January 26, 2009

Wacana: Seni Rupa Lampung seperti Siput

Oleh Subardjo*

PERKEMBANGAN seni rupa di Bumi Ruwa Jurai seperti siput, maju beringsut sangat lambat. Di wilayah lain, seni rupa berlari cepat bahkan di sebagian wilayah sudah terbang bak pesawat.

Kenapa ini terjadi di negeri Sang Bumi Ruwa Jurai? Jawaban yang muncul bisa beragam. Disimpulkan rata-rata menjawab karena infrastruktur yang ada belum memadai untuk menyangga kehidupan seni rupa. Ada juga yang mengatakan infrastruktur tidak optimal, ditambah minimnya suprastruktur. Benarkah demikian?

Marilah kita tengok kondisi riil hal ihwal perupa di negeri ini. Dengan jumlah penduduk Provinsi Lampung sekitar tujuh juta orang lebih, sementara jumlah perupa di Provinsi Lampung tercatat 100-an orang. Dari jumlah tersebut seniman yang aktif profesional tidak lebih dari hitungan jari tangan, sedangkan yang lain adalah pekerja seni rupa sambilan. Banyak dari mereka yang berprofesi lain, seperti PNS, guru, karyawan swasta, tukang taman, tukang reklame, pedagang, dan petani.

Dari tahun ke tahun, jumlah penekun seni rupa tidak beranjak banyak, bahkan dalam dua dasawarsa terakhir jumlah penekun silih berganti generasi tetapi jumlahnya mendekati stagnan.

Data ini mengejutkan kalau kita sandingkan dengan jumlah penekun yang tumbuh di wilayah lain, wa bil khusus di Pulau Jawa dan Bali. Namun, kita juga segera mahfum, mengingat piranti pendukung yang memengaruhi tumbuh kembangnya kegiatan ini sangat minim.

Kita juga bisa memahami mengapa banyak talenta seni rupa potensial di wilayah kita enggan menekuni bidang seni rupa secara profesional, sebagai soko guru profesinya. Karena kehidupan seni rupa di Lampung tidak menjanjikan, belum mampu berperan banyak dalam menopang ekonomi kehidupan. Kalau kita urai lebih jauh persoalan ini, ternyata menyudutkan kita pada kesadaran pemahaman yang multikompleks. Betapa banyak persoalan yang muncul dan sangat tidak mudah untuk diurai apalagi untuk diselesaikan.

Contoh paling menarik dikemukakan di sini, misalnya, bagaimana mungkin seni rupa mampu dipahami siswa SD sampai SMA, sedangkan guru yang memberi pelajaran tidak menguasai bidangnya. Terjadi di negeri ini, guru olah raga, guru biologi, guru sejarah, guru agama mengajar seni rupa. Ini karena tidak memadainya jumlah tenaga guru kesenian yang ada dibandingkan jumlah sekolah.

Kalau kita telusuri lebih jauh, ini terjadi karena perguruan tinggi di provinsi ini ternyata belum ada satu pun fakultas keguruan yang memiliki jurusan seni rupa. Alamak...!

Fakta lain menunjukan unit kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa (UKM) di perguruan perguruan tinggi di propvinsi ini, di mana salah satu di dalamnya terdapat kegiatan seni rupa, belumlah terelaborasi dengan baik, sebagai parameter setiap kegiatan peksiminas (pekan seni mahasiswa nasional). Hasil karya mahasiswa kita selalu kalah dalam bidang seni rupa.

Fakta lain yang menarik, belum pahamnya oknum penyelenggara di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung, yang notabene perpanjangan tangan pemerintah yang membidangi soal ini, sangat tidak mendukung kegiatan seni rupa. Kita tahu, dalam tupoksi lingkup kerjanya bertugas mempromosikan kegiatan budaya, tetapi di lapangan terbukti menghilangkan program pameran seni rupa di Lampung maupun luar Lampung dalam proyek kegiatannya. Sementara itu, beberapa tahun lalu, program ini pernah ada. Pertanyaan lagi, terus yang seharusnya menangani kegiatan seperti ini instansi mana?

Bagaimana dengan Dewan Kesenian di Lampung? Persoalan yang juga menarik dicermati, semenjak ada atau diadakan sejak tahun 90-an sampai sekarang, peran Dewan Kesenian sangat sulit mendapat poin C. Ketidakjelasan konsep maupun target sasaran jangka pendek, menengah, dan panjang program kerja serta tidak adanya parameter pengukuran tingkat keberhasilan program membuat kita rancu, apa yang ingin dicapai lembaga ini? Kita juga tidak pernah mendengar pelaporan ke publik, apa saja yang telah dihasilka sekian tahun kegiatan.

Ini tentu membuat kita bertanya, jangan-jangan memang benar sinyalemen bahwa sebagian besar pengurus lembaga ini kebesaran baju. Dan wajar saja ada sebagian seniman bergosip, lembaga ini seperti kumpulan event organizer.

Lain lagi dengan keberadaan Taman Budaya Lampung. Sebagai Unit Pelaksana Teknis Disbudpar, unit kerja seni yang seharusnya berperan sebagai dapur olah seni, wahana atau ruang publik ekperimentasi seni, kini tidak lebih dari unit penyumbang PAD. Masalahnya, setiap kegiatan kesenian yang tampil menggunakan fasilitas di sini tetap dipungut biaya meski jumlahnya kecil karena wajib setor ke kas daerah atau alih-alih dana kebersihan.

Pendokumentasian artefak budaya Lampung yang dalam hal ini seharusnya menjadi salah satu tugas pengelola negara, tidaklah berjalan sebagaimana mestinya. Karya-karya terbaik perupa Lampung hampir semua mengalir keluar daerah. Ada kekawatiran kelak di kemudian hari anak cucu kita mesti keluar negeri kalau ingin melihat hasil karya seniman pendahulunya. Ini dosa siapa?

***

Persolaan kesenian, khususnya seniman sangatlah menarik. Menjadi seniman memang tidak harus melalui pendidikan formal. Untuk menjadi pelukis, misalnya, tidak dibutuhkan ijazah. Berbeda dengan profesi lain semisal dokter, insinyur, ekonom, ahli hukum dan sebagainya.

Kalau dianggap sebagai profesi, seniman bukanlah profesi dalam pengertian umum, di mana batas parameter keprofesian serta relasi fungsionalnya dengan masyarakat cukup jelas.

Bisa dibayangkan jika siapa pun tanpa ijazah dan legitimasi ikatan keprofesian dokter boleh membuka praktek dokter. Jika ini terjadi, tentu yang bersangkutan akan berurusan dengan pihak berwajib.

Namun, ini tidak terjadi dalam seni, siapa pun boleh mengaku dan menyebut seniman dan boleh menyelenggarakan pameran, baik dia seniman yang mengenyam pendidikan seni formal maupun tidak. Bahkan banyak seniman tanpa latar pendidikan formal seni rupa, sukses mendunia sebagai seniman.

Ini dimungkinkan karena keinginan dan kerja keras seniman mengelaborasi dunia seni yang dia tekuni, baik dalam hal kearifan intelektual, kearifan teknis, kearifan manajerial serta kemampuan mengakses informasi dan jejaring.

Mesipun demikian, banyak calon seniman yang memilih belajar pada jalur pendidikan formal. Namun, aneh juga kenyataan sebagian besar lulusan perguruan tinggi seni di mana pun di seluruh dunia tidak menjadi seniman. Tentu hal ini menimbulkan pertanyaan.

Namun, kita tidak dapat mencari alternatif yang lebih baik dalam menyiapkan tenaga seni secara formal selain pendidikan. Pendidikan seni di negeri ini baik langsung atau tidak langsung sangat dipengaruhi pendidikan seni rupa Barat, dalam muatan kurikulumnya. Tentu ini perlu kita telusuri sejarahnya secara singkat, termasuk mengkritisi terhadap keberadaanya.

Ke depan, tentulah keberadaan pendidikan seni formal di ranah Sang Bumi Ruwa Jurai sangat perlu meski tidak mendesak. Yang perlu segera diadakan adalah pembukaan jurusan seni rupa pada pendidikan tinggi calon tenaga guru sekolah menengah. Juga pengaktifkan kegiatan seni rupa di UKM, serta workshop seni rupa di sekolah-sekolah menengah, kursus-kursus singkat bagi tenaga guru kesenian yang ada. Sebab, banyak dari tenaga guru ini yang tidak memiliki dasar seni rupa.

* Subardjo, praktisi seni rupa

Sumber: Lampung Post, Minggu, 25 Januari 2009

January 23, 2009

Bahasa (Lampung) Standar

Oleh Agus Sri Danardana*

AKHIR Juli 2008, di harian ini saya pernah mengutarakan penyebab utama, di samping penyebab lain yang sudah sering dilontarkan banyak orang (seperti keterbatasan guru, buku, dan penekanan materi pada penguasaan aksara [bukan bahasa] Lampung), kegagalan pengajaran bahasa Lampung adalah belum adanya bahasa standar bahasa Lampung yang harus diajarkan.

Selama ini perbedaan dialek O (nyo) dan A (api) masih dijadikan perbalahan yang nyaris tak berkesudahan. Penutur dua dialek itu selalu bersikukuh, saling mengaku (mengklaim) bahwa dialeknyalah yang paling baik dan pantas diajarkan di sekolah. Sebagai akibatnya, materi pelajaran bahasa Lampung pun berbeda-beda.

Awal 2009 ini keluhan atas kecarut-marutan pengajaran bahasa Lampung di sekolah dilontarkan kembali oleh Udo Z. Karzi (Lampung Post, 4 Januari). Salah satu keluhan yang diutarakannya (yang menurut saya perlu mendapat perhatian lebih) adalah pencampuradukan dialek O dan A dalam satu buku pelajaran bahasa Lampung. Menurut dia, pencampuradukan kedua dialek itu justru membuat siswa tidak saja bingung dan stres, tetapi juga fobia terhadap bahasa Lampung. Ia menyarankan agar buku pelajaran bahasa Lampung dibuat dua versi.

Versi pertama menggunakan dialek O untuk sekolah-sekolah di daerah penutur bahasa Lampung dialek O. Versi kedua menggunakan dialek A untuk sekolah-sekolah di daerah penutur bahasa Lampung dialek A.

Keluhan Udo seperti itu memperkuat keyakinan saya bahwa sesungguhnya penstandaran bahasa Lampung perlu segera dilakukan. Seperti yang pernah saya katakan, pada dasarnya masalah pengajaran bahasa (baik bahasa nasional, daerah, ataupun asing) selalu berkutat dengan persoalan bahasa standar.

Ini penting karena untuk mengukur capaian keberhasilan proses pengajaran harus didasarkan pada kriteria penilaian yang standar pula. Itulah sebabnya, pada umumnya orang akan berpedoman pada satu kerangka acuan berbahasa secara baik dan benar (sebagai bahasa standar) untuk menentukan standar evaluasi capaian hasil belajar.

Atas dasar itu, sebenarnya pembuatan buku pelajaran bahasa Lampung dalam dua versi: dialek O dan dialek A juga masih menyisakan masalah. Bukankah kedua dialek itu memiliki sub-subdialek masing-masing? Artinya, kalaulah harus dibuat dalam dua versi, mau tidak mau, buku pelajaran bahasa Lampung itu pun masing-masing harus hanya memuat materi dari salah satu subdialeknya yang dianggap (ditentukan) standar.

Norma Bahasa Standar

Haugen di dalam studinya tentang norma bahasa-bahasa Skandinavia (1968) mengatakan bahwa patokan yang bersifat tunggal (salah satu dialek) dan patokan yang majemuk (gabungan beberapa dialek) tidak perlu bertentangan. Pada saat norma itu dikodifikasi dan dimekarkan oleh penuturnya sering patokan itu justru tidak dapat dikenali lagi asalnya. Pendapat itu diperkuat, antara lain, oleh Ansre (1974) melalui studinya tentang bahasa Sonya standar (baku) di Afrika yang didasarkan pada gabungan beberapa dialek dan oleh Byron (1976) melalui studinya tentang bahasa Albania standar (baku) yang didasarkan pada salah satu dialek.

Di Indonesia, menurut Anton Moeliono (1981), bahasa Indonesia standar secara tentatif dapat dikatakan bertumpu pada dua perangkat norma bahasa yang bertumpang tindih. Yang satu berupa norma yang dikodifikasi dalam bentuk buku tata bahasa dan diajarkan di sekolah, sedangkan yang lain berupa norma berdasarkan adat pemakaian (usage) yang belum dikodifikasi secara resmi dan biasanya dianut oleh kalangan media massa dan sastrawan.

Ketumpangtindihan itu ada kalanya menyebabkan norma yang berlaku di sekolah tidak diikuti oleh media dan sebaliknya. Untuk mengatasinya, dibentuklah sebuah lembaga (Pusat Bahasa) yang diharapkan dapat memprioritaskan penyusunan kaidah tata bahasa yang menggambarkan norma-norma bahasa Indonesia standar dan dapat menyatukan dua perangkat norma yang tumpang tindih itu.

Bagaimana dengan bahasa Lampung? Tentu sangat bergantung pada kemauan ulun Lampung (termasuk pemda-nya). Dibandingkan bahasa-bahasa daerah lain yang lebih besar, seperti Jawa, Sunda, Bali, dan Minangkabau, penanganan bahasa Lampung tentu lebih rumit. Di samping hanya digunakan sebagian kecil penduduknya (sekitar 17%), bahasa Lampung juga belum ditangani secara sungguh-sungguh. Upaya-upaya yang telah dilakukan, baik oleh masyarakat maupun pemda, pada umumnya masih sangat parsial dan tidak berkelanjutan.

Terlepas dari hal itu, ada satu hal penting yang perlu direnungkan: eksistensi ulun Lampung. Menurut saya, salah satu penanda keberadaan ulun Lampung adalah bahasa Lampung. Oleh karena itu, jika ulun Lampung masih merasa memiliki bahasa Lampung (dengan dua dialek: O dan A dan beberapa subdialeknya), saran Udo Z. Karzi untuk mengemas buku pelajaran bahasa Lampung dalam dua versi dapat diabaikan. Sebaliknya, jika ulun Lampung menghendaki dialek O dan dialek A menjadi dua bahasa yang berbeda, saran Udo itu pantas dipertimbangkan.

Yang pasti, semua pilihan mengandung risiko. Sudah menjadi kodratnya bahwa dalam praktek pemakaiannya, bahasa apa pun (tidak terkecuali bahasa Lampung) tidak pernah hadir dalam sosok yang homogen. Ia selalu hadir dalam sosok yang heterogen, dalam berbagai varian, baik berupa variasi sosial maupun variasi dialektal (geografis).

Memilih atau menentukan salah satu varian sebagai bahasa standar, dengan demikian, selalu menimbulkan kesan melecehkan varian-varian yang lain. Di sinilah sesungguhnya kebijaksanaan (wishdom) dan kebijakan (policy) para pemangku kepentingan (stakeholder) dalam perencanaan pengembangan dan pembinaan bahasa itu diperlukan. Hanya melalui perencanaan (dan pelaksanaannya) yang baik bahasa Lampung dapat diharapkan berfungsi dengan baik.

Jika hal itu terwujud, mudah-mudahan ke depan bahasa Lampung tidak hanya dapat mengemban fungsinya sebagai alat komunikasi, tetapi juga dapat mengemban fungsinya sebagai identitas dan sekaligus pemersatu pemakainya. Semoga. n

* Agus Sri Danardana, Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 24 Januari 2009

Tajuk: Festival yang Kurang Kemasan

LAMPUNG memiliki banyak agenda massal yang dikemas dalam bentuk festival. Skalanya luas, dari skop lokal, nasional, sampai internasional. Festival Durian 2009 yang digelar di Taman Wisata Alam Batu Putu, Telukbetung Utara, termasuk salah satu agenda yang dikemas secara massal. Festival yang berlangsung dari 23 sampai 25 Januari itu disebut-sebut berskala internasional.

Tentu saja, sebagai sebuah terobosan dan inovasi program kepariwisataan, festival yang dikelola Pemkot Bandar Lampung melalui instansi terkait ini bisa kita katakan program kreatif. Apa pun bisa dijadikan potensi asal dikelola dengan baik. Dan Lampung, begitu juga Bandar Lampung, memiliki potensi itu.

Tampaknya, kesadaran seperti ini yang merangsang Pemkot menjadikan sumber daya alam--i.e. perkebunan dengan komoditas durian--sebagai kekuatan penggerak kepariwisataan. Faktanya, kawasan Batu Putu dan sekitarnya memang termasuk sentra penghasil durian di Bandar Lampung. Sebagai penghasil durian, kawasan ini memang cukup terkenal di Lampung. Durian putra alam adalah produk khas kawasan ini yang menjadi kebanggaan Bandar Lampung.

Dari sini, kita bisa mengatakan Festival Durian adalah satu program yang mengemas potensi sumber daya lokal dengan cerdas. Dengan satu sentuhan kepariwisataan, potensi durian Batu Putu dan sekitarnya dikemas menjadi komoditas jasa. Tidak lagi sebatas produk hasil perkebunan, dengan segala turunannya semisal dodol, tempoyak, lempok, dan penganan lain.

Ini juga diakui panitia pelaksana festival. Bahwa salah satu tujuan Festival Durian adalah mengangkat durian dari hakikatnya sebagai produk hasil perkebunan menjadi komoditas jasa. Maka itu, panitia juga mengadakan berbagai acara, dari lomba memakan durian di lokasi, lomba cipta makanan berbahan durian, pentas seni budaya, dan hiburan.

Untuk konteks "agenda semusim", acara-acara yang diadakan panitia sudah cukup mengangkat festival. Masalahnya jadi lain jika Pemkot menjadikan Festival Durian agenda unggulan untuk mengangkat pariwisata lokal dan menggeliatkan perekonomian rakyat.

Jelas, perlu perencanaan matang untuk menjadikan Festival Durian event unggulan, tidak cukup acara-acara dadakan. Infrastruktur perlu dimaksimalkan. Keterlibatan stakeholder yang mendukung kepariwisataan juga perlu diperluas. Promosi dan pencitraan juga jangan sampai ditinggalkan. Satu lagi yang jadi fondasi, visi yang ingin dicapai--ini jangan sampai terlupakan.

Jika unsur-unsur ini bisa dilengkapi, yakinlah Festival Durian akan menjadi agenda unggulan yang dinanti masyarakat tiap tahun.

Pemkot dan panitia Festival Durian tentu bisa belajar dari festival-festival lain di provinsi ini. Kita bisa sebut Festival Krakatau, Festival Way Kambas, dan Festival Teluk Stabas yang sudah lebih dahulu berlangsung. Bisa dibilang, agenda besar sekelas Festival Krakatau saja tidak begitu sukses padahal melibatkan berbagai elemen dan topangan dana cukup besar.

Tanpa perencanaan matang dan dukungan berbagai elemen, festival yang baru berlangsung satu atau dua tahun seperti Festival Durian tentu sulit berkembang menjadi acara besar yang dinanti-nantikan.

Ini masalah yang mesti disikapi serius Pemkot Bandar Lampung. Tanpa kebijakan yang terarah dan visioner, sulit mengharapkan Festival Durian di Batu Putu menjadi kekuatan penarik kepariwisataan dan perangsang perekonomian rakyat. Paling-paling, kita hanya menyaksikan acara tahunan di Batu Putu yang semuanya berangkat dari durian. Hanya itu. n

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 24 Januari 2009

Festival Durian Hanya Seremonial

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Festival Durian yang digelar di kawasan Wisata Batu Putu, Jumat (23-1), tidak lebih dari kegiatan seremonial yang ditandai pembukaan acara dan makan durian bersama. Selain jauh dari kemeriahan, festival ini sepi pengunjung.

Tidak satu pun wisatawan terlihat dalam festival yang masuk salah satu program Visit Lampung Year 2009. Pembukaan yang dilangsungkan di Taman Wisata Batu Putu, Jumat (23-1), hanya dihadiri pejabat Pemerintah Kota Bandar Lampung, seratusan tamu undangan, dan masyarakat sekitar. Sama sekali tidak ada wisatawan.

Pembukaan festival durian dimulai pukul 14.00. Para undangan disuguhi penampilan seni dari Himpunan Mahasiswa Lampung Yogyakarta (Hipmala). Setelah acara pembukaan, tamu undangan bersama-sama memakan durian yang disuguhkan panitia. Namun, tidak semua undangan kebagian karena durian sudah habis. Pembukaan festival terkesan hanya seremonial. Hal ini terlihat setelah pembukaan dan acara makan durian bersama, semua tamu undangan dan pengunjung meninggalkan tempat acara.

Durian yang disuguhkan pada acara pembukaan pun tidak lebih dari 200 buah. Awalnya penyelanggara Festival Durian, Yayasan Wisata Alam (Yawisal) Lampung menjanjikan akan menyediakan 1.000 durian.

Festival Durian ini juga terkesan tanpa persiapan. Infrastruktur di kawasan wisata itu belum dibenahi. Jalur masuk menuju Taman Wisata Batu Putu pun masih berlubang.

Kamar mandi di taman wisata juga tidak dilengkapi fasilitas air bersih. Sama sekali tidak ada air di kamar mandi. Panitia hanya menyiapkan satu tangki mobil air bersih untuk pengunjung. Pengunjung dipersilakan menggunakan air dari keran tangki tersebut.

Saat masuk kawasan Taman Wisata Batu Putu, tempat pelaksanaan Festival Durian, sama sekali tidak ada kesemarakan. Pohon-pohon durian di kawasan tersebut tidak satu pun yang berbuah.

Kecewa

Seorang pengunjung, Isbedy Stiawan Z.S. mengaku kecewa dengan penyelenggaraan festival tersebut. Selain tidak meriah, pengunjung festival hanya warga sekitar dan para pejabat undangan.

Menurut dia, panitia penyelengara telah melakukan pembohongan publik. "Panita menjanjikan akan menyediakan 1.000 buah durian dan akan ada 50 wisatawan asing di Festival Durian. Hal yang disampaikan panitia adalah sebuah kebohongan."

Pemerintah Kota, kata Isbedy, sama sekali tidak siap dengan Festival Durian. Dengan konsep acara yang sangat sederhana, Festival Durian tidak pantas menjadi bagian dari Visit Lampung dan Visit Indonesia. "Jika memang tidak siap, lebih baik jangan diadakan," kata Isbedy yang datang sebagai undangan dari panitia.

Sementara itu, Ketua Yawisal Lampung Ahmad Sibli Rais mengatakan tidak semua durian ditampilkan pada acara pembukaan. Durian juga akan ditampilkan pada acara lomba makan dan lomba foto, serta acara penutupan festival.

Menurut dia, Festival Durian akan sangat meriah saat pelaksanaa beberapa lomba. Lomba akan diikuti ratusan peserta.

Sibli tidak mengetahui jumlah pasti peserta yang akan mengikuti lomba durian. "Jumlah peserta lomba akan bertambah pada saat pelaksanaan lomba."

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Fachrudin mengatakan Festival Durian merupakan kegiatan perangsang yang diharapkan bisa menghidupkan potensi agrowisata di Taman Wisata Batu Putu. Batu Putu sangat tepat menjadi daerah agrowisata sehingga masyarakat juga harus mempersiapkan diri menjadi bagian dari daerah wisata. "Daerah agrowisata harus diikuti dengan perubahan perilaku masyarakat. Masyarakat tidak diperbolehkan merusak lingkungan sekutar karena akan merusak potensi agrowisata," kata Fachrudin. n PADLI RAMDAN/K-2

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 24 Januari 2009

Bandar Lampung Potensi Jadi Kota Budaya

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Bandar Lampung potensial menjadi kota budaya. Denyut nadi aktivitas kesenian, baik sastra, teater maupun seni pertunjukan lain di kota ini sangat kuat.

Budayawan Putu Wijaya mengaku baru dua kali ke Bandar Lampung. Namun, sejak kunjungan pertamanya ke Lampung tahun 1990-an, dia sudah merasakan atmosfer berkesenian di Lampung. Berbagai event kesenian yang digelar di sini, seperti Liga Teater Pelajar, pelatihan teater, kegiatan sastra, dan kegiatan seni lain menunjukkan kehidupan seni-budaya berkembang pesat di Lampung.

"Kota ini seperti di luar amatan saya. Selama ini, orang hanya tahu Medan dan Padang sebagai pusat kebudayaan. Saya surprise di sini. Ternyata di kota ini geliat sastra, teater, dan seni lain luar biasa," kata Putu yang ditemui di sela-sela Workshop Penyutradaraan dan Artistik dalam Rangkaian Kala Sumatera yang diselenggarakan Teater Satu dan Hivos Belanda, Kamis (22-1).

Kalau kesenian Lampung kurang mengemuka di tingkat nasional, menurut sastrawan serbabisa ini, ada sedikit persoalan pada tingkat publikasi, selain peran pemerintah daerah yang masih harus didorong dan kegigihan para seniman-budayawan dalam memperjuangkan harkat seni-budaya.

"Peran wartawan sangat penting dalam memperkenalkan kesenian kepada khalayak. Seniman harus bekerja keras menunjukkan karya untuk memperlihatkan kepada pemerintah daerah bahwa seni-budaya juga perlu mendapat perhatian, mendapat prioritas dalam anggaran," ujarnya.

Kehidupan berkesenian di Bandar Lampung harusnya diekspos di tingkat nasional dan bagian program seni-budaya nasional. "Bandar Lampung mempunyai modal untuk berkembang menjadi kota budaya. Sinergi antara seniman, pemerintah, dan pers perlu dikuatkan lagi. Semangat berkesenian di Lampung bisa ditularkan ke daerah lain."

Apalagi, kata Putu, dari daerah ini ia mengenal beberapa tokoh teater seperti BM Gutomo, Rachman Yacob, termasuk yang paling terkini Iswadi Pratama. Di bidang sastra, dia juga melihat banyak sastrawan kuat di Lampung.

Senada dengan itu, pengajar STSI Bandung Joko Kurnain menyatakan kekaguman pada perkembangan teater di Lampung. "Saya kaget. Saya baru tahu kalau di Lampung tradisi teater cukup kuat mengakar. Kemampuan teknis teater teman-teman di sini bagus." n ZUL/U-2

Sumber: Lampung Post, Jumat, 23 Januari 2009

VLY 2009: Pemprov Monitor Program VLY Kabupaten/Kota

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Lampung akan memonitor seluruh kabupaten/kota di daerahnya terkait dukungan terhadap program Visit Lampung Year (VLY) 2009. Disbudpar juga akan mengevaluasi kegiatan wisata dan budaya yang diselenggarakan setiap bulan.

Kepala Disparbud M. Natsir mengaku ujung tombak keberhasilan VLY adalah dukungan kabupaten/kota. Selain juga peran serta seluruh elemen masyarakat Lampung termasuk operator perjalanan dan stakeholder lainnya.

"Tanpa peran itu saya sangsi pencanangan Visit Lampung Year 2009 ini berhasil," kata Natsir, usai pertemuannya dengan Perkumpulan Pemandu Wisata dalam rangka rapat koordinasi VLY 2009, di aula dinas itu, Kamis (22-1).

Menurut dia, pemerintah provinsi telah berupaya untuk mengoptimalkan program itu. Namun dia masih mempertanyakan kenapa komponen dan elemen ini tidak berjalan sebagai mana yang diharapkan.

"Kami berharap stakeholder juga lebih memperhatikan pencanangannya," kata Natsir.

Disbupar, ujarnya, sangat merespons kritik dan saran dari berbagai elemen termasuk media massa. Kritik dan saran itu akan menjadi bahan pertimbangan untuk meningkatkan kinerja untuk menyukseskan VLY. "Kita masih mencari sisi mana yang belum bersinergi," kata dia.

Ke depan, Disbudpar berharap para operator perjalan wisata, dan masyarakat luas siap menghadapi kunjungan wisatawan. Baik dari segi penjagaan lingkungan, komunikasi dan sosialisasi objek wisata daerah. Sehingga, program ini dapat mendukung investasi yang masuk ke Lampung.

Dalam kesempatan itu, Natsir juga mengakui masih banyak kendala dalam pelaksanan VLY, khususnya persoalan ketidaksiapan infrastruktur ke tempat tujuan wisata.

"Memang banyak jalan yang rusak, tapi program itu harus tetap berjalan sesuai dengan rencana. Kita tidak bisa ributkan telur dulu apa ayam dulu yang ada. Visit Lampung ini harus berjalan secara simultan dengan pembangunan infrastruktur," kata Natsir. n Aan/K-2

Kendala lainnya adalah dana terbatas, apalagi ditambah penyerapan 20% untuk sektor pendidikan. Sehingga Natsir, yang saat ditemui didampingi Kepala Bidang Pemasaran Lukmansyah, mengharapkan satuan kerja lainnya ikut bersinergi mendukung VLY. "Minimal mereka mau ikut berpromosi program VLY dan dukungan lainnya," kata dia.

Natsir juga menyayangkan pihak hotel restoran yang dinilainya belum serius menyambut program VLY yang menargetkan 2 juta pengunjung.

Mestinya mereka mau ikut mempromosikan kegiatan dan objek pariwisata di Lampung.

"CD, brosur dan pamflet promosi wisata rajin kami bagikan ke hotel-hotel di Lampung, tapi mereka masih suka menayangkan film kartun daripada memutar CD itu. Bahkan ada seorang resepsionis di salah satu hotel terkemuka yang saat ditanya objek wisata menjawab tidak tahu," kata dia. n AAN/K-1

Sumber: Lampung Post, Jumat, 23 Januari 2009

Festival Durian 2009 (2-Habis): 'Event' Internasional, Persiapan Seadanya

BANDAR LAMPUNG--Hari ini (22-1) Festival Durian 2009 yang digelar di Taman Wisata Alam Batu Putu, Telukbetung Utara, dibuka Wali Kota Bandar Lampung Eddy Sutrisno. Festival itu berlangsung selama tiga hari, Jumat hingga Minggu (23--25-1).

Dalan event internasional yang bakal dihadiri sedikitnya 50 wisatawan asing asal Jepang dan India ini panitia menyiapkan sekitar 1.000 buah durian.

Durian banyak diperlukan karena akan menjadi bahan baku berbagai jenis lomba. Namun, bukan durian putra alam--yang menjadi ikon Bandar Lampung--yang disiapkan. Pasalnya buahnya masih kecil.

"Musim durian putra alam kini jelek sehingga tidak bisa ditampilkan dalam festival," kata Sibli Rais, Ketua Yawisal (Yayasan Wisata Alam Lampung) yang juga ketua Panitia Festival Durian 2009 ini tadi malam (22-1).

Meski demikian, pihaknya mengumpulkan durian yang berasal dari sekitar Batu Putu. Kekurangannya diambil dari tempat lain. Sibli menjelaskan pada hari pertama akan diisi kegiatan pembukaan, pentas seni budaya, dan hiburan. "Pentas seni budaya diisi Himpunan Pelajar dan Mahasiswa asal Lampung di Yogyakarta. Mereka akan menampilkan seni budaya Lampung," kata dia.

Lalu Sabtu (24-1), baru mulai digelar lomba aneka cipta makanan berbahan baku durian. Peserta lomba adalah masyarakat sekitar Batu Putu. "Jadi wisatawan dapat melihat langsung lomba membuat makanan berbahan baku durian," ujar Sibli.

Kemudian juga ada lomba makan durian. "Siapa saja boleh mengikuti perlombaan ini dan tidak dipungut biaya," kata Sibli.

Minggu (25-1) digelar lomba foto durian dan lomba mewarnai durian dengan peserta anak-anak. Acara digelar hingga malam hari dan ditutup dengan pentas seni budaya serta makan durian bersama.

Selain itu, pihaknya juga menyiapkan tempat untuk lokasi "pasar Dadakan' hasil pertanian masyarakat.

Tidak Optimal

Sibli mengakui pelaksanaan Festival Durian 2009 ini tidak bisa dilaksanakan optimal. Hal ini terjadi karena pihak-pihak yang terlibat, baik dari Pemkot maupun pengusaha hotel dan restoran yang tergabung dalam PHRI dan kalangan biro perjalanan yang tergabung dalam Asita, tidak sinergi.

Infrastruktur juga tidak dipersiapkan secara baik. Jalan menuju Taman Wisata Batu Putu terutama yang melalui Kemiling--Perumahan Beringin Raya, banyak yang rusak sehingga mengurangi kenyamanan wisatawan yang berkunjung. Namun, jalan masuk melalui Jalan P. Emir M. Noer relatif lebih baik. Jarak antara Bandar Lampung dan lokasi berkisar 5 km.

Kerusakan jalan yang cukup parah juga terlihat mulai pintu masuk Taman Wisata Batu Putu hingga lokasi festival. Jalan sepanjang lebih dari 500 meter tersebut berbatu.

Selain itu, di lokasi festival panitia hanya menyiapkan tenda ukuran besar. Fasilitas yang disiapkan adalah kamar mandi semipermanen dan terbuat dari kayu. Itu pun hanya dua pintu.

Sementara itu, kamar mandi permanen yang dikerjakan pemborong tidak bisa digunakan. Bangunan dari luar terlihat bagus, tapi di dalamnya masih berantakan dan tidak bisa digunakan.

Kemudian ada musala kecil berukuran sekitar 4 x 4 m�MDSU�2. Sementara itu, fasilitas pendukung lain seperti pondokan untuk beristirahat, warung makan alternatif, dan lainnya.

Patut disayangkan paket wisata yang sudah masuk agenda nasional ini tidak dipersiapkan secara baik dan optimal. Persiapan terkesan terburu-buru dan hanya dikerjakan Yawisal. Padahal seharusnya lebih banyak pihak yang bisa terlibat aktif, terutama dari PHRI dan Asita.

Meski demikian, kekurangan itu diharapkan tidak membuat para wisatawan yang berkunjung jera. n MUSTAAN/TRIHADI JOKO/K-2

Sumber: Lampung Post, Jumat, 23 Januari 2009

January 22, 2009

Festival Durian 2009 (1): Cerita Durian Putra Alam untuk Wisatawan

BANDAR LAMPUNG--Dahulu, Lampung dikenal sebagai daerah penghasil durian. Kini, citra itu hampir tak ada. Meski ketika sedang musimnya durian dijajakan hampir di setiap tempat, kebanyakan yang dijajakan bukan durian dari Lampung, melainkan dari Sumatera Selatan.

Sebelumnya di sentra-sentra penghasil durian seperti Sukadanaham, Batuputu, dan sekitarnya selalu banjir durian saat musim. Namun, kini tidak lagi. Memang ada yang dijajakan, tetapi tidak semuanya berasal dari wilayah itu. Ada juga yang berasal dari wilayah lain.

Bahkan varietas durian asli Bandar Lampung seperti durian putra alam--yang hanya tumbuh di wilayah Batuputu dan sekitarnya--saat ini tidak mudah untuk didapat. Padahal durian ini dikenal sangat enak.

Biasanya, menjelang akhir tahun durian-durian varietas ini ada yang dijajakan di wilayah Batuputu dan sekitarnya. Namun saat ini hingga awal tahun, durian putra alam tak bisa dijumpai, apalagi dinikmati.

"Memang musim durian saat ini sangat jelek. Biasanya menjelang akhir tahun sudah berbuah. Namun saat ini durian jenis ini baru berbuah," kata Ahmad Sibli Rais, Ketua Panitia Festival Durian 2009 Selasa (20-1).

Sibli yang Ketua Yayasan Wisata Alam Lampung (Yawisal) mengatakan semakin sulitnya mendapatkan durian putra alam ini juga menjadi salah satu latar belakang digelarnya festival durian ini.

"Rasa durian putra alam sangat khas dan enak," kata Sibli yang ditemui di lokasi Wisata Batuputu, tempat digelarnya Festival Durian 2009. Kelebihannya, warna buahnya kuning mentega, dagingnya tebal, dan bijinya kecil. Selain itu rasanya khas.

Namun, semua kelebihan durian putra alam itu hanya ada di angan-angan. Para wisatawan yang datang ke festival hanya disuguhi cerita soal nikmatnya rasa durian putra alam. Mereka tak pernah disuguhi seperti apa durian putra alam yang hebat itu. Pasalnya, durian jenis itu baru berbuah.

Sibli mengakui kondisi tersebut. Namun, dia berjanji wisatawan yang datang tidak akan kecewa. Pasalnya, durian sebagai bahan utama berbagai kegiatan disiapkan oleh panitia.

"Meski bukan durian putra alam yang disiapkan, durian yang disiapkan juga tak kalah nikmat," ujarnya.

Andalan

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Lampung M. Natsir Ari mengatakan Festival Durian yang digelar sejak 23--25 Januari 2008 ini memang menjadi salah satu andalan Visit Lampung Year (VLY) 2009.

"Event perdana dalam kalender kegiatan wisata Lampung itu direncanakan jadi andalan karena substansinya untuk mengangkat produk pertanian masyarakat," kata Natsir.

Apalagi saat ini Bandar Lampung telah memosisikan daerahnya menjadi sentra durian. Keseriusannya ditandai dengan membangun Tugu Durian di daerah yang menjadi penghasil durian, pasar durian, dan wisata durian, yakni Sukadanaham-Batuputu.

"Kami berharap Tugu Durian itu jangan cukup dibangun, tapi ada kegiatan yang berkaitan dengan pembangunannya itu," kata dia.

Sibli mengatakan Festival Durian 2009 ini sudah menjadi paket wisata nasional yang dijual ke luar negeri. "Saat ini sudah ada turis dari Jepang yang dipastikan hadir dalam FD 2009 ini."

Dia berharap keberadaan festival ini dapat mendongkrak kedatangan wisatawan ke Lampung. Misalnya, pada tahun 2008 jumlah wisatawan yang masuk Lampung mencapai 1,3 juta. Dan dari jumlah itu, sekitar 700 ribu ke Bandar Lampung.

Rata-rata mereka hanya satu sampai dua hari di Lampung. Para wisatawan itu rata-rata mengeluarkan uang sekitar Rp1 juta sehari. "Kalau dikalikan nilai uang yang masuk ke Lampung, lumayan besar," ujarnya.

Tahun ini, lanjutnya, diharapkan jumlah wisatawan meningkat, terlebih dengan adanya Festival Durian ini. Dengan demikian, pendapatan yang didapat dari wisatawan tersebut lebih besar. n TRIHADI JOKO/MUSTAAN/K-2

Sumber: Lampung Post, Kamis, 22 Januari 2009

50 Wisatawan Asing Batal ke Lambar

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Belum memadainya infrastruktur di Lampung Barat membuat 50 wisatawan asal Jepang dan India yang akan menyaksikan gerhana matahari anular tanggal 26 Januari di Ngaras, Lampung Barat, membatalkan rencananya. Ke-50 wisatawan ini akan mengalihkan kunjungan mereka ke Bandar Lampung.

Hal tersebut diungkapkan Citra Persada, salah seorang anggota panitia Visit Lampung Year (VLY) 2009. Menurut Citra, ke-50 wisatwan tersebut akan menyaksikan gerhana matahari anular di salah satu kawasan perbukitan di Bandar Lampung.

"Rencananya ke-50 wisatawan dan peneliti dari Jepang dan India ini akan menyaksikan gerhana matahari di Ngaras, Lampung Barat. Tapi, karena infrastruktur di sana belum lengkap, seperti hotel, WC, dan rumah makan, mereka terpaksa dialihkan ke Bandar Lampung." kata Citra, Rabu (21-1).

Dia mengakui masalah infrastruktur yang belum memadai menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan VLY 2009. Namun, Citra tetap optimistis target kunjungan 2 juta wisawatan nusantara dan wisatawan mancanegara bisa tercapai tahun ini.

"Selain 42 agenda wisata dan festival yang sudah disiapkan, Lampung juga akan menggelar berbagai event nasional seperti Tanwir Muhammadiyah yang bisa mendatangkan ribuan orang ke Lampung," kata Citra.

Seperti diketahui, Lampung menjadi salah satu tempat terbaik untuk menyaksikan gerhana pada 26 Januari. Gerhana matahari anular yang akan terjadi tanggal 26 Januari mendatang terbilang istimewa karena dapat dilihat di seluruh wilayah Lampung.

BMGK Stasiun Geofisika Kota Bumi memperkirakan gerhana matahari anular yang bakal terjadi di Lampung itu dimulai pukul 11.56. Puncak gerhana matahari cincin ini diperkirakan terjadi pukul 13.04 dan pertengahan gerhana cincin terjadi pukul 14.46. Dan akhir gerhana cincin diperkirakan terjadi pada pukul 16.52.

Target Wisatawan

Grand launching VLY 2009 dibuka Gubernur Lampung Syamsurya Ryacudu di lapangan parkir GOR Saburai Bandar Lampung, 23 Desember 2008. Acara dimulai dengan jalan sehat masyarakat dengan Gubernur dan bupati/wali kota se-Lampung. Jalan sehat yang menawarkan beragam hadiah itu kemudian berakhir di lapangan parkir GOR Saburai.

Kemudian dilanjutkan dengan peluncuran akbar Tahun Kunjungan Wisata Lampung. Acara itu juga sekaligus meresmikan portal resmi wisata Lampung yang beralamat di www.visitlampung2009.com.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Lampung M. Natsir Ari mengatakan pada tahun-tahun sebelumnya event wisata Lampung adalah Festival Krakatau dan Festival Way Kambas.

Namun, untuk tahun 2009, ada satu lagi ajang andalan wisata di Lampung yakni Festival Durian yang digelar di Bandar Lampung pada Januari 2009.

Keberhasilan VLY 2009 itu bukan hanya di tangan Disbudpar, melainkan pada satuan kerja dan instansi di sektor lain harus mendukung agar wisatawan datang ke Lampung sebanyak-banyaknya. Terutama pemerintah kabupaten/kota sebagai pemilik objek wisata harus berjuang mendukung VLY dengan membuat kegiatan wisata.

"Jangan sampai program yang diluncurkan ini tidak ada pergerakannya sampai akhir tahun. Targetnya tahun ini kunjungan dua juta wisatawan dengan target waspada 1,5 juta wisatawan dan minimal satu juta wisatawan," kata Natsir.

Seluruh elemen masyarakat juga diundang mengontribusi VLY 2009. Misalnya, pada awal Januari 2009, Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Lampung akan menggelar Kemah Pemuda Lintas Agama Peduli Lingkungan di Youth Camp Gunung Betung.

Pada kegiatan itu akan diundang organisasi pemuda berbasis agama se-Sumatera dan Jawa untuk berkemah di sana. n ITA/K-1

Sumber: Lampung Post, Kamis, 22 Januari 2009

January 18, 2009

[Apresiasi]: Catatan Puisi Indonesia 2008: Tiga Penguak Sajak

Oleh Asarpin*

AKHIR tahun adalah waktu yang tepat menakar prestasi. Di bidang puisi, tentu saja ada kemajuan kendati sulit sekali dinarasikan. Mengingat ratusan--mungkin juga ribuan--sajak lahir dalam setahun, yang berjuang keras memberi harga pada kata dan bahasa Indonesia sebagai cermin "budaya bangsa".

Setelah dimitoskan sebagai presiden penyair Indonesia, dan dinobatkan sebagai sang raja mantra nusantara, setelah 27 tahun tidak lagi menerbitkan buku puisi dengan alasan yang tak jelas, dan beberapa tahun lalu malah menerbitkan buku himpunan cerpen Hujan Menulis Ayam dan buku esai Isyarat, dengan judul yang sensasional, pada Juni 2008 Yayasan Panggung Melayu menerbitkan buku puisi baru Sutardji Calzoum Bachri dengan judul Atau Ngit Cari Agar.

Setelah lebih dari seperempat abad menulis puisi tapi belum satu buku pun terbit, akhirnya Gramedia memecah kebekuan puisi Indonesia dengan menerbitkan himpunan puisi perdana Nirwan Dewanto, Jantung Lebah Ratu. Walau telah menulis puisi sejak awal 1990-an dengan gaya lirik yang khas, dan setelah malang-melintang di dunia teater, Iswadi Pratama baru tergerak membukukan sajaknya dengan lema Gema Secuil Batu.

Apakah yang bisa kita petik dari tiga buku sajak yang terbit tahun lalu itu? Apakah yang bisa kita kenang dan catat dari tiga buku puisi di awal tahun ini?

Mula-mula saya akan menjawab: Judulnya. Kemudian bahasa. Lebih tepatnya: Bahasa Indonesia.

Sutardji dengan ringan dan tanpa beban membuat sensasi dengan menggabungkan judul empat sajak menjadi judul buku Atau, Ngit, Cari, dan Agar. Apakah yang dimau si penyair memilih judul semacam itu?

Barangkali si penyair hanya main-main, atau ingin tampil beda lagi. Tapi setelah O Amuk Kapak, Tardji berhasil menelurkan satu gaya pengucapan lagi lewat sajak yang mengandung maksud dan kata-kata yang bebas dan sungsang: "bahkan terbalik huruf/nyungsang halaman/menjungkir kata/merintang tanda/menungging sampiran/menghalang paham/masih/rindu/mengjaKu" (sajak Nyungsang).

Sejumlah sajak dalam Atau Ngit Cari Agar bisa disebut sebagai estafet, atau bagian utuh dari kelanjutan tiga kumpulan sajak sebelumnya. Bedanya, sajak-sajak mutakhir Tardji mulai membuka maksud yang mudah dikenal, tidak sebagaimana dalam O Amuk Kapak yang membetot perasaan dan pikiran pembaca saking gelapnya.

Menuduh Tardji tak konsisten menerapkan kredo lamanya yang (hendak) membebaskan kata dari penggada pengertian, tidaklah relevan di sini. Menyimpulkan sajak-sajak baru Tardji sebagai sajak "saksi" juga tak beralasan mengingat "aksi" masih begitu kuat dalam Ngit, Sarang, Para Penyair, Nyungsang, dan Kami Tahu Asal Jadi Kau. Di sini Tardji merenda kata ke dalam perkawinan mantra dan doa.

Sutardji sudah tobat karena apa yang selama ini dicarinya hanya "sampai sebatas kami", hanya "sampai ke puncak nurani", hanya "sampai aku pada perpanjangan sajak-sajakku".

Tak ada lagi bahana tanpa makna, karena dalam sajak--seperti diakui oleh Octavio Paz--bunyi tidak lain dari gema pengertian itu sendiri. Maka biarkan saja Tardji menggertak dengan histeria bercampur perih: "Cepat temukan kata! sebelum cuaca makin memburuk sebelum datang lagi El Nino sebelum datang La Nina agar tak kembali muncul El Dictator".

"Yang tak menemukan kata tak disebut penyair" dalam kredo puisi 1973, atau "yang bukan penyair tidak ambil bagian" (Chairil), bergaung lagi. Gaung yang ditujukan pada penyair sendiri untuk segera menemukan kata dan ucapan, karena selain yang tak menemukan kata tak bakal dianggap penyair, ada kemungkinan bahaya baru akan muncul; realitas politik yang bisa membuat para penyair tak lagi bisa mencari kedalaman kata kecuali hanya memungut kata dari kamus-kehancuran.

Mengapa penyair mesti mencari kata dan menemukan ucapan? Karena profesi para penyair cenderung tidak mengerjakan apa yang dikatakannya, maka ada ruang bagi penyair untuk bisa tergoda untuk bebas tidak mempedulikan pertangungjawaban terhadap karya-karyanya, kata Sutardji dalam orasi budaya dalam rangka Pekan Presiden Penyair di Jakarta dua tahun lalu.

Sebagai seorang munsyi, Tardji sudah tentu pandai beranalogi, sekalipun terhadap sesuatu yang sering riskan untuk dianalogikan. Mirip seperti sikap para linguis aliran Bashrah di Semenanjung Arabia sana, yang menggunakan kias melalui bentuk-bentuk, makna-makna dan struktur-struktur bahasa yang baru--seperti yang dilakukan Abu Ali Al-Farisi yang dikenal sebagai bapak silogisme abad IV H dan dilanjutkan Adonis (penyair Suriah yang kini bermukim di Prancis).

Pencarian Tardji atas kata dan ucapan yang segar dan "baru" mengingatkan pencarian Adonis yang hendak memutus tali-rantai persajakan Arab-muslim. Namun ada yang berubah dalam sikap kepenyairan Tardji. Selama ini tak pernah terbayang jika Sutardji merayakan kelahiran kembali tragedi dengan sebuah keberpihakan: "aku telah melihat/bibit api dalam buah airmata/pada lahan yang digusur/dari pemiliknya" (Cari). Sebab "asal haus itu air, keringkan dahagamu/asal demam itu obat, karibkan sakitmu" (Asal).

***

Bila sajak puitik Sutardji bias disebut anak panah psikologis kemabukan, maka lawannya adalah sajak prosaik dengan anak panah kediamdirian yang diwakili Iswadi dan Nirwan. Kedua penyair ini tak kalah gawatnya dalam membuat sensasi.

Lewat proses penggabungan dua sajak menjadi satu judul, Jantung dan Lebah Ratu, Nirwan telah menegaskan kembali kebebasan seorang penyair. Apakah arti jantung dan apa hubungannya dengan lebah ratu dan bagaimana wujudnya, begitu samar.

Sementara Iswadi enggan mencipta sensasi, kendati judul Gema Secuil Batu yang diambil dari salah satu sajaknya, tak kalah nyentrik dan membingungkan para pengkhotbah "bahasa Indonesia yang baik dan benar". Kita tak tahu apa makna gema secuil batu, apa memang secuil batu bisa bergema, macam mana gemanya.

Mungkinkah ketiga penyair ini telah memetik buah psikoanalisis seperti yang pernah diramalkan Hasif Amini beberapa tahun lalu, bahwa kaum surealis akan terus ada dan senantiasa berambisi menggali khazanah terpendam di alam bawah sadar, melalui penulisan otomatis; "suatu cara penulisan yang membiarkan pelbagai imaji dari bawah sadar muncul bebas tanpa kendali nalar dan tata bahasa".

Maka seturut dengan ini, Iswadi mesti saya keluarkan di sini, sementara Nirwan dan Sutardji tengah mencari pertemuan-pertemuan tak terduga antarkata yang membentuk kiasan baru yang segar, juga mencengangkan. Seperti Breton yang meminjam teori imaji Pierre Reverdy, penyair Prancis yang percaya bahwa "semakin jauh dan jitu hubungan antara dua ranah kenyataan yang dijajarkan, semakin kuatlah imaji", kata Hasif Amini.

Tatkala berhadapan dengan puisi Nirwan dan Sutardji, saya selalu mawas diri karena kedua penyair ini justru berkarya di bawah petuah licentia poetica yang keras kepala. Bahwa ada hak mutlak penyair untuk menggunakan bahasa sebebas-bebasnya, ya. Termasuk hak menyimpang-nyungsang dari tata pembentukan kata/kalimat yang sudah lazim.

Keduanya bukan mualaf, tapi mungkin munsyi. Keduanya sengaja melakukan penyimpangan dengan maksud tertentu, yang kita sendiri tahu sejak dulu.

Sementara Iswadi mengajak kita masuk ke dalam kesunyian diri sebagai kelahiran kembali. Mungkin karena "kita berasal dari sunyi, dan kepada sunyi kita kembali" (seperti kata Octavio Paz), maka Iswadi menerima apa saja yang wajar di dekat ambangnya. Mungkin karena selama ini ia lupa, atau tak pernah terkesima akan hal yang sesungguhnya dahsyat tapi tersapih; seperti warna kabut, sepasang mata burung hantu yang seperti merjan jernih, sayap-sayap yang serbasanggup. "Kini aku takjub pada bangkai kupu, sengat batu pada tuba, jelaga, atau serpih duri yang merumpun di halaman itu", tulisnya dalam Fragmen-fragmen di Beranda.

Daun kaktus, pohon camar, hujan dan debu yang beradu, sunyi yang ratusan kali persiran di halaman buku, adalah sebuah percakapan yang sah untuk puisi sejak Goenawan sampai Iswadi.

Walau sebagian besar puisi Iswadi buat yang remeh-temeh itu, namun Iswadi masih saja merasa tak pernah ambil bagian dalam hal-ikhwal yang kecil itu. Ada yang salah, agaknya. Tapi kau benar ketika mengatakan: "betapa nikmat hati yang tak bisa pasti".

* Asarpin, Pembaca Sastra

Sumber: Lampung Post, Minggu, 18 Januari 2009