December 30, 2007

Apresiasi: Teater Lampung, Masalahnya Bukan pada Fasilitas

-- Teguh Prasetyo

PERSOALAN ketiadaan leadership atau imam bagi satu grup teater menjadi satu persoalan utama yang menyebabkan mati surinya grup teater kontemporer yang ada di Kota Bandar Lampung khususnya dan Provinsi Lampung pada umumnya. Sebab, boleh dibilang sampai saat ini hanya tiga grup teater Lampung yang eksis, yakni Teater Satu, Teater Kurusetra UKMBS Unila, dan Komunitas Berkat Yakin (KoBER).

Padahal di era tahun 90-an hingga tahun 2000 awal, masih banyak dijumpai grup-grup teater modern di Bandar Lampung yang intens. Sebut saja nama Teater Kuman dengan pentolannya Edy Samudra Kertagama, Teater Jaman dengan pentolannya Sri Jalu Mampang, Forum Semesta yang dulunya terdapat Iswadi Pratama dan Juperta Panji Utama sebelum akhirnya berdiri Teater Satu, Teater Mentari, Teater Bocah, dan grup teater lainnya yang pernah eksis.

Dengan tersisanya tiga grup teater yang masih eksis berkarya hingga saat ini, tentu saja
mendatangkan satu buah pertanyaan yang sangat krusial ada apa dengan para penggiat serta grup teater tersebut? Lalu, mencari penyebab atas persoalan tersebut serta mencoba mencari solusi yang terbaik guna mengatasinya.

Hal tersebut mengemuka dalam focus group discussion yang digelar Dewan Kesenian Kota Bandar Lampung (DKKBL) yang digelar di HU Lampung Post, Kamis (27-12). Kesimpulan tersebut kemudian dijadikan acuan sebagai pembentukan kerangka kerja yang akan dilaksanakan Komite Teater DKKBL kedepannya.

Direktur Artistik Teater Satu Lampung, Iswadi Pratama mengemukakan bahwa selama ini persoalan tersebut terjadi dikarenakan bahwa banyaknya yang mengganggap bahwa seorang sutradara merupakan leader dari sebuah grup teater.

"Bahkan selama ini, konsep pemimpin grup teater yang melekat di masyarakat adalah sutradara. Akibatnya akhirnya hidup dan geraknya teater tersebut sangat bergantung pada mood dari sutradara itu sendiri," kata Iswadi.

Contohnya ketika akan melakukan pementasan satu naskah teater, maka yang menentukan adalah sutradaranya. Begitu juga dengan apa yang akan dilakukan grup teater itu sendiri kedepannya, mau seperti apa, semuanya bergantung pada otak sutradara. Padahal menurut dia, seharusnya ada satu manajemen yang tepat dalam tubuh teater tersebut.

"Tidak mungkin bagi saya untuk juga memikirkan tentang manajemen keuangan. Karena bisa saja melakukannya, karena banyak orang yang akan suka dengan itu, tetapi organisasi dipastikan tidak akan lama. Sebab, saya memiliki keterampilan dalam bidang artistik teater," ujar Iswadi lagi.

Untuk itulah, menurut Iswadi, dibutuhkan satu bentuk manajemen kepemimpinan yang baik bagi para penggiat teater ini. Paling tidak dengan adanya manajemen yang baik, maka visi dan missi dari teater akan berjalan dengan sangat baik. Bahkan, di sini pula dapat dirancang program kerja apa yang akan dilakukan oleh grup teater ini satu tahun kedepannya. Sebab, rancangan kegiatan serta target yang akan dibuat, sudah bisa terjalin.

Meskipun bisa saja, kepedulian para sutradara ini sangat besar. Namun Iswadi mempertanyakan tentang seberapa keras usaha yang dilakukan untuk mengejawantahkan keperdulian tersebut. "Bisa saja itu hanyalah sebatas obsesi dari para sutradara sendiri, karena usia kreatif seorang sutradara biasanya hanya lima tahun. Ini disebut sebagai usia puber. Karena bisa masanya sudah berlalu, maka sudah tidak ada lagi mimpi."

Selain itu juga, dia melihat bahwa selama ini, grup teater yang ada belum menjadi satu komunitas. "Grup teater yang ada belum dikelola sebagai satu organisasi atau sebagai satu kumpulan komunitas. Sebab teater dipandang sebagai satu ajang menunjukkan ekspresi semata saja."

Sedangkan Edy Samudra Kertagama menilai bahwa persoalan banyaknya grup teater di Lampung yang mengalami mati suri disebabkan masih kurangnya kepedulian tokoh teater terhadap grup-grup teater yang baru muncul. "Makanya saat ini sangat bisa dihitung dengan jari grup-grup teater kontemporer yang ada di Bandar Lampung yang masih intens dalam melakukan pertunjukan."

Walaupun diakuinya, saat ini berkembang grup-grup teater pelajar yang berkancah pada Liga Teater Pelajar yang digelar setiap tahunnya oleh Taman Budaya Lampung. "Tapi grup teater pelajar ini belum bisa menjadi satu embrio. Karena umumnya mereka yang aktif hanya sebatas kelas 1 dan 2 saja. Sedangkan ketika mereka memasuki kelas 3, maka biasanya mereka sudah berhenti untuk beraktivitas karena disibukan dengan alasan menghadapi ujian," ujarnya.

Pun hal sama juga terjadi pada kelompok teater dari kampus. Meski dibeberapa kampus lawas seperti Unila, yang sudah banyak melahirkan tokoh teater, ini tidak menjadi persoalan. "Sehingga kemudian kami membuat satu wadah Jaringan Teater Pelajar dan Mahasiswa Lampung. Namun ternyata hanya berjalan sesaat saja."

Sementara penggiat cinema Lampung yang sebelumnya juga aktif di teater, Pramudya, mengatakan bahwa teater sebagai wadah pengenalan potensi diri serta media komunikasi masih berjarak dengan penonton. "Padahal seharusnya teater ini haruslah mengikuti perkembangan zaman yang ada."

Kondisi tersebut pun dibenarkan penggiat KoBER yang juga anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL) Ari Pahala Hutabarat. Dia menilai bahwa apa yang terjadi pada para penggiat teater Lampung saat ini hanyalah melakukan impolutif atau onani terhadap dirinya sendiri.

"Akhirnya teater tidak bia berbicar dan berkomunikasi dengan zamannya. Padahal event teater banyak digelar. Tidak seperti sastra, teater di Lampung belum bisa dibentuk sebagai jagad ataupun gelombang," katanya.

Selain itu juga, menurut aktivis Dongeng Dakocan Ivan Sumantri Bonang, teater hingga saat ini belum menjadi satu kebutuhan masyarakat. "Ini dikarenakan teater belum menjadi satu daya tarik. Syaratnya memang harus adanya timbal balik dengan masyarakat itu sendiri."

Karena itu Ivan sangat tidak sepakat apabila kemudian dipersoalkan masalah tempat ataupun fasilitas yang ada. Sebab masalahnya menurut dia, bukan di situ, tetapi merupakan persoalan dari daya tarik teater itu.

Namun paling tidak, ada satu kegelisahan yang amat sangat nampak dari para penggiat teater di Kota Bandar Lampung untuk bisa lebih mengembangkan dan berbuat lebih banyak demi majunya dunia teater di Bandar Lampung khususnya dan Lampung pada umumnya. Dengan begitu, ke depannya Lampung tidak hanya dikenal sebagai negeri para penyair, tetapi juga subur dan akan lahir banyak aktor-aktor serta sutradara teater andal. Semoga saja.

Sumber: Lampung Post, Minggu, 30 Desember 2007

No comments:

Post a Comment

Post a Comment