May 16, 2009

Esai: Penyair yang Paripurna?

Oleh Fitri Yani

KARENA cermin itu merefleksikan apa yang dicerminkannya, pada dasarnya sastra dianggap sebagai tiruan yang bisa menampilkan sisi lain dari kenyataan.

***

Sastra tercipta karena kebutuhan untuk menampilkan rekaan yang bisa mencerminkan hal yang tak kita ketahui di dunia nyata ini, kehendak untuk memasuki sesuatu yang tak dapat kita ketahui dan kehendak itulah yang saya kira membuat kita tergerak untuk tetap menghasilkan karya sastra.

Sebagaimana cermin yang merefleksikan apa yang dicerminkannya, sastra pun berupaya menampilkan sisi lain kenyataan. Sapardi Djoko Damono mengatakan sastra merupakan tanggapan evaluatif terhadap kehidupan. Artinya, ada sebuah proses dialektika dari pergulatan serta penafsiran pengarang akan realitas kehidupan yang menurut Umar Kayam (1988) bakal memberi roh dan membuat sebuah karya sastra hidup abadi.

Penciptaan karya sastra--seperti juga penciptaan karya seni lain--memang memerlukan sebuah proses dan waktu untuk mencapai kedalaman.

Media cetak (koran), dalam perkembangannya memang cukup memberi ruang untuk ikut melestarikan tradisi penulisan sastra lewat rutinitas halaman sastranya.

Saya tergerak sedikit menanggapi lontaran Budi P. Hatees dalam esainya Puisi dari dan untuk Ruang Sunyi di Lampung Post, Minggu, 19 April 2009: "Saya berbicara tentang penyair-penyair di Lampung, yang merasa sudah paripurna sebagai penyair setelah karya-karyanya muncul di Kompas. Padahal menulis sajak bagi mereka tidak didorong hal-hal berbau kesenian, tetapi lebih tepat karena desakan ekonomi."

Pertanyaannya, penulis yang telah "memeram" karyanya selama beberapa waktu sampai layak untuk diakui kehadiran serta wujudnya sebagai sebuah karya, apakah tak didorong hal-hal berbau kesenian? Apakah tak berhasrat untuk mencapai yang estetik itu? Batasan seperti apakah yang dimaksudkan dengan penyair yang paripurna? Apakah penyair itu sendiri adalah sebuah gelar akademis?

Jika penyair adalah sebuah gelar akademis, barangkali ada beberapa jenjang yang mesti dilewati secara akademik, dan setiap orang bisa menjadi penyair. Namun apakah benar demikian? Atau apakah dengan dimuatnya karya seseorang di Kompas, ia akan mendapatkan gelar penyair yang paripurna?

Merasa paripurna penyair setelah dimuat koran, ah, saya rasa itu tudingan yang berlebihan. Tidak ada argumen yang kuat untuk menyebut "penyair Lampung merasa paripurna". Bahwa dimuatnya karya seseorang di koran merupakan tolok ukur penguasaan estetik adalah benar dan mendapatkah honor sebagai hadiah kecil merupakan hal yang wajar.

Penyair Lampung menulis karena desakan ekonomi? Saya berharap tidak karena setiap Penyair tentu memiliki sikap dalam berkarya dan saya kira gambaran Budi P. Hatees terlalu berlebihan.

Kematangan berkarya tidak lepas dari kerja keras dan tuntutan pada diri sendiri yang keras jika ingin mendaki ketinggian demi ketinggian tanpa puncak. Nama hanyalah dampak atau hasil dari suatu pekerjaan bukan menjadi tujuan. Apalagi jika kita sepakat bahwa sesungguhnya penyair tidak lain dari suatu nama dari profesi dan tanggung jawab serta komitmen berdasar pada suatu pandangan hidup yang diwujudkan dalam bentuk puitik bernama puisi.

Kemuliaan dan kehormatan menjadi penyair saya kira terletak pada kadar artistik dan sumbangan pemikiran bagi usaha memanusiawikan diri, manusia, kehidupan dan masyarakat bukan terletak pada tujuan-tujuan narsistik. Prestasi seorang penyair, seperti kata Ignas Kleden, diukur berdasar pada pendalaman makna yang sanggup diserap dan diendapkannya, sehingga (dalam hal ini) pembaca mampu menghayati tulisannya dengan lebih intens.

Kreativitas bukan semata-mata masalah estetika, melainkan tak mungkin lepas dari intelektual. Seniman yang baik adalah intelektual yang baik, yang menurut Budi Darma, adalah selalu mencari, belajar, dan berkembang secara jujur. Bukan pura-pura mencari, pura-pura belajar atau pura-pura berkembang. Seniman yang baik juga memiliki daya serap, daya seleksi dan daya susun yang tinggi.

Ada beberapa pertanyaan yang dapat kita jadikan indikasi untuk melihat tingkat keseriusan kita dalam menekuni bidang penulisan; apakah dalam berkarya kita hanya sekadar ingin menjadi seorang penggembira atau lebih terdorong lagi untuk menjadi seorang ahli? Seperti halnya seorang koki, banyak orang bisa memasak atau sekadar bisa memasak, tapi menjadi seorang chef di hotel berbintang lima tentu dibutuhkan keahlian khusus.

Kegelisahan seorang tukang becak tentu berbeda dengan kegelisahan seorang penyair, tukang becak hanya menghadapi fakta sebagai persoalan, sedangkan penyair, seperti kata Budi Darma, menghadapi fakta sebagai gejala dari sesuatu yang lebih hakiki.

Menyedihkan sekali sekiranya benar ada penyair yang merasa telah paripurna (telah mencapai titik-sampai) sebagai penyair. Padahal, masih banyak hal yang perlu terus dicari dan dipelajari dari kehidupan dan alam semesta ini. Ke mana lagi akan melangkah jika tujuan terasa telah sampai? Sementara itu, dunia kian mengalami gerakan di berbagai bidang dan manusia sebagai gerak itu sendiri tak dapat menghindar.

Kita digerakkan dan menggerakkan. Kita objek sekaligus subjek, berada di antara tahu dan tidak tahu. Kita penentu pilihan, tetapi juga penerima pilihan yang bukan pilihan kita. Pilihan kita pada suatu saat dianggap benar, pada lain saat dianggap salah. Begitu pula sebaliknya.

Segalanya berubah dan berkembang terus. Yang tidak mengalami perubahan dan perkembangan adalah hukum perubahan dan perkembangan itu sendiri, yang merupakan kemutlakan. Barang siapa mencapai idealnya, kata Nietzche, sekaligus dengan itu sudah melewatinya. Proses berkesenian saya ibaratkan seperti menjadi sysiphus yang tak pernah mencapai puncak pendakian, tetapi kemudian kembali lagi untuk mendaki dan terus mendaki.

Puncak bukanlah suatu kepastian. Bahkan, tak pernah terlihat ketika harus kembali mendaki lagi dari bawah, suasana baru yang tak henti berkembang dan berganti. Barangkali titik-sampai bagi pengarang adalah kematian. Atau mungkin juga ada pilihan lain, yaitu merasa cukup, dan itu juga berarti "kematian".

Apakah paripurna yang dimaksudkan Budi P. Hatees adalah penyair yang menggagap karyanya sejajar dengan kitab suci, tak boleh dikritik, harus disanjung, tak ada cela pada para penyair, mereka paripurna. Memangnya, ada penyair yang besar tanpa kritik?

Di Lampung khususnya, mereka yang telah menorehkan prestasi yang cukup membanggakan di khazanah perpuisian Indonesia dan dunia tentunya tak pernah luput dari kritik. Dari kritik itulah penyair bisa melihat hasil capaian dan tempatnya dalam standar yang lebih luas. Sulit saya bayangkan bagaimana sastra bisa berkembang sehat tanpa kritik.

Pada akhirnya, lagi-lagi saya mengutip Budi Darma, sastra yang baik dapat meledakkan imajinasi pengarang lain, dan menggelindingkan pengarang tersebut untuk menyelesaikan karya sastra. Dan karya sastra yang baik pula dapat membius kritikus untuk menulis kritik terhadap karya tersebut.

Dan kritik sastra yang baik mau tidak mau juga inspiratif. Manusia (dalam hal ini penyair), meminjam istilah Nietzsche, merupakan makhluk yang tidak selesai dan harus berusaha menyelesaikan penyempurnaan kemampuan dan perkembangan diri sendiri.

* Fitri Yani, aktif berkesenian di Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung Divisi Teater dan Sastra.

Sumber: Lampung Post, Minggu, 17 Mei 2009

No comments:

Post a Comment