October 15, 2009

Taman Nasional: Pembukaan Jalan di TNBBS Rusak Hutan

Kota Agung, Kompas - Sembilan jalan yang melintasi kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan atau TNBBS memicu meningkatnya perambahan, illegal logging, pencurian satwa, dan matinya lintasan satwa. Pengelola Balai Besar TNBBS akan mengevaluasi keberadaan jalan-jalan tersebut dan mengusulkan revisi evaluasi kesepakatan pembangunan jalan supaya menjadi jalan yang lebih memerhatikan aspek konservasi.

Kepala Bidang Teknis Konservasi Balai Besar TNBBS Afrizal, Rabu (14/10), mengatakan, di kawasan TNBBS terdapat sembilan ruas jalan, tiga di antaranya merupakan ruas jalan negara atau jalan nasional, sedangkan enam ruas lainnya merupakan ruas jalan kabupaten dan provinsi.

Tiga ruas jalan yang termasuk jalan nasional adalah Sanggi-Bengkunat sepanjang 11,5 kilometer, Pugung Tampak-Way Manula sepanjang 14 kilometer, dan Liwa-Krui sepanjang 10 kilometer. Dari tiga ruas jalan negara tersebut, hanya satu ruas yang masih terjaga baik, yaitu ruas Sanggi-Bengkunat.

Hutan di kanan dan kiri jalan masih terjaga baik dan alami. Hanya saja, keberadaan ruas tersebut mematikan perlintasan satwa. Sebelum 2006, di ruas Sanggi-Bengkunat terdapat 21 kubangan badak sumatera aktif atau sering dipakai badak untuk berkubang dan sembilan perlintasan gajah sumatera.

Akan tetapi, sejak ruas tersebut membaik kualitasnya pada tahun 2006, dalam tiga tahun terakhir petugas Balai Besar TNBBS tidak lagi menemukan kubangan badak yang aktif atau tidak ada lagi badak yang berkubang. Adapun dari sembilan titik perlintasan gajah, hanya tiga titik yang masih aktif dilintasi.

”Tidak aktifnya kubangan dan perlintasan itu karena semakin padatnya kendaraan yang lewat,” ujar Afrizal.

Untuk ruas jalan lainnya, petugas mendapati banyaknya tindakan perambahan dan illegal logging. Untuk illegal logging saat ini banyak terdapat di hutan lindung. ”Namun, kita tetap perlu waspada jangan sampai illegal logging itu merambah kawasan,” ujar Afrizal.

Catatan Balai Besar TNBBS menunjukkan, kawasan perambahan di TNBBS mencapai 57.000 hektar dari total luas 365.000 hektar. Pengelola TNBBS terus berupaya menekan angka perambahan tersebut.

Afrizal mengatakan, untuk menekan tingginya perambahan dan illegal logging, Balai Besar TNBBS sudah mengusulkan kepada Departemen Kehutanan untuk menambah jumlah polisi hutan. Saat ini dari luas hutan 365.000 hektar, hanya terdapat 62 polisi hutan.

Oleh karena itu, harus ada pembicaraan ulang dengan dinas pekerjaan umum mengenai jalan negara tersebut. Misalnya, perbaikan jalan harus disertai pemasangan rambu-rambu mengenai keberadaan satwa liar di tempat yang tepat.

Nurcholis Fadhli, Project Leader World Wild Fund for Nature Indonesia (WWF) mengatakan, untuk ruas Sanggi-Bengkunat, yang membelah kawasan TNBBS, dalam tiga tahun terakhir seolah memisahkan kawasan hutan di kanan dan kiri jalan sehingga satwa enggan melintas. (hln)

Sumber: Kompas, Kamis, 15 Oktober 2009

October 14, 2009

Gempa Sumbar: Seniman Lampung Galang Dana

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Seniman Lampung akan melakukan long march untuk menggalang dana bagi korban gempa Sumatera Barat, Rabu (14-10), pukul 14.00. Dalam aksinya, para seniman Lampung ini akan menyuguhkan berbagai atraksi kesenian.

"Aksi seniman itu akan diisi performance art sepanjang jalan yang dilalui. Selain itu akan melibatkan abang-abang becak," kata Ketua Pokja Solidaritas Seniman Lampung Helmi Azhari didampingi Wakil Ketua SyaifulIrba Tanpaka.

Dalam rilisnya kepada Lampung Post, Helmi mengatakan rute yang akan dilalui yakni Pasar Seni, Toko Buku Gramedia, Tugu Adipura, Patung Pepadun, dan finish di Kantor Gubernur Lampung.

Helmi mengatakan aksi performance art tersebut akan didukung sejumlah seniman di antaranya Sutanto, Joko Irianta, Dewi, Entus, Bambang Sby, Isbedy Stiawan Z.S., Nyoman Arsana, Iswadi Pratama, Iskandar G.B., Arman A.Z., Fitri Yani, Yus, Nano. Panitia juga akan melibatkan komunitas/sanggar seni, seperti Teater Satu, KoBer, UKMBS Unila, dan sanggar tari yang ada di Pasar Seni.

Dalam aksi solidaritas di jalan itu, para seniman akan meminta sumbangan kepada masyarakat. Hasil dari penggalangan tersebut akan dikirimkan kepada seniman Sumbar yang rumah atau galerinya rusak parah/ringan.

"Fokus kami memang untuk membantu para seniman di sana, terutama rumah dan galeri seni yang rusak," kata Helmi, kepala Taman Budaya Lampung.

Sementara itu, Sekretaris Pokja David mengatakan dari data yang diperoleh, sedikitnya 10 rumah dan galeri seni milik seniman Sumbar rusak parah atau ringan. "Target kami adalah membantu merehab. Siapa lagi yang peduli sesama seniman kalau bukan seniman itu," ujarnya.

David menambahkan puncak penggalangan dana akan dilakukan di rumah dinas Gubernur di Mahan Agung, 5 November mendatang. n */K-2

Sumber: Lampung Post, Rabu, 14 Oktober 2009

October 13, 2009

Bahasa Indonesia: Dosen Unila Diminta Mengajar di Prancis

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Bahasa dan sastra Indonesia ternyata telah menjadi salah satu mata kuliah bahasa asing yang diminati di Prancis. Padahal negeri mode ini memiliki kebangggaan atas keindahan bahasanya.

"Universitas Sup Agro Montpeller, yang merupakan salah satu universitas negeri di bawah Departemen Pertanian Prancis, meminta Unila untuk mengirimkan empat dosen Bahasa Indonesia untuk mengajar selama satu semester di sana," kata Pembantu Rektor IV Unila Satria Bangsawan, Senin (12-10).

Permintaan itu disampaikan melalui kedutaan besar bidang pendidikan Indonesia di Prancis.

"Tentunya ini merupakan suatu kebanggaan jika bahasa kita juga diminati di sana, dan kita akan mempersiapkan empat dosen dari Jurusan Bahasa Indonesia FKIP Unila untuk berangkat ke sana," kata Satria saat sosialisasi hasil lawatan tim kerja sama luar negeri Universitas Lampung ke beberapa universitas di Prancis. Sosialisasi digelar di Gedung Rektorat Unila.

Satria mengatakan mata kuliah Bahasa Indonesa telah lama ada di sana, dan mereka telah memiliki staf pengajar sendiri. Namun mereka juga berkeinginan untuk mendatangkan dosen bahasa dari Indonesia.

"Kebetulan sejak dua tahun yang lalu kita telah membangun link kerja sama dengan Montpeller, sebanyak 20 mahasiswa kita telah dibantu dengan pemberian beasiswa secara penuh untuk jurusan S-2 bidang manajemen sumber daya manusia dan perdesaan di fakultas pertanian," kata dia.

Kerja sama intensif di bidang pertanian telah di bangun oleh Unila, Montpeller, dan beberapa universitas di negara Asia lainnya seperti Malaysia dan Thailand melalui program Asia Link.

"Program ini bertujuan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan di bidang pertanian yang ada di negara masing. Tampaknya setiap negara kini memiliki persoalan yang sama, minat di bidang pertanian mengalami penurunan tren yang cukup tinggi dibandingkan bidang lainnya," kata Satria.

Tim kerja sama yang diutus Unila ke Perancis adalah Rektor Unila Sugeng P. Harianto, Pembantu Rektor IV Satria Bangsawan, dan penanggung jawab bidang kerja sama luar negeri Unila, Jamalam.

"Kita berada di sana selama sepekan, yakni sejak 26 Sptember hingga 3 Oktober. Saat ini Pak Jamalam sedang berada di Denmark untuk menjajaki kerja sama dengan University of Copenhagen Denmark," kata dia. n MG14/K-1

Sumber: Lampung Post, Selasa, 13 Oktober 2009

October 12, 2009

Ribuan Turis Asing Wisata ke Lambar

LIWA (Lampost): Jumlah kunjungan wisata asing di Lampung Barat selama tahun 2009 mencapai 1.081 orang. Angka tersebut khusus bagi turis asing yang datang dari berbagai negara.

Kabid Pariwisata di Dinas Perhubungan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Lampung Barat, Suryati, mendampingi Kepala Dinas Gatot Hudi Utomo, Minggu (11-10), mengatakan jumlah tersebut meningkat bila dibanding dengan tahun lalu.

"Saya tidak ingat angka pastinya. Namun yang jelas, jumlah tersebut meningkat. Bahkan, peningkatan selalu terjadi dalam setiap tahun.

Untuk peningkatan tahun ini terjadi karena ada promosi surfing, di mana para turis asing saling memberi informasi kepada sesama rekannya," kata dia.

Ke-1.081 turis asing tersebut, kata dia, berdasarkan laporan dari sejumlah pengelola hotel yang digunakan, antara lain berasal dari Australia, Amerika, Prancis, Portugal, Jerman, Afrika Selatan, Swedia, dan lain-lain.



Turis asing itu sengaja datang ke Lampung Barat untuk menikmati keindahan alam Lambar serta menikmati selancar di Pantai Karang Ngimbur, Pekon Tanjung Setia, Pesisir Selatan. Selain melakukan aktivitas surfing, turis juga menikmati keindahan pantai di daerah Pesisir Tengah.

Kedatangan turis asing itu umumnya menggunakan jasa travel yang datangnya secara berkelompok.

Menurut Suryati, dilihat dari data yang ada, jumlah kunjungan turis asing ke Indonesia setiap tahunnya terus meningkat. Umumnya, kunjungan turis asing mulai dari April hingga Agustus.

Sementara itu, untuk bulan September ke atas, jumlah kunjungan wisata itu mulai berkurang.

Pihaknya berharap angka kunjungan wisata tersebut ke depan terus meningkat sehingga upaya promosi Lambar menjadi tujuan wisata tidak sia-sia.

Peningkatan jumlah kunjungan wisata tersebut juga tidak lepas dari apa yang telah dilakukan selama ini. Untuk meningkatkan bidang pariwisata ini, kata dia, pihaknya terus melakukan berbagai upaya termasuk promosi dan lain-lain. n ELI/D-3

Sumber: Lampung Post, Senin, 12 Oktober 2009

October 10, 2009

Budaya Lampung Promosi ke Luar Negeri

Pemprov juga akan Bantu Penerbitan Buku Berbahasa Lampung

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Gubernur Lampung berjanji akan mendukung kesenian dan kebudayaan Lampung. Dukungan tersebut dilakukan dengan membantu penerbitan buku-buku berbahasa Lampung dan promosi budaya ke luar negeri dengan membantu pementasan budaya Lampung di luar negeri.

Buku Mak Dawah Mak Dibingi (BE Press, 2007) karya Udo Z. Karzi yang meraih Hadiah Rancage 2008. Perlu kerjasama semua pihak untuk kontinuitas penerbitan buku sastra Lampung untuk mendukung pengembangan kebudayaan Lampung. (BORNEO NEWS/WAETI)

"Pemeritah Provinsi Lampung akan mendukung penerbitan buku dan pementasan budaya Lampung selama itu dilakukan untuk tujuan membangun Lampung," kata Gubernur Lampung Sjachroedin Z. P. di acara Halal bi Halal di Graha Bayangkara, Bandung, Kamis (8-10) malam .

Sjachroedin juga mengimbau kepada para tokoh Lampung untuk tidak sekadar banyak bicara tapi juga harus banyak berbuat. Lampung masih miskin karena tokoh-tokohnya hanya banyak bicara tapi tidak ada yang bisa dibuktikan.

Gubernur juga mengimbau agar piil orang Lampung atau harga diri sebaiknya dibuang jauh jika tidak bisa berbuat untuk Lampung. Tokoh Lampung harus malu jika tidak bisa berbuat apa-apa.
Gubernur mengaku akan mendukung penerbitan buku-buku berbahasa Lampung. Mengenai dana untuk penerbitan buku tidak harus berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Lampung. "Dana bisa berasal dari sponsor."

Sjachroedin mengungkapkan, Pemprov Lampung sudah mengirimkan duta Lampung untuk melakukan pementasan budaya di Malaysia. Dukungan juga dilakukan dengan membantu pembelian alat-alat kesenian mahasiswa Lampung di Jogjakarta.

Buku Bahasa Lampung

Pemerhati budaya Lampung Irfan Anshory mengatakan sudah berkomunikasi dengan Gubernur Lampung dan Wakil Wali Kota Bandar Lampung tentang dukungan terhadap penerbitan buku-buku berbahasa Lampung.

Kedua pejabat tersebut sudah menyetujui akan membantu penerbitan buku berbahasa Lampung. Penerbitan buku tersebut diharapkan dapat membantu dalam mempromosikan dan mengembangkan budaya Lampung.

Irfan menyesalkan tidak ada satu pun sastrawan Lampung yang berhasil meraih penghargaan Rancage 2009. Padahal penghargaan sejanis pernah di dapat sastrawan Lampung, Udo Z. Karzi, pada tahun 2008. Lepasnya Rancage dari Lampung disebabkan tidak ada buku berbahasa Lampung yang terbit tahun 2008. "Malu kalau Lampung tidak masuk dalam seleksi Rancage 2010," katanya.

Saat ini, kata Irfan, sudah ada dua buku yang siap diterbitkan. Namun, penerbitan buku terkendala oleh dana. Diharapkan kedua buku ini bisa segera terbit dan dpat diikut sertakan dalam penghargaan Rancage. "Panitia Rancage sudah menghubungi saya. Mereka menayakan mengapa tidak ada buku berbahasa Lampunng yamg diikutsertakan," katanya.

Menurut dia, hanya Lampung yang belum mengirimkan buku-buku berbahasa Lampung untuk diikutsertakan dalam penghargaan rancage. Beberapa daerah sudah mengirimkan perwakilan untuk mengikuti seleksi penghargaan Rancage. "Pemenang Rancage 2010 akan diumumkan pada awal tahun," katanya. n MG2/K-1

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 10 Oktober 2009

Menggagas 'Landmark' Way Kanan

Oleh Febrie Hastiyanto*

KEBERADAAN penanda wilayah (landmark; tetenger (jawa)) bagi suatu kota akan menjadikan kota itu lebih mudah diingat publik. Lebih jauh, landmark menjadi cerminan sekaligus spirit kota yang dapat dibaca dalam retorika kebudayaan (lokal).

Beberapa kota--di Indonesia maupun dunia--secara relatif telah memiliki landmark yang dengan segera mengingatkan publik akan kota tersebut. Seperti Tugu Monumen Nasional (Monas) di Jakarta--di samping Tugu Selamat Datang atau Bundaran Hotel Indonesia (HI), Tugu Muda di Semarang, Tugu Pahlawan di Surabaya, Patung Singa lengkap dengan air mancurnya di Orchard Road Singapura, Menara Petronas di Kuala Lumpur, Patung Liberty di Amerika Serikat maupun kubah keong Sydney Opera di Sidney sebagai misal.

Beberapa landmark ini tidak selalu gigantis, seperti Patung Singa di Singapura, Tugu Muda di Semarang, maupun Tugu Pahlawan di Surabaya, bentuknya hanya kecil. Namun, siapa pun sepakat bahwa tanpa landmark yang sudah demikian branded ini, keberadaan Singapura lebih sulit untuk dikenang oleh persepsi publik tanpa mengingat Patung Singa yang kecil saja itu.

Way Kanan sebagai kabupaten yang sedang membangun retorika citra kota perlu berpikir untuk mendesain sebuah landmark sebagai penanda kotanya. Tak hanya Way Kanan, karena provinsi dan kabupaten/kota di Lampung sendiri belum banyak memiliki landmark. Sebelum membangun menara suar berbentuk siger di Bakauheni, Lampung belum memiliki landmark yang representatif. Tugu Gajah di bundaran Kota Bandar Lampung atau Patung Radin Inten II di Rajabasa sebelumnya memang dianggap sebagai landmark, tapi Menara Suar Siger di Bakauhenilah yang mampu merebut image publik sebagai penanda wilayah Lampung.

Masyarakat Way Kanan dapat mengeksplorasi, misalnya motif tenun tapis khas Way Kanan, bentuk rumah adat (nuwo sesat), atau perilaku bertani masyarakat. Namun landmark tidak melulu harus berbentuk klasik. Landmark pun dapat berbentuk kontemporer, dan hendaknya bersifat fungsional.

Landmark tidak harus berujud tugu atau benda-benda yang memang dirancang sebagai penanda semata. Justru landmark yang dipersepsi publik dari bangunan-bangunan yang memang memiliki kegunaan tertentu--semisal teater di Garuda Wisnu Kencana (GWK) Bali; gedung perkantoran seperti World Trade Centre (WTC) New York maupun Menara Petronas; gedung instansi pemerintahan sebagaimana White House di Washington D.C., Gedung MPR/DPR maupun Gedung Bundar Kejagung; atau sebagai monumen seperti Monas--akan memiliki manfaat yang langsung dapat dirasakan publik. Dalam konteks Way Kanan, landmark yang hendak dibangun lebih tepat memiliki fungsi sebagai ruang terpuka (open space) berbentuk teater terbuka (open theatre) bagi kegiatan-kegiatan kebudayaan.

Potensi Way Kanan

Sebuah landmark selain sebagai sebuah kesatuan-bangun juga harus mencerminkan spirit, potensi, atau lokalitas sebuah kota yang hendak diidealkan sebagai keunggulan komparatif sekaligus keunggulan kompetitif. Soal bentuk misalnya, masyarakat Way Kanan perlu berpikir bentuk selain gajah, ikon Lampung yang telah mendunia. Meski berada di wilayah Provinsi Lampung, secara relatif kawanan gajah (liar) tidak banyak membangun ekosistem di wilayah Way Kanan. Dalam catatan yang ada, gajah Lampung banyak hidup di wilayah Lampung Barat, atau Lampung Timur.

Saat ini setidaknya terdapat tiga landmark Way Kanan, yakni patung dan Taman Ryacudu di Blambangan Umpu, tugu berornamen gading di Simpang Empat, serta tugu berbentuk perahu dan taman di Baradatu. Secara relatif, Taman Ryacudu dapat disebut sebagai landmark yang representatif, dilihat dari luasnya, komposisi bentuk, termasuk prasasti yang menjelaskan sosok Ryacudu.

Sedang tugu berbentuk perahu di Baradatu masih perlu diberi beberapa pelengkap karena selain lokasinya yang lebih sempit, juga perlu diberi pengantar (semacam prasasti) sebagaimana Taman Ryacudu. Beberapa hal yang perlu dijelaskan kepada publik, misalnya, jenis perahu tersebut, apakah salah satu jenis perahu tradisional atau perahu estetik saja. Kemudian replika buah (kelapa sawit atau durian?) di dalam perahu, perlu diberi keterangan tambahan, mengapa komoditas itu yang di-display, bukan lada atau kopi.

Selama ini Way Kanan dikenal luas sebagai penghasil komoditas lada dan kopi. Dihitung dari jumlah produksi, komoditas kopi, misalnya, menyumbang 13.355 ton/tahun (waykanan.go.id: 2006), sedang kelapa sawit hanya menyumbang 8.266 ton/tahun. Kemudian patung laki-laki dan perempuan, sebaiknya digambarkan mengenakan pakaian khas Way Kanan, baik itu pakaian adat atau pakaian sehari-hari masyarakat. Bila dilihat sekilas, tokoh perempuan dalam patung seperti mengenakan kebaya, satu jenis tradisi sandang yang dikenal luas berasal dari Jawa. Bila kebaya ini dimaksudkan sebagai manifestasi akulturasi yang memang berlangsung baik di Way Kanan, kiranya penjelasan dari prasasti tugu dapat menjabarkannya.

Memang sebuah landmark bukan infrastuktur fisik yang dampaknya akan terasa langsung oleh rakyat, seperti jalan, fasilitas umum, dan fasilitas sosial. Namun, bila kita hitung dampak-ikutannya (multiflier effect), keberadaan landmark baru terasa kemudian. Di sektor ekonomi, landmark akan menjadi gula-gula ekonomi baru yang mengundang bangkitnya investasi termasuk investasi sektor ekonomi nonformal bila landmark itu sekaligus dijadikan kawasan kunjungan wisatawan.

Secara politik dan kultural, keberadaan landmark akan menyajikan citra (image) kota yang menegaskan keberadaan kota dalam pergaulan antarkota baik di wilayah regional, nasional, maupun global. Sehingga, pembangunan sebuah landmark yang dilakukan secara kritis dan tidak korup tentulah bukan sebuah proyek mercusuar semata.

* Febrie Hastiyanto, Putra Way Kanan, bekerja pada Bappeda Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 10 Oktober 2009

October 9, 2009

Gubernur Lampung Minta Mahasiswa Kenalkan Budaya Daerah

BANDUNG, (PRLM).- Gubernur Lampung Sjachroedin ZP meminta mahasiswa Lampung yang menuntut ilmu di provinsi lain untuk mengenalkan budaya daerahnya kepada masyarakat setempat.

"Seni budaya Lampung cukup banyak sehingga perlu dikenalkan kepada daerah lain," kata Sjachroedin usai silaturahmi dengan sejumlah mahasiswa dan masyarakat asal Lampung di Bandung, Jumat (9/10).

Ia menyebutkan, pengenalan seni budaya Lampung perlu dilakukan agar masyarakat dari daerah lain dapat mengetahui dan mengenalnya.

Menurut Sjachroedin , pengenalan seni budaya Lampung oleh mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di provinsi lain kepada masyarakat telah pula dilakukan di beberapa daerah seperti Jakarta dan Yogyakarta.

Pemprov Lampung, katanya , telah memberikan sumbangan peralatan seni budaya kepada mahasiswa Lampung yang tengah belajar di daerah lain. "Pengenalan seni budaya Lampung mendapatkan respons positif dari daerah lain," ujarnya.

Dia mencontohkan pagelaran seni budaya seperti tari Sigeuh Panuten (sembah) dan tari Bedana di Yogyakarta beberapa waktu lalu oleh mahasiswa Lampung mendapatkan respons cukup baik dari masyarakat dan pemerintah daerah disana. Pagelaran itu katanya dihadiri Wakil Gubernur Yogyakarta Sri Paku Alam IX.

Pengenalan seni budaya Lampung, menurut Gubernur Lampung, akan terus dilakukan. "Tidak hanya di dalam negeri di luar negeri pun seni budaya Lampung digelar," kata dia pula.

Sjachroedin menjelaskan, anjungan Lampung di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) telah beberapa kali menggelar pementasan seni budaya daerah itu. Di luar negeri, pementasan seni budaya Lampung juga pernah digelar seperti di Malaysia beberapa waktu lalu.

Sementara itu, pada acara silaturahmi Gubernur Lampung dengan mahasiswa dan masyarakat Lampung di Bandung Jawa Barat berlangsung di Graha Bhayangkara.

Rombongan Gubernur Lampung yang hadir pada acara itu diantaranya Sekda Lampung Irham Djafar Lan Putra, Kadis Kominfo Sututo, Kepala BKD Helmi Arsyad, Kabiro Umum Untung, Wakil Walikota Bandarlampung Kherlani dan sejumlah pejabat Pemprov Lampung lainnya.

Pada Jumat (9/10) sekitar pukul 13.00 WIB, Gubernur Lampung beserta rombongan kembali mengelar silaturahmi dengan sejumlah purnawirawan Polri dan mantan Kapolda Jabar di Graha Bhayangkara. (A-120)

Sumber: Pikiran Rakyat, Jumat, 9 Oktober 2009

October 4, 2009

Tradisi Lebaran: Menjalin Silaturahmi dengan 'Sekura'

AWALNYA topeng sekura digunakan untuk perang saudara di Suku Tumi. Tetapi pada pertengahan abad ke-19, topeng sekura berubah fungsi menjadi sarana silaturahmi bagi warga Lampung Barat.

Raja Semilau Dalom Umardani, warga Pekon Canggu, Kecamatan Batu Brak, Lampung Barat, mengatakan munculnya budaya sekura (pesta topeng) berawal dari niat lima orang pengembara yang berasal dari Kerajaan Pagaruyung untuk menguasai dan menyebarkan ajaran Islam di Suku Tumi yang berada di daerah Sekala Brak waktu itu.



FOTO-FOTO LAMPUNG POST/ANSORI

Topeng sekura digunakan sebagai sarana penyebaran agama Islam dengan menyusup ke Suku Tumi. Sebagian Suku Tumi menerima ajaran Islam, sedangkan sebagian lagi tidak sepaham dengan ajaran yang dibawa lima orang Pagaruyung itu. Suku Tumi terpecah belah dan terjadi peperangan antara Suku Tumi. Pada waktu itulah sekura atau yang biasa disebut topeng kayu muncul.

"Sekura digunakan oleh Suku Tumi untuk menutupi wajah mereka agar tidak diketahui oleh suku yang lain pada saat peperangan terjadi. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan rasa kasihan dikarenakan akan berperang dengan saudara sendiri," ujar Umar.

Seiring bergulirnya waktu, pada pertengahan abad 19, sekura berubah fungsi sebagai topeng perang antarsaudara, menjadi sarana silaturahmi. Silaturahmi dilaksanakan warga setiap tahun. Lokasi perayaan sekura berpindah-pindah sesuai kesepakatan antarwarga pekon. Saat ini acara sekura atau yang disering disebut sekuraan selalu dilakukan masyarakat Lampung Barat menjadi rangkaian perayaan Hari Raya, baik Idulfitri maupun Iduladha.

Pada awal kemerdekaan sekitar tahun 1945--1946, sekura kamak yang dahulunya menggunakan perlengkapan serbakayu, mulai dari baju, celana, hingga topeng, berubah menjadi sekura betik (sekura bersih). Sekura betik masih memiliki arti yang sama dengan sekura kamak. Yang membedakan hanyalah bahan dasar pakaian yang dikenakan. Sekura kamak telah menggunakan pakaian dengan bahan dasar dari kain.

Menurut Umar, saat ini generasi muda terkesan mulai melupakan dan menganggap budaya ini sebagai hal yang kampungan.

"Saya berharap para pemuda dapat menjaga dan melestarikan budaya. Indonesia sangat dikenal karena kekayaan akan budayanya. Untuk itu, kita harus bangga dengan budaya yang kita miliki," kata Umar. n ANSORI/M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 4 Oktober 2009

[Perjalanan] Klara, Pantai Berpayung Pohon Kelapa

WISATA air, selalu masuk dalam daftar dominan agenda libur Lebaran banyak keluarga, termasuk keluargaku. Bukan hanya sekadar kebersamaan dalam sukacita, melainkan juga menikmati kebesaran Allah swt. yang terpeta jelas pada eksotis alam Lampung menjadi tujuan utama.

Untuk tahun ini, pantai kelapa rapat atau ulun Lampung (orang Lampung, baik yang bersuku Lampung ataupun yang menetap di Lampung, red) menyebutnya Pantai Klara (singkatan dari Klapa Rapat), menjadi pilihan kami. Singkatan itu memang pas untuk menggambarkan lokasi yang berupa pantai dengan jajaran pohon kelapa menjulang tinggi sebagai peneduh pantai.

Masuknya pantai yang terletak di Kecamatan Padang Cermin, Pesawaran, ini ke dalam list kunjungan wisata kami bukan tanpa alasan. Letak Pantai Klara tidak jauh dari pusat kota. Ini menjadi alasan yang sangat utama mengingat pada hari itu juga, salah satu anggota keluarga kami dan keluarganya, harus pulang ke tempatnya berdomisili di Pagar Alam, Sumatera Selatan. Sehingga seluruh keluarga sepakat untuk berwisata tidak jauh dari rumahku yang terletak di Tanjungkarang Pusat.

Berangkat sekitar pukul 09.00, rombongan dibagi dalam dua mobil. Entah siapa yang membagi kelompok, tanpa dikomandoi satu mobil berisi para orang tua. Sementara mobil lain diisi anak-anak. Tentu saja sebagai cucu tertua (meskipun kini saya bukan anak-anak lagi, lo), saya harus rela duduk di mobil kedua dan bertugas menjaga adik-adik.

Meskipun pergi ke pantai bukanlah hal baru, setiap kali pergi ke salah satu jenis wisata air itu pasti terasa spesial. Menyusuri jalan yang sering kami lewati itu diliputi gembira tiada tara. Dengan keringat mengucur cukup deras akibat keadaan mobil yang seperti angkutan Lebaran, penuh sesak. Ditambah panas sinar matahari yang melesap masuk ke dalam mobil tak ber-AC itu. Tapi kami tetap gembira. Pepatah bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian memang harus selalu dipegang teguh.

Memasuki Jalan Laksamana R.E. Martadinata, aroma pantai mulai terasa. Berbelok ke arah kiri, mobil para orang tua singgah ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lempasing. Di TPI yang terletak di Kelurahan Sukamaju, Telukbetung Barat, orang tuaku ingin menambah perbekalan kami. Menu ikan bakar tentu sangat menarik, ehmm yummy. Ikan kembung menjadi pilihan kami. Selain mudah dalam pengolahannya, ikan ini juga memiliki harga yang relatif murah.

Ternyata TPI Lempasing juga menyediakan jasa bakar ikan. Per kilogram mereka mematok harga Rp6.000. Wah, semakin mudah saja ya sekarang untuk mendapatkan ikan bakar yang lezat.

Tetapi berhubung ibuku sudah menyiapkan arang dan alat pemanggang. Serta telah terdapat ahli panggang, yakni Pak Su, paman dari Pagaralam. Maka urusan bakar membakar ikan kami anggap selesai.

Perjalanan menuju Pantai Klara kembali dilanjutkan. Kembali bersemangat, keindahan pantai telah menari-nari di ujung mata. Tapi ehm, kami harus kembali bersabar. Sabar, karena jalan menjadi macet. Arus lalu lintas sedikit tersendat akibat banyaknya masyarakat yang juga ingin menikmati eksotis pantai Lampung.

Sebenarnya lokasi pantai yang tidak terlalu ramai menjadi alasan kedua kami memilih Pantai Klara. Tapi keadaan itu mematahkan pernyataan itu. Macet tidak hanya di depan Pantai Mutun yang juga searah dengan pantai yang kami tuju.

Lautan manusia juga berkelimun di Pantai Klara. Kami kebingungan untuk memarkirkan mobil. Ternyata pantai itu telah banyak penggemarnya. Idulfitri memang sangat dahsyat, momen hari besar umat Islam itu bisa mengubah berbagai keadaan. Dari sepi menjadi ramai, dari sedih menjadi gembira, dan dari miskin menjadi kaya (sebab semua orang merasakan nikmatnya daging sapi ataupun ayam pada momen itu). Setidaknya itu menurut saya.

Oia, alasan lain kami menempatkan Klara menjadi tujuan wisata harga tiket masuk yang tidak mahal. Tanpa perlu merogoh kantung lebih dalam. Seluruh keluarga besar bisa menikmati keindahan pantai, dan menghirup udara bersih. Selain juga dapat melepas kepenatan, dan sedikit bersantai setelah selama beberapa hari berkeliling ke rumah saudara. Satu mobil yang diisi berapa pun manusia dipatok Rp20 ribu.

Sementara bagi adik-adik kecilku, pantai ini menjadi tempat mengeksplorasi diri. Mereka bebas bermain air laut, dan bermain pasir sesuka hati. Pantai yang landai dengan air laut yang tenang dan bersih sangat mendukung hobi mereka berenang.

Pantai ini memang sangat cocok untuk liburan keluarga. Panorama alam yang sangat menakjubkan pasir putih yang mendominasi pantai. Laut yang tenang dengan warna birunya. Diperkokoh dengan hamparan gunung sebagai backgroud-nya. Kombinasi kecantikan alam yang selaras.

Seperti diutarakan seorang pengunjung, Kusuma, yang mengatakan bahwa Pantai Klara merupakan pantai favoritnya. "Klara tempatnya sejuk, banyak pohon kelapanya dan gak rame orang," kata warga Kedaton, Bandar Lampung.

Wah tidak terasa, matahari semakin condong ke arah barat. Bekal telah porak poranda, dan seluruh adikku telah selesai bermain air. Meskipun saya tahu mereka tentu belum puas menikmati kebebasannya di pantai itu.

Wah, jalanan macet kembali kami temui saat perjalanan pulang. Polisi dan petugas dari Dinas Perhubungan semakin sibuk dengan tugasnya. Mengatur arus lalu lintas dan pemakai jalan yang seenaknya menjadi tugas berat hari itu..

Petugas Kepolisian yang merupakan gabungan dari Polsek Telukbetung Barat dan Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Bandar Lampung mengalihkan arus lalu lintas. Kendaraan dialihkan menuju jalan Batu Putu yang tembus ke Jalan Pangeran Emir M. Noer.

Meski berat, leisure dengan keluarga di hari Lebaran cukup membuat suasana batin segar kembali. Kini, masa libur Lebaran usai. Aktivitas rutin harian mencengkeram kembali. Klara, sampai jumpa kembali, ya. n VERA AGLISA/M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 4 Oktober 2009>

October 2, 2009

Peluncuran Buku: Muslim Paris dalam Cerita Rosita

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Menjadi seorang muslimah asal Indonesia di sebuah negeri asing yang sangat berbeda tradisi dan kulturnya adalah perjuangan, bagaimana menjaga diri dan keimanan agar tidak terbawa arus yang kadang-kadang menyesatkan.

Rosita Sihombing, penulis buku Paris Lumire de L'Amor, Catatan Cinta dari Negeri Eiffel, mengatakan hal ini sesaat sebelum acara Bincang Asyik Paris dan Islam yang diadakan Gramedia, Bandar Lampung, Rabu (30-9).

Rosita berbicara banyak hal mengenai Paris dan kehidupannya sebagai seorang muslimah. "Bahkan saya pernah mengalami diskriminasi karena memakai jilbab. Pintu rumah saya digedor-gedor, menyuruh saya pergi dari apartemen saya," kata dia.

Menurut dia, kehidupan Barat yang sangat bertolak belakang dengan agama Islam yang ia anut malah membuat ia bertambah kadar keimanannya, "Saya pakai jilbab ini bahkan saat saya di Paris. Sewaktu saya masih di Indonesia, saya malah seperti Mbah Surip, gimbal," ujarnya sambil tertawa kecil.

Dalam talkshow yang dimoderatori Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung (DKL) Syaiful Irba Tanpaka ini juga sedikit membahas tentang buku terbaru dari penulis kelahiran Tanjungkarang tersebut, Paris Lumire de L'Amor, Catatan Cinta dari Negeri Eiffel (PLdA). "Buku ini adalah obsesi terbesar saya," kata dia.

"Dengan buku ini saya ingin mendobrak pandangan dan diskriminasi sosial yang kerap kali terjadi pada umat muslim di Prancis," kata dia.

Menurut Rosita, buku PLdA ini tadinya adalah tulisan-tulisan dari blognya di sikrit.multiplay.com. "Bisa dibilang ini diary saya," kata dia.

Buku yang diterbitkan Lingkar Pena Kreativita tersebut bercerita tentang keseharian Rosita, mulai dari sebagai ibu rumah tangga bersama suaminya, pria asal Prancis, Patrick Mon Luis, suasana di Paris. Juga sebagai seorang muslim.

Cerita-cerita ringan nonfiksi dalam PLdA ini bisa dibilang juga bermanfaat karena informatif bagi umat muslim yang ingin pergi ke Paris, seperti bagaimana cara memilih daging yang halal bagi umat muslim karena sebutan untuk olahan daging haram di Prancis banyak istilahnya. MG13/K-2

Sumber: Lampung Post, Jumat, 2 Oktober 2009