July 29, 2007

Tari Kreasi FKL: Pelestarian Seni dan Adu Gengsi

--- Mustaan

SETIAP tahun di Lampung selalu digelar pesta seni dan budaya daerah dengan nama Festival Krakatau Lampung (FKL). Selain sebagai upaya pelestarian seni tradisi dan budaya daerah, juga pendorong majunya pariwisata Lampung.

Berbagai perlombaan digelar untuk mengenalkan perkembangan seni budaya di provinsi yang menjadi daerah transit antara Pulau Jawa dan Sumatera. Salah satunya ialah gelaran lomba tari kreasi antarkabupaten/kota se-Lampung untuk meraih "gengsi" para bupati dan wali kota.

Sepuluh kota dan kabupaten se-Lampung menyuguhkan kreasi dari koreografer dan penata musik dalam lomba tari itu. Pada FKL XV tahun 2007 digelar di Taman Budaya Lampung, pekan lalu.

Para penata gerak atau koreografer dan penata musik dari setiap daerah bersiap memberi sajian tari kreasi yang bagus. Sebab, keberadaan tari kreasi Lampung ini untuk menambah khazanah tari yang ada di daerah Lampung, selain tari tradisionalnya.

Namun, di akhir event lomba tari kreasi Lampung itu, muncul kekecewaan dari sebagian besar kontingen yang jadi peserta. Pasalnya, dalam lomba banyak sekali kekurangan dalam persiapan pelaksanaan, mulai panggung sampai fasilitas lomba lain, sehingga segala persiapan peserta yang dilakukan sejak berbulan-bulan menjadi buyar.

"Persiapan kami untuk ikut lomba ini kira-kira senilai Rp5 jutaan. Tapi, persiapan panitia untuk menyediakan sarana lomba hanya senilai Rp2 jutaan saja," kata penata musik dari salah satu kabupaten, Anthony.

Hal ini tentunya menurunkan semangat para seniman tari maupun musik yang ikut berlomba. Apalagi dalam penilaian juri juga terjadi keanehan karena penentuan juaranya tidak seperti penilaian rata-rata audiensi yang rata-rata seniman tari dan musik juga, sehingga juara yang dipilih panitia hanya sekadar mengarahkan agar ada pemenang lomba. "Bahkan ada peserta tari yang tidak kuat menonjolkan adat budaya Lampung menjadi juara. Bahkan, tarian mereka seperti meniru kreasi dari provinsi lain," katanya.

Dalam lomba tari kreasi tersebut dimenangkan kelompok dari Kabupaten Tulangbawang dengan tari berjudul "Onang" sebagai juara pertama. Kemudian disusul Kabupaten Lampung Barat dengan "Kelakup Gangsa" dan Kabupaten Lampung Utara dengan tema "Tugu Siger" sebagai juara ketiga.

Untuk juara pertama akan mewakili Provinsi Lampung dalam ajang Parade Tari Nusantara. "Alangkah malunya Lampung jika wakil yang dikirimnya ketahuan daerah lain meniru," kata penata tari Lampung Barat Nyoman Mulyawan.

Padahal ajang lomba tari kreasi itu bagi seniman tari Lampung sebagai unjuk kebolehan kreasinya. Juga dalam mengenalkan serta menunjukkan eksistensi seni tari di Lampung ke masyarakat, sehingga ke depan seni tari di Lampung makin berkembang dan menjadi salah satu pertunjukan wisata. "Misalnya kami mencipta tari ini dari menggali cerita rakyat di Lampung Barat agar khazanah tari Lampung Barat makin bertambah sepanjang tahun," katanya.

Khawatirnya jika ajang tersebut tidak dilaksanakan secara baik dan fair, akan menurunkan semangat seniman tari di Lampung. Sebab, seolah kreasi yang dibuatnya dalam kurun waktu pekanan atau bahkan bulanan tidak mendapat penghargaan dari para juri lomba.

Bahkan, lebih dalam lagi para seniman tari justru ikut-ikutan meniru tata gerak tari daerah lain pada tari yang diajukannya dalam lomba. "Akhirnya event lomba tari kreasi menjadi formalitas saja tanpa ada makna pengembangan seni budaya daerah," katanya.

Menurut Nyoman, dari pengalaman di daerah asalnya Provinsi Bali ada cara agar penilaian fair, yaitu dengan memasukkan para pengamat seni tari dari daerah yang ikut lomba tari kreasi. Mereka diberikan wewenang menilai pertunjukan tari dari daerah lain, dan tidak boleh menilai untuk daerah sendiri. "Akhirnya kan penilaian menjadi lebih transparan dan dapat diterima semua peserta," katanya.

Begitu juga yang dikatakan penata musik dari Lampung Barat Endang Guntoro yang melihat seluruh fasilitas perlombaan hanya seadanya. Bahkan, untuk sarana yang vital seperti peralatan sound dan tata cahaya dirasakan sangat kurang.

Dan itu sangat berpengaruh pada efek-efek gerak penari yang menggambarkan sebuah cerita. "Kalau bisa ke depan Dinas Pariwisata menyerahkan kepanitiaan kepada yang benar-benar ahli dalam kesenian, sehingga persiapan lomba benar-benar membuat puas peserta," katanya.

Ajang Silaturahmi

Sementara itu, Sekretaris Dewan Kesenian Lampung (DKL) Harry Djayaningrat mengatakan ajang lomba itu jangan dijadikan sebagai momentum untuk menang, sehingga tidak muncul kekecewaan yang dapat menimbulkan efek negatif terhadap perkembangan seni, khususnya tari, di Lampung. Seniman harus dapat yakin bahwa FKL bukanlah satu-satunya tolok ukur dari nilai kreasi yang telah diciptakan seniman.

Masih banyak ajang penilaian untuk unjuk gigi kreasi para seniman Lampung. Lagi pula festival itu bukan hanya di Lampung, di provinsi atau negara lain juga dapat diikuti para seniman itu, sehingga spirit seniman untuk terus berkreasi akan memunculkan tari Lampung sebagai salah satu bentuk wisata yang dapat disuguhkan ke wisatawan. "Anggap saja ini sebagai ajang silaturahmi antara koreografer dan penata musik dalam menambah dan saling sharing pengalaman."

Harry menilai ada salah satu kelompok tari yang tidak menunjukkan idiom-idiom Lampung. Namun, ternyata akhirnya mereka pun tidak berada pada posisi juara pertama, kedua, dan ketiga. Walaupun itu tari kreasi, dengan tidak menonjolkan idiom daerah akhirnya menjadi modern dance semata. "Di sinilah ajang para seniman untuk saling berbagi dan koreksi demi kemajuan seni Lampung," katanya.

Memang ketidakpuasan selalu menghantui panitia dalam setiap ajang perlombaan. Karena setiap peserta merasa sudah menunjukkan penampilan sebaik mungkin. Ditambah juga persiapan yang sudah dilakukan peserta untuk maju dalam ajang itu, tentunya dengan pengorbanan baik tenaga maupun materi. "Wajar kalau ada ketidakpuasan, tapi saya nilai semua yang tampil rata-rata sudah bagus," kata Harry.

Kemudian untuk menambah spirit para seniman di Lampung, Harry berharap Dinas Promosi Investasi Kebudayaan dan Pariwisata (PIKP) Lampung harus memberi kesempatan maju mereka dengan mem-follow up semua peserta pada ajang berikutnya baik tingkat nasional maupun internasional. Sehingga mereka terpacu mengembangkan pengetahuan dan wawasan seni tari mereka. "Para seniman jangan berkecil hati dan terus berkreasi, bersama kita membangun seni budaya daerah ini," katanya.

Sumber: Lampung Post, Minggu, 29 Juli 2007

1 comment:

  1. maap klo sakit hati tp aku gx gt ngerti ttg blog ini^^

    ReplyDelete