January 13, 2009

Edwardsyah Pernong Terpilih Ketua FMSB

LIWA (Lampost): Forum Masyarakat Sekala Bekhak (FMSB) diharapkan bisa menjadi fasilitator bagi kemajuan Lampung Barat. Forum ini juga diminta dapat menjembatani Pemkab dengan pemerintah pusat.

Hal tersebut dikatakan Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri dalam acara pengukuhkan FMSB se-Jabodetabek diketuai Pangeran Edwarsyah Pernong, berlangsung di Anjungan Lampung di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Sabtu (10-1).

Kabag Humas dan Protokol Sekretariat Pemkab Lambar Ismet Inoni, Senin (12-1), di ruangannya mengatakan Bupati selaku Dewan Pembina FMSB menyambut baik adanya organisasi tersebut. Ia berharap forum itu bisa menjadi fasilitator bagi kemajuan Lambar. Sebab, di struktur kepengurusannya FMSB banyak pakar ekonomi, pembangunan, dan tata pemerintahan.

Selain itu, FMSB juga diharapkan menjadi alat komunikasi bagi seluruh masyarakat Sekala Bekhak yang ada di Jabodetabek dan di Lambar sendiri.

Bupati juga berpesan agar FMSB memperkenalkan dan memperlihatkan budaya Lampung, khususnya Lampung Barat kepada daerah lain, terutama di Pulau Jawa, kata Ismet Inoni.

Ketua FMSB Pangeran Edwardsyah Pernong, dalam sambutannya memberi apresiasi yang tinggi pada Bupati Lambar bersama rombongannya. Pasalnya, di tengah kesibukkannya mengurusi berbagai tugas pemerintahan di Lambar, tetapi hadir juga dalam pengukuhan forum tersebut.

Ia mengatakan akan berusaha membawa organisasi ini berkiprah dan bermanfaat, baik bagi warga Sekala Bekhak dan Pemkab Lambar dalam rangka kemajuan daerah. n HEN/D-2

Sumber: Lampung Post, Selasa, 13 Januari 2009

Seni: Teater di Sumatera Lebih Berkembang

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Perkembangan komunitas teater perempuan di Sumatera lebih cepat dibanding dengan Jawa. Komunitas teater perempuan di Pulau Sumatera juga dinilai lebih berani dalam menyampaikan tema tentang perempuan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Operasional Kala Sumatera Imas Sobariah, Senin (12-1), usai L:kakarya Panggung Perempuan se-Sumatera.

Menurut Imas, komunitas teater Perempuan di Sumatera terbukti lebih berani dalam mengeksplorasi tema perempuan dibanding dengan komunitas teater di Pulau Jawa. Dengan kondisi seperti ini, kata Imas, perkembangan komunitas teater perempuan di Sumatera lebih cepat dibanding dengan Jawa.

Panggung perempuan se-Sumatera diikuti 21 peserta dari 12 lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan komunitas teater, di antaranya Teater Generasi (Sumatera Utara), Kominitas Seni Intro (Sumatera Barat), Teater Sakata (Sumatera Barat), Teater Selembayung (Riau), Teater Oranye (Jambi), Teater Andung (Bengkulu), Teater Kurusetra (Lampung), Teater Baru (Sumatera Selatan), SPI Labuhan (Sumatera Utara), WCC Palembang, APM Merangin, dan Damar Lampung.

Imas mengatakan dalam lokakarya tersebut peserta harus menyampaikan draf penulisan lakon dan penyutradaraan untuk mempertajam ide teater yang akan dipentaskan pada April mendatang. Tema teater yang disampaikan peserta, kata Imas, adalah seputar dunia perempuan dan tentang rumah tangga. Teater Satu Lampung mengadakan Lokakarya Panggung Perempuan se-Sumatera di Taman Budaya, 8--12 Januari. Dalam acara ini perwakilan dari beberapa teater di Sumatera mempresentasikan ide penulisan lakon dan penyutradaraan di hadapan para pemateri.

Menurut Imas, para pembicara sangat mengapresiasi ide yang diusung komunitas teater di Sumatera. Melihat ide cerita yang disampaikan peserta, pembicara menilai perkembangan teater perempuan di Sumatera bisa lebih cepat dari teater di Jawa. Komunitas teater perempuan di Sumatera lebih berani dalam menyampaikan ide cerita. Teater yang nantinya dipentaskan antara lain berjudul Ci Apung, Emak, Sama dengan Nol, Tiga Perempuan, Koki Keluarga, Fatimah, dan Kembang Mayang. n */K-2

Sumber: Lampung Post, Selasa, 13 Januari 2009

January 12, 2009

Opini: Selamat Datang Wisatawan

Oleh Isbedy Stiawan Z.S.

MOMENTUM akbar di daerah ini, selain Pemilu 2009, ialah Visit Lampung Year 2009 (Tahun Kunjungan Wisata Lampung) yang telah diluncurkan Gubernur Syamsurya Ryacudu akhir Desember lalu. Harapan dan target VLY juga sudah digaungkan.

Kepala Dinas Budpar Lampung M. Natsir Ali menargetkan 1,2 juta wisatawan domestik (wisdom) dan 24 ribu wisatawan luar (Lampost, 24-8), 3 juta turis lokal-mancanegara, dan terakhir menargetkan (target waspada) 1,5 juta minimal 1 juta turis berkunjung ke Lampung (Lampost, 4-1).

Untuk mendukung kesuksesan VLY 2009, sejumlah hotel dan tempat hiburan serta berbagai kawasan strategis dimanfaatkan untuk promosi dengan berbagai spanduk atau banner. Hanya sayang, launching VLY sebagaimana pemberitaan di media massa lebih terkesan bernuansa basa-basi. Tampak kurang siapnya Pemprov menggelontorkan program wisata 2009.

Seorang karib yang terlibat menyukseskan VLY mengeluhkan minimnya anggaran promosi. Padahal, dunia pariwisata tidak bisa berjalan tanpa ditunjang dana promosi. Bali, sebagai daerah tujuan wisata (DTW) paling besar dan sukses menyedot devisa dari pasar pariwisata, tidak akan lepas dari persiapan dana promosi yang besar pula. Media promosi dilakukan tidak hanya cetak atau elektronik, tapi website maupun e-mail.

Kesuksesan dunia wisata Provinsi Bali karena kesediaan fasilitas yang baik, kesiapan masyarakat yang ikut mendukung, serta pemerintah yang tidak sekadar menjalani program (anggaran). Sehingga tiap wisatawan--terutama dari luar negeri--yang merasa terpuaskan akan mempromosikan kepada yang lain. Promosi dari mulut ke mulut dari wisatawan itu lebih cepat dipercaya ketimbang promosi yang diterima melalui brosur atau media cetak dan elektronik.

Persoalan dunia wisata di Lampung tidak mungkin bisa disejajarkan dengan Bali yang jauh lebih dahulu maju. Dengan wisata Jawa Barat saja sulit menandingi. Sebab itu, perlu pengorbanan (dalam hal ini dana) yang tidak kecil di samping keseriusan pengelolaan dunia pariwisata Lampung jika ingin memetik buah dari VLY 2009.

Dengan tagline Lampung menjadi rumah kedua sejatinya menunjukkan daerah ini tak berdaya berhadapan (bersanding) dengan daerah-daerah lain yang lebih maju pariwisatanya. Sebagai "rumah kedua", apa yang dapat diharapkan wisatawan? Mereka--para wisatawan--lebih baik dan lebih menjanjikan kepuasan mengunjungi Bali, Yogyakarta, Jawa Barat, Lombok, Sumatera Utara, Sumatera Barat atau Sumatera Selatan misalnya, ketimbang Lampung.

Banyak alasan bagi wisatawan tidak singgah atau memilih Lampung. Di antaranya, objek wisata yang ada di Lampung bisa didapat di daerah-daerah lain; wisata tualang yang mestinya digarap dengan serius sudah disediakan provinsi lain; kecerdikan gajah bermain bola sudah bukan lagi satu-satunya nilai jual daerah ini, pasalnya sejumlah daerah memiliki gajah--bahkan Bali konon kini mendatangkan gajah dari Sumatera! Lalu apa lagi yang hendak ditawarkan (dijual?) dari objek wisata di Lampung, dan rayuan apa yang akan dikemas pemerintah agar wisatawan mau menjadikan Lampung sebagai rumah kedua?

Berharap terlalu muluk pada dunia wisata dengan sarana dan fasilitas objek wisata yang belum terkelola secara profesional, rasanya hanya memperpanjang masa mimpi. Sementara itu, pasar wisata di daerah-daerah lain sudah lama mimpi itu dihapus dan sedang behadapan dengan realitas, bahkan tengah memanen. Hal inilah barangkali yang tidak pernah (belum) disadari. Kita hanya asyik dalam mimpi dan takut berhadapan dengan kenyataan.

***

Membangun kepercayaan wisatawan, butuh dana dan keseriusan kerja. Pasalnya, menjual objek wisata bukan hanya menaburkan brosur, memajang ratusan spanduk atau menggelar festival yang juga asal berlangsung, maupun mendatangkan wisatawan mancanegara yang ternyata semu. Apakah kita sudah hitung ulang objek-objek wisata yang menjadi andalan sudah siap menerima kunjungan wisatawan (mancanegara/domestik). Bagaimana fasilitas transportasi dari dan menuju objek wisata?

Wisatawan--terutama mancanegara--mengapa memilih Bali walaupun transportasi pesawat terbilang mahal, penyebabnya mereka mendapatkan apa yang diinginkan. Sadar wisata masyarakat Bali yang baik karena merasa dilibatkan bagi kemajuan pariwisata, salah satu pendukung sehingga para bule betah dan menjadikan Bali sebagai "rumah sendiri"--bukan rumah kedua seperti tagline pariwisata Lampung.

Objek pantai di Lampung, walaupun mungkin potensinya tidak kalah menarik dengan wisata pantai di daerah lain karena tidak dikelola profesional akibatnya tidak menjual. Wisatawan mancanegara lebih senang memilih wisata pantai di Bali, Lombok, Makassar untuk menyebut beberapa objek wisata pantai, ketimbang menyeberangi Selat Sunda yang menyita waktu 6--7 jam apabila lewat darat dan hanya 1 jam jika menggunakan pesawat terbang; tapi tiket melalui udara tidak berbeda banyak dengan tujuan daerah lain.

Sebab itu, perlu pembenahan jika Provinsi Lampung ingin mengandalkan wisata pantai sebagai objek yang akan dijual dan menjual. Sejumlah wisata pantai yang membentang Lampung masih dikelola apa adanya dan sangat konvensional. Misalnya pantai Leguna Helau, Karakatoa Nirwana Resort, Pantai Bagus, Pasir Putih, Pantai Selaki, Canti, Pantai Wartawan, hingga Duta Wisata. Lempasing, atau pantai sepantai sepanjang Krui mendekati Bengkulu; terkesan kurang dikelola. Tidak eksotis, sebagaimana Kuta, Sanur, Lombok, maupun Makassar.

Apakah VLY 2009 mau menjual wisata tualang? Kawasan mana lagi yang bisa disulap menjadi wisata yang penuh tantangan? Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) telah dijadikan hutan lindung, Pusat Latihan Gajah (PLG) Way Kambas sudah lama tidak terurus. Penghuninnya, bahkan, sudah dioper ke Batu Putu. Gajah lampung sudah tidak lagi menjual dijadikan ikon pariwisata.

Selain Festival Krakatau, Festival Begawi, Festival Way Kambas, dan sejumlah festival di kabupaten/kota yang menjadi andalan, panitia Visit Lampung Year 2009 berharap Festival Durian Januari ini menjadi "maskot" pula. Tetapi, yang menjadi pertanyaan dipusatkan di mana Festival Durian? Di Way Halim, Palapa ataukah sekitar Tugu Durian sepanjang Jalan Radin Imba Sukadanaham?

Pertanyaan lain, sejauhmana konsep sekaligus target Festival Durian 2009 menyedot turis berkunjung ke Lampung lantaran tergiur nikmatnya durian? Dan, kita harus jujur, Lampung bukan penghasil tunggal buah durian. Para pedagang, ketika ditanya, ia membeli durian acap dari Baturaja, selain duku. Sebab itu, saya menganggap aneh kalau Festival Durian dijadikan program pendukung VLY 2009.

Lalu soal budaya, karena mungkin kesalahan dalam sistem penggalian dan pelestarian yang dilakukan pemda selama ini, kita pun kesulitan mendata kesenian dan kebudayaan (di daerah) Lampung yang masih hidup ataupun tidak lagi dikenal. Saya kira tinggal seni budaya yang masih dimiliki Lampung jadi andalan dan kalau mungkin "dijual" dalam pasar wisata menyambut Visit Lampung Year 2009.

Pemprov Lampung mesti mencipta atau membangun kampung-kampung budaya demi melestarikan kesenian (dan kebudayaan) yang kemudian "dipasarkan" kepada wisatawan yang merindukan wisata eksotis, naturalis, dan kultural. Kalau tidak, jangan berharap muluk-muluk bahwa Visit Lampung Year 2009 bisa memenuhi target 1,5 juta turis (lokal dan mancanegara) berkunjung ke daerah ini. n

* Isbedy Stiawan Z.S., Pemerhati Pariwisata dan Kebudayaan

Sumber: Lampung Post, Senin, 12 Januari 2009

January 11, 2009

Panggung Perempuan Se-Sumatera: Dicari, Sutradara dan Penulis Lakon Perempuan

-- Christian Heru Cahyo Saputro*

LANGKAH mendongkrak kuota peran kaum perempuan tak hanya menyentuh ranah politik, tapi juga merambah jagat kesenian termasuk panggung teater. Gebrakan Teater Satu (Bandar Lampung) kerja bareng Hivos menaja event Panggung Perempuan se-Sumatera adalah salah satu bukti konkret.

Geliat kehidupan teater di Sumatera bak kerakap di atas batu; hidup segan mati tak mau. Panggung teater Sumatera masih sepi dari riuhnya pementasan, apalagi yang melibatkan penulis lakon dan sutradara perempuan. Masih sangat langka, penaka mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Panggung Perempuan se-Sumatera dihelat antara lain untuk menggesa lahirnya sutradara dan penulis lakon perempuan di wilayah Sumatera. Kegiatan ditaja pertengahan November 2008 dan berakhir April mendatang.

Boleh dianggap kegiatan ini sebagai kado Hari Ibu sekaligus Hari Kartini. Dengan berbekal semangat ibu dan Kartini diharapkan para perempuan lewat media teater bisa makin meningkatkan peran dalam ranah kehidupan.

Pelatihan sampai Parade Karya

Seperti disampaikan Ketua Pelaksana Iswadi Pratama, panggung perempuan ini merupakan upaya pemberdayaan teater perempuan di Sumatera. Panggung Perempuan se-Sumatera, masih kata Direktur Artistik Teater Satu ini, adalah program pembekalan dan pemberdayaan perempuan pekerja teater, khususnya penulis lakon dan sutradara dari kelompok-kelompok teater yang menjadi perwakilan setiap provinsi di Sumatera.

Kegiatan yang dibuka dengan diskusi dan pelatihan pada 14--15 November 2008 lalu ini diikuti utusan dari Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Palembang, dan Lampung. Diskusi dengan fasilitator Iswadi Pratama ini berupaya mengeksplorasi masalah-masalah yang dihadapi perempuan pelaku teater di Sumatera dalam mengaktualisasikan diri di panggung teater dan sumber-sumber penciptaan, berkaitan dengan wacana-wacana gender dengan latar belakang sejarah dan kebudayaan di Sumatera. Sedangkan Siti Noor Laila dari LSM Damar, Lampung, membekali pemahaman masalah-masalah gender secara umum.

Pada 16--20 November lalu, peserta dibekali dengan pelatihan penyutradaraan untuk menambah pengetahuan dan keterampilan di bidang penyutradaraan dengan narasumber Dr. Yudi Aryani (peneliti, pengamat, praktisi teater dari ISI Yogyakarta), Joko Kurnaen (dosen artistik STSI Bandung), dan Lena Simanjuntak (sutradara, Jakarta). Peserta juga dibekali pelatihan penulisan lakon untuk menambah pengetahuan dan keterampilan di bidang penulisan lakon, baik secara teknis dan teoritis.

Peserta pada kesempatan itu juga dibekali pengetahuan dan pemahaman mengemas masalah-masalah gender dalam bentuk lakon. Dengan menghadirkan narasumber Arthur S. Nalan (penulis lakon, ketua STSI Bandung), Yosef Muldiana (sutradara, penulis lakon dari Laskar Panggung Bandung), Faidza Marzoeki (LSM Perempuan, Jakarta, penulis adaptasi lakon Bumi Manusia dari novel berjudul sama karya Pramoedya Ananta Toer).

Sedangkan lokakarya dan penulisan yang bakal ditaja 8--12 Januari ini agenda kegiatannya berupa presentasi dan evaluasi hasil pelatihan penyutradaraan dan penulisan lakon, dengan narasumber Dr. Yudi Aryani, Joko Kurnaen, Arthur S. Nalan, Yosef Muldiana, dan S.N. Laila. Puncak kegiatan Panggung Perempuan se-Sumatera ini bakal ditaja 25--30 April dengan menggelar parade karya yang akan mengusung karya pertunjukan para perempuan sutradara dan penulis lakon se-Sumatera.

Bakal tampil sebagai pengamat pementasan ini Ags Dipayana (Teater Tetas, Jakarta), Lisa Bona (kurator seni pertunjukan Dewan Kesenian Jakarta), Dewi Noviami (kurator teater, Seni Pertunjukan di Goethe Institut, Jakarta), dan Faidza Marzoeki (Jakarta).

Panggung Perempuan

Dipilihnya perempuan sebagai fokus atau sasaran event ini karena pelaku teater perempuan khususnya sutradara dan penulis lakon masih sangat minim untuk konteks Indonesia.

Hingga saat ini, di Indonesia hanya ada beberapa nama yang sudah dikenal publik, di antaranya Ratna Sarumpaet (sutradara, penulis lakon, aktris di Teater Satu Merah Panggung), Ratna Riantiarno (aktris, manajemen Teater Koma), Margesti (sutradara, aktris di Teater Abu), dan Lena Simanjuntak (sutradara, penulis lakon bagi para perempuan PSK). Ketiganya berdomisili dan bekerja di Jakarta.

Dari generasi yang lebih muda, ada Shinta Febriani (sutradara, penulis lakon di Teater Merah Putih, Makassar), Cici (sutradara, penulis lakon dari Palu), dan Yani Mae (sutradara, penulis lakon dari STSI Bandung).

Ketujuh perempuan sutradara, penulis lakon, dan penanggungjawab manajemen pertunjukan teater inilah yang bisa dianggap relatif ajeg meramaikan event teater di Indonesia. Selebihnya, sebagian besar perempuan yang aktif di teater cenderung memilih menjadi pemain (aktris) atau pelaksana produksi (manajemen).

Penekanan event Panggung Perempuan terhadap profesi sutradara dan penulis lakon karena gagasan artistik dan pemilihan tema atau lokus persoalan yang hendak diaktualisasikan senantiasa bersumber dari sutradara dan lakon yang dimainkan. Jadi, semakin banyak jumlah perempuan sutradara dan penulis lakon teater di Indonesia, gagasan-gagasan artistik dan persoalan yang akan teraktualisasi di panggung teater Indonesia akan makin beragam. Setidaknya akan muncul pendekatan yang lebih otentik dari sisi perempuan. Ini antara lain yang diharapkan dari Panggung Perempuan se-Sumatera seperti disampaikan ketua operasional kegiatan Imas Sobariah.

Dipilihnya Sumatera sebagai lokus program ini juga tidak terlepas dari masih minimnya wacana gender teraktualisasi di media teater di Sumatera. Selain itu, banyak potensi perempuan pelaku teater di Sumatera yang belum memiliki kesempatan lebih baik untuk mengembangkan diri. Dengan munculnya perempuan sutradara dan penulis lakon dari Sumatera diharapkan memberi semangat baru bagi perkembangan teater di Sumatera secara meluas.

Secara strategis, event ini dapat melakukan penguatan isu berdasarkan kesatuan wilayah. Diharapkan juga mampu memberi stimulus pada wilayah-wilayah lain di luar Sumatera dalam rangka membangun wacana perempuan di panggung teater di Indonesia. Batasan terhadap wilayah Sumatera diharapkan dapat memberikan spesifikasi pada persoalan-persoalan perempuan dalam konteksnya sebagai pelaku teater berdasarkan kedekatan sejarah dan latar belakang budaya yang akan dieksplorasi dalam bentuk dialog dan pemilihan sumber-sumber penciptaan karya.

Misalnya mengenai posisi perempuan di lingkup keluarga batih dalam sistem budaya di Sumatera yang satu sama lain memiliki persamaan juga perbedaan.

Mendongkrak Peran Perempuan

Program ini bertujuan untuk memberikan perspektif gender terhadap para penulis lakon dan sutradara perempuan se-Sumatera dalam mengeksplorasi gagasan-gagasan artistik.

Untuk itulah panitia berupaya memfasilitasi perempuan sutradara dan penulis lakon di Sumatera untuk mengaktualisasikan dan mengembangkan diri lebih jauh dengan modal pembekalan wawasan, keterampilan, dan pengetahuan di bidang artistik dan penulisan dan pemahaman terhadap masalah-masalah gender.

Selain itu, kegiatan ini juga merupakan salah satu upaya mendinamisasi perkembangan teater, memperkaya khazanah artistik dan naskah drama di Sumatera khususnya dan Indonesia umumnya, yang berasal dari para pelaku teater perempuan. Diharapkan dari kegiatan yang digelar maraton ini bakal lahir 10 sutradara dan 10 penulis lakon dari komunitas teater di Sumatera yang memiliki pemahaman terhadap masalah-masalah artistik dan wacana gender.

* Christian Heru Cahyo Saputro, peneliti folklor pada Sekelek Institute Publishing House, tinggal di Lampung

Sumber: Lampung Post, Minggu, 11 Januari 2009

Traveling: Menjejak Gunung Pesagi dengan Kibar 8

KIBAR digelar kembali untuk yang kedelapan. Sejak digelar pertama 2001, event nasional olahraga petualangan dengan agenda utama Kebut Gunung Pesagi ini terus menarik peminat. Selama dua hari, 83 tim dari berbagai provinsi menggeber alam perawan Liwa dan Gunung Pesagi.

-------------

Alam tropis, udara sejuk, dan pemandangan yang memukau di Lampung Barat menjadi jualan utama Gumpalan FP Unila dalam Kibar yang memperebutkan Piala Gubernur ini. Seperti sebelumnya, Gumpalan menggandeng Dinas Pariwisata Lampung Barat dalam penyelenggaraan pada 18--21 Desember 2008.

Lebih khusus lagi, event kali ini didedikasikan untuk menyambut program Visit Lampung Year 2009. Berikut laporan Arie Syaputra, Ketua Pelaksana yang merekam kegiatan ini untuk Traveling Lampung Post.

Kibar 8 dibagi menjadi dua item, yakni Kebut Wisata Liwa-Bahway dan Kebut Gunung Pesagi. Item pertama merupakan lomba lintas alam yang mengambil trek dari Kota Liwa (Lapangan Merdeka) menuju Pekon Bahway, suatu perkampungan di kaki Gunung Pesagi. Item ini merupakan babak kualifikasi atau pemanasan sebelum lintasan yang sebenarnya (Kebut Gunung Pesagi) dijalani. Namun, dua etape yang dijalani juga tidak kalah menantang.

Sebanyak 83 tim, terdiri dari 16 tim putri dan 67 tim putra berjuang menjadi yang terbaik dalam menaklukkan gunung tertinggi di Lampung dengan ketinggian 2.231 meter di atas permukaan laut (dpl) itu. Mereka adalah para pencinta alam lokal dan dari DKI Jakarta, Depok, Bekasi, Tangerang, Bogor, Yogyakarta, Palembang, dan Baturaja.

Jumat (19-12) pagi, dingin kabut Kota Liwa menyambut peserta. Persiapan adu kebut oleh peserta dan panitia. Pukul 10.00, panitia menggelar pertemuan teknis (technical meeting). Pukul 14.30, acara seremonial dibuka Wakil Bupati Lampung Barat Dimyati Amin. Selain peserta, ratusan warga Kota Liwa merangsek untuk menyaksikan acara.

Sekitar pukul 15.30, bendera start dikibarkan Dimyati Amin menandai penglepasan peserta lomba babak kualifikasi (etape 1, Liwa--Bahway). Tepuk tangan, iringan warga, dan kawalan mobil patroli memeriahkan acara itu. Etape yang baru pertama kali digelar itu dirancang agar peserta tidak langsung berhadapan dengan kehebatan alam, tetapi juga dapat berinteraksi dengan masyarakat Liwa hingga Pekon Bahway.

Pada Kebut Wisata Liwa--Bahway, peserta akan melewati dua pos. Di setiap pos, panitia memberikan tiket untuk menuju pos berikutnya. Panitia setiap pos juga mengecek daftar peralatan yang merupakan bagian kriteria penilaian.

Pada etape ini, Himpala A dari Universitas Nasional Jakarta finis di urutan pertama dengan waktu tempuh 31 menit. Disusul Palamsar I dari SMK Rumbia, Lampung Tengah dengan selisih waktu 2 menit. Di tempat ketiga Mapala Mushroom I dari UTY Yogyakarta. Meskipun demikian, hampir semua peserta finis dengan selisih waktu yang ketat.

Pukul 17.00 peserta bersama sebagian panitia diberangkatkan menuju lokasi Kebut Gunung Pesagi (Pekon Bahway) menggunakan lima truk. Begitu sampai, peserta langsung mendirikan camp (tenda) di area yang sudah disediakan panitia.

Pukul 21.00, technical meeting untuk Kebut Pesagi digelar. Selesai itu, seluruh peserta dibekap malam nan hening berselimut hawa dingin Pekon Bahway.

Sabtu (20-12), pukul 08.00, start Kebut Gunung Pesagi dengan posisi start sesuai dengan hasil finis kualifikasi (Kebut Wisata Liwa--Bahway). Peratin Pekon Bahway mewakili Pemerintah Kabupaten Lampung Barat melepas peserta Kebut Gunung Pesagi. Dan para peserta menunjukkan "sifat" yang sesungguhnya untuk menundukkan medan berat nan indah itu.

Dalam Kebut Gunung Pesagi, peserta melewati delapan pos yang dijaga panitia. Dari garis start, peserta memacu derap menuju pos 2 melewati perkampungan desa Bahway, Sarhum dan Ramuan. Rimbun kebun kopi, jalan tanah, dan aktivitas warga menjadi pemandangan. Membutuhkan waktu sekira satu jam untuk sampai pos 2.

Dari pos 2, trek di hutan heterogen dengan pohon menjulang mulai terasa. Hijaunya lapisan rimba yang membalut Gunung Pesagi dan sejuknya udara yang bebas masih dapat kita jumpai di sini. Medan yang mulai berat membuat jarak antartim makin renggang. Namun, sesampai pos 3, suasana alamiah membuat wajah ceria. Satu sumber air nan jernih dan dingin digunakan para peserta yang singgah di pos 3 untuk melapor.

Selepas pos 3, peserta melewati jalur yang disebut sebagai "penyambungan". Jalur jalan setapak selebar 1 m yang terdiri dari bebatuan dengan sisi kiri-kanan sangat terjal membuat trek ini menantan. Butuh energi ekstra untuk melewatinya. Terlihat pula, alam terbuka akibat kebakaran hutan pada 1997. Di jalur ini juga kita bisa mencium wangi edelweis si bunga abadi.

Beranjak dari pos 4, peserta melewati jalur yang didominasi hutan lumut. Jalur ini merupakan punggung Gunung Pesagi yang relatif landai. Trek ini dipakai peserta untuk adu kebut. Sebab, medan yang landai dan cukup lebar memungkinkan tim saling menyalip.

Di pos 5 (Puncak Gunung Pesagi) yang merupakan dataran berukuran 5 x 7 m�MDSU�2, terdapat tugu dari semen. Belakangan diketahui, tugu itu merupakan batas wilayah kekuasaan Belanda pada zaman penjajahan. Dari posisi ini, pemandangan alam ciptaan Tuhan sangat menawan. Luas dan birunya air Danau Ranau dan tegarnya Gunung Seminung tampak jelas dari sini.

Kebut dilanjutkan menuju pos 6. Peserta melewati jalur yang membutuhkan kesabaran dan kewaspadaan yang tinggi karena jalur ini merupakan turunan yang sangat terjal. Sepanjang jalur ini banyak pohon tumbang yang memaksa peserta merangkak.

Di pos 6 ini, lagi-lagi peserta disuguhkan sebuah pemandangan yang sangat indah, yaitu air terjun Badas Gumpalan yang mengiming-imingi kesegaran luar dalam.

Perjalanan berlanjut ke pos 7 dengan jalur berupa vegetasi hutan heterogen yang relatif landai diiringi dengan licinnya lantai rimba oleh lumut disepanjang jalur. Trek yang harus dilewati berupa jalan setapak (turunan) dengan sisi kanan jurang dengan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi yang merupakan ciri khas hutan Sumatera.

Menuju pos 8 adalah vegetasi yang didominasi hutan rotan. Secara umum keadaan jalur merupakan turunan yang tidak terlalu curam, tetapi membutuhkan kewaspadaan yang tinggi untuk menghindari tajam dan rapatnya duri pohon rotan. Panjang jalur ini kurang lebih 2 km dan membutuhkan waktu 1 jam untuk mencapainya.

Trek untuk menuju pos 9 dijuluki sebagai "Jalur Patah Hati". Jalur ini merupakan turunan terjal dan licin. Sepanjang jalur, vegetasi yang mendominasi adalah pohon-pohon kecil yang acap digunankan untuk berpegangan. Meskipun sulit, gemericik air mengiringi seolah memberi kesegaran baru.

Jalur ini juga merupakan perbatasan antara hutan rimba Gunung Pesagi dengan kebun penduduk. Keluar rimba, peserta disuguhi ladang penduduk yang berpenghuni dengan pondok-pondok mereka yang khas. Sungai-sungai kecil mengular dan beberapa sungai besar dengan air yang sangat jernih membasuh batin.

Dengan sisa energi yang ada, peserta menyegerakan menempuh jalur menuju garis finis yang tinggal selangkah lagi. Pukul 16.38, dengan terpincang-pincang Tim Karmapala dari MAN 1 Liwa berhasil menjadi tim pertama yang melewati garis finis dengan waktu 7 jam 52 menit.

Berselang 15 menit, Tim Himapala dari Universitas Nasional Jakarta menyusul. Mapala Mushroom II dari UTY Yogyakarta yang merupakan juara bertahan tim putra pada Kibar 7, harus puas di posisi ketiga. Juara harapan I diraih Mapala Mushroom I, harapan II jatuh pada Tim Talaseta Universitas Pancasila Jakarta. Juara harapan III direbut Palamsar I dari SMKN 1 Rumbia, Lampung Tengah. Untuk juara favorit tim putra jatuh kepada Satya Triloka III dari Pringsewu.

Sumber: Lampung Post, Minggu, 11 Januari 2009

January 7, 2009

VLY 2009: Potensi Wisata Pesawaran Kurang Diperhatikan

GEDONGTATAAN (Lampost): Meski tahun 2009 telah dicanangkan sebagai Visit Lampung Year (VLY), tapi Pemprov Lampung melalui Dinas Pariwisata maupun Pemkab Pesawaran terkesan kurang koordinasi. Pasalnya, meski Pesawaran kaya akan potensi wisata, tidak ada satu pun anggaran yang dialokasikan untuk perbaikan infrastruktur objek wisata.

Berdasarkan pantauan Lampung Post di sejumlah objek wisata yang ada di Kecamatan Padang Cermin, masih menunjukkan buruknya kondisi jalan menuju objek wisata. Akibatnya, jalan menuju objek wisata itu selain susah ditempuh juga rawan akan kriminalitas.

Seperti objek wisata air terjun Way Sabu yang ada di Padang Cermin. Meski memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai objek wisata, lokasinya terkesan terisolasi. Sebab, akses menuju ke air terjun yang terletak di Gunung Betung ini tidak pernah diperbaiki dan sejak dahulu masih berupa jalan setapak.

Di sisi lain, minimnya informasi tentang lokasi-lokasi objek wisata pun membuat banyaknya potensi wisata di Kecamatan Padang Cermin dan Punduh Pidada seolah tidak diketahui keberadaannya.

Suratmin, warga Padang Cermin, menilai jika selama ini objek wisata yang ada hanya dikunjungi untuk aktivitas mesum. Tempat ini juga kerap dijadikan sebagai tempat melakukan aksi kriminalitas, seperti pembunuhan yang terjadi beberapa waktu yang lalu. "Kami sampai bosan melihat objek wisata ini dikotori oleh orang yang cuma mau berbuat mesum. Kalau keadaannya sudah seperti ini, jangan berharap ada wisatawan yang mau datang, melirik saja pun tidak mau. Sebab, tempatnya sudah terlalu kotor. Bayangkan saja, di pantai, kita bisa menemukan banyak bekas alat kontrasepsi, seperti kondom. Ini kan tidak masuk akal," keluhnya lagi.

Riko, salah seorang aktivis lingkungan menilai fungsi Dinas Pariwisata yang ada di provinsi maupun yang ada di Kabupaten Pesawaran terkesan percuma. "Mereka (dinas) tidak menjalankan fungsi-fungsi kepariwisataan. Padahal, pemerintah seharusnya jeli melihat peluang pendapatan asli daerah dari pariwisata. Tetapi kenapa justru dibiarkan dan dijadikan tempat mesum," tegasnya. n SWA/D-3

Sumber: Lampung Post, Rabu, 7 Januari 2009

January 4, 2009

Pustaka: Kisah TKW di Paris

Judul novel: Luka di Champ,s Elysees
Penulis : Rosita Sihombing
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House, Jakarta, 2008
Tebal : 190 halaman


PARIS. Menara Eiffel. Kota impian semua orang. Di negeri penuh gemerlapan ini ternyata tak selamanya indah. Terutama bagi tenaga kerja wanita asal Indonesia yang berteduh di sana. Bukankah TKW Indonesia disedot oleh negara Timur-Tengah, Malaysia, Korea, dan Hongkong? Memang ada TKW di Eropa? Novel perdana karya Rosita Sihombing akan menjawabnya.

Novel ini adalah kisah nyata seorang TKW asal Indonesia yang malang-melintang di Paris. Sikrit sapaan akrab Rosita tidaklah sulit menemui mereka. Selain jumlahnya banyak, mereka memiliki komunitas sendiri. Pada tanggal tertentu berkumpul di bawah Menara Eiffel, lambang kota Paris. Arisan, curhat, dan saling berbagi. Gaya dan dandanan mereka unik menyesuaikan dengan tren mode di kota Paris. Wow

Rosita membutuhkan waktu empat tahun menyelami kehidupan para TKW di negeri pusatnya mode dunia ini. Kehidupan TKW Indonesia penuh dengan haru-biru. Penyebab utamanya, keberadaan mereka ilegal. Mereka, sebenarnya TKW di Timur Tengah. Beruntung memiliki majikan kaya-raya membawa liburan pelesir ke Paris. Kesempatan itu dimanfaatkan para TKW melarikan diri. Mereka ingin terlepas dari penyiksaan, pemerkosaan, rodi, dan upah tak dibayar dari majikan. Selanjutnya berharap bisa menata hidup lebih baik. Tapi, kenyataannya semakin memprihatinkan. Terlunta-lunta di negara kaya-raya, nan ketat dengan aturan.

Novel Luka di Champ,s Elysees berkisah tentang Karimah --Muslimah Indonesia yang bekerja di Riyadh. Karimah sebagai baby sitter, mengasuh Nassar (4 tahun) dan Omar (11 bulan). Majikan pria pengusaha sukses sering ke luar kota dan luar negeri. Sedangkan majikan perempuan, parasnya cantik, tapi malas bekerja. Yang menyakitkan, dia sering main tangan hingga menimbulkan bekas. Kekasaran panggilan majikan perempuan- yang membekas di hati Kari.

Musim semi 2005, majikan pria, Alkahtani mengajak sekeluarga liburan ke Paris. Dari tiga tenaga kerja di rumahnya, Kari yang dipilih mendampingi majikan. Sejak masih di Riyadh, Kari sudah merencanakan kabur setiba di Paris. Dia berharap bisa bertemu teman sekampungnya yang lebih dulu kabur ke Negara Napoleon itu.

Tiba di Paris, Kari mulai ancang-ancang mencari waktu yang tepat. Momen yang tepat, saat kedua majikannya sibuk memilih mainan untuk Nassar, Omar terlelap di kereta bayi. Kari melepaskan kerudungnya, menyelinap di antara pembeli yang memadati toko pusat mainan. Berhasil.

Dia terus berlari melewati Jalan Champ,s Elysees, di kawasan favorit wisatawan. Berlari entah ke mana. Dia tersungkur, terguling-guling, darah menetes dari kaki kanannya. Kakinya sulit digerakkan. Minta tolong dengan siapa? Jangankan mengucapkan kata-kata, mendengar bahasanya saja sulit dimengerti. Pelarian terhenti di Stasiun Metro Charles de Gaulle Etoile. Kari pingsan hingga ditemukan Hamed. Selanjutnya, Hamed menjadi dewa penolong sekaligus teman hidup Kari. Dia warga negara Aljazair yang hidup ilegal pula di Paris. Kerjanya serabutan.

Inilah sisi nyata yang ingin digambarkan Rosita. Kehidupan TKW ilegal Indonesia memilih hidup bersama dengan pria-pria Magreb (warga keturunan Aljazair, Maroko, Tunisia), India, atau Pakistan. Namanya menumpang, mereka harus melayani apa pun keinginan teman hidup bersamanya. Tak jarang kekerasan fisik dan hinaan menghinggapi para TKW. Namanya pendatang ilegal, pekerjaan yang didapat pun ilegal. Menjadi cleaning service, pembantu, baby sitter, atau perempuan jalanan. Getir-getir kesedihan tak seindah gemerlap lampu-lampu di Menara Eiffel di malam hari.

Penderitaan bertambah ketika Kari mengandung hasil hubungan dengan Hamed. Malam dingin menusuk, bayi bergerak-gerak ingin segera keluar. Tanpa Hamed, Kari tertatih-tatih menelusuri jalan, naik metro menuju rumah sakit. Sakit perut dan kegundahaan terus melanda. Bagaimana jika bertemu polisi, menanyakan identitasnya? Di rumah sakit petugas administrasi pasti menanyakan pula identitas dirinya. Bagaimana jawabnya, nanti saja. Yang pasti si orok sudah berontak.

Lahirlah si cantik Maharani. Bayi mungil ini membawa kebahagiaan. Hamed datang ketika semuanya sudah beres. ''Ke mana saja kamu selama ini?!'' Hamed meminta maaf. Tapi, tak ada artinya. Pertengkaran kembali memuncak. Hamed tidak terima nama anaknya didaftarkan tanpa mencantumkan nama 'ayah'. Alasan Kari lebih karena emosi, kemana 'ayah'-nya saat dia bertaruh nyawa mengeluarkan bayi mungil dari rahim?

Jerit tangis Maharani tak meredakan keegoisan kedua orangtuanya. Hamed semakin emosi, mendorong Kari yang sedang menggendong Maharani. Ibu dan anaknya terjatuh tersungkur. Tangis Maharani terhenti, dan tak bergerak lagi. Bayi cantik itu meninggal.

Kesedihan masih terus bergelayut. Kari memutuskan berpisah dengan Hamed. Dia menumpang dengan sobatnya Enah yang tinggal bersama dengan pria asal India. Setiap Enah pergi, Kari ikut pergi. Dia tak mau ditinggal bersama pasangan Enah yang 'nakal'.

Titik kebahagiaan tiba ketika Kari bertemu Imel, WNI legal yang tinggal di Paris. Imel sebagai dewi penyelamat yang bisa mengembalikan kebahagiaan Karimah. Kari kembali berkerudung, berkumpul dengan suami aslinya, Pardi, dan anak semata wayangnya, Tari.

Selembar surat terselip di saku baju Kari. Dari Hamed, isinya ungkapan maaf dan pengakuan dirinya selama ini sudah memiliki istri dan anak di Aljazair. Ternyata Hamed lebih jujur dibandingkan Kari yang juga meninggalkan anak dan suami di Tanah Air.

Peluncuran novel Luka di Champ,s Elysees, Ahad (14 Desember 2008). Rosita sengaja terbang dari Paris menuju Jakarta. Menurut dia, di novel ini ia sengaja mematikan Maharani dan membuat Karimah berbahagia di akhri cerita. Walaupun kenyataan kata bahagia jauh dari harapan para TKW: Kehidupan ibu dan anak di Paris sama-sama menderita.

Novel yang dihiasi kata-kata Prancis ini cukup sederhana, namun menarik. Bahasanya mengalir, enak dibaca, dan penuh makna. Banyak pengetahuan berkenaan Paris yang diketahui dari novel ini. Pembaca pun bisa belajar kalimat-kalimat sederhana Prancis. Tergambarkan kalau Rosita sangat menguasai hingga detail lekuk-lekuk Paris. Nama-nama jalan, taman, rute-rute bus mencerminkan kalau penulis lama berkecimpung di Paris.

Rosita memang tinggal di Paris. Dia menetap di Paris, sejak menikah dengan suaminya Patrick Monlouis, asal Paris. Kini dikarunia seorang putra berusia 3,5 tahun. Bagi Rosita, Paris menjadi kota kedua, setelah Tanjungkarang, Lampung, kota kelahirannya. vie

Sumber: Republika, Minggu, 04 Januari 2009

January 3, 2009

[Esai] Bacaan dan Pengajaran Bahasa Lampung

Oleh Udo Z. Karzi*

PELAJARAN Bahasa Lampung sudah lama jadi muatan lokal (mulok) di sekolah dasar dan menengah di Provinsi Lampung. Namun, sejauh ini upaya pewarisan bahasa Lampung pada generasi muda di Lampung mengalami hambatan.

Alih-alih siswa mahir berbahasa Lampung, yang terjadi malah kebingungan luar biasa dari siswa setelah diajari atau lebih tepatnya diperkenalkan bahasa Lampung. Berkali-kali saya mendengar keluhan pelajar dan orang tua tentang rumitnya belajar bahasa Lampung.

Jangankan dari keluarga yang bukan penutur bahasa Lampung, siswa-siswa yang di rumahnya sehari-hari berbicara bahasa Lampung sekalipun keluhan tentang pengajaran bahasa Lampung juga timbul. Seorang siswa bercerita bagaimana di sekolah menemui banyak kosakata bahasa Lampung yang diajarkan gurunya yang jauh sama sekali dengan kata-kata yang ia praktekkan di rumah dan di lingkungannya.

Kasus lain, saya menemukan seorang berbicara bahasa Lampung dengan dialek yang sangat tidak jelas. Campur-campur tidak keruan di antara banyak dialek dan subdialek, entah a (api), entah o (nyo). Saya sebagai penutur bahasa Lampung jelas sangat prihatin dengan kondisi ini.

Peta Bahasa Lampung

Kondisi kacau semacam ini tidak akan terjadi jika guru atau pengajar mengerti dan paham peta bahasa Lampung. Sebelumnya (baca: Peta Bahasa-Budaya Lampung, Lampung Post, 16 dan 23 Maret 2008), saya sudah menyebutkan daerah masing-masing penutur bahasa dialek-subdialek bahasa Lampung. Namun pemetaan bahasa Lampung ini masih dikacaukan dengan pembagian suku Lampung secara adat. Secara adat, masyarakat adat Lampung terdiri dari Pepadun dan Peminggir. Pembagian suku Lampung berdasarkan adat dan berdasarkan bahasa berbeda.

Ada persepsi keliru yang menganggap masyarakat adat Lampung Pepadun menggunakan bahasa Lampung dialek o (nyo). Padahal tidak. Boleh dibilang--kalau mau menyederhanakan masalah--masyarakat Lampung Pepadun yang dialek o hanya dua: Abung dan Menggala. Daerah subetnik Lampung bisa dipetakan dengan gampang, apalagi jika mendasarkan pada pembagian marga-marga di Lampung.

Masyarakat adat Lampung selebihnya di luar Abung dan Menggala, baik Pepadun maupun Peminggir (orang lebih suka menyebutnya Pesisir atau Saibatin), semuanya penutur bahasa Lampung dialek a (api). Termasuk penutur dialek api adalah Ranau dan Komering-Kayu Agung (di Provinsi Sumatera Selatan) dan Cikoneng (di Provinsi Banten).

Dengan memahami peta bahasa Lampung ini, sudah seharusnya pengajar bahasa Lampung di Lampung Barat, misalnya, tidak bisa memaksa mengajarkan bahasa dialek o (Abung atau Menggala). Kalau itu masih dilakukan, akan sia-sia belaka. Bukannya membuat siswa cakap berbahasa Lampung, justru membuat siswa bingung dan stres karena pelajaran sekolah di luar pengalaman berbahasa di lingkungannya sehari-hari.

Pengajaran Bahasa Lampung

Kritik utama terhadap pengajaran bahasa Lampung sebagai muatan lokal selama ini, pertama, kurikulum pendidikan bahasa Lampung yang masih belum memenuhi syarat mencapai tujuan belajar berbahasa Lampung dan bukan sekadar belajar tentang bahasa Lampung.

Kedua, kurikulum ini juga berkaitan dengan sistem pengajaran yang benar-benar mengajak siswa belajar berbahasa Lampung dan bukan hanya mengajarkan menulis aksara Lampung (kaganga).

Ketiga, saya melihat bagaimana buku pelajaran bahasa Lampung yang mencampur-adukkan dialek o (nyow) dan a (api) dalam satu buku membuat suasana pengajaran menjadi jauh dari nyaman. Siswa menjadi bingung, stres, dan malah menjadi phobia dengan bahasa Lampung.

Alasan memperkenalkan dua dialek sekaligus kepada pelajar menjadi sesuatu yang debatable. Pertanyaannya, siswa mau diarahkan mahir berbahasa Lampung (sebagaimana halnya pelajaran bahasa asing lain seperti bahasa Inggris, Prancis, Arab, Mandarin, dll.) atau sekadar memperkenalkan, "Ini lo bahasa Lampung yang sangat beragam dan karena itu sulit belajar berbahasa Lampung!"

Kondisi seperti harus segera diakhiri. Lebih baik buku pelajaran bahasa Lampung itu dibuat saja dua versi. Versi pertama menggunakan dialek o untuk sekolah-sekolah di daerah penutur bahasa Lampung dialek o. Sedang versi kedua menggunakan dialek a untuk sekolah-sekolah di daerah penutur bahasa Lampung dialek a.

Buku pelajaran bahasa Lampung juga harus dimodifikasi sedemikian rupa agar siswa tidak terbebani, bahkan senang belajar bahasa Lampung, sehingga diharapkan mampu berbahasa Lampung (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) dengan baik.

Keempat, dari sisi penyediaan sumber daya manusia (tenaga pendidik), Universitas Lampung sebagai pusat kebudayaan Lampung dan satu-satunya universitas negeri yang harus lebih peduli dengan bahasa Lampung justru mengesampingkan peran ini. Penghapusan Program Studi Bahasa dan Sastra Lampung dari ilmu-ilmu yang diajarkan di perguruan tinggi kebanggaan orang Lampung ini; apa pun argumennya sebagai bentuk kemasabodohan itu.

Berkali-kali diingatkan bahasa menunjukkan bangsa. Kalau mau menghancurkan kebudayaan Lampung, ya abaikan saja bahasa Lampung. Kalau tidak, pengajaran atau "cara pewarisan" bahasa Lampung harus kita pikirkan bersama.

Bacaan Bahasa Lampung

Satu hal lagi yang membuat orang kesulitan belajar berbahasa Lampung adalah betapa sulitnya mencari teks berbahasa Lampung. Saya jelas ikut bersedih kalau khazanah sastra lisan atau sastra tradisional terancam punah sebagaimana dikeluhkan para seniman tradisional Lampung dan para akademisi. Namun saya akan lebih miris lagi jika orang-orang tidak lagi kenal bahasa Lampung.

Di tengah gempuran globalisasi dan betapa bangganya orang berbahasa asing, upaya pemertahanan bahasa Lampung, selain melestarikan sastra lisan, salah satunya yang paling niscaya adalah menyediakan sebanyak-banyak teks (tertulis) berbahasa Lampung.

Upaya terakhir ini yang agaknya terseok-seok jalannya. Hampir tidak ada yang peduli masalah ini. Upaya kami (BE Press) misalnya, untuk menerbitkan buku sastra berbahasa Lampung selalu terbentur dengan dana. Dengan setengah mengemis, kami bertanya adakah yang mau membantu? Atau, tidak adakah yang tahu betapa pentingnya menyediakan bacaan berbahasa Lampung untuk sesuatu yang bernama kebudayaan Lampung?

* Udo Z. Karzi, tukang tulis dan editor, tinggal di Bandar Lampung

Sumber: Lampung Post, Minggu, 4 Januari 2009

[Apresiasi] Buku 'Penyelamat' Aktor

--- Iswadi Pratama*

PULUHAN tahun sejak berdirinya ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia), hampir setiap orang yang belajar teater secara akademik maupun nonformal mengenal sebuah buku "wajib" yang jadi landasan pengetahuan keaktoran: Persiapan Menjadi Aktor karya Constantin Stanislavski.

-----

"You learn stand by standing, you learn walk by walking."

(Robert Wilson)

Tokoh-tokoh teater di Indonesia yang juga menulis buku serupa sebagai rujukan para aktor seperti Teknik Bermain Drama (W.S. Rendra), Menyentuh Teater (Nano Riantiarno) dll. juga mengacu pada buku klasik itu.

Demikian "populer" dan "pentingnya" buku tersebut sehingga insan teater di Indonesia hampir-hampir tidak mengetahui bahwa Stanislavski sebenarnya menulis buku lain yang tidak kalah hebat dan penting dibaca sutradara dan aktor. Ada Building a Character yang diterbitkan Teater Garasi dalam judul Membangun Tokoh (April, 2008). Sebagaimana buku pertamanya yang merupakan catatan Stanislavski selama berproses sebagai aktor hingga menjadi direktur di sebuah akademi teater di Rusia, semua tema penting dan kompleks mengenai hal-ihwal dan pernik keaktoran dituturkan dalam gaya bahasa ringan, mengalir, tapi bernas penuh kejutan dan perenungan. Seakan-akan ia berbicara langsung pada pembaca.

Keunggulan Stanislavski mengurai teori, metode atau pengalaman keaktoran dibanding dengan para "resi" teater dunia lain seperti Bolelavsky, Grotowsky, Artaud, Peter Brook, adalah kemampuannya membicarakan hal-hal paling teknis sekalipun dengan cara menggugah dan inspiratif. Melalui tulisannya, aspek paling subtil, pelik, dan abstrak dalam seni peran mampu diungkap sebagai realitas yang intim bagi setiap orang.

Ia tidak semata-mata membeberkan data kering dan formal sebagaimana diktat-diktat perkuliahan. Karyanya mampu menyalakan imajinasi pembaca (khususnya aktor) seakan kita menghadapi sebuah rangkaian gambar hidup yang mengundang kita menyentuh dan mengenalnya lebih jauh, lengkap dengan detailnya.

Misalnya perihal "menubuhkan tokoh". Dalam setiap proses pemeranan, sudah lumrah setiap sutradara atau aktor akan menghadapi persoalan, bagaimana memberi bentuk fisik peran/karakter yang dimainkan sehingga citraan-citraan lahir maupun batin peran bisa sampai.

Bahkan, tidak jarang ada semacam keraguan di kalangan mereka untuk menentukan apakah aspek-aspek batin peran terlebih dahulu yang harus diserap aktor kemudian diberi bentuk fisik; ataukah citraan-citraan fisikal lebih dahulu yang dikejar aktor barulah "jiwa" peran diberikan?

Mengenai masalah ini, Stanislavski menuliskan: "sangat sering khususnya di kalangan aktor berbakat, perwujudan fisik tokoh yang akan diciptakan muncul dengan sendirinya begitu nilai-nilai batin tokoh itu ditetapkan dengan mantap." Lalu, ada pertanyaan: Jika kita kurang beruntung dan tidak mengalami semacam kebetulan tiba-tiba seperti itu, apa yang harus dilakukan aktor?

Mengenai hal ini, Stanislavski menceritakan pengalamannya saat menjadi aktor di bawah bimbingan Torstov. Ia menjelaskan bagaimana Pak Torstov menjawab pertanyaan di atas: "Saya kenal perempuan cantik yang mulutnya disengat lebah. Bibirnya bengkak dan seluruh bentuk mulutnya jadi tidak keruan. Ini tidak hanya mengubah penampilannya sehingga orang tidak mengenalinya, tapi juga mengubah ucapan dia waktu berbicara. Saya kebetulan bertemu dia, omong-omong dengannya beberapa menit, barulah saya sadar dia salah seorang teman dekat saya."

Sambil menggambarkan pengalaman-pengalaman pribadi ini, tulis Stanislavski, Pak Torstov menyipitkan sebelah matanya hampir tanpa kentara, seakan baru terserang timbil. Sedangkan sebelah matanya yang lain dibukanya lebar-lebar dengan alis ditarik ke atas. Semua ini dia lakukan begitu rupa sehingga nyaris luput dari perhatian orang yang berada sangat dekat dengannya sekalipun.

Walau begitu, perubahan yang sangat kecil ini menimbulkan akibat yang aneh. Tentu saja ia tetap Pak Torstov, tapi Pak Torstov yang berbeda, yang mengesankan seperti orang yang tidak dapat dipercaya, licik, tidak sopan. Baru ketika ia berhenti bersandiwara dengan matanya, ia kembali menjadi Pak Torstov yang menyenangkan seperti yang kami kenal.

Melalui gambaran di atas, Stanislavski hendak menegaskan menjadi atau menghayati sebuah peran/karakter tidak berarti seorang aktor harus mengubah kepribadian dan batinnya menjadi sama sekali berbeda. Seorang aktor tidak perlu berhenti menjadi diri sendiri hanya untuk memainkan sebuah peran. Apa yang harus dilakukan hanyalah memberi citraan fisik dan batin si peran melalui perencanaan, latihan, dan terus membiasakannya secara sadar.

***

Kekeliruan selama ini sering terjadi di kalangan aktor. Ada prasangka, untuk memainkan sebuah peran/tokoh/karakter, seorang aktor harus menjelma menjadi tokoh yang dimainkan secara harfiah baik lahir maupun batin. Ini adalah kesalahpahaman yang sangat celaka apabila terus dibiarkan.

Aktor tiba-tiba menjadi "orang lain" di luar panggung. Atau sebaliknya si aktor merasa keberatan secara mental terhadap karakter yang harus dimainkannya dan melakukan penolakan-penolakan dari dalam dirinya seraya terus memerankan peran tersebut. Hasilnya adalah kepanikan!

Pada bab lain yang mengurai "pengekangan dan pengendalian", Stanislavski mengatakan untuk menghasilkan sebuah permainan yang menggetarkan dan memukau penonton di atas pentas, setiap aktor harus memiliki kemampuan mengekang dan mengendalikan seluruh perangkat ekspresi dan akting. Ibarat seorang yang menggambar di atas kertas, untuk mendapatkan gambar yang jelas setiap seginya harus dipastikan kertas yang menjadi bidang tempat gambar itu ditempatkan benar-benar dibersihkan dari setiap titik atau garis yang tidak perlu.

Demikian pula permainan aktor. Untuk mendapatkan citraan permainan yang jelas, bersih, dan terpahami, aktor harus membuang semua hal yang tidak dibutuhkannya di atas pentas. Bahkan, biarpun itu sekadar gerakan jari-jari atau lirikan mata atau gestikulasi (gerak tubuh) lain. Semua ini berkaitan dengan kemampuan pengendalian dan pengekangan.

"Makin aktor melaksanakan pengekangan dan pengendalian diri dalam proses penciptaan ini, makin jernih bentuk dan gambaran perannya serta makin kuat pengaruhnya terhadap penonton." Semua itu mensyaratkan seorang aktor harus memulai seninya dengan bersabar dan cermat terhadap hal-hal yang paling kecil sekalipun.

Stanislavski memberi ilustrasi: "Suatu hari, ketika pelukis terkenal Bryulov sedang mengritik salah satu karya seorang muridnya, ia mengambil kuas untuk memberikan satu sentuhan saja di atas lukisan yang belum selesai. Lalu gambar dalam lukisan itu seketika menjadi hidup. Si murid terkejut menyaksikan keajaiban ini. Tentang hal ini, Bryulov menjelaskan seni berawal dengan sentuhan-sentuhan paling kecil."

Demikian tangkas dan cermat Stanislavski menguraikan setiap segi dari seni peran yang sekadar membacanya saja pun, kita bisa merasakan seolah-olah ingin segera menjelma menjadi aktor. Pengalaman-pengalaman yang sederhana dan intim, ilustrasi yang jernih, dan abstraksi-abstraksi yang mengundang gairah sekaligus permenungan, semua ini menjadikan buku Membangun Tokoh seperti "obat-kuat" yang bisa membuat aktor tua sekalipun ingin muda lagi.

Tapi, masih berminatkah para aktor kita hari ini membaca hal-hal seperti ini? Di saat proses berteater (menjadi aktor) telah sedemikian instan dan bahkan oleh sebagian orang dilakukan dengan cara yang amat konyol; menjadi aktor ok! Mempelajari ilmunya, no!

***

Keberhasilan seorang aktor di atas pentas maupun dalam hidupnya sebagai seniman tidak pernah bisa terlepas dari tiga hal pokok: kehidupan intelektual, kehidupan rohani, dan perkembangan keterampilan/skill. Salah satu saja dari ketiga faktor itu terhenti dalam proses keaktorannya, maka sebenarnya ia telah "tamat" sebagai aktor (seniman). Yang tersisa kemudian hanyalah seseorang dengan mimpinya sebagai aktor!

Banyak aktor yang ingin segera mewujudkan obsesinya di atas pentas seperti seseorang yang melihat gunung dan langsung hendak memeluknya. Mereka lupa, pengalaman-pengalaman besar dan hebat tersusun dari sejumlah episode dan momen yang terpisah-pisah.

Itu semua harus diketahui, dipelajari, diserap, dan dipenuhkan. Jika aktor tidak melakukannya, dia akan jatuh menjadi korban stereotip dan gampang menjadi besar kepala atau sebaliknya langsung terjun bebas ke jurang frustrasi.

Buku ini, setidaknya dapat mengungkit kembali gairah dan kecintaan terhadap profesi, tanggung jawab, dan peran seorang aktor; bukan saja bagi dirinya dan pertunjukannya, melainkan bagi masyarakatnya. Dengan menjadi aktor yang terlatih, seseorang setidaknya bisa mempersembahkan sebuah karya seni yang dapat menggugah masyarakatnya terhadap banyak hal.

* Iswadi Pratama, Sutradara di Teater Satu

Sumber: Lampung Post, Minggu, 4 Januari 2009

[Kronika] Lampung Bentuk Federasi Teater Indonesia

BANDAR LAMPUNG--Bulan ini, Lampung akan membentuk Federasi Teater Indonesia (FTI). Pimpinan Teater Satu Iswadi Pratama dipercaya sebagai penanggung jawab pembentukan FTI Lampung.

Iswadi ditunjuk sebagai penanggung jawab berdasar pada pertemuan FTI III di Graha Bhakti Budaya, Jakarta, yang berlangsung 27--28 Desember lalu. "Saya targetkan, Januari ini FTI Lampung sudah terbentuk. Tahap pertama, saya akan mengundang kawan-kawan seniman dan pihak-pihak yang peduli pada teater untuk membicarakan masalah ini," kata Iswadi di Bandar Lampung, Selasa (30-12).

FTI bukan wadah eksklusif seniman teater. "Siapa saja yang peduli dengan tetaer bisa bergabung. Karena bergerak di bidang advokasi, FTI tentu sangat membutuhkan dukungan kawan-kawan dari berbagai latar belakang untuk membesarkan wadah ini," ujar sastrawan yang baru menerbitkan antologi puisi Gema Secuil Batu ini.

FTI III yang berlangsung dua hari itu diisi diskusi yang membahas perkembangan teater modern di Tanah Air. Pembicaranya antara lain Mudji Sutrisno, Slamet Rahardjo, dan Fazrul Rahman.

Selain itu, berlangsung juga penganugerahan FTI III kepada Nano Riantiarno. Sebelumnya, W.S. Rendra menerima anugerah FTI I, kemudian FTI II diberikan pada Putu Wijaya. n MAT/P-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 4 Januari 2009