January 23, 2009

Tajuk: Festival yang Kurang Kemasan

LAMPUNG memiliki banyak agenda massal yang dikemas dalam bentuk festival. Skalanya luas, dari skop lokal, nasional, sampai internasional. Festival Durian 2009 yang digelar di Taman Wisata Alam Batu Putu, Telukbetung Utara, termasuk salah satu agenda yang dikemas secara massal. Festival yang berlangsung dari 23 sampai 25 Januari itu disebut-sebut berskala internasional.

Tentu saja, sebagai sebuah terobosan dan inovasi program kepariwisataan, festival yang dikelola Pemkot Bandar Lampung melalui instansi terkait ini bisa kita katakan program kreatif. Apa pun bisa dijadikan potensi asal dikelola dengan baik. Dan Lampung, begitu juga Bandar Lampung, memiliki potensi itu.

Tampaknya, kesadaran seperti ini yang merangsang Pemkot menjadikan sumber daya alam--i.e. perkebunan dengan komoditas durian--sebagai kekuatan penggerak kepariwisataan. Faktanya, kawasan Batu Putu dan sekitarnya memang termasuk sentra penghasil durian di Bandar Lampung. Sebagai penghasil durian, kawasan ini memang cukup terkenal di Lampung. Durian putra alam adalah produk khas kawasan ini yang menjadi kebanggaan Bandar Lampung.

Dari sini, kita bisa mengatakan Festival Durian adalah satu program yang mengemas potensi sumber daya lokal dengan cerdas. Dengan satu sentuhan kepariwisataan, potensi durian Batu Putu dan sekitarnya dikemas menjadi komoditas jasa. Tidak lagi sebatas produk hasil perkebunan, dengan segala turunannya semisal dodol, tempoyak, lempok, dan penganan lain.

Ini juga diakui panitia pelaksana festival. Bahwa salah satu tujuan Festival Durian adalah mengangkat durian dari hakikatnya sebagai produk hasil perkebunan menjadi komoditas jasa. Maka itu, panitia juga mengadakan berbagai acara, dari lomba memakan durian di lokasi, lomba cipta makanan berbahan durian, pentas seni budaya, dan hiburan.

Untuk konteks "agenda semusim", acara-acara yang diadakan panitia sudah cukup mengangkat festival. Masalahnya jadi lain jika Pemkot menjadikan Festival Durian agenda unggulan untuk mengangkat pariwisata lokal dan menggeliatkan perekonomian rakyat.

Jelas, perlu perencanaan matang untuk menjadikan Festival Durian event unggulan, tidak cukup acara-acara dadakan. Infrastruktur perlu dimaksimalkan. Keterlibatan stakeholder yang mendukung kepariwisataan juga perlu diperluas. Promosi dan pencitraan juga jangan sampai ditinggalkan. Satu lagi yang jadi fondasi, visi yang ingin dicapai--ini jangan sampai terlupakan.

Jika unsur-unsur ini bisa dilengkapi, yakinlah Festival Durian akan menjadi agenda unggulan yang dinanti masyarakat tiap tahun.

Pemkot dan panitia Festival Durian tentu bisa belajar dari festival-festival lain di provinsi ini. Kita bisa sebut Festival Krakatau, Festival Way Kambas, dan Festival Teluk Stabas yang sudah lebih dahulu berlangsung. Bisa dibilang, agenda besar sekelas Festival Krakatau saja tidak begitu sukses padahal melibatkan berbagai elemen dan topangan dana cukup besar.

Tanpa perencanaan matang dan dukungan berbagai elemen, festival yang baru berlangsung satu atau dua tahun seperti Festival Durian tentu sulit berkembang menjadi acara besar yang dinanti-nantikan.

Ini masalah yang mesti disikapi serius Pemkot Bandar Lampung. Tanpa kebijakan yang terarah dan visioner, sulit mengharapkan Festival Durian di Batu Putu menjadi kekuatan penarik kepariwisataan dan perangsang perekonomian rakyat. Paling-paling, kita hanya menyaksikan acara tahunan di Batu Putu yang semuanya berangkat dari durian. Hanya itu. n

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 24 Januari 2009

2 comments:

  1. Anonymous11:23 AM

    This site is..wow..
    I'll use this site a lot

    ReplyDelete
  2. Anonymous12:25 AM

    Nice site you have here..
    Thanks for the info..I'll use this a lot

    ReplyDelete