June 24, 2009

Komedi Hitam Rasa Melayu

Oleh Ibnu Rushdi

NAMANYA Aruk. Ia bukan Don Kisot. Tapi, karena watak pandirnya, nasibnya selalu sial. Teater Satu Lampung, dengan menggunakan format teater kampung, menyajikan kisah Aruk, yang ditulis oleh sang sutradara, Iswadi Pratama. Pertunjukan ini renyah, lucu, sekaligus getir.


Lakon ini telah dipentaskan Teater Satu Lampung di puluhan desa, sekolah-sekolah, dan instansi pemerintahan di Lampung. Mereka juga menjajal memainkan drama ini di komunitas-komunitas teater, dari Solo sampai Jakarta. Dan kini dicoba di Teater Komunitas Salihara, Jumat dan Sabtu lalu. Panggung di Salihara diubah ke dalam bentuk arena. Tak banyak properti digunakan, hanya beberapa meja kecil yang kadang berfungsi sebagai bangku hingga dipan. Ada kain putih besar membentang sebagai latar. Di depan kain itu, Iswadi dan kawan-kawannya duduk dalam satu saf.

Pertunjukan dibuka oleh keluarga Aruk. Ayah Aruk, Rustam, seorang pria berdarah biru dengan gelar Tiang Dirangkuman bin Datuk di Ulu Sungai, dan ibu Aruk bernama Hindun binti Latif. Aruk yang bergelar Radin Segalakena ditampilkan sebagai sosok sedemikian malas dan bodoh. Ketika disuruh menangkap ikan di sungai memakai bubu, Aruk pulang dengan tangan hampa. Udang yang masuk ke bubu ia lepas kembali. "Kan Emak suruh Aruk tangkap ikan," kata Aruk polos. Kali lain, ia pulang membawa bubu yang berat, penuh berisi tahi.

Aruk kemudian dititipkan ke pamannya (diperankan oleh Iswadi sendiri). Di tempat sang paman, Aruk mempersiapkan diri mengikuti ujian menjadi bintara polisi. Pada adegan-adegan awal ini, kelucuan belum muncul. Situasi menggelikan terjadi saat adegan Aruk mengikuti tes polisi. Aruk muncul dengan kaus bertulisan "Police" dan bersepatu bot. Ia tak mau ikut ujian menembak. "Untuk apa ujian menembak bila pistol hanya di (dalam) sarung saja. Gatal rasanya tangan ini," kata Aruk. Penguji pun marah.

Iswadi membuat adegan selanjutnya seperti fragmen-fragmen biografi Aruk. Setelah gagal jadi polisi, Aruk menikah. Adegan lamarannya penuh berbalas pantun ala Melayu. Harus diakui, Teater Satu Lampung memiliki stok aktor yang kuat. Sugianto sebagai Aruk, Ruth Marini sebagai Hindun (ibu Aruk), Hamidah sebagai istri Aruk, dan Iswadi sendiri menampilkan akting yang cukup tertakar. Permainan Sugianto sebagai Aruk memang yang paling patut dipuji. Setiap fase baru dalam hidup Aruk bisa ia mainkan dengan segar.

Sebuah komedi yang bagus, kata Rendra, selalu penuh kejenakaan yang kelucuannya karena kesimpulan lucu yang diambil sendiri oleh penontonnya. Menonton akting Sugianto sebagai Aruk, yang dari nelayan menjadi pengarang, pikiran kita bisa gemas sendiri melihat keluguan dan kepandirannya. Ketika mengenakan wig gondrong, saat berprofesi pengarang, penampilannya berubah. Penonton tertawa saat cerpen-cerpennya ditolak oleh redaktur surat kabar karena selalu berhubungan dengan ikan, seperti Ayat-ayat Ikan, Ketika Ikan Bertasbih.

Lakon ini bersumber dari sastra lisan Lampung, "warahan", alias dongeng berisi nasihat, pesan, dan sindiran yang dituturkan seorang pencerita. Dongeng ini biasanya disampaikan dengan iringan gambus. Warahan Aruk Gugat, oleh Teater Satu, diadopsi ke konsep teater modern. Maka dimunculkan peran-peran, karakter, hingga aktualisasi naskah. Dalam dialog, kita juga mendapati banyak ungkapan ciri khas Melayu. Beragam pantun, gaya bahasa penuh perumpamaan (seperti: titik didih permasalahan; diam sesunyi malam; seperti jangkrik yang memukul beduk), dan tuturan hiperbolis khas Lampung pesisir selatan (seperti: air mata sudah setengah pipi; luasnya samudra; di muka bumi ini) diucapkan.

Menurut sang sutradara, pada dasarnya Aruk Gugat adalah komedi hitam. Yang menarik, setelah adegan demi adegan yang terasa unsur teater rakyatnya, klimaks adegan digarap dengan pendekatan yang terasa modern. Itu ada dalam adegan Aruk diadili, karena dianggap membakar desa.

Tiba-tiba panggung Teater Salihara temaram dan musik soundscape--yang minimalis dengan nada rendah menderam--menguasai ruangan. Suasana sangat berbeda dengan adegan-adegan sebelumnya, yang beratmosfer musik gambus atau rebana. Terlihat Aruk dengan badan telanjang meringkuk di meja dengan dikelilingi oleh ayah, ibu, dan istrinya yang berdiri kaku. Mereka masing-masing bersaksi bahwa tak ada yang salah dengan Aruk. Suasana secara psikologis menekan. Aruk sendiri--tampak dalam kesakitan--enggan memberi kesaksian. "Saya cuma ingin bertanya, kenapa kalian terus menertawai saya." dia mengerang. Lalu ia berteriak memanggil Emak. Tak ada jawaban.

Sumber: Koran Tempo, Rabu, 24 Juni 2009

No comments:

Post a Comment