February 9, 2010

Kemandekan Kebijakan Pengajaran Bahasa Lampung

Oleh Imelda*


Bahasa menunjukkan bangsa.
(Hadikusuma, 1989:24)

Ketika Hilman Hadikusuma membahas gagasan kebahasaan dalam buku Masyarakat dan Adat Lampung (1998), baris pertama tulisannya memberikan sebuah petuah penting, yaitu bahasa menunjukkan bangsa. Terlepas dari homogenitas yang melatari hadirnya buku tersebut, Hadikusuma sadar sekali bahwa bahasa menjadi penciri atau identitas yang khas untuk merujuk pada diri seseorang/sekelompok orang.

Tentu kita juga sadari hal ini, misalnya, ketika berbicara dengan orang Jawa, segera kita tahu karena bunyi-bunyian yang diucapkan oleh lidahnya menunjukkan sesuatu yang khas tentang diri si penutur.

Identitas dan bahasa menjadi menarik untuk lebih disoroti ketika dibawa ke dalam ranah politik daerah seperti Provinsi Lampung yang sedang mencari-cari jati dirinya yang ternyata tidak sama dan ini ditekan sedemikian rupa, sehingga menjadi energi yang habis tanpa guna.

Sedikit pertanyaan untuk berkontemplasi, daerah mana yang tidak memiliki dialek dalam hal kebahasaan? Bahasa Melayu saja banyak dialeknya. Sebut saja Melayu Riau, Melayu Ternate, Melayu Betawi, Melayu Papua, dan lain-lain. Dalam lokus yang lebih kecil lagi, bahasa Jawa juga banyak jenisnya, dari Jawa Ngapak hingga Jawa Keraton. Dapat saya katakan bahwa perbedaan dialek itu biasa saja dan tidak seharusnya ditekan, diberi garis bawah atau dicetaktebalkan.

Kembali kepada bahasa Lampung dan ragam dialeknya, dengan demikian, merupakan sesuatu yang biasa-biasa saja. Ada dialak A (api) dan dialek O (nyo) yang memiliki beragam varian yang justru menjadi menarik dan menandakan betapa lokus budaya ini kaya akan dialek dari satu bahasa. Selanjutnya, apa yang menjadi persoalan ketika wacana standardisasi bahasa diluncurkan? Tarik-menarik antardialek dengan berbagai aktor, antara lain: politik, adat, dan akademisi. Tiga elemen penting yang menopang perkembangan kebahasaan di Lampung ini masih bertarung sengit.

Aktor politik yang melahirkan kebijakan masih belum mampu bergerak karena pemangku adat masih tetap berkeras bahwa dua dialek Lampung (api dan nyo) ini berbeda. Mereka masih memberi garis pembeda yang tebal di antaranya sehingga seperti minyak dan air yang tidak menyatu. Sementara itu, para aktor akademisi yang menjadi mesin kohesi masih terus saja menjadi juru kampanye masing-masing asal dialek dengan membuat berbagai perangkat pengesahan perbedaan, seperti kamus dan wacana lainnya yang saling membedakan.

Keadaan ini akhirnya, lagi-lagi membuat pembuat kebijakan politik seperti macan ompong yang hampir mati lemas karena dilempar ke sana dan ke mari dengan berbagai wacana perbedaan. Demikian juga wacana pemilihan dialek Lampung campuran (saya menolak istilah "Lampung cadang" karena ini mendiskreditkan kelompok masyarakat Lampung yang menggunakan kombinasi dialek nyo dan api) dinilai sebagai ide yang ideosinkratik karena tidak taat dengan kemurnian kelampungan.

Wacana dan realitas pertarungan elite di atas mau tidak mau, akhirnya, menimbulkan efek yang tidak sederhana di ranah pengajaran bahasa Lampung. Mengapa saya bisa mengatakan demikian? Ini karena perkembangan pengajaran bahasa Lampung masih stagnan dengan pengajaran aksara Lampung yang buat saya secara pribadi tidak ada gunanya secara praktis. Coba jawab pertanyaan ini, teks mana yang ditulis dengan aksara Lampung yang bukunya diterbitkan akhir-akhir ini? Pasti jawabannya tidak ada. Lantas, mengapa ini yang masih diajarkan di sekolah-sekolah?

Lagi-lagi, saya katakan bahwa ternyata kita masih antiperbedaan. Mengapa demikian? Karena kita masih bersembunyi di balik aksara yang diajarkan dengan berpura-pura mengaku Lampung itu satu dan sama sehingga apa yang menyatukan saja yang diajarkan. Nah, yang menyatukan berbagai dialek Lampung ini adalah aksara Lampung, makanya kita menjunjung sangat pengajaran aksara ini.

Apa yang sebenarnya terjadi saat ini ialah masih bertahannya borok-borok Orde Baru yang menekan homogenitas, yang sama sekali tidak berkontribusi baik bagi perkembangan pengajaran bahasa Lampung yang lebih komunikatif dan berfungsi sebagaimana layaknya bahasa. Kita lebih senang dengan bermimpi bahwa mengajarkan aksara bahasa Lampung akan kekal, padahal di dunia nyata aksara ini tidak lagi berguna karena alfabet Romawi lebih bisa dipahami oleh generasi muda Lampung yang notabene menjadi penerus eksistensi bahasa Lampung.

Saya memang ingin mengundang polemik melalui tulisan ini supaya ada pemecahan bagi kemandekan pengajaran bahasa Lampung yang masih tarik menarik mengenai perbedaan. Tidak bisakah kita duduk bersama dan saling berdiskusi untuk masa depan bahasa Lampung yang katanya menjadi ciri bangsa ini? n

* Imelda, Peneliti di Puslit Masyarakat dan Budaya, LIPI

Sumber: Lampung Post, Rabu, 10 Februari 2010

No comments:

Post a Comment