberitaan di media massa lebih terkesan bernuansa basa-basi. Tampak kurang siapnya Pemprov menggelontorkan program wisata 2009.
Seorang karib yang terlibat menyukseskan VLY mengeluhkan minimnya anggaran promosi. Padahal, dunia pariwisata tidak bisa berjalan tanpa ditunjang dana promosi. Bali, sebagai daerah tujuan wisata (DTW) paling besar dan sukses menyedot devisa dari pasar pariwisata, tidak akan lepas dari persiapan dana promosi yang besar pula. Media promosi dilakukan tidak hanya cetak atau elektronik, tapi website maupun e-mail.
Kesuksesan dunia wisata Provinsi Bali karena kesediaan fasilitas yang baik, kesiapan masyarakat yang ikut mendukung, serta pemerintah yang tidak sekadar menjalani program (anggaran). Sehingga tiap wisatawan--terutama dari luar negeri--yang merasa terpuaskan akan mempromosikan kepada yang lain. Promosi dari mulut ke mulut dari wisatawan itu lebih cepat dipercaya ketimbang promosi yang diterima melalui brosur atau media cetak dan elektronik.
Persoalan dunia wisata di Lampung tidak mungkin bisa disejajarkan dengan Bali yang jauh lebih dahulu maju. Dengan wisata Jawa Barat saja sulit menandingi. Sebab itu, perlu pengorbanan (dalam hal ini dana) yang tidak kecil di samping keseriusan pengelolaan dunia pariwisata Lampung jika ingin memetik buah dari VLY 2009.
Dengan tagline Lampung menjadi rumah kedua sejatinya menunjukkan daerah ini tak berdaya berhadapan (bersanding) dengan daerah-daerah lain yang lebih maju pariwisatanya. Sebagai "rumah kedua", apa yang dapat diharapkan wisatawan? Mereka--para wisatawan--lebih baik dan lebih menjanjikan kepuasan mengunjungi Bali, Yogyakarta, Jawa Barat, Lombok, Sumatera Utara, Sumatera Barat atau Sumatera Selatan misalnya, ketimbang Lampung.
Banyak alasan bagi wisatawan tidak singgah atau memilih Lampung. Di antaranya, objek wisata yang ada di Lampung bisa didapat di daerah-daerah lain; wisata tualang yang mestinya digarap dengan serius sudah disediakan provinsi lain; kecerdikan gajah bermain bola sudah bukan lagi satu-satunya nilai jual daerah ini, pasalnya sejumlah daerah memiliki gajah--bahkan Bali konon kini mendatangkan gajah dari Sumatera! Lalu apa lagi yang hendak ditawarkan (dijual?) dari objek wisata di Lampung, dan rayuan apa yang akan dikemas pemerintah agar wisatawan mau menjadikan Lampung sebagai rumah kedua?
Berharap terlalu muluk pada dunia wisata dengan sarana dan fasilitas objek wisata yang belum terkelola secara profesional, rasanya hanya memperpanjang masa mimpi. Sementara itu, pasar wisata di daerah-daerah lain sudah lama mimpi itu dihapus dan sedang behadapan dengan realitas, bahkan tengah memanen. Hal inilah barangkali yang tidak pernah (belum) disadari. Kita hanya asyik dalam mimpi dan takut berhadapan dengan kenyataan.
***
Membangun kepercayaan wisatawan, butuh dana dan keseriusan kerja. Pasalnya, menjual objek wisata bukan hanya menaburkan brosur, memajang ratusan spanduk atau menggelar festival yang juga asal berlangsung, maupun mendatangkan wisatawan mancanegara yang ternyata semu. Apakah kita sudah hitung ulang objek-objek wisata yang menjadi andalan sudah siap menerima kunjungan wisatawan (mancanegara/domestik). Bagaimana fasilitas transportasi dari dan menuju objek wisata?
Wisatawan--terutama mancanegara--mengapa memilih Bali walaupun transportasi pesawat terbilang mahal, penyebabnya mereka mendapatkan apa yang diinginkan. Sadar wisata masyarakat Bali yang baik karena merasa dilibatkan bagi kemajuan pariwisata, salah satu pendukung sehingga para bule betah dan menjadikan Bali sebagai "rumah sendiri"--bukan rumah kedua seperti tagline pariwisata Lampung.
Objek pantai di Lampung, walaupun mungkin potensinya tidak kalah menarik dengan wisata pantai di daerah lain karena tidak dikelola profesional akibatnya tidak menjual. Wisatawan mancanegara lebih senang memilih wisata pantai di Bali, Lombok, Makassar untuk menyebut beberapa objek wisata pantai, ketimbang menyeberangi Selat Sunda yang menyita waktu 6--7 jam apabila lewat darat dan hanya 1 jam jika menggunakan pesawat terbang; tapi tiket melalui udara tidak berbeda banyak dengan tujuan daerah lain.
Sebab itu, perlu pembenahan jika Provinsi Lampung ingin mengandalkan wisata pantai sebagai objek yang akan dijual dan menjual. Sejumlah wisata pantai yang membentang Lampung masih dikelola apa adanya dan sangat konvensional. Misalnya pantai Leguna Helau, Karakatoa Nirwana Resort, Pantai Bagus, Pasir Putih, Pantai Selaki, Canti, Pantai Wartawan, hingga Duta Wisata. Lempasing, atau pantai sepantai sepanjang Krui mendekati Bengkulu; terkesan kurang dikelola. Tidak eksotis, sebagaimana Kuta, Sanur, Lombok, maupun Makassar.
Apakah VLY 2009 mau menjual wisata tualang? Kawasan mana lagi yang bisa disulap menjadi wisata yang penuh tantangan? Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) telah dijadikan hutan lindung, Pusat Latihan Gajah (PLG) Way Kambas sudah lama tidak terurus. Penghuninnya, bahkan, sudah dioper ke Batu Putu. Gajah lampung sudah tidak lagi menjual dijadikan ikon pariwisata.
Selain Festival Krakatau, Festival Begawi, Festival Way Kambas, dan sejumlah festival di kabupaten/kota yang menjadi andalan, panitia Visit Lampung Year 2009 berharap Festival Durian Januari ini menjadi "maskot" pula. Tetapi, yang menjadi pertanyaan dipusatkan di mana Festival Durian? Di Way Halim, Palapa ataukah sekitar Tugu Durian sepanjang Jalan Radin Imba Sukadanaham?
Pertanyaan lain, sejauhmana konsep sekaligus target Festival Durian 2009 menyedot turis berkunjung ke Lampung lantaran tergiur nikmatnya durian? Dan, kita harus jujur, Lampung bukan penghasil tunggal buah durian. Para pedagang, ketika ditanya, ia membeli durian acap dari Baturaja, selain duku. Sebab itu, saya menganggap aneh kalau Festival Durian dijadikan program pendukung VLY 2009.
Lalu soal budaya, karena mungkin kesalahan dalam sistem penggalian dan pelestarian yang dilakukan pemda selama ini, kita pun kesulitan mendata kesenian dan kebudayaan (di daerah) Lampung yang masih hidup ataupun tidak lagi dikenal. Saya kira tinggal seni budaya yang masih dimiliki Lampung jadi andalan dan kalau mungkin "dijual" dalam pasar wisata menyambut Visit Lampung Year 2009.
Pemprov Lampung mesti mencipta atau membangun kampung-kampung budaya demi melestarikan kesenian (dan kebudayaan) yang kemudian "dipasarkan" kepada wisatawan yang merindukan wisata eksotis, naturalis, dan kultural. Kalau tidak, jangan berharap muluk-muluk bahwa Visit Lampung Year 2009 bisa memenuhi target 1,5 juta turis (lokal dan mancanegara) berkunjung ke daerah ini. n
* Isbedy Stiawan Z.S., Pemerhati Pariwisata dan Kebudayaan
Sumber: Lampung Post, Senin, 12 Januari 2009
January 11, 2009
Panggung Perempuan Se-Sumatera: Dicari, Sutradara dan Penulis Lakon Perempuan
-- Christian Heru Cahyo Saputro*
LANGKAH mendongkrak kuota peran kaum perempuan tak hanya menyentuh ranah politik, tapi juga merambah jagat kesenian termasuk panggung teater. Gebrakan Teater Satu (Bandar Lampung) kerja bareng Hivos menaja event Panggung Perempuan se-Sumatera adalah salah satu bukti konkret.
Geliat kehidupan teater di Sumatera bak kerakap di atas batu; hidup segan mati tak mau. Panggung teater Sumatera masih sepi dari riuhnya pementasan, apalagi yang melibatkan penulis lakon dan sutradara perempuan. Masih sangat langka, penaka mencari jarum dalam tumpukan jerami.
Panggung Perempuan se-Sumatera dihelat antara lain untuk menggesa lahirnya sutradara dan penulis lakon perempuan di wilayah Sumatera. Kegiatan ditaja pertengahan November 2008 dan berakhir April mendatang.
Boleh dianggap kegiatan ini sebagai kado Hari Ibu sekaligus Hari Kartini. Dengan berbekal semangat ibu dan Kartini diharapkan para perempuan lewat media teater bisa makin meningkatkan peran dalam ranah kehidupan.
Pelatihan sampai Parade Karya
Seperti disampaikan Ketua Pelaksana Iswadi Pratama, panggung perempuan ini merupakan upaya pemberdayaan teater perempuan di Sumatera. Panggung Perempuan se-Sumatera, masih kata Direktur Artistik Teater Satu ini, adalah program pembekalan dan pemberdayaan perempuan pekerja teater, khususnya penulis lakon dan sutradara dari kelompok-kelompok teater yang menjadi perwakilan setiap provinsi di Sumatera.
Kegiatan yang dibuka dengan diskusi dan pelatihan pada 14--15 November 2008 lalu ini diikuti utusan dari Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Palembang, dan Lampung. Diskusi dengan fasilitator Iswadi Pratama ini berupaya mengeksplorasi masalah-masalah yang dihadapi perempuan pelaku teater di Sumatera dalam mengaktualisasikan diri di panggung teater dan sumber-sumber penciptaan, berkaitan dengan wacana-wacana gender dengan latar belakang sejarah dan kebudayaan di Sumatera. Sedangkan Siti Noor Laila dari LSM Damar, Lampung, membekali pemahaman masalah-masalah gender secara umum.
Pada 16--20 November lalu, peserta dibekali dengan pelatihan penyutradaraan untuk menambah pengetahuan dan keterampilan di bidang penyutradaraan dengan narasumber Dr. Yudi Aryani (peneliti, pengamat, praktisi teater dari ISI Yogyakarta), Joko Kurnaen (dosen artistik STSI Bandung), dan Lena Simanjuntak (sutradara, Jakarta). Peserta juga dibekali pelatihan penulisan lakon untuk menambah pengetahuan dan keterampilan di bidang penulisan lakon, baik secara teknis dan teoritis.
Peserta pada kesempatan itu juga dibekali pengetahuan dan pemahaman mengemas masalah-masalah gender dalam bentuk lakon. Dengan menghadirkan narasumber Arthur S. Nalan (penulis lakon, ketua STSI Bandung), Yosef Muldiana (sutradara, penulis lakon dari Laskar Panggung Bandung), Faidza Marzoeki (LSM Perempuan, Jakarta, penulis adaptasi lakon Bumi Manusia dari novel berjudul sama karya Pramoedya Ananta Toer).
Sedangkan lokakarya dan penulisan yang bakal ditaja 8--12 Januari ini agenda kegiatannya berupa presentasi dan evaluasi hasil pelatihan penyutradaraan dan penulisan lakon, dengan narasumber Dr. Yudi Aryani, Joko Kurnaen, Arthur S. Nalan, Yosef Muldiana, dan S.N. Laila. Puncak kegiatan Panggung Perempuan se-Sumatera ini bakal ditaja 25--30 April dengan menggelar parade karya yang akan mengusung karya pertunjukan para perempuan sutradara dan penulis lakon se-Sumatera.
Bakal tampil sebagai pengamat pementasan ini Ags Dipayana (Teater Tetas, Jakarta), Lisa Bona (kurator seni pertunjukan Dewan Kesenian Jakarta), Dewi Noviami (kurator teater, Seni Pertunjukan di Goethe Institut, Jakarta), dan Faidza Marzoeki (Jakarta).
Panggung Perempuan
Dipilihnya perempuan sebagai fokus atau sasaran event ini karena pelaku teater perempuan khususnya sutradara dan penulis lakon masih sangat minim untuk konteks Indonesia.
Hingga saat ini, di Indonesia hanya ada beberapa nama yang sudah dikenal publik, di antaranya Ratna Sarumpaet (sutradara, penulis lakon, aktris di Teater Satu Merah Panggung), Ratna Riantiarno (aktris, manajemen Teater Koma), Margesti (sutradara, aktris di Teater Abu), dan Lena Simanjuntak (sutradara, penulis lakon bagi para perempuan PSK). Ketiganya berdomisili dan bekerja di Jakarta.
Dari generasi yang lebih muda, ada Shinta Febriani (sutradara, penulis lakon di Teater Merah Putih, Makassar), Cici (sutradara, penulis lakon dari Palu), dan Yani Mae (sutradara, penulis lakon dari STSI Bandung).
Ketujuh perempuan sutradara, penulis lakon, dan penanggungjawab manajemen pertunjukan teater inilah yang bisa dianggap relatif ajeg meramaikan event teater di Indonesia. Selebihnya, sebagian besar perempuan yang aktif di teater cenderung memilih menjadi pemain (aktris) atau pelaksana produksi (manajemen).
Penekanan event Panggung Perempuan terhadap profesi sutradara dan penulis lakon karena gagasan artistik dan pemilihan tema atau lokus persoalan yang hendak diaktualisasikan senantiasa bersumber dari sutradara dan lakon yang dimainkan. Jadi, semakin banyak jumlah perempuan sutradara dan penulis lakon teater di Indonesia, gagasan-gagasan artistik dan persoalan yang akan teraktualisasi di panggung teater Indonesia akan makin beragam. Setidaknya akan muncul pendekatan yang lebih otentik dari sisi perempuan. Ini antara lain yang diharapkan dari Panggung Perempuan se-Sumatera seperti disampaikan ketua operasional kegiatan Imas Sobariah.
Dipilihnya Sumatera sebagai lokus program ini juga tidak terlepas dari masih minimnya wacana gender teraktualisasi di media teater di Sumatera. Selain itu, banyak potensi perempuan pelaku teater di Sumatera yang belum memiliki kesempatan lebih baik untuk mengembangkan diri. Dengan munculnya perempuan sutradara dan penulis lakon dari Sumatera diharapkan memberi semangat baru bagi perkembangan teater di Sumatera secara meluas.
Secara strategis, event ini dapat melakukan penguatan isu berdasarkan kesatuan wilayah. Diharapkan juga mampu memberi stimulus pada wilayah-wilayah lain di luar Sumatera dalam rangka membangun wacana perempuan di panggung teater di Indonesia. Batasan terhadap wilayah Sumatera diharapkan dapat memberikan spesifikasi pada persoalan-persoalan perempuan dalam konteksnya sebagai pelaku teater berdasarkan kedekatan sejarah dan latar belakang budaya yang akan dieksplorasi dalam bentuk dialog dan pemilihan sumber-sumber penciptaan karya.
Misalnya mengenai posisi perempuan di lingkup keluarga batih dalam sistem budaya di Sumatera yang satu sama lain memiliki persamaan juga perbedaan.
Mendongkrak Peran Perempuan
Program ini bertujuan untuk memberikan perspektif gender terhadap para penulis lakon dan sutradara perempuan se-Sumatera dalam mengeksplorasi gagasan-gagasan artistik.
Untuk itulah panitia berupaya memfasilitasi perempuan sutradara dan penulis lakon di Sumatera untuk mengaktualisasikan dan mengembangkan diri lebih jauh dengan modal pembekalan wawasan, keterampilan, dan pengetahuan di bidang artistik dan penulisan dan pemahaman terhadap masalah-masalah gender.
Selain itu, kegiatan ini juga merupakan salah satu upaya mendinamisasi perkembangan teater, memperkaya khazanah artistik dan naskah drama di Sumatera khususnya dan Indonesia umumnya, yang berasal dari para pelaku teater perempuan. Diharapkan dari kegiatan yang digelar maraton ini bakal lahir 10 sutradara dan 10 penulis lakon dari komunitas teater di Sumatera yang memiliki pemahaman terhadap masalah-masalah artistik dan wacana gender.
* Christian Heru Cahyo Saputro, peneliti folklor pada Sekelek Institute Publishing House, tinggal di Lampung
Sumber: Lampung Post, Minggu, 11 Januari 2009
LANGKAH mendongkrak kuota peran kaum perempuan tak hanya menyentuh ranah politik, tapi juga merambah jagat kesenian termasuk panggung teater. Gebrakan Teater Satu (Bandar Lampung) kerja bareng Hivos menaja event Panggung Perempuan se-Sumatera adalah salah satu bukti konkret.
Geliat kehidupan teater di Sumatera bak kerakap di atas batu; hidup segan mati tak mau. Panggung teater Sumatera masih sepi dari riuhnya pementasan, apalagi yang melibatkan penulis lakon dan sutradara perempuan. Masih sangat langka, penaka mencari jarum dalam tumpukan jerami.
Panggung Perempuan se-Sumatera dihelat antara lain untuk menggesa lahirnya sutradara dan penulis lakon perempuan di wilayah Sumatera. Kegiatan ditaja pertengahan November 2008 dan berakhir April mendatang.
Boleh dianggap kegiatan ini sebagai kado Hari Ibu sekaligus Hari Kartini. Dengan berbekal semangat ibu dan Kartini diharapkan para perempuan lewat media teater bisa makin meningkatkan peran dalam ranah kehidupan.
Pelatihan sampai Parade Karya
Seperti disampaikan Ketua Pelaksana Iswadi Pratama, panggung perempuan ini merupakan upaya pemberdayaan teater perempuan di Sumatera. Panggung Perempuan se-Sumatera, masih kata Direktur Artistik Teater Satu ini, adalah program pembekalan dan pemberdayaan perempuan pekerja teater, khususnya penulis lakon dan sutradara dari kelompok-kelompok teater yang menjadi perwakilan setiap provinsi di Sumatera.
Kegiatan yang dibuka dengan diskusi dan pelatihan pada 14--15 November 2008 lalu ini diikuti utusan dari Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Palembang, dan Lampung. Diskusi dengan fasilitator Iswadi Pratama ini berupaya mengeksplorasi masalah-masalah yang dihadapi perempuan pelaku teater di Sumatera dalam mengaktualisasikan diri di panggung teater dan sumber-sumber penciptaan, berkaitan dengan wacana-wacana gender dengan latar belakang sejarah dan kebudayaan di Sumatera. Sedangkan Siti Noor Laila dari LSM Damar, Lampung, membekali pemahaman masalah-masalah gender secara umum.
Pada 16--20 November lalu, peserta dibekali dengan pelatihan penyutradaraan untuk menambah pengetahuan dan keterampilan di bidang penyutradaraan dengan narasumber Dr. Yudi Aryani (peneliti, pengamat, praktisi teater dari ISI Yogyakarta), Joko Kurnaen (dosen artistik STSI Bandung), dan Lena Simanjuntak (sutradara, Jakarta). Peserta juga dibekali pelatihan penulisan lakon untuk menambah pengetahuan dan keterampilan di bidang penulisan lakon, baik secara teknis dan teoritis.
Peserta pada kesempatan itu juga dibekali pengetahuan dan pemahaman mengemas masalah-masalah gender dalam bentuk lakon. Dengan menghadirkan narasumber Arthur S. Nalan (penulis lakon, ketua STSI Bandung), Yosef Muldiana (sutradara, penulis lakon dari Laskar Panggung Bandung), Faidza Marzoeki (LSM Perempuan, Jakarta, penulis adaptasi lakon Bumi Manusia dari novel berjudul sama karya Pramoedya Ananta Toer).
Sedangkan lokakarya dan penulisan yang bakal ditaja 8--12 Januari ini agenda kegiatannya berupa presentasi dan evaluasi hasil pelatihan penyutradaraan dan penulisan lakon, dengan narasumber Dr. Yudi Aryani, Joko Kurnaen, Arthur S. Nalan, Yosef Muldiana, dan S.N. Laila. Puncak kegiatan Panggung Perempuan se-Sumatera ini bakal ditaja 25--30 April dengan menggelar parade karya yang akan mengusung karya pertunjukan para perempuan sutradara dan penulis lakon se-Sumatera.
Bakal tampil sebagai pengamat pementasan ini Ags Dipayana (Teater Tetas, Jakarta), Lisa Bona (kurator seni pertunjukan Dewan Kesenian Jakarta), Dewi Noviami (kurator teater, Seni Pertunjukan di Goethe Institut, Jakarta), dan Faidza Marzoeki (Jakarta).
Panggung Perempuan
Dipilihnya perempuan sebagai fokus atau sasaran event ini karena pelaku teater perempuan khususnya sutradara dan penulis lakon masih sangat minim untuk konteks Indonesia.
Hingga saat ini, di Indonesia hanya ada beberapa nama yang sudah dikenal publik, di antaranya Ratna Sarumpaet (sutradara, penulis lakon, aktris di Teater Satu Merah Panggung), Ratna Riantiarno (aktris, manajemen Teater Koma), Margesti (sutradara, aktris di Teater Abu), dan Lena Simanjuntak (sutradara, penulis lakon bagi para perempuan PSK). Ketiganya berdomisili dan bekerja di Jakarta.
Dari generasi yang lebih muda, ada Shinta Febriani (sutradara, penulis lakon di Teater Merah Putih, Makassar), Cici (sutradara, penulis lakon dari Palu), dan Yani Mae (sutradara, penulis lakon dari STSI Bandung).
Ketujuh perempuan sutradara, penulis lakon, dan penanggungjawab manajemen pertunjukan teater inilah yang bisa dianggap relatif ajeg meramaikan event teater di Indonesia. Selebihnya, sebagian besar perempuan yang aktif di teater cenderung memilih menjadi pemain (aktris) atau pelaksana produksi (manajemen).
Penekanan event Panggung Perempuan terhadap profesi sutradara dan penulis lakon karena gagasan artistik dan pemilihan tema atau lokus persoalan yang hendak diaktualisasikan senantiasa bersumber dari sutradara dan lakon yang dimainkan. Jadi, semakin banyak jumlah perempuan sutradara dan penulis lakon teater di Indonesia, gagasan-gagasan artistik dan persoalan yang akan teraktualisasi di panggung teater Indonesia akan makin beragam. Setidaknya akan muncul pendekatan yang lebih otentik dari sisi perempuan. Ini antara lain yang diharapkan dari Panggung Perempuan se-Sumatera seperti disampaikan ketua operasional kegiatan Imas Sobariah.
Dipilihnya Sumatera sebagai lokus program ini juga tidak terlepas dari masih minimnya wacana gender teraktualisasi di media teater di Sumatera. Selain itu, banyak potensi perempuan pelaku teater di Sumatera yang belum memiliki kesempatan lebih baik untuk mengembangkan diri. Dengan munculnya perempuan sutradara dan penulis lakon dari Sumatera diharapkan memberi semangat baru bagi perkembangan teater di Sumatera secara meluas.
Secara strategis, event ini dapat melakukan penguatan isu berdasarkan kesatuan wilayah. Diharapkan juga mampu memberi stimulus pada wilayah-wilayah lain di luar Sumatera dalam rangka membangun wacana perempuan di panggung teater di Indonesia. Batasan terhadap wilayah Sumatera diharapkan dapat memberikan spesifikasi pada persoalan-persoalan perempuan dalam konteksnya sebagai pelaku teater berdasarkan kedekatan sejarah dan latar belakang budaya yang akan dieksplorasi dalam bentuk dialog dan pemilihan sumber-sumber penciptaan karya.
Misalnya mengenai posisi perempuan di lingkup keluarga batih dalam sistem budaya di Sumatera yang satu sama lain memiliki persamaan juga perbedaan.
Mendongkrak Peran Perempuan
Program ini bertujuan untuk memberikan perspektif gender terhadap para penulis lakon dan sutradara perempuan se-Sumatera dalam mengeksplorasi gagasan-gagasan artistik.
Untuk itulah panitia berupaya memfasilitasi perempuan sutradara dan penulis lakon di Sumatera untuk mengaktualisasikan dan mengembangkan diri lebih jauh dengan modal pembekalan wawasan, keterampilan, dan pengetahuan di bidang artistik dan penulisan dan pemahaman terhadap masalah-masalah gender.
Selain itu, kegiatan ini juga merupakan salah satu upaya mendinamisasi perkembangan teater, memperkaya khazanah artistik dan naskah drama di Sumatera khususnya dan Indonesia umumnya, yang berasal dari para pelaku teater perempuan. Diharapkan dari kegiatan yang digelar maraton ini bakal lahir 10 sutradara dan 10 penulis lakon dari komunitas teater di Sumatera yang memiliki pemahaman terhadap masalah-masalah artistik dan wacana gender.
* Christian Heru Cahyo Saputro, peneliti folklor pada Sekelek Institute Publishing House, tinggal di Lampung
Sumber: Lampung Post, Minggu, 11 Januari 2009
Traveling: Menjejak Gunung Pesagi dengan Kibar 8
KIBAR digelar kembali untuk yang kedelapan. Sejak digelar pertama 2001, event nasional olahraga petualangan dengan agenda utama Kebut Gunung Pesagi ini terus menarik peminat. Selama dua hari, 83 tim dari berbagai provinsi menggeber alam perawan Liwa dan Gunung Pesagi.
-------------
Alam tropis, udara sejuk, dan pemandangan yang memukau di Lampung Barat menjadi jualan utama Gumpalan FP Unila dalam Kibar yang memperebutkan Piala Gubernur ini. Seperti sebelumnya, Gumpalan menggandeng Dinas Pariwisata Lampung Barat dalam penyelenggaraan pada 18--21 Desember 2008.
Lebih khusus lagi, event kali ini didedikasikan untuk menyambut program Visit Lampung Year 2009. Berikut laporan Arie Syaputra, Ketua Pelaksana yang merekam kegiatan ini untuk Traveling Lampung Post.
Kibar 8 dibagi menjadi dua item, yakni Kebut Wisata Liwa-Bahway dan Kebut Gunung Pesagi. Item pertama merupakan lomba lintas alam yang mengambil trek dari Kota Liwa (Lapangan Merdeka) menuju Pekon Bahway, suatu perkampungan di kaki Gunung Pesagi. Item ini merupakan babak kualifikasi atau pemanasan sebelum lintasan yang sebenarnya (Kebut Gunung Pesagi) dijalani. Namun, dua etape yang dijalani juga tidak kalah menantang.
Sebanyak 83 tim, terdiri dari 16 tim putri dan 67 tim putra berjuang menjadi yang terbaik dalam menaklukkan gunung tertinggi di Lampung dengan ketinggian 2.231 meter di atas permukaan laut (dpl) itu. Mereka adalah para pencinta alam lokal dan dari DKI Jakarta, Depok, Bekasi, Tangerang, Bogor, Yogyakarta, Palembang, dan Baturaja.
Jumat (19-12) pagi, dingin kabut Kota Liwa menyambut peserta. Persiapan adu kebut oleh peserta dan panitia. Pukul 10.00, panitia menggelar pertemuan teknis (technical meeting). Pukul 14.30, acara seremonial dibuka Wakil Bupati Lampung Barat Dimyati Amin. Selain peserta, ratusan warga Kota Liwa merangsek untuk menyaksikan acara.
Sekitar pukul 15.30, bendera start dikibarkan Dimyati Amin menandai penglepasan peserta lomba babak kualifikasi (etape 1, Liwa--Bahway). Tepuk tangan, iringan warga, dan kawalan mobil patroli memeriahkan acara itu. Etape yang baru pertama kali digelar itu dirancang agar peserta tidak langsung berhadapan dengan kehebatan alam, tetapi juga dapat berinteraksi dengan masyarakat Liwa hingga Pekon Bahway.
Pada Kebut Wisata Liwa--Bahway, peserta akan melewati dua pos. Di setiap pos, panitia memberikan tiket untuk menuju pos berikutnya. Panitia setiap pos juga mengecek daftar peralatan yang merupakan bagian kriteria penilaian.
Pada etape ini, Himpala A dari Universitas Nasional Jakarta finis di urutan pertama dengan waktu tempuh 31 menit. Disusul Palamsar I dari SMK Rumbia, Lampung Tengah dengan selisih waktu 2 menit. Di tempat ketiga Mapala Mushroom I dari UTY Yogyakarta. Meskipun demikian, hampir semua peserta finis dengan selisih waktu yang ketat.
Pukul 17.00 peserta bersama sebagian panitia diberangkatkan menuju lokasi Kebut Gunung Pesagi (Pekon Bahway) menggunakan lima truk. Begitu sampai, peserta langsung mendirikan camp (tenda) di area yang sudah disediakan panitia.
Pukul 21.00, technical meeting untuk Kebut Pesagi digelar. Selesai itu, seluruh peserta dibekap malam nan hening berselimut hawa dingin Pekon Bahway.
Sabtu (20-12), pukul 08.00, start Kebut Gunung Pesagi dengan posisi start sesuai dengan hasil finis kualifikasi (Kebut Wisata Liwa--Bahway). Peratin Pekon Bahway mewakili Pemerintah Kabupaten Lampung Barat melepas peserta Kebut Gunung Pesagi. Dan para peserta menunjukkan "sifat" yang sesungguhnya untuk menundukkan medan berat nan indah itu.
Dalam Kebut Gunung Pesagi, peserta melewati delapan pos yang dijaga panitia. Dari garis start, peserta memacu derap menuju pos 2 melewati perkampungan desa Bahway, Sarhum dan Ramuan. Rimbun kebun kopi, jalan tanah, dan aktivitas warga menjadi pemandangan. Membutuhkan waktu sekira satu jam untuk sampai pos 2.
Dari pos 2, trek di hutan heterogen dengan pohon menjulang mulai terasa. Hijaunya lapisan rimba yang membalut Gunung Pesagi dan sejuknya udara yang bebas masih dapat kita jumpai di sini. Medan yang mulai berat membuat jarak antartim makin renggang. Namun, sesampai pos 3, suasana alamiah membuat wajah ceria. Satu sumber air nan jernih dan dingin digunakan para peserta yang singgah di pos 3 untuk melapor.
Selepas pos 3, peserta melewati jalur yang disebut sebagai "penyambungan". Jalur jalan setapak selebar 1 m yang terdiri dari bebatuan dengan sisi kiri-kanan sangat terjal membuat trek ini menantan. Butuh energi ekstra untuk melewatinya. Terlihat pula, alam terbuka akibat kebakaran hutan pada 1997. Di jalur ini juga kita bisa mencium wangi edelweis si bunga abadi.
Beranjak dari pos 4, peserta melewati jalur yang didominasi hutan lumut. Jalur ini merupakan punggung Gunung Pesagi yang relatif landai. Trek ini dipakai peserta untuk adu kebut. Sebab, medan yang landai dan cukup lebar memungkinkan tim saling menyalip.
Di pos 5 (Puncak Gunung Pesagi) yang merupakan dataran berukuran 5 x 7 m�MDSU�2, terdapat tugu dari semen. Belakangan diketahui, tugu itu merupakan batas wilayah kekuasaan Belanda pada zaman penjajahan. Dari posisi ini, pemandangan alam ciptaan Tuhan sangat menawan. Luas dan birunya air Danau Ranau dan tegarnya Gunung Seminung tampak jelas dari sini.
Kebut dilanjutkan menuju pos 6. Peserta melewati jalur yang membutuhkan kesabaran dan kewaspadaan yang tinggi karena jalur ini merupakan turunan yang sangat terjal. Sepanjang jalur ini banyak pohon tumbang yang memaksa peserta merangkak.
Di pos 6 ini, lagi-lagi peserta disuguhkan sebuah pemandangan yang sangat indah, yaitu air terjun Badas Gumpalan yang mengiming-imingi kesegaran luar dalam.
Perjalanan berlanjut ke pos 7 dengan jalur berupa vegetasi hutan heterogen yang relatif landai diiringi dengan licinnya lantai rimba oleh lumut disepanjang jalur. Trek yang harus dilewati berupa jalan setapak (turunan) dengan sisi kanan jurang dengan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi yang merupakan ciri khas hutan Sumatera.
Menuju pos 8 adalah vegetasi yang didominasi hutan rotan. Secara umum keadaan jalur merupakan turunan yang tidak terlalu curam, tetapi membutuhkan kewaspadaan yang tinggi untuk menghindari tajam dan rapatnya duri pohon rotan. Panjang jalur ini kurang lebih 2 km dan membutuhkan waktu 1 jam untuk mencapainya.
Trek untuk menuju pos 9 dijuluki sebagai "Jalur Patah Hati". Jalur ini merupakan turunan terjal dan licin. Sepanjang jalur, vegetasi yang mendominasi adalah pohon-pohon kecil yang acap digunankan untuk berpegangan. Meskipun sulit, gemericik air mengiringi seolah memberi kesegaran baru.
Jalur ini juga merupakan perbatasan antara hutan rimba Gunung Pesagi dengan kebun penduduk. Keluar rimba, peserta disuguhi ladang penduduk yang berpenghuni dengan pondok-pondok mereka yang khas. Sungai-sungai kecil mengular dan beberapa sungai besar dengan air yang sangat jernih membasuh batin.
Dengan sisa energi yang ada, peserta menyegerakan menempuh jalur menuju garis finis yang tinggal selangkah lagi. Pukul 16.38, dengan terpincang-pincang Tim Karmapala dari MAN 1 Liwa berhasil menjadi tim pertama yang melewati garis finis dengan waktu 7 jam 52 menit.
Berselang 15 menit, Tim Himapala dari Universitas Nasional Jakarta menyusul. Mapala Mushroom II dari UTY Yogyakarta yang merupakan juara bertahan tim putra pada Kibar 7, harus puas di posisi ketiga. Juara harapan I diraih Mapala Mushroom I, harapan II jatuh pada Tim Talaseta Universitas Pancasila Jakarta. Juara harapan III direbut Palamsar I dari SMKN 1 Rumbia, Lampung Tengah. Untuk juara favorit tim putra jatuh kepada Satya Triloka III dari Pringsewu.
Sumber: Lampung Post, Minggu, 11 Januari 2009
-------------
Alam tropis, udara sejuk, dan pemandangan yang memukau di Lampung Barat menjadi jualan utama Gumpalan FP Unila dalam Kibar yang memperebutkan Piala Gubernur ini. Seperti sebelumnya, Gumpalan menggandeng Dinas Pariwisata Lampung Barat dalam penyelenggaraan pada 18--21 Desember 2008.
Lebih khusus lagi, event kali ini didedikasikan untuk menyambut program Visit Lampung Year 2009. Berikut laporan Arie Syaputra, Ketua Pelaksana yang merekam kegiatan ini untuk Traveling Lampung Post.
Kibar 8 dibagi menjadi dua item, yakni Kebut Wisata Liwa-Bahway dan Kebut Gunung Pesagi. Item pertama merupakan lomba lintas alam yang mengambil trek dari Kota Liwa (Lapangan Merdeka) menuju Pekon Bahway, suatu perkampungan di kaki Gunung Pesagi. Item ini merupakan babak kualifikasi atau pemanasan sebelum lintasan yang sebenarnya (Kebut Gunung Pesagi) dijalani. Namun, dua etape yang dijalani juga tidak kalah menantang.
Sebanyak 83 tim, terdiri dari 16 tim putri dan 67 tim putra berjuang menjadi yang terbaik dalam menaklukkan gunung tertinggi di Lampung dengan ketinggian 2.231 meter di atas permukaan laut (dpl) itu. Mereka adalah para pencinta alam lokal dan dari DKI Jakarta, Depok, Bekasi, Tangerang, Bogor, Yogyakarta, Palembang, dan Baturaja.
Jumat (19-12) pagi, dingin kabut Kota Liwa menyambut peserta. Persiapan adu kebut oleh peserta dan panitia. Pukul 10.00, panitia menggelar pertemuan teknis (technical meeting). Pukul 14.30, acara seremonial dibuka Wakil Bupati Lampung Barat Dimyati Amin. Selain peserta, ratusan warga Kota Liwa merangsek untuk menyaksikan acara.
Sekitar pukul 15.30, bendera start dikibarkan Dimyati Amin menandai penglepasan peserta lomba babak kualifikasi (etape 1, Liwa--Bahway). Tepuk tangan, iringan warga, dan kawalan mobil patroli memeriahkan acara itu. Etape yang baru pertama kali digelar itu dirancang agar peserta tidak langsung berhadapan dengan kehebatan alam, tetapi juga dapat berinteraksi dengan masyarakat Liwa hingga Pekon Bahway.
Pada Kebut Wisata Liwa--Bahway, peserta akan melewati dua pos. Di setiap pos, panitia memberikan tiket untuk menuju pos berikutnya. Panitia setiap pos juga mengecek daftar peralatan yang merupakan bagian kriteria penilaian.
Pada etape ini, Himpala A dari Universitas Nasional Jakarta finis di urutan pertama dengan waktu tempuh 31 menit. Disusul Palamsar I dari SMK Rumbia, Lampung Tengah dengan selisih waktu 2 menit. Di tempat ketiga Mapala Mushroom I dari UTY Yogyakarta. Meskipun demikian, hampir semua peserta finis dengan selisih waktu yang ketat.
Pukul 17.00 peserta bersama sebagian panitia diberangkatkan menuju lokasi Kebut Gunung Pesagi (Pekon Bahway) menggunakan lima truk. Begitu sampai, peserta langsung mendirikan camp (tenda) di area yang sudah disediakan panitia.
Pukul 21.00, technical meeting untuk Kebut Pesagi digelar. Selesai itu, seluruh peserta dibekap malam nan hening berselimut hawa dingin Pekon Bahway.
Sabtu (20-12), pukul 08.00, start Kebut Gunung Pesagi dengan posisi start sesuai dengan hasil finis kualifikasi (Kebut Wisata Liwa--Bahway). Peratin Pekon Bahway mewakili Pemerintah Kabupaten Lampung Barat melepas peserta Kebut Gunung Pesagi. Dan para peserta menunjukkan "sifat" yang sesungguhnya untuk menundukkan medan berat nan indah itu.
Dalam Kebut Gunung Pesagi, peserta melewati delapan pos yang dijaga panitia. Dari garis start, peserta memacu derap menuju pos 2 melewati perkampungan desa Bahway, Sarhum dan Ramuan. Rimbun kebun kopi, jalan tanah, dan aktivitas warga menjadi pemandangan. Membutuhkan waktu sekira satu jam untuk sampai pos 2.
Dari pos 2, trek di hutan heterogen dengan pohon menjulang mulai terasa. Hijaunya lapisan rimba yang membalut Gunung Pesagi dan sejuknya udara yang bebas masih dapat kita jumpai di sini. Medan yang mulai berat membuat jarak antartim makin renggang. Namun, sesampai pos 3, suasana alamiah membuat wajah ceria. Satu sumber air nan jernih dan dingin digunakan para peserta yang singgah di pos 3 untuk melapor.
Selepas pos 3, peserta melewati jalur yang disebut sebagai "penyambungan". Jalur jalan setapak selebar 1 m yang terdiri dari bebatuan dengan sisi kiri-kanan sangat terjal membuat trek ini menantan. Butuh energi ekstra untuk melewatinya. Terlihat pula, alam terbuka akibat kebakaran hutan pada 1997. Di jalur ini juga kita bisa mencium wangi edelweis si bunga abadi.
Beranjak dari pos 4, peserta melewati jalur yang didominasi hutan lumut. Jalur ini merupakan punggung Gunung Pesagi yang relatif landai. Trek ini dipakai peserta untuk adu kebut. Sebab, medan yang landai dan cukup lebar memungkinkan tim saling menyalip.
Di pos 5 (Puncak Gunung Pesagi) yang merupakan dataran berukuran 5 x 7 m�MDSU�2, terdapat tugu dari semen. Belakangan diketahui, tugu itu merupakan batas wilayah kekuasaan Belanda pada zaman penjajahan. Dari posisi ini, pemandangan alam ciptaan Tuhan sangat menawan. Luas dan birunya air Danau Ranau dan tegarnya Gunung Seminung tampak jelas dari sini.
Kebut dilanjutkan menuju pos 6. Peserta melewati jalur yang membutuhkan kesabaran dan kewaspadaan yang tinggi karena jalur ini merupakan turunan yang sangat terjal. Sepanjang jalur ini banyak pohon tumbang yang memaksa peserta merangkak.
Di pos 6 ini, lagi-lagi peserta disuguhkan sebuah pemandangan yang sangat indah, yaitu air terjun Badas Gumpalan yang mengiming-imingi kesegaran luar dalam.
Perjalanan berlanjut ke pos 7 dengan jalur berupa vegetasi hutan heterogen yang relatif landai diiringi dengan licinnya lantai rimba oleh lumut disepanjang jalur. Trek yang harus dilewati berupa jalan setapak (turunan) dengan sisi kanan jurang dengan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi yang merupakan ciri khas hutan Sumatera.
Menuju pos 8 adalah vegetasi yang didominasi hutan rotan. Secara umum keadaan jalur merupakan turunan yang tidak terlalu curam, tetapi membutuhkan kewaspadaan yang tinggi untuk menghindari tajam dan rapatnya duri pohon rotan. Panjang jalur ini kurang lebih 2 km dan membutuhkan waktu 1 jam untuk mencapainya.
Trek untuk menuju pos 9 dijuluki sebagai "Jalur Patah Hati". Jalur ini merupakan turunan terjal dan licin. Sepanjang jalur, vegetasi yang mendominasi adalah pohon-pohon kecil yang acap digunankan untuk berpegangan. Meskipun sulit, gemericik air mengiringi seolah memberi kesegaran baru.
Jalur ini juga merupakan perbatasan antara hutan rimba Gunung Pesagi dengan kebun penduduk. Keluar rimba, peserta disuguhi ladang penduduk yang berpenghuni dengan pondok-pondok mereka yang khas. Sungai-sungai kecil mengular dan beberapa sungai besar dengan air yang sangat jernih membasuh batin.
Dengan sisa energi yang ada, peserta menyegerakan menempuh jalur menuju garis finis yang tinggal selangkah lagi. Pukul 16.38, dengan terpincang-pincang Tim Karmapala dari MAN 1 Liwa berhasil menjadi tim pertama yang melewati garis finis dengan waktu 7 jam 52 menit.
Berselang 15 menit, Tim Himapala dari Universitas Nasional Jakarta menyusul. Mapala Mushroom II dari UTY Yogyakarta yang merupakan juara bertahan tim putra pada Kibar 7, harus puas di posisi ketiga. Juara harapan I diraih Mapala Mushroom I, harapan II jatuh pada Tim Talaseta Universitas Pancasila Jakarta. Juara harapan III direbut Palamsar I dari SMKN 1 Rumbia, Lampung Tengah. Untuk juara favorit tim putra jatuh kepada Satya Triloka III dari Pringsewu.
Sumber: Lampung Post, Minggu, 11 Januari 2009
January 7, 2009
VLY 2009: Potensi Wisata Pesawaran Kurang Diperhatikan
GEDONGTATAAN (Lampost): Meski tahun 2009 telah dicanangkan sebagai Visit Lampung Year (VLY), tapi Pemprov Lampung melalui Dinas Pariwisata maupun Pemkab Pesawaran terkesan kurang koordinasi. Pasalnya, meski Pesawaran kaya akan potensi wisata, tidak ada satu pun anggaran yang dialokasikan untuk perbaikan infrastruktur objek wisata.
Berdasarkan pantauan Lampung Post di sejumlah objek wisata yang ada di Kecamatan Padang Cermin, masih menunjukkan buruknya kondisi jalan menuju objek wisata. Akibatnya, jalan menuju objek wisata itu selain susah ditempuh juga rawan akan kriminalitas.
Seperti objek wisata air terjun Way Sabu yang ada di Padang Cermin. Meski memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai objek wisata, lokasinya terkesan terisolasi. Sebab, akses menuju ke air terjun yang terletak di Gunung Betung ini tidak pernah diperbaiki dan sejak dahulu masih berupa jalan setapak.
Di sisi lain, minimnya informasi tentang lokasi-lokasi objek wisata pun membuat banyaknya potensi wisata di Kecamatan Padang Cermin dan Punduh Pidada seolah tidak diketahui keberadaannya.
Suratmin, warga Padang Cermin, menilai jika selama ini objek wisata yang ada hanya dikunjungi untuk aktivitas mesum. Tempat ini juga kerap dijadikan sebagai tempat melakukan aksi kriminalitas, seperti pembunuhan yang terjadi beberapa waktu yang lalu. "Kami sampai bosan melihat objek wisata ini dikotori oleh orang yang cuma mau berbuat mesum. Kalau keadaannya sudah seperti ini, jangan berharap ada wisatawan yang mau datang, melirik saja pun tidak mau. Sebab, tempatnya sudah terlalu kotor. Bayangkan saja, di pantai, kita bisa menemukan banyak bekas alat kontrasepsi, seperti kondom. Ini kan tidak masuk akal," keluhnya lagi.
Riko, salah seorang aktivis lingkungan menilai fungsi Dinas Pariwisata yang ada di provinsi maupun yang ada di Kabupaten Pesawaran terkesan percuma. "Mereka (dinas) tidak menjalankan fungsi-fungsi kepariwisataan. Padahal, pemerintah seharusnya jeli melihat peluang pendapatan asli daerah dari pariwisata. Tetapi kenapa justru dibiarkan dan dijadikan tempat mesum," tegasnya. n SWA/D-3
Sumber: Lampung Post, Rabu, 7 Januari 2009
Berdasarkan pantauan Lampung Post di sejumlah objek wisata yang ada di Kecamatan Padang Cermin, masih menunjukkan buruknya kondisi jalan menuju objek wisata. Akibatnya, jalan menuju objek wisata itu selain susah ditempuh juga rawan akan kriminalitas.
Seperti objek wisata air terjun Way Sabu yang ada di Padang Cermin. Meski memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai objek wisata, lokasinya terkesan terisolasi. Sebab, akses menuju ke air terjun yang terletak di Gunung Betung ini tidak pernah diperbaiki dan sejak dahulu masih berupa jalan setapak.
Di sisi lain, minimnya informasi tentang lokasi-lokasi objek wisata pun membuat banyaknya potensi wisata di Kecamatan Padang Cermin dan Punduh Pidada seolah tidak diketahui keberadaannya.
Suratmin, warga Padang Cermin, menilai jika selama ini objek wisata yang ada hanya dikunjungi untuk aktivitas mesum. Tempat ini juga kerap dijadikan sebagai tempat melakukan aksi kriminalitas, seperti pembunuhan yang terjadi beberapa waktu yang lalu. "Kami sampai bosan melihat objek wisata ini dikotori oleh orang yang cuma mau berbuat mesum. Kalau keadaannya sudah seperti ini, jangan berharap ada wisatawan yang mau datang, melirik saja pun tidak mau. Sebab, tempatnya sudah terlalu kotor. Bayangkan saja, di pantai, kita bisa menemukan banyak bekas alat kontrasepsi, seperti kondom. Ini kan tidak masuk akal," keluhnya lagi.
Riko, salah seorang aktivis lingkungan menilai fungsi Dinas Pariwisata yang ada di provinsi maupun yang ada di Kabupaten Pesawaran terkesan percuma. "Mereka (dinas) tidak menjalankan fungsi-fungsi kepariwisataan. Padahal, pemerintah seharusnya jeli melihat peluang pendapatan asli daerah dari pariwisata. Tetapi kenapa justru dibiarkan dan dijadikan tempat mesum," tegasnya. n SWA/D-3
Sumber: Lampung Post, Rabu, 7 Januari 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)