January 6, 2013

[Fokus] Demi Citarasa Kopi

COBALAH klik "kopi Lampung" pada mesin pencari di internet. Selain informasi serius soal kopi yang dihasilkan Sai Bumi Ruwa Jurai ini, ada satu lagu campursari yang dinyanyikan Didi Kempot berjudul Kopi Lampung.

Lagu ini lahir bukan tanpa alasan. Ia diciptakan karena citarasa dan aroma kopi Lampung memang sudah kondang di nusantara, bahkan di dunia. Tak heran, kopi lampung menjadi ikon daerah dan begitu lekat dengan masyarakat penikmatnya.



Meskipun kondang, untuk mendapat kopi dengan citarasa dan aroma terbaik bukan gampang. Perlu keuletan dan kerja panjang demi menyajikan rasa terbaik dari biji tanaman yang memiliki dua varietas ini.

Kopi memiliki citarasa luar biasa. Bagi para pemujanya, secangkir kopi bisa menghasilkan hingga ratusan aroma. Pemilik kedai kopi di lapangan Saburai, Bandar Lampung, Muklas Saputra, mengaku kopi luwak yang disajikannya asli. Jika memang ada campuran lain dalam kopi luwaknya, silakan lapor ke polisi karena sudah menipu pembeli.

?Kalau memang ada sedikit saja kopi luwak yang disajikan dicampur dengan kopi lain, silakan tuntut saya,? kata Muklas sebagai bentuk garansi dari keaslian kopinya.

Meskipun harga per gelas kecilnya hanya Rp15 ribu. Namun, bukan berarti kopi luwak yang disajikan kualitasnya buruk. Bandingkan dengan harga kopi luwak di kafe atau hotel yang tidak kurang dari Rp50 ribu. ?Saya sengaja menjual murah supaya orang kelas menengah ke bawah juga bisa menikmati kopi ini. Harapannya kopi yang saya jual makin cepat dikenal dan laris,? katanya.

Pria 42 tahun ini sudah empat bulan berjualan di lapangan Saburai. Awalnya dia berjualan di dekat markas Polda Lampung. Namun, dengan alasan merugi, dia pindah. Sudah tidak terhitung berapa orang yang menikmati kopi luwak di kedainya, dan semuanya sepakat bahwa kopi luwak yang disajikan Muklas asli. Bukan hanya sekadar nama.

Kopi luwak di kedai Muklas didatangkan dari Lampung Barat. Kebun kopi dan luwak memang milik keluarga sendiri. Ada sebanyak 37 ekor luwak yang memang sengaja diternakkan untuk menghasilkan kopi fermentasi itu.

?Saat panen kopi, kami memilih sendiri kopi yang betul-betul sudah matang dan warnanya merah tua. Kopi ini langsung diberikan ke luwak supaya dimakan. Keesokan harinya tinggal menunggu hasil pencernaan luwak,? katanya.

Kopi dari hasil pencernaan hewan herbivora ini kemudian diolah hingga menjadi bubuk kopi dan siap untuk disedu. Selain menjual kopi langsung sedu, Muklas juga menjual kopi luwak dalam bentuk saset dengan berbagai takaran.

Lo Tjan Hin, pemilik The Coffee, menjamin tidak akan ada orang yang sakit perut dan nyeri lambung setelah minum kopi di kafenya. ?Kalaupun ada yang sakit setelah meminum kopi di The Coffee, saya akan langsung bawakan ambulans dan menanggung semua biaya pengobatan,? kata pria yang akrab disapa Acen ini.

Jaminan itu diberikan Acen karena dia yakin dengan kualitas kopi yang disajikan. Mulai dari pemilihan biji kopi sudah dilakukan dengan seleksi yang benar, kemudian proses pengolahan dari biji sampai menjadi bubuk terjamin dan memakai teknologi canggih. ?Kami sudah kerja sama dengan beberapa kelompok petani di Lampung Barat supaya hanya memilih kopi yang merah dan sudah matang,? kata dia.

Kebutuhan kopi robusta sudah tercukupi dengan petani lokal di Lampung Barat. Sedangkan jenis kopi arabika disuplai dari Medan, Toraja, dan beberapa daerah di Jawa. Di Lampung tidak ada yang menanam kopi arabika.

Menurut Acen, penyajian kopi arabika dibuat 100 persen tanpa dicampur dengan jenis lain. Sedangkan robusta disajikan dengan mencampur bersama kopi arabika dengan perbandingan 30:70. Pencampuran ini untuk mengurangi rasa robusta yang terlalu pahit.

The Coffee memiliki mesin sediri mulai dari penggorengan (roast), mesin penakan untuk menguatkan sari kopi, dan mesin penggiling. Setelah kopi digoreng, dibiarkan dahulu minimal selama tiga hari supaya aromanya makin keluar. Selanjutnya bari digiling menjadi bubuk kopi (powder).

?Begitu selesai digiling langsung disedu dan disajikan ke pelanggan. Kami membuat bubuk kopi ketika ada yang memasan. Jadi setelah digiling jadi bubuk jangan lama-lama dibiarkan. Tiga jam saja dibiarkan maka aroma kopinya akan hilang. Bubuk kopi memiliki sifat penyerap aroma. Jika dibiarkan berjam-jam, aroma di sekitar akan masuk ke kopi,? kata pria 57 tahun ini.

Pengelola Warung Kopi, Kuswidyarso, pun menjanjikan bahwa kopi yang disajikan adalah kopi pilihan dari kebun dan kemudian diolah sendiri. Warung Kopi memiliki jaringan sediri dengan penyuplai kopi. ?Kami perhatikan betuk proses pembuatannya supaya kualitasnya terjaga,? katanya.

Menurutnya, Warung Kopi hanya menjual kopi yang berasal dari Lampung, tidak dari daerah lain. Kopi arabika dan robusta, semuanya diambil dari hasil kebun di Lampung.

?Kami ingin mengenalkan kopi Lampung. Buat apa menjual kopi yang lain jika ada kopi sendiri yang tidak kalah kualitasnya,? kata pria 40 tahun ini. Warung Kopi pun memberikan harga lebih murah untuk menjangkau banyak pelanggan.

Bila ingin menikmati rasa kopi berbeda bisa datang ke Bangi Kopitiam. Di kafe sekaligus resto yang ada di Jalan Wolter Monginsidi ini, penikmat kopi akan disajikan kopi dari negeri jiran Malaysia.

Accounting Bangi Kopitiam, Oktaria Savitri, menjelaskan bahwa tempat mengopi yang baru buka sejak 20 Desember ini adalah franchise dari Malaysia. Semua bahan baku kopi dan bahan makanan didatangkan dari negara tetangga Indonesia ini. ?Kopi kami berbeda karena didatangkan langsung dari Malaysia,? kata dia.

Menu kopi yang berbeda adalah kopi untuk pria, vigour coffee, dan lady coffee untuk para wanita. Manfaat kedua jenis kopi tersebut disesuaikan dengan kebutuhan. Bagi pria berkhasiat untuk energi, sedangkan manfaat kecantikan untuk para kaum hawa.  (PADLI RAMDAN/M-2)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 6 Januari 2013

2 comments: