February 7, 2010

[Reporter Cilik] 'Suara-Suara dari Balik Terali'

TEMAN-TEMAN! Mungkin teman-teman merasa ngeri membaca judul di atas. Tapi jangan khawatir. Itu hanya sebuah judul naskah teater yang pertama kali ditulis oleh Kak Iswadi Pratama ketika beliau masih di bangku SMA.

Teater Satu Latihan. (LAMPUNG POST/M. REZA)

Kini, Kak Is, sapaan akrab kami pada beliau, benar-benar telah berhasil menjadi sutradara terkenal. Bahkan, naskah drama yang ditulisnya juga digarap oleh sutradara Hongaria dan negara-negara lain. Hebat ya!

Teman-teman, selama ini kita sering mendengar kalau jadi seniman itu tidak bisa sukses, iya kan? Tapi, ternyata tidak semuanya benar lo. Buktinya Kakak Iswadi bisa sukses menjadi seorang penulis naskah dan sutradara yang tidak hanya diakui di Indonesia, tetapi juga di dunia. Karena itu, drama kolaborasi yang digelar di Festival Horison-Horison Indonesia dan Festval Berlin pada Juni nanti berasal dari naskah drama yang dia tulis, judulnya Kenangan Tanjungkarang.

Kok bisa sih Kak Iswadi meraih semua itu? Dalam wawancara panjang kami dengan Kak Is, kami mendapatkan jawabannya bahwa orang yang sukses adalah orang yang mau belajar dengan siapa saja dan apa saja.

Seperti Kak Is yang berhasil bukan karena dia lulusan dari universitas ternama, melainkan dari semangat belajarnya yang tidak pernah usai. Dia belajar secara autodidak kepada seniman-seniman besar yang ada di sekelilingnya. Bahkan, Kak Is juga belajar dari televisi dan buku-buku kesenian. Satu lagi, sejak SD Kak Is sudah senang dengan puisi dan kesenian.

Kak Is baru mulai menulis naskah drama ketika duduk di kelas satu SMA. Dia diminta untuk menuliskan naskah drama untuk pementasan di sekolah. Nah, karya pertama Kak Is itu berjudul Suara-Suara dari Balik Terali.

Menurut Kak Is, dia terilhami oleh kisah Nabi Isa yang diminta memutuskan perkara tentang seorang yang mencuri gandum untuk memberi makan anak istrinya yang kelaparan dan hampir mati. Orang itu memilih apa? Kalau tidak mencuri, anaknya mati, kalau mencuri, gandum itu milik orang lain. Akhirnya orang itu memilih biji gandum milik tetangganya yang kaya.

"Di manakah kebenaran dan keadilah itu? Itu adalah inti dari perdebatan dua narapidana yang dilakonkan dalam drama ini," ujarnya. Wah, waktu itu kan Kak Is baru kelas dua SMA, tapi pemikirannya sudah sejauh itu ya? Weleh-weleh, berat-berat...He..he...

Selanjutnya, kelas dua SMA, Kak Is ikut Lomba Penulisan Naskah Drama untuk pelajar seluruh Indonesia. Pada lomba ini dia kembali meraih juara dari naskah yang berjudul Tuhan dan Aku. Begitu seterusnya sampai saat ini sudah tidak terhitung berapa naskah yang sudah dia tulis dan bukukan. Bahkan, puluhan piala juga sudah dia kumpulkan.

Teman-teman tahu tidak, dengan kemampuannya menulis naskah itu, Kak Is sudah berkeliling ke berbagai negara di dunia lo. Kak Is tidak hanya menjadi seorang penulis naskah dan sutradara terbaik Indonesia, tetapi dia juga sering membagi ilmunya dengan para sutradara luar negeri. Wah, keren ya.

Untung, kami menjadi reporter cilik Lampung Post sehingga kami menjadi tahu bahwa tidak ada bakat yang tidak berguna. Bahkan, ketika seseorang punya bakat dan potensi di kesenian dan teater sekalipun, dia akan sukses asal tekun dan bekerja keras. Ini menjadi pelajaran berharga bagi kami, kami akan gali terus bakat dan potensi kami. Ayo belajar. Semangat! n M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 7 Februari 2010

[Reporter Cilik] Teater Satu Lampung Terbaik di Indonesia

TEMAN-TEMAN pembaca setia Lampung Post, kita kenalan yuk. Kami dua reporter cilik Lampung Post dari SD Kristen Penabur Bandar Lampung; Yosia Gilbert Wuaten dan Natasha Wijaya.

Iswadi Pratama (paling kiri) diwawancarai reporter cilik Lampung Post dari SD Kristen Penabur, Bandar Lampung Yosia Gilbert Wuaten dan Natasha Wijaya (LAMPUNG POST/M. REZA)

Kami mendapat kehormatan bisa mewawancarai seorang seniman Lampung yang terkenal, Kak Iswadi Pratama. Teman-teman, biasanya kita ragu-ragu dan takut ketika ingin mewawancarai seseorang yang tenar. Semula kami juga merasa begitu. Tapi setelah kami bertatap muka langsung dengan Kak Is, keraguan dan ketakutan itu hilang.

Ternyata Kak Iswadi Pratama adalah orang yang sangat rendah hati dan ramah. Kami yang didampingi Pak Agoes Soesiyono, guru kami, Kak Rinda dan Pak Sudarmono dari Lampung Post, disambut Kak Is di sebuah warung kecil di kompleks Taman Budaya Provinsi Lampung.

Di situ kami mengobrol santai. Aneh ya, orang besar menjumpai wartawan dengan nongkrong di warung. Tapi bagi seorang seniman, hal itu merupakan hal yang wajar. Nah, inilah hasil wawancara kami dengan beliau.

LATIHAN. Teater Satu sedang latihan. (LAMPUNG POST/M. REZA)


Perkenalkan, Kak, saya Gilbert dan ini teman saya Natasha. Nama Kakak siapa?

Iswadi Pratama.

Apa nama kelompok teater asuhan Kakak?

Nama kelompok teater kami, Teater Satu.

Kapan kelompok Teater Satu dibentuk?

Teater Satu dibentuk tanggal 18 Oktober 1996.

Di mana alamat kantor Teater Satu?

Di Jalan Sisingamangaraja Nomor 17. Tapi latihannya di Taman Budaya.

Apakah Kakak dan anggota teater Kakak dibayar?

Di Teater Satu itu tidak ada orang yang membayar kami, saya tidak dibayar jadi sutradara. Tapi, kalau ada yang mengudang kita untuk melakukan pertunjukan, ya kita dibayar. Kalau kita yang menggelar pertunjukan teater, kita menjual tiket.

Kenapa sih Kakak dan kawan-kawan mau berteater?

Karena teater itu sangat bermanfaat untuk membantu pencerdasan bangsa. Jadi untuk mencerdaskan bangsa itu nggak hanya sekolah, di kelompok kesenian juga bisa menambah pengetahuan, keilmuan, dan keterampilan.

Apa saja prestasi yang telah berhasil diraih Teater Satu?

Teater Satu telah beberapa kali meraih juara pada festival teater tingkat nasional. Misalnya pada 2003 meraih GKJ Award untuk kategori sutradara terbaik, naskah terbaik, aktris terbaik, dan tentu saja sebagai teater terbaik. Tiga kali berturut-turut mendapat hibah seni dari Yayasan Kelola, yaitu pada 2002, 2004, dan 2009. Mewakili Indonesia dalam IPAM (Internasional Performing Art Marts) di Pantai Nusa Dua, Bali. Pada 2009 dinobatkan sebagai teater terbaik di Indonesia versi majalah Tempo. Tahun ini Teater Satu akan mewakili Indonesia dalam Art Summit pada Oktober nanti.

Di mana saja Teater Satu pernah pentas?

Di semua kota besar di Indonesia.

Apakah dalam waktu dekat ada festival?

Ya, Mei ini berangkat ke Jerman untuk mengikuti festival Horison-Horison Indonesia dan Festival Berlin, pementasannya Juni. Kebetulan naskah drama yang saya garap, oleh sutradara Hongaria juga digarap, pementasannya nanti berkolaborasi dengan seluruh perwakilan teater dunia.

Apa judul naskah yang akan dimainkan di Jerman?

Judulnya Kenangan Tanjungkarang.

Apa yang menarik dari lakon 'Kenangan Tanjungkarang'?

Yang menarik adalah karena naskah itu menceritakan masalah yang dialami masyarakat kota di negara berkembang, menggunakan larik-larik puisi dan banyak mengeksplorasi gerak.

Berapa lama waktu latihan untuk mementaskan sebuah lakon?

Tidak kurang dari 3 bulan. Bisa lebih. Minimal 100 x latihan. Bahkan untuk pementasan lakon Nyai Ontosoroh, kami berlatih selama satu tahun lebih guna meraih kesuksesan pementasan.

Sudah berapa lakon yang pernah dipentaskan oleh Teater Satu?

Sejak dibentuk hingga kini, tidak kurang dari 50 lakon, baik karya-karya penulis besar dunia, nasional, maupun karya saya sendiri.

Minimal pendidikan apa jika ingin menjadi anggota Teater Satu?

Kelas dua SMA

Siapa saja pemain terbaik di Teater Satu?

Hampir semua aktor/aktris di Teater Satu, baik anggota lama maupun baru sudah pernah meraih juara.

Berapa jumlah anggota Teater Satu?

Yang aktif 15 orang dan yang tidak 25 orang.

Apa saja yang dilakukan dalam latihan berteater?

Selain berlatih akting, para pemain teater juga berlatih olah vokal, olah pernapasan, meditasi, olah tubuh, bahkan berlatih bela diri dan senam untuk memperoleh kebugaran dan kelenturan tubuh.

Kapan Kak Is mulai suka dengan kesenian?

Sejak SD saya sudah mulai menulis puisi. Ketika SMP, saya gemar menonton acara Bina Drama di TVRI. Itu kira-kira tahun '80-an.

Apa judul lakon pertama yang Kakak tulis?

Judul karya pertama saya Suara-suara di Balik Terali. Itu saya tulis ketika saya masih duduk di bangku SMA.

Ih, ngeri dong. Apa isi ceritanya, Kak?

Isinya perdebatan para napi tentang kebenaran. Kisah itu terilhami dari kisah Nabi Isa yang diminta memutuskan perkara tentang seseorang yang terpaksa mencuri gandum untuk memberi makan istri dan anaknya yang hampir mati kelaparan.

Ketika masih sekolah, pernahkah Kak Is meraih juara di bidang seni?

Pernah sebanyak 54 kali. Dari 54 kali juara itu, yang 12 sebagai juara II dan sisanya juara I. Tapi piala-piala itu akhirnya saya masukkan dalam karung, dan saya hancurkan dengan palu.

Kenapa Kakak melakukan itu?

Piala-piala itu telah membuat Kakak tinggi hati. Padahal Kakak tidak ingin menjadi orang yang sombong.

Dari mana sih Kak Iswadi belajar berteater? Apakah Kak Is kuliah di bidang seni?

Kakak belajar secara autodidak alias belajar sendiri, tanpa guru. Karena saya memang berminat dalam bidang teater, saya tidak pernah main-main dalam belajar. Semua saya pelajari dengan tekun dan serius. Ya hasilnya seperti sekarang ini. Kakak berhasil membentuk sebuah kelompok teater yang berprestasi sesuai dengan namanya Teater Satu, to be the best. n M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 7 Februari 2010

February 6, 2010

[Numpang Liyu] Asarpin

Oleh Harun Muda Indrajaya

Tabik pun, nabik tabik. Sikandua haga numpang cawa. Cawa puuun...

SASTRAWAN Lampung, Asarpin Aslami memperoleh Hadiah Sastra Rancage 2010 atas karyanya “Cerita-Cerita Jak Bandar Negeri Semuong” (BE Press, 2009), sebuah kumpulan cerpen berbahasa Lampung.

HMI pribadi sudah membaca buku ini saat buku tersebut baru selesai dicetak. Rekan-rekan dari BE Press memang cukup intim dan punya benang merah yang rapat dengan kru redaksi LE. Sedari awal membacanya, HMI sangat bahagia. Pasca Udo Z Karzi lewat Mak Dawah Mak Dibingi, dulu sempat khawatir bahwa buku sastra berbahasa Lampung akan kembali tergerus zaman, tetapi langsung dua buku yang tiba di meja kerja HMI, karya Asarpin dan karya Oky Sanjaya, keduanya berbahasa Lampung walau berbeda dialek. Itulah Lampung kita semua, kaya ragam dan sama indah.

Sekira dua hari silam, HMI kembali dikirimi buku tersebut, kali ini ada pula cerita soal Radin Inten. Mantap dan sangat membanggakan.

Dari perbincangan yang ada, rupanya ada pula yang melontarkan kontroversi soal kualitas kesusastraan buku tersebut. HMI pribadi menyikapinya dengan wajar. Kontroversi dan perdebatan bukanlah sebuah hal yang salah. Tetapi, hari ini ‘pengantin’-nya adalah Asarpin. HMI pribadi angkat topi, acung jempol dan mengucapkan penghargaan yang setinggi-tingginya. Makin banyak orang Lampung macam dia, makin kaya kita.

Kalau ada yang merasa kurang senang, iri ataupun mampu melihat ketidaksempurnaan karya itu, ayo bikin juga. Berkompetisilah yang sehat dan beradu hebat dengan karya. Kualitas hanya bisa diperoleh dengan kompetisi yang ketat dan adil. Berceloteh soal kesempurnaan adalah kebisaan setiap orang. Tetapi menghasilkan karya adalah ranah mutlak si pemilik rasa kreatif. Kalau ada penilai positif dan penilai negatif, jangan pula jengah, dua sisi selalu ada dalam satu soalan.

Kita semua memahami, perkembangan budaya Lampung berada dalam kondisi yang kurang memuaskan. Gerusan budaya luar dan modern yang kerap tampak lebih berkilau membuat pelaku budaya dan orang-orang Lampung yang masih menggali dan mempraktikkan budaya Lampung dalam kehidupan sehari-harinya terus terpinggirkan. Harus ada orang-orang kreatif semacam Udo Karzi, Asarpin Aslami dan Oky sanjaya lain yang mampu mengemas rasa kreatifnya menjadi karya budaya yang bisa dicuatkan.

HMI mendukung seratus persen. Bahkan tak segan pula kalau harus ikut berkontribusi secara langsung dan riil dalam ‘pergerakan’ memajukan budaya Lampung lewat berbagai cara yang elegan dan intelektual seperti pelestarian sastra berbahasa Lampung seperti ini. Lampung milik kita semua. Keberagaman adalah pemasti kekayaan, bukan dikedepankan berbedanya sehingga merasa perlu berkonflik. Mak kham sapa lagi, mak ganta kapan lagi.

Tabik pun, nabik tabik. Sikandua kilu mahap. Numpang liyu puunn..

Sumber: Lampung Ekspres Plus, Sabtu, 6 Februari 2010

February 5, 2010

Cetik Makin Digemari, Pelestarian Terus Berjalan

Bandar Lampung, Kompas - Alat musik tradisional Lampung, cetik, mulai digemari masyarakat Lampung. Alat musik yang terbuat dari bambu itu kini bukan hanya dipelajari di sekolah formal di Lampung, menjadi kurikulum di Sekolah Tinggi Agama Hindu, tetapi juga sudah berkembang sebagai alat musik pengiring ibadah di pura.

Syafril Yamin, seniman cetik Lampung, Kamis (4/2), mengatakan, alat musik cetik atau dalam bahasa Lampung dikenal sebagai gamolan pekhing, merupakan alat musik tradisional Lampung yang sangat lambat perkembangannya. Sebelum tahun 1990, cetik hanya dikenal sebagai alat musik yang dimainkan saat upacara adat atau upacara penyambutan tamu.

Alat musik cetik juga belum memiliki peraturan baku dalam memainkan nadanya sehingga generasi muda Lampung enggan belajar memainkan cetik.

Hal itu menyebabkan pemainnya hanya terbatas pada seniman cetik. Mereka juga hanya ada di sanggar kesenian Lampung.

Kini, pemakaian cetik sudah berkembang, tidak saja saat acara adat atau penyambutan tamu, tetapi juga menjadi alat pengiring tarian ataupun ibadah di pura. Hal itu terjadi karena notasi atau aturan nada memainkan cetik sudah dituliskan sehingga memudahkan pemain pemula belajar.

Syafril mengatakan, Dewan Kesenian Lampung terus melakukan pelatihan permainan cetik kepada pelajar dan mahasiswa di Lampung agar mereka turut mendukung perkembangan pelestarian alat musik cetik. ”Sekarang perkembangannya menggembirakan. Meski baru sebatas bisa memainkan cetik, gairahnya sudah ada di mana-mana,” ujar Syafril.

Cetik pun sudah masuk dalam ranah musik kontemporer. Cetik sudah diikutsertakan dalam musik dengan band. Bahkan, menjadi materi pelajaran ekstrakurikuler.

I Wayan Sumerta Dana adalah penemu notasi musik atau aturan nada cetik. ”Kami tengah mengembangkan pemakaian cetik sebagai alat musik pengiring ibadah di pura,” ujar Wayan.

Cetik juga diapresiasi mahasiswa ISI Yogyakarta dan ISI Denpasar. ”Kami akan terus mempromosikan,” ujar Wayan. (hln)

Sumber: Kompas, Jumat, 5 Februari 2010

February 4, 2010

Rancage Literary Awards go to local short story writers

Oyos Saroso H.N., Bandarlampung

Short story writers have won all of the 2010 Rancage Literary Awards, which recognise outstanding literature written in local languages.

The awards will be presented in Yogyakarta in May this year.

The Rancage Cultural Foundation has selected this year’s award winners, given annually to Sundanese, Javanese, Balinese and Lampung literary figures for their creative excellence and dedication to preserving local literary traditions.

Lampung writer Asarpin Aslami, a former Urban Poor Consortium activist, won the award for his collection of short stories Cerita-Cerita Jak Bandar Negeri Semuong (Stories from Bandar Negeri Semuong), while Sundanese writer Usep Romli H.M was recognized for his compilation of short stories Sanggeus Umur Tunggang Gunung (After getting older).

The winner of the Javanese literary works category went to Sumono Sandi Asmoro for his compilation of stories Layang Panantang (Letter of challenge), while I Wayan Sandha won the award for his work Leak Pemoroan.

Ajip Rosidi, who founded Rancage, said the awards were first handed out in 1989 and were initially only for Sundanese literary works. Since 1994, he said, the awards had also recognized Javanese literary works. The awards have continued to evolve, with Balinese and Lampung writers recognized in 1997 and 2008.

The award to Asarpin was the second to a Lampung writer. In 2008, the award went to Lampung’s Udo Z. Karzi for his book of poems.

“Asarpin’s short story compilation is the first modern story written in the Lampung language and it contains both traditional and modern values,” Ajip Rosidi said on Tuesday.

He hoped the awards would encourage the development of local literary works in the region.

“It may not be big business, but the publication of Sundanese, Javanese and Balinese literary works continues with new books being published or reprinted.

“Many Sundanese literary works that are being reprinted are those published before the war, which shows that readers are elderly people who want to read the books they have read before,” Ajip said.

Asarpin said the recognition of Lampung literary works by Rancage was a slap in the face for the Lampung administration, which paid no attention to local literature.

“Rancage can motivate Lampung writers to keep on producing work. Lampung literature will die out if they’re not being published or getting support from the community,” he said.

The director of the Jung Foundation on Lampung heritage, Christian Heru Cahyo, said the provincial administration had yet to play a role in developing Lampung literature and culture or help writers get their work written published.

“The Lampung provincial administration is too busy with the ‘Visit Lampung Year program’,” he said.

“There has been no real effort to preserve Lampung literature and culture. Moreover, no magazine or newspaper runs Lampung works.”

Sorce: The Jakarta Post - Thu, 02/04/2010

February 3, 2010

Pendidik: Tidak Ada Peminat Guru Bahasa Lampung

Bandar Lampung, Kompas - Wali Kota Bandar Lampung memprihatinkan tidak adanya peminat guru Bahasa Lampung di Bandar Lampung. Hal itu terlihat dari selama empat kali pembukaan pendaftaran calon pegawai negeri sipil daerah, untuk posisi guru Bahasa Lampung selalu kosong, tanpa peminat.

”Saat ini mungkin masih ada yang mengajar, tetapi itu pun orang Jawa. Sementara makin ke sini, minat masyarakat Lampung untuk mempelajari dan mengajar Bahasa Lampung makin kecil,” ujar Wali Kota Bandar Lampung Eddy Sutrisno pada acara penyerahan Surat Keputusan (SK) Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah (CPNSD) 2010 untuk 341 pelamar umum dan 174 pelamar honorer di Bandar Lampung, Selasa (2/2).

Ia mencermati, setiap kali pembukaan pendaftaran CPNSD mulai 2005 sampai dengan 2009, formasi atau posisi untuk guru Bahasa Lampung selalu kosong alias tidak pernah terisi.

Sudjarwo, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung, mengatakan, program studi D-2 dan D-3 Bahasa Lampung sudah ditutup sejak tahun 2007. Hal itu karena sejak Program Diploma Bahasa Daerah Bahasa Lampung dibuka pada tahun ajaran 1998/1999, belum semua lulusan jurusan Bahasa Lampung terserap sebagai guru Bahasa Lampung. Atau, apabila lulusan sudah terserap sebagai guru melalui formasi CPNSD, para guru lulusan program studi Bahasa Lampung tersebut belum juga diangkat sebagai PNS sampai dengan sekarang.

”Hal itu berdampak pula pada lulusan lainnya, mereka enggan mengikuti lulusan-lulusan sebelumnya untuk mengisi formasi,” ujar Sudjarwo.

Padahal, Program Studi Bahasa Daerah Bahasa Lampung itu dibuka sebagai terobosan untuk memenuhi kebutuhan guru bahasa daerah Bahasa Lampung yang masih kurang. (HLN)

Sumber: Kompas, Rabu, 3 Februari 2010

Tujuh Orang Raih Hadiah Sastra Rancage 2010

TEMPO Interaktif, Bandung - Yayasan Kebudayaan Rancage mengumumkan sastrawan peraih Hadiah Sastra 2010. Penghargaan ke-22 itu diberikan untuk karya buku sastra berbahasa daerah terbaik dan orang-orang yang melestarikan bahasa daerah. Penyerahan hadiah akan dilakukan Mei mendatang di Universitas Negeri Yogyakarta.

Menurut Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi, dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo hari ini (3/2), dewan juri memilih buku sastra yang ditulis dengan bahasa Sunda, Jawa, Lampung, dan Bali. Buku sastra Sunda yang terpilih berjudul Sanggeus Umur Tunggang Gunung karya Usep Romli H.M. Sedangkan buku bahasa Jawa terbaik diraih Layang Panantang karya Sumono Sandi Asmoro.

Dewan juri juga memilih buku berjudul Leak Pemoroan karya I Wayan Sadha dari Bali dan Cerita-cerita Jak Bandar Negeri Semuong tulisan Asarpin Aslami dari Lampung. Selain itu, hadiah juga diberikan kepada tiga orang yang berjasa memperkaya dan melestarikan bahasa daerah. Mereka adalah Karno Kartadibrata, Bonari Nabobenar, dan Agung Wiyat S.Ardhi.

Seluruh pemenang itu terpilih dari buku-buku sastra berbahasa daerah yang baru terbit atau hasil cetak ulang sepanjang 2009. Kali ini, Hadiah Samsudi untuk bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda urung diberikan karena tak ada buku yang layak. Dewan juri hadiah tersebut melibatkan Ajip Rosidi, Sri Widati Pradopo, dan I Made Darma Putra.

Hadiah Sastra Rancage adalah penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang dianggap berjasa bagi pengembangan bahasa dan sastra daerah. Pada 1989-1993, penghargaan tersebut hanya diberikan untuk buku sastra Sunda. Sejak 1994, penghargaan juga diberikan untuk buku sastra Jawa, Bali mulai 1998, dan sastra Lampung pada 2008.

ANWAR SISWADI

Sumber: Tempo Interaktif, Rabu, 03 Februari 2010

February 2, 2010

Langkan: Peraih Penghargaan Rancage Diumumkan

KETUA Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi mengumumkan peraih Penghargaan Rancage 2010 untuk karya sastra dan tokoh Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung di Universitas Padjadjaran Bandung, Minggu (31/1) malam. Secara resmi, penghargaan ini akan diberikan pada Mei 2009 di Universitas Negeri Yogyakarta. Karya sastra Sunda terbaik jatuh pada Saenggeus Umur Tunggang Gunung karya Usep Romli. Sementara itu, tokoh Sunda yang kiprahnya dianggap paling berdedikasi jatuh kepada Karno Kartadibrata. Di bidang sastra Jawa, karya terbaik adalah Layang Panantang karya Sumono Sandi Asmoro. Adapun tokoh berdedikasi diberikan kepada sastrawan Bonari Nabobenar. Untuk sastra Bali, karya juara adalah Leak Pamoroan oleh Agung Ardi, dan sastra Lampung diraih Cerita-Cerita jak Bandar Negeri Semuong karya Asrapin Aslami. Sementara itu, penghargaan Samsudi untuk karya sastra anak terbaik tahun ini tanpa penerima. Alasannya, tidak ada karya sastra bertema anak-anak yang dianggap layak menerima. Hadiah Sastra Rancage pertama kali diberikan tahun 1989, khusus untuk sastrawan yang menulis dalam bahasa Sunda. Tahun-tahun selanjutnya hadiah ini diberikan kepada sastrawan yang menulis dalam bahasa Jawa (1994), Bali (1997), dan Lampung (2008). (CHE)

Sumber: Kompas, Selasa, 2 Februari 2010

Hadiah Sastra Rancage 2010

Keputusan

HADIAH SASTERA “RANCAGÉ” 2010



Alhamdulillah pada tahun ini untuk ke-22 kalinya Hadiah Sastera “Rancagé” diberikan untuk sastera bahasa Sunda, yang ke-17 kalinya untuk sastera bahasa Jawa, untuk yang ke-14 kalinya untuk sastera bahasa Bali dan untuk kedua kalinya untuk sastera bahasa Lampung. Untuk sastera bahasa Sunda dan bahasa Bali diberikan setiap tahun tanpa putus. Untuk sastera Jawa pernah hadiah untuk karya tidak diberikan pada tahun 1995 karena tidak ada buku sastera yang terbit tahun 1994. Dan untuk bahasa Lampung setelah diberikan sekali (2008), tahun berikutnya tidak diberikan karena tak ada karya sastera yang terbit dalam bahasa tersebut tahun 2008. Seperti diketahui hadiah untuk karya diberikan kepada sasterawan yang menerbitkan buku yang terbit tahun sebelumnya.

Dalam tahun 2010, Hadiah Sastera “Rancagé insya Allah akan diberikan kepada para sasterawan yang menulis dalam bahasa Sunda, Jawa, Bali dan Lampung. Meskipun masih merupakan kegiatan rumahan, belum menjadi industri yang sesungguhnya, penerbitan buku bahasa Sunda, Jawa dan Bali secara tetap setiap tahun masih berjalan, selalu ada buku karya sastera baik baru maupun cétak ulang yang terbit. Adanya cétak ulang merupakan pertanda bahwa masarakat menyerap buku tersebut. Sayang dalam kasus bahasa Sunda, buku cetak ulang terutama merupakan buku-buku lama terbitan sebelum perang. Hal itu menunjukkan bahwa pembaca buku bahasa Sunda terutama masih orang-orang lama yang ingin membaca lagi buku yang pernah dibacanya sekian waktu yang lampau. Tapi dengan begitu maka buku-buku lama juga dibaca oléh anak-anak muda untuk pertama kali. Dengan demikian mereka mendapat kesempatan untuk mengenal buku-buku yang terbit sebelum meréka lahir sehingga meréka dapat mengikuti perkembangan sastera bahasa ibunya.



Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 untuk sastera Sunda

Dalam tahun 2009, buku bahasa Sunda yang terbit, baik asli maupun terjemahan, baik baru maupun cétak ulang, semuanya ada 30 judul, termasuk 4 judul buku bacaan anak-anak. Namun buku baru hanya 13 judul dan yang bukan terjemahan atau kumpulan karya bersama hanya 4 judul. Di samping itu ada 4 judul buku baru bacaan anak-anak. Cétak ulang ada yang asli (Pangéran Kornél karya R. Méméd Sastrahadiprawira, Perang Bubat, Pamanah Rasa, Putri Subanglarang, dan Prabu Anom Jayadéwata karya Yoséph Iskandar, Ménak Baheula karya Caraka, Kalepatan Putra Dosana Ibu-rama karangan Joehana, Wawacan Panji Wulung karya Moh. Musa, Rasiah Geulang Rantay karya Nanie Sudarma, Onom jeung Rawa Lakbok karya R.A. Danadibrata dan Ngalanglang Kasusastran Sunda karya Ajip Rosidi) dan ada juga yang terjemahan (Pependeman Nabi Sulaéman karya Moh. Ambri). Begitu juga buku baru, ada yang asli (Néléngnéngkung karya Wahyu Wibisana, Di Nagri Katumbiri karya Dédy Windyagiri, Salawé Sesebitan Hariring karya Apung S.W., Sanggeus Umur Tunggang Gunung karya H. Usép Romli H.M., Sastra Sunda Pinilih kumpulan karya pemenang Hadiah Sastera LBSS 2006-2008, Sajak Sunda suntingan Aan Merdéka Permana karya 10 orang penyair, Carita Kriminal dan Carita Mistéri karya Aan Permana Merdéka, Dangdanggula Sirna Rasa, Kinanti Kulu-kulu, Sinom Barangtaning Rasa, Sinom Wawarian dan Asmarandana nu Kami, kelimanya guguritan karya Haji Hasan Mustapa yang diusahakan oléh Ajip Rosidi) dan ada juga terjemahan (Al Hikmah terjemahan Qur’an basa Sunda oléh H. Maryati Sastrawijaya).

Dalam Néléngnéngkung, Wahyu Wibisana mencoba menghidupkan kembali kenang-kenangannya semasa kecil. Judulnya adalah lagu yang sering dinyanyikan para ibu ketika menimang anaknya yang masih bayi. Karena dia dilahirkan dan menjadi besar di kampung, maka yang dikisahkannya adalah kehidupan kampung Sunda di kaki gunung Galunggung, Tasikmalaya. Akhirnya dia meninggalkan kampungnya itu karena bekerja sebagai guru di berbagai tempat dan akhirnya menetap di Bandung, kota yang disebut dalam nyanyian “Néléngnéngkung”. Meski ia mencoba bercerita sebagai anak kecil yang dikisahkannya, namun dalam berbagai hal dia lebih menampilkan imajinasinya setelah menjadi tua (pada waktu menulisnya) misalnya ketika menceritakan bulan puasa.

Di Nagri Katumbiri merupakan kumpulan sajak dan guguritan (puisi tradisi yang bentuknya terikat sebagai pengaruh dari macapat Jawa). Sebelumnya Dédy menerbitkan kumpulan guguritan yang pertama dalam bahasa Sunda) berjudul Jamparing Hariring (1991) dan kumpulan sajak Di Lembur Bulan Dikubur (1992). Dalam sajak-sajaknya apalagi dalam guguritannya, Dédy senang sekali bermain-main dengan bunyi kata-kata yang merupakan purwakanti. Mungkin karena itu para juru tembang Cianjuran memuji guguritan Dédy sebab bagus kalau dinyanyikan. Tetapi purwakanti itu sayang sekali hanya indah bunyinya saja, tidak mengandung bobot isi yang bernas, karena hanya seputar hubungan perasaan lelaki terhadap perempuan. Juga sajak-sajak dan guguritan yang dimuat dalam Di Nagri Katumbiri terasa mengambang dalam permainan kata.

Apung menulis semacam mémoar yang bertalian dengan dunia Tembang Sunda. Dia mémang dikenal sebagai juru tembang Cianjuran terkemuka dan sering menulis pandangan-pandangannya – di samping menulis guguritan untuk tembang. Guguritan yang dia tulis diterbitkan dalam Lagu Liwung Urang Bandung (2006). Dalam Salawé Sesebitan Hariring (Duapuluh lima carik Senandung) dimuat 25 buah karangan berupa pandangan dan pengalamannya selama aktif dalam dunia Tembang Sunda. Caranya menulis menarik dan lancar, isinya pun banyak memberikan informasi baru dan menimbulkan bahan pikiran bagi meréka yang berminat terhadap Tembang Sunda – yang sering tidak terpikir oléh orang lain.

Sanggeus Umur Tunggang Gunung (Setelah Usia Lanjut) adalah kumpulan cerita péndék H. Usép Romli. Sebelumnya Usép menerbitkan Ceurik Santri (1985), Jiad Ajengan (1993), dan Paguneman jeung Fir’aon (2006), ketiganya kumpulan cerita péndék. Tapi ia juga menulis sajak, antaranya terbit dalam dua kumpulan Sabelas Taun (1979) dan Nu Lunta Jauh (1992). Roman pun dia tulis, yaitu Nganteurkeun (1986) dan Béntang Pasantrén. Dia pun banyak menulis cerita bacaan anak-anak. Selain dalam bahasa Sunda Usép banyak menerbitkan buku dalam bahasa Indonésia.

Ada sembilan cerita péndék yang dimuat dalam Sanggeus Umur Tunggang Gunung, melukiskan berbagai masalah yang dihadapi oléh orang Sunda di perkampungan yang dilanda oléh “pembangunan” sehingga oléh tokoh-tokohnya yang sudah “tunggang gunung” (menjelang usia senja) dibandingkan dengan keadaan masa kecil meréka ketika perkampungan masih “utuh”. Bukan hanya alam dan lingkungan saja yang berubah tapi alam pikiran dan kehidupan pun sudah berbéda. Téma yang digarap dalam kumpulan ini sebenarnya tak banyak berbéda dengan yang sudah ditulis Usép dalam karya-karyanya yang lebih dahulu, tetapi lebih matang dan dengan cara yang lebih inovatif. Misalnya yang berjudul “Néangan Pajaratan” (Mencari Makam) adalah kisah yang disampaikan oléh orang pertama. Tetapi sejak awal sampai akhir tidak ada satu kata “kuring” atau pun padanannya tertulis di dalamnya. Usép memanfaatkan secara maksimal sifat bahasa Sunda yang dapat membentuk kalimat tanpa subyék. Hal yang pernah dilakukan oléh Moh. Ambri dalam Numbuk di Sué (1932)

Nada dasar Islam yang menjadi téma umum karya-karya Usép, dalam beberapa cerita dalam Sanggeus Umur Tunggang Gunung dikemukakan secara tidak langsung. Dalam “Lauk Cimanuk” dengan mempertentangkan orang yang berhasil memancing ikan besar dari Cimanuk tapi terpaksa meninggalkan salat sehari suntuk. Dalam “Tawuran” digambarkan kiai dan ustad yang hendak merundingkan jalan pemecahan mengatasi tawuran antar kampung, malah lupa daratan menghadapi hidangan makanan énak. Dalam “Tower” dengan melukiskan keiklasan orang yang memberikan uang simpanan untuk menunaikan ibadah haji kepada tetangga yang lebih memerlukannya. Dalam “Ahli Waris” turunan dukun termashur meninggalkan “pekerjaan warisan” nénékmoyangnya karena melihat perubahan zaman yang tidak cocok lagi dengan perdukunan yang mengandalkan asap kemenyan. Sebaliknya seorang kemenakannya berhasil menjalankan tugas melayani keinginan orang yang datang meminta tolong dengan aktif dalam dunia periklanan. Dan dalam “Kasaktén Abah Suma”, Usép seakan memberikan konfirmasi terhadap ma’unah yang diberikan Tuhan kepada orang tertentu yang benar-benar iklas dan benar-benar merasa sama sekali tak berdaya kecuali atas izin Tuhan.

Dan semuanya diceritakan Usép dengan lancar secara wajar sehingga terciptalah dunia imajinasi yang khas sebagai sastera. Dengan demikian buku sastera Sunda yang terpilih untuk mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 buat karya adalah

Sanggeus Umur Tunggang Gunung

Karya H. Usép Romli H.M.

Terbitan Kiblat Buku Utama, Bandung

Maka kepada H. Usép Romli H.M., akan disampaikan Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).

Sedangkan yang terpilih untuk mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 buat jasa karena besar jasanya dalam memperkaya bahasa Sunda dengan tulisan-tulisan yang bersifat sosial-politik adalah

Karno Kartadibrata

(lahir di Garut 10 Fébruari, 1945)

Sebagai redaktur (kemudian Wakil Pemimpin Redaksi) mingguan bahasa Sunda Manglé setiap pekan Karno menuliskan pandangannya tentang situasi masarakat, terutama masarakat Sunda, sejak tahun 1977. Dia mencoba mengajak pembaca untuk melihat situasi kelilingnya dengan kritis serta menghubungkannya dengan masa yang lampau atau dengan apa yang terjadi di luar masarakat Sunda. Dengan tulisan-tulisannya itu Karno memperkaya bahasa Sunda dengan tulisan-tulisan yang bersifat sosial-politik, sehingga dapat menjadi bukti bahwa bahasa Sunda tidak hanya dapat digunakan untuk menulis sajak dan cerita péndék saja. Meskipun kadang-kadang terjadi pengulangan atau seperti yang kehilangan arah, namun menulis secara tetap dari pekan ke pekan selama puluhan tahun merupakan préstasi tersendiri.

Sebelum bekerja di majalah Manglé, Karno aktif dalam pérs bahasa Indonésia. Dia pernah bekerja a.l. sebagai wartawan sk. Harapan Rakyat, lalu pindah ke mingguan Mimbar Démokrasi, koréspondén Harian Kami, redaktur Prima. Dia juga menulis sajak dalam bahasa Indonésia dan terbit dengan judul Lipstick (1981) dan Parfum ( (1997). Pernah menjadi Sékertaris PP-SS (1979) dan ketua bidang pendidikan LBSS (1994—1998). Menjadi pemrakarsa Pésta Sastera Sunda yang sempat berlangsung tiga tahun.

Kepada Karno Kartadibrata akan disampaikan Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 buat jasa berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).



Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 buat sastera Jawa

Dalam tahun 2009, buku bahasa Jawa yang terbit ada 12 judul, terdiri dari kumpulan guritan yaitu sajak (Gurit Panuwuning Urip karya David Hariyono, Gurit Abang Branang karya Rachmat Djoko Pradopo, Layang Panantang karya Sumono Sandy Asmoro dan Wong Agung: Gurit Punjul Rong Puluh karya Budi Palopo); sebuah kumpulan cerita péndék (Tembangé Wong Kangen karya Sumono Sandy Asmoro) dan sejumlah roman (Trétes Tintrim, Kunarpa Tan Bisa Kandha, Garuda Putih, Ser! Randha Cocak karya Suparto Brata; Mis, Koncoku Sinarawedi karya Rahmat Ali dan Carang-carang Garing karya Tiwiek SA).

Penerbitan kedua belas buku itu mengisaratkan beberapa fénoména penting: (1) ternyata yang menulis dalam bahasa Jawa tidak hanya meréka yang tinggal di Jawa Tengah dan Timur saja, melainkan juga di Jakarta yaitu Rahmat Ali yang mengawani Dyah Hadaning yang tinggal di Dépok. (2) Kebanyakan buku ternyata terbit di Yogyakarta, walaupun ada yang terbit di berbagai kota lain (Semarang, Surabaya, Malang). (3) Buku yang terbit ternyata kebanyakan karya pengarang Jawa Timur: Suparto Brata (Surabaya, 4 judul), David Hariyanto (Malang, 1 judul), Sumono Sandy Asmoro (Ponorogo, 2 judul). (4) Muncul karya dua orang pengarang yang telah dikenal menulis dalam bahasa Indonésia, yaitu Rachmat Djoko Pradopo dan Rahmat Ali dalam bahasa Jawa untuk pertama kali.

Hal itu membuktikan bahwa sastera Jawa tak perlu ditakutkan punah karena pendukungnya berada di berbagai daérah dan berbagai kalangan. Pengarang seperti Suparto Brata sangat produktif, setiap tahun niscaya ada bukunya yang terbit dan tidak hanya satu judul dan buku-buku itu yang berupa cerita detéktif digemari pembaca. Roman Rahmat Ali Mis, Kancaku Sinarawedi mempertentangkan watak kawannya yang ketika kecil bandel, licik tapi segar dan ceria penuh keakraban dengan keadaannya ketika kelihatan sangat tua, sakit, miskin dan rapuh. Penggunaan dialék Jawa Timuran dalam keutuhan cerita terasa mengganggu pemahaman pembaca.

Dalam romannya Carang-carang Garing, Tiwiek SA mengisahkan pengayuh bécak yang membunuh kemenakannya sendiri agar hidup anaknya dalam keluarga adik iparnya tidak terganggu. Sayang ceritanya tidak fokus karena munculnya alur tentang anaknya yang lari dari rumah. Ada kesan ditulis dengan tergesa-gesa.

Cerita-cerita péndék dalam Tembangé Wong Kangen karya Sumono Sandy Asmoro ditulis ketika penulisnya masih muda, bersuasana romantis dan melukiskan dunia kaum muda yang terbatas problim dan kedalaman pemikirannya.

Membaca keempat kumpulan guritan yang terbit tahun 2009, timbul keasyikan yang bervariasi. Dalam Gurit Panuwuning Urip, penyairnya mencari bentuk éksprési untuk setiap gagasan. Misalnya “Aku Iki” adalah pencarian jati diri pemuda yang sedang mencari idéntitas. Dalam pemilihan imaji penyair perlu mempertimbangkan dengan bening. Bentuk éksprésinya yang panjang-panjang sering mubadzir karena mengaburkan ésénsi. Meskipun demikian ada beberapa guritan yang bagus seperti “Gurit Panuwuning Urip”, “Hanaa Sira”, “Isih kaya Biyén, Jiwamu” dan “Wisa”.

Geguritan Abang Branang adalah karya penyair bahasa Indonésia yang menjadi gurubesar sastera di UGM. Guritan yang dimuat dalam kumpulan itu, ditulis sejak 1960-an sampai 2008. Dengan gaya yang ringan, dia mengemukakan kesan dan kritik terhadap kehidupan yang kompléks. Secara keseluruhan guritan dalam kumpulan ini énak dibaca, terutama yang péndék-péndék seperti “Nyekar”, “Yén Srangéngé Ngangkat Segara” dan “Ibu Kondur”. Tetapi kadang-kadang muncul juga kata-kata bahasa Indonésia bahkan Inggris.

Dalam Layang Panantang, penyairnya menunjukkan keberanian memilih dan merambah pengalaman berbagai jiwa dengan téknik éksprési yang tepat, sering dalam bentuk épigram (“Épigram Kacu Wungu”, “Épigram Jingga”, Épigram Ésuk”) atau dengan latar yang sangat Jawa (“Sokalima 2006”, “Pupuh Pamitan”, “Kembar Mayang”, “Pupuh Palaran”). Semuanya dengan kasadaran bahwa keindahan harus selaras dengan bobot pikirannya. Sejumlah guritan menggunakan tipografi, tata ruang, tata larik yang sengaja dibuat simétris untuk mengajak pembaca “masuk” ke ruang pikiran penggurit dan memberinya makna sendiri.

Secara keseluruhan Wong Agung: Gurit Punjul Rong Puluh digarap dengan dasar oralitas perpuisian Jawa yang kuat sehingga sebagian besar indah dibaca dan beréfék mantera. Namun banyak kata yang digunakan amat individual sehingga menimbulkan “kegelapan” dalam penafsiran. Misalnya guritan “Suluk Pagunungan”, “Sastera Géndra” dan beberapa lagi. Namun ada guritan yang sangat menarik, misalnya “Kembang Geni”, “Trumpah Lars”, “Srengéngé”, “Sun Tulup Biruné Langit”, dan “Wiji Thukul”.

Setelah dipertimbangkan dengan saksama, maka Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 sastera Jawa untuk karya, diberikan kepada

Layang Panantang

Karya Sumono Sandi Asmoro

(Terbitan Balai Bahasa Surabaya)



Sedangkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 sastera Jawa untuk jasa diberikan kepada

Bonari Nabobenar

(lahir di Trenggalék, 1 Januari 1964)

Bonari sejak duduk di bangku sekolah punya perhatian besar terhadap sastra. Dia lulusan IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya) jurusan Bahasa dan Sastera Indonésia. Dia aktif dalam diskusi-diskusi baik tentang sastera Jawa maupun sastera Indonésia, di kampus maupun di luarnya. Dia aktif dalam Sanggar Triwida. Setelah lulus dia mengembangkan sastra Jawa di daérah kelahirannya, Trenggalék, Jawa Timur. Dalam tahun 1993—1994 bersama beberapa orang kawannya dia melakukan gerakan kesasteraan dengan bendéra “Révitalisasi Sastera Pedalaman”.

Sebagai lulusan IKIP, dia pernah menjadi guru SLTP swasta, tapi minatnya lebih condong ke dunia sastera dan jurnalistik, antaranya menjadi redaktur Jawa Anyar (Solo). Sekarang dia menjadi redaktur X-file.

Mula-mula dia menulis sajak (guritan), cerita péndék maupun ésai yang dimuat dalam berbagai média bahasa Jawa seperti Jaya Baya, Panjebar Semangat., Mekar Sari dan Jaka Lodang. Sementara itu karya-karyanya yang berbahasa Indonésia dimuat dalam Surabaya Post, Suara Indonésia, Jawa Pos, Wawasan, Horison, dll.

Sekarang Bonari menjadi Ketua PPJPS (Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya) dan dalam beberapa tahun terakhir menjadi fasilisator penulisan kréatif tenaga kerja wanita Indonésia di Hongkong. Hasilnya telah terbit beberapa karya fiksi pengarang wanita muda dari komunitas TKI di Hongkong. Bonari juga menjadi penggerak penyelenggaraan Kongrés Sastra Jawa I (2001) di Solo dan Kongrés Sastra Jawa II (2006) di Semarang, menjadi penyelenggara Féstival Sastra Jawa dan désa (2009), dll.

Maka kepada Bonari Nabobenar akan disampaikan Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 sastera Jawa untuk jasa, berupa piagam dan uang (Rp,. 5 juta).



Hadiah sastera “Rancagé” 2010 untuk sastera Bali

Pada tahun 2009, dalam bahasa Bali terbit sembilan buku karya sastera, yaitu sebuah kumpulan puisi (Gerip Maurip Ngridip Mekedip) karya I Nyoman Manda, sebuah roman saduran (Cokorda Darma karya I Gusti Putu Antara), tujuh kumpulan cerita péndék (Cor karya I Wayan Paing, Da Nakonang Adan Tiange karya Agung Wiyat S. Ardhi, Jangkrik Maenci karya I Gusti Putu Bawa Samar Gantang, Bli Kadek karya Putu Nopi Suardani, Dasa Tali Dogén karya I Gdé Darma, Léak Pemoroan karya I Wayan Sandha dan Warisan Jagal karya IBW Keniten).

Kumpulan puisi I Nyoman Mandra sangat istiméwa, terdiri dari 4 jilid, jilid I-III tebalnya masing-masing lebih dari 1000 (seribu) halaman, sedang jilid IV kurang dari 10 halaman. Keseluruhannya lebih dari 3.500 halaman. Baik dalam bahasa Bali modéren maupun dalam bahasa Indonésia tidak pernah ada kumpulan sajak seorang penyair yang setebal itu. I Nyoman Manda mémang pengarang yang sangat produktif dalam bahasa Bali. Dia menulis sajak, roman, drama dan cerita péndék, pernah mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” tiga kali, satu untuk jasa (1998) dan dua untuk karya (2003 dan 2008). Dia juga menjadi redaktur dua majalah dalam bahasa Bali yaitu Canangsari dan Satua yang belakangan menjadi dwibahasa (dengan bahasa Indonésia).

Gerip Maurip Ngridip Mekedip jilid III khusus memuat terjemahan Manda dari para penyair Indonésia mulai dari Sanusi Pané dan Amir Hamzah, sampai Afrisal Malna dan Oka Rukmini dan penyair dari berbagai negara melalui terjemahan bahasa Indonésia al. dari Jerman, Australia, Afrika Selatan, dan Malaysia. Tapi jilid I dan II hanya memuat karya Manda sendiri. Artinya lebih dari 2.000 sajak. Témanya sangat beragam terutama berdasarkan kenyataan sehari-hari, mulai dari komérsialisasi budaya akibat industri pariwisata, korupsi, kampanye pemilu, démo anarkis, narkoba, sinétron, banjir, kenaikan harga BBM, illegal loging, kasus Prita Mulyasari, Tukul Arwana, dll. Juga topik hangat dunia menjadi sajak di tangan Nyoman Manda seperti perang jalur Gaza, kekerasan Tienamen Béijing, insidén George Bush dilémpari sepatu, Obama menghadapi krisis dunia, dll. Manda banyak mengambil inspirasi dari berita hangat dalam média massa. Kualitasnya sebagai puisi tidak merata Ada yang kuat penuh renungan dan sinisme yang tajam, tapi banyak yang mirip catatan pojok koran.

Roman Cokorda Darna adalah saduran dari Don Quixote karya Cervantes yang sudah menjadi klasik dunia. Jarang ada roman saduran dari bahasa asing ke dalam bahasa Bali, maka roman ini merupakan pembuka jalan. Sayang alur ceritanya rumit dan penuh lubang, sehingga sulit diikuti.

Tidak pernah ada pembuktian tentang adanya léak, tetapi orang Bali pada umumnya percaya bahwa mémang ada manusia sakti yang bisa menjelma menjadi léak (berbentuk bola api, monyét, babi, anjing, rangda, barong dan apa saja) dan suka menyakiti orang lain. Para pengarang Bali seakan meneguhkan kepercayaan itu léwat karya-karyanya yang bercerita tentang léak, tetapi menegaskan bahwa léak sebagai lambang ilmu hitam yang jahat itu pasti bisa dikalahkan oléh kebaikan. Dalam tujuh kumpulan cerita-péndék terbitan 2009 itu, banyak cérita tentang léak. Isi Jangkrik Maenci karya I Gusti Putu Samar Gantang, sebagian besar cerita léak. Demikian juga Léak Pemoronan karya I Wayan Sandha dan Da Nakonang Adan Tiange karya Agung Wiyat memuat cerita panjang tentang léak.

Kelemahan umum ketujuh buku itu ialah karena kualitas setiap céritanya tidak merata. Dalam Dasa Tali Dogén karya I Gdé Darma misalnya yang memuat 15 buah cerita, hanya ada dua buah cerita yang bagus dan kuat, sedang sisanya tanpa konflik dan tidak utuh sebagai cerita. Banyak yang seperti ésai atau artikel. Yang istiméwa penerbitan buku ini disertai dengan CD yang berisi rekaman pembacaan cerita-cerita itu oléh pengarangnya sendiri.

Begitu juga cerita-cerita yang dimuat dalam Cor, Bli Kadek dan Warisan Jagal tidak ada yang menawarkan kedalaman, meski kisahnya menarik tetapi selesai sebelum berakhir. Mungkin karena ditulis tergesa-gesa untuk surat kabar.

Yang menonjol adalah Léak Pemoroan (Sétan Pemoroan) karya I Wayan Sandha yang memuat 41 cerita yang ditulis sebagai skétsa kehidupan tetapi unsur naratif dan konfliknya terjaga kuat. Témanya beragam. Ada kisah léak, ada kehidupan pelacur, korban pasca-pariwisata massa, tentang kepercayaan yang berlebihan terhadap dukun, penipuan sampai fénoména multilevel marketing (MLM). “Léak Pemoroan” menuturkan ketabahan penyuluh (pencari belut dengan obor malam hari) menghadapi gangguan sétan. Dia tidak takut menghadapi manusia jadi-jadian dan menyerangnya sampai mati. Lukisan suasana malam dan perang melawan sétan ditulis dengan déskripsi yang kuat. Bahasa yang digunakan nylenéh namun mampu menggali masalah dan menggambarkan watak tokoh cerita. Kritik pedas pun dilontarkan dengan bahasa yang jernih. Dalam “Wisian Bank Dunia” dikritiknya MLM sambil menyentil “Ah, gara-gara Bank Dunia iraga nepukin soroh jelema dot sugih kuala tusing bani ngetélang peluh.” (Ah, gara-gara Bank Dunia aku menemukan kelompok manusia yang ingin kaya tetapi tidak berani menétéskan peluh). Pemakaian perumpamaan atau kiasan juga tepat sehingga membuat skétsa kehidupan ini memiliki aroma sastera yang kental.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 sastera Bali untuk karya diberikan kepada

Léak Pemoroan

Karya I Wayan Sadha

(terbitan Balai Bahasa Dénpasar)

Sedangkan yang terpilih untuk mendapat Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 sastera Bali untuk jasa, ialah

Agung Wiyat S. Ardhi

(lahir di Gianjar, 3 Fébruari, 1946)

Kegiatan Agung Wiyat meliputi dua bidang, yaitu pertama sebagai penulis kréatif yang mencipta karya sastera baik bahasa Bali tradisional maupun bahasa Bali modéren. Kedua, aktif dalam pembinaan bahasa, aksara dan sastera Bali. Dia mulai menulis dalam bahasa Bali modéren tahun 1976 dan terus aktif sampai sekarang. Sejak tahun 1991 karyanya sering menjadi juara lomba penulisan puisi atau cerita péndék di Bali. Tahun 1997 kumpulan ceritanya Bogolan menjadi juara pertama. Tahun 2001 kumpulan cerita péndéknya Gending Girang Sisi Pekerisan mendapat Hadiah Sastera “Rancagé”. Karyanya yang lain adalah kumpulan naskah drama Bogolan termasuk Mandor Bawah (2002), Bukit Buung Bukit Mentik (2004) dan Da Nakonang Adan Tiange (2009).

Di bidang sastera Bali tradisional, Agung Wiyat banyak menyalin dan menguraikan arti bagian-bagian épos Mahabharata dan Ramayana serta cerita-cerita Tantri. Yang sudah dia salin adalah Prastanika Parwa (2004), Swarga Rohana Parwa (2004), Wirata Parwa (2006) dan Uttara Kanda (2008). Semuanya diterbitkan sebagai buku dengan aksara Bali, sehingga menjadi sarana bagi para peminat untuk menikmati karya sastera dalam aksara Bali atau mempelajarinya.

Sejak 2000 Agung Wiyat aktif dalam berbagai tim pembina bahasa, sastera dan aksara Bali yang memberikan penyuluhan kepada kelompok para guru, pelajar, dan ibu-ibu PKK. Agung Wiyat juga aktif dalam pembinaan kelompok mabebasan atau pesantian (menyanyikan dan menguraikan arti puisi tradisional termasuk gaguritan, kidung, dan kakawin). Di samping itu ia juga duduk dalam tim yang menyeléksi dan menyiapkan tim mabebasan kabupatén (Gianyar) untuk perlombaan tingkat provinsi yang diselenggarakan dalam Pésta Kesenian Bali yang berlangsung setiap tahun.

Dengan demikian maka Hadiah Sastera “Rancagé’ 2010 sastera Bali untuk jasa diberikan kepada Agung Wiyat S. Ardhi berupa piagam dan uang (Rp. 5 juta).



Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 untuk sastera Lampung

Hadiah sastera “Rancagé” untuk karya pernah diberikan untuk sastera Lampung pada tahun 2008 karena ada buku karya sastera dalam bahasa Lampung terbit pada tahun 2007. Tapi pada tahun 2008 tak ada yang terbit, sehingga tahun yl. tak ada Hadiah “Rancagé” untuk sastera Lampung. Tahun 2009 terbit dua buku dalam bahasa Lampung, sehingga akan diberikan Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 untuk karya dalam bahasa Lampung.

Kedua buku itu satu berupa kumpulan sajak (Di Lawok Nyak Nélépon Pelabuhan karya Oky Sanjaya), yang satu lagi kumpulan cerita péndék (Cerita-cerita Jak Bandar Negeri Semuong karya Asarpin Aslami).

Di Lawok Nyak Nélépon Pelabuhan (Di Laut Aku Menélépon Pelabuhan) memuat 57 buah sajak yang ditulis oléh mahasiswa Universitas Lampung jurusan Fisika ini berupaya membangun imajinasi tentang hal-hal yang bersahaja: lantai, asap, sarung, lesung, dll. Hal-hal sepélé itu diolahnya menjadi métafora yang menarik. Peristiwa sehari-hari diréfléksikan Oky dengan kata-kata sederhana, tapi mampu merangsang pembaca untuk merasakan hal yang sebenarnya, misalnya sajak “Hinjang Bak” (Sarung Ayah). Akan tetapi secara keseluruhan sajak-sajak Oky masih mentah, jauh daripada sajak-sajak Udo Z. Karzi peraih Hadiah Sastera “Rancagé” 2008.

Cerita-cerita jak Bandar Negeri Semuong (Cerita-cerita dari Bandar Negeri Semuong) memuat 17 cerita péndék yang melukiskan berbagai kebiasaan, tatacara, adat-istiadat, perilaku dan polah masyarakat di Bandar Negeri Semuong, sebuah kecamatan di Kabupatén Tanggamus, Lampung. Asarpin yang lulusan IAIN Radén Intan ini mampu mendéskripsikan budaya tradisional dalam cerita péndék yang ditulisnya seperti kebiasaan kajaruwan (mengumpulkan kayu bakar) yang dilakukan ibu-ibu di kampung, atau kebiasaan siahan (berbisik di balik dinding rumah yang dilakukan para pemuda kepada gadis pujaannya). Ada pula yang mengolah warahan (salah satu bentuk sastera lisan) ke dalam cerita péndék modéren. Meskipun kisah yang diceritakannya berbéda-béda tetapi ada tempat yang menjadi bingkai yang menghubungkan cerita-cerita itu satu sama lain. Sayang ada beberapa uraian yang terasa bukan cerita péndék, seperti “Badok” (Bergelar) yang hanya menguraikan tentang upacara pemberian gelar adat ketika orang menikah.

Tak dapat disangkal bahwa buku Asarpin ini merupakan kumpulan cerita péndék modéren pertama dalam bahasa Lampung yang banyak mengandung nilai-nilai tradisional dan modéren. Dengan pertimbangan itu, maka Hadiah Sastera “Rancagé” 2010 sastera Lampung untuk karya diberikan kepada

Cerita-cerita Jak Bandar Negeri Semuong

Karya Asarpin Aslami

(terbitan B.E. Press, Bandar Lampung)

Hadiah “Samsudi” 2010 untuk bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda

Dalam tahun 2009, terbit 4 judul buku bacaan anak-anak dalam bahasa Sunda yang semuanya merupakan dongéng sasakala, yaitu Sasakala Cadas Pangéran, Sasakala Candi Cangkuang, Sasakala Karajaan Arcamaik dan Sasakala Pajajaran. Semuanya ditulis oléh Aan Merdéka Permana. Sasakala adalah semacam legénda yang bertalian dengan asal-usul nama tempat, gunung, telaga, sungai atau makhluk dan lain sebagainya. Dalam masyarakat Sunda misalnya ada dongéng sasakala Sang Kuriang bertalian dengan terjadinya Danau Bandung dan gunung Tangkuban Perahu, dongéng sasakala tentang terjadinya gunung Tampomas di Sumedang, atau tentang sebabnya gagak berbulu hitam padahal asalnya putih. Namanya dongéng, tak dapat dianggap sejarah karena hanya berdasarkan imajinasi dan fantasi manusia saja. Tetapi dalam sasakala yang ditulis oléh Aan Merdéka Permana itu sering disebut dengan pasti titimangsa berupa tahun yang tidak jelas sumbernya seakan-akan kejadian yang diceritakannya itu kebenaran sejarah sehingga dapat menimbulkan salah persépsi anak-anak yang membacanya. Padahal apa yang ditulis oléh Aan itu tidak selalu sejalan dengan kenyataan sejarah. Misalnya pemberian gelar “kolonél” oléh Gubernur Jendéral Baron van (der) Capéllen diceritakan dalam Sasakala Cadas Pangéran berdasarkan jasa-jasanya mengamankan Sumedang yang konon tidak aman karena banyak gangguan orang jahat. Padahal menurut sejarah pangkat “kolonél” itu diberikan kepada Pangéran Kusumahdinata karena beliau diangkat menjadi komandan pasukan berbagai kabupatén Tatar Sunda untuk menghadapi pemberontakan Pangéran Diponegoro. Karena mendapat pangkat “kolonél” itulah maka Pangéran Kusumahdinata disebut rakyat sebagai “Pangéran Kornél”.

Memasukkan unsur sejarah ketika menulis cerita yang disebutnya sasakala pada satu pihak seakan hendak mengesankan bahwa ceritanya itu benar-benar sesuai dengan sejarah, tapi pada pihak lain kalau ada yang mempertanyakan data-data sejarah yang digunakannya, dia akan mengélak karena yang ditulisnya adalah sasakala.

Dengan demikian untuk tahun 2010 ini Hadiah “Samsudi” tidak diberikan.

*

Upacara penyerahan Hadiah Sastera “Rancagé” 2010, insya Allah akan dilaksanakan atas kerjasama dengan Universitas Negeri Yogyakarta bertempat di Kampus UNY Yogyakarta pada bulan Méi 2010.

Pabélan, 31 Januari, 2010.

Yayasan Kebudayaan “Rancagé”

Ajip Rosidi

Ketua Déwan Pembina

February 1, 2010

Sastrawan Lampung Sabet Penghargaan Rancage

Laporan Wartawan Tribun Lampung Yoso Muliawan

BANDAR LAMPUNG, TRIBUN - Sastrawan Lampung Asarpin Aslami meraih Hadiah Sastra Rancage 2010. Ia memenangkan Rancage lewat karya sastra Lampung berupa kumpulan cerita pendek (cerpen) berjudul Cerita-cerita jak Bandar Negeri Semuong.

Hadiah Sastra Rancage untuk Asarpin diumumkan Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi, di Kampus Universitas Padjajaran, Jalan Dipati Ukur No 35, Bandung, Senin (1/2).

Asarpin unggul atas sastrawan Lampung lainnya Oky Sanjaya dengan karya sastra Lampung berupa kumpulan puisi, Di Lawok Nyak Nelepon Pelabuhan. Karya Asarpin berisi 17 cerpen berbahasa Lampung.

Kumpulan cerpen itu berlatar belakang kehidupan masyarakat di Teluk Semaka, Kecamatan Bandar Negeri Semuong, Kabupaten Tanggamus. "Saya membuat cerpen-cerpen itu mulai tahun 2004 sampai akhir 2007," ujar Asarpin.

Dalam sejumlah judul cerpennya, Asarpin menceritakan kejayaan rempah-rempah dan di Bandar Negeri Semuong pada zaman dahulu serta pelabuhan di Teluk Semaka. Ada pula kisah mengenai adat-istiadat dan tradisi masyarakat setempat.

"Salah satu cerpen berisi cerita tentang usaha seorang pemuda menemui gadis pujaannya dengan cara berbisik-bisik," ujarnya.

Salah satu adat-istiadat yang dikisahkan Asarpin dalam cerpennya adalah pemberian gelar pengantin laki-laki dan perempuan. "Ada juga soal pengantin perempuan ikut pengantin laki-laki setelah nikah yang dalam bahasa Lampung artinya metudau atau biasa disebut patrilineal," katanya.

Meski rampung dikerjakan akhir 2007, namun kumpulan cerpen tersebut baru diterbitkan Desember 2009 melalui penerbit BE Press. Anggota Yayasan Kebudayaan Rancage Irfan Anshory menuturkan, salah satu pertimbangan pihaknya memberi Hadiah Sastra Rancage 2010 kepada

Asarpin, karena memelopori karya cerpen berbahasa Lampung. "Hadiah berupa piagam dan uang tunai Rp 5 juta akan diberikan pada bulan Mei nanti," katanya. Selain Asarpin, tiga sastrawan lain juga menerima Hadiah Sastra Rancage, masing-masing berasal dari Sunda, Jawa, dan Bali.

Sebelum Asarpin, sastrawan Lampung yang pertama mendapat penghargaan ini ialah Zulkarnain Zubairi alias Udo Z Karzi dengan karyanya berupa kumpulan puisi berjudul Mak Dawah Mak Dibingi.(*)

Sumber: Tribun Lampung, Selasa, 2 Februari 2010

Sastrawan Lampung Asarpin Raih Rancage 2010

BANDAR LAMPUNG (LampostOnline): Sastrawan Lampung Asarpin Aslami berhasil meraih Hadiah Sastra Rancage 2010. Karya Asarpin berupa kumpulan cerpen berjudul Cerita-Cerita jak Bandar Negeri Semuong (diterbitkan BE Press, Bandar Lampung, 2009) mendapat Rancage untuk kategori sastra Lampung.

Asarpin Aslami (IST)

Anggota Yayasan Kebudayaan Rancage, Irfan Anshory, saat dihubungi melalui telepon, Senin (1-2), mengatakan pengumuman pemenang penghargaan Rancage baru secara lisan. "Dalam beberapa hari ini pemenang akan diumumkan melalui internet. Penyerahan hadiah akan diberikan di Universitas Negeri Yogyakarta Mei mendatang," kata Irfan.

Asarpin meraih trofi dan uang sebesar Rp5 juta. Tahun ini ada dua karya yang masuk ke Yayasan Kebudayaan Rancage. Selain karya Asarpin, karya sastra Lampung yang ikut dalam penilaian Rancage 2010 adalah kumpulan sajak Di Lawok Nyak Nelepon Pelabuhan karya Oky Sanjaya.

Menurut Irfan, keunggulan karya Asarpin adalah cerpen-cerpen berbahasa Lampung atau cerbun. Sementara karya Oky sama dengan karya penerima Rancage 2008 Udo Z. Karzi berupa kumpulan sajak. "Asarpin menjadi pelopor penulisan cerbun (cerpen) dalam bahasa Lampung," kata Irfan.

Lampung sempat tidak mengikuti Hadiah Sastra Rancage 2009 karena tidak ada karya sastra berbahasa Lampung yang diterbitkan. Penghargaan Rancage hanya diberikan kepada satu karya per kategori bahasa daerah setiap tahun.

Penghargaan Rancage juga diberikan kepada karya sastra berbahasa Sunda, Jawa, dan Bali. Menurut Irfan, di Sumatera hanya bahasa Lampung yang diberikan penghargaan.

Asarpin, saat dihubungi, mengaku sudah mengetahui bahwa dirinya mendapat penghargaan Rancage 2010. "Saya terkejut saja ketika ada kabar Yayasan Rancage memberikan penghargaan kepada saya," kata Asarpin.

Menurut Asarpin, penghargaan Rancage menjadi tamparan kepada pemerintah daerah yang sama sekali tidak memberikan apresiasi kepada karya sastra berbahasa daerah. Rancage menjadi motivasi kepada sastrawan Lampung untuk terus menghasilakan karya sastra berbahasa lampung. Penulisan karya sastra berbahasa Lampung dimulai Udo Z. Karzi lalu diikuti oleh beberapa sastrawan yang memiliki kepedulian atas bahasa Lampung.

Menurut Asarpin, karya sastra berbahasa Indonesia dan berbahasa Lampung harus seimbang. Sastrawan juga harus peduli pada kelestarian bahasa daerah. Ketidakmauan dalam menulis dalam bahasa daerah berarti sengaja memunahkan bahasa daerah.

Irfan berharap sastrawan Lampung terus menghasilkan karya sastra berbahasa Lampung. Banyak sastrawan Lampung yang levelnya sudah nasional. "Sebenarnya sangat mudah menghasilkan karya berbahasa Lampung. Terjemahkan saja karya sastra berbahasa Indonesia ke dalam bahasa Lampung." MG-2/P-1/L-1

Sumber: Lampung Post Online, Senin, 1 Februari 2010

Kesenian: Penggiat Seni Gelar Tari Kontemporer

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Masyarakat Penggiat Seni Lampung (MPSL) menggelar pentas seni di Pasar Seni Enggal Bandar Lampung, Minggu (31-1).

Pergelaran yang disajikan ialah musik tetabuhan alternatif dengan tema Negeri Bersujud, tari kontemporer Para Perwitan, dan monolog Rekaman Terakhir Krapp. Selain itu diadakan lokakarya tari dan bazar seni kerajinan.

Kemas A. Helmi, panitia yang juga pendiri MPSL, mengatakan kegiatan tersebut merupakan suguhan seni alternatif dengan tema kegiatan Negeri Bersujud. Ini dimaksudkan untuk menyikapi bencana-bencana yang terjadi di Indonesia, baik bencana alam maupun masalah sosial akibat korupsi di Indonesia.

"Banyak bencana yang terjadi antara lain bencana alam ataupun bencana sosial yang disebabkan perilaku korupsi sehingga dengan tema Negeri Bersujud sudah saatnya kita kembali ke Sang Pencipta," ujar Helmi.

Selain itu, kegiatan tersebut diselenggarakan untuk menghidupkan kesenian di Lampung dan menggali potensi-potensi seniman.

"Kegiatan seni ini digelar di Pasar Seni karena Pasar Seni menjadi barometer seni kehidupan di Lampung," ujar Helmi.

Helmi menambahkan kegiatan ini juga untuk meningkatkan kualitas kesenian di Lampung yang belum muncul ke publik.

Helmi mengatakan kegiatan tersebut merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan MPSL pada setiap bulan dengan tema berbeda. Pada kegiatan sebelumnya MPSL mengambil tema Negeri Khatulistiwa.

Pada acara puncak akan menghadirkan musik tetabuhan selama 20 menit dengan pengarah musik Rusli Syukur, ketua MPSL, tari kontemporer dengan koreografer Agus Gunawan, dan monolog Rekaman Terakhir Krapp oleh Lili Sudrabali dari Teater Mandiri Putu Wijaya, Jakarta.

Lokakarya tari mengenai komposisi dan koreografi oleh Linggas Nunik Kuswari dari Sanggar Tari Sikep Wawai Kabupaten Lampung Tengah.

Selain itu, pada acara tersebut digelar bazar seni kerajinan dari warga Pasar Seni Enggal Bandar Lampung. Penonton yang hadir pada acara tersebut tidak dipungut biaya. n MG17/K-1

Sumber: Lampung Post, Senin, 1 Februari 2010

January 31, 2010

Seni (tak) Tergantung Anggaran

Oleh Asarpin*

DALAM beberapa bulan terakhir, ada yang unik pada diskusi sastra di Lampung. Beberapa pengarang tampaknya sedang serius merancang sebuah kredo tentang seni dan sastra yang "tergantung pada uang". Kalau tidak ada anggaran dari pemerintah, maka seni dianggap akan mati. Seniman dan sastrawan mulai berkarya dengan mengharapkan jasa!

Memang, sejak "pahlawan tanpa tanda jasa" disematkan pada para guru, lalu dikritik di mana-mana, sekarang orang malas untuk disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Kalau perlu jadi pengarang dengan puluhan bintang jasa dan bisa kaya raya. Para seniman kemudian mendekatkan diri pada kuasa modal dan mengorbankan integritas seni. Selain itu, upaya menginduk pada negara dianggap sah demi memperoleh suntikan modal.

Menjadi kaya tidak ada yang melarangnya. Saya bersimpati pada Pramoedya walau pun rumahnya sudah mentereng, dan amat mencolok dibandingkan dari rumah-rumah di sekitarnya. Tapi Pram tidak mengemis pada pemerintah. Tidak bikin proposal. Demikian pula Afrizal Malna. Penyair ini mungkin satu-satunya yang sudah punya nama besar dengan menghasilkan ratusan puisi yang mendapat apresiasi luas, tapi sekaligus paling melarat dan sampai sekarang tidak punya rumah. Ia tak punya uang kecuali mengharapkan hasil dari honor tulisan di koran, atau sebagai pembicara dalam diskusi tentang seni.

Dulu Afrizal masih bekerja di UPC Jakarta, dan mengandalkan honor Rp1,5 juta/bulan. Padahal Afrizal adalah salah satu pendiri UPC yang sumbangannya terhadap gerakan kaum miskin kota dengan warna budaya sangat dominan. Waktu kami masih tinggal serumah, beberapa kali Afrizal meminjam uang Rp10 ribu kepada saya untuk beli rokok. Ini cukup sering, tidak hanya kepada saya.

Afrizal sempat juga diselamatkan beberapa wartawan televisi yang memintanya membuat skenario film pendek. Tapi saya tahu betul bahwa Afrizal mau menggarap skenario film itu kalau tidak diatur dan diarahkan si pemesan. Ia ingin membuatnya dengan merdeka, agar bisa tulus.

Maka, agak ganjil kedengarannya kalau seniman dan sastrawan di Lampung meributkan soal anggaran. Kita semua sepakat bahwa pemerintah harus mengalokasikan dana untuk kegiatan seni dan sastra sama sebagaimana mereka memperlakukan politik, bahkan sudah sewajarnya jika perhatian pemerintah lebih terfokus pada soal seni, budaya, dan sastra, karena ini persoalan nilai. "Pada 2010 ini pemerintah harus memikirkan strategi kebudayaan di Lampung," tulis Iswadi.

Sejak dulu, pemerintah kita memang tidak peka, tidak terbiasa berpikir keras, apalagi mau memikirkan strategi kebudayaan. Sementara senimannya sejak dulu "berkesenian secara melarat", kata Taufiq Ismail. Tapi terlampau berharap pada gubernur atau wali kota, sekalipun mereka kita dukung saat pencalonan, bisa membuat ketergantungan yang tidak sehat, padahal sejak lama seniman hidup dengan memotong tali pusar ketergantungan.

Lagi pula, apa sih yang sudah dilakukan seniman dan sastrawan Lampung selama ini? Melihat cara-cara mereka mendesak pemerintah untuk memberi dana bagi perkembangan seni dan sastra di Lampung, terkesan mereka sudah banyak jasa dan perlu dihargai, seperti Sutardji dihargai oleh Pemprov Riau.

Sumbangan mereka terhadap perbaikan kualitas masyarakat Lampung tidak terlalu jelas. Selama ini mereka hanya mengharumkan nama Lampung di kancah pergaulan seni dan sastra nasional, tetapi hanya sebatas mengharumkan saja. Apanya yang harum, warganya, tradisinya, bahasanya, menjadi tidak jelas juga.

Kalau saja kegelisahan para seniman dan sastrawan Lampung itu terbit dari hati yang tulus, memikirkan seni dan sastra sampai berdarah-darah, saya sangat bangga. Tapi saya kira, tudingan yang dialamatkan kepada pemerintah selama ini, punya ekor yang panjang. Kritik yang bertubi-tubi kepada pemerintah kadang menyimpan motif yang tidak punya hubungan langsung dengan nasib seni dan sastra di tanah Lampung, tetapi lebih pada mengharapkan dana pribadi.

Munculnya puluhan sastrawan di Lampung dengan karya yang lumayan bagus, dan mendapat apresiasai nasional, justru karena mereka tidak menggantungkan hidup dengan dana dari pemerintah. Jangan-jangan kalau Pemprov atau Pemkot sudah ngasih dana, para seniman dan sastrawan kita akan bernasib sama dengan para aktivis LSM di Lampung yang kehilangan daya kritis. Tidak ada dana dari Pemprov selama ini justru sudah terbukti mampu melahirkan karya-karya dengan capaian estetika yang sip.

Harumnya nama Teater Satu di kancah nasional selama ini hampir tidak ada peran yang berarti dari pemerintah daerah. Anggaran kegiatan Teater Satu dan Kober memang tidak sepenuhnya mandiri, mereka masih menggantungkan dana dari luar. Namun keberadaan dana bagi dua komunitas teater di Lampung itu bukan persoalan pokok dan mendasar. Saya kira akan tetap lahir karya-karya hebat Iswadi dan Ari Pahala sekalipun sudah tidak ada lagi bantuan dari pihak luar.

Demikian pula Isbedy, Arman A.Z., Inggit, Lupita, Oyos, Dahta, dll., mereka sudah terbukti hebat walaupun masih sering melarat. Memang, dalam event atau acara yang tingkatnya nasional atau internasional, para sastrawan kita kadang masih harus buat proposal kepada pemerintah, walaupun akomodasi dan transportasi sudah disiapkan panitia.

Memang, dengan tidak adanya anggaran dari pemerintah, para seniman dan sastrawan kita menjadi pintar bikin proposal. Kepintaran dalam membuat proposal ini nyaris mengalahkan kepintaran para aktivis LSM. Mereka juga pandai membangun jaringan di kantor-kantor pemerintah atau swasta, yang sewaktu-waktu akan mereka "manfaatkan" untuk kepentingan mendapatkan dana. Kelebihan terakhir, adalah: kalau ada momentum pemilihan kepala daerah para sastrawan dan seniman kita menjadi tim sukses, tapi ketika jago mereka menang, hanya pahit yang mereka terima.

Uang benar-benar membutakan banyak orang. Uang juga senjata paling ampuh untuk menggerogoti idealisme para pengarang dan wartawan. Sukses tampaknya cuma bagian yang memperkokoh konspirasi dan harmoni musik dukacita. Para pengarang Lampung senantiasa menjadi biang keladi nasib dan sejarahnya sendiri.

Lagi-lagi saya teringat Pram, terutama satu kalimatnya dalam novel Bukan Pasar Malam: "Hidup di alam demokrasi membuat kita tak perlu menyembah dan menundukkan kepala pada presiden atau menteri atau paduka-paduka lainnya. Sungguh–ini pun suatu kemenangan demokrasi. Dan kita boleh berbuat sekehendak hati kita, tapi kalau kita tak punya uang, kita akan lumpuh tak bisa bergerak. Di negara demokrasi, engkau boleh membeli barang yang engkau sukai. Tapi kalau engkau tak punya uang, engkau hanya boleh menonton barang yang engkau ingini itu. Ini juga semacam kemenangan demokrasi."

Adakah Pram sedang bicara tentang filsafat uang? Pram bisa jadi berhutang pada ajaran Marx dan Simmel tentang filsafat uang. Dalam salah satu tulisannya, The Capacity of Present-day Jews and Christians to Become Free (1843), yang pernah dikutip St. Sunardi dalam pengantar buku A.B. Widyanta tentang sosiologi kebudayaan George Simmel, kita menemukan gagasan Marx tentang uang. Uang, kata Marx, adalah "Tuhan pencemburu bangsa Israel" (The jealous god of Israel). Tak ada Tuhan lain pun yang boleh ada di hadapan Dewa Uang.

Bisa jadi "uang menurunkan derajat semua Tuhan--dan mengubah mereka menjadi komoditas", seperti kata Marx yang sekuler. Uang terbukti menjadi nilai dari segala sesuatu yang bersifat umum, dan tidak membutuhkan nilai-nilai lainnya. Oleh karena itu, uang telah merampas nilai kesejatian pribadi, juga merampas nilai sesungguhnya dari seluruh dunia; baik dunia manusia maupun dunia alam. Uang adalah esensi terasing dari kerja dan hidup manusia, dan esensi ini menguasai dirinya saat dia memujanya.

Di sini kita tahu mengapa Georg Simmel (1858--1918) terseret bayang-bayang Marx. Salah satu tesis Simmel terkenal--sekaligus menghubungkan dirinya dengan Marx--adalah tentang segalanya adalah uang. Kalau ini juga yang sedang mengancam para seniman Lampung, maka pilihan kita sekarang tinggal, "Serulah," kata Asrul Sani: Serulah, supaya jangan ada yang sempat merindukan anggaran dengan mengorbankan ideal-ideal kesenian! Kemudian katakan: "Ia yang hendak mencipta, menciptalah atas bumi ini. Ia yang akan tewas, tewaslah karena kehidupan."

* Asarpin, pembaca sastra

Sumber: Lampung Post, Minggu, 31 Januari 2010

[Perjalanan] Menengok Dunia Buyung dan Panti

Di ujung Lampung Barat, TNWC gelagh ni
Daerah Tampang-Belimbing, TNBBS kughuk ni
Si Buyung jama Panti, Lemawong pullan Aceh
Tian ghua dikas kon,Mit pullan tian muloh
Wat Menteri Kehutanan, Sina Zulkifli Hasan
Baghong Tomy Winata, Sekebak TNWC
Tian ghua mastiko, Haga ngelestariko alam
Ngejaga kaban binatang, Konservasi di TNBBS
Buyung-Panti gembira, Ngeliak kaban uncal
Jelma di Pengekahan, bersiap ngehalau ni
Meghabai haga luagh, Wat Buyung nelop uncal
Harus ngedok solusi, Nyiapko ghang relokasi



(Di ujung Lampung Barat, TNWC namanya
Daerah Tampang-Belimbing, masuk Kawasan TNBBS
Si Buyung dan Panti, harimau asal hutan Aceh
Mereka berdua dilepaskan, ke hutan mereka pulang
Ada Menteri Kehutanan, Yakni Zulkifli Hasan
Bersama Tomy Winata, pengelola TNWC
Mereka berdua memastikan, rencana pelestarian alam
Menjaga kawanan hewan liar, konservasi TNBBS
Buyung dan Panti gembira, melihat kawanan rusa
Warga di Pengekahan menghalau jika harimau masuk kampung
Takut mau ke luar rumah, ada Buyung menyantap Rusa
Harus ada solusi, menyiapkan lahan relokasi)

BEGITULAH gambaran penglepasliaran dua harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae)--Buyung dan Panti--ke Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Lampung Barat dalam bentuk syair berbahasa Lampung. Ada banyak manfaat yang didapat dari program penglepasanliaran itu, salah satunya menjaga kelestarian harimau sumatera beserta kawasan untuk tempat hidupnya. Selain itu, juga bisa mengantisipasi masuknya perambah liar yang bakal memberangus kawasan penghasil oksigen itu.




TNWC atau Konservasi Alam dan Kehidupan Liar Tambling itu berada di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) di Bengkunat, ujung Lampung Barat, yang berbatasan dengan Tanggamus. Kedua harimau sumatera asal hutan Taman Nasional Gunung Leuser, Nangroe Aceh Darussalam (NAD) itu dilepasliarkan di habitat barunya di TNWC.

Penglepasliaran tersebut dilakukan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan bersama pengusaha Tommy Winata yang menjadi pelopor karantina harimau dan Direktur Taman Safari Indonesia Tony Sumampau. Penglepasliaran itu juga bertepatan dengan pencanangan Hari Konservasi Alam Nasional (HAKN) yang dilakukan Wapres Boediono di Istana Wapres, Jakarta, Jumat (22-1).

Kawasan TNWC seluas sekitar 45 ribu hektare adalah bagian dari TNBBS, menjadi habitat yang cukup ideal bagi kedua harimau itu. Apalagi sudah beberapa kali harimau yang wilayah kekuasaannya sekitar tujuh kilometer persegi itu dilepaskan di sana plus puluhan harimau asli Tampang Belimbing. TNWC di bawah pengelolaan PT Adhiniaga Kreasi Nusa, anak perusahaan Artha Graha Network.

Mangsa

Banyak sekali jenis mangsa yang bisa didapat harimau sumatera di kawasan itu. Selain rusa yang jumlahnya ratusan, juga terdapat kerbau liar dan ikan yang bisa menjadi mangsa "si raja hutan" itu.

Penglepasan itu juga dibarengi dengan Safari Night, di mana Menteri Kehutanan dan undangan dari Pemprov Lampung dan Pemkab Lampung Barat ikut menyaksikan hewan-hewan liar yang menjadi mangsa harimau dalam siklus kehidupan alam.

Sejumlah daerah terlihat kawanan rusa sedang merumput, dimulai dari kawasan runway pesawat terbang--sekitar 500 meter dari Sekretariat TNWC. Kemudian, kawanan kerbau liar juga terlihat merumput saat malam di padang rumput itu.

Namun, malam itu peserta Safari Night tidak melihat raja rimba yang baru dilepas siang harinya di sekitar lokasi merumput mangsanya. Bahkan di tempat penglepasliaran dan di danau yang menjadi tempat favorit harimau mencari mangsa malamnya pun tidak ditemui. "Biasanya harimau di tepi sungai untuk mengintip hewan mangsanya minum," kata Penanggung Jawab TNWC Tomy Winata saat acara itu.

Rangkok, Penyu, dan Ikan

Selain harimau dan mangsanya, TNWC juga dihuni berbagai jenis burung dan ikan. Sementara pantai Belimbing yang menjadi pembatas TNWC, juga dihuni penyu belimbing--menurut penduduk setempat merupakan hewan asli daerah itu.

Salah satu jenis burung yang terlihat bermain di sekitar Sekretariat TNWC adalah rangkok. Tiga burung pemakan buah dan biji-bijian itu terlihat terus mengitari kawasan itu. Ketiganya adalah sebuah keluarga yang dipelihara oleh staf TNWC yang akrab disapa Kakek.

"Mereka memang biasa terbang di sekitar tempat ini. Memang saya pelihara sejak kecil sepasang rangkok itu, sampai kemudian bertelur dan mempunyai anak," ujar Kakek.

Kakek memang menjadi andalan TNWC untuk memelihara setiap warga baru yang bakal menghuni kawasan hutan di sana. Selain keluarga rangkok itu, dua elang yang dilepasliarkan bersamaan dengan Buyung dan Panti juga buah tangannya. Selain itu, banyak lagi burung atau yang oleh masyarakat ditemukan dan kemudian diserahkan ke TNWC untuk dikembalikan ke alam. "Kadang penduduk membawa ketilang anakan. Setelah dipelihara dan besar, kami lepaskan lagi ke hutan," kata Kakek.

Hewan langka lainnya adalah penyu yang ikut dilepasliarkan Menteri Kehutanan bersama Sekprov Lampung Irham Jafar Lan Putra, Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri, dan Kepala Dinas Kehutanan Lampung Hanan A.R. Penyu itu bertempurung menyerupai bentuk belimbing dan dilepasliarkan ke laut di pantai Tanjung Belimbing.

"Hewan ini sangat langka, maka harus dilestarikan kehidupannya. Agar anak cucu kita masih bisa melihatnya," kata Tomy Winata.

Apresiasi Pemerintah

Saat kunjungan itu, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan juga sekaligus memberi penghargaan kepada TNWC karena keberhasilannya dalam konservasi alam. Penghargaan itu berupa penambahan luasan kawasan yang dikelolanya. "Tambahan ini akan terus dilakukan hingga sekitar 49 ribu hektare kawasan TNBBS," kata Zulkifli.

Tambahan luas kawasan pengelolaan TNWC itu menjadi tambahan tugas. Salah satunya adalah menghalau perambah dan mencari solusi relokasi penduduk. Sebab, sejumlah kawasan sudah mulai dirambah penduduk, bahkan sudah menjadi permukiman kecil.

"Pemerintah berterima kasih kepada TNWC yang mau membantu dalam sektor konservasi alam. TNBBS adalah warisan dunia, jadi kita patut menjaganya," kata Menteri. n MUSTAAN

Sumber: Lampung Post, Minggu, 31 Januari 2010

January 27, 2010

Pelepasliaran Satwa: Dua Harimau Masih Terpisah

Tampang Belimbing, Kompas - Begitu pintu kandang terbuka, Jumat (22/1) pukul 14.30, Panti sempat 10 menit enggan keluar. Dia berdiri, sorot matanya tajam mengawasi sekeliling kandang besinya. Sejurus kemudian, Panti keluar dengan langkah gontai membawa badannya yang seberat sekitar 85 kilogram. Panti sempat membaui pintu kandang pasangannya, Buyung, sebelum berlari ke arah hutan.

Panti adalah harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), satunya lagi si Buyung yang secara resmi dilepasliarkan oleh Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan di area Tambling Wildlife National Conservation (TWNC) di Panimbangan, Kabupaten Lampung Barat, yang masuk kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Dalam dua tahun terakhir, Panti dan Buyung menambah koleksi harimau sumatera menjadi empat ekor setelah Juli 2008 dua ekor harimau bernama Agam dan Pangeran juga dilepasliarkan di habitat aslinya.

Direktur Taman Safari Indonesia Cisarua Tony Sumampau, Sabtu (23/1) pagi, mengabarkan, kedua harimau masih terpisah sekitar 500 meter. ”Keduanya dilepasliarkan dengan GPS Collar di leher. Kalung pendeteksi itu memungkinkan gerakan mereka terpantau,” kata Tony.

Dia mengakui, harimau memang lebih adaptif dalam habitat alaminya. Namun, habitat harus steril dari kehidupan manusia. Jangan sampai bertemu karena keduanya pasti saling bunuh.

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengatakan, pelepasliaran harimau sumatera ke habitat aslinya merupakan peristiwa bersejarah di dunia. Tidak banyak negara masih memelihara harimau. Indonesia tercatat sebagai salah satu dari 13 negara yang masih memiliki harimau meski jumlahnya semakin menyusut.

Prestasi pelepasliaran ini akan menjadi isu penting penyelamatan harimau, yang akan dibawa ke pertemuan negara-negara yang masih memiliki harimau, akhir Februari 2010 di Thailand.

”Peristiwa ini menjadi tonggak pemerintah untuk penyelamatan kawasan hutan konservasi di Indonesia. Hutan konservasi kini tinggal 15 persen atau sekitar 25 juta hektar,” kata Zulkifli.

Menurut Kepala Balai Besar TNBBS Kurnia Rauf, TNBBS sejak Juli 2004 ditetapkan sebagai tapak warisan dunia, The Tropical Rainforest Haritage of Sumatera, oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO).

Kurnia mengatakan, kawasan TNBBS belum steril. Masih ada 170 keluarga yang tinggal di kawasan yang rawan konflik dengan mamalia besar. (WHO)

Sumber: Kompas, Rabu, 27 Januari 2010

January 26, 2010

Tommy Winata: Berterima Kasih pada Alam

TAMBLING Wildlife Nature Conservation ibarat jiwa seorang Tommy Winata. Pria yang lahir dengan nama Oe Suat Hong di Pontianak, Kalimantan Barat pada 23 Juli 1958 itu, adalah seorang pengusaha sukses. Dia adalah pemilik Grup Artha Graha. Tommy Winata yang biasa disapa TW, menggerakkan roda bisnis di berbagai bidang, seperti perbankan, tekstil, dan konstruksi.

Tommy Winata (SP/Gusti lesek)

Tetapi, sejak 1999, TW melirik sebuah kawasan yang terletak di ujung selatan Pulau Sumatera, bernama Tambling. Tambling adalah singkatan nama dari dua kawasan, yakni Tampang dan Belimbing.

Secara geografis, Tambling masuk dalam wilayah Kabupaten Lampung Barat. Kawasan ini berada atau menjadi bagian Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Di bawah pengelolaan PT Adhiniaga Kreasi Nusa, anak perusahaan Grup Artha Graha, kawasan Tambling kemudian dikenal dengan nama Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC). Total area TWNC mencapai 45.000 hektare.

Memasuki kawasan TWNC yang luasnya 45.000 hektare ini, pengunjung disuguhi keindahan dan keaslian lingkungan alam yang menakjubkan. Kawasan ini mirip sebuah istana atau kerajaan. Segala sesuatu tersedia.

Untuk mengelilingi kawasan TWNC, disediakan sejumlah mobil, sepeda motor, dan traktor. Kalau hendak berkeliling dari udara, ada helikopter, yang setia parkir di samping lapangan terbang, yang landasan pacunya berumput hijau. Lapangan terbang ini juga menjadi sarana bermain anak-anak rusa dan kerbau liar. "Setiap sore, ratusan rusa merumput di lapangan terbang ini," kata Rizal, karyawan TWNC.

Sejumlah rumah berdiri selaras alam, bertebaran di beberapa tempat, lengkap dengan fasilitas seperti hotel. Pohon-pohon baru ditanam di sejumlah lahan kosong yang kritis. Dalam waktu 10 tahun, TWNC yang sebagian besar adalah lahan kritis, berubah menjadi hutan rimba tropis.

TW melalui PT Adhiniaga Kreasi Nusa menyulap wilayah Tambling menjadi taman konservasi alam, surga bagi berbagai jenis binatang liar dan langka. Di TWNC, kata Tommy Winata, terdapat 40-an harimau sumatra, 52 jenis reptil/ampfibi, 332 jenis burung, dan beberapa jenis primata.

Mamalia

Di tempat ini juga terdapat enam jenis mamalia yang hampir punah, yakni gajah sumatra, badak sumatra, harimau sumatera, kerbau liar, tapir, dan beruang madu. "Harimau sumatra adalah satwa milik Indonesia yang tersisa," katanya.

Tommy mengakui, biaya pembuatan, perawatan, dan gaji 105 karyawannya di TWNC sangat besar. Tetapi, ia tidak memedulikan berapa biaya yang sudah dikeluarkan untuk sebuah tanam konservasi seluas 45.000 ha itu. "Yang penting kita bisa menjaga lingkungan hidup dan mengurangi ancaman perubahan iklim global," katanya.

Lalu, apa yang melatarbelakangi seorang TW mau membuang uang dalam jumlah besar untuk sebuah bisnis yang jelas-jelas tidak mendatangkan laba? Bagaimana bisa, seorang TW rela merogoh kocek hanya mengurus beberapa ekor harimau sumatra yang terancam punah? "Saya mau menyampaikan terima kasih pada alam," kata Tommy Winata membuka cerita masa lalunya.

Saat remaja, kata TW, dia bekerja di tengah hutan rimba Kalimantan, Papua, Sulawesi, dan daerah-daerah yang lingkungan alamnya masih asri selama 7-8 tahun. "Yang luar biasa, selama di hutan, saya tidak pernah mengalami musibah atau kesulitan di luar akal sehat saya," katanya.

Jika lapar, Tommy mengaku langsung ke hutan, mencari hasil hutan yang bisa dimakan, entah itu talas, jantung pisang, keladi, akar rotan, dan berbagai jenis buah-buahan. Selama bekerja di kawasan hutan, Tommy mengaku harus rela menjadi pekerja kasar, menjadi karyawan biasa, penjaga gudang, dan bahkan membantu membuka jalan dari Kalimantan ke Entikong, Malaysia.

"Pada saat Tuhan memberikan rezeki yang lebih kepada saya, dan membimbing langkah ke Tambling, memori masa lalu itu muncul kembali, sehingga memunculkan the power of love of Tambling," katanya. Di sinilah (Tambling), TW menemukan kembali masa remajanya. "Di sini, saya temukan masa remaja saya," ujarnya.

Ekoturisme

Selain sebagai kawasan konservasi, Kepala Balai Besar Bukit Barisan Selatan Ir Kurnia Rauf mengatakan, pemerintah juga telah memberikan konsesi kepada TWNC untuk melakukan kegiatan ekoturisme selama 35 tahun. "Apa dan bagaimana konsepnya, kami serahkan ke pihak TWNC," katanya.

Tommy Winata yang dikonfirmasi tentang hal itu mengatakan, gagasan itu belum bisa berjalan saat ini, karena berbagai alasan. Jalur transportasi ke TWNC hanya bisa lewat udara atau laut. Itu sudah sangat mahal. Kalau dihitung-hitung, dibutuhkan US$ 3.000 untuk bisa bermalam tiga sampai empat hari di Tambling. "Biaya itu sangat mahal. Lagi pula, orang Indonesia lebih suka ke Hong Kong atau Eropa jika punya uang sebanyak itu," katanya.

Namun, alasan utama di balik itu semua adalah Tommy Winata tidak mau dicap sebagai pengusaha yang hanya menjual alam untuk keuntungan pribadi. Karena itu, ia mengaku tidak tertarik mengembangkan TWNC menjadi ekoturisme saat ini.

Dia malah mengharapkan, kalau boleh pengusaha-pengusaha kaya di Indonesia melakukan hal yang sama di daerah-daerah lain, membuat taman konservasi di sejumlah daerah, sehingga keberlanjutan flora dan fauna di Indonesia tetap lestari.

"Banyak investor yang menawarkan modal untuk membangun di TWNC. Tetapi saya tolak, dengan permintaan, kalau bisa bangun saja yang baru di daerah lain, sehingga makin banyak lahan konservasi di Indonesia," katanya.

Kita menunggu, adakah Tommy Winata-Tommy Winata lain yang menyusul, yang mau menyisihkan sedikit kekayaan mereka untuk melindungi flora dan fau- na yang terancam punah di bumi pertiwi ini? [SP/Gusti Lesek]

Sumber: Suara Pembaruan, Selasa, 26 Januari 2010

TSI Pantau Pergerakan Harimau Sumatra

[JAKARTA] Petugas Taman Safari Indonesia (TSI) terus memantau pergerakan dua harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) bernama Panti (betina, berumur 5 tahun) dan Buyung (jantan, 7 tahun) yang dilepas ke habitatnya di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), di Lampung Selatan, Jumat (22/1).

Pengusaha Tommy Winata melihat harimau sumatra bernama Panti sesaat sebelum dilepasliarkan di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Lampung Selatan, Jumat (22/1). (SP/Gusti Lesek)

Kepala TSI Tonny Sumampouw kepada SP, Selasa (26/1), mengatakan, hingga pagi tadi, sekitar pukul 03.00 WIB, kedua harimau itu terpantau oleh general packet radio service (GPRS) TWNC dan TSI, berada di sebuah lokasi dengan jarak sekitar 1,4 kilometer, dalam posisi yang sama dan arah yang sama, tetapi tidak berjalan bersamaan. "Saya melihat keduanya berada di posisi berdekatan, tetapi hanya sebentar, dan tidak jalan bersama," kata Tonny.

Dijelaskan, sejak dilepas ke alam bebas pekan lalu, kedua harimau sumatra itu telah menemukan tempat menetap. Si Buyung, sesaat setelah dilepas langsung menuju ke Danau Seleman, dan menetap selama dua hari di sana. "Itu artinya, dia telah menemukan tempat tinggal dan sumber makanan yang banyak," katanya.

Satwa Langka

Sementara itu, si Panti langsung menuju ke arah Mercusuar Belimbing dan tinggal satu hari di sana. Lokasi mercusuar tidak jauh dari bandara yang selama ini menjadi tempat merumputnya ratusan rusa liar. "Kemungkinan dia mendapat mangsanya di situ. Keduanya kini berada di hutan rimba," kata Tonny.

Pelepasan dua harimau sumatra yang berasal dari Aceh Selatan itu, dilakukan Menteri Kehutanan (Menhut) Zulkifli Hasan dan Bos Grup Artha Graha Tommy Winata, disaksikan sejumlah pejabat Provinsi Lampung.

Menhut mengatakan, pelepasan harimau langka ini dilakukan pada saat dunia sedang menggalakkan perlindungan terhadap satwa langka tersebut. "Pada 28 Januari dan September nanti, para kepala negara akan berkumpul di Thailand dan Rusia, membicarakan upaya pelestarian harimau," katanya.

Karena itu, Menhut berterima kasih kepada seluruh masyarakat, terutama TWNC yang bersedia merawat dan menampung satwa langkah itu di lahan konservasi mereka di Tambling. "Tolong jaga harimau ini," imbau Menhut kepada masyarakat sekitar TWNC sesaat setelah melepas dua ekor harimau sumatra, dua ekor burung elang, dan beberapa ekor penyu.

Tommy Winata mengatakan, harimau yang dilepas ini adalah jenis harimau sumatra yang ditangkap oleh warga Aceh Selatan. Pemerintah kemudian meminta TWNC untuk mengambil dan merawatnya, dengan pesan harus dikembalikan ke habitatnya. "Karena diminta, kami siap menerima dan merawat," kata Tommy Winata.

Ditanya, apakah TWNC akan menerima lagi jika ada harimau sumatra yang masuk ke tempat konservasi ini, Tommy mengatakan, jangankan harimau, semua binatang yang dilindungi akan diterima di tempat ini. Binatang apa saja yang menurut Kementerian Kehutanan sebagai binatang dilindungi, kita terima masuk konservasi di sini," katanya.

Pelepasan dua harimau tersebut berlangsung tegang. Harimau Panti yang dilepas pertama kali, setelah kunci kerangkeng dibuka oleh Tommy Winata, ternyata tidak langsung keluar dari kandang. Panti menunggu sekitar empat menit baru keluar.

Panti

Dia tidak langsung lari ke hutan, tetapi mengelilingi kandang Buyung, yang masih terkunci rapat. Sesekali Panti menatap ke arah tamu yang hadir, membuat banyak yang takut. Sementara itu, Buyung, keluar dari kerangkeng, mengamati situasi, dan langsung berlari kencang ke arah hutan.

Area TWNC, sebagai tempat konservasi binatang liar, yang luasnya mencapai 45.000 hektare, merupakan suatu kawasan di ujung semenanjung, yang terletak di antara Teluk Tampang di bagian barat dan Tanjung Belimbing bagian timur. Atau letaknya persis di ujung selatan Pulau Sumatera. Wilayah ini merupakan bagian dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), yang memanjang dari Provinsi Bengkulu hingga ke Provinsi Lampung. [L-8]

Sumber: Suara Pembaruan, Selasa, 26 Januari 2010

January 25, 2010

Peluncuran Novel: Sastra Sumsel Tertinggal

Palembang, Kompas - Sastra Sumatera Selatan tertinggal dibandingkan daerah lain di Sumatera bagian selatan. Ketertinggalan itu tampak dari sedikitnya jumlah novel karya penulis asal Sumsel.

Hal itu dikatakan Koordinator Institut Jurnalistik Palembang (IJP) Maspril Aries dalam acara peluncuran novel berjudul Angin karya Toton Dai Permana, Sabtu (23/1) di Kampus Stisipol Candradimuka, Palembang.

IJP merupakan lembaga yang menyelenggarakan Program Peduli Penerbitan Buku Sumatera Selatan. Salah satu kegiatannya adalah menerbitkan karya sastra, seperti novel.

Acara peluncuran buku diisi diskusi novel Angin dengan pembicara wartawan Tempo, Arif Ardiansyah, dan pengamat sastra, Rapanie Igama.

Menurut Maspril, di Lampung mudah ditemukan buku fiksi dan nonfiksi di toko buku terkemuka. Namun, di Sumsel sulit ditemukan buku karya penulis Sumsel.

Arif mengutarakan, para penulis Sumsel harus berusaha agar karyanya diterbitkan penerbit buku besar. Penulis Sumsel jangan hanya mengandalkan penerbit buku lokal karena jaringan distribusinya terbatas.

Rapanie menuturkan, penerbitan novel di Sumsel sangat langka. Berdasarkan catatan Rapanie, pada tahun 2009 hanya ada empat novel karya penulis Sumsel yang diterbitkan, termasuk novel Angin .

Perlu didistribusikan

Sesepuh wartawan Sumsel, Ismail Djalili, mengatakan, novel Angin harus didistribusikan secara luas agar dapat dinikmati orang banyak.

Menurut Ismail, sebagus apa pun sebuah karya apabila tidak bisa dinikmati secara luas menjadi percuma.

Setelah novel ini terbit, harus dipikirkan bagaimana mendistribusikannya, ujar Ismail.

Maspril menambahkan, novel Angin akan didistribusikan ke perpustakaan dan sekolah di seluruh Provinsi Sumsel. IJP tidak bisa melakukan distribusi, tetapi pihak sekolah dan perpustakaan yang berminat bisa menghubungi IJP. (WAD)

Sumber: Kompas, Senin, 25 Januari 2010