February 17, 2013

[Fokus] Mengawetkan Manisnya Durian

DURIAN punya aroma khas yang kuat dan rasa yang membuat penikmatnya begitu ketagihan. Namun, bukan hanya durian saja yang diburu, makanan olahan dari king of fruits ini pun banyak dicari.

Datanglah ke toko oleh-oleh khas Lampung di kawasan Telukbetung atau beberapa tempat di Bandar Lampung. Di sana Anda bisa menemukan makanan olahan berbahan durian yang banyak dicari dan dijadikan oleh-oleh dari Lampung.


Di Toko Yen-Yen bisa ditemukan lempok (lempuk), sejenis dodol dari bahan durian, dan kopi durian. Dari dua jenis makanan olehan itu, lempok-lah yang paling diminati. ?Bukan hanya untuk oleh-oleh ke luar Lampung. Beberapa orang yang mau datang ke Lampung, justru membeli lempok juga,? kata Ujang, pegawai Toko Yen-Yen.

Harga lempok per bungkus Rp18 ribu, sedangkan kopi durian Rp13.500. Dalam sehari, kata Ujang, ada seratus lempok yang terjual. Sedangkan, untuk kopi durian laku terjual 30-an bungkus dalam sehari.

Rasa lempok, sedikit kenyal dan sangat terasa aroma durian. Saat digigit dan dikunyah, rasa durian dan aromanya menyatu dalam mulut. Sedangkan kopi durian, yang sudah diolah menjadi kopi saset hanya terasa aromanya saja. Saat diminum, rasa durian tidak terlalu dominan, hanya tersisa sedikit saja di lidah.

Ujang mengaku durian yang dipakai untuk bahan baku lempok memakai durian lokal, bukan impor. Durian medan dipilih karena ukuran yang besar dan buah yang tebal. ?Kami mendatangkan langsung durian dari Medan karena pasokannya banyak. Supaya rasa durian kuat, satu lempok dibuat dari satu durian,? kata dia.

Sebelum memakai durian medan, lempok Yen Yen pernah memakai durian asal Palembang. Namun, setelah diolah dan dipasarkan, peminatnya kurang. ?Lempok dari durian medan yang paling laris dan ditunggu pembeli,? kata dia.

Makanan olahan durian yang lain adalah tempoyak. Bagi yang suka, tempoyak bisa menjadi campuran sambal atau dimakan sebagai pendamping lauk. Masyarkat Lampung kerap memakai tempoyak untuk menambah kelezatan seriut, makanan khas Lampung berbahan ikan.

Fahrul, penjual durian sekaligus tempoyak ini, mengaku bisa menjual hingga 30 kg tempoyak. Pria asal Prabumulih, Sumatera Selatan, ini menjual tempoyak di Jalan Ki Maja, Way Halim. Durian yang dipakai untuk membuat tempoyak adalah durian sekitar Sumatera Selatan, seperti Lahat dan Tebing Tinggi.

Menurutnya, durian yang dipakai untuk membuat tempoyak bukan dari sisa-sisa, melainkan durian yang masih bagus dan rasanya manis. Durian yang bentuknya tidak terlalu menarik sehingga tidak dipilih pembeli, padahal rasa dan teksturnya buahnya masih bagus. ?Tempoyak yang kami buat selalu laris diburu pembeli. Mereka tahu kualitas durian yang dipakai sebagai bahan baku tempoyak masih bagus,? kata dia.

Fahrul dan rekan-rekannya yang menjual durian membuat sendiri tempoyak di lokasi berjualan. Pembeli pun bisa memilih durian mana yang mau dipakai untuk bahan tempoyak. Cara membuat tempoyak termasuk sederhana, cukup memisahkan daging buah durian dengan bijinya, kemudian dimasukkan ke tempat penampungan dan diberi garam. Tunggu dalam beberapa hari sampai terjadi fermentasi.

Durian pun dipilih untuk menjadi bahan campuran martabak. Martabak durian bisa dicari di Jalan Teuku Umar dan Jalan Z.A. Pagaralam. Penjual martabak durian memilih durian impor, monthong. Seperti penjual Martabak Koga yang hanya memakai durian monthong. Lezatnya durian dicampur dengan rasa keju. Rasa keju yang meleleh menyatu bersama manisnya durian.

Penjual martabak Koga, Deki, mengaku memilih durian monthong dibandingkan dengan durian lokal karena faktor aroma dan daya tahan. Durian monthong aromanya tidak terlalu menyengat sehingga lebih disukai oleh pembeli. ?Ada pembeli yang kurang suka dengan aroma durian yang terlalu kuat,? kata Deky.

Durian monthong tidak cepat asam, berbeda dengan durian lokal yang cepat asam. ?Kalau misalnya martabak durian diinapkan semalam, maka yang berbahan durian monthong tidak asam. Kalau durian lokal langsung asam dan tidak enak lagi untuk dinikmati,? ujarnya.

Selain itu, durian monthong ukuran lebih besar dibandingkan durian lokal. Satu buah durian monthong bisa untuk membuat martabak hingga empat loyang. Kalau durian lokal, satu buah untuk satu loyang.

Pengelola Martabak Koga memilih untuk tidak menjual martabak durian jika pasokan monthong tidak ada. Mereka tidak mau memaksakan menjual martabak dengan bahan baku durian lokal.

Makanan lain berbahan durian yang tidak kalah diburu adalah sup buah. Seperti di di Jalan Ki Maja, Way Halim, banyak warung yang menyajikan sup buah. Dinamakan sup buah karena karena kuah kental yang berasal dari campuran susu dan durian. Manisnya susu dan durian menyatu dalam semangkuk sup buah.

Sup buah paling pas dinikmati ketika siang hari dan kondisi cuaca panas. Saat dikunyah, manisnya susu, dinginnya es, dan daging durian menjadi paduan yang pas dan nikmat.

Maniak durian lebih memilih durian lokal dibandingkan durian impor, monthong, dan yang lain. Aroma durian yang kuat, daging buah tebal dan tidak lengket, serta rasa manis yang tiada tandingannya, membuat para penikmatnya menjadi ketagihan.

Yatno, misalnya. Dia memilih durian lokal di Sumatera dibandingkan durian monthong impor. Rasa durian lokal lebih khas dan menyengat. ?Kalau durian monthong rasanya kurang manis, seperti roti tawar,? kata pria 39 tahun ini.

Fahrul pun lebih menikmati durian lokal. Bukan hanya soal harga yang lebih murah dibandingkan durian impor. Rasanya pun berbeda jauh antara lokal dan impor. ?Banyak durian lokal yang ukurannya lebih besar dibandingkan monthong. Bahkan harga lebih murah,? kata Fahrul.

Dia menilai rasa manis durian lokal lebih tahan lama. Saat dimakan manisnya menempel kuat di lidah meskipun durian sudah habis dikunyah. Berbeda dengan durian monthong yang manisnya cepat hilang. Jika makan durian lokal, manisnya baru hilang setelah minum air.  (PADLI RAMDAN/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 17 Februari 2013

No comments:

Post a Comment