Catatan Keprihatinan atas Lepasnya Hadiah Sastra Rancage 2009*
Oleh Christian Heru Cahyo Saputro**
HADIAH sastra Rancage 2009 untuk sastra berbahasa Lampung terlepas dari tangan Lampung. Padahal dengan susah payah Udo Z Karzi melalui karyanya Mak Dawah Mak Dibingi berhasil merintis dan memboyong Rancage ke Sang Bumi Ruwai Jurai tahun 2008 lalu. Apakah ini menandakan ulun Lampung yang konon punya Piil makin tak peduli dengan kehidupan sastra dan bahasanya?
Lampung sama halnya dengan daerah-daerah lainnya mempunyai tradisi sastra lisan. Di Lampung sastra lisan merupakan bagian dari suatu kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakatnya. Sastra lisan sendiri diturunkan secara turun temurun secara lisan dalam bahasa daerah Lampung dan sudah menjadi milik masyarakatnya. Tetapi kini keberadaan sastra lisan Lampung, penaka kerakap di atas batu, hidup segan mati tak mau.
Pada zaman dulu sastra lisan Lampung biasa disampaikan oleh para orang tua kepada anak-nanak atau cucunya pada waktu senggang, ---atau sebagai pengantar menjelang tidur. Sedangkan tujuannya adalah untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama, petuah-petuah, hukum-hukum, kepada anak cucu mereka.
Selain itu, sastra lisan juga bisa didengar dan dinikmati pada acara-acara adat misalnya, pada acara upacara khitanan, mengerjakan kebun, pesta perkawinan atau begawi.
Kini karena pengaruh sarana hiburan seperti radio, televisi dan film—sastra lisan Lampung sudah sangat kurang diperhatikan oleh masyarakatnya. Dan kemungkinan besar sebagai salah satu penyebab utamanya karena bahasa Lampung sebagai bahasa pengantarnya mulai ditinggalkan oleh penuturnya (baca: penduduk Lampung asli).
Mereka nampaknya larut dengan bahasa yang dibawa oleh penduduk pendatang (transmigran) atau dalam komunikasi seharian mereka lebih bangga menggunakan bahasa Indonesia ketimbang bahasa ibu.
Selain itu, tentunya karena pengaruh era globalisasi informasi yang terus membombardir hingga pojok-pojok tiyuh (kampung). Hal ini berakibat merubah pola pikir dan tatanan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Lampung. Demikian juga dengan kehadiran masyarakat pendatang yag sudah tentu akan mengakibatkan perubahan struktur dan pandangan hidup masyarakat Lampung.
Masyarakat tradisional mulai meninggalkan sesuatu yang berbau “adat” --karena dianggapnya sudah ketinggalan zaman--, kuno dan ingin lebih mengejar apa yang disebutnya ‘modern’.
Sastra lisan warisan budaya tradisipun dianggap kuno untuk dijadikan media hiburan terutama oleh generasi muda. Mereka lebih senang ke diskotek, cineplek, nonton video, atau TV dengan parabola yang menawarkan seabrek pilihan program alternative ketimbang duduk berjam-jam duduk menikmati warahan –salah satu jenis sastra lisan Lampung---yang disampaikan oleh pawing pembawa cerita.
Dengan demikian dari hari ke hari sastra lisan Lampung semakin tidak ketahuan rimbanya. Dalam upacara-upacara adat (begawi) seperti pesta perkawinan, khitanan, dan upacara lainnya sastra lisan pun tidak dipakai lagi sebagai materi acaranya.
Namun hal ini bukan berarti bahwa kebiasaan mendengarkan sastra lisan itu tidak ada sama sekali. Di beberapa tempat di tyuh-tiyuh yang pandangan masyarakatnya masih memegang kuat adapt dan menganggap penting mendengarkan cerita-cerita nenek moyangnya, karena mereka menyadari banyak hal yang dapat dipetik manfaatnya dari cerita-cerita yang terkandung dalam sastra lisan itu.
Sastra lisan Lampung menurut bentuknya dapat dibagi menjadi dua yatu: prosa dan puisi. Prosa Lampung kebanyakan berupa; legenda, fable dan mythe. Jenis cerita rakyat (folklore) yang sangat dihormati oleh sebagian rakyat Lampung, karena temanya sangat baik dan luhur antara lain Warahan Radin Jambat, Radin Intan, Betan Subing, dan Anak Dalom.Sedangkan yang puisi kebanyakan berbentuk pantun, syair dan pisaan.
Sastra lisan Lampung baik yang berbentuk prosa maupun puisi mempunyai fungsi sebagai aalat pendidikan, nasehat keagamaan, adat dan juga sebagai media hiburan.
Untuk menjaga kesinambungan perkembangan sastra lisan Lampung ini sebaiknya berbagai pihak dan pemangku kepentingan harus terus berupaya mengadakan pembinaan anatar lain; dengan menggelar lomba dongeng atau baca puisi dalam bahasa Lampung. Apalagi bahasa daerah Lampung kini sudah masuk menjadi salah satu pilihan dalam kurikulum pendidikan muatan lokal (mulok) di Provinsi Lampung.
Jenis Sastra Lampung
Sebagaimana Melayu di Sumatra pada umumnya, Suku Lampung sangat kental dengan tradisi kelisanan. Pantun, syair, mantra, dan berbagai jenis sastra berkembang tidak dalam bentuk keberaksaraan, sehingga wajar jika memiliki pola-pola sastra lama yang serupa sebagai ciri dari kelisanan itu.
Sastra lisan Lampung menjadi milik kolektif suku Lampung . Ciri utamanya kelisanan, Anonim , dan lekat dengan kebiasaan, tradisi , dan adat istiadat dalam kebudayaan masyarakat Lampung. Sastra itu banyak tersebar dalam masyarakat dan merupakan bagian sangat penting dari khazanah budaya etnis Lampung.
Menurut pakar bahasa Lampung A. Effendi Sanusi, jenis sastra lisan terbagi lima jenis yaitu berupa peribahasa , teka-teki , mantera , puisi , dan cerita rakyat .
Nasib Sastra Lampung
Perkembangan dan kehidupan sastra Lampung memang memprihatinkan, Penaka pepatah, bak kerakap di atas batu, hidup segan mati pun tak mau . Selama ini sastra lisan Lampung hanya bertumbuhkembang di komunitasnya. Sementara ini pemasyarakatan sastra Lampung yang bisa diakses oleh banyak orang hanya melalui RRI Bandar Lampung melalui program acara Ragom Budaya Lampung (RBL) dan Manjau Dibingi serta di TVRI SPK Bandar Lampung dalam program acara Pantun Setimbalan.
Sedangkan sosialisasi yang dilakukan Dinas Pendidikan, Taman Budaya, dan Yayasan Jung Foundation sifatnya hanya program insidentil dan tak berkelanjutan, karena terkendala dana dan kebijakan. Yang lebih memprihatinkan institusi perguruan tinggi di Lampung tak ada yang peduli dan menyentuh sastra Lampung sebagai bahan kajian atau kurikulumnya. Bahkan Universitas Lampung sebagai salah satu perguruan tinggi negeri andalan justru menutup program pendidikan D-3 Bahasa Lampung yang diharapkan akan menjadi salah satu persemaian dalam menumbuhkembangkan sastra Lampung.
Tradisi Sastra Tulis
Tidak seperti sastra Jawa, Sunda, dan Bali yang sudah lama memiliki sastra modern(teks) , sastra modern berbahasa Lampung baru bisa ditandai dengan kehadiran kumpulan sajak dwibahasa Lampung Indonesia karya Udo Z. Karzi, Momentum (2002) dan Mak Dawah Mak Dibingi (2007)
Karya puisi Udo Z Karzi yang terdapat dalam antologi Momentum dan Mak Dawah Mak Dibingi tidak lagi patuh pada konvensi lama dalam tradisi perpuisian berbahasa Lampung, baik struktur maupun dalam tema. Dengan kata lain, Udo melakukan pembaruan dalam perpuisian Lampung sehingga ada yang menyebut Udo sebagai “Bapak Puisi Modern Lampung". Melalui karyanya Mak Dawah Mak Dibingi Udo Z Karzi juga berhasil membukukan prestasi dengan mengunduh Hardiah Sastra Rancage 2008.
Namun, sangat disayangkan karena pada tahun 2009 Hadiah Sastra Rancage, kembali lepas dari tangan Lampung. Pasalnya, tak satu pun buku sastra berbahasa Lampung yang diterima panitia hingga batas deadline yang ditentukan. Sangat memprihatinkan. Konon, yang jadi penyebabnya tak ada satu pun penerbit maupun sponsor di Lampung yang berminat menerbitkan karya sastra berbahasa Lampung.
Padahal pejabat dan pengusaha Lampung banyak yang berkelebihan dan konon punya Piil. Tetapi Piil-nya baru keluar kalau bersaing dalam nyaleg dan Pilkada. Mereka bisa menebar banyak rupiah untuk kampanye, tetapi pelit untuk memajukan budaya daerahnya.
Jika ke depan ingin kehidupan sastra Lampung tidak punah, terus bertumbuhkembang dan eksis, Dinas Pendidikan Provinsi Lampung beserta stake holder secara simulatan dan berkesinambungan harus terus mengagendakan program untuk mengangkat sastra Lampung dari keterpurukan. Selain itu, semua ulun Lampung juga harus punya rasa memiliki bahasa dan juga budayanya.
Program sosialisasi sastra lisan maupun tulisan Lampung melalui pendidikan baik melalui program kurikulum muatan lokal (mulok) yang disesuaikan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP) dan pelatihan untuk guru-guru kesenian merupakan langkah yang strategis dan efektif. Semoga.
* Dikirim untuk Lampung Post, tertanggal 10 Februari 2009, tetapi tidak termuat
** Christian Heru Cahyo Saputro, Direktur Jung Foundation dan Peneliti Folklor pada SEKELEK Institute Publishing House, tinggal di Lampung.
February 10, 2009
Budaya: Pemda Kurang Dukung Sastra Lampung
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Kalangan sastrawan Lampung menilai lepasnya Hadiah Sastra Rancage tahun 2009 disebabkan kurangnya dukungan pemerintah daerah terhadap sastra berbahasa Lampung.
Sastrawan Lampung Y. Wibowo mengatakan lepasnya Hadiah Sastra Rancage tahun 2009 karena masih rendahnya dukungan pemerintah daerah melalui dinas terkait terhadap perkembangan sastra Lampung. Pemerintah daerah belum mau mengangkat sastra Lampung untuk dipromosikan ke tingkat nasional.
"Pemerintah daerah mestinya mendorong sastrawan dan budayawan Lampung untuk terus berkarya bagi perkembangan sastra Lampung," kata Direktur BE Press, penerbit yang konsen dengan khazanah lokal Lampung.
Wibowo menilai karya sastra berbahasa Lampung yang dihasilkan sastrawan Lampung selama tahun 2009 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Penghargaan Rancage 2008 untuk sastrawan Lampung ternyata mampu memotivasi sastrawan lain untuk terus berkarya.
Tidak diperolahnya Rancage 2009 disebabkan keterlambatan mengirimkan karya sastra berbahasa Lampung. Selama 2008 dan awal 2009, ada dua karya sastra berbahasa Lampung yang sudah diterbitkan. Namun, karena kesalahan teknis, Panitia Hadiah Sastra Rancage tidak menerima terbitan karya sastra berbahasa lampung.
Menurut Wibowo, Hadiah Sastra Rancage tahun 2008 yang diraih sastrawan Lampung Udo Z. Karzi merupakan sebuah prestasi penting. Selama lebih dari 20 tahun Hadiah Sastra Rancage diadakan, Lampung merupakan daerah pertama yang mendapat hadiah sastra tersebut di luar Jawa dan Bali.
Wibowo juga mengatakan kalangan sastrawan juga harus terus mewacanakan pentingnya sastra dan budaya bagi sebuah daerah. Para pengambil kebijakan harus terus didorong untuk peduli dan perhatian kepada sastra dan budaya Lampung. "Para pengambil kebijakan harus disadarkan agar peduli pada perkembangan sastra dan budaya," ujarnya.
Penyair Lampung, Panji Utama, mengatakan pemerintah sudah seharusnya berperan aktif dalam melestarikan sastra dan budaya Lampung dengan menerbitkan sastra berbahasa Lampung. Panji menilai perhatian pemda terhadap sastra dan budaya masih sangat kurang.
Selain kurangnya perhatian pemda, kata Panji, sudah seharusnya Lampung memiliki penerbit yang secara berkelanjutan menerbitkan sastra berbahasa Lampung. "Para penerbit belum tertarik untuk menerbitkan karya sastra berbahasa Lampung," ujarnya.
Direktur Jung Foundation Christian Heru Cahyo juga menilai Pemerintah Provinsi Lampung belum berperan optimal dalam pengembangan sastra dan budaya Lampung. Pemprov tidak mau membantu sastrawan dalam menerbitkan karya sastra berbahasa Lampung.
Menurut Christian, adanya penghargaan Hadiah Sastra Rancage seharusnya membuat pemerintah daerah berusaha agar penghargaan tersebut jatuh ke Lampung. Panitia Hadiah Sastra Rancage telah melirik sastra Lampung. Namun, pemerintah daerah belum menempatkan sastra dan budaya Lampung sebagai sebuah potensi.
"Pemerintah Provinsi Lampung terlalu sibuk dengan program Visit Lampung Year. Tapi, tidak ada hal nyata yang dilakukan untuk melestarikan sastra dan budaya Lampung," kata Cristian. n PADLI RAMDAN/K-2
Sumber: Lampung Post, Selasa, 10 Februari 2009
Sastrawan Lampung Y. Wibowo mengatakan lepasnya Hadiah Sastra Rancage tahun 2009 karena masih rendahnya dukungan pemerintah daerah melalui dinas terkait terhadap perkembangan sastra Lampung. Pemerintah daerah belum mau mengangkat sastra Lampung untuk dipromosikan ke tingkat nasional.
"Pemerintah daerah mestinya mendorong sastrawan dan budayawan Lampung untuk terus berkarya bagi perkembangan sastra Lampung," kata Direktur BE Press, penerbit yang konsen dengan khazanah lokal Lampung.
Wibowo menilai karya sastra berbahasa Lampung yang dihasilkan sastrawan Lampung selama tahun 2009 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Penghargaan Rancage 2008 untuk sastrawan Lampung ternyata mampu memotivasi sastrawan lain untuk terus berkarya.
Tidak diperolahnya Rancage 2009 disebabkan keterlambatan mengirimkan karya sastra berbahasa Lampung. Selama 2008 dan awal 2009, ada dua karya sastra berbahasa Lampung yang sudah diterbitkan. Namun, karena kesalahan teknis, Panitia Hadiah Sastra Rancage tidak menerima terbitan karya sastra berbahasa lampung.
Menurut Wibowo, Hadiah Sastra Rancage tahun 2008 yang diraih sastrawan Lampung Udo Z. Karzi merupakan sebuah prestasi penting. Selama lebih dari 20 tahun Hadiah Sastra Rancage diadakan, Lampung merupakan daerah pertama yang mendapat hadiah sastra tersebut di luar Jawa dan Bali.
Wibowo juga mengatakan kalangan sastrawan juga harus terus mewacanakan pentingnya sastra dan budaya bagi sebuah daerah. Para pengambil kebijakan harus terus didorong untuk peduli dan perhatian kepada sastra dan budaya Lampung. "Para pengambil kebijakan harus disadarkan agar peduli pada perkembangan sastra dan budaya," ujarnya.
Penyair Lampung, Panji Utama, mengatakan pemerintah sudah seharusnya berperan aktif dalam melestarikan sastra dan budaya Lampung dengan menerbitkan sastra berbahasa Lampung. Panji menilai perhatian pemda terhadap sastra dan budaya masih sangat kurang.
Selain kurangnya perhatian pemda, kata Panji, sudah seharusnya Lampung memiliki penerbit yang secara berkelanjutan menerbitkan sastra berbahasa Lampung. "Para penerbit belum tertarik untuk menerbitkan karya sastra berbahasa Lampung," ujarnya.
Direktur Jung Foundation Christian Heru Cahyo juga menilai Pemerintah Provinsi Lampung belum berperan optimal dalam pengembangan sastra dan budaya Lampung. Pemprov tidak mau membantu sastrawan dalam menerbitkan karya sastra berbahasa Lampung.
Menurut Christian, adanya penghargaan Hadiah Sastra Rancage seharusnya membuat pemerintah daerah berusaha agar penghargaan tersebut jatuh ke Lampung. Panitia Hadiah Sastra Rancage telah melirik sastra Lampung. Namun, pemerintah daerah belum menempatkan sastra dan budaya Lampung sebagai sebuah potensi.
"Pemerintah Provinsi Lampung terlalu sibuk dengan program Visit Lampung Year. Tapi, tidak ada hal nyata yang dilakukan untuk melestarikan sastra dan budaya Lampung," kata Cristian. n PADLI RAMDAN/K-2
Sumber: Lampung Post, Selasa, 10 Februari 2009
February 9, 2009
Lomba Puisi: Aktivis UKMBS Unila Jadi Juara Satu
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Ratusan pengunjung, pelajar, dan mahasiswa terpesona mendengarkan suara lirih Fitri Yani saat membacakan puisi berjudul Umpama Gerhana di Palestina.
Para pengunjung sudah bisa membayangkan, betapa dari ribuan korban Palestina, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.
Sebagai perempuan, aktivis UKMBS Unila ini mampu menghayati puisi tersebut. Tak heran ketika Fitriyani dipilih sebagai juara I dalam Lomba Puisi Pelajar dan Mahasiswa yang diselenggarakan oleh Gerakan Pemuda Ansor Lampung, Sabtu (7-2).
Selanjutnya, juara II Agit Yoga Subandi, juara III Yesi Arnita. Untuk kategori puisi terbaik I Didi Arsandi, puisi terbaik II Ida Munfarida, dan puisi terbaik III Bayu Setiawan.
Untuk kategori penampilan terbaik adalah Nining Suryani, kedua Zaza Pregina, dan ketiga Amelia. Sedangkan favorit I adalah V. Febriyanti Junaidi, favorit II Kadek Mela W., dan favorit III Brigis Wulandari.
Ketua panitia Yusrizal Karana mengatakan puisi menjadi wadah universal yang bisa menyampaikan suatu peristiwa dengan kedalaman dan kejernihan.
Lomba puisi itu sebagai media untuk menyampaikan rasa empati dan keprihatinan atas tragedi Palestina. Setiap peserta diminta membuat naskah puisi bertema Ansor save Palestine.
Naskah harus orisinal, tidak boleh jiplakan ataupun terjemahan. Pada seleksi tahap awal, lebih dari 200 naskah puisi diterima panitia.
Tim juri yang terdiri dari Saiful Irba Tanpaka dan Isbedy Setiawan Z.S. dari Dewan Kesenian Lampung (DKL) dan Yusrizal Karana dari GP Ansor menyaring 20 finalis untuk membacakan puisi di depan dewan juri dan tamu undangan.
Ketua GP Ansor Lampung Muhammad Aqil Irham mengatakan tragedi Palestina merupakan tragedi kemanusiaan yang paling memprihatinkan pada abad 21 ini.
"Puisi dan sastra salah satu artikulasi nurani untuk melakukan kontrol atas tragedi-tragedi kemanusiaan, seperti tragedi yang terjadi di Palestina," kata Aqil.
Acara semakin meriah dengan pembacaan puisi oleh tokoh lintas agama dan tokoh masyarat, seperti Almuzammil Yusuf (anggota DPR), Sya'roni Ma'shum (Kakanwil Departemen Agama Provinsi Lampung), Pendeta Reva Natigor, I Made Suarjaya (Ketua Perhimpunan Pemuda Hindu Lampung), H. Dayat Sutan Sati (tokoh masyarakat), Isbedy Stiawan (penyair), Saiful Irba Tanpaka (penyair), dan Maskut Candranegara (Wasekjen PP GP Ansor). Turut hadir Sekretaris DKL Harry Jayaningrat dan Kepala Dinas Sosial dr. H. Muhammad Farich.
Beberapa pengunjung tampak terenyuh menyaksikan pameran foto korban tragedi Palestina dan pemutaran video kekejaman di Palestina yang merupakan sumbangan Komisi Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP).
Di sela acara, GP Ansor mengumpulkan tanda-tangan tokoh dan masyarakat Lampung sebagai bentuk dukungan untuk rakyat Palestina. Dari para undangan, peserta dan pengunjung Plaza Lotus terkumpul 1.500 tanda tangan dalam kain putih ukuran 4 X 3 meter, selanjutnya akan dipasang di Tugu Adipura. n RIN/K-1
Sumber: Lampung Post, Senin, 9 Februari 2009
Para pengunjung sudah bisa membayangkan, betapa dari ribuan korban Palestina, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.
Sebagai perempuan, aktivis UKMBS Unila ini mampu menghayati puisi tersebut. Tak heran ketika Fitriyani dipilih sebagai juara I dalam Lomba Puisi Pelajar dan Mahasiswa yang diselenggarakan oleh Gerakan Pemuda Ansor Lampung, Sabtu (7-2).
Selanjutnya, juara II Agit Yoga Subandi, juara III Yesi Arnita. Untuk kategori puisi terbaik I Didi Arsandi, puisi terbaik II Ida Munfarida, dan puisi terbaik III Bayu Setiawan.
Untuk kategori penampilan terbaik adalah Nining Suryani, kedua Zaza Pregina, dan ketiga Amelia. Sedangkan favorit I adalah V. Febriyanti Junaidi, favorit II Kadek Mela W., dan favorit III Brigis Wulandari.
Ketua panitia Yusrizal Karana mengatakan puisi menjadi wadah universal yang bisa menyampaikan suatu peristiwa dengan kedalaman dan kejernihan.
Lomba puisi itu sebagai media untuk menyampaikan rasa empati dan keprihatinan atas tragedi Palestina. Setiap peserta diminta membuat naskah puisi bertema Ansor save Palestine.
Naskah harus orisinal, tidak boleh jiplakan ataupun terjemahan. Pada seleksi tahap awal, lebih dari 200 naskah puisi diterima panitia.
Tim juri yang terdiri dari Saiful Irba Tanpaka dan Isbedy Setiawan Z.S. dari Dewan Kesenian Lampung (DKL) dan Yusrizal Karana dari GP Ansor menyaring 20 finalis untuk membacakan puisi di depan dewan juri dan tamu undangan.
Ketua GP Ansor Lampung Muhammad Aqil Irham mengatakan tragedi Palestina merupakan tragedi kemanusiaan yang paling memprihatinkan pada abad 21 ini.
"Puisi dan sastra salah satu artikulasi nurani untuk melakukan kontrol atas tragedi-tragedi kemanusiaan, seperti tragedi yang terjadi di Palestina," kata Aqil.
Acara semakin meriah dengan pembacaan puisi oleh tokoh lintas agama dan tokoh masyarat, seperti Almuzammil Yusuf (anggota DPR), Sya'roni Ma'shum (Kakanwil Departemen Agama Provinsi Lampung), Pendeta Reva Natigor, I Made Suarjaya (Ketua Perhimpunan Pemuda Hindu Lampung), H. Dayat Sutan Sati (tokoh masyarakat), Isbedy Stiawan (penyair), Saiful Irba Tanpaka (penyair), dan Maskut Candranegara (Wasekjen PP GP Ansor). Turut hadir Sekretaris DKL Harry Jayaningrat dan Kepala Dinas Sosial dr. H. Muhammad Farich.
Beberapa pengunjung tampak terenyuh menyaksikan pameran foto korban tragedi Palestina dan pemutaran video kekejaman di Palestina yang merupakan sumbangan Komisi Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP).
Di sela acara, GP Ansor mengumpulkan tanda-tangan tokoh dan masyarakat Lampung sebagai bentuk dukungan untuk rakyat Palestina. Dari para undangan, peserta dan pengunjung Plaza Lotus terkumpul 1.500 tanda tangan dalam kain putih ukuran 4 X 3 meter, selanjutnya akan dipasang di Tugu Adipura. n RIN/K-1
Sumber: Lampung Post, Senin, 9 Februari 2009
February 8, 2009
Wacana: Rancage, Sastra, dan Budaya Lampung
Oleh Udo Z. Karzi*
TAHUN yang lalu, Hadiah Sastra Rancage juga diberikan kepada sastrawan yang menerbitkan buku dalam bahasa Lampung. Ternyata seperti yang kami khawatirkan, usaha penerbitan dalam bahasa Lampung itu tidak dapat dilaksanakan secara kontinu. Dalam 2008, tak ada buku yang terbit dalam bahasa Lampung, sehingga untuk Hadiah Sastra Rancage 2009 hadiah untuk bahasa Lampung tidak dapat diberikan.
Kekhawatiran seperti itu sebenarnya wajar karena penerbitan buku bahasa ibu dalam bahasa Sunda, Jawa, dan Bali juga--walaupun ada saja yang terbit setiap tahun--bukanlah usaha yang menjanjikan hari depan secara bisnis. Karena itu ketika beberapa waktu yang lalu kami diberitahu bahwa ada buku yang terbit dalam bahasa Madura, kami tidak segera menyambutnya dengan menyediakan Hadiah Sastra Rancage buat pengarang dalam bahasa Madura. Kami khawatir terjadi lagi apa yang sudah terjadi dengan bahasa Lampung.
(Petikan Keputusan Hadiah Sastra Rancage 2009 yang ditandatangani Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi).
Dan, lonceng kematian (semoga sementara) itu berbunyi: Hadiah Sastra Rancage 2009 untuk Lampung tidak diberikan kepada pengarang Lampung. Saya sungguh terpukul dengan kabar buruk ini. Dalam bahasa Irfan Anshory, ulun Lampung yang kini tinggal di Bandung, "Malu kita!"
Untungnya Sekretaris Yayasan Kebudayaan Rancage sedikit memberikan hiburan dengan mengatakan, jika ada terbitan buku sastra berbahasa Lampung terbit 2008, bisa diikutkan Rancage 2010. Dia berharap kesalahan teknis ini tidak mengganggu kontinuitas penerbitan sastra Lampung.
Lalu, saya pun tenggelam dalam dunia idealisasi bagaimana seharusnya mengembangkan sastra berbahasa Lampung. Buku Mak Dawah Mak Dibingi (BE Press, 2007) dan Hadiah Sastra Rancage 2008 sebenarnya hanyalah pintu masuk saja bagi sebuah upaya memperjuangkan keberadaan bahasa dan sastra Lampung. Setelah ini, para seniman (sastrawan) Lampung dalam arti sastrawan yang menggunakan bahasa Lampung sebagai media kreativitasnya, harus tetap berupaya melahirkan karya-karya sastra berbahasa Lampung. Minimal dua dalam setahun.
Saya sangat berharap setelah Hadiah Sastra Rancage 2008 diberikan kepada sastra Lampung, kehidupan sastra berbahasa Lampung semakin bertambah dinamis. Paling tidak, ada semacam kebangkitan sastra berbahasa Lampung seiring dengan tumbuhnya "kepercayaan diri" penutur bahasa Lampung bahwa ternyata bahasa Lampung bisa bergaya, bahasa Lampung bisa berdaya, dan bahasa Lampung bisa modern. Bahwa bahasa Lampung bisa menjadi media ekspresi imajinatif-kreatif, sehingga bisa melahirkan karya sastra sebagaimana bahasa-sastra Sunda, Jawa, dan Bali.
Sejak awal--katakanlah semenjak terbitnya buku puisi dwibahasa Lampung-Indonesia, Momentum (2002)--sebenarnya saya mengajak orang Lampung untuk menulis sastra dalam bahasa ibunya: bahasa Lampung. Tapi, betapa sulitnya karena kebanyakan orang Lampung (bersuku Lampung), terutama kaum muda justru sulit berbicara bahasa Lampung. Berbicara saja susah, apalagi hendak menjadi penulis sastra berbahasa Lampung.
Yang terjadi kemudian adalah betapa orang Lampung semakin gencar mementaskan sastra (tradisi) lisan Lampung. Berbagai proyek pun digelar semacam pelatihan sastra lisan Lampung. Saya sih setuju saja, tetapi saya hanya menyayangkan para seniman Lampung lebih asyik-masyuk dengan tradisi kelisanan itu. Ada juga yang mendokumentasikan sastra tradisi lisan itu dalam bentuk rekaman atau buku.
Namun, tradisi kepenulisan sastra berbahasa Lampung tak bergerak-gerak juga. Dengan latar itulah, saya menulis dengan bahasa Lampung. Setidaknya, ini sebuah upaya saja agar bahasa Lampung tak benar-benar terkubur.
Sebenarnya tidak ada kendala dalam menulis karya sastra Lampung. Masalahnya lebih terkait dengan masalah komitmen untuk--sebenar-benarnya--mengembangkan bahasa-sastra-budaya Lampung. Mana bisa membangun bahasa-sastra-budaya Lampung dengan sikap yang kelewat pragmatis, materialistis, serta penuh dengan perhitungan untung-rugi atau dengan mental "saya harus mendapatkan sesuatu kerja ini".
Wah, menerbitkan buku sastra berbahasa Lampung itu dijamin rugi. Tapi, dalam jangka panjang buku sastra Lampung itu mempunyai nilai strategis bagi perjalanan bahasa-budaya Lampung itu. Tapi, kebanyakan kita tidak mau berpikir ke arah sana.
Saya berharap bahasa Lampung tetap eksis, berkembang, dan mampu menjadi bahasa kreasi bagi penuturnya. Saya yakin bisa asal ada upaya yang sungguh-sungguh untuk menjaga, melestarikan, memberdayagunakan, dan membuat bahasa Lampung lebih bergengsi. Sebab, bahasa Lampung adalah penopang utama kebudayaan Lampung. Kalau bahasa Lampung punah jelas pula yang disebut kebudayaan Lampung kiamat.
Yayasan Kebudayaan Rancage memutuskan memberikan penghargaan kepada sastra Lampung tahun 2008 dengan harapan agar kehidupan sastra (berbahasa) Lampung menjadi lebih dinamis. Setelah Hadiah Sastra Rancage 2008 diberikan kepada Mak Dawah Mak Dibingi, tidak bisa tidak setiap tahun harus ada buku sastra Lampung yang masuk penilaian Rancage. Sebab, sejak 2008 Yayasan Kebudayaan Rancage akan rutin memberikan Hadiah Rancage untuk sastra empat bahasa Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung. Dengan kata lain, tidak ada pilihan lain, Lampung harus menerbitkan buku sasta Lampung minimal dua buku satu tahun. Tidak boleh putus.
Karena itu, pemda, penerbit buku, perguruan tinggi, usahawan, sastrawan, dan masyarakat Lampung harus benar-benar mau menyisihkan waktu, tenaga, dan dana untuk membangun tradisi baru bahasa dan sastra Lampung: menulis dan menerbitkan sastra Lampung!
Saya masih berharap masih ada "orang gila" dalam arti mau menerbitkan buku sastra Lampung dengan segala risikonya. Saya tengah menanti!
* Udo Z. Karzi, buku puisinya Mak Dawah Mak Dibingi (2007) menerima Hadiah Sastra Rancage 2008
Sumber: Lampung Post, Minggu, 8 Februari 2009
TAHUN yang lalu, Hadiah Sastra Rancage juga diberikan kepada sastrawan yang menerbitkan buku dalam bahasa Lampung. Ternyata seperti yang kami khawatirkan, usaha penerbitan dalam bahasa Lampung itu tidak dapat dilaksanakan secara kontinu. Dalam 2008, tak ada buku yang terbit dalam bahasa Lampung, sehingga untuk Hadiah Sastra Rancage 2009 hadiah untuk bahasa Lampung tidak dapat diberikan.
Kekhawatiran seperti itu sebenarnya wajar karena penerbitan buku bahasa ibu dalam bahasa Sunda, Jawa, dan Bali juga--walaupun ada saja yang terbit setiap tahun--bukanlah usaha yang menjanjikan hari depan secara bisnis. Karena itu ketika beberapa waktu yang lalu kami diberitahu bahwa ada buku yang terbit dalam bahasa Madura, kami tidak segera menyambutnya dengan menyediakan Hadiah Sastra Rancage buat pengarang dalam bahasa Madura. Kami khawatir terjadi lagi apa yang sudah terjadi dengan bahasa Lampung.
(Petikan Keputusan Hadiah Sastra Rancage 2009 yang ditandatangani Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi).
Dan, lonceng kematian (semoga sementara) itu berbunyi: Hadiah Sastra Rancage 2009 untuk Lampung tidak diberikan kepada pengarang Lampung. Saya sungguh terpukul dengan kabar buruk ini. Dalam bahasa Irfan Anshory, ulun Lampung yang kini tinggal di Bandung, "Malu kita!"
Untungnya Sekretaris Yayasan Kebudayaan Rancage sedikit memberikan hiburan dengan mengatakan, jika ada terbitan buku sastra berbahasa Lampung terbit 2008, bisa diikutkan Rancage 2010. Dia berharap kesalahan teknis ini tidak mengganggu kontinuitas penerbitan sastra Lampung.
Lalu, saya pun tenggelam dalam dunia idealisasi bagaimana seharusnya mengembangkan sastra berbahasa Lampung. Buku Mak Dawah Mak Dibingi (BE Press, 2007) dan Hadiah Sastra Rancage 2008 sebenarnya hanyalah pintu masuk saja bagi sebuah upaya memperjuangkan keberadaan bahasa dan sastra Lampung. Setelah ini, para seniman (sastrawan) Lampung dalam arti sastrawan yang menggunakan bahasa Lampung sebagai media kreativitasnya, harus tetap berupaya melahirkan karya-karya sastra berbahasa Lampung. Minimal dua dalam setahun.
Saya sangat berharap setelah Hadiah Sastra Rancage 2008 diberikan kepada sastra Lampung, kehidupan sastra berbahasa Lampung semakin bertambah dinamis. Paling tidak, ada semacam kebangkitan sastra berbahasa Lampung seiring dengan tumbuhnya "kepercayaan diri" penutur bahasa Lampung bahwa ternyata bahasa Lampung bisa bergaya, bahasa Lampung bisa berdaya, dan bahasa Lampung bisa modern. Bahwa bahasa Lampung bisa menjadi media ekspresi imajinatif-kreatif, sehingga bisa melahirkan karya sastra sebagaimana bahasa-sastra Sunda, Jawa, dan Bali.
Sejak awal--katakanlah semenjak terbitnya buku puisi dwibahasa Lampung-Indonesia, Momentum (2002)--sebenarnya saya mengajak orang Lampung untuk menulis sastra dalam bahasa ibunya: bahasa Lampung. Tapi, betapa sulitnya karena kebanyakan orang Lampung (bersuku Lampung), terutama kaum muda justru sulit berbicara bahasa Lampung. Berbicara saja susah, apalagi hendak menjadi penulis sastra berbahasa Lampung.
Yang terjadi kemudian adalah betapa orang Lampung semakin gencar mementaskan sastra (tradisi) lisan Lampung. Berbagai proyek pun digelar semacam pelatihan sastra lisan Lampung. Saya sih setuju saja, tetapi saya hanya menyayangkan para seniman Lampung lebih asyik-masyuk dengan tradisi kelisanan itu. Ada juga yang mendokumentasikan sastra tradisi lisan itu dalam bentuk rekaman atau buku.
Namun, tradisi kepenulisan sastra berbahasa Lampung tak bergerak-gerak juga. Dengan latar itulah, saya menulis dengan bahasa Lampung. Setidaknya, ini sebuah upaya saja agar bahasa Lampung tak benar-benar terkubur.
Sebenarnya tidak ada kendala dalam menulis karya sastra Lampung. Masalahnya lebih terkait dengan masalah komitmen untuk--sebenar-benarnya--mengembangkan bahasa-sastra-budaya Lampung. Mana bisa membangun bahasa-sastra-budaya Lampung dengan sikap yang kelewat pragmatis, materialistis, serta penuh dengan perhitungan untung-rugi atau dengan mental "saya harus mendapatkan sesuatu kerja ini".
Wah, menerbitkan buku sastra berbahasa Lampung itu dijamin rugi. Tapi, dalam jangka panjang buku sastra Lampung itu mempunyai nilai strategis bagi perjalanan bahasa-budaya Lampung itu. Tapi, kebanyakan kita tidak mau berpikir ke arah sana.
Saya berharap bahasa Lampung tetap eksis, berkembang, dan mampu menjadi bahasa kreasi bagi penuturnya. Saya yakin bisa asal ada upaya yang sungguh-sungguh untuk menjaga, melestarikan, memberdayagunakan, dan membuat bahasa Lampung lebih bergengsi. Sebab, bahasa Lampung adalah penopang utama kebudayaan Lampung. Kalau bahasa Lampung punah jelas pula yang disebut kebudayaan Lampung kiamat.
Yayasan Kebudayaan Rancage memutuskan memberikan penghargaan kepada sastra Lampung tahun 2008 dengan harapan agar kehidupan sastra (berbahasa) Lampung menjadi lebih dinamis. Setelah Hadiah Sastra Rancage 2008 diberikan kepada Mak Dawah Mak Dibingi, tidak bisa tidak setiap tahun harus ada buku sastra Lampung yang masuk penilaian Rancage. Sebab, sejak 2008 Yayasan Kebudayaan Rancage akan rutin memberikan Hadiah Rancage untuk sastra empat bahasa Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung. Dengan kata lain, tidak ada pilihan lain, Lampung harus menerbitkan buku sasta Lampung minimal dua buku satu tahun. Tidak boleh putus.
Karena itu, pemda, penerbit buku, perguruan tinggi, usahawan, sastrawan, dan masyarakat Lampung harus benar-benar mau menyisihkan waktu, tenaga, dan dana untuk membangun tradisi baru bahasa dan sastra Lampung: menulis dan menerbitkan sastra Lampung!
Saya masih berharap masih ada "orang gila" dalam arti mau menerbitkan buku sastra Lampung dengan segala risikonya. Saya tengah menanti!
* Udo Z. Karzi, buku puisinya Mak Dawah Mak Dibingi (2007) menerima Hadiah Sastra Rancage 2008
Sumber: Lampung Post, Minggu, 8 Februari 2009
Apresiasi: Seni Tanpa Jaminan Sosial: Selamat Datang!
Oleh Asarpin*
MASIH perlukah kita mempersoalkan seni dalam hubungannya dengan soal-besar kemanusiaan? Masih relevankah mengaitkan teater ke dalam sudut pandang teori fungsional? Untuk apakah sesungguhnya pertunjukan teater digelar dengan dana besar selama ini?
Saya akan menjawab: Masih! Sebab, seni--termasuk teater--berada pada wilayah yang senantiasa mengalami ketegangan antara bersifat pribadi dan komitmen sosial. Tema klasik dalam kesenian ini--juga dalam pemikiran pada umumnya--akan tetap menjadi perdebatan tak selesai.
Tak perlu disikapi dengan cemas jika Iswadi masih mempersoalkan peran dan fungsi sesungguhnya dari teater masa kini dalam esainya di harian ini. Jalankah dan jelajahi saja apa yang kau mau dari teater yang kau suguhkan pada penonton, tanpa merasa rendah diri hanya karena tak ada jaminan sosial yang ditawarkan. Seni akan terus berada dalam ketegangan antara bersifat pribadi dan komitmen sosial.
Iswadi sendiri mengalami kegamangan, kalau bukan paradoks. Di satu sisi Iswadi seperti sedang membela kesunyian seni dan menempatkan teater monolog batin sebagai pilihan dari kerja kreatif. Tapi, di sisi lain Iswadi tampak masih memberi harapan pada pemerintah untuk menjadikan teater bukan sebagai anak haram karena apa yang selama ini diupayakan terus-menerus oleh insan-insan teater itu pada dasarnya bukanlah untuk diri mereka sendiri. Melainkan pula untuk lingkungan; masyarakat dan bangsa. Jadi, sudah sewajarnya jika pemerintah, swasta, dan masyarakat turut men-support mereka untuk menunaikan perannya.
Saya khawatir Iswadi akan kecewa jika terlalu berharap pada pemerintah untuk mengurus seni. Banyak sekali urusan pemerintah kini di bidang sosial, ekonomi, dan politik. Jaringan seni bukan Jaringan Pengaman Sosial (JPS), karena itu tak usahlah merengek-rengek agar pemerintah mengalokasikan program seni dalam APBD/APBN 20%! Atau agar Undang-Undang Pemilu direvisi dengan memasukkan kuota 30% bagi seniman!
Seandainya Iswadi mau jujur dengan selera estetiknya, saya kira Iswadi tak perlu gamang karena selama ini orang tahu di mana posisi Iswadi dalam seni dan pemikiran. Sudah tentu saya akan membela Iswadi jika ia bersikap emoh mengaitkan seni dengan komitmen sosial. Karena sudah pasti kerja estetiknya selama ini akan cedera jika melulu dilihat dari guna dan faedah, peran dan fungsi sosialnya.
Sejak lama kita tahu, seni bukanlah sembilan dari sepuluh bahan pokok. Seni lebih sering memakan biaya ketimbang menjadi sumber dana bagi negara. Namun, hidup tanpa seni, saya tak bisa membayangkan bagaimana sebuah negeri besar seperti Indonesia berlangsung. Seni tak serta-merta mengubah dunia. Bahkan, tak mungkin bermimpi menjadikan seni sebagai instrumen perubahan, lokomotif bagi kereta yang menggilas kemiskinan dan ketidakadilan.
Seni adalah milik senimannya, karena itu seni tak mungkin dilepaskan dari pribadi. Biarkan orang menuduh seni sebagai kemewahan terselubung seperti sering disinggung banyak orang beberapa tahun lalu, dan mungkin juga akan terus terpencil dari kehidupan yang mengejar serbabesar lewat perjuangan dan tanggung jawab.
Justru karena seni sulit ditakar dengan fungsi dan manfaatnya bagi kehidupan sosial dan politik, seni bukanlah risalah sosial yang munafik. Tak perlu memaksakan seni bergema atau membahana. Seni jujur pada dirinya, termasuk jujur untuk emoh terhadap hal-ikhwal yang besar dan berguna. Saya kira sikap Goenawan Mohamad mewakili sikap seni sebagai wilayah pribadi tanpa harus memaksakan diri mengaitkan seni jadi maklumat sosial.
Justru karena seni bergerak di dalam keadaan tanpa gema itulah atau bunyi yang lain dari tepian kecil yan tak kunjung jelas itulah, kata Goenawan, seni bisa membebaskan kita dari hidup yang jadi komoditas; hidup yang diinstrumentalisasi.
Tentu kata membebaskan di situ beragam maksudnya, tapi kita tahu siapa yang mengatakan itu. Goenawan tidak sedang bicara membebaskan rakyat dari kemiskinian, membebaskan ketidakadilan menjadi sama rata sama rasa. Goenawan seorang penyair yang senantiasa menaruh tanda tanya pada satuan-satuan besar. Bisa jadi kata membebaskan dimaksudkan sebagai membebaskan pikiran sendiri dari kepicikan, dari keterbelengguan paham dan aliran, menjadi diri yang kreatif dan merdeka.
Kehadiran seni di tengah-tengah percaturan sosial dan politik justru bisa memebebaskan kita dari hidup yang jadi komoditas. Saya tak percaya ada sebuah negeri atau bangsa yang tak membutuhkan puisi dan pemikiran, kecuali jika bangsa itu sedang karam dalam segala bidang.
Dalam proses sejarah negeri pascakolonial ini, justru tak jarang saya merasakan bagaimana seni yang melahirkan suatu penjelajahan yang kreatif itu mampu mengejutkan dan mengguncang, seperti teater skizofrenia Rendra yang menohok sekembalinya dari studi di Amerika. Biarkan seni akan dianggap sebagai dusta atau pendurhakaan. Tak usah memaksakan diri ingin terlibat.
Iswadi bukanlah politikus yang pandai menyedot perhatian massa rakyat untuk berduyun-duyun mengepalkan tinju dan berteriak dengan mikrofon di jalan-jalan raya kota maupun desa. Iswadi seorang sunyi-diri dan pandai memintal kata, menyusun permadani kata jadi bercahaya bening terbening, mengolah nyanyian jiwa dan gebalau pikiran yang sedang memuncak.
Seni akan lebih nyeni justru karena sifatnya tidak pasti, tidak mutlak-mutlakan, ragu, dan bimbang. Tak usahlah kita meminta memaksakan diri untuk menjadikan seni memberi penyelesaian dan tanggap-darurat. Seni adalah wilayah yang abu-abu, terpecah tapi kreatif.
Mengapa saya suka pada sesuatu yang kreatif, yang membebaskan, yang merdeka, yang mengejutkan dan mengguncang, seperti teater? Bukankah cukup hidup dengan harmoni yang tenteram, seperti dulu orang menyebut "kita orang Timur" yang punya adat sopan-santun? Apakah manfaatnya keresahan, kecemasan, dan kebimbangan kecuali hanya akan mengantarkan Indonesia dalam keterpurukan? Bukankah agama-agama justru menekankan keyakinan, kepastian, penyelesaian, dan hampir tak memberi tempat pada keterpecahan, kebimbangan, kemurungan, keraguan?
Bisa jadi memang demikian, jika hidup melulu diukur dari guna dan faedah dan tata yang tenteram. Tapi sebuah negeri berdiri tak cuma ditopang risalah sosial, dogma, manfaat, tata dan guna.
Apalagi dengan sederet panjang perintah dan komando. Malah mereka yang terlampau mengejar keluhuran seni sering tak memberi apa-apa dibanding dengan mereka yang berjerih dengan kreativitas yang mengejutkan dan mengguncang ketertiban dan menohok stabilitas. Peradaban suatu bangsa Astina dibangun para Dewa dari puing-puing kesunyian dan kecemasan. Tidak ada bangsa yang jadi begitu saja. Tidak ada jalan yang lempang dan lurus ke surga, apalagi hanya satu jalan sosial.
Sudah terlampau banyak suara-suara sumbang yang kita dengar setiap hari. Di masjid, di gereja, di istana dan kantor DPRD, juga di pasar, tapi jarang orang mengakui dengan jujur untuk sekadar menarik diri sejenak ke dalam pergulatan diri yang sunyi dan refleksi melalui puisi dan pemikiran. Seakan-akan kata-kata terakhir ini tak memiliki arti bagi keduniawian. Seakan-akan hidup mesti selalu tegas, total, dan mutlak, selesai, dan bila perlu disampaikan dengan membahana.
Karena kita hidup abad ke-21, ketika manusia tak akan lagi melahirkan sebuah bintang sejak Zarahustra-nya Nietzsche lahir dari sang pencinta Tuhan yang menari, nikmati saja seni tanpa jaminan sosial. Seni cuma mencari janji, bukan memberi sesuatu yang pasti.
Bukan jalan tengah antara sens dan nonsens yang aku cari, melainkan justru karena seni lebih sering bersifat nonsens, aku suka pada seni. Karena seni sebagai nonsens pula, maka aku ucapkan selamat datang! Sebab kita tak tahu pasti apakah nonsens justru adalah sens, seperti kata Iwan Simatupang; manusia sendiri tidak pernah mengerti apakah tidur dan mimpi justru merupakan keadan bangun kita yang sesungguhnya, dan apakah yang hingga kini kita anggap sebagai keadaan bangun itu bukan keadaan kita yang sedang tidur dan bermimpi sesungguhnya.
* Asarpin, pembaca sastra
Sumber: Lampung Post, Minggu, 8 Februari 2009
MASIH perlukah kita mempersoalkan seni dalam hubungannya dengan soal-besar kemanusiaan? Masih relevankah mengaitkan teater ke dalam sudut pandang teori fungsional? Untuk apakah sesungguhnya pertunjukan teater digelar dengan dana besar selama ini?
Saya akan menjawab: Masih! Sebab, seni--termasuk teater--berada pada wilayah yang senantiasa mengalami ketegangan antara bersifat pribadi dan komitmen sosial. Tema klasik dalam kesenian ini--juga dalam pemikiran pada umumnya--akan tetap menjadi perdebatan tak selesai.
Tak perlu disikapi dengan cemas jika Iswadi masih mempersoalkan peran dan fungsi sesungguhnya dari teater masa kini dalam esainya di harian ini. Jalankah dan jelajahi saja apa yang kau mau dari teater yang kau suguhkan pada penonton, tanpa merasa rendah diri hanya karena tak ada jaminan sosial yang ditawarkan. Seni akan terus berada dalam ketegangan antara bersifat pribadi dan komitmen sosial.
Iswadi sendiri mengalami kegamangan, kalau bukan paradoks. Di satu sisi Iswadi seperti sedang membela kesunyian seni dan menempatkan teater monolog batin sebagai pilihan dari kerja kreatif. Tapi, di sisi lain Iswadi tampak masih memberi harapan pada pemerintah untuk menjadikan teater bukan sebagai anak haram karena apa yang selama ini diupayakan terus-menerus oleh insan-insan teater itu pada dasarnya bukanlah untuk diri mereka sendiri. Melainkan pula untuk lingkungan; masyarakat dan bangsa. Jadi, sudah sewajarnya jika pemerintah, swasta, dan masyarakat turut men-support mereka untuk menunaikan perannya.
Saya khawatir Iswadi akan kecewa jika terlalu berharap pada pemerintah untuk mengurus seni. Banyak sekali urusan pemerintah kini di bidang sosial, ekonomi, dan politik. Jaringan seni bukan Jaringan Pengaman Sosial (JPS), karena itu tak usahlah merengek-rengek agar pemerintah mengalokasikan program seni dalam APBD/APBN 20%! Atau agar Undang-Undang Pemilu direvisi dengan memasukkan kuota 30% bagi seniman!
Seandainya Iswadi mau jujur dengan selera estetiknya, saya kira Iswadi tak perlu gamang karena selama ini orang tahu di mana posisi Iswadi dalam seni dan pemikiran. Sudah tentu saya akan membela Iswadi jika ia bersikap emoh mengaitkan seni dengan komitmen sosial. Karena sudah pasti kerja estetiknya selama ini akan cedera jika melulu dilihat dari guna dan faedah, peran dan fungsi sosialnya.
Sejak lama kita tahu, seni bukanlah sembilan dari sepuluh bahan pokok. Seni lebih sering memakan biaya ketimbang menjadi sumber dana bagi negara. Namun, hidup tanpa seni, saya tak bisa membayangkan bagaimana sebuah negeri besar seperti Indonesia berlangsung. Seni tak serta-merta mengubah dunia. Bahkan, tak mungkin bermimpi menjadikan seni sebagai instrumen perubahan, lokomotif bagi kereta yang menggilas kemiskinan dan ketidakadilan.
Seni adalah milik senimannya, karena itu seni tak mungkin dilepaskan dari pribadi. Biarkan orang menuduh seni sebagai kemewahan terselubung seperti sering disinggung banyak orang beberapa tahun lalu, dan mungkin juga akan terus terpencil dari kehidupan yang mengejar serbabesar lewat perjuangan dan tanggung jawab.
Justru karena seni sulit ditakar dengan fungsi dan manfaatnya bagi kehidupan sosial dan politik, seni bukanlah risalah sosial yang munafik. Tak perlu memaksakan seni bergema atau membahana. Seni jujur pada dirinya, termasuk jujur untuk emoh terhadap hal-ikhwal yang besar dan berguna. Saya kira sikap Goenawan Mohamad mewakili sikap seni sebagai wilayah pribadi tanpa harus memaksakan diri mengaitkan seni jadi maklumat sosial.
Justru karena seni bergerak di dalam keadaan tanpa gema itulah atau bunyi yang lain dari tepian kecil yan tak kunjung jelas itulah, kata Goenawan, seni bisa membebaskan kita dari hidup yang jadi komoditas; hidup yang diinstrumentalisasi.
Tentu kata membebaskan di situ beragam maksudnya, tapi kita tahu siapa yang mengatakan itu. Goenawan tidak sedang bicara membebaskan rakyat dari kemiskinian, membebaskan ketidakadilan menjadi sama rata sama rasa. Goenawan seorang penyair yang senantiasa menaruh tanda tanya pada satuan-satuan besar. Bisa jadi kata membebaskan dimaksudkan sebagai membebaskan pikiran sendiri dari kepicikan, dari keterbelengguan paham dan aliran, menjadi diri yang kreatif dan merdeka.
Kehadiran seni di tengah-tengah percaturan sosial dan politik justru bisa memebebaskan kita dari hidup yang jadi komoditas. Saya tak percaya ada sebuah negeri atau bangsa yang tak membutuhkan puisi dan pemikiran, kecuali jika bangsa itu sedang karam dalam segala bidang.
Dalam proses sejarah negeri pascakolonial ini, justru tak jarang saya merasakan bagaimana seni yang melahirkan suatu penjelajahan yang kreatif itu mampu mengejutkan dan mengguncang, seperti teater skizofrenia Rendra yang menohok sekembalinya dari studi di Amerika. Biarkan seni akan dianggap sebagai dusta atau pendurhakaan. Tak usah memaksakan diri ingin terlibat.
Iswadi bukanlah politikus yang pandai menyedot perhatian massa rakyat untuk berduyun-duyun mengepalkan tinju dan berteriak dengan mikrofon di jalan-jalan raya kota maupun desa. Iswadi seorang sunyi-diri dan pandai memintal kata, menyusun permadani kata jadi bercahaya bening terbening, mengolah nyanyian jiwa dan gebalau pikiran yang sedang memuncak.
Seni akan lebih nyeni justru karena sifatnya tidak pasti, tidak mutlak-mutlakan, ragu, dan bimbang. Tak usahlah kita meminta memaksakan diri untuk menjadikan seni memberi penyelesaian dan tanggap-darurat. Seni adalah wilayah yang abu-abu, terpecah tapi kreatif.
Mengapa saya suka pada sesuatu yang kreatif, yang membebaskan, yang merdeka, yang mengejutkan dan mengguncang, seperti teater? Bukankah cukup hidup dengan harmoni yang tenteram, seperti dulu orang menyebut "kita orang Timur" yang punya adat sopan-santun? Apakah manfaatnya keresahan, kecemasan, dan kebimbangan kecuali hanya akan mengantarkan Indonesia dalam keterpurukan? Bukankah agama-agama justru menekankan keyakinan, kepastian, penyelesaian, dan hampir tak memberi tempat pada keterpecahan, kebimbangan, kemurungan, keraguan?
Bisa jadi memang demikian, jika hidup melulu diukur dari guna dan faedah dan tata yang tenteram. Tapi sebuah negeri berdiri tak cuma ditopang risalah sosial, dogma, manfaat, tata dan guna.
Apalagi dengan sederet panjang perintah dan komando. Malah mereka yang terlampau mengejar keluhuran seni sering tak memberi apa-apa dibanding dengan mereka yang berjerih dengan kreativitas yang mengejutkan dan mengguncang ketertiban dan menohok stabilitas. Peradaban suatu bangsa Astina dibangun para Dewa dari puing-puing kesunyian dan kecemasan. Tidak ada bangsa yang jadi begitu saja. Tidak ada jalan yang lempang dan lurus ke surga, apalagi hanya satu jalan sosial.
Sudah terlampau banyak suara-suara sumbang yang kita dengar setiap hari. Di masjid, di gereja, di istana dan kantor DPRD, juga di pasar, tapi jarang orang mengakui dengan jujur untuk sekadar menarik diri sejenak ke dalam pergulatan diri yang sunyi dan refleksi melalui puisi dan pemikiran. Seakan-akan kata-kata terakhir ini tak memiliki arti bagi keduniawian. Seakan-akan hidup mesti selalu tegas, total, dan mutlak, selesai, dan bila perlu disampaikan dengan membahana.
Karena kita hidup abad ke-21, ketika manusia tak akan lagi melahirkan sebuah bintang sejak Zarahustra-nya Nietzsche lahir dari sang pencinta Tuhan yang menari, nikmati saja seni tanpa jaminan sosial. Seni cuma mencari janji, bukan memberi sesuatu yang pasti.
Bukan jalan tengah antara sens dan nonsens yang aku cari, melainkan justru karena seni lebih sering bersifat nonsens, aku suka pada seni. Karena seni sebagai nonsens pula, maka aku ucapkan selamat datang! Sebab kita tak tahu pasti apakah nonsens justru adalah sens, seperti kata Iwan Simatupang; manusia sendiri tidak pernah mengerti apakah tidur dan mimpi justru merupakan keadan bangun kita yang sesungguhnya, dan apakah yang hingga kini kita anggap sebagai keadaan bangun itu bukan keadaan kita yang sedang tidur dan bermimpi sesungguhnya.
* Asarpin, pembaca sastra
Sumber: Lampung Post, Minggu, 8 Februari 2009
Dunia Syahnagra dalam Impresionis
MEMBUKA pameran lukisan umumnya memiliki daya tarik tersendiri. Maka tak heran dilakukan oleh orang yang dianggap punya nama, punya jabatan penting, memiliki reputasi, artis top, sebagai tokoh, pengusaha, kolektor dan sebagainya. Ujung-ujungnya dianggap bisa mendatangkan calon kolektor atau lukisannya bakal laku dijual.
Berbeda dengan pameran tunggal Syahnagra Ismail lebih cendrung memilih orang yang idealis yaitu Anhar Gonggong, pakar sejarah. "Ketika saya diminta membuka pameran, alasan Syahnagra karena satu idealisme," ucap Anhar dalam sambutannya sebelum meresmikan pameran tunggal Syahnagra. Pameran tunggal ke-8 bertajuk My World berlangsung di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (21 - 30 Januari 2009).
Kepala Bidang Program PKJ - TIM Sri Warso Wahono dalam sambutannya, menceritakan ibarat seorang mpu membuat keris, ditempa terus, dipanasi dengan bara api tetapi hasilnya tidak jelas, belum bisa melihat seketika. Akhirnya kelelahan dan kepasrahan seorang mpu, keris itu selesai. Begitulah Syahnagra, dalam proses melukis ia tidak sadar apa yang akan dilukis, walaupun tema ada di depan mata. Kadang-kadang lukisannya sangat jelek, kadang-kadang bagus sekali.
Tetapi titik penilaiannya bukan jelek atau bagus. Menurut hemat kurator senirupa itu, lukisan Syahnagra punya sikap estetik, punya pegangan kreativitas. Sehingga gaya-gaya yang muncul dalam diri dia itu mengatas namakan apa yang tadi dikatakan sebagai jelek sekali atau baik sekali. Dengan kata lain dia memiliki keakuan yang jelas, jalan yang jelas, berbeda dengan yang ditempuh orang lain. Syahnagra seorang seniman yang patut kita banggakan karena ia hidup dari karyanya. Ia yakin dengan karyanya dan dia akan terus bergulat menghasilkan karya-karya yang baru.
Prof Dr Abdul Hadi Wiji Muthari dalam sambutannya menilai Syahnagra adalah pelukis mutakhir dari generasi 1980-an.. Dia adalah sedikit dari banyak teman segenerasinya yang tidak tergoda untuk melukis hanya untuk memenuhi tuntutan selera khalayak dan pasar.
Menurut penyair/guru besar dalam bidang Ilmu Falsafah dan Agama Universitas Paramadina itu sejak awal Syahnagra memilih impresionisme sebagai wadah pengucapan estetikanya. Pilihan itu dilakukan secara sadar. Alam memberikan daya tarik sendiri sebagai sumber renungan seninya.Obyek-obyek akan tidak ia tangkap sebagaimana obyek-obyek itu menampakan diri melalui bentuk formalnya kepada mata manusia.
Yang ditangkap dari alam dan obyek itu di dalamnya adalah suasananya yang memberikan kesan tertentu kepada jiwa penikmat lukisannya.Tidak jarang goresan Syahnagra berupa garis-garis kasar, begitu juga sapuan warnanya. Namun kesembronoan seperti itu tidak membuat lukisan-lukisannya kehilangan sifat lembut yang lahir dari perasaan dan suasana hatinya.
Dengan melakukan deformasi terhadap obyek dan sapuan warna lembut yang memancarkan kegembiraan spritual, ia berhasil menenggelamkan obyek-obyek itu ke dalam dunia perasaannya sendiri yang berada di alam lain.
Dominasi Merah
Syahnagra Ismail lahir di TelukBetung, Bandar Lampung, 18 Agustus 1953 tidak hanya seorang pelukis juga senang menulis puisi. Beberapa puisinya sempat ia bacakan pada acara pembukaan. Ia mengawali karir melukis sejak remaja ketika mengikuti pendidikan di Taman Siswa,Yogyakarta yang seterusnya memperdalam di Sekolah Seni Rupa Yogyakarta dan Institut Kesenian Jakarta.
Pengalaman melalang buana di berbagai mancanegara semakin mempertajam kepekaan mantan Ketua Himpunan Pelukis Jakarta (HIPTA) itu untuk diekspresikan di atas kanvas. Lukisannya cendrung didominasi warna merah yang merupakan warna yang memberinya spirit untuk berkarya. Namun ada sebuah lukisan : "Kaabah dan Dua Menara" didominasi warna putih merupakan rekaman kesannya ketika menunaikan rukun Islam di Tanah Suci (2002).
"Waktu itu saya melihat suasana serba putih, dan spirit itu yang saya tangkap. Sepulang dari Mekah, saya melukis. Ini bukan sekedar kenangan, tetapi saya berusaha mengekspresikan itu dengan segala hati saya," papar mantan Sekretaris I DPH Dewan Kesenian Jakarta (1996 - 2001).
Gaya lukisan Syahnagra dalam permainan warna dan garis cenderung dapat ditangkap dengan mata batin yang berbeda dengan obyek realita. Sebagai seorang yang idealis, Syahnagra melukis sesuai nurani tanpa mengikuti keinginan selera pasar.
"Saya melukis dengan jiwa. Bagi saya lukisan adalah diri sendiri. Lukisan adalah jiwa yang menggembara". Itulah prinsip Syahnagra yang merasa bahagia menjadi seorang pelukis meskipun banyak tantangan.
Sesuai dengan prinsip tadi, Syahnagra senang merekam obyek alam, kota, sosok manusia dan lingkungan. Sapuan cat minyak di atas kanvas dituangkan dengan spontan dan bebas dalam garis dan warna. Antara lain Keindahan Kota Tua, Merapi Elok, Menara Jakarta, Pelabuhan, Hutan Warna, Pohon Cinta, Perahu Merdeka, Pohon Kelapa di Lembah, Gadis Sunyi, dan Pohon di Tengah Kota.
Sejak 1975, Syahnagra mengadakan pameran tunggal sebanyak delapan kali antara lain Yogyakarta dan Jakarta. Sedangkan pameran bersama lebih dari 45 kali, Bandung, Yogyakarta, keliling berbagai kota di Jawa, Swedia dan Montana (AS). *** (Susianna)
Sumber: Suara Karya, Sabtu, 7 Februari 2009
Berbeda dengan pameran tunggal Syahnagra Ismail lebih cendrung memilih orang yang idealis yaitu Anhar Gonggong, pakar sejarah. "Ketika saya diminta membuka pameran, alasan Syahnagra karena satu idealisme," ucap Anhar dalam sambutannya sebelum meresmikan pameran tunggal Syahnagra. Pameran tunggal ke-8 bertajuk My World berlangsung di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (21 - 30 Januari 2009).
Kepala Bidang Program PKJ - TIM Sri Warso Wahono dalam sambutannya, menceritakan ibarat seorang mpu membuat keris, ditempa terus, dipanasi dengan bara api tetapi hasilnya tidak jelas, belum bisa melihat seketika. Akhirnya kelelahan dan kepasrahan seorang mpu, keris itu selesai. Begitulah Syahnagra, dalam proses melukis ia tidak sadar apa yang akan dilukis, walaupun tema ada di depan mata. Kadang-kadang lukisannya sangat jelek, kadang-kadang bagus sekali.
Tetapi titik penilaiannya bukan jelek atau bagus. Menurut hemat kurator senirupa itu, lukisan Syahnagra punya sikap estetik, punya pegangan kreativitas. Sehingga gaya-gaya yang muncul dalam diri dia itu mengatas namakan apa yang tadi dikatakan sebagai jelek sekali atau baik sekali. Dengan kata lain dia memiliki keakuan yang jelas, jalan yang jelas, berbeda dengan yang ditempuh orang lain. Syahnagra seorang seniman yang patut kita banggakan karena ia hidup dari karyanya. Ia yakin dengan karyanya dan dia akan terus bergulat menghasilkan karya-karya yang baru.
Prof Dr Abdul Hadi Wiji Muthari dalam sambutannya menilai Syahnagra adalah pelukis mutakhir dari generasi 1980-an.. Dia adalah sedikit dari banyak teman segenerasinya yang tidak tergoda untuk melukis hanya untuk memenuhi tuntutan selera khalayak dan pasar.
Menurut penyair/guru besar dalam bidang Ilmu Falsafah dan Agama Universitas Paramadina itu sejak awal Syahnagra memilih impresionisme sebagai wadah pengucapan estetikanya. Pilihan itu dilakukan secara sadar. Alam memberikan daya tarik sendiri sebagai sumber renungan seninya.Obyek-obyek akan tidak ia tangkap sebagaimana obyek-obyek itu menampakan diri melalui bentuk formalnya kepada mata manusia.
Yang ditangkap dari alam dan obyek itu di dalamnya adalah suasananya yang memberikan kesan tertentu kepada jiwa penikmat lukisannya.Tidak jarang goresan Syahnagra berupa garis-garis kasar, begitu juga sapuan warnanya. Namun kesembronoan seperti itu tidak membuat lukisan-lukisannya kehilangan sifat lembut yang lahir dari perasaan dan suasana hatinya.
Dengan melakukan deformasi terhadap obyek dan sapuan warna lembut yang memancarkan kegembiraan spritual, ia berhasil menenggelamkan obyek-obyek itu ke dalam dunia perasaannya sendiri yang berada di alam lain.
Dominasi Merah
Syahnagra Ismail lahir di TelukBetung, Bandar Lampung, 18 Agustus 1953 tidak hanya seorang pelukis juga senang menulis puisi. Beberapa puisinya sempat ia bacakan pada acara pembukaan. Ia mengawali karir melukis sejak remaja ketika mengikuti pendidikan di Taman Siswa,Yogyakarta yang seterusnya memperdalam di Sekolah Seni Rupa Yogyakarta dan Institut Kesenian Jakarta.
Pengalaman melalang buana di berbagai mancanegara semakin mempertajam kepekaan mantan Ketua Himpunan Pelukis Jakarta (HIPTA) itu untuk diekspresikan di atas kanvas. Lukisannya cendrung didominasi warna merah yang merupakan warna yang memberinya spirit untuk berkarya. Namun ada sebuah lukisan : "Kaabah dan Dua Menara" didominasi warna putih merupakan rekaman kesannya ketika menunaikan rukun Islam di Tanah Suci (2002).
"Waktu itu saya melihat suasana serba putih, dan spirit itu yang saya tangkap. Sepulang dari Mekah, saya melukis. Ini bukan sekedar kenangan, tetapi saya berusaha mengekspresikan itu dengan segala hati saya," papar mantan Sekretaris I DPH Dewan Kesenian Jakarta (1996 - 2001).
Gaya lukisan Syahnagra dalam permainan warna dan garis cenderung dapat ditangkap dengan mata batin yang berbeda dengan obyek realita. Sebagai seorang yang idealis, Syahnagra melukis sesuai nurani tanpa mengikuti keinginan selera pasar.
"Saya melukis dengan jiwa. Bagi saya lukisan adalah diri sendiri. Lukisan adalah jiwa yang menggembara". Itulah prinsip Syahnagra yang merasa bahagia menjadi seorang pelukis meskipun banyak tantangan.
Sesuai dengan prinsip tadi, Syahnagra senang merekam obyek alam, kota, sosok manusia dan lingkungan. Sapuan cat minyak di atas kanvas dituangkan dengan spontan dan bebas dalam garis dan warna. Antara lain Keindahan Kota Tua, Merapi Elok, Menara Jakarta, Pelabuhan, Hutan Warna, Pohon Cinta, Perahu Merdeka, Pohon Kelapa di Lembah, Gadis Sunyi, dan Pohon di Tengah Kota.
Sejak 1975, Syahnagra mengadakan pameran tunggal sebanyak delapan kali antara lain Yogyakarta dan Jakarta. Sedangkan pameran bersama lebih dari 45 kali, Bandung, Yogyakarta, keliling berbagai kota di Jawa, Swedia dan Montana (AS). *** (Susianna)
Sumber: Suara Karya, Sabtu, 7 Februari 2009
February 4, 2009
Rancage 2009 untuk Lampung Ditiadakan
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Hadiah Sastra Rancage 2009 tidak diberikan kepada penulis sastra bahasa Lampung. Pasalnya selama 2008 tidak ada buku sastra berbahasa Lampung yang yang diterbitkan.
"Batas penjurian, 25 Januari lalu, panitia tidak menerima buku sastra dari Lampung. Para juri tidak bisa menunggu lebih dari 25 Januari sehingga beranggapan tidak ada buku sastra berbahasa Lampung," kata Sekretaris Yayasan Kebudayaan Rancage Hawe Setiawan, yang dihubungi melalui telepon , kemarin (3-2).
Menurut Hawe, jika memang ada karya sastra berbahasa Lampung yang diterbitkan pada 2008, akan diikutkan penjurian Hadiah Sastra Rancage tahun 2010.
Hawe berharap kesalahan teknis ini tidak mengganggu kontinuitas penerbitan sastra Lampung. "Sangat disayangkan tidak ada penulis Lampung yang mendapat Hadiah Sastra Rancage 2009," kata dia.
Tahun sebelumnya, Yayasan Kebudayaan Rancage menganugerahkan Hadiah Sastra Rancage kepada sastrawan Lampung Udo Z. Karzi. Udo mendapat Hadiah Sastra Rancage 2008 atas kumpulan sajaknya, Mak Dawah Mak Dibingi (BE Press, 2007).
Disesalkan
Budayawan Lampung Irfan Anshory menyesalkan terjadinya kesalahan teknis dalam pengiriman karya sastra Lampung ke panitia Hadiah Sastra Rancage. Kesalahan teknis tersebut mengakibatkan lepasnya Hadiah Sastra Rancage dari Lampung.
Menurut Irfan, ada dua karya sastra berbahasa Lampung yang terbit tahun 2008, yaitu kumpulan cerita pendek berjudul Cerita-Cerita jak Bandar Negeri Semuong karya Asarpin Aslami dan kumpulan sajak berjudul Di Lawok Nyak Nelepon Pelabuhan karya Oky Sanjaya.
Irfan mengatakan agar kesalahan teknis tidak terulang tahun depan, penerbit jangan sampai terlambat menerbitkan buku sastra Lampung.
Penerbitan buku harus dilakukan sebelum 31 Januari karena pada tanggal tersebut sudah diumumkan peraih Hadiah Sastra Rancage oleh Yayasan Kebudayaan Rancage. "Penerbit juga jangan sampai terlambat mengirimkan karya sastra ke juri Hadiah Sastra Rancage," kata Irfan.
Irfan berharap Hadiah Sastra Rancage tahun 2010 dapat kembali diraih sastrawan Lampung.
Peraih Rancage 2009
Hadiah Sastra Rancage 2009 adalah ke-21 kali penghargaan itu diberikan. Pertama kali diberikan tahun 1989, khusus kepada sastrawan yang menulis dalam bahasa Sunda.
Tetapi, sejak 1994 para sastrawan yang menulis dalam bahasa Jawa juga mendapat Hadiah Sastra Rancage. Dan sejak 1997, para sastrawan yang menulis dalam bahasa Bali. Tahun 2008 sastrawan yang menulis dalam bahasa Lampung juga mendapatkan Hadiah Sastra Rancage.
Penerima Hadiah Sastra Rancage 2009 sastrawan dan tokoh atau lembaga yang dianggap besar jasanya dalam memelihara dan mengembangkan bahasa ibu. Mereka adalah Etti R.S. dengan buku kumpulan sajak Serat Panineungan (untuk karya dalam bahasa Sunda) dan Nano S. atas jasanya mengembangkan bahasa Sunda, terutama melalui lagu-lagu karawitan ciptaannya.
Kemudian S. Danusubroto dengan buku roman berjudul Trah (untuk bahasa Jawa). Sedangkan tokohnya, Sunarko Budiman, penulis dan pengelola Sanggar Sastra Jawa Triwida.
Untuk sastra bahasa Bali, Hadiah Sastra Rancage diberikan kepada I Nyoman Tusthi Eddy atas buku kumpulan sajak berjudul Somah. Sedangkan yang terpilih untuk diberi Hadiah Sastra Rancage 2009 untuk jasa dalam bahasa dan sastra Bali adalah I Nengah Tinggen, penyusun buku pedoman pemakaian aksara Bali dan telah menulis 40 judul buku dalam bahasa Bali.
Khusus untuk bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda, Yayasan Kebudayaan Rancage memberikan Hadiah Samsudi 2009 kepada Aan Merdeka Permana yang menulis buku Sasakala Bojongemas.
Setiap penerima Hadiah Sastra Rancage selain mendapat piagam juga uang Rp5 juta. Sedangkan Hadiah Samsudi berupa piagam dan uang Rp2,5 juta. Penyerahan hadiah dilaksanakan dalam suatu upacara khusus yang akan diselenggarakan di Jakarta. Tempat dan waktunya akan ditetapkan kemudian. n PADLI RAMDAN/K-1
Sumber: Lampung Post, Rabu, 4 Februari 2009
"Batas penjurian, 25 Januari lalu, panitia tidak menerima buku sastra dari Lampung. Para juri tidak bisa menunggu lebih dari 25 Januari sehingga beranggapan tidak ada buku sastra berbahasa Lampung," kata Sekretaris Yayasan Kebudayaan Rancage Hawe Setiawan, yang dihubungi melalui telepon , kemarin (3-2).
Menurut Hawe, jika memang ada karya sastra berbahasa Lampung yang diterbitkan pada 2008, akan diikutkan penjurian Hadiah Sastra Rancage tahun 2010.
Hawe berharap kesalahan teknis ini tidak mengganggu kontinuitas penerbitan sastra Lampung. "Sangat disayangkan tidak ada penulis Lampung yang mendapat Hadiah Sastra Rancage 2009," kata dia.
Tahun sebelumnya, Yayasan Kebudayaan Rancage menganugerahkan Hadiah Sastra Rancage kepada sastrawan Lampung Udo Z. Karzi. Udo mendapat Hadiah Sastra Rancage 2008 atas kumpulan sajaknya, Mak Dawah Mak Dibingi (BE Press, 2007).
Disesalkan
Budayawan Lampung Irfan Anshory menyesalkan terjadinya kesalahan teknis dalam pengiriman karya sastra Lampung ke panitia Hadiah Sastra Rancage. Kesalahan teknis tersebut mengakibatkan lepasnya Hadiah Sastra Rancage dari Lampung.
Menurut Irfan, ada dua karya sastra berbahasa Lampung yang terbit tahun 2008, yaitu kumpulan cerita pendek berjudul Cerita-Cerita jak Bandar Negeri Semuong karya Asarpin Aslami dan kumpulan sajak berjudul Di Lawok Nyak Nelepon Pelabuhan karya Oky Sanjaya.
Irfan mengatakan agar kesalahan teknis tidak terulang tahun depan, penerbit jangan sampai terlambat menerbitkan buku sastra Lampung.
Penerbitan buku harus dilakukan sebelum 31 Januari karena pada tanggal tersebut sudah diumumkan peraih Hadiah Sastra Rancage oleh Yayasan Kebudayaan Rancage. "Penerbit juga jangan sampai terlambat mengirimkan karya sastra ke juri Hadiah Sastra Rancage," kata Irfan.
Irfan berharap Hadiah Sastra Rancage tahun 2010 dapat kembali diraih sastrawan Lampung.
Peraih Rancage 2009
Hadiah Sastra Rancage 2009 adalah ke-21 kali penghargaan itu diberikan. Pertama kali diberikan tahun 1989, khusus kepada sastrawan yang menulis dalam bahasa Sunda.
Tetapi, sejak 1994 para sastrawan yang menulis dalam bahasa Jawa juga mendapat Hadiah Sastra Rancage. Dan sejak 1997, para sastrawan yang menulis dalam bahasa Bali. Tahun 2008 sastrawan yang menulis dalam bahasa Lampung juga mendapatkan Hadiah Sastra Rancage.
Penerima Hadiah Sastra Rancage 2009 sastrawan dan tokoh atau lembaga yang dianggap besar jasanya dalam memelihara dan mengembangkan bahasa ibu. Mereka adalah Etti R.S. dengan buku kumpulan sajak Serat Panineungan (untuk karya dalam bahasa Sunda) dan Nano S. atas jasanya mengembangkan bahasa Sunda, terutama melalui lagu-lagu karawitan ciptaannya.
Kemudian S. Danusubroto dengan buku roman berjudul Trah (untuk bahasa Jawa). Sedangkan tokohnya, Sunarko Budiman, penulis dan pengelola Sanggar Sastra Jawa Triwida.
Untuk sastra bahasa Bali, Hadiah Sastra Rancage diberikan kepada I Nyoman Tusthi Eddy atas buku kumpulan sajak berjudul Somah. Sedangkan yang terpilih untuk diberi Hadiah Sastra Rancage 2009 untuk jasa dalam bahasa dan sastra Bali adalah I Nengah Tinggen, penyusun buku pedoman pemakaian aksara Bali dan telah menulis 40 judul buku dalam bahasa Bali.
Khusus untuk bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda, Yayasan Kebudayaan Rancage memberikan Hadiah Samsudi 2009 kepada Aan Merdeka Permana yang menulis buku Sasakala Bojongemas.
Setiap penerima Hadiah Sastra Rancage selain mendapat piagam juga uang Rp5 juta. Sedangkan Hadiah Samsudi berupa piagam dan uang Rp2,5 juta. Penyerahan hadiah dilaksanakan dalam suatu upacara khusus yang akan diselenggarakan di Jakarta. Tempat dan waktunya akan ditetapkan kemudian. n PADLI RAMDAN/K-1
Sumber: Lampung Post, Rabu, 4 Februari 2009
February 3, 2009
Hadiah Sastera Rancage 2009
Sekadar Uneg-uneg
BERIKUT Keputusan Hadiah Sastera Rancage 2009 yang ditandatangani langsung oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi. Yang perlu dicatat dengan tinta merah dari keputusan ini adalah Lampung tidak menerima Rancage 2009. Mengapa? Yang jelas, apa pun argumen, hal ini menunjukkan betapa 'miskinnya' ulun Lampung secara kultural. Saya sengaja membesarkan font paragraf yang terkait dengan sastra(wan) Lampung dalam keputusan ini.
Memalukan! Pernyataan ini saya tujukan buat saya sendiri dan ulun Lampung yang masih punya rasa malu.
Salam,
Udo Z. Karzi
Petikan selengkapnya:
KEPUTUSAN HADIAH SASTERA “RANCAGÉ” 2009
Penyerahan Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 adalah yang ke-21 kalinya diberikan kepada para sasterawan yang menulis dalam bahasa-bahasa ibu. Pertama kali pada tahun 1989, diberikan hanya kepada sasterawan yang menulis dalam bahasa Sunda. Tetapi sejak 1994 para sasterawan yang menulis dalam bahasa Jawa juga mendapat hadiah sastera “Rancagé”. Dan sejak 1997, para sasterawan yang menulis dalam bahasa Bali juga mendapat hadiah “Rancagé”. Pada tahun pertama, hadiah “Rancagé” hanya diberikan kepada sasterawan yang menerbitkan buku unggulan. Tetapi sejak tahun kedua, hadiah untuk karya itu didampingi oléh hadiah untuk jasa, yang diberikan kepada orang atau lembaga yang dianggap besar jasanya dalam memelihara serta mengembangkan bahasa ibunya. Dengan demikian setiap tahun Yayasan Kebudayaan “Rancagé” mengeluarkan enam hadiah untuk tiga bahasa ibu, yaitu Bali, Jawa dan Sunda. Di samping itu kadang-kadang memberikan Hadiah “Samsudi” buat pengarang yang menerbitkan buku bacaan anak-anak unggulan dalam bahasa Sunda.
Alhamdulillah dengan ridho Allah dan uluran tangan para dermawan yang menyadari pentingnya bahasa ibu dan sasteranya dalam kehidupan bangsa, tahun ini juga Hadiah Sastera “Rancagé” akan disampaikan kepada para sasterawan yang menulis dalam bahasa ibu.
Tahun yang lalu, Hadiah Sastera “Rancagé” juga diberikan kepada sasterawan yang menerbitkan buku dalam bahasa Lampung. Ternyata seperti yang kami kuatirkan, usaha penerbitan dalam bahasa Lampung itu tidak dapat dilaksanakan secara kontinyu. Dalam tahun 2008, tak ada buku yang terbit dalam bahasa Lampung, sehingga untuk Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 hadiah untuk bahasa Lampung tidak dapat diberikan.
Kekuatiran seperti itu sebenarnya wajar, karena penerbitan buku bahasa ibu dalam bahasa Sunda, Jawa dan Bali juga - walaupun ada saja yang terbit setiap tahun — bukanlah usaha yang menjanjikan hari depan secara bisnis. Karena itu ketika beberapa waktu yang lalu kami diberitahu bahwa ada buku yang terbit dalam bahasa Madura, kami tidak segera menyambutnya dengan menyediakan Hadiah Sastera “Rancagé” buat pengarang dalam bahasa Madura. Kami kuatir terjadi lagi apa yang sudah kejadian dengan bahasa Lampung.
Di samping itu kami juga harus sadar bahwa kian bertambahnya Hadiah “Rancagé” yang diberikan, maka beban yang kami tanggung juga kian berat. Sampai sekarang seperti pernah kami katakan, kami masih “koréh-koréh cok” (mengais-ngais dulu mencari rémah sebelum mencotok). Alhamdulillah sampai sekarang setiap tahun ada saja dermawan yang sadar akan pentingnya memelihara bahasa ibu yang sebenarnya merupakan kekayaan budaya bangsa kita, sehingga Hadiah Sastera “Rancagé” masih dapat diberikan.
Setelah selama 20 tahun pemberian Hadiah “Rancagé” selalu mendapat tempat dalam pérs, namun tidak pernah mendapat perhatian pemerintah baik pusat maupun daérah, pada akhir tahun 2008, Yayasan Kebudayaan “Rancagé” bersama-sama dengan beberapa seniman dan organisasi kesenian lain, mendapat “panyecep” dari Gubernur Jawa Barat (Rp. 10 juta dipotong pajak 15%).
Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk sastera Sunda
Menjelang akhir tahun 2007, tiba-tiba saja kelihatan kesibukan yang tidak biasa dalam penerbitan buku basa Sunda. Penerbit dan bukan penerbit yang selamanya tidak menaruh perhatian terhadap penerbitan buku dalam bahasa Sunda, tiba-tiba saja mencari naskah Sunda untuk diterbitkannya. Para pengarang dikejar agar segera menyiapkan naskah. Dalam waktu singkat terbit buku-buku bacaan, terutama untuk anak-anak. Tetapi penerbitan itu luar biasa, karena kebanyakan tidak dicétak dalam jumlah yang wajar untuk disebarkan ke pasar melalui toko-toko buku. Kebanyakan yang meréka terbitkan hanyalah sejumlah éksemplar sekedar untuk dijadikan contoh buat proyék pembelian buku bahasa ibu yang konon jumlahnya puluhan milyar. Kalau bukunya terpilih untuk dipesan oléh proyék, barulah akan dicétak sebanyak yang diperlukan. Jadi tujuannya bukanlah menyediakan buku bacaan dalam bahasa Sunda untuk masyarakat, melainkan untuk mendapat bagian dari dana proyék yang disediakan oléh pemerintah. Ternyata proyék itu konon dibatalkan, maka penerbitan buku dalam bahasa ibu Sunda pun kembali sepi.
Kalau dalam tahun 2007 terbit 32 judul buku bahasa Sunda (di luar cétak ulang), sehingga ada 13 judul yang dipertimbangkan untuk memperoléh Hadiah Sastera “Rancagé” 2008, maka dalam tahun 2008 hanya terbit 10 judul buku baru. Tapi tidak semua masuk jenis buku yang dipertimbangkan untuk dinilai untuk mendapat Hadiah “Rancagé”, seperti The People’s Religion (penerbitan dwibahasa yaitu dalam bahasa Sunda dan Inggris yang merupakan transkripsi dari da’wah-da’wah Ajengan A. F. Ghazali almarhum, disusun ku Julian Mille). Begitu juga Luang keur nu Ngarang yang disusun oléh Hawé Setiawan dan Dadan Sutisna bagi meréka yang berminat untuk belajar mengarang. Di samping itu ada cétak ulang, ialah Nu Kaul Lagu Kaléon karya RAF, Bayan Budiman karya M.K. Mangoendikaria, Janté Arkidam karya Ajip Rosidi dan Album Carpon Purnama di Karanghawu karya Aan Merdéka Permana. Ada pula empat buku karya Ajip Rosidi, tiga di antaranya berupa cerita carangan wayang Cirebon (Dorna Ngabasmi Komunisme, Si Cépot Hayangeun Kawin dan Bagal Buntung Hayangeun Walagri) dan sebuah lagi berupa kumpulan lelucon (Seuri Leutik). Seperti telah berkali-kali dijelaskan, buku cétak ulang dan karangan Ajip Rosidi tidak termasuk yang dinilai untuk memperoléh Hadiah “Rancagé”.
Maka buku bahasa Sunda yang tahun ini dinilai untuk memperoléh Hadiah “Rancagé” 2009 hanya empat judul ialah Layung kumpulan cerita péndék Aam Amilia, Rusiah Kaopatwelas kumpulan cerita péndek Darpan, Élégi Patani kumpulan sajak Arie Suhanda dan Serat Panineungan kumpulan sajak Étti RS.
Dalam Layung dimuat 10 cerita péndék Aam yang ditulis dalam tahun 2004-2008. Secara umum kesepuluh cerita itu tidak mempunyai plastisitas bahasa dan spontanitas seperti dalam cerita-cerita yang ditulis Aam pada awal kariérnya sebagai pengarang. Akhir cerita yang dimaksudkan menjadi “surprise” tidak lagi mengejutkan karena sudah dapat ditebak dari awal.
Rusiah Kaopatwelas memuat lima belas cerita péndék Darpan yang dibagi menjadi dua kelompok. Yang pertama “Si Iblis” memuat 8 cerita péndek, sedangkan kelompok kedua “Rusiah Kaopatwelas” memuat 7 cerita péndék. Semua cerita yang dimuat dalam “Si Iblis” berlatarbelakang kehidupan orang-orang di pedésaan bagian Utara Jawa Barat, sekitar Karawang, seperti cerita-cerita yang dimuat dalam kumpulan cerita péndéknya yang pertama Nu Harayang Dihargaan yang mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 1999. Sedang cerita-cerita yang dimuat dalam kelompok “Rusiah nu Kaopatwelas” mengisahkan orang-orang yang hidup di kota, terutama di Bandung.
Meski tidak sekuat umumnya cerita yang dimuat dalam Nu Harayang Dihargaan, cerita-cerita Darpan yang dimuat dalam “Si Iblis” terasa lebih hidup dan memuat gambaran yang terjadi di tempat-tempat gersang seperti di pinggir Laut Jawa. Sedang cerita yang dimuat dalam bagian “Nu Kaopatwelas” banyak yang merupakan hasil imajinasi yang sering terasa tidak berakar pada bumi nyata seperti “Budak nu teu balik” dan “Kota”. Yang terasa mengganggu ialah banyaknya penggunaan kata “mun” dan “lamun” (= kalau) yang seharusnya “yén” (= bahwa). Hal itu niscaya pengaruh dari bahasa Indonésia yang belakangan banyak mempergunakan kata “kalau”, “apabila” atau “bila” yang seharusnya “bahwa”. Hal itu terjadi karena banyak orang Jawa yang dalam berbahasa Indonésia tidak tahu bahwa “yén” dalam bahasa Jawa mempunyai arti dua dalam bahasa Indonésia, ialah “kalau” dan bahwa”. Ketidaktahuan itu kemudian dianggap sebagai gaya baru dalam berbahasa sehingga banyak diikuti juga oléh bukan orang Jawa, dan para penulis dalam bahasa Sunda ikut-ikutan latah.
Élégi Patani adalah kumpulan sajak pertama karya Arie Suhanda yang sebelumnya sering mempergunakan nama Érry Wisnu Asuhan kalau mengumumkan sajak atau dangdingnya dalam majalah Manglé, Langensari, dll. Namun yang dimuat dalam Élégi Patani ini semuanya sajak baru yang ditulis tahun 2003 - 2008. Témanya jelas banyak mengeritik keadaan negara dan tingkah laku manusianya, dikemukakan dengan bahasa yang terlalu prosais. Terasa ketika menulis sajaknya penyair tidak terlalu memanfaatkan bahasa puisi seperti métafora, sehingga tidak ada yang mampu mengajuk hati sampai ke dalam.
Serat Panineungan adalah kumpulan sajak Étti RS yang kelima setelah Jamparing (1984), Gondéwa (1987), Maung Bayangan (1994) dan Lagu Hujan Silantang (2003). Kekuatan Étti adalah dalam pemakaian métafora yang disertai dengan purwakanti yang seakan dipungutnya dengan mudah dan wajar. Meskipun sajak-sajak yang dimuat dalam Serat Panineungan ini tidak memperlihatkan bobot yang lebih mendalam daripada sajak-sajaknya yang terdahulu terutama yang dimuat dalam Maung Bayangan, malah banyak yang merupakan cetusan asmara remaja, namun di antara sajak-sajak catatan perjalanan yang dibuatnya di berbagai tempat yang dia kunjungi, masih cukup banyak sajak dan dangdingnya yang berhasil menjadi puisi yang sederhana namun bulat, seperti “Titis Tulis”, “Hiji Sagara”, “Duriat Natrat ka Tanah Karamat”, “Leuwi”, “Surat keur Lemah Cai”, “Cipularang II”, “Angin”, “Nyukcruk Parung …” dan “Diajar Ludeung”.
Karena itu yang terpilih sebagai karya yang mendapat Hadah Sastera “Rancagé” 2009 untuk karya dalam bahasa Sunda adalah
Serat Panineungan
Kumpulan sajak Étti RS
(terbitan Kiblat Buku Utama, Bandung)
Dengan demikian Étti RS, yang untuk kedua kalinya menerima Hadiah Sastera “Rancagé” (yang pertama tahun 1995 untuk kumpulan sajaknya Maung Bayangan), berhak menerima Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 berupa piagam dan uang (Rp 5 juta).
Sedang yang terpilih untuk mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk jasa, karena besar jasanya dalam memelihara dan mengembangkan bahasa Sunda terutama melalui lagu-lagu karawitan ciptaannya, adalah
Nano S. (lahir di Garut, 4 April 1944)
Nano S. tamatan Konsérvatori Karawitan Sunda dan Akadémi Senitari (ASTI), mengajar di SMKI Bandung, aktif dalam bidang karawitan Sunda tradisional, baik sebagai pencipta lagu, pelaksana pertunjukan, maupun pimpinan grup, dll. Dia telah mencipta ratusan lagu karawitan, banyak di antaranya kemudian dijadikan lagu pop Sunda yang sangat populér karena digemari bukan hanya oléh orang Sunda seperti “Kalangkang”. Dia pun menciptakan karya-karya daria seperti “Sang Kuriang” dan “Warna”. Satu-satunya seniman Sunda (Indonésia?) yang masuk dalam “World Music Library” yang diproduksi oléh Seven Seas dengan produser Hoshikawa Kyoji, album CD-nya berjudul “Nano S., the Great Master of Sunda Music” (1994). Lagu-lagu ciptaannya juga diproduksi di Amérika Serikat bersama dengan pencipta lagu dari negeri-negeri lain seperti India, Nubia, Mongol, Jepang, dll. (1995). Kepopuléran lagu-lagunya yang liriknya ditulis dalam bahasa Sunda ikut memelihara dan menyebarkan bahasa Sunda di kalangan generasi muda. Nano sendiri banyak menulis sajak, cerita péndék dan artikel dalam bahasa Sunda.
Cerita-cerita péndéknya diterbitkan dengan judul Nu Baralik Manggung (2003). Dalam bidang keahliannya Nano menulis Haleuang Tandang (1976) dan Pengetahuan Karawitan Sunda (1983). Nano sering diundang ke luar negeri baik untuk memimpin pertunjukan kesenian Sunda maupun sebagai artist in residence. Nano mendapat Anugerah Akadémi Jakarta (2004).
Kepada Nano S. akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk bidang jasa dalam sastera Sunda berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk sastera Jawa
Dibandingkan dengan tahun 2007, dalam tahun 2008 jauh lebih sedikit karya sastera Jawa yang terbit, yaitu hanya 4 judul, yaitu Lintang Biru: Antologi Geguritan Béngkél Sastra Jawa 2008; Dongané Maling, karya Yohanes Siyamta, kumpulan karya berupa guritan, cerkak, obrolan dan pengalaman penulisnya; Singkar roman karya Siti Aminah dan Trah roman karya Atas S. Danusubroto.
Lintang Biru memuat guritan karya 24 orang siswa SMP Kabupatén Bantul sebagai hasil Béngkél Sastra Jawa yang diselenggarakan oléh Balai Bahasa Yogyakarta. Dongané Maling campuran karya fiksi dengan obrolan dan catatan pengalaman, sukar dianggap sebagai karya sastera yang utuh. Karena itu Lintang Biru dan Dongané Maling disisihkan dari penilaian untuk mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2009.
Maka yang dinilai untuk mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 adalah dua buah roman Singkar dan Trah. Singkar (nama désa tapi tidak diberitahukan secara langsung) ditulis dengan bahasa anak muda, seakan ditujukan hanya untuk bacaan anak muda. Roman yang panjangnya hanya 134 halaman itu dibagi menjadi 24 bab dan hampir dalam setiap bab muncul tokoh-tokoh antagonis, kebanyakan dalam adegan flash back, sehingga terjadi digrési dan menjadi tidak logis. Sebenarnya cukup menarik cerita tentang gadis yang dipaksa ibunya untuk menikah dengan jejaka yang tidak dicintainya, yang ternyata sama dengan pengalaman ibunya sendiri ketika gadis yang juga dipaksa oléh ibunya untuk menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya. Tetapi penyelesaian akhir cerita dengan peristiwa gempa di Bantul (Singkar ternyata berada di wilayah Bantul) terasa terlalu mudah dan terlalu mendadak.
Trah mengisahkan seorang gadis cantik bernama Tilarsih yang tertipu oléh Atun, gérmo yang membawanya ke Jakarta dengan janji akan memperkenalkannya dengan bos rekaman sehingga Tilarsih akan menjadi penyanyi terkenal. Ternyata Atun membawanya ke bordil, sehingga Tilarsih terjerumus menjadi perempuan penghibur. Tilarsih akhirnya ditemukan oléh kekasihnya, Bagus, yang berasal dari désanya juga yang sengaja mencarinya di Jakarta. Setelah bertemu, Tilarsih berjanji akan kembali ke jalan yang benar dan Bagus akan menikahinya. Namun ketika Tilarsih kembali ke désanya, sudah berédar cerita tentang pekerjaannya yang hina di Jakarta, sehingga menimbulkan berbagai kesulitan dan godaan baginya. Namun dengan teguh hati Tilarsih menunggu kekasihnya kembali dan berhasil mengembalikan wibawanya sebagai wanita baik-baik. Bagus ternyata keturunan keluarga yang pernah menjatuhkan kehidupan orang tua Tilarsih. Tilarsih ternyata keturunan priyayi (éyangnya demang), yang jatuh melarat karena ulah jahat kakék Bagus dengan menjerumuskannya menjadi penjudi sehingga kekayaannya amblas dijual kepada kakék Bagus.
Trah mempunyai kekuatan pada aspék kultur karena tidak saja menggambarkan kelas masyarakat bangsawan dengan rapi, tetapi juga menggambarkan watak nrima, hormat kepada orang tua, sabar dan andhap asor yang ditekankan sebagai sikap luhur. Tatakrama berkomunikasi antar manusia terpelihara dengan baik.
Dengan demikian yang terpilih sebagai karya sastera Jawa terbitan tahun 2008 yang menerima Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk karya, adalah
Trah
karya Atas S. Danusubroto
(terbitan Penerbit Narasi, Yogyakarta)
Maka Atas S. Danusubroto sebagai pengarangnya berhak untuk menerima Hadiah Sastera “Rancagé” 2009, berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Sedang yang terpilih untuk mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk jasa, karena besar jasanya dalam memelihara dan mengembangkan bahasa Jawa, adalah
Sunarko Budiman (lahir di Tulungagung, 21 Januari 1960)
Sebagai tamatan SPG dia menjadi guru SD dan sebagai guru SDN dia sempat memperoléh penghargaan Guru Teladan (1989) dan menjadi Guru Berpréstasi (2006) Kabupatén Tulungagung. Sementara itu dia pun melanjutkan pelajaran sehingga pada akhirnya tamat S-2 Magister Kebijakan Pendidikan di Universitas Muhammadiyah, Malang. Dia menaruh perhatian besar terhadap bahasa dan sastera Jawa, bukan saja sebagai penulis melainkan sebagai pengelola Sanggar Sastra Jawa Triwida yang didirikan oléh Tamsir AS (almarhum). Sanggar ini berjasa mendorong kelahiran para penulis sastera Jawa di daérah Tulungagung, Trenggalék dan Blitar. Sejak 1998 dia dipercaya sebagai Ketua Sanggar Sastra Triwida. Dia pernah menjadi Pemimpin Redaksi majalah Prasasti (1993-1997), majalah supranatural Pamor Jagad Gaib (2002-2005) dan majalah Gayatri (sejak 2007). Dia juga menjadi wartawan majalah Panyebar Semangat, Jaya Baya dan Damar Jati. Karyanya berupa artikel, réportase, cerkak dan guritan. Dia banyak menggunakan nama samaran, al. Narko Rasodrun, Datiek Yuminarko, Ki Narkosabda, Narkoba, dll. Dia juga menyusun buku pelajaran bahasa Jawa dan menjabat sebagai Ketua Litbang Kelompok Penulis Buku Pendidikan Dasar Jawa Timur (sejak 1991). Dia juga aktif dalam berbagai séminar dan kongrés bahasa dan sastera Jawa.
Kepada Sunarko Budiman akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk bidang jasa dalam sastera Jawa berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk sastera Bali
Perkembangan sastera Bali tahun 2008 sangat menggembirakan, baik secara kualitas maupun secara kuantitas. Buku yang terbit tahun 2008 ada sembilan judul (tahun 2007 hanya lima judul), yaitu 3 judul kumpulan puisi, 2 judul roman, 2 judul drama dan 2 judul kumpulan cerita péndék dengan téma beragam dan penggunaan bahasa yang kian kréatif.
Ada tiga pengarang wanita yang menerbitkan buku dalam bahasa Bali modéren, hal yang tak pernah ada sebelumnya. Sejak kemunculan sastera Bali modéren tahun 1910, belum pernah ada pengarang wanita yang menerbitkan buku. Ketiga pengarang itu adalah Anak Agung Sagung Mas Ruscitadéwi (l. 1965) dengan kumpulan cerita péndék Luh Jalir (Perempuan Nakal), I Gusti Ayu Putu Mahindu Déwi Purbarini (l. 1977) dengan kumpulan puisi Taji (Taji) dan Ni Kadék Widiasih (l. 1984) dengan kumpulan puisi Gurit Pangawit (Syair Pemula). Ketiganya berpendidikan universitas dan menulis juga dalam bahasa Indonésia.
Karya meréka memberikan pérspéktif baru dalam perkembangan téma sastera Bali modéren. Masalah kesetaraan génder dan pengalaman hidup manusia dari pérspéktif perempuan mulai muncul. Sayangnya kemampuan ketiganya dalam menggarap téma dan mengembangkan éstétika belum mantap.
Buku-buku lain adalah karya I Nyoman Manda (dua drama Nembang Girang di Bukit Gersang dan Saput Poléng, dua buah novelét yaitu Ngabih Kasih ring Pesisi Lebih dan Sawang-sawang Gamang), kumpulan cerita péndék Merta Matemahan Wisia karya Madé Suarsa, dan kumpulan puisi Somah karya Nyoman Tusthi Éddy.
Karya-karya Nyoman Manda, yang pernah mendapat Hadiah “Rancage” 3 kali (satu untuk jasa), selalu memperlihatkan gaya bertutur yang lancar dan mudah dimengerti. Kisah-kisahnya selalu dikemas dengan percintaan yang digunakannya untuk menyampaikan pesan-pesan moral. Drama Saput Poléng (Sarung Poléng) mengisahkan perang penaklukan kerajaan Bali oléh pasukan Gajah Mada dari Majapahit yang diisi dengan kisah cinta Gajah Mada dengan seorang puteri Bali. Novelét Ngabih Kasih ring Pesisi Lebih (Kasih Bersemi di Pantai Lebih) berkisah tentang percintaan remaja siswa SMA diselingi dengan pesan-pesan adat, tradisi dan agama agar menjadi bekal untuk menghadapi masa depan. Karya-karya Nyoman Manda sangat tepat untuk menanamkan kegemaran anak-anak muda Bali terhadap sastera dalam bahasa ibunya, karena bahasanya mudah dicerna, alur ceritanya tidak begitu kompléks, sehingga anak-anak remaja tidak menghadapi kesulitan membaca dan menikmatinya.
Dalam kumpulan cerita péndék Merta Matemahan Wisia (Kabaikan Mengakibatkan Kematian), Madé Suarsa menggarap berbagai téma seperti masalah ketimpangan sosial (kasta), kemiskinan, matérialisme, dan hukum karma. Kemampuan membangun gaya bahasa yang penuh irama, merupakan salah satu ciri utama cerita karya Madé Suarsa. Hanya saja konséntrasi yang begitu besar yang diberikan terhadap gaya bahasa, perulangan dan permainan kata yang agak berlebihan membuat penggarapan struktur cerita terabaikan.
Kumpulan puisi Somah (Suami/Isteri) karya Nyoman Tusthi Éddy tampil memikat karena keterpaduan yang kuat antara téma, pengucapan dan gaya bahasa. Téma yang diangkat sangat beragam, mulai dari hubungan suami isteri, toko serba ada, korupsi, uang, jam, kulinér, taksi dan pesisir Bali dalam kontéks perkembangan pariwisata. Hampir separo berupa sajak péndék, hanya terdiri dari satu bait, mengambil bentuk syair dan pantun. Dengan puisi péndék itu Nyoman Tusthi Éddy mampu membentangkan gagasan yang cukup luas, memikat dan menyentuh serta utuh.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka yang akan diberi Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk karya dalam bahasa Bali adalah
Somah
Kumpulan sajak I Nyoman Tusthi Éddy
(terbitan Sanggar Buratwangi)
Maka I Nyoman Tusthi Éddy sebagai penyairnya berhak untuk menerima Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Sedangkan yang terpilih untuk diberi Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk jasa dalam bahasa dan sastera Bali adalah
I Nengah Tinggen (lahir di Buléléng tahun 1931)
Pada tahun 1961, Nengah Tingen terpilih sebagai sékertaris Panitia Penyelenggara Buku-buku Pelajaran bahasa Bali bersama 11 orang utusan daérah dari seluruh Bali. Tahun 1971, ia menyusun buku pedoman pemakaian aksara Bali. Sejak itu dia menulis berbagai buku tentang Bali, sebagian besar dalam bahasa Bali. Dia telah menerbitkan lebih dari 40 judul buku termasuk tentang éjaan bahasa Bali, buku kidung dan gaguritan dan buku-buku cerita. Karyanya banyak digunakan sebagai penunjang pelajaran bahasa dan sastera Bali di sekolah-sekolah. Di antaranya berjudul Satua-satua Bali (Cerita-cerita Bali) yang memuat dongéng-dongéng yang dikenal dalam masyarakat Bali terbit dalam 15 jilid, Sor Singgih Bahasa Bali (Gaya bahasa halus dan biasa dalam bahasa Bali), Dasar-dasar Pelajaran Kakawin dan Diktat Bahasa Bali.
Dia bekerja sebagai guru bahasa dan sastera Bali di SPGN Singaraja dan menjadi dosén luar biasa di STKIP Agama Hindu Singaraja. Dia juga mengisi siaran bahasa Bali di RRI Stasiun Singaraja, aktif dalam berbagai séminar serta selalu mendorong masyarakat agar mencintai bahasa dan sastera Bali. Dia pernah menerima anugerah seni budaya Dharma Kusuma dari pemerintah Provinsi Bali.
Maka kepada I Nengah Tinggen akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk jasa dalam bahasa dan sastera Bali berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Hadiah “Samsudi” 2009 untuk buku bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda
Tahun yang lalu, Hadiah “Samsudi” diberikan kepada pengarang buku Catetan Poéan Réré, yaitu Ai Koraliati. Ternyata pemberian hadiah itu menimbulkan héboh karena buku Catetan Poéan Réré belum terbit sebagai buku, tidak terdapat di toko-toko buku. Buku yang disampaikan kepada Yayasan “Rancagé” oléh pengarangnya adalah contoh yang dibuat penerbit dalam jumlah terbatas untuk Panitia Proyék Pembelian buku. Pada tahun 2007 mémang ada rencana pemerintah untuk membeli buku-buku bahasa Sunda dalam jumlah yang besar. Dana yang disediakan konon sampai Rp. 80 milyar. Karena itu para penerbit dan bukan penerbit berlomba-lomba hendak menerbitkan buku bacaan bahasa Sunda terutama buku bacaan anak-anak. Tetapi ternyata pembelian besar-besaran itu tidak jadi dilaksanakan, dan dengan demikian banyak contoh buku yang sudah dibuat tidak jadi diterbitkan. Penerbit-penerbit yang membuat contoh buku demikian tidak bermaksud menyediakan bacaan dalam bahasa ibu, melainkan hanya mau turut mengambil bagian dalam “pembagian kué” melalui permainan pat-pat-gulipat dengan panitianya.
Menjelang akhir tahun 2008, Yayasan Rancagé menerima sejumlah judul buku dari seorang pengarang. Buku-buku itu menurut titimangsanya adalah terbitan tahun 2007, tetapi setelah dipantau ternyata tidak pernah berédar di toko-toko buku. Dengan demikian jelas bahwa buku-buku itu adalah sekedar contoh untuk “proyék” seperti buku Catetan Poéan Réré. Dengan demikian buku-buku itu disisihkan dari penilaian untuk memperoléh Hadiah “Samsudi” 2009. Perlu kami jelaskan bahwa Yayasan “Rancagé” hanya menilai buku-buku yang dijual di toko-toko buku baik untuk Hadiah “Rancagé” maupun untuk Hadiah “Samsudi”.
Dalam tahun 2008 ada sejumlah buku bacaan anak-anak bahasa Sunda yang terbit, tetapi kebanyakan merupakan cétak ulang. Buku baru yang kami anggap cukup baik untuk diberi Hadiah “Samsudi” adalah
Sasakala Bojongemas
Karya Aan Merdéka Permana
(wedalan Ujung Galuh, Bandung)
Kepada Aan Permana Merdéka akan dihaturkan Hadiah “Samsudi” 2009 berupa piagam dan uang (Rp. 2.500.000).
*
Upacara penyerahan Hadiah Sastera “Rancagé’ dan Hadiah “Samsudi” 2009 akan dilaksanakan dalam suatu upacara khusus yang akan diselenggarakan di Jakarta. Tempat dan waktunya akan ditetapkan kemudian.
Pabélan, 31 Januari, 2009
Yayasan Kebudayaan “Rancagé”
Ajip Rosidi
Ketua Déwan Pembina
Sumber: http://irfananshory.blogspot.com
BERIKUT Keputusan Hadiah Sastera Rancage 2009 yang ditandatangani langsung oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi. Yang perlu dicatat dengan tinta merah dari keputusan ini adalah Lampung tidak menerima Rancage 2009. Mengapa? Yang jelas, apa pun argumen, hal ini menunjukkan betapa 'miskinnya' ulun Lampung secara kultural. Saya sengaja membesarkan font paragraf yang terkait dengan sastra(wan) Lampung dalam keputusan ini.
Memalukan! Pernyataan ini saya tujukan buat saya sendiri dan ulun Lampung yang masih punya rasa malu.
Salam,
Udo Z. Karzi
Petikan selengkapnya:
KEPUTUSAN HADIAH SASTERA “RANCAGÉ” 2009
Penyerahan Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 adalah yang ke-21 kalinya diberikan kepada para sasterawan yang menulis dalam bahasa-bahasa ibu. Pertama kali pada tahun 1989, diberikan hanya kepada sasterawan yang menulis dalam bahasa Sunda. Tetapi sejak 1994 para sasterawan yang menulis dalam bahasa Jawa juga mendapat hadiah sastera “Rancagé”. Dan sejak 1997, para sasterawan yang menulis dalam bahasa Bali juga mendapat hadiah “Rancagé”. Pada tahun pertama, hadiah “Rancagé” hanya diberikan kepada sasterawan yang menerbitkan buku unggulan. Tetapi sejak tahun kedua, hadiah untuk karya itu didampingi oléh hadiah untuk jasa, yang diberikan kepada orang atau lembaga yang dianggap besar jasanya dalam memelihara serta mengembangkan bahasa ibunya. Dengan demikian setiap tahun Yayasan Kebudayaan “Rancagé” mengeluarkan enam hadiah untuk tiga bahasa ibu, yaitu Bali, Jawa dan Sunda. Di samping itu kadang-kadang memberikan Hadiah “Samsudi” buat pengarang yang menerbitkan buku bacaan anak-anak unggulan dalam bahasa Sunda.
Alhamdulillah dengan ridho Allah dan uluran tangan para dermawan yang menyadari pentingnya bahasa ibu dan sasteranya dalam kehidupan bangsa, tahun ini juga Hadiah Sastera “Rancagé” akan disampaikan kepada para sasterawan yang menulis dalam bahasa ibu.
Tahun yang lalu, Hadiah Sastera “Rancagé” juga diberikan kepada sasterawan yang menerbitkan buku dalam bahasa Lampung. Ternyata seperti yang kami kuatirkan, usaha penerbitan dalam bahasa Lampung itu tidak dapat dilaksanakan secara kontinyu. Dalam tahun 2008, tak ada buku yang terbit dalam bahasa Lampung, sehingga untuk Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 hadiah untuk bahasa Lampung tidak dapat diberikan.
Kekuatiran seperti itu sebenarnya wajar, karena penerbitan buku bahasa ibu dalam bahasa Sunda, Jawa dan Bali juga - walaupun ada saja yang terbit setiap tahun — bukanlah usaha yang menjanjikan hari depan secara bisnis. Karena itu ketika beberapa waktu yang lalu kami diberitahu bahwa ada buku yang terbit dalam bahasa Madura, kami tidak segera menyambutnya dengan menyediakan Hadiah Sastera “Rancagé” buat pengarang dalam bahasa Madura. Kami kuatir terjadi lagi apa yang sudah kejadian dengan bahasa Lampung.
Di samping itu kami juga harus sadar bahwa kian bertambahnya Hadiah “Rancagé” yang diberikan, maka beban yang kami tanggung juga kian berat. Sampai sekarang seperti pernah kami katakan, kami masih “koréh-koréh cok” (mengais-ngais dulu mencari rémah sebelum mencotok). Alhamdulillah sampai sekarang setiap tahun ada saja dermawan yang sadar akan pentingnya memelihara bahasa ibu yang sebenarnya merupakan kekayaan budaya bangsa kita, sehingga Hadiah Sastera “Rancagé” masih dapat diberikan.
Setelah selama 20 tahun pemberian Hadiah “Rancagé” selalu mendapat tempat dalam pérs, namun tidak pernah mendapat perhatian pemerintah baik pusat maupun daérah, pada akhir tahun 2008, Yayasan Kebudayaan “Rancagé” bersama-sama dengan beberapa seniman dan organisasi kesenian lain, mendapat “panyecep” dari Gubernur Jawa Barat (Rp. 10 juta dipotong pajak 15%).
Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk sastera Sunda
Menjelang akhir tahun 2007, tiba-tiba saja kelihatan kesibukan yang tidak biasa dalam penerbitan buku basa Sunda. Penerbit dan bukan penerbit yang selamanya tidak menaruh perhatian terhadap penerbitan buku dalam bahasa Sunda, tiba-tiba saja mencari naskah Sunda untuk diterbitkannya. Para pengarang dikejar agar segera menyiapkan naskah. Dalam waktu singkat terbit buku-buku bacaan, terutama untuk anak-anak. Tetapi penerbitan itu luar biasa, karena kebanyakan tidak dicétak dalam jumlah yang wajar untuk disebarkan ke pasar melalui toko-toko buku. Kebanyakan yang meréka terbitkan hanyalah sejumlah éksemplar sekedar untuk dijadikan contoh buat proyék pembelian buku bahasa ibu yang konon jumlahnya puluhan milyar. Kalau bukunya terpilih untuk dipesan oléh proyék, barulah akan dicétak sebanyak yang diperlukan. Jadi tujuannya bukanlah menyediakan buku bacaan dalam bahasa Sunda untuk masyarakat, melainkan untuk mendapat bagian dari dana proyék yang disediakan oléh pemerintah. Ternyata proyék itu konon dibatalkan, maka penerbitan buku dalam bahasa ibu Sunda pun kembali sepi.
Kalau dalam tahun 2007 terbit 32 judul buku bahasa Sunda (di luar cétak ulang), sehingga ada 13 judul yang dipertimbangkan untuk memperoléh Hadiah Sastera “Rancagé” 2008, maka dalam tahun 2008 hanya terbit 10 judul buku baru. Tapi tidak semua masuk jenis buku yang dipertimbangkan untuk dinilai untuk mendapat Hadiah “Rancagé”, seperti The People’s Religion (penerbitan dwibahasa yaitu dalam bahasa Sunda dan Inggris yang merupakan transkripsi dari da’wah-da’wah Ajengan A. F. Ghazali almarhum, disusun ku Julian Mille). Begitu juga Luang keur nu Ngarang yang disusun oléh Hawé Setiawan dan Dadan Sutisna bagi meréka yang berminat untuk belajar mengarang. Di samping itu ada cétak ulang, ialah Nu Kaul Lagu Kaléon karya RAF, Bayan Budiman karya M.K. Mangoendikaria, Janté Arkidam karya Ajip Rosidi dan Album Carpon Purnama di Karanghawu karya Aan Merdéka Permana. Ada pula empat buku karya Ajip Rosidi, tiga di antaranya berupa cerita carangan wayang Cirebon (Dorna Ngabasmi Komunisme, Si Cépot Hayangeun Kawin dan Bagal Buntung Hayangeun Walagri) dan sebuah lagi berupa kumpulan lelucon (Seuri Leutik). Seperti telah berkali-kali dijelaskan, buku cétak ulang dan karangan Ajip Rosidi tidak termasuk yang dinilai untuk memperoléh Hadiah “Rancagé”.
Maka buku bahasa Sunda yang tahun ini dinilai untuk memperoléh Hadiah “Rancagé” 2009 hanya empat judul ialah Layung kumpulan cerita péndék Aam Amilia, Rusiah Kaopatwelas kumpulan cerita péndek Darpan, Élégi Patani kumpulan sajak Arie Suhanda dan Serat Panineungan kumpulan sajak Étti RS.
Dalam Layung dimuat 10 cerita péndék Aam yang ditulis dalam tahun 2004-2008. Secara umum kesepuluh cerita itu tidak mempunyai plastisitas bahasa dan spontanitas seperti dalam cerita-cerita yang ditulis Aam pada awal kariérnya sebagai pengarang. Akhir cerita yang dimaksudkan menjadi “surprise” tidak lagi mengejutkan karena sudah dapat ditebak dari awal.
Rusiah Kaopatwelas memuat lima belas cerita péndék Darpan yang dibagi menjadi dua kelompok. Yang pertama “Si Iblis” memuat 8 cerita péndek, sedangkan kelompok kedua “Rusiah Kaopatwelas” memuat 7 cerita péndék. Semua cerita yang dimuat dalam “Si Iblis” berlatarbelakang kehidupan orang-orang di pedésaan bagian Utara Jawa Barat, sekitar Karawang, seperti cerita-cerita yang dimuat dalam kumpulan cerita péndéknya yang pertama Nu Harayang Dihargaan yang mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 1999. Sedang cerita-cerita yang dimuat dalam kelompok “Rusiah nu Kaopatwelas” mengisahkan orang-orang yang hidup di kota, terutama di Bandung.
Meski tidak sekuat umumnya cerita yang dimuat dalam Nu Harayang Dihargaan, cerita-cerita Darpan yang dimuat dalam “Si Iblis” terasa lebih hidup dan memuat gambaran yang terjadi di tempat-tempat gersang seperti di pinggir Laut Jawa. Sedang cerita yang dimuat dalam bagian “Nu Kaopatwelas” banyak yang merupakan hasil imajinasi yang sering terasa tidak berakar pada bumi nyata seperti “Budak nu teu balik” dan “Kota”. Yang terasa mengganggu ialah banyaknya penggunaan kata “mun” dan “lamun” (= kalau) yang seharusnya “yén” (= bahwa). Hal itu niscaya pengaruh dari bahasa Indonésia yang belakangan banyak mempergunakan kata “kalau”, “apabila” atau “bila” yang seharusnya “bahwa”. Hal itu terjadi karena banyak orang Jawa yang dalam berbahasa Indonésia tidak tahu bahwa “yén” dalam bahasa Jawa mempunyai arti dua dalam bahasa Indonésia, ialah “kalau” dan bahwa”. Ketidaktahuan itu kemudian dianggap sebagai gaya baru dalam berbahasa sehingga banyak diikuti juga oléh bukan orang Jawa, dan para penulis dalam bahasa Sunda ikut-ikutan latah.
Élégi Patani adalah kumpulan sajak pertama karya Arie Suhanda yang sebelumnya sering mempergunakan nama Érry Wisnu Asuhan kalau mengumumkan sajak atau dangdingnya dalam majalah Manglé, Langensari, dll. Namun yang dimuat dalam Élégi Patani ini semuanya sajak baru yang ditulis tahun 2003 - 2008. Témanya jelas banyak mengeritik keadaan negara dan tingkah laku manusianya, dikemukakan dengan bahasa yang terlalu prosais. Terasa ketika menulis sajaknya penyair tidak terlalu memanfaatkan bahasa puisi seperti métafora, sehingga tidak ada yang mampu mengajuk hati sampai ke dalam.
Serat Panineungan adalah kumpulan sajak Étti RS yang kelima setelah Jamparing (1984), Gondéwa (1987), Maung Bayangan (1994) dan Lagu Hujan Silantang (2003). Kekuatan Étti adalah dalam pemakaian métafora yang disertai dengan purwakanti yang seakan dipungutnya dengan mudah dan wajar. Meskipun sajak-sajak yang dimuat dalam Serat Panineungan ini tidak memperlihatkan bobot yang lebih mendalam daripada sajak-sajaknya yang terdahulu terutama yang dimuat dalam Maung Bayangan, malah banyak yang merupakan cetusan asmara remaja, namun di antara sajak-sajak catatan perjalanan yang dibuatnya di berbagai tempat yang dia kunjungi, masih cukup banyak sajak dan dangdingnya yang berhasil menjadi puisi yang sederhana namun bulat, seperti “Titis Tulis”, “Hiji Sagara”, “Duriat Natrat ka Tanah Karamat”, “Leuwi”, “Surat keur Lemah Cai”, “Cipularang II”, “Angin”, “Nyukcruk Parung …” dan “Diajar Ludeung”.
Karena itu yang terpilih sebagai karya yang mendapat Hadah Sastera “Rancagé” 2009 untuk karya dalam bahasa Sunda adalah
Serat Panineungan
Kumpulan sajak Étti RS
(terbitan Kiblat Buku Utama, Bandung)
Dengan demikian Étti RS, yang untuk kedua kalinya menerima Hadiah Sastera “Rancagé” (yang pertama tahun 1995 untuk kumpulan sajaknya Maung Bayangan), berhak menerima Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 berupa piagam dan uang (Rp 5 juta).
Sedang yang terpilih untuk mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk jasa, karena besar jasanya dalam memelihara dan mengembangkan bahasa Sunda terutama melalui lagu-lagu karawitan ciptaannya, adalah
Nano S. (lahir di Garut, 4 April 1944)
Nano S. tamatan Konsérvatori Karawitan Sunda dan Akadémi Senitari (ASTI), mengajar di SMKI Bandung, aktif dalam bidang karawitan Sunda tradisional, baik sebagai pencipta lagu, pelaksana pertunjukan, maupun pimpinan grup, dll. Dia telah mencipta ratusan lagu karawitan, banyak di antaranya kemudian dijadikan lagu pop Sunda yang sangat populér karena digemari bukan hanya oléh orang Sunda seperti “Kalangkang”. Dia pun menciptakan karya-karya daria seperti “Sang Kuriang” dan “Warna”. Satu-satunya seniman Sunda (Indonésia?) yang masuk dalam “World Music Library” yang diproduksi oléh Seven Seas dengan produser Hoshikawa Kyoji, album CD-nya berjudul “Nano S., the Great Master of Sunda Music” (1994). Lagu-lagu ciptaannya juga diproduksi di Amérika Serikat bersama dengan pencipta lagu dari negeri-negeri lain seperti India, Nubia, Mongol, Jepang, dll. (1995). Kepopuléran lagu-lagunya yang liriknya ditulis dalam bahasa Sunda ikut memelihara dan menyebarkan bahasa Sunda di kalangan generasi muda. Nano sendiri banyak menulis sajak, cerita péndék dan artikel dalam bahasa Sunda.
Cerita-cerita péndéknya diterbitkan dengan judul Nu Baralik Manggung (2003). Dalam bidang keahliannya Nano menulis Haleuang Tandang (1976) dan Pengetahuan Karawitan Sunda (1983). Nano sering diundang ke luar negeri baik untuk memimpin pertunjukan kesenian Sunda maupun sebagai artist in residence. Nano mendapat Anugerah Akadémi Jakarta (2004).
Kepada Nano S. akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk bidang jasa dalam sastera Sunda berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk sastera Jawa
Dibandingkan dengan tahun 2007, dalam tahun 2008 jauh lebih sedikit karya sastera Jawa yang terbit, yaitu hanya 4 judul, yaitu Lintang Biru: Antologi Geguritan Béngkél Sastra Jawa 2008; Dongané Maling, karya Yohanes Siyamta, kumpulan karya berupa guritan, cerkak, obrolan dan pengalaman penulisnya; Singkar roman karya Siti Aminah dan Trah roman karya Atas S. Danusubroto.
Lintang Biru memuat guritan karya 24 orang siswa SMP Kabupatén Bantul sebagai hasil Béngkél Sastra Jawa yang diselenggarakan oléh Balai Bahasa Yogyakarta. Dongané Maling campuran karya fiksi dengan obrolan dan catatan pengalaman, sukar dianggap sebagai karya sastera yang utuh. Karena itu Lintang Biru dan Dongané Maling disisihkan dari penilaian untuk mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2009.
Maka yang dinilai untuk mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 adalah dua buah roman Singkar dan Trah. Singkar (nama désa tapi tidak diberitahukan secara langsung) ditulis dengan bahasa anak muda, seakan ditujukan hanya untuk bacaan anak muda. Roman yang panjangnya hanya 134 halaman itu dibagi menjadi 24 bab dan hampir dalam setiap bab muncul tokoh-tokoh antagonis, kebanyakan dalam adegan flash back, sehingga terjadi digrési dan menjadi tidak logis. Sebenarnya cukup menarik cerita tentang gadis yang dipaksa ibunya untuk menikah dengan jejaka yang tidak dicintainya, yang ternyata sama dengan pengalaman ibunya sendiri ketika gadis yang juga dipaksa oléh ibunya untuk menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya. Tetapi penyelesaian akhir cerita dengan peristiwa gempa di Bantul (Singkar ternyata berada di wilayah Bantul) terasa terlalu mudah dan terlalu mendadak.
Trah mengisahkan seorang gadis cantik bernama Tilarsih yang tertipu oléh Atun, gérmo yang membawanya ke Jakarta dengan janji akan memperkenalkannya dengan bos rekaman sehingga Tilarsih akan menjadi penyanyi terkenal. Ternyata Atun membawanya ke bordil, sehingga Tilarsih terjerumus menjadi perempuan penghibur. Tilarsih akhirnya ditemukan oléh kekasihnya, Bagus, yang berasal dari désanya juga yang sengaja mencarinya di Jakarta. Setelah bertemu, Tilarsih berjanji akan kembali ke jalan yang benar dan Bagus akan menikahinya. Namun ketika Tilarsih kembali ke désanya, sudah berédar cerita tentang pekerjaannya yang hina di Jakarta, sehingga menimbulkan berbagai kesulitan dan godaan baginya. Namun dengan teguh hati Tilarsih menunggu kekasihnya kembali dan berhasil mengembalikan wibawanya sebagai wanita baik-baik. Bagus ternyata keturunan keluarga yang pernah menjatuhkan kehidupan orang tua Tilarsih. Tilarsih ternyata keturunan priyayi (éyangnya demang), yang jatuh melarat karena ulah jahat kakék Bagus dengan menjerumuskannya menjadi penjudi sehingga kekayaannya amblas dijual kepada kakék Bagus.
Trah mempunyai kekuatan pada aspék kultur karena tidak saja menggambarkan kelas masyarakat bangsawan dengan rapi, tetapi juga menggambarkan watak nrima, hormat kepada orang tua, sabar dan andhap asor yang ditekankan sebagai sikap luhur. Tatakrama berkomunikasi antar manusia terpelihara dengan baik.
Dengan demikian yang terpilih sebagai karya sastera Jawa terbitan tahun 2008 yang menerima Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk karya, adalah
Trah
karya Atas S. Danusubroto
(terbitan Penerbit Narasi, Yogyakarta)
Maka Atas S. Danusubroto sebagai pengarangnya berhak untuk menerima Hadiah Sastera “Rancagé” 2009, berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Sedang yang terpilih untuk mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk jasa, karena besar jasanya dalam memelihara dan mengembangkan bahasa Jawa, adalah
Sunarko Budiman (lahir di Tulungagung, 21 Januari 1960)
Sebagai tamatan SPG dia menjadi guru SD dan sebagai guru SDN dia sempat memperoléh penghargaan Guru Teladan (1989) dan menjadi Guru Berpréstasi (2006) Kabupatén Tulungagung. Sementara itu dia pun melanjutkan pelajaran sehingga pada akhirnya tamat S-2 Magister Kebijakan Pendidikan di Universitas Muhammadiyah, Malang. Dia menaruh perhatian besar terhadap bahasa dan sastera Jawa, bukan saja sebagai penulis melainkan sebagai pengelola Sanggar Sastra Jawa Triwida yang didirikan oléh Tamsir AS (almarhum). Sanggar ini berjasa mendorong kelahiran para penulis sastera Jawa di daérah Tulungagung, Trenggalék dan Blitar. Sejak 1998 dia dipercaya sebagai Ketua Sanggar Sastra Triwida. Dia pernah menjadi Pemimpin Redaksi majalah Prasasti (1993-1997), majalah supranatural Pamor Jagad Gaib (2002-2005) dan majalah Gayatri (sejak 2007). Dia juga menjadi wartawan majalah Panyebar Semangat, Jaya Baya dan Damar Jati. Karyanya berupa artikel, réportase, cerkak dan guritan. Dia banyak menggunakan nama samaran, al. Narko Rasodrun, Datiek Yuminarko, Ki Narkosabda, Narkoba, dll. Dia juga menyusun buku pelajaran bahasa Jawa dan menjabat sebagai Ketua Litbang Kelompok Penulis Buku Pendidikan Dasar Jawa Timur (sejak 1991). Dia juga aktif dalam berbagai séminar dan kongrés bahasa dan sastera Jawa.
Kepada Sunarko Budiman akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk bidang jasa dalam sastera Jawa berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk sastera Bali
Perkembangan sastera Bali tahun 2008 sangat menggembirakan, baik secara kualitas maupun secara kuantitas. Buku yang terbit tahun 2008 ada sembilan judul (tahun 2007 hanya lima judul), yaitu 3 judul kumpulan puisi, 2 judul roman, 2 judul drama dan 2 judul kumpulan cerita péndék dengan téma beragam dan penggunaan bahasa yang kian kréatif.
Ada tiga pengarang wanita yang menerbitkan buku dalam bahasa Bali modéren, hal yang tak pernah ada sebelumnya. Sejak kemunculan sastera Bali modéren tahun 1910, belum pernah ada pengarang wanita yang menerbitkan buku. Ketiga pengarang itu adalah Anak Agung Sagung Mas Ruscitadéwi (l. 1965) dengan kumpulan cerita péndék Luh Jalir (Perempuan Nakal), I Gusti Ayu Putu Mahindu Déwi Purbarini (l. 1977) dengan kumpulan puisi Taji (Taji) dan Ni Kadék Widiasih (l. 1984) dengan kumpulan puisi Gurit Pangawit (Syair Pemula). Ketiganya berpendidikan universitas dan menulis juga dalam bahasa Indonésia.
Karya meréka memberikan pérspéktif baru dalam perkembangan téma sastera Bali modéren. Masalah kesetaraan génder dan pengalaman hidup manusia dari pérspéktif perempuan mulai muncul. Sayangnya kemampuan ketiganya dalam menggarap téma dan mengembangkan éstétika belum mantap.
Buku-buku lain adalah karya I Nyoman Manda (dua drama Nembang Girang di Bukit Gersang dan Saput Poléng, dua buah novelét yaitu Ngabih Kasih ring Pesisi Lebih dan Sawang-sawang Gamang), kumpulan cerita péndék Merta Matemahan Wisia karya Madé Suarsa, dan kumpulan puisi Somah karya Nyoman Tusthi Éddy.
Karya-karya Nyoman Manda, yang pernah mendapat Hadiah “Rancage” 3 kali (satu untuk jasa), selalu memperlihatkan gaya bertutur yang lancar dan mudah dimengerti. Kisah-kisahnya selalu dikemas dengan percintaan yang digunakannya untuk menyampaikan pesan-pesan moral. Drama Saput Poléng (Sarung Poléng) mengisahkan perang penaklukan kerajaan Bali oléh pasukan Gajah Mada dari Majapahit yang diisi dengan kisah cinta Gajah Mada dengan seorang puteri Bali. Novelét Ngabih Kasih ring Pesisi Lebih (Kasih Bersemi di Pantai Lebih) berkisah tentang percintaan remaja siswa SMA diselingi dengan pesan-pesan adat, tradisi dan agama agar menjadi bekal untuk menghadapi masa depan. Karya-karya Nyoman Manda sangat tepat untuk menanamkan kegemaran anak-anak muda Bali terhadap sastera dalam bahasa ibunya, karena bahasanya mudah dicerna, alur ceritanya tidak begitu kompléks, sehingga anak-anak remaja tidak menghadapi kesulitan membaca dan menikmatinya.
Dalam kumpulan cerita péndék Merta Matemahan Wisia (Kabaikan Mengakibatkan Kematian), Madé Suarsa menggarap berbagai téma seperti masalah ketimpangan sosial (kasta), kemiskinan, matérialisme, dan hukum karma. Kemampuan membangun gaya bahasa yang penuh irama, merupakan salah satu ciri utama cerita karya Madé Suarsa. Hanya saja konséntrasi yang begitu besar yang diberikan terhadap gaya bahasa, perulangan dan permainan kata yang agak berlebihan membuat penggarapan struktur cerita terabaikan.
Kumpulan puisi Somah (Suami/Isteri) karya Nyoman Tusthi Éddy tampil memikat karena keterpaduan yang kuat antara téma, pengucapan dan gaya bahasa. Téma yang diangkat sangat beragam, mulai dari hubungan suami isteri, toko serba ada, korupsi, uang, jam, kulinér, taksi dan pesisir Bali dalam kontéks perkembangan pariwisata. Hampir separo berupa sajak péndék, hanya terdiri dari satu bait, mengambil bentuk syair dan pantun. Dengan puisi péndék itu Nyoman Tusthi Éddy mampu membentangkan gagasan yang cukup luas, memikat dan menyentuh serta utuh.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka yang akan diberi Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk karya dalam bahasa Bali adalah
Somah
Kumpulan sajak I Nyoman Tusthi Éddy
(terbitan Sanggar Buratwangi)
Maka I Nyoman Tusthi Éddy sebagai penyairnya berhak untuk menerima Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Sedangkan yang terpilih untuk diberi Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk jasa dalam bahasa dan sastera Bali adalah
I Nengah Tinggen (lahir di Buléléng tahun 1931)
Pada tahun 1961, Nengah Tingen terpilih sebagai sékertaris Panitia Penyelenggara Buku-buku Pelajaran bahasa Bali bersama 11 orang utusan daérah dari seluruh Bali. Tahun 1971, ia menyusun buku pedoman pemakaian aksara Bali. Sejak itu dia menulis berbagai buku tentang Bali, sebagian besar dalam bahasa Bali. Dia telah menerbitkan lebih dari 40 judul buku termasuk tentang éjaan bahasa Bali, buku kidung dan gaguritan dan buku-buku cerita. Karyanya banyak digunakan sebagai penunjang pelajaran bahasa dan sastera Bali di sekolah-sekolah. Di antaranya berjudul Satua-satua Bali (Cerita-cerita Bali) yang memuat dongéng-dongéng yang dikenal dalam masyarakat Bali terbit dalam 15 jilid, Sor Singgih Bahasa Bali (Gaya bahasa halus dan biasa dalam bahasa Bali), Dasar-dasar Pelajaran Kakawin dan Diktat Bahasa Bali.
Dia bekerja sebagai guru bahasa dan sastera Bali di SPGN Singaraja dan menjadi dosén luar biasa di STKIP Agama Hindu Singaraja. Dia juga mengisi siaran bahasa Bali di RRI Stasiun Singaraja, aktif dalam berbagai séminar serta selalu mendorong masyarakat agar mencintai bahasa dan sastera Bali. Dia pernah menerima anugerah seni budaya Dharma Kusuma dari pemerintah Provinsi Bali.
Maka kepada I Nengah Tinggen akan dihaturkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2009 untuk jasa dalam bahasa dan sastera Bali berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).
Hadiah “Samsudi” 2009 untuk buku bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda
Tahun yang lalu, Hadiah “Samsudi” diberikan kepada pengarang buku Catetan Poéan Réré, yaitu Ai Koraliati. Ternyata pemberian hadiah itu menimbulkan héboh karena buku Catetan Poéan Réré belum terbit sebagai buku, tidak terdapat di toko-toko buku. Buku yang disampaikan kepada Yayasan “Rancagé” oléh pengarangnya adalah contoh yang dibuat penerbit dalam jumlah terbatas untuk Panitia Proyék Pembelian buku. Pada tahun 2007 mémang ada rencana pemerintah untuk membeli buku-buku bahasa Sunda dalam jumlah yang besar. Dana yang disediakan konon sampai Rp. 80 milyar. Karena itu para penerbit dan bukan penerbit berlomba-lomba hendak menerbitkan buku bacaan bahasa Sunda terutama buku bacaan anak-anak. Tetapi ternyata pembelian besar-besaran itu tidak jadi dilaksanakan, dan dengan demikian banyak contoh buku yang sudah dibuat tidak jadi diterbitkan. Penerbit-penerbit yang membuat contoh buku demikian tidak bermaksud menyediakan bacaan dalam bahasa ibu, melainkan hanya mau turut mengambil bagian dalam “pembagian kué” melalui permainan pat-pat-gulipat dengan panitianya.
Menjelang akhir tahun 2008, Yayasan Rancagé menerima sejumlah judul buku dari seorang pengarang. Buku-buku itu menurut titimangsanya adalah terbitan tahun 2007, tetapi setelah dipantau ternyata tidak pernah berédar di toko-toko buku. Dengan demikian jelas bahwa buku-buku itu adalah sekedar contoh untuk “proyék” seperti buku Catetan Poéan Réré. Dengan demikian buku-buku itu disisihkan dari penilaian untuk memperoléh Hadiah “Samsudi” 2009. Perlu kami jelaskan bahwa Yayasan “Rancagé” hanya menilai buku-buku yang dijual di toko-toko buku baik untuk Hadiah “Rancagé” maupun untuk Hadiah “Samsudi”.
Dalam tahun 2008 ada sejumlah buku bacaan anak-anak bahasa Sunda yang terbit, tetapi kebanyakan merupakan cétak ulang. Buku baru yang kami anggap cukup baik untuk diberi Hadiah “Samsudi” adalah
Sasakala Bojongemas
Karya Aan Merdéka Permana
(wedalan Ujung Galuh, Bandung)
Kepada Aan Permana Merdéka akan dihaturkan Hadiah “Samsudi” 2009 berupa piagam dan uang (Rp. 2.500.000).
*
Upacara penyerahan Hadiah Sastera “Rancagé’ dan Hadiah “Samsudi” 2009 akan dilaksanakan dalam suatu upacara khusus yang akan diselenggarakan di Jakarta. Tempat dan waktunya akan ditetapkan kemudian.
Pabélan, 31 Januari, 2009
Yayasan Kebudayaan “Rancagé”
Ajip Rosidi
Ketua Déwan Pembina
Sumber: http://irfananshory.blogspot.com
February 2, 2009
Hadiah Sastra Rancage 2009 untuk Sastra Sunda, Jawa, dan Bali
JAKARTA, SENIN--Yayasan Kebudayaan Rancage, tahun 2009 ini kembali akan memberikan Hadiah Sastra Rancage 2009, kepada penulis karya sastra dalam bahasa Sunda, Jawa, dan Bali.
Jika tahun 2008 ada Hadiah Sastra Rancage untuk penulis sastra bahasa Lampung, maka tahun 2009 ini ditiadakan. Karena tidak ada buku sastra dalam bahasa Lampung yang terbit sepanjang 2008.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage, Ajib Rosidi, dalam siaran pers kepada Kompas, Senin (2/2) mengatakan, Hadiah Sastra Rancage 2009 adalah kali ke-21 penghargaan itu diberikan.
Pertama kali diberikan tahun 1 989, khusus kepada sastrawan yang menulis dalam bahasa Sunda. Tetapi, sejak 1994 para sastrawan yang menulis dalam bahasa Jawa juga mendapat Hadiah Sastra Rancage. Dan sejak 1997, para sastrawan yang menulis dalam bahasa Bali. Tahun 2008 sastrawan yang menulis dalam bahasa Lampung juga mendapatkan Hadiah Sastra Rancage, katanya.
Ajib Rosidi menjelaskan, setelah selama 20 tahun pemberian Hadiah Sastra Rancage berjalan, selalu mendapat tempat dalam pers, namun tidak pernah mendapat perhatian pemerintah, baik pusat maupun daerah.
Terlepas dari persoalan itu Ajib juga mengemukakan betapa penerbitan buku-buku dalam bahasa daerah kurang mendapat perhatian. Dilukiskan, tahun 2007 terbit 32 judul buku bahasa Sunda, tetapi tahun 2008 hanya 10 judul yang terbit. Buku dalam bahasa Jawa hanya empat judul yang terbit tahun 2008. Lain halnya Bali, jika tahun 2007 ada lima judul, maka tahun 2008 naik menjadi sembilan judul buku dalam bahasa Bali.
Pernah suatu kali penerbitan buku bahasa Sunda begitu banyak, namun hal itu terkait dengan rencana pemerintah untuk membeli buku-buku bahasa Sunda dalam jumlah yang besar. Dana yang disediakan konon sampai Rp80 miliar. Buku yang terbit ternyata buku contoh, yang tidak jadi terbit karena rencana pembelian besar-besaran oleh pemerintah itu tak jadi dilaksanakan. Buku yang dinilai untuk Hadiah Sastra Rancage adalah yang terbit dan beredar luas dan dijual di toko-toko buku, jelas Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage ini.
Penerima Rancage 2009
Ajib Rosidi juga mengumumkan penulis yang menerima Hadiah Sastra Rancage 2009 dan tokoh atau lembaga yang dianggap besar jasanya dalam memelihara dan mengembangkan bahasa ibunya.
Mereka adalah Etti RS dengan buku kumpulan sajak Serat Panineungan (untuk karya dalam bahasa Sun da) dan Nano S atas jasanya mengembangkan bahasa Sunda terutama melalui lagu-agu karawitan ciptaannya. Kemudian S Danusubroto dengan buku roman berjudul Trah (untuk bahasa Jawa). Sedangkan tokohnya Sunarko Budiman, penulis dan pengelola Sanggar Sastra Jawa Triwida.
Untuk sastra bahasa Bali, Hadiah Sastra Rancage diberikan kepada I Nyoman Tusthi Eddy atas buku kumpulan sajak berjudul Somah. Sedangkan yang terpilih untuk diberi Hadiah Sastra Rancage 2009 untuk jasa dalam bahasa dan sastra Bali adalah I Nengah Tinggen, penyusun buku pedoman pemakaian aksara Bali dan telah menulis 40 judul buku dalam bahasa Bali.
Khusus untuk bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda, Yayasan Kebudayaan Rancage memberikan Hadiah Samsudi 2009 kepada Aan Merdeka Permana, yang menulis buku Sasakala Bojongemas.
Masing-masing penerima Hadiah Sastra Rancage selain mendapat piagam juga peroleh uang Rp5 juta. Sedangkan Hadiah Samsudi berupa piagam dan uang Rp2,5 juta. Penyerahan hadiah dilaksanakan dalam suatu upacara khusus yang akan diselenggarakan di Jakarta. Tempat dan waktunya akanm ditetapkan kemudian, jelas Ajib. (NAL)
Sumber: Kompas, Senin, 2 Februari 2009
Jika tahun 2008 ada Hadiah Sastra Rancage untuk penulis sastra bahasa Lampung, maka tahun 2009 ini ditiadakan. Karena tidak ada buku sastra dalam bahasa Lampung yang terbit sepanjang 2008.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage, Ajib Rosidi, dalam siaran pers kepada Kompas, Senin (2/2) mengatakan, Hadiah Sastra Rancage 2009 adalah kali ke-21 penghargaan itu diberikan.
Pertama kali diberikan tahun 1 989, khusus kepada sastrawan yang menulis dalam bahasa Sunda. Tetapi, sejak 1994 para sastrawan yang menulis dalam bahasa Jawa juga mendapat Hadiah Sastra Rancage. Dan sejak 1997, para sastrawan yang menulis dalam bahasa Bali. Tahun 2008 sastrawan yang menulis dalam bahasa Lampung juga mendapatkan Hadiah Sastra Rancage, katanya.
Ajib Rosidi menjelaskan, setelah selama 20 tahun pemberian Hadiah Sastra Rancage berjalan, selalu mendapat tempat dalam pers, namun tidak pernah mendapat perhatian pemerintah, baik pusat maupun daerah.
Terlepas dari persoalan itu Ajib juga mengemukakan betapa penerbitan buku-buku dalam bahasa daerah kurang mendapat perhatian. Dilukiskan, tahun 2007 terbit 32 judul buku bahasa Sunda, tetapi tahun 2008 hanya 10 judul yang terbit. Buku dalam bahasa Jawa hanya empat judul yang terbit tahun 2008. Lain halnya Bali, jika tahun 2007 ada lima judul, maka tahun 2008 naik menjadi sembilan judul buku dalam bahasa Bali.
Pernah suatu kali penerbitan buku bahasa Sunda begitu banyak, namun hal itu terkait dengan rencana pemerintah untuk membeli buku-buku bahasa Sunda dalam jumlah yang besar. Dana yang disediakan konon sampai Rp80 miliar. Buku yang terbit ternyata buku contoh, yang tidak jadi terbit karena rencana pembelian besar-besaran oleh pemerintah itu tak jadi dilaksanakan. Buku yang dinilai untuk Hadiah Sastra Rancage adalah yang terbit dan beredar luas dan dijual di toko-toko buku, jelas Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage ini.
Penerima Rancage 2009
Ajib Rosidi juga mengumumkan penulis yang menerima Hadiah Sastra Rancage 2009 dan tokoh atau lembaga yang dianggap besar jasanya dalam memelihara dan mengembangkan bahasa ibunya.
Mereka adalah Etti RS dengan buku kumpulan sajak Serat Panineungan (untuk karya dalam bahasa Sun da) dan Nano S atas jasanya mengembangkan bahasa Sunda terutama melalui lagu-agu karawitan ciptaannya. Kemudian S Danusubroto dengan buku roman berjudul Trah (untuk bahasa Jawa). Sedangkan tokohnya Sunarko Budiman, penulis dan pengelola Sanggar Sastra Jawa Triwida.
Untuk sastra bahasa Bali, Hadiah Sastra Rancage diberikan kepada I Nyoman Tusthi Eddy atas buku kumpulan sajak berjudul Somah. Sedangkan yang terpilih untuk diberi Hadiah Sastra Rancage 2009 untuk jasa dalam bahasa dan sastra Bali adalah I Nengah Tinggen, penyusun buku pedoman pemakaian aksara Bali dan telah menulis 40 judul buku dalam bahasa Bali.
Khusus untuk bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda, Yayasan Kebudayaan Rancage memberikan Hadiah Samsudi 2009 kepada Aan Merdeka Permana, yang menulis buku Sasakala Bojongemas.
Masing-masing penerima Hadiah Sastra Rancage selain mendapat piagam juga peroleh uang Rp5 juta. Sedangkan Hadiah Samsudi berupa piagam dan uang Rp2,5 juta. Penyerahan hadiah dilaksanakan dalam suatu upacara khusus yang akan diselenggarakan di Jakarta. Tempat dan waktunya akanm ditetapkan kemudian, jelas Ajib. (NAL)
Sumber: Kompas, Senin, 2 Februari 2009
February 1, 2009
Merawat Teater tanpa Jaminan Sosial
Oleh Iswadi Pratama*
APAKAH peran dan fungsi teater modern Indonesia bagi kehidupan masyarakat dan bangsa?
Tantangan untuk menjawab peran "konkret" teater modern seperti ini acapkali muncul dengan amat pongah dan gagah dalam berbagai kesempatan dan event teater. Dan biasanya muncul dari golongan yang cenderung menilai segala sesuatu dari kalkulasi untung-rugi.
Hal serupa juga mengemuka dalam pertemuan seniman dan kelompok-kelompok teater modern se-Sumatera yang ditaja Teater Satu bekerja sama dengan Hivos di Taman Budaya Lampung 15-26 Januari 2009 dengan tajuk Kala Sumatera.
Seperti lumut pada batu, teater modern Indonesia akan sulit setiap kali ditantang menjelaskan makna dirinya. Sejak satu abad lebih, kesenian impor ini senantiasa berada di tapal batas antara bertahan dan lenyap. Namun, situasi eksistensialnya ini sama sekali tidak tepat bila dijadikan rujukan untuk menilai peran dan sumbangsihnya kepada masyarakat dan negara.
***
Ada banyak karya pertunjukan teater modern kita yang telah memberikan khazanah simbol-simbol kebudayaan dan membangun identitas kebudayaan bangsa di mata dunia lahir dari situasi-situasi paling sulit yang membelit kelompok-kelompok teater modern Indonesia sejak dari masa kejayaan Bengkel Teater Rendra, Teater Populer (Teguh Karya), Teater Ketjil (Arifin C. Noor), Teater Mandiri (Putu Wijaya), Studiklub Teater Bandung (almarhum Suyatna Anirun), Teater Koma (Nano Riantiarno), hingga komunitas-komunitas yang muncul belakangan seperti Teater Sae (Budi S. Otong dan Afrizal Malna), Teater Kubur (Dindon W.S.), Teater Payung Hitam (Rahman Sabur, Bandung), Teater Gandrik (Butet Kertaredjasa, Yogyakarta), Teater GidagGidig (Hanindawan, Solo).
Berkat kerja keras (sebenarnya kata "kerja keras" ini tak secuil pun bisa mewakili perjuangan berdarah-darah para seniman teater tersebut) entitas ke-Indonesiaan dalam konteks kultural dan seringkali juga politik masih dan selalu diperhitungkan di tengah pergaulan Internasional. Sebutlah misalnya pertunjukan Selamatan Anak Cucu Sulaiman yang diusung Bengkel Teater Rendra ke New York pada tahun 60-an.
Pentas keliling Teater Ketjil membawakan lakon Sumur Tanpa Dasar di Eropa dan Timur Tengah. Semua itu tak bisa sekadar dipandang sebagai kegiatan "tamasya" seperti event seni yang sering dibawa dinas-dinas pariwisata Indonesia.
Mereka, seniman-seniman teater Indonesia itu, diundang dan dibiayai para pemilik modal dari negeri lain lantaran karya mereka memiliki pesona dan mengandung kekayaan symbol-simbol budaya ke-Indonesiaan yang oleh bangsa-bangsa "pengundang" itu dianggap sebagai refleksi dinamika, kemajuan, dan capaian estetik dan peradaban masyarakat dan bangsa Indonesia.
Sementara di negerinya sendiri, para seniman itu lebih sering diperlakukan sebagai "ancaman" (di masa rezim orde baru), atau "orang-orang malas" di tengah kultur borjuasi masyarakat, atau "objek politisasi" pemerintah yang hendak membangun image ke-ber-adaban dalam pembangunan.
***
Kesenian, wabilkhusus teater modern seakan bukanlah anasir dari pembangunan yang diselenggarakan oleh pemerintah. Sikap pemerintah dan sikap swasta lebih kurang sama dalam memperlakukan kesenian, yakni sebagai "produk" yang diambil ketika dibutuhkan dan ditinggalkan ketika tak memberikan keuntungan. Pemerintah hampir-hampir tak punya visi yang lebih maju daripada apa yang selama ini sudah mereka imami secara fanatik dalam menyelenggarakan pembangunan di bidang kebudayaan, yakni dalam rangka melestarikan nilai-nilai tradisi.
Lantaran senantiasa bertolak dari visi seperti itulah, maka seni-seni yang berlabel "modern" termasuk di dalamnya teater akan jauh terasing dari jangkauan kebijakan pemerintah. Di samping itu, pengertian "seni" sendiri acapkali menjadi terlalu disederhanakan oleh para pejabat pemerintah yang berkompten terhadap kesenian dan kebudayaan.
Saudara-saudara tanyalah pada para pejabat itu, apakah mereka mengerti kesenian? Maka sebagian besar mereka dengan serta merta akan menjawab "saya bisa nyanyi sedikit-sedikit", atau "saya pernah nonton tari-tarian anu", atau "saya pernah lihat pameran di sana...", malahan ada pejabat di instansi kebudayaan yang tidak pernah ngobrol soal kebudayaan.
Sementara, ketika Indonesia ambruk hampir di setiap sektor kehidupan; kesenian setidaknya menjadi "dada"--meskipun ringkih--yang masih bisa ditepuk pemerintah di hadapan pergaulan internasional.
Maka, tak mengherankan jika dalam setiap event teater yang memperjumpakan para seniman dan komunitas-komunitas teater baik dalam skala lokal, regional, maupun nasional kita belum bisa luput dari keluhan-keluhan semacam ini: "teater itu miskin", masyarakat kurang apresiatif", "pemerintah tak perduli", "marginal", "tak menjanjikan", "tanpa harapan", "ditinggalkan", seakan-akan para seniman teater tak punya kemungkinan lain selain membesar-besarkan hati untuk terus berteater. Dan karena itu mereka terus-menerus terbelah: Di satu sisi merasa telanjur menekuni profesi sebagai seniman teater, di sisi lain harus menerima fakta bahwa teater memang belum memberikan harapan terhadap perbaikan kesejahteraan hidup.
Lalu satu per satu komunitas teater modern di Indonesia--juga di Lampung--membubarkan diri. Para senimannya banting setir ke profesi lain yang menurut hemat mereka lebih "menjanjikan". Dan sampai sekarang belum ada satu pun kelompok teater yang bubar itu berkumpul lagi dan membangun kembali komunitasnya.
Apabila pemerintah mengelak untuk menjawab dan membereskan persoalan-persoalan ini, maka saya kira mereka juga harus membubarkan seluruh perguruan atau institut seni yang ada di Indonesia dan menghapuskan pelajaran seni-drama dari kurikulum pelajaran bahasa Indonesia atau kesenian. Lalu seluruh taman budaya, dinas-dinas pariwisata, dan dewan-dewan kesenian juga harus men-delete divisi teater dalam struktur keorganisasian mereka.
Bukankah semua mahasiswa yang menekuni pendidikan seni drama di lembaga-lembaga pendidikan formal, para guru, dan para pelajar yang mempelajari seni drama di sekolahnya, memerlukan sanggar-sanggar teater untuk mengabdikan ilmunya, menguji keterampilan dan pengetahuannya, menganalisis fakta-fakta, menemukan nilai-nilai (kebenaran) di tengah masyarakat melalui disiplin keilmuannya tersebut?
***
Untuk apa pendidikan seni drama (teater) masih dipelajari di Institut-Institut kesenian bila sudah tidak ada lagi komunitas teater?
Berdasarkan seluruh fakta di atas, para seniman teater se-Sumatera telah membangun sebuah jejaring kerja yang akan memperjuangkan harkat dan martabat insan teater di Sumatera. Tahap awal yang telah ditempuh dan akan ditindaklanjuti adalah membekali dan menambah pengetahuan dan keterampilan seniman-seniman teater dari berbagai komunitas di Sumatera dengan menyelenggarakan workshop, diskusi, lokakarya di bidang artistik dan manajemen dan pergelaran karya secara rutin setiap satu tahun. Penyelenggara program ini akan bergantian di setiap provinsi dan harus melibatkan para narasumber yang telah berpengalaman.
Selain itu, jejaring kerja Kala Sumatera ini akan terus-menerus mendialogkan kemungkinan-kemungkinan pengembangan teater modern di setiap provinsi di Sumatera dengan terlebih dahulu menyejajarkan relasi antara seniman teater dengan pihak pemerintah.
Seniman teater harus punya martabat. Demikian Putu Wijaya, tokoh teater Indonesia menegaskan kepada para peserta workshop penyutradaraan. Untuk meraih martabat itu, seniman teater tidak punya pilihan lain selain harus menjadi ahli di bidangnya.
Hal serupa disampaikan oleh Amna Kusumo, Direktur Yayasan Kelola. Menurut istri maestro tari Indonesia Sardono W. Kusumo ini, sudah saatnya seniman-seniman teater di Sumatera bangkit bersama menjadi kekuatan baru di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Sedangkan Sitok Srengenge, Dewan Kurator Komunitas Salihara, menganggap Sumatera, khususnya Lampung bisa menjadi pelampung bagi teater modern Indonesia yang saat ini terancam karam.
Semua usaha yang dilakukan seniman-seniman teater di Sumatera juga sikap dan pandangan optimistis itu tentu saja tidak dengan serta merta akan membereskan segudang permasalahan dalam pengembangan teater modern di Sumatera khususnya di Lampung. Apa pun motivasi, spirit, atau nilai yang disugestikan kepada seniman teater pada akhirnya akan vis a vis dengan fakta bahwa teater belum bisa sekadar menyelamatkan periuk nasi para seniman pendukungnya.
Maka, cara bertahan yang paling luhur dan yang selama ini telah ditempuh oleh sebagian besar pekerja teater adalah dengan meyakini bahwa apa yang mereka lakukan itu mereka persembahkan bagi kebajikan hidup bersama dengan turut menyelenggarakan pencerdasan masyarakat melalui teater, pencerahan, refleksi sosial-politik, dan merawat kehidupan spiritual mereka dan lingkungan di mana mereka berada. Lalu, bukankah kerja-kerja luhur yang tak pernah mendapat upah ini cukup beralasan untuk dirumuskan dalam kebijakan pemerintah? Apa yang diperjuangkan dan diupayakan terus menerus oleh insan-insan teater itu pada dasarnya bukanlah untuk diri mereka sendiri. Melainkan pula untuk lingkungan; masyarakat dan bangsa. Jadi, sudah sewajarnya jika pemerintah, swasta, dan masyarakat turut men-support mereka untuk menunaikan perannya.
* Iswadi Pratama, Direktur Artistik Teater Satu, Lampung
Sumber: Lampung Post, Minggu, 1 Februari 2009
APAKAH peran dan fungsi teater modern Indonesia bagi kehidupan masyarakat dan bangsa?
Tantangan untuk menjawab peran "konkret" teater modern seperti ini acapkali muncul dengan amat pongah dan gagah dalam berbagai kesempatan dan event teater. Dan biasanya muncul dari golongan yang cenderung menilai segala sesuatu dari kalkulasi untung-rugi.
Hal serupa juga mengemuka dalam pertemuan seniman dan kelompok-kelompok teater modern se-Sumatera yang ditaja Teater Satu bekerja sama dengan Hivos di Taman Budaya Lampung 15-26 Januari 2009 dengan tajuk Kala Sumatera.
Seperti lumut pada batu, teater modern Indonesia akan sulit setiap kali ditantang menjelaskan makna dirinya. Sejak satu abad lebih, kesenian impor ini senantiasa berada di tapal batas antara bertahan dan lenyap. Namun, situasi eksistensialnya ini sama sekali tidak tepat bila dijadikan rujukan untuk menilai peran dan sumbangsihnya kepada masyarakat dan negara.
***
Ada banyak karya pertunjukan teater modern kita yang telah memberikan khazanah simbol-simbol kebudayaan dan membangun identitas kebudayaan bangsa di mata dunia lahir dari situasi-situasi paling sulit yang membelit kelompok-kelompok teater modern Indonesia sejak dari masa kejayaan Bengkel Teater Rendra, Teater Populer (Teguh Karya), Teater Ketjil (Arifin C. Noor), Teater Mandiri (Putu Wijaya), Studiklub Teater Bandung (almarhum Suyatna Anirun), Teater Koma (Nano Riantiarno), hingga komunitas-komunitas yang muncul belakangan seperti Teater Sae (Budi S. Otong dan Afrizal Malna), Teater Kubur (Dindon W.S.), Teater Payung Hitam (Rahman Sabur, Bandung), Teater Gandrik (Butet Kertaredjasa, Yogyakarta), Teater GidagGidig (Hanindawan, Solo).
Berkat kerja keras (sebenarnya kata "kerja keras" ini tak secuil pun bisa mewakili perjuangan berdarah-darah para seniman teater tersebut) entitas ke-Indonesiaan dalam konteks kultural dan seringkali juga politik masih dan selalu diperhitungkan di tengah pergaulan Internasional. Sebutlah misalnya pertunjukan Selamatan Anak Cucu Sulaiman yang diusung Bengkel Teater Rendra ke New York pada tahun 60-an.
Pentas keliling Teater Ketjil membawakan lakon Sumur Tanpa Dasar di Eropa dan Timur Tengah. Semua itu tak bisa sekadar dipandang sebagai kegiatan "tamasya" seperti event seni yang sering dibawa dinas-dinas pariwisata Indonesia.
Mereka, seniman-seniman teater Indonesia itu, diundang dan dibiayai para pemilik modal dari negeri lain lantaran karya mereka memiliki pesona dan mengandung kekayaan symbol-simbol budaya ke-Indonesiaan yang oleh bangsa-bangsa "pengundang" itu dianggap sebagai refleksi dinamika, kemajuan, dan capaian estetik dan peradaban masyarakat dan bangsa Indonesia.
Sementara di negerinya sendiri, para seniman itu lebih sering diperlakukan sebagai "ancaman" (di masa rezim orde baru), atau "orang-orang malas" di tengah kultur borjuasi masyarakat, atau "objek politisasi" pemerintah yang hendak membangun image ke-ber-adaban dalam pembangunan.
***
Kesenian, wabilkhusus teater modern seakan bukanlah anasir dari pembangunan yang diselenggarakan oleh pemerintah. Sikap pemerintah dan sikap swasta lebih kurang sama dalam memperlakukan kesenian, yakni sebagai "produk" yang diambil ketika dibutuhkan dan ditinggalkan ketika tak memberikan keuntungan. Pemerintah hampir-hampir tak punya visi yang lebih maju daripada apa yang selama ini sudah mereka imami secara fanatik dalam menyelenggarakan pembangunan di bidang kebudayaan, yakni dalam rangka melestarikan nilai-nilai tradisi.
Lantaran senantiasa bertolak dari visi seperti itulah, maka seni-seni yang berlabel "modern" termasuk di dalamnya teater akan jauh terasing dari jangkauan kebijakan pemerintah. Di samping itu, pengertian "seni" sendiri acapkali menjadi terlalu disederhanakan oleh para pejabat pemerintah yang berkompten terhadap kesenian dan kebudayaan.
Saudara-saudara tanyalah pada para pejabat itu, apakah mereka mengerti kesenian? Maka sebagian besar mereka dengan serta merta akan menjawab "saya bisa nyanyi sedikit-sedikit", atau "saya pernah nonton tari-tarian anu", atau "saya pernah lihat pameran di sana...", malahan ada pejabat di instansi kebudayaan yang tidak pernah ngobrol soal kebudayaan.
Sementara, ketika Indonesia ambruk hampir di setiap sektor kehidupan; kesenian setidaknya menjadi "dada"--meskipun ringkih--yang masih bisa ditepuk pemerintah di hadapan pergaulan internasional.
Maka, tak mengherankan jika dalam setiap event teater yang memperjumpakan para seniman dan komunitas-komunitas teater baik dalam skala lokal, regional, maupun nasional kita belum bisa luput dari keluhan-keluhan semacam ini: "teater itu miskin", masyarakat kurang apresiatif", "pemerintah tak perduli", "marginal", "tak menjanjikan", "tanpa harapan", "ditinggalkan", seakan-akan para seniman teater tak punya kemungkinan lain selain membesar-besarkan hati untuk terus berteater. Dan karena itu mereka terus-menerus terbelah: Di satu sisi merasa telanjur menekuni profesi sebagai seniman teater, di sisi lain harus menerima fakta bahwa teater memang belum memberikan harapan terhadap perbaikan kesejahteraan hidup.
Lalu satu per satu komunitas teater modern di Indonesia--juga di Lampung--membubarkan diri. Para senimannya banting setir ke profesi lain yang menurut hemat mereka lebih "menjanjikan". Dan sampai sekarang belum ada satu pun kelompok teater yang bubar itu berkumpul lagi dan membangun kembali komunitasnya.
Apabila pemerintah mengelak untuk menjawab dan membereskan persoalan-persoalan ini, maka saya kira mereka juga harus membubarkan seluruh perguruan atau institut seni yang ada di Indonesia dan menghapuskan pelajaran seni-drama dari kurikulum pelajaran bahasa Indonesia atau kesenian. Lalu seluruh taman budaya, dinas-dinas pariwisata, dan dewan-dewan kesenian juga harus men-delete divisi teater dalam struktur keorganisasian mereka.
Bukankah semua mahasiswa yang menekuni pendidikan seni drama di lembaga-lembaga pendidikan formal, para guru, dan para pelajar yang mempelajari seni drama di sekolahnya, memerlukan sanggar-sanggar teater untuk mengabdikan ilmunya, menguji keterampilan dan pengetahuannya, menganalisis fakta-fakta, menemukan nilai-nilai (kebenaran) di tengah masyarakat melalui disiplin keilmuannya tersebut?
***
Untuk apa pendidikan seni drama (teater) masih dipelajari di Institut-Institut kesenian bila sudah tidak ada lagi komunitas teater?
Berdasarkan seluruh fakta di atas, para seniman teater se-Sumatera telah membangun sebuah jejaring kerja yang akan memperjuangkan harkat dan martabat insan teater di Sumatera. Tahap awal yang telah ditempuh dan akan ditindaklanjuti adalah membekali dan menambah pengetahuan dan keterampilan seniman-seniman teater dari berbagai komunitas di Sumatera dengan menyelenggarakan workshop, diskusi, lokakarya di bidang artistik dan manajemen dan pergelaran karya secara rutin setiap satu tahun. Penyelenggara program ini akan bergantian di setiap provinsi dan harus melibatkan para narasumber yang telah berpengalaman.
Selain itu, jejaring kerja Kala Sumatera ini akan terus-menerus mendialogkan kemungkinan-kemungkinan pengembangan teater modern di setiap provinsi di Sumatera dengan terlebih dahulu menyejajarkan relasi antara seniman teater dengan pihak pemerintah.
Seniman teater harus punya martabat. Demikian Putu Wijaya, tokoh teater Indonesia menegaskan kepada para peserta workshop penyutradaraan. Untuk meraih martabat itu, seniman teater tidak punya pilihan lain selain harus menjadi ahli di bidangnya.
Hal serupa disampaikan oleh Amna Kusumo, Direktur Yayasan Kelola. Menurut istri maestro tari Indonesia Sardono W. Kusumo ini, sudah saatnya seniman-seniman teater di Sumatera bangkit bersama menjadi kekuatan baru di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Sedangkan Sitok Srengenge, Dewan Kurator Komunitas Salihara, menganggap Sumatera, khususnya Lampung bisa menjadi pelampung bagi teater modern Indonesia yang saat ini terancam karam.
Semua usaha yang dilakukan seniman-seniman teater di Sumatera juga sikap dan pandangan optimistis itu tentu saja tidak dengan serta merta akan membereskan segudang permasalahan dalam pengembangan teater modern di Sumatera khususnya di Lampung. Apa pun motivasi, spirit, atau nilai yang disugestikan kepada seniman teater pada akhirnya akan vis a vis dengan fakta bahwa teater belum bisa sekadar menyelamatkan periuk nasi para seniman pendukungnya.
Maka, cara bertahan yang paling luhur dan yang selama ini telah ditempuh oleh sebagian besar pekerja teater adalah dengan meyakini bahwa apa yang mereka lakukan itu mereka persembahkan bagi kebajikan hidup bersama dengan turut menyelenggarakan pencerdasan masyarakat melalui teater, pencerahan, refleksi sosial-politik, dan merawat kehidupan spiritual mereka dan lingkungan di mana mereka berada. Lalu, bukankah kerja-kerja luhur yang tak pernah mendapat upah ini cukup beralasan untuk dirumuskan dalam kebijakan pemerintah? Apa yang diperjuangkan dan diupayakan terus menerus oleh insan-insan teater itu pada dasarnya bukanlah untuk diri mereka sendiri. Melainkan pula untuk lingkungan; masyarakat dan bangsa. Jadi, sudah sewajarnya jika pemerintah, swasta, dan masyarakat turut men-support mereka untuk menunaikan perannya.
* Iswadi Pratama, Direktur Artistik Teater Satu, Lampung
Sumber: Lampung Post, Minggu, 1 Februari 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)