May 3, 2012

[Hardiknas] Pendidikan Perlu Sinergi Program



SILANG sengkarut problema pendidikan berawal dari pelaksanaan program yang tidak terpadu. Ke depan, semua pihak harus saling bersinergi menerapkan berbagai program pendidikan.

Warsita dari Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Lampung mengatakan berdasarkan hasil penelitian pendidikan memang sudah berjalan. Tetapi pada tataran mutu, kualitas pendidikan Indonesia masih rendah.

Untuk menjawab masalah ini, diperlukan sinergi dan sinkronisasi antara Pemerintah Pusat sampai pemerintah daerah terkait program-program pendidikan. Setiap satuan kerja (satker) harus saling mendukung, misalnya dalam proses belajar-mengajar.

"Situasi sekarang setiap satker mengedepankan ego sektoral masing-masing. Ini urusanmu, ini urusanku, semua seakan terpisah-pisah. Padahal semua menjalankan program yang sama," ujarnya.

Warsita juga menekankan perlunya penilaian terhadap program kerja yang sudah dijalankan. Ia mencontohkan penilaian mengenai 18 karakter yang harus terintegrasi dalam mata pelajaran di sekolah. "Harus ada penilaian dan ukuran yang jelas agar diketahui mana yang sudah tercapai dan mana yang belum," kata Warsita.

Sependapat dengan Warsita, Kabid PMPTK Dinas Pendidikan Lampung Ria Andari mengatakan pendidikan yang terdiri dari banyak elemen memerlukan kolaborasi yang baik. Beberapa elemen seperti LSM, Dewan Pendidikan, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), dan birokrat harus bersinergi untuk merumuskan dan menghasilkan kebijakan dan program sesuai dengan kebutuhan. "Kalau Anies Baswedan punya Indonesia Mengajar, kenapa kita di sini tidak membuat program Lampung Mengajar? Tetapi semua perlu dukungan dari semua pihak," ujarnya.

Dinas Pendidikan Lampung, menurut Ria, terbuka kepada setiap pemangku kepentingan untuk memberi masukan dalam rangka penyusunan program pendidikan. Termasuk dalam penyusunan APBD tahun 2013 mendatang agar setiap program dan anggaran yang dibuat dapat menjawab persoalan pendidikan.

Gegar Budaya

Sementara itu, M. Thoha B. Sampurnajaya dari FKIP Unila mengemukakan gegar budaya (culture shock) sejak 13 tahun silam tidak memberikan perubahan ke arah yang lebih baik, termasuk di sektor pendidikan. "Menjelang seratus tahun kemerdekaan 2045 nanti, kita perlu memikirkan sejak sekarang. Peran itu ada pada kita, generasi Indonesia sekarang" ujar Thoha.

Dekan FKIP Universitas Lampung Bujang Rahman menambahkan pendidikan adalah pekerjaan seluruh atribut manusia yang melibatkan sinergi antara fisik, hati, dan pancaindera dan semuanya membutuhkan sistem pendukung. "Pendidikan harus dilihat komprehensif baik dari segi psikologis, motivasi, dan manajemen sehingga persoalan pendidikan dapat diatasi," ujarnya. (MG1/MG4/S-1)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 03 Mai 2012 2

No comments:

Post a Comment