September 15, 2008

Sorotan: Ketika Menikah di Atas Trailer

KUSNADI (23) dan Rita (19) yang duduk bersebelahan sesekali saling menatap, mereka pun saling melempar senyum mesra. Kemarin adalah hari pernikahan mereka yang terkesan begitu manis, yang tak mudah untuk dilupakan.

Warga Kelurahan Tamin, Kecamatan Tanjungkarang Pusat, itu hari Sabtu (30/8) mengikuti nikah massal bersama 59 pasang pengantin yang lain, di Bandar Lampung. Nikah massal itu dilaksanakan di atas tiga trailer.

”Bagi kami, pernikahan ini amat unik. Kami senang sekali, kesannya begitu dalam. Apalagi selain ini baru pertama kali diadakan di Indonesia, nikah massal ini juga gratis,” kata Kusnadi.

Kusnadi dan Rita sebenarnya telah menikah tahun 2007 lalu, tetapi karena alasan ekonomi keduanya tak dapat mengurus surat nikah sehingga kemudian Kusnadi memutuskan mengikuti nikah massal tersebut.

Rochman (37) dan Ruminah (30), pasangan pengantin yang lain, warga Kelurahan Sukadanaham, Kecamatan Telukbetung Barat, juga mengungkapkan alasan yang sama mengikuti nikah massal yang digelar oleh perusahaan sigaret kretek tangan (SKT) Rawit Lampung itu.

”Sampai sekarang kami belum mempunyai surat nikah. Lewat nikah massal ini semua biaya ditanggung oleh perusahaan rokok Rawit,” kata Rochman.

Pendapat senada juga diungkapkan pasangan Hasyim (37)-Arkana (34). Pasangan warga Sribhawono, Lampung Timur, yang menikah tahun 1995 dan sudah dikaruniai dua anak itu hingga sekarang belum memiliki surat nikah.

”Kami seperti mengulang pernikahan kami. Bedanya dulu, selang satu bulan setelah menikahkan kami, penghulunya meninggal sehingga tidak sempat menguruskan surat nikah kami. Sekarang nikah sekejap, dalam sesaat kami mendapat surat nikah,” ujar Hasyim sambil tersenyum malu.

Khotbah nikah

Nikah massal itu dilaksanakan di halaman GOR Saburai, Bandar Lampung. Rangkaian acara diawali dengan khotbah nikah, kemudian dilanjutkan akad nikah secara simbolis yang dilakukan di dalam trailer.

Akad nikah secara simbolis itu dilakukan oleh pasangan Rizal (24) dan Anita (21), yang didampingi oleh Kepala Dinas Pariwisata Lampung M Natsir Ari Nur selaku saksi, kemudian penghulu Sudrajat dari Kantor Urusan Agama (KUA) Tanjungkarang Pusat, Bandar Lampung.

Ke-60 pasang pengantin yang mengenakan baju koko warna merah hati untuk pria dan mempelai wanita dengan kebaya warna serupa beserta selendang kuning itu kemudian diarak keliling kota menggunakan tiga trailer.

Semua mempelai pengantin diarak dengan posisi duduk di dalam trailer. Kursi-kursi bagi semua mempelai disiapkan dalam balutan kain putih sebagai perlambang kesucian pernikahan.

Trailer berkeliling kota mulai dari Jalan Tulang Bawang, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Achmad Yani, Jalan Kartini, Jalan Raden Intan, kemudian kembali lagi ke GOR Saburai.

Ketika melintas di daerah pertokoan dan Pasar Bambu Kuning kawasan Jalan Kartini, warga pun menyambut dengan sorak-sorai. Tak mau ketinggalan, semua mempelai membalas dengan lambaian tangan dan senyum ceria.

Digelar

Brand Manager Rawit Venly Ayu Cahya mengemukakan, nikah massal itu merupakan rangkaian acara rutin pesta rakyat yang digelar perusahaan itu.

”Acara ini juga didaftarkan ke Muri (Museum Rekor Dunia Indonesia). Tahun 2006 melalui acara pesta rakyat juga kami meraih penghargaan rekor Muri untuk kentungan cabai terbesar. Tahun 2007 meraih rekor Muri, yaitu pernikahan massal di atas gajah serta nikah massal di atas perahu di Palembang,” kata Venly Ayu Cahya.

Menurut Venly, nikah massal tersebut kembali digelar mengingat masih banyak warga setempat yang tak mampu atau kesulitan mengurus surat-surat pernikahan mereka.

Kepala Dinas Pariwisata Lampung M Natsir Ari Nur dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas kegiatan kreatif nikah massal tersebut meski sebenarnya pernikahan merupakan kegiatan sakral, tetapi ternyata dapat dikemas ke dalam format hiburan yang memberikan hiburan kepada masyarakat luas.

”Kegiatan ini juga turut mendukung Festival Krakatau Ke-18 Tahun ini,” kata Natsir.

Sementara itu, tim dari Muri yang meninjau kegiatan itu kemarin adalah Awan Rahargo dan Yusuf Ngadri.

”Kegiatan ini telah meraih rekor Muri dengan kategori Terunik,” kata Awan.

Semua mempelai akan selalu mengenang pesan Ustad Hafifulloh dalam khotbahnya, ”Biarlah nikah massal di atas trailer itu meninggalkan kenangan yang manis.”

Namun, tak cukup hanya di situ, biarkan perjalanan biduk rumah tangga ke-60 pasang itu ke depan juga langgeng dan manis selamanya. (HLN/SEM)

Sumber: Kompas, Senin, 15 September 2008

No comments:

Post a Comment