May 31, 2011

Malam Apresiasi: UKMBS Mengenang Franky Sahilatua

Acara Malam Apresiasi Mengenang Franky Sahilatua yang diselenggarakan UKMBS Universitas Lampung, Sabtu (28-5) malam, berlangsung meriah. Acara yang digelar di gedung PKM, Unila, ini dihadiri para seniman dari Komunitas Berkat Yakin, Edi Samudra Kertagama, Jimmy Maruli Alfian, Fitri Yani, dan komunitas-komunitas seni kampus lainnya.


MALAM APRESIASI. Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Unila menyelenggarakan Malam Apresiasi Mengenang Franky Sahilatua di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), Sabtu (28-5). (ISTIMEWA)


Ketua Pelaksana, Didi Arsandi, mengatakan kegiatan ini merupakan persembahan UKMBS Unila untuk mengajak rekan-rekan, khususnya di Lampung, agar lebih apresiatif terhadap momen kesenian yang aktual, misalnya kepergian Franky Sahilatua.

"Kami berharap rekan-rekan lain juga berinisiatif menyelenggarakan kegiatan yang mampu menyerap partisipasi secara lebih aktif dari komunitas-komunitas seni lain demi terjalinnya kekeluargaan yang lebih erat antarpara pelaku seni di Lampung," kata Didi.

Acara diawali dengan slide-slide tentang riwayat Franky. Lalu dilanjutkan dengan pembacaan puisi oleh Edy Samudra Kertagama yang membawakan sajak W.S. Rendra, Sajak Sebatang Lisong, dan disambung dengan monolog singkat karyanya sendiri yang ditujukan kepada Franky. Pembaca puisi berikutnya adalah Riki Putra Jumara dari UKMBS Unila.

Memasuki sesi menyanyi bersama, UKM Senior Umitra menggugah tepuk tangan penonton dengan lagu Orang Pinggiran, lalu dilanjutkan menyanyikan lagu Lelaki dan Rembulan. Penampil kedua adalah UKM IMPAS STAIN Metro yang membawakan lagu Pekerja, Pelabuhan, dan Kampung Halaman. Sebagai penampil ketiga, UKM Mentari UM Metro mengajak penonton bernyanyi bersama dengan lagu Terminal serta lagu Dan Ketuk Semua Pintu.

Dari para hadirin, ada juga yang meminta untuk diberi kesempatan bernyanyi, yaitu Andi Rahman dan Shandy Yustanto, yang menyanyikan lagu Untukmu Gadisku. Selanjutnya tampil Kompeni Metro yang membawakan lagu Mengalir Tak Tentu dan Kemesraan. Sebagai penampil ke-6, UKM SBI IAIN Raden Intan menyanyikan lagu Perjalanan dan Anak Petani. Sebagai penutup, grup musik dari Unila yang menamakan diri Suarat membawakan lagu Bis Kota, Nyanyian, dan Perahu Retak.

Pada akhir acara, dilakukan penandatanganan kaus bergambar Franky sebagai aksi simbolis dalam acara tersebut. Rencananya, kaus tersebut beserta dokumentasi kegiatan akan dikirimkan ke rumah keluarga Franky Sahilatua di Bintaro, Tangerang Selatan. (MG2/L-2)

Sumber: Lampung Post, Selasa, 31 Mei 2011

May 29, 2011

Di Mana Letak Kerajaan Sekala Brak?

Oleh Febrie Hastiyanto

HAMPIR dipercaya oleh sebagian (besar) masyarakat Lampung bahwa asal-usul orang Lampung bermula dari Sekala Brak, yang kemudian berkembang menjadi kerajaan. Kepercayaan ini banyak bersumber dari cerita tutur (mitologi). Mitologi dalam metodologi penelitian etnografi merupakan sumber literatur yang tergolong lemah, karena itu ia perlu didukung oleh bukti-bukti arkeologis berupa prasasti, surat-surat kerajaan, hingga analisis konteks internal dan eksternal. Lemahnya derajat validitas metodologi Sekala Brak bukan berarti hendak menegaskan bahwa Sekala Brak tidak ada. Sekala Brak mungkin ada, namun bukti pendukungnya belum lengkap. Pertanyaannya kemudian, bila Sekala Brak benar ada, apa sumbernya dan di mana kira-kira letaknya. Penelitian etnografi pada dasarnya adalah metode rekonstruksi. Sehingga, validitas dalam riset etnografi banyak didasarkan pada kekuatan analisis. Artinya, semakin analisis tersebut tidak dapat dibantah melalui alternatif metode lain, maka rekonstruksi etnografis tersebut dapat dijadikan sebagai rujukan, sebelum muncul informasi dan analisis baru.

Bukti Keberadaan

Selain bersumber pada mitologi, sebenarnya sejumlah kalangan mulai membuka tabir missing link dalam metodologi etnografi Sekala Brak. Prof. Dr. Louis-Charles Damais, dalam Epigrafi dan Sejarah Nusantara, (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta, 1995, hh. 26-45) menyebutkan terdapat prasasti yang ditemukan di Liwa, masih termasuk kawasan Gunung Pesagi Lampung Barat. Prasasti ini disebut Hujung Langit (ada juga yang menyebut Harakuning, Bunuk Tenuar maupun Prasasti Bawang) bertarikh 9 Margasira 919 Saka (12 November 997). Dalam prasasti ini disebutkan nama seorang raja pada baris ke-7, yang menurut pembacaan Prof. Damais namanya adalah Sri Haridewa. Oleh Drs. Irfan Anshory (Lampost, 9 dan 16 Desember 2007) prasasti ini dimungkinkan berhubungan dengan Sekala Brak, dilihat dari letak ditemukannya prasasti.

Dalam tradisi sejarah Dinasti Liang (502-556), yang diterjemahkan Prof. W.P. Groeneveldt disebutkan bahwa di Asia Tenggara terdapat Kerajaan Kan-to-li yang “terletak di sebuah pulau besar di laut selatan. Adat istiadatnya kira-kira sama dengan Kamboja dan Siam. Negeri ini menghasilkan pakaian yang berbunga, kapas, dan pinang”. Kawasan ‘Asia Tenggara’ tentu terlalu luas untuk mengidentifikasi di mana letak Kan-to-li. Prof. Oliver W. Wolters dari Universitas Cornell mengerucutkan kemungkinan posisi Kan-to-li dengan mengatakan bahwa ada dua kerajaan di Asia Tenggara yang mengembangkan perdagangan dengan Cina pada abad kelima dan keenam, yaitu Kan-to-li di Sumatera dan Ho-lo-tan di Jawa. Gabriel Ferrand menduga bahwa Kan-to-li terletak di Singkil (Barus), pantai barat Aceh, berdasarkan keterangan musafir Arab, Ibnu Majid, bahwa tahun 1462 Pelabuhan Singkil dahulu disebut “Kandari”. Prof. Slametmulyana berpendapat bahwa Kan-to-li transliterasi dari nama asli “Kuntali” (Kuntala), kemudian nama Kuntal mengalami metatesis menjadi Tungkal, nama daerah di Jambi. Oleh Irfan Anshory, Kan-to-li dapat diduga sebagai “Kenali”, satu wilayah kecamatan yang dekat dengan wilayah yang diyakini sebagai sisa peninggalan Sekala Brak. Irfan Anshory mendasarkan analisisnya pada kemungkinan transliterasi “Kan-to-li” menjadi “Kenali”.

Apakah Prasasti Hujung Langit berhubungan dengan Sekala Brak, tentu membutuhkan analisis arkeologis lebih lanjut, mengingat prasasti itu tentu memuat serangkaian tulisan yang dapat diterjemahkan untuk dianalisis maknanya. Namun sayang, Irfan Anshory tidak mengutip isi prasasti tersebut secara lengkap karena prasasti tersebut memang belum dapat diterjemahkan dengan sempurna. Bagian yang dapat terbaca diantaranya menyebut kata ‘tatkala’, ‘sa-tanah’, ‘sa-hutan’, ‘Sri haji’, dan penanggalan. Prasasti tesebut tidak menyebut nama kerajaan. Berdasarkan bentuk huruf dan penanggalan yang menyebut istilah ‘wuku’ mengindikasikan adanya pengaruh Jawa. Gelar Sri haji yang tertera dalam prasasti merujuk pada istilah kedudukan di bawah Maharaja. Kuat dugaan prasasti ini dibuat oleh raja bawahan.

Menurut Nanang Saptono, dari Balai Arkeologi Bandung mengutip Soekmono (1985:49) menyebutkan bahwa: “Prasasti Hujung Langit berdasarkan unsur penanggalan dan paleografisnya memberi arah dugaan pada adanya pengaruh kekuasaan Mpu Sindok dan Erlangga”. Bila analisis ini benar, Prasasti Hujung Langit mengindikasikan keberadaannya berhubungan dengan Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur. Mpu Sindok menurut catatan memerintah tahun 929-947 M, dan Erlangga (Airlangga) memerintah antara 1028-1035 M. Sepeninggal Airlangga Kahuripan kemudian dibagi menjadi dua, Jenggala dan Kediri (Daha/Panjalu), sebelum kekuasaan beralih ke Singasari (Tumapel) dan kemudian Majapahit. Dilihat dari akurasi masa pemerintahan Mpu Sindok hingga Erlangga antara 929-1035 M dan Prasasti Hujung Langit tahun 997, dugaan bahwa Prasasti Hujung Langit berhubungan dengan Kahuripan perlu diteliti lebih lanjut.

Menghubungkan Sekala Brak hanya karena lokasi prasasti berada dalam lokasi yang dimungkinkan sama tampaknya belum merupakan analisis yang kuat. Keberadaan Prasasti Hujung Langit di Liwa belum serta merta mengindikasikan prasasti tersebut menegaskan bahwa kerajaan (kalau prasasti itu bercerita tentang kerajaan) itu berada di lokasi prasasti ditemukan. Jejak Kerajaan Sriwijaya misalnya dibuktikan dari antara lain sejumlah prasasti, yakni Kota Kapur (Bangka), Karang Berahi (Jambi) dan Prasasti Palas Pasemah yang ditemukan di Lampung (Selatan). Prasasti Palas Pasemah ditemukan 200 km jauhnya dari Sriwijaya, yang diduga berada di tepi Sungai Musi, Palembang. Karena itu, usaha memberi makna dari keberadaan Prasasti Hujung Langit harus dilakukan dengan terlebih dahulu menerjemahkan aksara dari prasasti tersebut. Sayangnya (lagi), informasi Nanang Saptono maupun Soekmono kita ketahui setelah menjadi ‘kesimpulan’, bukan transkrip terjemahan prasasti.

Begitu juga dengan ‘kesimpulan’ Kan-to-li sebagai Kenali masih perlu dilakukan penelitian lanjut, meliputi pertanyaan-pertanyaan, apakah Kenali beragama Budha, sebagaimana Kamboja dan Thailand. Serta apakah Kenali juga penghasil kapas dan pinang sebagaimana deskripsi Kan-to-li oleh Groeneveldt, karena selama ini Lampung dikenal sebagai wilayah penghasil lada dan kopi.

Letak Kerajaan

Selain merekonstruksi kemungkinan keberadaan Sekala Brak, perlu direkonstruksi pula kemungkinan di mana letaknya. Dalam satu pelatihan di Universitas Gadjah Mada pada sesi Sistem Informasi Geografi (Geographic Information System) saya sempat berdiskusi dengan Drs. Suharyadi, M.Sc dosen Fakultas Geografi UGM. Suharyadi pernah membuat peta dari deskripsi penelitian Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM terhadap sekira 40-an kerajaan-kerajaan di nusantara. Informasi yang menarik sekaligus mengagumkan bagi kita adalah kenyataan bahwa hampir seluruh (kalau tak boleh disebut 100%) kerajaan kuno di nusantara berada pada posisi paling baik dan strategis (best site). Posisi strategis ini memiliki tiga makna, yakni memiliki daya dukung, aksesibilitas, dan pertahanan wilayah yang baik.

Daya dukung memiliki makna bahwa umumnya kerajaan di nusantara menggantungkan hidupnya pada ketersediaan sumber daya alam terutama yang bersifat subsistensi dasar (bahan pokok). Umumnya kerajaan-kerajaan di nusantara memiliki sumber daya pangan yang cukup, baru melakukan ekspor komoditas nonpangan. Hal ini berbeda dengan kerajaan-kerajaan di Eropa yang mampu menghidupi dirinya hanya dari perdagangan luar negeri pada komoditas nonpangan atau industri (merkantilisme). Daya dukung kerajaan nusantara bersumber pada wilayah penyangga/satelit (hinterland) yang subur. Umumnya topografi hinterland yang subur untuk tanaman pangan adalah dataran rendah hingga pesisir yang cukup air. Sangat jarang ditemukan kerajaan yang berada di gunung atau pegunungan. Kalaupun ada jejaknya, kuat diduga peninggalan itu mengindikasikan sebagai pesanggrahan (tempat peristirahatan), maupun tempat peribadatan. Borobudur, dan kompleks candi Ratu Boko di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang berlokasi di perbukitan misalnya menegaskan tesis ini. Kerajaan yang berlokasi di pegunungan juga terbilang riskan bagi pertumbuhan kota. Bila wilayah hulu telah berkembang, wilayah tersebut dapat kehilangan sumber-sumber air maupun kesuburan tanah mengingat eksplotasi dilakukan di hulu. Bila eksploitasi dilakukan di wilayah hilir, pertumbuhan kota kerajaan dapat disokong hinterland-nya di hulu.

Aksesibilitas yang baik berarti kerajaan tersebut berada pada jalur transportasi, yang saat itu berbentuk sungai maupun laut. Catatan yang ada terhadap lokasi kerajaan-kerajaan nusantara membenarkan tesis ini. Kita tahu Majapahit berpusat di Trowulan, dekat Sungai Brantas. Begitu juga Sriwijaya (Sungai Musi), Demak (Pesisir Utara Jawa), Makassar, Ternate, Tidore, Malaka (pesisir laut), Surakarta (Sungai Pepe dan Bengawan Solo), Yogyakarta (Kali Progo), Melayu (Sungai Batanghari), hingga Mesir (Sungai Nil) maupun Mesopotamia yang kini menjadi Irak (Sungai Eufrat dan Tigris).

Fungsi pertahanan sangat berhubungan dengan daya dukung lahan dan aksesibilitas. Dalam strategi pertahanan, pertahanan paling baik adalah menyerang, atau sekurang-kurangnya menahan laju serangan saat ‘menyambut’ musuh. Prinsip ini dikuatkan oleh sejumlah bukti benteng-benteng pertahanan yang dibangun di ‘muka kerajaan’ yang biasanya berada di kawasan pantai atau muara.

Dari ketiga tesis kecenderungan lokasi kerajaan-kerajaan di nusantara, kita dapat membandingkan dugaan letak Sekala Brak di Lampung Barat. Lampung Barat saat ini memiliki kontur pegunungan. Beberapa wilayah bahkan hingga saat ini masih menemui kesulitan aksesibiltas dengan daerah tetangga. Sehingga dugaan letak Sekala Brak masih memerlukan serangkaian diskusi akademik lagi. Dari catatan Berita Cina yang menyebutkan nama-nama kerajaan yang diduga berada di Lampung yakni To-lang-po-hwang (Tulangbawang) dan Yeh-po-ti (Seputih) keduanya menunjukkan lokasi di pesisir dan muara sungai besar. Sehingga, bila benar Sekala Brak ada, letaknya bias jadi tidak berada pada wilayah pegunungan dengan mempertimbangkan analisis posisi paling baik dan strategis (best site) serta membandingkan dengan posisi kerajaan sezaman (Tulangbawang dan Seputih). Namun saya juga tidak dapat memastikan letaknya di mana, karena informasi yang saya miliki masih terbatas. Setidaknya analisis ini menjadi alternatif tesis bagi usaha-usaha membuktikan secara akademik keberadaan Sekala Brak. Tabik.

Febrie Hastiyanto
, alumnus Sosiologi FISIP UNS. Menulis naskah Jejak Peradaban Bumi Ramik Ragom: Etnografi Kebuayan Way Kanan Lampung.

Sumber: Dinamikanews No. 251/Mei 2011.

May 26, 2011

UKMBS Helat Apresiasi untuk Franky Sahilatua

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Unila mengajak komunitas seni kampus untuk menggelar malam apresiasi seni bagi musisi legendaris Franky Sahilatua. Demikian dikatakan Ahmad Hidayat selaku ketua UKMBS Unila kepada Lampung Post di Sekretariat UKM-BS Unila, Rabu (25-5).

Pada 20 April lalu, Indonesia kehilangan seorang musisi besar, Franky Sahilatua. Dia tutup usia setelah bergelut dengan kanker sumsum tulang belakang yang telah lama dideritanya.

"Musisi ballads yang banyak digemari generasi muda tahun 80-an itu sudah banyak mewariskan lagu-lagu monumental, seperti Perahu Retak, Musim Bunga, Di Bawah Tiang Bendera, Untukmu Gadisku, atau Bis Kota," kata dia.

Ia mengatakan sebagai seniman, Franky menyerap inspirasi dari masyarakat, lalu menggubahnya menjadi lagu-lagu. Di sisi lain, masyarakat juga membutuhkan lagu-lagu Franky sebagai sumber inspirasi untuk gairah hidup setiap individu dalam menjalani rutinitas sehari-hari.

"Oleh karena itu, UKMBS Universitas Lampung pada malam Minggu ini (28-05) di gedung PKM, Unila, akan menggelar Malam Apresiasi Mengenang Franky Sahilatua sebagai bentuk penghormatan sekaligus mengajak insan-insan penggemarnya di Lampung untuk berkumpul bersama," ujar dia.

Ia mengatakan acara ini akan menampilkan komunitas-komunitas seni kampus untuk menyanyikan lagu-lagu Franky, antara lain UKM SBI IAIN Raden Intan, UKM Senior Umitra, Mentari UM Metro, Kompeni Ma’arif 29 Metro, dan beberapa rekan dari Unila.

Selain itu, juga akan hadir penyair senior Edi Samudra Kertagama untuk membacakan puisi. Pada akhir acara akan dilangsungkan penandatanganan bersama kaus bergambar Franky yang nantinya dikirimkan beserta dokumentasi kegiatan tersebut ke rumah duka di Bintaro, Tangerang. (MG1/S-2)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 26 Mei 2011

May 25, 2011

Guru Bahasa Lampung: Pemprov Lampung akan Berikan Insentif

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung akan memberikan uang tambahan di luar gaji atau insentif kepada guru Bahasa Lampung.

Menurut Kepala Biro Bina Sosial Provinsi Lampung Choiria Pandarita, besaran insentif ini sedang dikaji dan akan diupayakan masuk dalam APBD Perubahan 2011. Pemberian insentif ini diharapkan bisa memotivasi guru Bahasa Lampung untuk meningkatkan kinerjanya serta menarik minat masyarakat untuk menjadi guru Bahasa Lampung.

"Seperti yang kita ketahui, Lampung kan masih kekurangan guru bahasa daerah. Jadi Pemprov akan berupaya menarik minat masyarakat menjadi guru Bahasa Lampung. Pengembangan studi ini juga sedang dibahas dengan pihak Universitas Lampung," kata Choiria usai menghadiri rapat rintisan lembaga pembinaan dan pengembangan bahasa daerah di Ruang Abung Balai Keratun, Selasa (24-5).

Kekurangan guru Bahasa Lampung ini dibenarkan Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. Menurut dia, Lampung kekurangan 4.000 guru bahasa Lampung yang latar belakang pendidikannya adalah pendidikan Bahasa Lampung. Hal ini menyebabkan guru Bahasa Lampung di sekolah-sekolah kurang kompeten dan tidak maksimal saat mengajar.

Padahal, kata Gubernur, bahasa daerah merupakan pembentuk jati diri daerah yang patut dijaga agar tidak mudah terdegradasi dengan masuknya pengaruh budaya dari luar.

"Waktu itu kan pernah ada seminar yang mengatakan 60 tahun lagi bahasa Lampung akan punah jika tidak dilestarikan. Kita memang tidak bisa memaksa semua orang menggunakan bahasa Lampung. Tapi paling tidak bisa dijadikan mata pelajaran yang dikelola dengan sungguh-sungguh di sekolah," kata Gubernur. (LIN/K-1)

Sumber: Lampung Post, Rabu, 25 Mei 2011

Bahasa Lampung Terancam Punah

BANDARLAMPUNG – Pemprov Lampung diam-diam menyimpan kekhawatiran terhadap ancaman kepunahan bahasa Lampung. Padahal, bahasa daerah merupakan bagian dari jati diri bangsa.

’’Pernah ada seminar yang menyatakan 70 tahun atau mungkin sekarang 60 tahun ke depan akan punah,” ujar Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. usai membuka Rintisan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Daerah Lampung di Balai Keratun kemarin (24/5).

Sebenarnya, menurut Oedin –sapaan akrab Sjachroedin Z.P.–, permasalahan bahasa daerah juga dialami oleh sejumlah daerah lain. Seperti bahasa Sunda di Jawa Barat. Dirinya menuding, salah satu faktor penyebab kepunahan bahasa lokal adalah pengaruh kencang dari budaya asing.

Karena itu, lanjutnya, harus dicari cara agar bahasa Lampung sebagai identitas budaya dapat tetap eksis. ’’Saya dengar juga masih dibutuhkan empat ribu guru bahasa Lampung. Tentu ini yang sedang dibahas. Bagaimana dengan modal yang ada bisa berjalan? Bukan berarti menunggu dahulu baru berjalan. Jalan dahululah pelan-pelan,” ujar pimpinan daerah yang dikenal terbuka dengan kalangan awak media itu.

Sementara itu, Kepala Biro Bina Sosial Pemprov Lampung Choiria Pandarita menegaskan, Pemprov Lampung kini tengah merencanakan skema untuk memberi stimulan pada para guru bahasa Lampung. Antara lain, melalui pemberian insentif untuk guru bahasa Lampung.

Nantinya hal itu akan diusulkan pada APBD Perubahan. ’’Nanti kita akan usulkan. Kita akan bahas selanjutnya. Insya Allah diusulkan pada APBD Perubahan,” kata mantan kepala Dinas Tata Kota Bandarlampung itu.

Dijelaskan, insentif itu diutamakan akan diberikan kepada guru bahasa Lampung yang telah menjadi PNS. Lalu, bagaimana perhitungannya? ’’Belum ada perhitungan. Nanti akan dibahas dahulu dengan instansi terkait supaya dianggarkan,” katanya.

Diharapkan, lanjutnya, insentif itu akan menjadi pemacu motivasi bagi para pengajar. (wdi/c2/fik)

Sumber: Radar Lampung, Rabu, 25 Mei 2011

May 24, 2011

Budaya Lampung Harus Dilestarikan

Bandarlampung, 24/5 (ANTARA)- Gubernur Lampung Sjahroedin ZP mengatakan, budaya Lampung harus dilestarikan, agar tidak tergerus arus perkembangan zaman.

"Budaya adalah jati diri satu daerah atau bangsa, sehingga harus dijaga kelestariannya," kata dia, usai membuka temu koordinasi rintisan lembaga pembinaan dan pengembangan Bahasa dan Budaya Lampung, di Bandarlampung, Selasa.

Menurut dia, seiring perkembangan zaman, 60 tahun ke depan, budaya di Indonesia khususnya Lampung akan punah, karena fenomena saat ini menunjukkan budaya asing jauh diminati oleh generasi bangsa Indonesia, ketimbang budayanya sendiri.

Dia juga menambahkan, untuk melestarikan dan mengembangkan budaya dan bahasa Lampung, pemerintah harus mendukung gerakan rintisan budaya dan bahasa.

"Untuk mengatasi permasalahan itu, pemerintah berusaha memenuhi kekurangan untuk menjaga kelestarian budaya tersebut," tambah dia.

Sjachroedin melanjutkan, modal utama yang diperlukan dalam melestarikan budaya itu adalah menambah tenaga pengajar.

Dia mengatakan, kekurangan tenaga pengajar bahasa Daerah Lampung saat ini adalah sebanyak 4.000-an tenaga.

Selain itu, dia menjelaskan, saat ini Pemerintah Provinsi Lampung sedang menggiatkan kerja sama dengan berbagai pihak untuk memasyarakatkan dan melestarikan bahasa Lampung.

Sementara itu, sejumlah warga Lampung yang berasal dari luar daerah tersebut mengaku sulit mempelajari bahasa asli setempat.

"Jujur saja saya lahir dan besar di sini sulit mempelajari, karena memang tidak dibudayakan dalam pergaulan sehari-hari," ujar Sardi, warga Lampung yang orang tuanya berasal Jawa Timur.

Bahkan, ia pun mengakui lebih mudah mempelajari bahasa daerah lainnya seperti Palembang atau Sunda.

Karena itu, ia berharap pemerintah setempat terus mengembangkan budaya dan bahasa Lampung, selain agar tidak punah juga bisa menjadi kebanggaan daerah tersebut.

Sumber: Antara, Selasa, 24 Mei 2011

May 23, 2011

Konflik Makin Panas, Seekor Gajah Tewas

WAY JEPARA (Lampost): Konflik petani dan gajah liar asal hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) memanas. Akibatnya, satu ekor gajah liar tewas, Minggu (22-5).

Menurut Eko (32) warga Desa Brajasakti, Kecamatan Way Jepara, Lampung Timur, sekitar 15 ekor gajah liar keluar dari hutan pada Sabtu (21-5) sore. Rombongan satwa tambun itu merangsek tanaman padi dan singkong di Desa Brajaasri, Kecamatan Way Jepara.

Kemungkinan warga Brajaasri telah menggiring belasan gajah liar tersebut ke Desa Brajasakti, yang letaknya bergandengan. Sekitar pukul 21.00, belasan gajah berada di areal perkampungan warga Desa Brajasakti mengamuk sehingga ribuan warga panik dan berusaha mengusir kawanan satwa dilindungi tersebut.

"Saat itu belasan gajah berpencar, panik karena diburu oleh ribuan warga yang berusaha mengusir," Kata Eko.

Alhasil sekitar pukul 03.00 seekor gajah ditemukan warga tewas di parit milik warga Desa Brajasakti. Menurut Eko, saat ditemukan, gajah yang diperkirakan berumur dua tahun dengan berat badan 700 kg itu, menginjak comberan yang ditutup dengan semen tanpa dicor. Karena beratnya tak mampu ditopang beban semen, gajah itu masuk dalam comberan sedalam dua meter.

"Kebetulan yang masuk kepalanya dulu sehingga gajah itu tersungkur ke dalam lumpur," kata Eko.

Menurut Eko, diduga kuat penyebab binatang berbelalai panjang itu tewas karena tidak bisa bernapas lantaran kepala hingga setengah badan masuk dalam lumpur. Sekitar pukul 03.00, puluhan warga berusaha menarik gajah menggunakan alat berat.

Setelah diangkat dari comberan, anggota Polhut dibantu warga menaikkan gajah ke mobil patroli Polhut dan dibawa ke Pusat Latihan Gajah (PLG) untuk dikuburkan.

Akibat puluhan gajah merangsek tanaman di tiga desa, Ketua Komisi B Gunawan bersama anggotanya Yusran Amirullah dan Darmawan turun ke lapangan.

"TNWK harus bertanggung jawab. Tidak menutup kemungkinan hal seperti ini ada anggarannya dari Pusat tapi oleh TNWK tidak disalurkan kepada korban," kata Gunawan. (GUS/U-3)

Sumber: Lampung Post, Senin, 23 Mei 2011

May 22, 2011

Sekali Lagi, Musikalisasi Puisi

Oleh Agus Sri Danardana

DI DUNIA seni, sesungguhnya musikalisasi puisi bukanlah barang baru. Sebagaimana yang dilansir F. Moses melalui tulisannya di harian ini, Bunyi-Bunyian Plus dalam Musikalisasi Puisi (Lampung Post, 15 Mei 2011), bunyi (instrumen musik) dan teks puisi sudah hadir sejak zaman nabi, seperti teks wahyu yang dimazmurkan.

Musikalisasi puisi juga sudah menjadi perhatian bagi para komponis besar, seperti Franz Schubert (1797—1828), yang membuat komposisi musik vokal berdasar syair-syair gubahan pujangga-pujangga besar Eropa di zaman itu serta Maurice Ravel (1875—1937) yang membuat sebuah karya piano (berjudul Gaspard de la Nuit) berdasar puisi karya pujangga Prancis, Aloysius Bertrand (1807—1841).

Begitu pula di Indonesia. Kelompok musik Bimbo, misalnya, secara sangat ekspresif telah menyanyikan (memusikalisasi) puisi-puisi Taufiq Ismail, seperti Tuhan dan Dengan Puisi Aku. Sementara itu, Ebiet G. Ade pun selalu membawakan puisi-puisi ciptaannya sendiri ke dalam bentuk musik yang melodi baladis. Tak ketinggalan Yan Hartlan, Rita Rubi Hartlan, dan Ully Sigar Rusady, mereka pun gemar memusikalisasi puisi-puisinya. Yang menarik adalah pemusikalisasian itu telah berhasil mengantarkan puisi-puisi yang dimusikalisasi ke khalayak (masyarakat) tanpa terkurangi maknanya.

Oleh banyak orang, musikalisasi puisi masih sering dianggap sebagai salah satu teknik dalam pembacaan puisi. Orkestrasi musik (baik yang sederhana [dengan satu gitar] maupun yang tidak sederhana [orkes ansambel atau simponi]) hanya dijadikan latar atau pengiring pembacaan puisi. Artinya, antara puisi dan musik masih ada jarak. Puisi dan musik masih diperlakukan sebagai dua hal yang berbeda sehingga hasilnya pun baru sampai pada tahap mengiringi pembacaan/penyanyian puisi dengan beberapa alat musik seperti gitar, piano, dan alat ritmik yang lain. Musikalisasi puisi, dengan demikian, belum dipahami sebagai karya kreatif (cara lain) dalam apresiasi puisi.

Sebagai karya kreatif dalam apresiasi puisi, musikalisasi puisi semakin hari semakin mendapat tempat di hati masyarakat, khususnya di kalangan kawula muda. Banyaknya penyelenggaraan kegiatan musikalisasi puisi di berbagai sekolah dan daerah membuktikan hal itu. Bahkan, belakangan ini muncul pula komunitas-komunitas (sanggar) baru yang secara intens menggeluti musikalisasi puisi. Komunitas-komunitas itu, baik secara lokal maupun nasional, kemudian berhimpun membentuk wadah baru: Komite Musikalisasi Puisi Indonesia (Kompi). Di samping di tingkat nasional, konon, Kompi juga telah berdiri di banyak provinsi, seperti Kompi Menado, Kompi Medan, Kompi Lampung, dan Kompi Jambi. Sementara itu, kegiatan musikakisasi puisi pun digelar di mana-mana. Sekadar contoh, di Sumatera, misalnya, setiap tahun (sejak 2006) digelar Festival Musikalisasi Puisi Tingkat SMA Se-Sumatera. Tahun ini (2011) festival itu akan digelar di Palembang pada 5 dan 6 Juli 2011 oleh Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan.

Mengapa Musikalisasi Puisi Menarik?

Musikalisasi puisi pada hakikatnya adalah kolaborasi apresiasi seni antara puisi, musik, dan pentas. Melalui musikalisasi puisi, seseorang tidak hanya mendapat kesempatan mengapresiasi puisi dan musik, tetapi juga mendapat kesempatan mengekspresikan apresiasinya itu di depan khalayak. Musikalisasi puisi, dengan demikian, adalah sebuah karya yang jelas membutuhkan daya kreativitas tinggi. Barangkali dua hal terakhir (musik dan pentas) itulah yang menjadikan musikalisasi puisi menarik minat banyak orang (terutama kawula muda) karena dapat dimanfaatkan sebagai salah satu media/cara alternatif dalam pengembangan kreativitas mereka.

Seperti yang telah kita ketahui, belakangan ini banyak bermunculan kelompok musik (grup band) dengan berbagai corak dan jenisnya. Pada umumnya, tanpa harus mengabaikan proses kreativitas mereka, syair lagunya terkesan sederhana, polos, dan vulgar. Artinya, untuk menangkap makna syair itu seseorang tidak perlu banyak buang energi, begitu mendengar sudah tahu maksudnya, tanpa proses panjang untuk menafsirkannya. Di sinilah sesungguhnya mereka dapat memanfaatkan puisi, seperti yang pernah dilakukan Iwan Fals (bersama Kantata Taqwa) atas puisi Rendra, Kesaksian, God Bless atas puisi Taufiq Ismail, Panggung Sandiwara", dan Gigi atas puisi Taufiq Ismail, Pintu Surga.

Model Musikalisasi Puisi

Harus diakui hingga kini masih terjadi pro dan kontra terhadap bentuk/model musikalisasi puisi yang dianggap standar. Setidaknya ada tiga model musikalisasi puisi yang dapat diamati. Pertama, model musikalisasi puisi lagu. Dalam model ini puisi digubah menjadi syair lagu. Fokus utama model ini cenderung pada musiknya. Model musikalisasi puisi semacam ini dapat dilihat pada syair-syair lagu yang dibawakan Bimbo atas puisi-puisi Taufiq Ismail serta syair-syair lagu yang dibawakan Reda Gaudiamo dan Tatyana atas puisi-puisi Sapardi Djoko Damono.

Kedua, model musikalisasi puisi iringan. Dalam model ini puisi dibawakan (dibaca atau didendangkan) dengan diiringi oleh permainan alat-alat musik. Fokus utama model musikalisasi puisi ini adalah keahlian olah vokal pembaca/pendendang puisi. Model ini biasanya dilakukan oleh masyarakat umum dalam lomba-lomba/kegiatan baca puisi. Ketiga, model musikalisasi puisi total. Dalam model ini puisi dan musik dikolaborasikan. Pengikut model ini beranggapan bahwa pada hakikatnya puisi sudah memiliki musiknya sendiri.

Oleh sebab itu, tugas utama dalam musikalisasi puisi adalah mentransformasikan unsur musik yang ada dalam puisi itu ke bentuk yang lebih konkret, melalui alat musik. Dengan kata lain, musikalisasi puisi bukanlah kerja menciptakan musik untuk puisi, melainkan kerja mengonkretkan puisi dalam bentuk musik. Alat musiknya pun tidak harus berupa alat musik yang sudah lazim, tetapi dapat berupa apa saja. Model inilah, yang pada awalnya dilakukan oleh Devies Sanggar Matahari (Jakarta) dan menyebar melalui Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (Kompi), rupanya yang berkembang dengan baik.

Terlepas dari pro dan kontra (tiga model) itu, proses musikalisasi puisi (sebagai cara lain mengapresiasi puisi) mau tidak mau harus diawali dari pemahaman puisi. Setelah puisi benar-benar dipahami, langkah berikutnya adalah mencoba mengonkretkan pemahaman itu ke bentuk bunyi (musik). Untuk itu, unsur-unsur musik: nada, melodi, irama, tangga nada, dinamika, serta unsur pendukung lain seperti ekspresi dan harmonisasi perlu dikuasai. Berikut adalah penjelasn singkat mengenai unsur-unsur musik dan pendukung lainnya itu.

(1) Nada (tone) merupakan bagian terkecil dari lagu. Dalam pengertian musik, nada adalah suara yang mempunyai getaran tertentu dan mempunyai ketinggian tertentu. Dalam kegiatan musikalisasi puisi nada merupakan unsur dasar.

(2) Melodi adalah susunan nada secara horizontal dengan lompatan (interval) tertentu. Dalam kegiatan musikalisasi puisi melodi inilah yang akan mengonkretkan larik-larik puisi menjadi lagu.

(3) Irama adalah ukuran waktu atau tempo. Dalam musikalisasi puisi, irama menjadi sangat penting untuk memberi jiwa pada puisi yang diapresiasi. Puisi yang bersemangat seperti Aku-nya Chairil Anwar, misalnya, akan menjadi lebih bermakna jika dikemas dalam irama yang bervariatif: tempo sedang dengan perubahan (dipercepat dan diperlambat).

(4) Tangga nada berpengaruh besar terhadap penjiwaan puisi. Tangga nada minor, misalnya, cocok dipakai untuk puisi-puisi yang berjiwa melankolis, sendu, sedih, duka, dan pesimistis, sedangkan tangga nada mayor lebih cocok digunakan untuk puisi-puisi yang berjiwa optimistis, gagah, berani, riang, dan gembira.

(5) Dinamika berkaitan dengan keras-lembutnya lagu. Kadangkala suatu lagu dinyanyikan dengan sangat lembut pada awal penyajian, kemudian berangsur-angsur keras, atau mendadak keras, kembali melembut pada bagian tertentu, kemudian mengeras atau melembut pada bagian akhir (ending). Perubahan keras-lembutnya lagu ini akan memberikan nuansa penjiwaan pada penyajian lagu.

(6) Ekspresi adalah pengungkapan atau proses menyatakan. Dalam musikalisasi puisi, ekspresi menjadi bagian yang sangat penting karena melalui ekspresi inilah menarik tidaknya sebuah musikalisasi puisi. Celakanya, ekspresi tidak hanya terkait dengan pemahaman puisi, tetapi juga terkait dengan karakter orang (keaktoran) apresiator.

(7) Harmonisasi adalah keselarasan. Harmonisasi menjadi sangat dibutuhkan ketika musikalisasi puisi sudah sampai pada tahap orkestrasi yang melibatkan unsur instrumen musik iringan. Pada tahap ini peran iringan adalah memadukan unsur melodi, ritme, tempo, dinamika, serta ekspresi lagu.

Begitulah, jika sejak dulu dunia puisi adalah dunia yang sunyi, musikalisasi puisi dapat dijadikan sebagai salah satu pintu pembuka harapan menuju dunia yang lebih semarak. Di tengah ingar-bingar kawula muda yang sedang gandrung pada seni musik, musikalisasi puisi memiliki peluang untuk menggaet mereka. Jika itu terwujud, mudah-mudahan puisi (dan sastra pada umumnya) tidak lagi seperti diikat dan dipojokkan ke sudut sejarah yang berdebu. Semoga.

Agus Sri Danardana, Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau

Sumber: Lampung Post, Minggu, 22 Mei 2011

May 21, 2011

Penerjemah Aksara Kaganga Bengkulu Semakin Langka*

Bengkulu, 21/5 (ANTARA) - Kepala Museum Negeri Bengkulu Ahadin mengatakan, penerjemah naskah kuno yang ditulis dengan aksara Kaganga semakin langka sehingga banyak koleksi museum yang belum diterjemahkan.

"Hingga saat ini hanya Profesor Sarwit Sarwono dari Universitas Bengkulu yang pernah menerjemahkan sejumlah naskah kuno aksara Kaganga koleksi museum," katanya di Bengkulu, Sabtu.

Aksara Kaganga, adalah huruf daerah Bengkulu.

Minimnya penerjemah naskah kuno yang sebagian besar diperoleh dari tangan masyarakat tersebut, katanya, membuat baru lima persen dari 126 koleksi naskah kuno yang ada di museum itu.

Hingga saat ini, kata dia, baru 10 naskah yang sudah berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Sebagian besar naskah kuno tersebut juga tidak diketahui identitas penulisannya (anonim).

Koleksi naskah kuno yang sudah diterjemahkan tersebut antara lain berisi pantun, ramuan obat, sejarah dan wejangan yang sudah berumur puluhan bahkan ratusan tahun.

"Koleksi ini sangat berharga, tapi kelemahannya penerjemah sangat minim. Pak Sarwit juga membawa naskah itu ke daerah asalnya dan mencari orang tua yang masih bisa mengerti aksara Kaganga," jelasnya.

Selain keterbatasan penerjemah, ketersediaan anggaran juga menjadi kendala untuk menerjemahkan naskah kuno tersebut.

Keterbatasan anggaran tersebut membuat kegiatan penerjemahan naskah kuno dilakukan terakhir pada 2003.

"Sejak itu belum pernah ada lagi kegiatan penerjemahan naskah kuno karena kendala dana, setidaknya kami membutuhkan Rp150 juta hingga Rp200 juta," ujarnya.

Anggaran tersebut selain menerjemahkan naskah kuno yang membutuhkan bantuan dari masyarakat yang masih mengenal aksara Kaganga, juga untuk mencetak terjemahan tersebut.

Ahadin mengaku selalu mengusulkan anggaran tersebut setiap tahun dalam APBD provinsi tapi belum terealisasi.

"Kami berharap pemerintah daerah juga memperhatikan kegiatan menggali informasi dari naskah kuno yang ditulis nenek moyang kita, karena banyak ilmu dan pelajaran yang tercantum di dalamnya," katanya.

Selain naskah kuno, museum yang berdiri atas lahan seluas 9.974 meter persegi tersebut juga menyimpan 6.000 jenis koleksi lainnya antara lain tenunan kain tradisional Bengkulu, mesin cetak Drukkey Populair dengan merek "Golden Press" yang digunakan Pemerintah Indonesia untuk mencetak "uang merah".

Sumber: Antara, Sabtu, 21 Mei 2011


* Catatan ini di bawah ini perlu diberikan untuk menjelaskan bahwa aksara Kaganga tidak hanya dipakai di Bengkulu, tetapi juga beberapa daerah seperti Lampung.

Aksara Kaganga
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Aksara Kaganga merupakan sebuah nama kumpulan beberapa aksara yang berkerabat di Sumatra sebelah selatan. Aksara-aksara yang termasuk kelompok ini adalah antara lain aksara Rejang, Lampung, Rencong, dan lain-lain.

Nama kaganga ini merujuk pada ketiga aksara pertama dan mengingatkan kita kepada urutan aksara di India.

Istilah kaganga diciptakan oleh Mervyn A. Jaspan (1926-1975), antropolog di University of Hull (Inggris) dalam buku Folk literature of South Sumatra. Redjang Ka-Ga-Nga texts. Canberra, The Australian National University 1964. Istilah asli yang digunakan oleh masyarakat di Sumatra sebelah selatan adalah Surat Ulu.

Aksara Batak atau Surat Batak juga berkerabat dengan kelompok Surat Ulu akan tetapi urutannya berbeda. Diperkirakan zaman dahulu di seluruh pulau Sumatra dari Aceh di ujung utara sampai Lampung di ujung selatan, menggunakan aksara yang berkerabat dengan kelompok aksara Kaganga (Surat Ulu) ini. Tetapi di Aceh dan di daerah Sumatra Tengah (Minangkabau dan Riau), yang dipergunakan sejak lama adalah huruf Jawi.

Perbedaan utama antara aksara Surat Ulu dengan aksara Jawa ialah bahwa aksara Surat Ulu tidak memiliki pasangan sehingga jauh lebih sederhana daripada aksara Jawa, dan sangat mudah untuk dipelajari .

Aksara Surat Ulu diperkirakan berkembang dari aksara Pallawa dan aksara Kawi yang digunakan oleh kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan.

May 20, 2011

Musim Angin Tenggara, Turis Asing Mulai Padati Krui

PESISIR SELATAN (Lampost): Memasuki musim angin tenggara, pesisir Krui, Lampung Barat, sejak dua pekan terakhir mulai ramai dikunjungi wisatawan asing yang berlibur di wilayah itu.

Iswandi, tokoh masyarakat Pekon Tanjungsetia, Kamis (19-5), mengatakan sejak sepakan terakhir pesisir mulai banyak dikunjungi wisatawan yang berlibur dan berselancar.

Bahkan, hampir seluruh penginapan yang ada di Kecamatan Pesisir Selatan telah penuh dipesan turis. "Inikan sudah mulai angin tenggara dan ombaknya sangat baik untuk berselancar sehingga sekarang turis sudah mulai berdatangan," kata pemilik penyewaan ojek itu.

Menurut Iswandi, hingga kemarin setidaknya terdapat 100 wisatawan yang menghabiskan waktu berlibur dan memesan penginapan di Pekon Tanjungsetia. Antara lain, di Losmen Ombak Indah sebanyak 40 orang, Losmen Damai Bunga (12), Parades (20), Hotel Family (14), Karang Ngimbor (8), Kahuna (10), dan penginapaan Tafokan (7).

"Di Pekon Tanjungsetia saja sudah hampir penuh, belum lagi di kecamatan lain yang juga banyak penginapan," ujarnya.

Biasanya, kata Iswandi, setiap turis yang berlibur di wilayah tersebut satu minggu hingga satu bulan. Mereka memesan penginapan terlebih dahulu melalui internet kepada pemilik hotel.

Kemudian, pemilik hotel memberitahukan kepada perangkat pekon dan warga yang memiliki usaha penyewaan sepeda motor untuk menyiapkan kendaraan untuk disewa. "Biasanya turis ini sebelum berangkat ke Krui, saya sudah dikasih tahu pemilik penginapan untuk menyiapkan kendaraan sewaan," kata dia.

Banyaknya turis asing yang berlibur ke Krui, memberikan penghasilan tersendiri bagi warga sekitar, terutama pada usaha penyewaan sepeda motor. "Lima motor saya dipesan selama 5 hari oleh turis, dan punya tetangga juga terpaksa disewakan atas nama saya kepada turis karena kekurangan motor."

Hal senada juga diungkapkan pemilik penginapan, Andre. Menurut dia, sejak sepakan terakhir kunjungan turis mulai ramai dan pemesanan penginapan oleh turis melalui internet juga meningkat.

"Biasanya kami menyewakan penginapan hanya kepada turis asing karena sistemnya bukan harian, melainkan dipesan selama satu minggu hingga satu bulan," kata Andre. (HEN/D-3)

Sumber: Lampung Post, Jumat, 20 Mei 2011