January 2, 2008

Wisata: Menikmati Indahnya Danau Ranau

-- Oyos Saroso H.N.*

10 DESEMBER 2007. Hari merambat malam. Gerimis rinai yang turun selepas magrib belum juga berhenti. Kami harus memutuskan untuk memilih tempat menginap. Kami harus menyimpan energi karena esok harinya masih harus mendatangi beberapa tempat di Lampung Barat untuk liputan.


“Saya tak mau lagi menginap di ‘hotel hantu’! Mumpung sudah sampai di Liwa, besok kita harus ke Danau Ranau,” ujar saya kepada beberapa rekan saya—semuanya jurnalis—begitu kami keluar dari rumah dinas Wakil Bupati Lampung Barat.

Malam itu, kami memang habis bertemu dengan Mukhlis Basri, Bupati Lampung Barat yang siang harinya baru saja dilantik oleh Gubernur Sjachroedin Z.P. Malam sebelumnya, ketika datang ke Liwa untuk menghadiri acara pelantikan bupati, kami menginap di sebuah hotel yang menurut saya lebih pas disebut losmen. Bangunannya tua. Pintu kamar mandi berlubang. Tempat tidurnya berdebu. Lantai warna putih yang sudah berubah kusam itu pun terasa kalau tidak disapu.

Kami terpaksa menginap di “hotel” itu karena dini hari baru sampai Liwa dengan kondisi lelah dan mengantuk. Saya sulit tidur karena selalu diganggu mimpi buruk. Makanya, saya sebut tempat penginapan itu sebagai “hotel hantu”. Saya tak bisa membayangkan jika ada wisatawan asing menginap di hotel itu.

Juwendra Asdiansyah, jurnalis koran Sindo menolak keras usulan saya agar esok hari berangkat ke Danau Ranau. Alasannya, selain dia pernah ke Danau Ranau, tempat wisata itu arahnya bertolak belakang dengan tujuan liputan yang kami rencanakan esok harinya. “Besok kita akan ke Pantai Krui dan melihat penangkaran penyu di daerah Biha. Kalau ke Ranau dulu kita akan kemalaman di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan,” kata Juwendra.

Untunglah tawaran ”cerdas” datang dari Basuki Rahmat, staf Humas Pemda Lampung Barat. ”Bagaimana kalau menginap di hotel dekat Danau Ranau. Besok jam 09.00 WIB sudah bisa berangkat ke Kru dan Biha,” ujarnya.

Saya berteriak dalam hati. Bukan saja karena malam itu akan terbebas dari mimpi buruk dan godaan hantu, tetapi lantaran akan bisa mewujudkan mimpi lama: menikmati indahnya Danau Ranau.Selama ini saya baru menikmati indahnya Danau Ranau dari cerita teman-teman dan beritaa yang saya baca di koran atau tayangan yang saya lihat di layar kaca.

Setelah pamitan dengan Basuki, malam itu kami bertujuh meluncur ke Pekon Lombok, Kecamatan Sukau. Kepala saya sudah terasa pusing. Hujan yang megguyur sebagain besar wilayah Lampung Barat membuat saya harus merapatkan jaket ke tubuh. Saya tak bisa menikmati perjalanan karena malam pekat. Yang pasti, mobil yang membawa kami melintasi jalan yang berkelak-kelok. Rasanya seperti menuku Puncak, Jawa Barat. Perjalanan sangat lancar karena jalan raya Liwa—Sukau kini diperlebar dan mulus.

Kurang dari satu jam kami sudah sampai di Hotel Seminung Lumbok Resort. Lampu hanya berpendar di sekitar areal hotel sehingga kami tidak bisa melihat indahnya Danau Ranau dan Gunung Seminung. Rasa penasaran saya simpan di hati.

”Besok kita harus jalan-jalan dan mandi di danau,” ujar Budisantoso Budiman, jurnalis kantor berita LKBN Antara.

Saya mengiyakan. Malam itu, saya bisa tidur nyenyak tanpa dihantui mimpi buruk.

Setelah salat subuh, saya dan Budi menikmati dingin kabut menuju tepi Danau Ranau. Kami menyusuri jalan menurun. Dari kejauhan tampak gugusan bukit berbalut kabut. Gugusan bukit nan biru itu seolah sabuk yang melingkari pinggang Danau Ranau.

Dua nelayan dengan perahu kecil tampak hilir mudik di danau. Beberapa burung terbang. Sesekali turun rendah dan menjejakkan kakinya ke air danau, lalu terbang lagi.

Sejauh mata memandang, yang tampak adalah bentangan warna biru dan sedikit saputan kabut putih. Saya jadi teringat Danau Rawapening di Ambarawa, Jawa Tengah. Tidak. Rawapening tak seindah Danau Ranau. Rawapening yang berbalut kisah legenda itu dipenuhi enceng gondok sehingga perahu sulit berjalan. Sementara Danau Ranau sangat bersih. Asri.

Di sebelah kanan gazebo di pinggiran danau tampak beberapa karamba ikan tawar. Ada dua karamba apung dan puluhan karamba tancap di sana. ”Sebagian sudah mulai berproduksi. Rumah mertua saya juga ada di sekitar situ,” kata Hendri Rosadi, jurnalis Lampung Post.

Jenis ikan yang kini banyak dibesarkan di dalam karamba adalah ikan emas dan nila. Ikan itu bisa dipanen jika sudah berusia 4 bulan. Namun,di luar karamba--maksudnya di seantero danau--ikan mujair menjadi "komunitas" terbanyak.

Sebenarnya rasa penasaran saya terhadap Danau Ranau tidak semata-mata karena keelokannya, tetapi juga karena cerita-cerita di baliknya. Beberapa teman dari Sumatera Selatan dan Lampung sering bercerita bahwa danau itu dipenuhi kisah legenda. Yang paling terkenal adalah Legenda Pohon Ara dan Si Pahit Lidah.

Konon sebagian besar masyarakat sekitar danau itu percaya danau ini berasal dari pohon ara. Pada zaman dulu di tengah-tengah Danau Ranau tumbuh pohon ara warna hitam yang sangat besar.

Pada suatu masa warag di daerah Ogan, Krui, Libahhaji, Muaradua, Komering kesulitan air. Mereka lalu berduyun-duyun mendatangi pohon ara itu sambil membawa aneka makanan. Mereka mendapatkan kabar akan bisa mendapatkan air jika menebang pohon ara itu. Namun, ketika akan menebang pohon ara mereka kebingunan karena tidak punya alat. Saat itulah datang seekor burung.

Burung yang bertengger di pucuk pohon ara itu bisa bicara. Burung itu mengatakan bahwa pohon tersebut bisa ditebang dengan alat yang bentuknya mirip kaki manusia. Warga pun membuat alat menggunakan batu bergagang kayu untuk memotong kayu ara raksasa itu. Pohon ara itu tumbang. Keanehan pun terjadi: dari lubang bekas pohon mengucur air dengan deras hingga menggenangi kawasan rendah itu. Akhirnya terbentuklah danau yang kini dikenal sebagai Danau Ranau.

Pohon ara yang tumbang dan melintang itu konon menjadi Gunung Seminung. Hal itu membuat jin yang tinggal di Gunung Pesagi marah . Jin itu pun meludah ke danau. Jadilah bekas ludahan jin air panas. Makanya, di sekitar Danau Ranau kini ada air panas yang juga menjadi obyek wisata pemandaian air panas. Wallahu ’alam.

Terlepas dari legenda itu, Danau Ranau, sabuk bebukitan yang mengelinginya, dan naungan Gunung Seminung sering berselimut kabut kini menyebar pesona bagi siapa saja yang mengunjunginya. Pengunjung bisa berlayar dengan perahu sewaan sambil menikmati indahnya alam.

Bila kawasan wisata itu benar-benar bisa berkembang, tentu akan mendatangkan kesejahteraan bagi warga sekitar. Persis seperti kisah berkah kayu ara raksasa yang ditumbangkan untuk mendapatkan air bagi kehidupan.

* Oyos Saroso HN., jurnalis The Jakarta Post

Sumber: Taman Sastra dan Jurnalisme, Senin, 31 Desember 2007

December 31, 2007

Para Penyumbang Tulisan

Berikut adalah para penulis (yang menggunakan by line) yang tulisannya ter-cover oleh ulun lampung hingga 31 Desember 2007.


Aan Kridolaksono, wartawan Lampung Post

Abdul Wahab, Peneliti Bahasa

Achmad Faizal, Reporter Indosiar

A. Ichlas Syukurie, Editor pada Penerbit Matakata

Agus Utomo, Mahasiswa Sosiologi FISIP Unila, Anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Lampung

Ahmadun Yosi Herfanda, Penyair, Wartawan Republika

Andreas Harsono, Wartawan, Ketua Yayasan Pantau

Anton Kurniawan, Pencinta sastra. Bergiat di Sanggar Komunitas Akasia SMA Negeri 1 Abung Semuli, Lampung Utara

Asaroeddin Malik Zulqornain, Sastrawan

Asarpin, Bergiat di Sastra 147 Lebakbudi, Lampung

A.S. Wibowo, .....

B Josie Susilo Hardianto, Wartawan Kompas

Budi Hutasuhut, Wartawan Lampung Post

Budisantoso Budiman, Wartawan LKBN Antara

Dian Anggraini, Staf Pembinaan Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Endri Y., Ketua Seni Budaya PW Pemuda Muhammadiyah Provinsi Lampung

Eri Anugerah, Wartawan Media Indonesia

Erwan Suryanegara bin H Asnawi, perupa

Erwin Nizar T., Bupati Lampung Barat (sekarang mantan)

Esti Malasofia, Editor

Fachruddin, Peneliti Kebudayaan Independen, PNS pada UPTD BPKB Dinas Pendidikan Provinsi Lampung

Fina Sato, lahir di Subang 16 Februari 1984. Menulis cerpen, naskah drama, esai, sajak, dan membuat “drawing”. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UPI Bandung. Aktif di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI Bandung, MnemoniC-gank mnuliz-, Komunitas Selasar, Komunitas Babad Bumi, Komunitas Ruang Aksara, dan Komunitas Anak Malam Independen.

Firdaus Augustian, Peminat masalah kebudayaan

Frans Sartono, Wartawan Kompas

Haji Munawarah, Wartawan Teknokra

Helena F Nababan, Wartawan Kompas

Ilham Djamhari, Wartawan Media Indonesia

Irfan Anhory (Batin Kesuma Ningrat), Drs. H., Penyimbang Pekon Sukabanjar, Gunung Alip, Kabupaten Tanggamus, peminat masalah agama dan kebudayaan

Iskandar GB, aktor dan peneliti teater pada Komunitas Berkat Yakin, Bandar Lampung.

Iswadi Pratama, Penyair

Iwan Nurdaya-Djafar, Budayawan

Juwendra Asdiansyah, Editor, Jurnalis Seputar Indonesia

Maman S Mahayana, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok

Maria Hartiningsih, Wartawan Kompas

M Arief Mahya, KH, Ulama, tinggal di Bandar Lampung

Mohd Isneini, Dosen Jurusan Teknik Sipil Unila

Muhajir Utomo, Guru Besar Unila dan Ketua Umum DPP PATRI

Muhammad Ma'ruf, Wartawan Teknokra

Mukhammad Isnaeni, Staf Pembinaan Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Mustaan, Wartawan Lampung Post

Nanang Trenggono, Dosen FISIP Universitas Lampung

Ninuk Mardiana P, Wartawan Kompas

Rahmat Sudirman, Wartawan Lampung Post

Oyos Saroso H.N., Jurnalis The Jakarta Post, Alumnus Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta

Pulung Swandaru, Perupa

Sarip, Alumnus Fakultas Hukum Unila 2007

Siswoyo, Wartawan Teknokra

Sunardi, Guru SMA Negeri 9 Bandar Lampung, Alumnus FKIP Unila

Syafnijal Datuk Sinaro, wartawan Sinar Harapan

Teguh Prasetyo, Wartawan Lampung Post

Udo Z. Karzi, Sastrawan

Yulia Sapthiani, Wartawan Kompas

Zulkarnain Zubairi (lihat: Udo Z. Karzi)

December 30, 2007

Catatan Akhir Tahun: Puisi Membuat Lampung Lebih Berharga

-- Teguh Prasetyo

PROVINSI Lampung kerap disebut oleh para penyair di Indonesia sebagai negerinya para penyair. Sebab, di daerah ini, sejak era 80-an lahir banyak penyair yang sudah mendobrak pentas nasional dengan karyanya. Bahkan, di era 90an akhir dan tahun 2000-an awal, mulai bermunculan para penyair muda yang notebene perempuan dari Lampung.

Fenomena ini tentu saja sangat menarik untuk menjadi perhatian. "Geliat dunia sastra di Lampung sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1980-an. Saat itu eranya AM Zulkarnaen dan Isbedy Stiawan ZS. Kemudian disusul Iwan Nurdaya Djafar," kata Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung (DKL) Syaiful Irba Tanpaka.

Setelah itu, di era awal tahun 1990-an, kata Syaiful muncul berbagai nama yang berasal dari kampus seperti Iswadi Pratama, AJ Erwin, Panji Juperta Utama. "Kemudian masa mereka dilanjutkan dengan kemunculan Ari Pahala Hutabarat, Jimmy Maruli Alfian, Inggit Putria Marga. Lalu terdapat Lupita Lukman, Anton Kurniawan, Hendri Rosevelt, hingga yang terbaru adalah Fitri Yani."

Penyair Ari Pahala Hutabarat menilai penyair-penyair yang baru, bisa dikatakannya yang paling menonjol karyanya dibandingkan dengan para penyair muda Lampung lainnya yang saat ini mulai bermunculan adalah Lupita Lukman, Anton Kurniawan, dan Hendri Rosevelt. "Ketiganya merupakan penyair muda yang paling berbakat. Ini bisa dilihat dari kuantitas karyanya yang bisa dilihat di berbagai koran daerah dan nasional secara kontinyu. Sehingga menyebutnya sebagai trisula penyair muda."

Selain dari segi kuantitas karya yang banyak tersebar, menurut Ari, karya ketiga penyair muda ini bisa dikatakan sangat berkualitas. "Sebab memang dalam melakukan pemilihan penyair muda yang bisa dimasukan dalam trisula penyair muda, kami juga mempertimbangkan kualitas karya yang dihasilkan. Jadi tidak semata-mata kuantitasnya yang banyak menyebar di berbagai media," katanya.

Namun memang kemunculan penyair perempuan asal Lampung di pentas nasional tidaklah lepas dari seorang Inggit Putria Marga. Cerpenis, M.Arman AZ, mengemukakan bahwa Inggit merupakan pioner penyair perempuan di Lampung dikancah dunia sastra nasional. "Karena dengan Inggit akhirnya sekarang ini mulai bermunculan penyair-penyair perempuan Lampung yang karyanya dimuat di media nasional dan mampu berbicara di pentas bertaraf nasional hingga internasional."

Bahkan, penyair yang juga seorang jurnalis, Oyos Saroso mengatakan, Inggit bisa dikatakan sebagai penyair perempuan yang berkarakter kuat di Indonesia. "Pada akhir 90-an dan awal 2000-an, banyak pembuat puisi perempuan yang tidak kuat. Paling tercatat Dorothea, dan dia pun menurut saya mengembangkan puisi Sapardi. Dan, Inggit termasuk yang kuat."

Menurut dia, awal berkaryanya, Inggit melahirkan puisi-puisi yang pendek-pendek saja. "Namun akhirnya entah ikut trend atau tidak, akhirnya mulai menulis puisi panjang. Tapi kelebihan Inggit, dia sama sekali tidak kedodoran atau menjadikan puisinya menjadi seperti prosa yang saat ini banyak bermunculan di media massa. Makanya saya melihat bahwa Inggit sudah memiliki pola tersendiri yang sangat Inggit," ujarnya.

Bahkan, Oyos berani mengatakan bahwa untuk penyair seangkatan Inggit, dia adalah yang terbaik. "Inggit sudah memiliki pola ucap tersendiri, kuat, dan berdasarkan penilaian subyektifnya, saya sangat mudah untuk menikmati puisi karyanya. Menjadi pertanyaan bisakah dia memiliki nafas panjang setelah menikah dan menyelesaikan urusan dosmetiknya?"

Selain itu juga, Oyos mengatakan bahwa karya Inggit memang layak dibicarakan. Karena selain tipografi puisinya yang cantik, juga sebagai penyair perempuan, dia telah memberikan warna lain bagi peta perpuisian Indonesia, meski pada awalnya masih samar terhalang pendahulunya namun kemudian sudah menancap jelas. Malahan dikemukakan dia, Inggit termasuk penyair Indonesia yang masih memperhatikan semantik dan gramatika.

Kultur Kepenyairan Lampung

Syaiful Irba Tanpaka mengatakan, maraknya dunia kepenyairan di Lampung ini disebabkan kultur kepenyairan yang sangat bagus yang terbangun di Lampung. "Ini tidak lain dikarenakan adanya penyair yang ditokohkan, yakni Isbedy Stiawan ZS yang hingga saat ini masih terus melahirkan karyanya. Kondisi ini memberikan motivasi tersendiri bagi para penyair untuk bisa mengejarnya."

Kondisi ini sangat berbeda di era Syaiful. "Dulu ketika di masa saya, yang menjadi patron atu panutan adalah mereka penyair asal luar daerah. Kami waktu itu hanya berpatron para penyair luar yang karyanya dimuat di media massa nasional," kata Syaiful.

Bahkan, dia mengatakan bahwa keadaan tersebut bisa ditemui di Padang. "Di sana culture kepenyairannya sudah sangat berkembang dikarenakan memang banyak sekali terdapat penyair yang menjadi tokoh karena sudah banyak bermunculan di pentas nasional. Makanya, dimana ada tokoh yang sudah bertaraf nasional, bahkan internasional, bisa dipastikan akan tumbuh subur dunia kepenyairannya."

Hal itupun dibenarkan Inggit Putria Marga. Peraih penghargaan puisi terbaik Menteri Kebudayaan dan Pariwisata 2006 serta juara pertama Karya Cipta Puisi Peksiminas tahun 2004 dan juara kedua puisi Krakatau Award 2004 ini mengatakan bahwa proses kreatif dalam menulis puisi diawali sejak tahun 2000.

"Ketika itu saya mengikuti workshop penulisan puisi di UKMBS yang menghadirkan empat pembicara Iswadi Pratama, Isbedy Stiawan ZS, Ahmad Yulden Erwin, dan Ari Pahala Hutabarat. Di situlah saya mulai bersentuhan dengan puisi. Karya pertama saya langsung dimuat di Harian Umum Lampung Post."

Dia mengatakan, keempat penyair itulah yang kemudian menjadi salah satu 'semangat' untuk melahirkan karya-karya puisinya. Setelah itu, begitu banyak karya puisinya yang menghampar bebas di berbagai media massa, baik nasional maupun daerah seperti Kompas, Media Indoensia, Koran Tempo, Horizon, Republika, dan Pikiran Rakyat. Ditambah lagi dengan termuatnya puisi karyanya dalam berbagai buku antologi puisi seperti Living Together (TUK, Jakarta), Gerimis Dalam Lain Versi" (DKL), Konser Ujung Pulau (DKL), Gemilang Pesona Musim, Narasi dari Pesisir (DKL), Surat Putih 2 (Risalah Badai, Jakarta), dan 142 Penyair Menuju Bulan (Banjarmasin).

Pengalaman yang sama juga dialami oleh penyair Jimmy Maruli Alfian yang saat ini sedang sibuk menggarap buku kumpulan puisinya, Mata Maya. Dia mengatakan bahwa karya yang kali dipublikasikan di media massa darinya ternyata bukan karya puisi. "Saya kali pertama membuat tulisan yang diperuntukkan bagi publik adalah resensi buku Cerpen Sutarji Calzoum Bachri, "Hujan Menulis Ayat". Begitu juga dengan tulisan esai mengenai Chairil Anwar dan Bung Karno. Ketika itu saya mulai banyak diberi bimbingan oleh Isbedy Stiawan ZS."

Jimmy mengakui bahwa dirinya mulai bersentuhan dengan dunia seni ketika memasuki dunia kampus dan aktif dalam UKMBS Unila. "Saya mulai melakukan aktivitas berkesenian ketika kali pertama memasuki kampus kuliah. Karena ketika itu saya mulai aktif dalam kegiatan Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Unila. Bahkan, ketika itu saya kerap dibilang teman saya bahwa saya berkuliah di UKMBS. Tapi, ekstrakurikulernya saya di Fakultas Hukum Unila," kata Jimmy.

Namun ketika awal bersentuhan dengan dunia seni tersebut, Jimmy mengatakan kalau dirinya lebih awal bersentuhan dengan dunia teater. "Barulah kemudian setelah berinteraksi dengan banyak banyak teman-teman seperti Ari Pahala Hutabarat, Inggit Putria Marga, Muhammad Yunus, dan lainnya, saya mulai bersentuhan dengan dunia sastra," ujarnya.

Di samping itu, membangun culture kepenyairan juga bisa dilakukan dengan melakukan roadshow ke kampus dan sekolah-sekolah. Salah satunya yang dilakukan Syaiful Irba Tanpaka yang memperkenalkan buku terbarunya yang berjudul "Karena Bola Matamu" yang diterbitkan Bukupop Jakarta. Pada kegiatannya ini, Syaiful tidak hanya menghadirkan para pelajar yang membacakan puisi karyanya, tetapi juga menghadirkan para penyair Lampung lainnya untuk membedah puisi karyanya itu.

Roadshow-nya dilakukan di 15 sekolah, yakni diawali dari SMA di Bandar Lampung, antara lain SMA Taman Siswa, SMAN 11, SMAN 3, SMAN 10, dan SMA Perintis. Kemudian SMAN 1 Gadingrejo, Tanggamus, SMAN 1 Gunungsugih (Lampung Tengah), SMAN 1 Menggala (Tulangbawang), SMAN 2 Kalianda (Lampung Selatan), dan SMAN 3 Kotabumi, Lampung Utara. Lalu STKIP Muhammadiyah Kotabumi, Universitas Muhammadiyah Metro, Perguruan Tinggi Teknokrat, STMIK Darmajaya, dan IAIN Raden Intan, Bandar Lampung.

Kegiatan ini, menurut penyair Lampung Y. Wibowo memiliki arti penting karena sangat mencerdaskan dan bisa memberikan ruang yang lebih kepada pelajar untuk mengenal dunia kesusastraan terutama puisi.

Mungkin, apa yang dikatakan Goenawan Mohamad di bawah ini, bagi masyarakat awam hanyalah sebatas kalimat lalu saja. Namun ternyata bagi mereka yang menjadi penyair, bisa jadi kalimat ini bisa menjadi semacam motivator untuk terus berbuat dan berkarya dalam kerja-kerja kreatifnya guna melahirkan karya sebagai sebuah perwujudan eksistensi kepenyairannya. Boleh dikatakan, dengan puisi dan karya, penyair Lampung ingin menunjukkan kalau Lampung itu ada.

"Puisi merupakan tempat serta upaya untuk membuat sesuatu yang tampak sia-sia menjadi berharga," kata Goenawan.

Sumber: Lampung Post, Kamis, 27 Desember 2007

Teater di Bandar Lampung Mencari 'Iman' dan 'Imam'

Bandarlampung, 30/12 (ANTARA) - Dunia teater di Bandarlampung saat ini tidak mulus berkembang, diantaranya terkendala ketiadaan keyakinan diri dari pegiat teater terutama dari kelompok muda dan pemula.

"Mereka belum memiliki "iman", dan teladan atau "imam"," kata Ari Pahala Hutabarat, saat berbicara dalam Diskusi Kelompok Terfokus (FGD) yang digelar Komite Teater Dewan Kesenian Kota Bandarlampung (DKKBL) di Taman Budaya Lampung, Sabtu.

Kegiatan itu merupakan bagian dari "Apresiasi dan Refleksi Seni Budaya DKKBL 2007" yang berlangsung sejak Kamis (27/12).

Selain Ari Pahala Hutabarat, sejumlah pegiat teater di Bandarlampung, juga turut dalam diskusi itu, diantaranya Iswadi Pratama, Ivan Sumantri Bonang, dan D Pramudya Mukhtar.

Para seniman itu umumnya menyampaikan keprihatinan yang sama atas kondisi teater di Lampung yang belum menggembirakan.

Padahal potensi pemain teater dan pegiat teater di Provinsi Lampung lebih dari cukup. Namun umumnya hanya berkembang dan hidup setengah jalan, setelah itu luruh dan mati.

Ari Pahala menyebutkan, persoalan mendasar yang dihadapi para pegiat teater di Bandarlampung itu, antara lain ketiadaan keyakinan kuat untuk terus menunjukkan eksistensi.

"Kebanyakan pegiat teater itu, baru menghadapi kendala dan benturan masalah sedikit saja sudah enggan mengembangkan dirinya," ujar Ari.

Menurut Iswadi yang hingga kini terus berkarya teater, dunia teater di Bandarlampung dan Provinsi Lampung saat ini memerlukan figur yang intens dan konsisten dalam berkarya, dan tidak mengeluh meski dananya sedikit.

"Kerdil dan kekanak-kanakan kalau berdalih enggan lagi berteater karena menghadapi kendala serta benturan ekonomi," ujar dia.

Dunia teater Bandarlampung membutuhkan sosok sebagai "imam" atau pemimpin yang tidak mudah menyerah ketika diterpa masalah serta tidak "cengeng".

Namun, menutut Komite Teater DKKBL, M Yunus, permasalahan dunia teater
di Bandarlampung tetap harus dipetakan, agar kemudian bisa dicarikan jalan keluarnya.

"Potensi para pegiat teater yang ada cukup besar harus dioptimalkan.
Kendala serta masalah yang masih dihadapi perlu diupayakan dapat diatasi
bersama-sama," kata Yunus.

Apresiasi dan Refleksi

Mengakhiri tahun 2007, Dewan Kesenian Kota Bandarlampung (DKKBL) menggelar "Apresiasi dan Refleksi Seni Budaya DKKBL Tahun 2007", di Taman Budaya Lampung (TBL).

Pagelaran itu berisi rangkaian kegiatan dialog sastra dan teater,
lokakarya dan pameran seni rupa, serta pemutaran dan diskusi film Indie.

Ketua Harian DKKBL, Syaiful Anwar menyatakan pihaknya merasa
bertanggungjawab untuk mengembangkan seni dan budaya di Bandarlampung.

"Kegiatan ini adalah salah satu wujud pertanggungjawaban DKKBL dalam
mendukung pencanangan Kota Bandarlampung menjadi Kota Seni dan Budaya,"
kata seniman pencipta lagu daerah Lampung itu.

Acara puncak "Apresiasi dan Refleksi Seni Budaya" itu dihadiri penyair Isbedy Stiawan ZS yang membacakan dua puisinya, "Kota Sarang Laba Laba", dan "Rumah Judi". Tari Kakhot, salah satu tarian tradisional Lampung juga turut ditampilkan.

Sebelumnya, pada Kamis-Jumat (27-28/12), Komite Sastra, Komite Teater,
Komite Seni Rupa, dan Komite Film DKKBL menyelenggarakan dialog sastra dan teater, pelatihan dan pameran seni rupa, serta pemutaran dan diskusi film Indie berjasama dengan Harian Umum Lampung Post dan Harian Umum Radar Lampung.

Sumber: Antara, 29 dan 30 Desember 2007

Apresiasi: Teater Lampung, Masalahnya Bukan pada Fasilitas

-- Teguh Prasetyo

PERSOALAN ketiadaan leadership atau imam bagi satu grup teater menjadi satu persoalan utama yang menyebabkan mati surinya grup teater kontemporer yang ada di Kota Bandar Lampung khususnya dan Provinsi Lampung pada umumnya. Sebab, boleh dibilang sampai saat ini hanya tiga grup teater Lampung yang eksis, yakni Teater Satu, Teater Kurusetra UKMBS Unila, dan Komunitas Berkat Yakin (KoBER).

Padahal di era tahun 90-an hingga tahun 2000 awal, masih banyak dijumpai grup-grup teater modern di Bandar Lampung yang intens. Sebut saja nama Teater Kuman dengan pentolannya Edy Samudra Kertagama, Teater Jaman dengan pentolannya Sri Jalu Mampang, Forum Semesta yang dulunya terdapat Iswadi Pratama dan Juperta Panji Utama sebelum akhirnya berdiri Teater Satu, Teater Mentari, Teater Bocah, dan grup teater lainnya yang pernah eksis.

Dengan tersisanya tiga grup teater yang masih eksis berkarya hingga saat ini, tentu saja
mendatangkan satu buah pertanyaan yang sangat krusial ada apa dengan para penggiat serta grup teater tersebut? Lalu, mencari penyebab atas persoalan tersebut serta mencoba mencari solusi yang terbaik guna mengatasinya.

Hal tersebut mengemuka dalam focus group discussion yang digelar Dewan Kesenian Kota Bandar Lampung (DKKBL) yang digelar di HU Lampung Post, Kamis (27-12). Kesimpulan tersebut kemudian dijadikan acuan sebagai pembentukan kerangka kerja yang akan dilaksanakan Komite Teater DKKBL kedepannya.

Direktur Artistik Teater Satu Lampung, Iswadi Pratama mengemukakan bahwa selama ini persoalan tersebut terjadi dikarenakan bahwa banyaknya yang mengganggap bahwa seorang sutradara merupakan leader dari sebuah grup teater.

"Bahkan selama ini, konsep pemimpin grup teater yang melekat di masyarakat adalah sutradara. Akibatnya akhirnya hidup dan geraknya teater tersebut sangat bergantung pada mood dari sutradara itu sendiri," kata Iswadi.

Contohnya ketika akan melakukan pementasan satu naskah teater, maka yang menentukan adalah sutradaranya. Begitu juga dengan apa yang akan dilakukan grup teater itu sendiri kedepannya, mau seperti apa, semuanya bergantung pada otak sutradara. Padahal menurut dia, seharusnya ada satu manajemen yang tepat dalam tubuh teater tersebut.

"Tidak mungkin bagi saya untuk juga memikirkan tentang manajemen keuangan. Karena bisa saja melakukannya, karena banyak orang yang akan suka dengan itu, tetapi organisasi dipastikan tidak akan lama. Sebab, saya memiliki keterampilan dalam bidang artistik teater," ujar Iswadi lagi.

Untuk itulah, menurut Iswadi, dibutuhkan satu bentuk manajemen kepemimpinan yang baik bagi para penggiat teater ini. Paling tidak dengan adanya manajemen yang baik, maka visi dan missi dari teater akan berjalan dengan sangat baik. Bahkan, di sini pula dapat dirancang program kerja apa yang akan dilakukan oleh grup teater ini satu tahun kedepannya. Sebab, rancangan kegiatan serta target yang akan dibuat, sudah bisa terjalin.

Meskipun bisa saja, kepedulian para sutradara ini sangat besar. Namun Iswadi mempertanyakan tentang seberapa keras usaha yang dilakukan untuk mengejawantahkan keperdulian tersebut. "Bisa saja itu hanyalah sebatas obsesi dari para sutradara sendiri, karena usia kreatif seorang sutradara biasanya hanya lima tahun. Ini disebut sebagai usia puber. Karena bisa masanya sudah berlalu, maka sudah tidak ada lagi mimpi."

Selain itu juga, dia melihat bahwa selama ini, grup teater yang ada belum menjadi satu komunitas. "Grup teater yang ada belum dikelola sebagai satu organisasi atau sebagai satu kumpulan komunitas. Sebab teater dipandang sebagai satu ajang menunjukkan ekspresi semata saja."

Sedangkan Edy Samudra Kertagama menilai bahwa persoalan banyaknya grup teater di Lampung yang mengalami mati suri disebabkan masih kurangnya kepedulian tokoh teater terhadap grup-grup teater yang baru muncul. "Makanya saat ini sangat bisa dihitung dengan jari grup-grup teater kontemporer yang ada di Bandar Lampung yang masih intens dalam melakukan pertunjukan."

Walaupun diakuinya, saat ini berkembang grup-grup teater pelajar yang berkancah pada Liga Teater Pelajar yang digelar setiap tahunnya oleh Taman Budaya Lampung. "Tapi grup teater pelajar ini belum bisa menjadi satu embrio. Karena umumnya mereka yang aktif hanya sebatas kelas 1 dan 2 saja. Sedangkan ketika mereka memasuki kelas 3, maka biasanya mereka sudah berhenti untuk beraktivitas karena disibukan dengan alasan menghadapi ujian," ujarnya.

Pun hal sama juga terjadi pada kelompok teater dari kampus. Meski dibeberapa kampus lawas seperti Unila, yang sudah banyak melahirkan tokoh teater, ini tidak menjadi persoalan. "Sehingga kemudian kami membuat satu wadah Jaringan Teater Pelajar dan Mahasiswa Lampung. Namun ternyata hanya berjalan sesaat saja."

Sementara penggiat cinema Lampung yang sebelumnya juga aktif di teater, Pramudya, mengatakan bahwa teater sebagai wadah pengenalan potensi diri serta media komunikasi masih berjarak dengan penonton. "Padahal seharusnya teater ini haruslah mengikuti perkembangan zaman yang ada."

Kondisi tersebut pun dibenarkan penggiat KoBER yang juga anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL) Ari Pahala Hutabarat. Dia menilai bahwa apa yang terjadi pada para penggiat teater Lampung saat ini hanyalah melakukan impolutif atau onani terhadap dirinya sendiri.

"Akhirnya teater tidak bia berbicar dan berkomunikasi dengan zamannya. Padahal event teater banyak digelar. Tidak seperti sastra, teater di Lampung belum bisa dibentuk sebagai jagad ataupun gelombang," katanya.

Selain itu juga, menurut aktivis Dongeng Dakocan Ivan Sumantri Bonang, teater hingga saat ini belum menjadi satu kebutuhan masyarakat. "Ini dikarenakan teater belum menjadi satu daya tarik. Syaratnya memang harus adanya timbal balik dengan masyarakat itu sendiri."

Karena itu Ivan sangat tidak sepakat apabila kemudian dipersoalkan masalah tempat ataupun fasilitas yang ada. Sebab masalahnya menurut dia, bukan di situ, tetapi merupakan persoalan dari daya tarik teater itu.

Namun paling tidak, ada satu kegelisahan yang amat sangat nampak dari para penggiat teater di Kota Bandar Lampung untuk bisa lebih mengembangkan dan berbuat lebih banyak demi majunya dunia teater di Bandar Lampung khususnya dan Lampung pada umumnya. Dengan begitu, ke depannya Lampung tidak hanya dikenal sebagai negeri para penyair, tetapi juga subur dan akan lahir banyak aktor-aktor serta sutradara teater andal. Semoga saja.

Sumber: Lampung Post, Minggu, 30 Desember 2007

December 28, 2007

Teater: Tiga Terbaik Workshop Keaktoran Tampil di GSG STAIN Metro

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Hari ini, tiga peraih gelar aktor terbaik dalam parade monolog Dewan Kesenian Lampung (DKL) 2007 tampil di workshop keaktoran dalam apresiasi monolog akhir tahun di Gedung Serbaguna (GSG) STAIN Metro.

Ketua Komite Teater DKL A. Zilalin mengemukakan hal tersebut, Kamis (27-12), dan menjelaskan aktor yang akan ditampilkan adalah yakni Ruth Marini dan Sugianto dari Teater Satu Lampung serta Robi Akbar dari Teater Hitam Putih.

"Harapan dari kegiatan ini, dengan menampilkan tiga aktor terbaik di Metro, bisa memberikan stimulan atau angin segar terhadap dunia perteateran di Kota Metro," kata Zilalin.

Menurut dia, iklim berteater di Kota Metro akan lebih hidup lagi dan bergairah. "Dipilihnya Metro sebagai kota pementasan dikarenakan letaknya yang strategis dan saat ini sudah banyaknya kelompok teater yang tumbuh dan berkembang di sana. Selain juga ini memberikan sebuah apresiasi bagi kalangan pencinta seni di Metro."

Penampilan kali ini, para aktor tetap membawakan lakon yang sama dengan kegiatan parade monolog sebelumnya. "Robi dengan lakon 'Aut' karya Putu Wijaya. Sugianto mengusung 'Kali Mati' karya Ardianata, serta Ruth Marini dengan lakon 'Wanci' karya Imas Sobariah. Sedangkan untuk narasumbernya di workshop keaktoran akan menampilkan Edy Samudra Kertagama," ujarnya.

Dia mengatakan penyelenggaraan ini lebih penting karena DKL merasa pada penyelenggaraan Parade Monolog yang lalu jumlah peserta asal kabupaten dan kota lain sangat minim. "Peserta pada kegiatan kemarin hanya berasal dari Kota Bandar Lampung. Sehingga sangat terlihat kesenjangan tingkat apresiasi yang cukup jauh."

Bila kondisi tersebut dibiarkan, kata Zilalin, ditakutkan dapat memicu kemandekan sebuah perkembangan seni teater di daerah lain. "Kenyataan ini memang cukup pahit tetapi harus diakui secara bersama-sama bahwa hal tersebut bia saja terjadi," kata dia.

Kegiatan ini digelar atas kerja sama antara Komite Teater DKL dan Komite Sastra Dewan Kesenian Metro (DKM). n TYO/K-1

Sumber: Lampung Post, Jumat, 28 Desember 2007

Bandar Lampung Kembangkan Wisata Pendidikan

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandar Lampung akan mengembangkan beberapa kawasan menjadi kawasan wisata pendidikan. Hal ini untuk menunjang program pendidikan terutama tentang satwa, tanaman, dan berbagai peninggalan sejarah yang ada di beberapa kawasan wisata di Kota Tapis Berseri.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat Saad Asnawi mengatakan salah satu kawasan wisata yang akan dijadikan menjadi lokasi wisata pendidikan adalah hutan monyet yang berlokasi di Tirtosati, Sumur Batu, Telukbetung Utara. Selain itu, juga kawasan Batu Putu yang saat ini sedang dikembangkan. "Kawasan ini selain menyimpan potensi wisata satwa, juga banyak tanaman langka dan peninggalan sejarah," kata dia, Kamis (27-12).

Selain itu, kawasan tersebut sangat dekat dengan wilayah perkotaan, sehingga mudah dijangkau oleh semua kalangan. "Kita berharap kawasan ini bisa berkembang, dan para siswa dari Bandar Lampung maupun luar Lampung bisa berdatangan di objek wisata di daerah kita seperti mereka mendatangi Kebun Raya Bogor," papar dia.

Oleh karena itu, pihaknya menggandeng forum pecinta alam Lampung untuk bersama-sama meneliti habitat satwa, tumbuhan, dan berbagai peninggalan sejarah di beberapa objek wisata di Bandar Lampung. "Seperti di hutan monyet, ada gua jepang yang merupakan salah satu peniggalan sejarah," kata dia.

Di kawasan tersebut juga tumbuh salah satu tanaman langka yakni bunga bangkai (Amorphopallus titanum becc). "Di kawasan ini juga terdapat satwa langka yakni kera ekor panjang atau Macaca facilularia. Juga, terdapat gua jepang yang bercabang ke kanan dan ke kiri," kata dia.

Untuk menjadikan kawasan wisata alam sebagai kawasan wisata pendidikan, pihak Dinas Pariwisata akan memasangi setiap pohon dengan nama Indonesia dan nama Latin. "Kita juga akan mengusahakan ada pemandu yang mendampingi siswa yang berkunjung, agar mereka mendapat penjelasan lengkap mengenai setiap kawasan wisata yang mereka kunjungi," ujar dia. n UNI/S-2 

Sumber: Lampung Post, Jumat, 28 Desember 2007

December 27, 2007

Wisata: Hutan Monyet dan Gua Ditata

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pemerintah Kota Bandar Lampung mengembangkan kawasan wisata ekologi terbaru Hutan Monyet di kawasan Sumurbatu, Telukbetung Utara. Kawasan seluas kurang lebih 5.000 meter persegi tersebut menyimpan habitat monyet ekor panjang (Macaca facilularis), peninggalan sejarah seperti gua jepang, dan bunga bangkai.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandar Lampung Saad Asnawi mengatakan kawasan ini akan dijadikan kawasan wisata ekologi dan kawasan wisata pendidikan. "Kita ingin masyarakat yang mengunjungi kawasan ini tidak mengganggu habitat kera maupun tanaman yang ada di sini. Namun, mereka turut menjaga kawasan ini sehingga kawasan ini tetap terlindungi," kata Saad di sela-sela kunjungan ke Hutan Monyet, Rabu (26-12).

Dia mengatakan kawasan ini akan dikembangkan seperti kawasan Sangeh di Bali. Masyarakat atau wisatawan yang berkunjung bisa bersahabat dengan binatang yang menghuni kawasan itu. "Oleh karena itu sejak tanggal 1 Desember lalu kita mulai membiasakan monyet-monyet yang tinggal di sini untuk menerima makanan yang kita berikan seperti pisang," kata dia.

Untuk tempat berisitirahat dan duduk-duduk, Dinas Pariwisata membangun sebuah gazebo. Tempat ini juga dijadikan sebagai tempat untuk memberi makan kera.

Menurut Saad Asnawi, selain sebagai kawasan wisata ekologi, Hutan Monyet selama ini juga dikenal sebagai kawasan penangkap air atau cacthment area.

Iwan dari FPAL mengatakan habitat kera di kawasan ini mencapai 300 ekor. Dari jumlah tersebut yang paling banyak adalah monyet muda. Selain monyet kawasan ini juga menyimpan potensi wisata lain yakni gua jepang dan bunga bangkai yang banyak tumbuh.

Gua Jepang tersebut bercabang dua, ke kiri dan kanan. "Untuk cabang yang ke kanan tembus di Sukaraja Panjang, dan yang ke kiri tembus ke SMAN 2 Bandar Lampung," kata dia.

Oleh karena itu, kawasan ini ke depan bisa dijadikan kawasan wisata ekologi maupun kawasan wisata pendidikan untuk para siswa-siswi baik asal Bandar Lampung maupun luar Lampung. n UNI/K-1 

Sumber: Lampung Post, Kamis, 27 Desember 2007

December 25, 2007

Proses Kreatif: Penulisan Cerpen atau Novel Rendahkan Ego Pribadi

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Untuk menuangkan satu tulisan menjadi satu bentuk cerita pendek atau novel sebenarnya bukan hanya berkaitan dengan ide. Akan tetapi, yang terpenting dalam menulis adalah merendahkan ego pribadi yang melekat pada diri untuk bisa mengerti orang lain.

Cerpenis Yanusa Nugroho mengemukakan hal tersebut di sela-sela kegiatan Workshop Cerpen yang digelar Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL) di Gedung Olah Seni Taman Budaya Lampung, Sabtu (22-12).

Dia mengatakan seorang penulis itu minimal harus memiliki keinginan menjadi pendengar yang baik dahulu.

"Jadi jangan ngomong dahulu jika ingin menjadi penulis. Dan hal yang diupayakan adalah memperbanyak membaca karya orang lain dahulu. Sebab, bisa dikatakan ide memang hanya memegang 10 persen dari keseluruhan karya yang dihasilkan," kata Yanusa, yang pernah meraih penghargaan Multatuli dari Radio Nedherland lewat cerpennya "Kunang-Kunang Kuning" (tahun 1987) serta nomine hadiah sastra Khatulistiwa lewat kumpulan cerpennya Segulung Cerita Tua ini.

Selain itu, menurut dia, yang mesti dilakukan sebelum membuat satu cerita adalah melakukan observasi atau pengamatan. Observasi sangat penting untuk mendekatkan dengan tokoh yang akan diangkat ceritanya. Baru setelah melakukan observasi ini biasanya akan lahir empati.

"Jadi tidak semuanya merupakan hasil fantasi saja," ujar peraih Anugerah Kebudayaan 2006 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata lewat cerpennya "Wening" serta penghargaan sastra dari Pusat Bahasa pada tahun 2007 lewat novelnya Boma.

Tidak hanya itu, Yanusa juga mengemukakan beberapa unsur yang juga penting dalam penggarapan cerpen adalah berkaitan elemen dasarnya, yakni persoalan, tokoh, lokasi atau setting, serta alur cerita.

Ditambah lagi dengan deskripsi yang benar bisa menggunakan pembanding atau bisa menggunakan penggambaran langsung. Serta ditambah dengan mengenali teknik-teknik pengungkapannya.

Hal senada dikemukakan cerpenis yang juga pengurus Komite Sastra DKJ, Zen Hae. Unsur-unsur yang penting yang mesti ditentukan berkaitan dengan tema, tokoh, sudut pandang, alur atau plot, latar, serta gaya bahasa yang digunakan.

Ketua Umum DKL, Syafariah Widianti, dalam sambutan pembukaan mengaku sangat senang dengan antusias peserta yang mengikuti kegiatan yang digelar selama dua hari, hingga kemarin (23-12).

"Perkembangan dunia sastra di Lampung beberapa tahun terakhir ini sangatlah menggembirakan. Pertumbuhan pada jurai puisi seakan tak terbendung," kata dia.

Bahkan, ujarnya, F. Rahardi dalam tulisannya di Kompas pernah menyatakan hanya Bali, Jawa Timur, dan Yogyakarta yang bisa menyamai kesemarakan kepenyairan di Lampung,"

Kegiatan workshop ini diikuti 38 peserta dari target 25 orang. Adapun latar belakang peserta sangat beragam dari pelajar, mahasiswa, guru, hingga ibu rumah tangga dan asal peserta juga tidak hanya dari Kota Bandar Lampung, tapi juga dari berbagai daerah di Provinsi Lampung. n TYO/K-2

Sumber: Lampung Post, Senin, 24 Desember 2007

December 23, 2007

Spektrum: Pesona Lampung Barat

-- Budisantoso Budiman

SEJUMLAH turis asing asyik bercengkrama di tengah deburan ombak Pantai Tanjung Setia, di Kecamatan Pesisir Selatan, 52 km dari Liwa, ibukota Kabupaten Lampung Barat (Lambar), Lampung.

Tugu Kayu Hagha di Bundaran Kota Liwa, yang menyimpan legenda Kerajaan Sekala Brak, asal-usul Suku Lampung.

Selain berselancar dan memancing, para turis bisa pula berkemah, berenang, atau berjemur menikmati pesona wisata andalan Lambar.

Lambar menawarkan keindahan wisata pantai dan bahari yang aman dan nyaman bagi keluarga, wisatawan domestik maupun mancanegara.

Pantai Tanjung Setia, cukup dikenal oleh para turis asing dan menjadi salah satu pilihan berwisata pantai dan berselancar. Dengan ombak setinggi 3-4 meter dan panjang mencapai 200 meter, menjadi arena ideal bagi peselancar.

Lambar yang memiliki 17 kecamatan, enam kelurahan, dan 189 pekon (kampung) dan pekon persiapan, dengan luas wilayah 4.950,40 km2 atau 13,99 persen dari luas wilayah Provinsi Lampung itu, memiliki garis pantai sepanjang 260 km.

Kabupaten itu termasuk dalam daerah tujuan wisata unggulan di Lampung yang tergabung dalam "segitiga emas" objek wisata utama Lampung seperti anak Gunung Krakatau di Lampung Selatan, Taman Nasional dan Pusat Latihan Gajah Way Kambas di Lampung Timur, dan Danau Ranau di Lambar.

Objek wisata di Lambar cukup lengkap seperti laut, danau, pegunungan, wisata alam, dan juga wisata petualangan maupun wisata budaya.

"Pariwisata merupakan salah satu andalan untuk mendongkrak perekonomian kabupaten ini," ujar Bupati Lambar Mukhlis Basri.

Mukhlis pada 10 Desember 2007 resmi dilantik memimpin kabupaten berpenduduk 410.848 jiwa (2006) itu.

Dengan luas 495.040 hektare, 64 persen wilayah Lambar merupakan hutan, sehingga hanya sebagian kecil dapat dikelola untuk pembangunan daerah tersebut.

"Tanpa pengelolaan sektor pariwisata dan pemanfaatan kawasan hutan itu secara lestari, tentu saja warga di sini akan tetap menjadi miskin," kata Mukhlis yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Lambar.

Struktur ekonomi Lambar menempatkan sektor pertanian dengan nilai kontribusi mencapai 64,65 persen, disusul perdagangan, hotel dan restoran (17,97 persen), pertambangan dan penggalian (14,81 persen), dan beberapa sektor pembangunan lain.

Damar Terbaik

Lambar selama ini dikenal sebagai penghasil damar mata kucing (Shorea javanica) terbaik di dunia, dengan luas areal kebun damar rakyat mencapai 17.500 hektare. Produksinya 5.000 ton/tahun.

Sekitar 80 persen produksi dan ekspor komoditas damar mata kucing Indonesia berasal dari Lambar. Damar digunakan sebagai stabilizer pada industri cat, tinta, farmasi (obat-obatan), dan kosmetik di beberapa negara di dunia.

Hampir seluruh wilayah pesisir Lambar, di Kecamatan Lemong, Pesisir utara, Karya Penggawa, Pesisir Tengah, Pesisir Selatan, Ngambur, Bengkunat, dan Bengkunat Belimbing terdapat kebun damar rakyat yang memasok pasaran ekspor ke India, Jerman, Filipina, Prancis, Belgia, Uni Emirat Arab, Banglades, Pakistan, dan Italia.

Selain damar, kabupaten itu juga menjadi daerah penghasil kayu medang, sengon, cempaka, afrika, karet, jati dan beberapa jenis kayu lainnya.

Selain itu Lambar juga dikenal sebagai penghasil tanaman gaharu, madu, sutra, dan kopi robusta unggulan Lampung.

"Tetapi kami memiliki keterbatasan untuk mengembangkan pembangunan di sektor pertanian dan perkebunan maupun industri, mengingat kawasan hutan yang ada di sini," kata Bupati.

Dalam kepemimpinannya selama lima tahun ke depan, Muhklis dan Wakil Bupati Dimyati Amin bertekad membangun daerah itu, selain tetap bertumpu pada sektor ekonomi produktif juga akan mengembangkan potensi sektor pariwisata yang belum optimal diusahakan.

Beberapa bulan lalu, Kawasan Wisata Terpadu Seminung Lumbok Resort di tepian Danau Ranau di Pekon Lumbok, Kecamatan Sukau, telah diresmikan menjadi cikal bakal kebangkitan sektor pariwisata Kabupaten Lambar.

Di sekitar Seminung Lumbok Resort, pengunjung dapat melihat hamparan air Danau Ranau yang membiru dengan latar belakang Gunung Seminung dan perbukitan menghijau di sekitarnya.

Kehangatan air panas di kaki Gunung Seminung, memancing di Danau Ranau, dan menikmati kekhasan warga lokal dalam membudidayakan sayur mayur menjadi daya tarik tersendiri untuk datang ke sana.

Pengunjung dapat menginap di Seminung Lumbok Resort yang berstandar hotel berbintang, dengan kolam renang, saung, restoran, dan ruang pertemuan.

Dalam waktu dekat pengelolaan Seminung Lumbok Resort diswastanisasi agar lebih bersaing dan efektif, kata Pelaksana Harian (Plh) Kabag Humas dan Protokol Kabupaten Lambar, Basuki Rahmat.

Pada tahun 2008, pemerintah Kabupaten Lambar menyiapkan pengembangan wisata agrobisnis taman buah.

Setiap bulan Juli, di Lambar digelar Festival Teluk Stabas yang berisi aneka lomba olahraga untuk melestarikan budaya daerah dan mempromosikan objek wisata seperti layang-layang, arung jeram, paralayang, jelajah alam Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), atraksi Sekura (topeng), pacuan kambing, voli pantai, lomba tari, hadra, muayak, dan lomba lagu daerah.

Alam Lambar yang dikelilingi hutan TNBBS, menyimpan potensi wisata alam Gunung Pesagi di Belalau, "jungle run", air terjun Sepapa Kiri di Kubuperahu, dan arung jeram di Way Besai.

Lambar juga memiliki Pulau Pisang, sebuah pulau yang eksotik dengan keindahan pantai pasir putih dan terdapat ikan "blue marlin" yang dapat dipancing dari habitatnya di sana.

Adat budaya masyarakat Lambar yang dulu terdapat Kerajaan Sekala Brak - asal usul Suku Lampung - membuat slogan daerah itu sebagai "The Origin of Lampung" (Asal Mula Lampung).

Di Lambar terdapat upacara adat menyambut tamu agung (Alam Gemisikh), pengangkatan raja (Nyambai Agung), dan proses adat pernikahan secara tradisional.

Di daerah Belalau, Batu Brak, Balik Bukit, dan Sukau, terdapat Pesta Sekura yaitu pesta rakyat dengan menggunakan topeng pada wajah, yang dilakukan pada saat menyambut Hari Raya Idulfitri dan pesta mewujudkan rasa syukur setelah panen raya.

Terdapat pula objek wisata selam di bawah laut perairan Lambar, wisata sejarah dan budaya, legenda Makam Gajah Mada, rumah-rumah tradisional yang tetap terpelihara sejak ratusan tahun lalu.

"Kami yakin, dengan mengoptimalkan potensi wisata, rakyat kami bisa sejahtera dan tidak miskin lagi," kata Bupati.

Sebuah tantangan bagi Bupati atas pesona Lambar yang memikat. (T.B014)

Sumber: Antara, 22 Desember 2007