January 24, 2010

Perspektif Gembira Sastra Lampung

Oleh Hardi Hamzah

Spektrum menggagas sastra daerah, tentu banyak kendala. Namun, dengan munculnya dua karya ini, kita seakan terhenyak, karena ternyata masih ada, dan mudah-mudahan bertambah.

SETELAH gebrakan spektakuler buku puisi Mak Dawah Mak Dibingi karya Udo Z. Karzi (BE Press, 2007), yang merambah ke tingkat nasional, akhir tahun lalu kita diperkenalkan dengan dua karya sastra yang cukup menggelitik.


Dua karya berupa kumpulan puisi berjudul Di Lawok, Nyak Nelepon Pelabuhan karya Oky Sanjaya dan kumpulan cerpen bertitel Cerita-Cerita jak Bandar Negeri Semuong karya Asarpin Aslami--keduanya kebetulan juga diterbitkan BE Press, Bandar Lampung, --sungguh memberi pilar penalaran tersendiri bagi khasanah kebudayaan Lampung.

Di Lawok Nyak Nelepon Pelabuhan karya Oky Sanjaya ini, dibuka dengan prawayang Mulang Goh. Mulang Goh merefleksikan nuansa kepasrahan, tapi menjelmakan ketidakputusasaan, dus kegembiraan akan suatu kenangan.

Detail puisi dalam karya Oky, kiranya memang menghentak semangat baru melalui jebakan kata dan seribu nuansa, misalnya saja, puisi yang berjudul Kituk. Sebagai orang Lampung kita tentu mengernyitkan dahi dengan judul tidak senonoh itu.

Tetapi, kituk ternyata menyelimuti kita untuk memahami bersebadan dengan alam dan romantisme, ini dapat kita baca pada halaman 5. Sederet kelana dan romantisme dikembangkan dan diaktualisasikan lewat napas-napas menggugah. Ini dapat kita rasakan dalam Bulan Nyusut (hlm. 8).

Di keheningan Bulan Nyusut, kita diajak berlari dan menggebrak nuansa baru dari sebuah karya, penulis lalu mengingat kumpulan sajak sepatu tua karya Rendra yang menyentak dan menggugah hati dalam kebeningan bahasa. Gugahan itu kemudian diintrodusir pula oleh penulisnya dalam puisi Tentang Bebai Melok Jukuk (hlm. 14).

Gugusan baru memang selalu dibuka di dalam atmosfer antara puisi dan prosa, ini setidaknya bila kita ambil serapan lain dari karyanya yang berjudul Tentang Lambung di Lamban Lamban Langgar (hlm.16), Hasok (hlm. 23), Lapah Duma (hlm. 31), Sajak Jamma Kalah (hlm. 43). Sementara itu, puisi Di Lawok Nyak Nelepon Pelabuhan (hlm. 18), kita tidak begitu mendapatkan gereget, kecuali hanya paparan, meski terbilang naratif di siklus perpuisian.

Banyaknya puisi yang dimunculkan dalam buku ini, tentu saja menghantar kita untuk mencari idiom dan variabel tersendiri agar dapat memantapkan jiwa sebagai kegembiraan membaca puisi. Aneka ragam bahasan yang tidak membosankan, justru kekuatan tersendiri dalam buku ini, setidaknya bila kita memahaminya dari kelangkaan puisi berbahasa Lampung, kekuatan yang diversifikatif membulatkan pikiran kita untuk lebih jauh merayap dan tertatih tenggelam dalam penghayatan.

Mengapa harus tenggelam, karena ada karya yang serpihan katanya melantunkan kosa kata menggoda, seperti Cirik (hlm. 24), Hanipi Nganik Bulan (hlm. 26), Ulay (hal.39), Ngukui (hlm. 52), Fermentasi Tapai Kikim (hlm. 61), dan Introspeksi (hlm. 3). Dari judul-judul ini, terasa tranformasi penjajagan terhadap keberanian mengulas kata ditawarkan sedemikian baik, sehingga, terlalu arogankah bila saya membandingkan dengan karya Linus Suryadi Ag., Hujan Gerimis di Bulan Desember atau karya-karya Hamsad Rangkuti, Sampah Bulan Desember, atau seperti Obsesi Perempuan Berkumis karya Budi Darma (Jurnal Prosa Ketiga).

Singkat kalimat, dengan 74 puisinya Oky Sanjaya, bukan sekadar menggugah pecinta sastra dan budaya Lampung, lebih dari itu, Oky telah merangsang kita dalam merenung, dan rangsangan itu disetop pada kosa kata yang dalam. Dan seperti ada kesengajaan, bahwa rangsangan kosa kata Oky tidak sampai membuat kita orgasme, ini tentu menggoda kita agar berahi sastra kita tidak terlalu diumbar.

Dalam buku berikutnya, penulis dan intelektual Lampung Asarpin Aslami mengajak kita untuk membaca kumpulan cerpen melalui kaca mata biru. Kumpulan cerpen Cerita-Cerita jak Bandar Negeri Semuong, melampirkan kesukaan atau kesenangan kita untuk mengenang negeri negeri yang jauh, sehingga seakan akumulasi dari cerita memberikan penggalan-penggalan khayali antara ada dan tiada.

Dia menjadi ada, apabila rasa yang menggugah rasa kita kawinkan dengan satu kesatuan utuh dari mosaik yang dipaparkan Asarpin. Ini dapat kita rasakan bila kita membaca Hiwang (hlm. 29). Meski semangat ada itu bisa saja tergelicir bila kita komparasikan dengan Gunung Putri (hlm. 44), atau Teluk Semaka (hlml 15). Kendati Siahan (hlml.70) memberi makna tersendiri agar kita tidak sembrono dalam membangun diskursus baru bagi suatu cerita pendek.

Diskursus itulah yang merajut seluruh cerita dalam buku ini sehingga lebih bermakna, dan mengingatkan kita pada karya besar yang sangat berhati-hati semacam Collective Vision karya Gorge Luis Burges, dan memaknainya lewat komparasi dari Cerpen Pilihan Kompas Jejak Tanah, Perilaku Ganda Remy Silado, dan Ader Ader dalam Perjalanan, Kumpulan Cerpen Timur Tengah.

Menguak lebih jauh karya Asarpin, terkadang membawa stagnasi dari dinamika persuasif suatu karya. Artinya, pertimbangan Asarpin tidak hanya bersinggungan dengan tunggal nada bahasa daerah (dalam hal ini bahasa Lampung), tapi ia justru mendorong dan menikam-nikam kerohanian kita untuk pandai-pandai menikmati sastera daerah. Ini terlihat dalam Warahan Semakung Pedom (93), Badok (hal.37), Lintah Ganding (hlm. 98) dan Metudau (hlm. 116).

Spektrum mengagas sastra daerah, tentu banyak kendala. Namun dengan munculnya dua karya ini, kita seakan terhenyak, karena ternyata masih ada, dan mudah-mudahan bertambah, bahwa penggiat sastra daerah telah mencoba menjadi janin baru setelah embrionya berada dalam rahim Mak Dawah, Mak Dibingi. Dalam konteks inilah, tentu kita berharap embrio dan janin, kelak mampu melahirkan bayi sehat bagi perspektif perkembangan kebudayaan Lampung, khususnya di bidang kesusasteraan. Insya Allah.

* Hardi Hamzah, Peneliti INCCIS dan Staf Akhli MAHAR Foundation

Sumber: Lampung Post, Minggu, 24 Januari 2010

[Fokus] Orang Lampung Bisa! Bahasa Indonesia Bisa!

Kebanggaan terhadap kemampuan negeri sendiri terus bergaung. Namun, kesadaran berbahasa dengan bahasa sendiri, bahasa Indonesia, terus tergerus.

MALAM Minggu (16-1). Di atas panggung megah di Lapangan Merah. Mungkin untuk pertama kali, orang-orang hebat meneriakkan dua kata silih berganti dengan penuh penjiwaan. "Orang Lampung bisa!" Tak kurang, Aburizal Bakrie, salah satu orang terkaya di Indonesia, tokoh asal Lampung itu menjadi pelopor kebangkitan daerahnya. Meskipun dibalut misi bisnis melalui perusahaan operator telepon selular; esia.

Ical, sapaan akrab anak suluh Ahmad Bakrie, taipan kelahiran Kalianda, seperti sedang bangun dari mimpi soal daerah asalnya. Sebelumnya, meski selalu digadang-gadang sebagai orang Lampung, pemilik Grup Bakrie ini terlihat kurang peduli dengan Lampung. Dan Sabtu pekan lalu, ia hadir dengan teriakan "Orang Lampung Bisa!"

Tidak berhenti di situ. Beberapa hari kemudian, beberapa tapak tilas baru sudah terlihat. Selain memang beberapa perusahaannya berada di Bumi Ruwa Jurai, ada yang menunjukkan ketertarikannya secara sosial budaya. Satu papan nama cukup besar terpasang di jalinsum tak jauh dari Kalianda bertulis; "Di Sini akan Dibangun Pondok Pesantren H. Ahmad Bakrie". Gedung yang dulu dibuat untuk markas PDI Perjuangan Lampung Selatan, kemudian diubah menjadi pangkalan Golkar, kini akan disulap menjadi pesantren.

Pekik "Orang Lampung Bisa!" bukan hanya milik Aburizal yang juga membawa anaknya Anindya Bakrie yang juga bos perusahaan operator telepon seluler itu. Ada Arzetti Bilbina, model kondang Ibu Kota yang juga asal Lampung. Arzetti juga serasa "insyaf" bahwa ia punya "pusara" yang secara moral wajib diziarahi. Yakni, Lampung.

Masih ada lagi. Grup musik yang sedang naik popularitasnya, Hijau Daun. Belasan kali, setiap kali ada kesempatan, Dide, sang vokalis meneriakkan kalimat itu.

Hijau Daun memang fenomenal. Sejak masuk major label di Jakarta dan langsung mendapat tempat di hati penggemarnya yang mayoritas remaja, baru dua kali dia mendapat kesempatan konser di kampung halamannya. Padahal, mereka sudah tur ke pelosok negeri. Mereka juga serasa bangun dari mimpi untuk kemudian mengemban amanat moral untuk mencintai apa-apa yang lebih melekat pada dirinya sendiri.

Tak ketinggalan, grup band yang sedang merangkak naik, The Potters juga hadir sebagai ikon lain keunggulan Lampung. Mereka juga seperti geregetan menginspirasi ribuan penonton yang memadati Lapangan Parkir GOR Saburai untuk bisa berkreasi dan berhasil seperti dirinya.

"Orang Lampung Bisa!" memang tema krusial untuk daerah. Kesadaran kembali bahwa kita mempunyai tanggung jawab moral kepada daerah yang menjadi tumpah darahnya, bahkan yang pernah memberi sokongan besar bagi kebesarannya saat ini, adalah keniscayaan. Dan ketika Ical, Arzetti, Henry Yosodiningrat--yang tercatat dalam buku 100 Tokoh Lampung terbitan Lampung Post--Hijau Daun, dan mungkin Kangen Band, dan nama-nama kondang lainnya berteriak untuk kemajuan Lampung, maka spirit itu menjadi pemicu bangkitnya daerah ini.

Di atas panggung, di hadapan tokoh-tokoh, dalam atmosfer spirit "Lampung Bisa", Wali Kota Bandar Lampung Eddy Sutrisno mengaku bangga dan sangat berharap spirit ini terus digelorakan. "Saya bangga dengan tokoh-tokoh kita ini. Dan orang Lampung harus bisa!" kata dia.

Kecintaan terhadap sesuatu yang berbau kedaerahan, lokal, dan dalam negeri memang terus tergerus oleh isu global yang terus merangsek. Kemudahan yang ditawarkan teknologi dari Amerika, Jepang, dan Barat memang menggiurkan untuk memerosokkan kita kepada arus derasnya. Namun, aset-aset nasional selayaknya juga mendapat perhatian dan dukungan moral untuk tetap hidup. Bahkan, dikembangkan untuk bersaing lalu menjadi pemenang.

Kesadaran Bahasa

Di tengah kesadaran diri akan potensi yang sesungguhnya besar, ada ironi lain yang tak kalah mengkhawatirkan. Kawula muda saat ini memang sedang gandrung kepada musik negeri sendiri.

Perhatikan acara televisi yang tayang setiap hari, dan hampir di semua stasiun televisi swasta, banyak disiarkan secara live, pada jam tayang utama, adalah tangga lagu-lagu Indonesia anak muda. Konser musik dari luar negeri tidak dilirik. Album berbahasa Inggris yang pada dekade sebelumnya seolah menjadi prestise, kini hanya terpajang di rak toko kaset. Ring back tone setiap ponsel juga hampir dikuasai lagu-lagu lokal.

Hari ini, yang berbau lokal memang sedang mendapat tempat. Lihatlah betapa film Sang pemimpi, Laskar Pelangi, Ketika Cinta Bertasbih, Ayat-Ayat Cinta, dan lainnya sangat digemari. Saat dirilis, bioskop-bioskop seperti kehabisan napas untuk menampung antrean penonton.

Ini kesadaran luar biasa. Sayangnya, soal bahasa dan kesadaran berbahasa bangsa ini masih kurang percaya diri. Juga soal penggunaan produk dalam negeri, kita masih silau oleh sihir gengsi yang digelontorkan produsen luar negeri dengan konsep menjual yang luar biasa.

Di Bandar Lampung, kesadaran dan kebanggan menggunakan bahasa Indonesia sebagai indentitas yang membuat percaya diri timbul tenggelam. Pada 1994, saat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dijabat Wardiman Djojonegoro, upaya mengindonesiakan Indonesia cukup mendapat respons. Banyak fasilitas umum, nama institusi, merek dagang, dan sebutan-sebutan tempat diindonesiakan.

Untuk mengingat sejenak, Hotel Indra Puri, hotel yang cukup terkenal dan cukup tua di Bandar Lampung itu dulu namanya Indra Palace. Sheraton Hotel tidak perlu diganti, tetapi penempatan katanya saja menjadi Hotel Sheraton. Ada kompleks Perumahan Golden Hill di bilangan Jalan Antasari yang kemudian diindonesiakan menjadi Bukit Kencana. Dan masih banyak lagi objek lainnya. Semua tidak masalah, tetap berwibawa, dan bahkan lebih bangga.

Instansi pemerintah juga merevisi beberapa ejaan. Kata provinsi yang dulu ditulis dengan propinsi, kini dikembalikan ke ejaan yang benar. Juga ejaan lain.

Ada semangat agak berlebihan untuk memberi sentuhan lokal ketika Gubernur Sjachroedin Z.P. terpilih untuk periode pertama. Nama kompleks rumah jabatan gubernur yang sejak lama bernama Pendopo Gubernuran diganti dengan Mahan Agung. Gedung Pusiban, aula di Kompleks Kantor Gubernur Lampung diubah nama menjadi Balai Keratun.

Namun, kini ketika pemerintah tidak terlalu memberi perhatian lagi kepada penggunaan bahasa asing, kecenderungan mengubah kesan untuk popularitas kembali menguat. Ada sekolah tinggi informatika dan komputer cukup ternama di Bandar Lampung ketika mendapat akreditasi justru berubah nama menjadi informatic and business institute. Ada usaha persewaan lapangan olahraga bernama Dome Sport Arena. Dan masih banyak lagi. Mengapa kita tidak bangga dan mengembangkan Bahasa Indonesia untuk menjadi pemenang? n SDM/S-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 24 Januari 2010

[Fokus] Berbanggalah Berbahasa Indonesia

BAHASA, sejatinya adalah kebanggaan. Tanpa bahasa, setiap bangsa dan negara tidak akan dapat bersatu dengan baik. Apalagi, jika seperti Bangsa Indonesia, yang memiliki latar belakang suku, etnis, dan budaya yang beranekaragam. Tentu, kehadiran Bahasa Nasional sebagai Bahasa pemersatu bangsa, memiliki peranan sangat penting.

Dengan sedemikian pentingnya peran bahasa Indonesia, lalu, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita sudah menggunakan Bahasa Indonesia sebagai sebuah kebanggaan? Tentu, tanpa kita sadari, banyak di antara kita yang telah "melukai" Bahasa Indonesia secara tidak langsung ataupun langsung, tanpa sengaja atau bahkan dengan sengaja.

Merebaknya penggunaan bahasa asing, seakan sudah bukan hal yang unik dan aneh. Bahkan, teramat seringnya, hampir di semua sudut kota, pemandangan yang terdengar ditelinga, sering ucapan kata-kata asing. Sangat miris, jika nantinya kata-kata asing justru menjadi sebuah kebiasaan atau bahkan menjurus kepada perubahan prilaku budaya dalam berbahasa. Contoh, ucapan kata privasi. Maraknya penggunaan kata yang satu ini, tanpa disadari justru telah "melukai" kata rahasia yang merupakan bentuk kata berbahasa Indonesia.

Memang, tidak ada yang salah dengan bahasa asing. Apalagi, di era globalisasi seperti sekarang, di mana kecenderungan berbahasa asing memiliki tingkat yang tinggi dalam penggunannya. Tidak komplet jika sekolah, tidak belajar bahasa asing. Atau tidak keren jika sekolah, tapi tidak menggunakan bahasa asing. Atau lain sebagainya. Namun, Bahasa Indonesia, hendaknya juga dapat terus dijaga kelestarian dan penggunaannya, jangan sampai Bahasa kebanggan, justru berubah menjadi bahaasa asing. Apa pun bahasa yang digunakan, hendaknya bahasa Indonesia tetap menjadi yang utama.

Mengutip tulisan Agus Sri Danardana dalam rubrik Laras Bahasa di surat kabar Lampung Post, yang berjudul Fobia Bahasa Indonesia, Agus mengatakan "Apakah sekarang ini Bahasa Indonesia tidak dapat lagi menjadi kebanggaan bangsa sehingga cenderung diabaikan?" Lalu, jangan karena alasan globalisasi, kita kemudian berbahasa asing (Inggris) secara membabi buta. Ingat, globalisasi tidak hanya melanda Indonesia, tetapi juga negara lain, seperti Jerman, Prancis, Italia, Jepang, dan China. Ternyata, di negara-negara maju itu tidak terjadi proses penggirisan yang memprihatinkan seperti di Indonesia."

Sebuah penggalan kalimat, yang secara alur logika tentunya memberikan sentuhan luar biasa. Bagaiamana, banyak negara-negara di luar sana yang masyarakatnya tidak tergoyahkan oleh apa pun dalam menjaga dan melestarikan bahasa yang notebene sebuah budaya. Sedangkan, di sini, di bangsa yang beraneka ragam etnis dan budaya ini, di negara yang katanya menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan ini, justru kini terasa mulai mengabaikan bahasa sendiri.

Jangan pernah berkata bahasa asing itu keren, jika belum mengetahui apa arti dan maknanya dengan jelas. Mengapa? Karena itu sama saja mempermalukan diri sendiri. Kebanyakan orang saat ini, agar dapat terlihat keren, pintar, dan sebagainya, dalam setiap tutur kata dan bahasa, sering mengeluarkan kata-kata asing. Ironisnya, saya yakin, ada salah satu di antaranya, tidak mengetahui pasti, apa arti kata asing yang diucapkan.

"Yang perlu diingat adalah kapan kita harus berbahasa asing dan kapan pula kita harus berbahasa Indonesia. Kita selayaknya tidak harus alergi pada bahasa asing, tetapi juga tidak harus fobia terhadap bahasa Indonesia," kata Agus Sri Danardana.

Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang? Memakai bahasa asing dan Indonesia secara bersamaan? Atau bahasa asing saja? Atau mungkin bahasa Indonesia saja? Tentunya semua terserah kepada kita. Namun, yang pasti dan yang wajib dilakukan adalah jangan pernah berhenti dalam memperkaya khasanah, tatanan, dan penggunaan kata-kata berbahasa Indonesia dengan baik dan benar sebagai wujud kebanggaan terhadap bahasa nasional di negeri Berbhineka tunggal Ika ini. n IYAR JARKASIH/M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 24 Januari 2010

[Fokus] Bahasa Indonesia Harus Pertama dan Utama

PENGGUNAAN bahasa Indonesia yang baik dan benar kini terasa seolah luntur oleh kiblat bahasa asing yang keberadaan dan penggunaannya seakan menjadi sebuah kebanggaan. Kalimat maupun istilah-istilah asing terdengar kian deras meluncur dari mulut-mulut generasi muda bangsa. Lebih marak, tulisan-tulisan dalam istilah asing terlihat seolah menjadi senjata mutakhir bagi banyak perusahaan dalam konteks menyebarluaskan produknya.

Lalu, jika hal ini terus berlanjut, bagaimana posisi bahasa Indonesia yang sejatinya adalah bahasa nasional pemersatu bangsa?

Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung M. Muis, mengatakan bahasa Indonesia harus menjadi yang pertama dan utama. Mengapa? Sebab, bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah kebanggaan dan idealnya harus terus dilestarikan dan dijaga keberadaannya. "Idealnya, harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar," kata Muis, Jumat (22-1).

Muis menyarankan agar semua pihak senantiasa dapat menghindari setiap penggunaan bahasa dengan istilah asing karena bagaimana pun juga bahasa Indonesia adalah yang lebih baik. Muis mengatakan kini sudah banyak masyarakat Indonesia--baik yang sifatnya personal maupun perusahaan--mulai menggunakan istilah asing. Hal tersebut, kata Muis, harus dihindari sebagai upaya untuk tetap menjunjung tinggi penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

"Jika masih ada bentuk Indonesia, tidak perlu memakai kata asing. Masing-masing itu sudah ada tempatnya," kata Muis.

Pemakaian istilah asing yang seakan lebih dijadikan idola, menurut Muis, disebabkan kebanyakan orang saat ini ingin menganggap dirinya pintar ataupun menjaga gengsi. Mayoritas orang-orang tersebut menganggap dengan menggunakan istilah asing akan terdengar lebih keren, bernilai tinggi, dan sebagainya. Padahal, kata Muis, anggapan seperti itu tidak sepenuhnya benar.

Muis mencontohkan ketika seseorang menggunakan istilah-istilah asing dalam setiap ucapannya, belum tentu orang lain akan mengerti dan memahami dengan jelas artinya. Muis bercerita, ia pernah mendengar ucapan dari salah seorang tokoh yang pada saat sedang pidato mengatakan "Tidak ada chemistry". Hal tersebut tentu sangat miris karena tidak semua orang mengerti dengan baik. "Seandainya dikatakan dengan menggunakan bahasa Indonesia, misalnya, 'tidak ada ketertarikan' atau 'tidak ada kecocokan', tentu akan lebih baik. Jika dalam konteks penggunaan di dunia internasional istilah asing mungkin sudah biasa. Tetapi, jika penggunaannya ada di Indonesia, tentu akan lebih baik dan bermakna jika menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar," ujar Muis.

Lalu, bagaimana penggunaan istilah-istilah asing yang digunakan dalam media massa seperti surat kabar?

Muis mengatakan hal tersebut sah-sah saja selama mengikuti padanan kata yang sesuai. Namun, akan menjadi lebih baik dan mempunyai makna yang jelas jika kata-kata yang disajikan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Apalagi, surat kabar merupakan bacaan yang banyak dilihat orang.

Menurut Muis, surat kabar yang menggunakan istilah-istilah asing mungkin telah menjadi kebiasaan penulisnya atau juga hanya sekadar ikut-ikutan. "Mungkin kata asing dianggap bergengsi, padahal tidak juga," kata Muis.

Saat ini memang banyak sekali surat kabar yang menggunakan istilah-istilah asing di dalam setiap rubrik tulisannya. Misalnya, kedaton square, sport style, showbiz, dan lain sebagainya. Menurut Muis, jika harus ada istilah asing, seyogianya bahasa Indonesia harus lebih didahulukan penempatannya, seperti menempatkannya di atas istilah asing.

Muis menambahkan untuk menggunakan bahasa-bahasa asing, siapa pun, apakah itu para pelaku bisnis, personal atau lain sebagainya, hendaknya dapat terlebih dahulu melakukan konsultasi dengan kantor bahasa yang ada di setiap daerah masing-masing sehingga penggunaannya tidak mengenyampingkan bahasa Indonesia. */M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 24 Januari 2010

January 22, 2010

Panti dan Buyung Dilepasliarkan

TAMPANG BELIMBING--Setelah dikaratina selama 1,5 tahun, sepasang harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) akhirnya dilepasliarkan di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) di kawasan Panimbangan, Lampung Barat, Jumat (22-1). Kawasan tersebut berada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

PENGLEPASLIARAN HARIMAU. Seekor harimau sumatera bernama Buyung menjajaki lingkungannya saat dilepasliarkan di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Lampung Barat, Jumat (22-1). Dua ekor harimau sumatera yang dilepasliarkan di TWNC yang dikelola bersama antara Kementerian Kehutanan dan Group Artha Graha adalah harimau korban konflik dengan manusia di Aceh. (ADAM/MI)

Penglepasliaran tersebut dilakukan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan bersama pengusaha Tommy Winata yang menjadi pelopor karantina harimau dan Direktur Taman Safari Indonesia Tony Sumampau.

Penglepasliaran harimau itu juga bertepatan dengan pencanangan Hari Konservasi Alam Nasional (HAKN) yang dilakukan Wapres Boediono di Istana Wapres, Jakarta.

Sepasang harimau yang dilepas itu bernama Panti, betina berusia sekitar 5--6 tahun, dan Buyung, jantan berusia 8 tahun. Keduanya ditangkap di kawasan Aceh Selatan, Nangroe Aceh Darussalam (NAD).

Panti mendapat giliran pertama dilepas. Ketika pintu kandangnya dibuka, beberapa saat Panti tidak bereaksi. Ia hanya melihat ke kiri dan kanan dalam kandang. Tidak lama kemudian, ia baru menjulurkan kepalanya ke luar kandang memandang ke sekeliling sebelum akhirnya melangkah pelan ke luar.

Namun, Panti tidak langsung masuk hutan, tetapi berjalan mendekati kandang di sebelah kanannya yang berisi Buyung. Panti tampak mengendus-ngendus kandang Buyung beberapa saat sebelum akhirnya berlari menuju hutan.

Setelah itu, Buyung mendapat giliran dilepas. Berbeda dengan Panti, Buyung langsung berlari masuk hutan. Lewat alat deteksi, kedua harimau itu akhirnya bertemu dan bersama-sama menuju ke pedalaman TNWC.

"Harimau ini dipasangi collar GPS (kalung pendeteksi) sehingga bisa dipantau dari Jakarta pergerakan mereka ke mana," kata Zulkifli.

Penglepasliaran di kawasan ini merupakan yang kedua kalinya. Sebelumnya, pada 2008, dua harimau sumatera yang juga berasal dari Aceh dilepas di kawasan tersebut.

Harimau sumatera adalah satu-satunya subspesies harimau asal Indonesia yang belum punah. Dua subspesies harimau asal Indonesia lainnya, yakni harimau jawa yang pernah hidup di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur, dan harimau bali di Taman Nasional Bali Barat, sudah punah. n MI/AAN/R-1

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 23 Januari 2010

January 21, 2010

Agama, Negara, dan Kemiskinan

Oleh Muslim

FENOMENA kemiskinan di negeri ini ternyata semakin memprihatinkan. Mereka yang tidak tersapa oleh kelayakan hidup telah menjadi pemandangan biasa yang acap kita pergoki dalam setiap berita di koran maupun televisi. Faktor utamanya, tak lain diakibatkan dari telikungan kapitalisme global, keserakahan penguasa, dan kekurangpedulian para agamawan.

Proses pemiskinan ini pun kian menjadi-jadi ketika tingkat pengangguran semakin tinggi, daya beli rakyat semakin merosot, kelangkaan bahan pangan, dan melambungnya harga kebutuhan pokok masyarakat. Kemudian diperparah lagi dengan kondisi perekonomian dunia yang kacau-balau. Sedemikian miskinnya masyarakat, sehingga pembagian beras bulukan tetap ditunggu dan nasi aking menjadi santapan sehari-hari.

Dalam menghadapi kegetiran hidup dan kenestapaan ini, tak sedikit warga yang frustrasi. Bahkan, yang lebih tragis, seorang bapak tega bunuh diri karena merasa tak sanggup memenuhi kebutuhan keluarganya. Kita tidak bisa membayangkan akan seperti apa masa depan bangsa ini. Berbagai bentuk kejahatan, manipulasi, korupsi, dan kecurangan yang dilakukan pejabat negara telah menjadi kebudayaan akut yang membutuhkan rentang waktu panjang untuk menguranginya.

Penggusuran tanah kaum miskin yang hampir tiap saat ditayangkan di televisi dengan dalih pembangunan untuk kepentingan umum, adalah fenomena biasa yang akan terus kita tonton. Padahal, yang dibangun adalah jalan tol untuk kepentingan pemilik mobil mewah dan kendaraan mahal lainnya. Pengendara sepeda atau becak tak bisa lewat di sana. Yang dibangun adalah mal untuk berbelanja bagi orang berduit. Yang dibangun adalah ruko untuk para pedagang besar. Lalu, di mana slogan ekonomi rakyat selama ini yang selalu dilontarkan pemerintah?

Di sisi lain, puluhan anak jalanan harus merelakan dan menukar masa indahnya dengan menjadi peminta-minta di lampu merah. Menjadi pemulung sampah dari satu tempat ke tempat lain. Tragisnya lagi, nun jauh di sana, sekelompok orang Islam "menikam" saudaranya sendiri dengan dalih sesat.

Anehnya, para agamawan kita tampak tidak mau ambil pusing. Buktinya, belum ada sikap tegas dari mereka atas privatisasi perusahaan negara atau penggusuran lahan pedagang kaki lima, misalnya. Padahal, yang paling dirugikan dari kebijakan itu adalah mayoritas masyarakat bawah, yang rata-rata menggantungkan hidupnya dari pertanian, bekerja menjadi buruh pabrik, dan pemulung sampah.

Kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan menjadi pemandangan yang lazim di negeri ini. Mereka menjadi marginal, akibat tiadanya aksesibilitas yang menjembatani kesempatan kerja dan dikuasainya tanah oleh koorporasi megaraksasa dari kapitalisme global. Jangankan untuk meningkatkan taraf hidup menjadi lebih baik, bisa membuat perut kenyang saja merupakan sebuah kebahagiaan yang tak terhingga.

Inilah "lingkaran setan kemiskinan" yang mesti diputus. Karena miskin, anak-anak mereka tak bisa mengenyam pendidikan dengan layak. Ujung-ujungnya, mereka tak mendapatkan pekerjaan yang baik dan memiliki penghasilan rendah. Karena berpenghasilan rendah, mereka tak bisa memenuhi kebutuhan hidup yang paling mendasar. Akhirnya, mereka kembali menjadi miskin. Dan begitu seterusnya. Sikap menerima kemiskinan sebagai takdir (given) adalah suara lantang yang acap didengungkan agamawan kita selama ini. Tuhan hanya dipersepsikan sebagai perumus absolut yang mengatur nasib perubahan manusia.

Ternyata, fatalisme yang disebabkan oleh kesadaran naif ini terus berkembang ke tengah-tengah kehidupan beragama. Seperti sebuah virus, ia terus menjalar dan menjadi mapan dalam pemikiran keagamaan. Tumbuhnya fatalisme ini diakibatkan sulitnya umat Islam menerima ide-ide pembaruan, karena menganggapnya sebagai tidak islami. Sehingga, mereka melulu meneguhkan cara beragama yang kontraproduktif dengan semangat zaman. Kedangkalan pemahaman agama tentang etos kemajuan ini pun menjadi akibat yang tak terelakkan.

Selain itu, keculasan negara melalui paham pembangunanismenya juga bisa kita tunjuk sebagai penyebab terjadinya kemiskinan. Sebab, sampai kini sedikit sekali proyeksi pembangunan yang dapat merangsang tumbuhnya produktivitas kerja. Pembangunan yang dijalankan pemerintah terbukti telah melemahkan sektor riil masyarakat (umat) level bawah. Hadirnya supermarket di tengah-tengah pasar tradisional, misalnya, adalah dampak paling gamblang darinya. Pasar modern itu memberikan pelayanan dan keasyikan tersendiri bagi para konsumen. Akibatnya, pedagang tradisional yang berteduh di pasar yang sumpek tak dapat meraup keuntungan, tapi malah kerugian dan kehilangan lapangan pekerjaan.

Begitulah realitas yang tengah terpampang lebar di depan kelopak mata kita. Di satu sisi, suara lantang agamawan yang menyeru kedamaian dan kebahagiaan hanya terdengar dari menara gading; dan di sisi lain, negara terus melancarkan misi pembangunannya meski harus menyingkirkan rakyat yang kerap dianggap "sampah".

Rentetan fakta dari beragam problem kemanusiaan yang membuat miris ini, ternyata belum menyadarkan kita bahwa sebagai bangsa, Indonesia sedang menyongsong krisis sosial yang sangat menakutkan. Kehidupan beragama kita pun menjadi tak tentu arah, karena umatnya, khususnya kalangan elite agama, tak mampu mewujudkan bahwa Islam sebagai rahmatan lil'alamiin.

Maka, sah-sah saja jika ada yang menggugat di mana tanggung jawab profetik negara atas berbagai peristiwa memilukan itu? Ke mana para agamawan? Sungguh amat jauh bentangan antara retorika yang didengungkan pejabat dan agamawan kita di hotel mewah dengan fakta empiris di lapangan. Seharusnya mereka mau dan mampu terjun ke bawah melihat segala patologi sosial yang terjadi, daripada mengeluarkan undang-undang dan fatwa-fatwa yang kurang terasa manfaatnya bagi kehidupan rakyat kecil.

Alhasil, agenda utama yang musti segera diselesaikan adalah bagaimana agama mampu membuktikan ia benar-benar membawa keberkahan bagi umat manusia. Selain itu, negara juga musti memperkuat sistem kenegaraan dengan mewujudkan good governance yang bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) serta menyediakan segala kebutuhan rakyat tanpa ada diskriminasi kaya-miskin ataupun mayoritas-minoritas.

Muslim, Alumnus IAIN Raden Intan Lampung, Pemimpin Umum Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) Cabang Bandar Lampung.

Sumber: Lampung Post, Kamis, 21 Januari 2010

January 18, 2010

TIC Menara Siger Dioperasikan

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Lampung mulai mengoperasikan Tourism Information Center (TIC) di Menara Siger, Lampung Selatan.

Sekretaris Disbudpar Siti Fajariah mengatakan TIC ini berguna sebagai pusat informasi lokasi-lokasi wisata di Lampung dan dapat diakses semua wisatawan yang berkunjung ke Menara Siger.

"TIC ini kami letakkan di dalam gedung dan dapat diakses semua orang secara mudah dan gratis karena media yang digunakan adalah layar informasi dengan sistem touch screen (layar sentuh) kata Siti saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (15-1),

Siti menjelaskan TIC ini baru dioperasikan sejak awal Januari lalu. Pihak Disbudpar, menurut dia, meletakkan TIC di Menara Siger karena menara ini berada di ujung Sumatera yakni Desa Bakauheni dan kerap dikunjungi wisatawan yang baru tiba di Lampung.

"Jadi, dengan adanya TIC ini, pengunjung tidak hanya berwisata ke Menara Siger, tetapi juga memperoleh informasi lokasi-lokasi wisata kebanggaan Lampung dan denah untuk mencapai lokasi tersebut," kata Siti.

TIC sendiri, menurut Siti, kini baru ada dua di Lampung, yakni di Menara Siger dan di Bandara Radin Inten II Beranti. Tahun ini juga Disbudpar akan memaksimalkan potensi lima lokasi wisata unggulan Lampung, yakni Menara Siger, Way Kambas, Gunung Krakatau, Tanjung Setia, dan Teluk Kiluan.

Menurut Siti, pada tahun ini Menara Siger akan menjadi pusat pertunjukan seni dan budaya yang digelar Dishub Provinsi. Selain itu, pihaknya juga akan mengimbau Disbudpar di setiap kota/kabupaten untuk mengisi stan yang tersedia di sana dengan hasil kerajinan daerah.

Sementara untuk Way Kambas dan Gunung Krakatau, pihak Disbudpar akan terus melakukan sosialisasi mengenai bagaimana cara wisatawan menjangkau daerah-daerah tersebut.

Wisata bahari seperti Tanjung Setia dan Teluk Kiluan, menurut Siti, juga akan digencarkan promosinya karena bentuk fisik dua lokasi tersebut tidak kalah dengan fisik pantai-pantai di Bali atau di Anyer.

Siti menjelaskan Tanjung Setia memiliki ketinggian ombak yang beraneka ragam sehingga bisa digunakan bermain selancar bagi pemula ataupun profesional. Sedangkan Teluk Kiluan, menurut Siti, terbilang unik karena di sana setiap pukul enam hingga pukul sembilan dan pukul 16.00 selalu muncul puluhan lumba-lumba di permukaan laut.

"Ini yang akan gencar kami promosikan karena di daerah lain belum tentu ada lumba-lumba yang secara rutin dan alami muncul ke permukaan" ujar Siti. n MG3/K-1

Sumber: Lampung Post, Senin, 18 Januari 2010

Nelayan Gelar Ruwat Laut

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Nelayan di pesisir Bandar Lampung kembali melangsungkan ruwat laut atau ngelarung. Ngelarung adalah sebuah bentuk syukur kepada Tuhan atas berkah hasil laut yang melimpah. Upacara yang dilangsungkan tiap bulan Sura ini cukup meriah.

Puluhan kapal nelayan bergerak dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Lempasing, Sabtu (16-1). Mereka menuju perairan Karang Ratu di Teluk Lampung, sekitar 20 kilometer dari TPI Lempasing. Sesaji yang menjadi alat persembahan dibawa Kapal Motor (KM) Doa Mama.

Sesaji yang akan dipersembahkan diletakkan dalam kapal mini yang sudah dihiasi dengan bendera merah putih. Sesaji terdiri dari makanan tujuh warna.

Seorang tokoh nelayan Warsid mengatakan nelayan sengaja mempersembahkan tujuh warna makanan. Ada kepercayaan Karang Ratu didiami "penunggu". Nelayan tidak mengetahui selera makan penunggu Karang Ratu sehingga perlu disediakan berbagai jenis makanan.

"Karang Ratu adalah tempat yang diyakini banyak ikan. Ikan dari Karang Ratu akan menyebar ke beberapa lokasi. Ikan biasa berkumpul di sana," kata Warsid.

Dibutuhkan waktu satu jam untuk mencapai Karang Ratu. Wali Kota Eddy Sutrisno naik dalam satu kapal dengan sesaji yang akan dilarung. Selama perjalanan, beberapa orang dan Wali Kota terus berdoa memohon keselamatan dan berkah.

Berkah

KM Doa Mama memimpin perjalanan menuju Karang Ratu. Puluhan kapal lain mengikuti di belakang. Saat sampai, sesaji pun siap dipersembahkan ke laut. Wali Kota menaburkan bunga ke laut. Kemudian kapal mini yang berisi sesaji dilemparkan.

Puluhan kapal nelayan memacu kecepatan untuk memperebutkan sesaji yang dibuang. Sebuah kapal berukuran sedang melesat menabrak kapal berisi sesaji, Beberapa awak kapal mengambil bagian-bagian kapal sesaji yang hancur. Beberapa awak kapal lain mengambil air laut di sekitar sesaji yang dipersembahkan.

Air laut pun disiramkan ke beberapa bagian kapal. Kapal Doa Mama berputar arah dan langsung meninggalkan Karang Ratu.

Menurut Warsid, nelayan mempercayai mengambil bagian dari sesaji dan air laut tempat sesaji dibuang bisa mendatangkan berkah. Beberapa nelayan menempelkan potongan sesaji di kapal. Bahkan ada yang menyimpan bagian sesaji dalam dompet. Bagian yang paling banyak diperebutkan adalah kain penutup kepala kerbau yang dipersembahkan di Karang Ratu.

Warsid mengatakan persembahan harus berupa kepala kerbau. Sebelumnya pernah dicoba dengan kepala sapi. Namun, persembahan ditolak. Kepala sapi pun kembali ke pantai. "Nelayan pun kembali mengantarkan kepala sapi, tapi tetap kembali ke pantai," kata dia.

Warsid mengungkapkan ngelarung selalu diadakan pada bulan Sura dalam kalender Islam. Ada sebuah keyakinan pada bulan ini ada yang sedang lapar-laparnya. Kalau di luar Sura sedang kenyang-kenyangnya.

"kalau dikasih pada waktu lapar, akan diterima," kata Warsid.

Ucapan Syukur

Ngelarung, kata Warsid, merupakan ungkapan syukur kapada Tuhan atas limpahan kekayaan laut. Nelayan tidak pernah mengeluarkan modal untuk memelihara ikan di laut. Ikan di laut tidak pernah habis. Nelayan hanya memerlukan jaring atau pancing untuk mendapatkan ikan. "Sudah seharusnya nelayan bersyukur atas karunia ikan di laut," ujarnya.

Ketua Himpunan Nelayan Indonesia (HNSI) Bandar Lampung Zainal Abidin mengatakan nelayan berharap hasil tangkapan ikan meningkat dengan diadakannya ngelarung. Ngelarung menjadi tradisi budaya yang masih terus dilestarikan oleh nelayan. n

Sumber: Lampung Post, Senin, 18 Januari 2010

January 17, 2010

Autentisitas Kesenian Lampung

Oleh Endri Y.*

SEBUAH capaian sempurna dalam karya seni dan produk kebudayaan adalah autentisitas. Bentuk keindahan dan kebebasan, autentisitas juga merupakan klimaks dalam satu kreasi berkesenian.

Setiap karya seni perlu menjadikan autentisitas sebagai tujuan utamanya yang jika menurut pemikiran Charles Guignon, dalam buku On Being Authentic, (London, 2004) disebut orang yang bahagia dan bebas. "Ideal kontemporer tentang autentisitas," demikian tulisnya, "mengarahkan Anda untuk menyadari dan menjadi apa yang sudah merupakan diri Anda sendiri, yang unik, karakter-karakter definitif yang sudah ada di dalam diri Anda."

Pada taraf penyempurnaan karakter definitif menjadi karakter orisinal inilah, seni budaya Lampung seharusnya didiskusikan. Bukan sekadar melestarikan apalagi mengonservasi. Era keemasan cahaya kelampungan sudah terbit, sayang dan naif sekiranya Pemprov Lampung, para budayawan, dan sastrawan kita masih berkutat dalam diskursus "pelestarian". Sebab, pelestarian itu akan dengan sendirinya ada jika unsur-unsur autentisitas dan nilai-nilai dasar berkesenian yang ideal itu eksis.

Konflik Pemaknaan

Dalam novel The Brother Kamazarov, sastrawan Dostoevsky berpendapat konflik di dalam dunia modern muncul, karena orang terlalu berfokus pada dirinya sendiri, sehingga menjadi sangat individualistik. Jika ditarik dalam kajian berkesenian di Lampung, menurut Isbedy Setiawan dan Arman (Lampost, [31-12-09] dan [3-01-10]), paham yang mengarah pada benturan antar-budgeting anggaran Pemprov di bidang kebudayaan yang hanya 20% dari total pendanaan budaya dan pariwisata, semua (Seniman dan Pemprov) hanya berfokus pada kepentingan diri sendiri (selfish), baik sebagai profesi pribadi maupun institusi. Jika dibaca penganggaran dana pelestarian kesenian dan kebudayaan Lampung yang 20% itu pun harus dibenturkan lagi untuk, penting mana soal seni tradisi atau modern.

Tulisan singkat ini bermaksud mengulas tentang kejernihan berpikir agar ditemukan konstruk pemahaman yang seirama terkait pengembangan seni budaya Lampung sebagai identitas daerah. Sekaligus pencarian autentisitas dalam jiwa galau seni budaya kita.

Jika ditilik dari Perda Nomor 2 Tahun 2008 tentang Pemeliharaan Kebudayaan Lampung yang dalam Bab 1 Pasal 1 Ayat (11) sudah sangat jelas menyebut yang dimaksud dengan sastra daerah adalah sastra yang diungkapkan dengan bahasa daerah, baik lisan ataupun tulisan. Pada Ayat (13) disebutkan "Kesenian adalah kesenian tradisional masyarakat adat Lampung, yaitu nilai estetika hasil perwujudan kreativitas daya cipta, rasa, karsa dan karya yang hidup secara turun-temurun dalam mayarakat Lampung."

Bahkan pada Pasal 9 Ayat (1) Kesenian tradisional Lampung, wajib diajarkan di sekolah pada jenjang taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan sekolah menengah yang pelaksanaannya disesuaikan dengan ketentuan dan peraturan yang diberlakukan di daerah.

Dengan kutipan itu saja, apa yang digelisahkan Isbedy dan Arman tentang keberpihakan Pemprov terhadap seni modern, terkait sastra sepanjang tidak berbahasa daerah, jelas tidak memiliki porsi dalam penganggaran yang 20% itu. Sedemikian naifkah aturan itu dibuat sehingga teater, tari, sastra, dan produk kesenian lain yang tidak sesuai defenisi itu, meskipun sudah berprestasi di tingkat nasional dan membawa karakter ke-Lampung-an tidak layak dilestarikan?

Jika logika ini yang dipakai jelas perlu penataan kembali produk hukum yang sudah ada atau meninjau ulang klasifikasi sekaligus definisi tentang seni tradisi dan modern. Padahal persoalan dasar yang harus dipertanyakan dan dinalar sebagai jawaban atas benturan-benturan ini adalah autentisitas kesenian Lampung. Jika defenisi dan batas pemahaman publik atas mainstream seni budaya Lampung itu bertemu hakikat autentisitasnya, niscaya rumusan kesepahaman atas tujuan bersama dengan tanpa ada yang disalahkan atau dibenarkan, ketemu, dan menyatu.

Tak ada persoalan ketika masalah dan tujuan itu dikerjakan bersama- sama, sebab semua pihak terkait sudah merasa sepaham sepenanggungan. Maka, output untuk melestarikan, memopulerkan, menjadikan komoditas yang menguntungkan, menjadi tujuan pariwisata, menyejahterakan subjek dan atau menjaga kualitas objek kesenian, merupakan konsekuensi logis, berjalan dengan sistemik (kalau tidak boleh disebut berjalan sendiri) karena titian atas keluaran yang sekarang dikeluhkan Pemprov dan seniman sudah berjalan pada relnya.

Sederhananya, pemerintah ingin menjadikan budaya dan kesenian sebagai pariwisata yang mendatangkan PAD, seniman, dan budayawan mendapatkan nilai penghargaan yang sesuai atas jerih payah karyanya. Semuanya simultan dan harus sinergis, tak mungkin Pemprov mendapatkan PAD lewat pariwisata jika seniman tidak berkarya, alam tidak mendukung, dan kultur masyarakat abai terhadap autentisitas seni budayanya.

Sebaliknya, jika kultur masyarakatnya mapan dalam rangka suksesi ini, seniman sejahtera, pariwisata maju, Pemprov dapat PAD banyak.

Masalahnya menjadi pelik jika seperti yang terjadi sekarang, seniman masih berkutat dalam ranah definisi dan karakter kekaryaan, pemerintah abai terhadap kesenian, tapi sama-sama menginginkan keuntungan. Ini pun sebenarnya lumayan, ada geliat dan gelisah atas persoalan kemajuan kesenian kita, bahayanya jika kegelisahan atas karakter saja sudah tidak punya. Menurut Edgar F. Puyear dalam American Generalship, karakter adalah segala-galanya. Jika ada yang hilang selain karakter, itu masih belum kehilangan, tetapi jika karakter yang hilang, hilang sudah semuanya.

Masalahnya karakter merupakan salah satu faktor autentisitas, kenapa tidak lantas langsung menggelisahkan intisari autentisitas seni budaya Lampung, dalam forum yang lebih melibatkan semua pemangku kepentingan atas dunia kesenian kita? Kenapa justru muncul dari pojok bilik UKMBS Unila, tidak dari Pemprov atau Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang jelas fungsi dan tugasnya, sekaligus punya anggarannya.

Rentetan pertanyaan-pertanyaan semacam ini jika dirunut diharapkan dapat merumuskan masa depan seni budaya Lampung yang lebih gemilang. Bukankah pepatah ini sudah cukup familiar ditelinga kita: "Pemimpin masa lalu adalah seorang yang tahu cara berbicara, sedangkan pemimpin masa depan adalah seorang yang tahu cara bertanya." (Peter Drucker, 1993)

Jelaslah, dengan tidak merumuskan dan berusaha menyusun jawaban pertanyaan-pertanyaan dasar terkait dengan autentisitas kesenian dan kebudayaan Lampung membuat kita secara kolektif disebut manusia "masa lalu" yang ditolak masa sekarang, apalagi masa depan. Semoga rangkaian tulisan dari gagasan para budayawan-sastrawan kita itu, merupakan pemantik api untuk pencerahan seni budaya, bukan sekadar pembicaraan linglung tanpa defenisi dan orientasi ke-Lampung-an yang autentik.

Cermin Modernitas Dostoevsky

Sastrawan Rusia terbesar yang penulis harapkan menjadi cermin atas modernitas untuk menetapkan autentisitas seni budaya Lampung ini bernama asli Fyodor Mikhailovich Dostoyevsky (1821--1881) yang kadang namanya dialihaksarakan menjadi Dostoevsky. Karya-karyanya menimbulkan dampak yang panjang terhadap fiksi abad ke-20. Hampir semua tokoh- tokoh dalam karyanya berada pada kondisi putus asa dan pikiran yang sangat ekstrem, sehingga memperlihatkan pemahaman yang luar biasa tentang psikologi manusia serta analisis yang mendalam mengenai keadaan politik, sosial, dan spiritual di Rusia pada masanya. Banyak dari karya- karyanya yang paling terkenal seolah-olah meramalkan pemikiran dan kepedulian orang di masa modern.

Lampung, bahkan Indonesia sedang krisis identitas akibat modernitas sebagaimana dijabarkan Henry Sabari dalam bukunya Dostoevsky Menggugat Manusia Modern. Hubungan antarkita sering dimanipulasi dan cenderung berpokok kalkulasi untung rugi saja. Ironisnya, jika pemandu arah pencerahan zaman (baca: pemerintah dan budayawan) pun, kalkulasinya profit oriented juga? Mungkin bukan hanya ironi, tetapi innalillahi, puncak tertinggi dari kebebalan dan kekafiran. Kesamaan krisis di Rusia dengan negara kita sebagaimana dipaparkan buku inilah, penulis merujuk cermin Dostoevsky sebagai referensi kajian paling sesuai atas kondisi ke-Lampung-an kita.

Manusia, bahkan produk kesenian pun sudah dirancang pemerintah agar sesuai sistem dan perencanaan manipulatif, menjadikan seniman sebagai kaum marginal yang lemah secara struktural dan finansial. Di sisi lain, seniman dengan sikap apatis dan arogan selalu menyudutkan pemerintah. Sehingga, gempuran modernitas berdasar permenungan Dostoevsky diharapkan mampu memaksa merajut kesempurnaan kelampungan kita. Menghentikan kefasihan bicara, tetapi saling kontemplasi untuk kemudian saling bertanya.

Kita bisa memulainya dengan membuat cermin kedirian sebagai refleksi atas tanya-jawab tentang autentisitas seni budaya Lampung. Tentu dengan sikap ksatria, menerima kesalahan diri dan terbuka atas kritik dan dialektika pemikiran. Semoga 2010 dengan serangkaian gagasan sastrawan, budayawan, dan pemerintah daerah mampu mengantarkan autentisitas seni budaya kita ke arah puncak publisitas. Sehingga visi semisal visit Lampung memiliki landasan operasional yang jelas. Konsep dan kiprah berkesenian tidak latah dan sekadar nyinyir.

* Endri Y., pecinta kesenian, bermukim di Kalianda

Sumber: Lampung Post, Minggu, 17 Januari 2010

Tokoh Gelorakan Semangat Bangga Jadi Orang Lampung

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Orang-orang Lampung yang sukses berkiprah di berbagai profesi di kancah nasional bersama-sama menggelorakan semangat membangun dan kebanggaan sebagai orang Lampung.


ORANG LAMPUNG BISA. Dua bintang asal Lampung, foto model papan atas Arzetti Biblina dan grup band Hijau Daun, memukau penonton yang memadati pelataran GOR Saburai pada acara pemberian penghargaan pada 10 Tokoh Lampung, Sabtu (16-1) malam, yang dibungkus dengan tema Orang Lampung Bisa.(LAMPUNG POST/M. REZA)

Dalam acara bertajuk Orang Lampung Bisa, di Lapangan Saburai, Bandar Lampung, Sabtu (16-1) malam, sebanyak 10 orang memperoleh penghargaan sebagai orang tersukses. Penghargaan yang dimotori Bakrie Telecom itu diserahkan Wali Kota Bandar Lampung Eddy Sutrisno didampingi Direktur PT Bakrie Telecom, Anindya Bakrie.

Penghargaan perorangan diberikan kepada mantan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) yang kini menjabat Ketua DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie, model dan perancang busana Arzetti Biblina, peraih medali emas angkat besi pada ajang Olimpiade Sutrisno dan Winarni, peraih medali perunggu Olimpiade Fisika, David Halim, serta pengacara senior Henry Yosodiningrat.

Penghargaan kelompok diberikan kepada grup band Hijau Daun dan The Potters. Kedua grup musik yang digandrungi kaum muda itu masing-masing mendapat dua plakat. Dari semua penerima penghargaan itu, Ical, Arzetti, Henry, dan Sutrisno merupakan tokoh yang masuk dalam buku 100 Tokoh Lampung yang diterbitkan Lampung Post.

"Saya bangga jadi orang Lampung," kata Aburizal Bakrie dalam sambutan sebelum menerima penghargaan. Aburizal yang akrab dipanggil Ical, kemudian menceritakan pengalaman mengelola dunia bisnis dan kemudian dunia politik.

Ical memberi semangat kepada warga Lampung, khususnya para pemuda untuk tetap bersemangat dalam berusaha. "Kalau patah di tengah jalan, bangkit lagi! Berusaha, semangat, dan doa. Itu kunci menjadi orang sukses. Orang Lampung, bisa!" pekiknya diiringi tepuk tangan penonton.

Acara yang dipadati ribuan penonton itu dipandu presenter Ringgo Agus Rahman. Grup band Hijau Daun dan The Potters juga menyanyikan lagu-lagu hitnya.

Executive Vice Presiden PT Bakrie Telecom Tbk. Ridzki Kramadibrata saat konferensi pers kemarin mengatakan acara itu bertujuan memberi energi positif kepada masyarakat Lampung agar bisa sukses dan berprestasi di tingkat nasional dan internasional. "Sebagai produk nasional asal Lampung, Esia mengajak masyarakat Lampung baik yang merantau maupun yang tinggal di Lampung untuk aktif mendukung pembangunan daerah Lampung," kata Ridzki.n CR-1/MG13/U-2

Sumber: Lampung Post, Minggu, 17 Januari 2010

January 13, 2010

RI Bebas Keluarga Miskin?

Oleh Supadiyanto

MUSTAHILKAH judul artikel pendek di atas dapat terealisasi, entah dalam jangka waktu 10 tahun lagi, 20 tahun mendatang atau bahkan 100 tahun lagi dari sekarang? Bagaimana obsesi itu bisa gampang terealisasi, lha wong negara Amerika Serikat saja yang sejak dulu kondang sebagai Negara Adidaya (0Superpower), kini masih memiliki penduduk miskin yang jumlahnya sekitar 30 juta jiwa. Itu artinya setara 10 persen dari total penduduk Amerika Serikat yang berjumlah hampir 300 juta orang masih terus hidup di bawah garis kemiskinan.

Membandingkan Amerika Serikat dan Indonesia memang tidak sebanding. Negara Indonesia yang bukan apa-apanya jika dibanding Negeri Paman Sam itu entah dalam bidang apa pun (kecuali tingkat kejahatan korupsinya lebih unggul), jelas akan terlihat "konyol" jika berani memproyeksikan Indonesia sebagai kawasan yang terbebas dari orang-orang miskin--seperti judul yang tertera di atas.

Namun menurut hemat penulis, bukan berarti proyeksi muluk di atas tidak mungkin dicapai dalam waktu jangka panjang. Akan sangat rasional jika hampir 40 juta jiwa penduduk miskin yang sekarang masih menghuni negeri seluas hampir 8 juta kilometer persegi ini bisa ditekan hingga mendekati angka nol.

Katakanlah jika setiap satu periode pemerintahan (5 tahun), pemerintah membuat program jangka panjang (permanen) yang kebijakan ini berlaku sepanjang masa, tidak peduli apakah presiden-wakil presidennya sudah berganti orang (entah diusung dari partai politik yang berbeda atau sama dari sebelumnya), tak penting juga apakah menteri-menterinya pun telah berganti nama; program pemberantasan jangka panjang tetap diteruskan dalam estafet kepemerintahan itu.

Sehingga kesan ganti menteri atau pergantian pucuk pimpinan nasional juga berganti kebijakan dapat dihilangkan dari pengetahuan publik. Juknis sederhananya begini, targetkan saja minimal dalam satu periode pemerintahan, seperti pemerintahan SBY-Boediono (2009--2014) diplot untuk bisa mengentaskan orang-orang miskin sebanyak 5 juta jiwa (syukur melebihi dari angka yang disebut). Bukankah itu artinya, dalam waktu setahun ke depan, pemerintah hanya ditarget memberdayakan 1 juta orang miskin. Idem kalkulasi itu, dalam sebulan berarti pemerintah hanya dibebani memberdayakan sebanyak 84 ribu orang miskin. Jadi kalau dihitung jari, dalam sehari tanggungan pemerintah yang berkuasa untuk mengangkat derajat orang-orang miskin terhindar dari lubang jarum kemiskinan hanya diplot sebanyak 2.800 orang saja. Angka yang tidak besar, bukan?

Lantas berbincang soal finansial, berapa jumlah anggaran yang diperlukan untuk memberdayakan orang miskin yang dimaksud? Hitung saja, tentu sangat murah meriah. Katakanlah untuk memberdayakan orang miskin dalam 1 periode pemerintahan, dikucurkan dana pinjaman berbunga lunak Rp5 juta yang dirancang untuk diberikan kepada setiap penduduk miskin selama 5 tahun ke depan.

Dengan begitu kocek milik negara yang perlu dipersiapkan untuk mendanai proyek pengentasan kemiskinan selama 5 tahun itu cuma butuh Rp5 juta dikalikan 5 juta orang, sama dengan Rp25 triliun. Secara global, sepanjang 40 tahun ke depan (2049) cuma dibutuhkan dana negara sebanyak Rp200 triliun saja untuk bisa menghapus angka kemiskinan di Indonesia. Bukankah bila program jangka panjang itu konsisten dijalankan tiap pemerintahan yang berkuasa di negeri ini, hanya dalam waktu 8 kali periode pergantian pemerintahan atau selama 40 tahun ke depan (2009--2049), Indonesia akan terbebas dari orang-orang melarat?

Cuma yang patut diperhatikan bersama, teknis pengeksekusian program pengentasan kemiskinan berjangka panjang ini, jangan cuma dilakukan seperti dalam Program Bantuan Langsung Tunai (BLT), yang tanpa ada proses pemberdayaan masyarakat di dalamnya. Kita menilai Program BLT kurang berdaya guna kebermanfaatannya, bahkan pembagian dana BLT itu riskan menimbulkan konflik akibat kecemburuan sosial.

Taruhlah misalkan 5 juta orang miskin di negeri ini yang masing-masing diproyeksikan untuk diberikan bantuan modal kerja Rp5 juta itu diwajibkan untuk membuka usaha kerja sesuai dengan minat, bakat, dan keterampilan yang dimiliki mereka. Andai saja mereka tidak (atau belum) memiliki bakat, belum terdeteksi minat kerjanya di bidang apa, keterampilan yang dimiliki apa saja; tanggung jawab Pemerintah Pusat dan daerah adalah melakukan pelatihan kerja (mentoring) secara intensif dengan biaya semurah-murahnya atau gratiskan sekalian.

Tingkat kegagalan dari program pemberantasan kemiskinan model jangka panjang ini bisa diminimalkan sekecil dan sedini mungkin dengan mengantisipasi agar tidak muncul orang miskin baru. Jadi, bekali saja orang-orang miskin itu dengan dengan keterampilan kerja yang memadai. Usaha perbengkelan, kerajinan tangan, jahit-menjahit, budi daya tanaman, peternakan dan perkebunan, usaha dagang warung kelontong, dan industri skala kecil lainnya adalah jenis usaha yang sangat relevan untuk memberdayakan orang-orang miskin di Indonesia. Mungkinkan tahun 2049 mendatang, RI bebas dari penduduk miskin, syukur-syukur sebelum tahun itu?

Supadiyanto
, Direktur Eksekutif ICRC Jateng-DIY, Ketua Umum PPWI DIY

Sumber: Lampung Post, Rabu, 13 Januari 2010

January 10, 2010

Sekala Bgha dan Paksi Pak

Oleh M. Harya Ramdhoni Julizarsyah

SEJAK kapan kerajaan Sekala Bgha muncul? Siapakah pendiri dan raja pertama kerajaan Hindu-Animis tersebut? Itulah beberapa pertanyaan besar yang selalu menggelayuti alam pikir masyarakat Lampung Sai Batin berkaitan asal-usul nenek moyang mereka.

Masyarakat Saibatin di daerah-daerah Kenali, Liwa, Batu Bekhak, Kembahang, Lumbok Ranau, Kota Batu, Banding Agung, Krui, Kotaagung hingga Kalianda percaya bahwa muasal mereka berasal dari lereng Gunung Pesagi yang masyhur. Di lereng gunung tertinggi di Lampung itu hidup sebuah suku purba yang bernama suku Tumi. Ahmad Safei, Saibatin Kepaksian Buay Belunguh, Paksi Pak Sekala Bgha, mengatakan suku Tumi kemungkinan berasal dari India yang datang ke wilayah dataran tinggi Lampung Barat beberapa millennium sebelum masehi. Safei menambahkan nama suku Tumi berasal dari asal nama Tamil, sebuah suku bangsa yang masih ada hingga sekarang di India (Ahmad Safei, 1972).

Berdasarkan Prasasti Bunuk Tenuar yang berangka tahun 9 Margasira 919 Saka atau sekitar tahun 997 Masehi kami meyakini itulah tarikh berdirinya kerajaan Sekala Bgha Hindu. Akan tetapi sejak tahun 2006 pendapat tersebut mulai diragukan ketika kami menemukan catatan mengenai seorang lelaki bernama Taruda yang berasal dari sebuah negeri penghasil kapur barus dan kain bermotif bebungaan dan elang yang terletak di ujung Sumatera di lereng Gunung Pesagi. Taruda merupakan utusan raja Sekala Bgha untuk menjalin persahabatan dengan kekaisaran China. Tarikh purba mencatat bahwa kedatangan Taruda pertama kali ke China adalah pada tahun 441 Masehi. Ia disebutkan membawa bermacam-macam hadiah di antaranya kapur barus yang kala itu merupakan salah satu hasil bumi negeri Sekala Bgha.

Penemuan baru nama Taruda melahirkan dugaan baru tentang asal mula kemunculan kerajaan Sekala Bgha yang telah ada sejak abad ke 5 Masehi. Sementara itu jika mengikuti Tambo Paksi Pak Sekala Bgha nama raja Sekala Bgha yang tercatat di antaranya adalah Sangkan (abad 12 Masehi) Mucca Bawok (abad 12-13 Masehi) dan Sekeghumong (abad 13 Masehi). Keterbatasan catatan dari pihak Sai Batin Paksi Pak memunculkan misteri keterputusan sejarah jurai dalam wangsa Sekala Bgha. Antara tahun 441 Masehi hingga 1200-an Masehi hanya terdapat empat nama raja Sekala Bgha yang berhasil dipastikan yaitu Sri Hardewa (Prasasti Bunuk Tenuar 997 M), Sangkan, Mucca Bawok, dan Sekeghumong (Tambo Paksi Pak Sekala Bgha). Permasalahannya kemudian adalah siapakah nama raja-raja antara tahun 441 Masehi hingga kemunculan Sangkan yang diperkirakan hidup pada abad 12 Masehi?

Pada 2001 rapat adat Paksi Pak Sekala Bgha di Liwa memunculkan sebuah nama, yaitu La Laula sebagai raja pertama kerajaan Sekala Bgha Hindu-Buddha. Pertanyaan baru kemudian muncul: siapakah La Laula? Bagaimana ia bisa menjadi raja pertama Sekala Bgha? Adakah ia merupakan penduduk asli Sekala Bgha dan termasuk ke dalam golongan suku Tumi. Hasil musyawarah Paksi Pak Sekala Bgha cukup mengagetkan karena menurut Paksi Pak La Laula bukanlah penduduk asli Sekala Bgha. Ia bersama sekelompok pengikutnya tiba di Sekala Bgha dari Hindia Belakang (sekitar Vietnam dan Kamboja) pada awal abad Masehi dengan menggunakan kapal kano. La Laula tiba di sebuah negeri yang dipenuhi pohon Sekala di mana di sana telah berdiam suatu entitas masyarakat yang bernama Suku Tumi.

Kedatangan La Laula bersama pengikutnya rupanya mengusik kedamaian yang tercipta selama ini. Suku Tumi merasa terdesak dengan kehadiran La Laula yang lambat laun berhasil menarik pengikut di kalangan masyarakat lokal. Setelah melalui pertempuran yang cukup lama, La Laula dan pengikutnya berhasil menaklukkan suku Tumi dan mendudukkan dirinya sebagai raja pertama Kerajaan Sekala Bgha.

Nama Sekala Bgha atau Sekala Bekhak atau Sekala Brak memiliki beberapa makna seperti "Tempat Bersemayam Dewa-Dewi", "Titisan Dewata", "Titisan Mulia" dan "Pohon Sekala Raksasa". Perihal arti Sekala Bgha masih bisa diperdebatkan dan belum dapat diputuskan manakah di antara keempatnya yang paling benar dan sesuai. Keputusan Paksi Pak mengenai La Laula, Tambo Paksi Pak yang memuat perihal nama beberapa raja Sekala Bgha Hindu dan penelitian kami yang menemukan nama Taruda sedikit banyak mulai menyambung mata rantai terputus dari wangsa purba Sekala Bgha. Teori kami yang menyatakan bahwa suku Tumi adalah keturunan imigrasi bangsa-bangsa purba dari Hindia Belakang pada tahun 2000 SM juga mulai menampakkan kebenarannya.

Hal ini diperkuat beberapa hal. Pertama, keberadaan sisa peradaban batu Neolitikum yang terletak di Pekon Purawiwitan, Kecamatan Sumberjaya, Kabupaten Lampung Barat. Tempat penemuan batu-batu purba tersebut telah didiami manusia jauh sebelum abad Masehi. Kedua, aksara Lappung atau Had Lappung yang kita kenal hingga saat ini merupakan bukti yang amat konkret dari betapa purbanya Tamadun Sekala Bgha. Dalam sejarah Tamadun umat manusia, kemunculan aksara terjadi setelah melalui evolusi ribuan tahun. Huruf Mesir kuno ditemukan setelah peradaban tersebut berevolusi selama 3000 tahun. Begitu juga bahasa dan huruf yang ditemukan di pepuing peradaban kota lembah Indus telah ada sejak 2000 tahun SM. Oleh karena itu, bukan suatu hal yang mustahil bila Had Lappung telah ditemukan oleh nenek moyang bangsa Tumi sejak ribuan tahun yang lalu. Ketiga, hasil musyawarah Paksi Pak pada 2001 yang mengakui La Laula sebagai raja pertama Sekala Bgha sejak awal abad Masehi. Hasil musyawarah tersebut juga membenarkan eksistensi bangsa Tumi yang telah ada sebelum kedatangan La Laula.

Berzuriat Peureulak-Pase atau Pagaruyung?

Para pembesar Paksi Pak saat ini telah menyepakati bahwa Paksi Pak merupakan kerajaan konfederasi yang dipimpin oleh empat bersaudara yaitu Maulana Umpu Pernong (raja pertama Kepaksian Buay Pernong yang berkediaman di Hanibung); Maulana Umpu Belunguh (raja pertama Kepaksian Buay Belunguh yang bermastautin di Tanjung Menang, Kenali); Imam Maulana Umpu Nyekhupa (raja pertama Kepaksian Buay Nyekhupa yang berdiam di Tampak Siring); dan Maulana Umpu Lapah di Way (raja pertama Kepaksian Buay Bejalan di Way yang berkediaman di Puncak Dalom). Kerajaan konfederasi yang kami maksud di sini adalah keempat penguasa ini memiliki wilayah, rakyat, dan kedaulatan masing-masing. Kesadaran akan ingatan kolektif bahwa mereka berasal dari satu bapak yang sama, yaitu Maulana Imam Al Hasyir atau lebih dikenal sebagai Umpu Penggalang Paksi. Mereka mendirikan kerajaan Paksi Pak setelah berjaya menamatkan riwayat kerajaan Hindu-Animisme Sekala Bgha yang dipimpin Ratu Sekeghumong pada peralihan abad 13-14.

Apabila membaca Tambo mengenai asal-usul keempat Paksi apakah Paksi Buay Pernong, Paksi Buay Belunguh, Paksi Buay Nyekhupa maupun Paksi Buay Bejalan di Way akan didapat kesimpulan yang sama mereka sangat memercayai muasal nenek moyang mereka berasal dari Pagaruyung di Sumatera Barat. Syahdan disebutkan pada 1358 M ketika seorang lelaki setengah baya dan keempat putranya keluar dari Istana Pagaruyung untuk mengembara menyebarkan agama Islam. Konon kejadian itu bertepatan dengan dilepasnya Suttan Nan Selapan ke rantau (daerah luar) Minangkabau dan mulai menghitung nagari-nagari di alam Minangkabau yang berjumlah 667 buah (Ahmad Safei, 1972 : 14). Masalah yang muncul kemudian adalah kenyataan bahwa Minangkabau pada masa itu adalah sebuah kerajaan Hindu Buddha yang didirikan oleh Aditywarman pada tahun 1347. Adityawarman adalah putra dari Mahesa Anabrang, panglima perang Kerajaan Singasari (Ekspedisi Pamalayu I dan Pamalayu II), dan Dara Jingga, putri dari kerajaan Dharmasraya. Ia sebelumnya pernah bersama-sama Mahapatih Gajah Mada berperang menaklukkan Bali dan Palembang (Mpu Prapanca, 2006). Adityawarman sendiri adalah sepupu kandung Jayanegara (Raja II Majapahit) karena ibunya bersaudara kandung dengan Dara Petak, ibunda Jayanegara. Pada 1358 yang disebut sebagai permulaan diaspora Suttan Nan Selapan ke rantau justru merupakan masa tatkala Adityawarman masih berada dalam puncak kejayaannya memimpin kerajaan Hindu-Buddha Pagaruyung. Dongeng kanak-kanak yang dipegang-teguh oleh para pembesar Paksi Pak akhirnya harus digugurkan oleh kenyataan di lapangan. Lalu dari manakah muasal Maulana Imam Al Hasyir dan keempat putranya?

Menurut Mohd. Abdullah Syukri dari Institut ATMA-UKM proses penyebaran Islam di Sumatera telah dilakukan sejak kemunculan kerajaan Islam Peureulak yang berdiri pada tarikh 1 Muharram 225 H atau hari Rabu 12 Nopember 839 M. Akan tetapi secara intens dakwah tersebut baru diamalkan sejak tahun-tahun terakhir kekuasaan Sultan Makhdum Alaidin Malik Ahmad Syah Johan Berdaulat, 501--527 H (1108--1134 M). Selanjutnya pada masa kerajaan Pasai di bawah kekuasaan Meurah Silu atau Sultan Malik Al-Saleh, serombongan pendakwah dari Kana'an dan Negeri Syam tiba di kerajaan tersebut. Apabila mereka menemukan ternyata di wilayah Pasai dan Peureulak raja dan masyarakatnya telah memeluk Islam kelompok pendakwah ini meninggalkan kerajaan tersebut dan bertualang menuju selatan guna menyebarkan agama Islam kepada mayoritas penduduk Sumatera yang masih menyembah berhala. Salah satu ekspedisi dakwah tersebut adalah yang kemudian dikenal sebagai Empat Paksi yang datang ke tanah Sekala Bgha guna menyebarkan agama Islam dan berakhir dengan kejatuhan kerajaan Hindu-Animisme tersebut.

Beberapa argumentasi sederhana memperkuat dugaan muasal Maulana Bersaudara yang diperkirakan berasal dari Pasai: Pertama, dalam tradisi peperangan Islam terdapat beberapa "ritual" yang harus dilakukan setelah tentara Islam berhasil menaklukkan sebuah wilayah kafir.

1. Pihak yang kalah menghidangkan makanan kepada tentara muslim yang menang dengan tradisi mereka. Ritual ini bisa kita saksikan hingga sekarang dengan tradisi Pahar yang masih dilakukan dalam acara-acara adat Kesaibatinan Paksi Pak Sekala Bgha.

2. Tentara kafir menyatakan tanda takluknya dengan menyerahkan seorang gadis bangsawan untuk diislamkan dan dinikahi oleh pimpinan tentara muslim. Hal ini terbukti dengan perkawinan Maulana Belunguh dengan Umpu Sindi putri Ratu Sekeghumong yang dikalahkan oleh Maulana Bersaudara.

3. Kaum muslimin yang memenangkan pertempuran menyerahkan Bendera Syahadat (Al Liwa) kepada pihak kaum kafir tertakluk. Di bekas kerajaan Sekala Bgha Paksi Pak bukan hanya menyerahkan bendera kepada sisa-sisa bangsa Tumi yang terpaksa masuk Islam, akan tetapi juga mengubah nama ibu negeri Bunuk Tenuar menjadi Al Liwa atau Liwa sepertimana yang masih digunakan hingga saat ini.

Kedua, Awan Gemisikh, salah satu perangkat adat Sai Batin yang masih bertahan hingga kini merupakan hasil akulturasi budaya peperangan Islam dari jazirah Arab (Kana'an dan Syam) yang terinternalisasi di dalam adat Lampung Sai Batin melalui perantaraan kaum ekspeditor muslimin dari Samudera Pasai. Dari beberapa buku yang kami baca mengenai perang Sabil antara kaum muslimin melawan kaum nasrani, terdapat gambar Salahuddin Al Ayubi atau Saladin menerima penyerahan Yerusalem dari kaum Nasrani di bawah sebuah tenda yang amat mirip dengan Awan Gemisikih. Sebuah fakta baru mestinya mulai diungkap oleh mereka yang peduli dengan sejarah Lampung tentang Awan Gemisikh yang kini hanya digunakan sebagai alat lapah Sai Batin tanpa memahami makna yang sebenarnya.

Ketiga, cara masuknya Islam di bumi Sekala Bgha dengan peperangan yang dilakukan Maulana Bersaudara melawan Sekeghumong merupakan khas penyiar Islam dari jazirah Arab seperti Kana'an dan Negeri Syam. Gaya dakwah seperti itu bukanlah tipe syiar Islam yang bisa kita temui di Jawa melalui Sembilan Wali. Apabila diperbandingkan secara historis penyebaran Islam di Jawa lebih menggunakan jalan damai yang juga merupakan tipikal pedagang muslimin dari Gujarat. Penyebaran Islam versi jalan damai senantiasa menghormati kebudayaan lama masyarakat setempat dengan cara sinkretisme budaya Islam-Hindu-Buddha yang masih kental nuansanya hingga saat ini terutama di wilayah-wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sembilan Wali juga membiarkan keberadaan tamadun Hindu Budha seperti Borobudur dan Prambanan. Sementara di tanah Sekala Bgha, Islam tiba dengan jalan perang yang mengedepankan pertumpahan darah. Selain itu budaya lokal diberantas habis sebagai khurafat, syirik dan bidah. Salah seorang Pangeran Paksi Pak yang kami wawancarai mengatakan bahwa pada masa awal Paksi Pak semua bangunan pemujaan wangsa Sekala Bgha dihancurkan tak bersisa. Hal ini menguatkan dugaan Islam tiba melalui Maulana Bersaudara atau Paksi Pak dengan menggunakan jalan perang sepertimana penyebaran Islam yang diamalkan sebagian besar pendakwah-pendakwah Islam dari jazirah Arab.

* M. Harya Ramdhoni Julizarsyah, staf pengajar FISIP Unila, kandidat Ph.D. Sains Politik, Universiti Kebangsaan Malaysia

Sumber: Lampung Post, Minggu, 10 Januari 2010

Sejuknya Ranau dan Secangkir Kopi Luwak

PERCIKAN air hujan yang jatuh di lantai Taman Seminung Lumbok Resort disinari lampu malam itu--malam pergantian tahun-- bagaikan bulir kristal putih. Ratusan warga berteduh di tribun dan bangunan yang ada di lokasi itu.

Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri beserta istri berbaur dengan pengunjung menikmati ikan bakar khas Pekon Lombok pada acara Gebyar Pesona Lumbok Ranau 2009. (LAMPUNG POST/HENDRI ROSADI)

Pembawa acara senantiasa memanjakan pengunjung dengan mengajaknya bermain dan berjoget menanti detik-detik pergantian tahun 2009 ke 2010. Itulah suasana malam Gebyar dan Pergantian Tahun yang dilaksanakan di Seminung Lumbok Resort.

Meskipun hujan turun menjelang detik-detik pergantian tahun, tidak menyurutkan warga dan rombongan Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri yang hadir dalam acara tersebut.

Setelah melepas lelah menyaksikan tontonan Gebyar Pesona Lumbok Ranau pada siang harinya, warga dan pengunjung juga menikmati hiburan sekaligus penyerahan hadiah-hadiah lomba. Tidak hanya itu, lidah pengunjung juga dimanjakan dengan sajian ikan bakar, kambing guling, dan kopi luwak.

Tiba-tiba semua lampu bangunan milik Pemkab Lampung Barat tersebut padam. Kemudian tanpa komando tiupan terompet membahana di antara percikan gerimis malam itu. Dan acara yang dinantikanpun tiba. Kembang api pecah di udara susul menyusul bersama suara ledakan yang membahana. Jeritan riang gembira terdengar dari semua sudut Seminung Lumbok Resort. "Kita sudah masuk tahun 2010," kata salah seorang pengunjung.

Manajer Seminung Lumbok Resort Marhasan Samba mengatakan kegiatan ini tidak hanya semata-mata pesta kembang api, tetapi yang lebih penting adalah promosi kepariwisataan di Lampung Barat, khusunya Seminung Lumbok Resort. Selain mempromosikan event Geyar Pesona Lumbok Ranau, juga mempromosikan produk-produk yang bisa mendukungnya seperti ikan bakar khas Lombok dan Kopi Luwak ala Lampung Barat.

Selama ini, kopi luwak banyak diminati penikmat kopi luar Lampung bahkan luar negeri. Sehingga Seminung Lumbok Resort mencoba mengangkatnya menjadi ikon minuman khas Lambar, apalagi Lampung Barat merupakan salah satu etalase kopi nasional. "Mudah-mudahan setelah ini, Kopi luwak Lambar akan semakin dikenal," kata dia. n HENDRI ROSADI/M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 10 Januari 2010

Tutup Tahun di Gebyar Pesona Lumbok Ranau

SEMUA mata memandang Danau Ranau, ketika beberapa perahu yang dihias kain-kain khas adat Lampung mulai merapat di Pelabuhan Pekon Lombok, Kecamatan Sukau, Lambar, Kamis (31-12).

Beberapa perahu hias sedang bersiap mengikuti lomba pada Gebyar Pesona Lumbok Ranau 2009, Kamis, 31 Desember 2009. (LAMPUNG POST/HENDRI ROSADI)

Meskipun dihantar mendung pagi itu, kemilau keemasan dan warna merah yang menyala tampak mendominasi kendati perahu masih berjarak ratusan meter dari bibir pantai Danau Ranau yang berada di wilayah Lampung Barat. Itulah kapal motor hias yang merupakan salah satu bagian lomba dalam perhelatan kegiatan kepariwisaraan Gebyar Pesona Lumbok Ranau di hari terakhir tahun 2009.

Pengunjung dari berbagai daerah, seperti OKU Selatan, sejumlah Kecamatan Wilayah Lampung Barat, bahkan dari Bandar Lampung mulai berkerumun di dermaga yang berukuran sekitar 4 x 15 meter itu. Mereka berdiri sesak dengan mata terfokus menanti perahu sandar di dermaga.

Perlahan tapi pasti, bagaikan gelombang mencari pantai, warga semakin ramai hingga jumlahnya mencapai seribuan yang sengaja datang untuk menyaksikan event yang dilaksanakan Pemkab Lambar dan Masyarakat Peduli Danau Ranau (MPDR).

Aksi perahu naga di Arena Gebyar Pesona Lumbok Ranau. (LAMPUNG POST/HENDRI ROSADI)

Suasana seru tarik tambang jukung di Danau Ranau. (LAMPUNG POST/HENDRI ROSADI)

Alunan musik tari sembah mengawali kegiatan yang dibuka Sekkab Lambar Havazo Pian yang juga Plt. Kadis Perhubungan, Pariwisata, dan Pemuda Olahraga. Kegiatan itu seakan menjadi magnit dan menarik perhatian pengunjung untuk bermanja-manja dengan suasana kegiatan yang mengambil tema Berwisata Menikmati Alam dan Budaya tersebut.

Tanpa komando mereka berkerumun di depan tribun utama acara yang didukung Lampung Post, Radio Mahameru, Radio Swarapraja, Bank Lampung, dan SKM Honda Liwa itu, menyaksikan dari dekat sejumlah penari yang melenggak-lenggok mengikuti irama.

Cahaya matahari mulai bersahabat. Kemilaunya terpancar di antara butiran air dari Danau Ranau. Kegiatan yang bertujuan mempromosikan objek pariwisata Lampung Barat itu pun dilanjutkan dengan lomba-lomba, seperti tarik tambang jukung, memanah ikan lepas di Danau Ranau (ngera'as), threeathlone tradisional, dan bakar ikan antarsekolah.

Teriakan dan sorak-sorai memecah keheningan Danau Ranau, ketika Sekkab Havazo Pian melepas perdana lomba tarik tambang jukung. Tidak hanya tenaga yang yang dibutuhkan, tetapi juga taktik untuk bertahan dan menang diperagakan dalam lomba tersebut.

Di tengah kerumunan warga itu juga menyeruak aroma ikan bakar dari salah satu sudut lokasi kegiatan siswa-siswi SMA/SMK se-Lambar, adu kepiawaian menyajikan ikan bakar khas Lombok di hadapan juri.

Tidak lama berselang warga berlari dan bersorak di sudut dermaga Lombok yang lain. Rupanya peserta ngera'as sudah menuntaskan kegiatan dan ikan-ikan segar hasil tangkapan mereka juga siap ditimbang untuk mencari siapa pemenangnya dengan bobot yang paling berat.

Seolah tak ingin hari itu berakhir, warga bergeming meskipun hari berangsur senja. Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri, yang datang bersama rombongannya pada pukul 13.00, langsung bergabung bersama warga. Ikan bakar dengan berbagai garnis tidak lepas dari perhatian rombongan orang nomor satu di Lampung Barat itu. n HENDRI ROSADI/M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 10 Januari 2010

January 9, 2010

Ayo Lestarikan Budaya Lampung

BANDAR LAMPUNG (Lampost): "Ayo Lestarikan Budaya Lampung." Ungkapan itu mengemuka dalam diskusi ringan bertema Bahasa, seni, dan budaya Lampung, di kantor harian Lampung Post, Jumat (8-1).

Sekitar 20 mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Bahasa dan Seni (PBS) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung mengadakan kunjungan ke Lampung Post.

Dalam kunjungan tersebut mengalir diskusi ringan tentang kondisi bahasa, seni, dan budaya daerah Lampung. "Bagaimana hasil pengamatan Lampung Post tentang persoalan ini," kata Rahmat Nurudin, ketua rombongan.

Menanggapi pertanyaan itu, Asisten Redaktur Lampung Post Sri Wahyuni mengatakan kita harus bangga dengan peran mahasiswa, terutama di Unila dalam olah seni budaya.

"Di Unila terdapat Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS), Kelompok Studi Seni (KSS) yang senantiasa menggulirkan kegiatan kesenian di kampus," kata dia.

Sayangnya hal ini tidak berlaku untuk pengembangan bahasa, seni, dan budaya Lampung khususnya. Seharusnya perguruan tinggi memiliki peran aktif dalam upaya melestarikan budaya Lampung.

Senada dengan pendapat ini, Susi Wandani dari Program Studi Seni Tari FKIP Unila mengatakan selain perguruan tinggi, pemerintah daerah juga harus berkomitmen dalam pelestarian bahasa Lampung.

"Saya pernah menghadiri seminar daerah tentang bahasa Lampung, di situ dikatakan bahasa Lampung terancam punah, kita perlu peraturan daerah tentang pelestarian daerah. Saat ini perdanya pun sudah ada, tetapi aksi nyatanya belum ada sama sekali," kata Susi.

Sri Wahyuni mengatakan Lampung Post dulu pernah bekerja sama dengan jurusan D-3 Bahasa Lampung FKIP Unila. Sayangnya, dengan ditutupnya program tersebut berakhir pula rubrikasi bahasa Lampung.

Menanggapi hal ini, Indar Bula yang juga dari program studi seni tari menyatakan ia dan rekan-rekan dari Program Studi Bahasa FKIP Unila bersedia berkontribusi jika rubrikasi itu kembali diadakan. n MG14/S-1

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 9 Januari 2010

January 4, 2010

KSS-Impas Pentaskan Monolog Hati yang Meracau

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF) Divisi Teater Kelompok Studi Seni (KSS) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila) bersama Ikatan Mahasiswa Pencinta Seni (Impas) STAIN Metro mengggelar monolog Hati yang Meracau.

Demikian disampaikan Ketua Umum UKMF KSS FKIP Unila Hendri Sianturi kepada Lampung Post di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Unila sebelum keberangkatan mereka ke Metro, Sabtu (2-01).

"Sebanyak 20 orang kru KSS akan berangkat berbarengan dari pelataran parkir FKIP Unil menuju STAIN Metro. Di sana kami akan pentas di GSG STAIN Jurai Siwo Metro," kata dia.

Sesuai konfirmasi panitia di Metro, pementasan ini akan dihadiri puluhan penikmat seni teater di Kota tersebut, terutama dari kalangan pelajar dan mahasiswa.

"Naskah yang akan kami tampilkan adalah Hati yang Meracau karya monolog dari Edgar Alanfoe. Kami memilih naskah ini karena memang cukup menantang dan pernah dipentaskan untuk dilombakan pada pertengahan 2009," kata dia.

Sedangkan cerita yang diangkat dalam monolog ini adalah kisah seorang pembantu rumah tangga yang tega membunuh tuan rumah atau majikannya hanya karena mempunyai mata yang berselaput biru.

"Tokoh yang diperankan memiliki persoalan batin yang sangat dalam. Sesungguhnya ia belum betul-betul gila. Tetapi ia adalah sosok yang sangat sentitif. Pembunuhan itu dilakukan secara terencana, yakni selama delapan hari," kata dia.

Ia menambahkan pentas monolog ini akan dimainkan oleh aktor Yunizar Fadli dan disutradarai Ahmad Tohamuddin. Ia berharap pementasan ini dapat memuaskan rasa rindu pencinta seni di Metro.

"Tak lupa ucapan terima kasih kami sampaikan kepada pihak Dekanat FKIP Unila karena dukungan dari merekalah pementasan ini dapat kami laksanakan," kata dia. n MG14/S-2

Sumber: Lampung Post, Senin, 4 Januari 2010

January 3, 2010

Cek Kosong Kesenian di Lampung

Oleh Arman A.Z.

Pembangunan kesenian adalah tugas dan tanggung jawab bersama. Pemda sepatutnya menjadi inisiator bagi pelaku kesenian yang kerap tak berdaya menghadapi sumber-sumber anggaran.

MENERIMA undangan diskusi seni UKMBS Unila bertema Geliat kesenian di Lampung, siapa peduli?! di Gedung PKM Unila, Kamis (17-12) lalu, awalnya saya enggan menghadiri. Saya menerka diri saya akan terjebak dalam ruang linglung yang dipenuhi curhat, kritik, dan (seperti biasa) tak satu pun pejabat pemegang palu keputusan terlibat aktif dalam diskusi itu. Kalaupun muncul wacana atau ide segar, toh (seperti biasa juga) lesap seusai acara. Tak ada langkah atau implementasi konkret. Kemudian, hari terakhir 2009, saya membaca esai Isbedy Stiawan Z.S. di Lampung Post sekaitan dengan diskusi itu yang membahas nasib kesenian di Lampung.

Saya percaya diskusi, seminar, esai, atau apa pun kemasannya untuk kesenian, spiritnya tetap sama, yakni bagaimana agar seni budaya di Lampung bertahan; gagah di tengah banjir bandang informasi dan teknologi, buah dari globalisasi yang tak bisa ditolak atau dihindari.

Kesenian sama kedudukannya dengan aspek kehidupan lain, seperti olahraga, pariwisata, ekonomi, politik, iptek, dan sebagainya. Jika ditanya siapa peduli kesenian di Lampung, tentu banyak pihak (heroik atau nostalgik) menunjuk dirinya sendiri. Pertanyaannya: sejauh dan seintens apa kepedulian itu? Cukupkah dengan menghadiri acara kesenian yang notabene karena perintah atasan (nota dinas/disposisi)? Membeli lukisan atau buku, nyanyi diiringi organ tunggal, atau tepuk tangan usai menonton pentas tari? Mudah-mudahan tak sebatas itu.

Saya mengklasifikasikan pihak-pihak yang peduli dengan kesenian di Lampung menjadi empat komponen: Pemerintah, kelompok menengah, pelaku seni, dan konsumen atau masyarakat awam. Kelas menengah terdiri dari banyak unsur: media massa, akademisi, pihak swasta, lembaga yang "mengatasnamakan" seni budaya, lembaga yang "menempelkan" seni budaya dalam struktur organisasi tapi fungsi dan kiprahnya masih bisa dipertanyakan, mereka yang mengaku atau ditahbiskan sebagai "budayawan", dan individu-individu. Idealnya, keempat mata rantai itu bersinergi membangun kesenian Lampung. Namun, faktanya, masih jauh panggang dari api. Contoh sederhana, seniman menganggap dukungan pemda terhadap kesenian masih kurang. Di sisi lain, pemda menganggap peran dan dukungannya terhadap kesenian di Lampung sudah maksimal.

Pembangunan kesenian (dan kebudayaan) di Lampung selama ini masih menguarkan aroma kepentingan politik identitas, belum menyentuh substansi kesenian dan pemberdayaan pelaku seni. Bisa jadi hal seperti ini juga terjadi di daerah lain. Kita kenyang mendengar jargon-jargon mengagungkan seni budaya dan tradisi. Nyatanya, seni budaya dan tradisi hanya sebatas gerbong, bukan lokomotif. Ironisnya lagi, lembaga yang mengatasnamakan "seni/budaya/adat/tradisi", yang mestinya menyokong dan mengawal kesenian, di momen-momen tertentu justru dimanipulasi sebagai instrumen politik. Kalaupun ada capaian, sifatnya dangkal, tak menyentuh substansi, apatah lagi bisa diharapkan untuk jangka panjang. Rasa "memiliki" baru akan muncul jika ada produk seni budaya diakui segelintir masyarakat negara lain. Itu pun disikapi dengan kacamata kuda dan berlebihan, sementara esensi atau akar permasalahannya terabaikan. Pikiran pragmatis macam itu sudah dipelihara dan mendarah daging.

Pembangunan kesenian adalah tugas dan tanggung jawab bersama. Pemda sepatutnya menjadi inisiator bagi pelaku kesenian yang kerap tak berdaya menghadapi sumber-sumber anggaran. Harus diakui, usaha itu sudah dilakukan pemda, tapi belum maksimal dan masih ada peluang kebocoran. Organisasi seni dan pelaku seni yang bertahun-tahun aktif berkarya, mengharumkan Lampung di pentas nasional, oleh segelintir oknum di instansi pemerintahan disamakan dengan lembaga-lembaga dadakan atau musiman yang tak jelas program kerja dan prestasinya.

Contoh lain, jika instansi pemerintah meminta sanggar musik atau tari untuk pentas di sebuah event pemerintah, orang-orang dalam instansi itu sudah duluan mematok harga. Mereka tak mempertimbangkan keperluan (transportasi, dll) dan keringat yang telah dikeluarkan individu-individu di sanggar itu agar bisa tampil maksimal.

Maka saya nyengir, tak heran mendengar informasi narasumber diskusi, bahwa tahun 2010 Pemprov Lampung telah menetapkan anggaran pariwisata 80% dan kesenian 20%. Anggaran kesenian itu pun diprioritaskan untuk seni tradisi. Inilah yang saya maksud dengan "cek kosong" kesenian di Lampung. "Cek kosong" itu sejak dulu ada di tangan pemda dan elite politik. Para penentu kebijakan itu seolah tahu betul problem kesenian hingga renik-reniknya, lantas mengelolanya, sementara seniman diposisikan sebagai objek. Hasilnya bisa diterka: produk kesenian yang muncul adalah by order, copy paste program tahun sebelumnya dengan alokasi anggaran lebih bengkak.

Tahun 2010, Lampung menjadi tuan rumah temu sastra 10 provinsi yang tergabung dalam Forum Kerja Sama Mitra Praja Utama. Ini program tetap pemprov di bawah kendali Disbudpar setiap provinsi, setelah sebelumnya di Banten, Bali, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Panitia pelaksananya adalah sastrawan (melalui DKL). Sastrawan, akademisi, kritikus, plus wartawan dari 9 provinsi lain akan tandang ke Lampung.

Secara langsung atau tak langsung mereka akan mempromosikan Lampung, entah lewat karya sastra atau info jurnalistik. Terbetik kekhawatiran, alokasi anggaran yang minim (kabarnya Rp50 juta) yang akan digelontorkan Disbudpar mungkin tak utuh lagi. Entah apa dalihnya. Bagaimana sastrawan bisa bekerja maksimal dengan anggaran minim? Sudah tentu, sastrawan dan DKL lagi yang harus putar otak, peras keringat, untuk menyukseskan hajat itu. Sekali lagi, inilah yang saya ilustrasikan sebagai "cek kosong" kesenian di Lampung.

Belum jika menilik ke belakang, ketika beberapa temu sastra MPU itu tidak ada satu pun wakil birokrat instansi terkait, dengan dalih tak ada anggaran. Program kesenian milik pemerintah (10 provinsi!) saja disepelekan, apatah lagi yang murni inisiatif kreatif pelaku kesenian.

Saya lebih percaya bahwa identitas sebuah daerah (dan bangsa) adalah seni-budayanya, bukan pariwisata yang notabene bersifat profit oriented. Begitulah jika pemda memilih meningkatkan PAD melalui pariwisata. Alokasi anggaran kesenian dan pariwisata jadi timpang. Sayangnya lagi, kesenian dikurung dalam tafsir tunggal, bahwa seni tradisilah yang harus diberi porsi lebih. Begitu pula hasilnya jika formula "membangun" kesenian selama ini adalah top-down (dari penguasa turun ke pelaku kesenian), bukan bottom-up (dari pelaku kesenian naik ke penguasa). Yang terjadi adalah maunya atau idealnya penguasa, bukan maunya atau idealnya seniman.

Kesenian itu dinamis, tidak statis. Dia akan bergerak, beradaptasi dengan perkembangan zaman. Sah saja ada jargon atau semangat melestarikan tradisi. Sah saja mengkhawatirkan tradisi yang terancam punah di tengah arus globalisasi saat ini.

Namun, menurut saya, kebanggaan yang berlebihan dan kekhawatiran yang berlebihan terhadap tradisi justru membuat tradisi itu makin tampak diperdaya, dimanekenkan, dimanipulasi, lantas dijadikan dagangan. Bagaimana bisa melestarikan tradisi jika masih banyak seniman tradisi yang kesejahteraannya jauh dari layak, yang tak tercatat, tapi mereka tetap teguh berkesenian. Kalau ada yang membantu, bukan pemerintah atau sistem birokrasi yang menyentuh mereka, tapi individu-individu yang peduli.

Tradisi itu ada karena diciptakan, dirawat, dipertahankan. Ambil contoh. Jika sebuah sanggar tari di Lampung membuat satu karya baru kemudian sepanjang waktu dipromosikannya dalam berbagai kesempatan tanpa melulu berorientasi profit, bisa jadi seabad kemudian karya itu pun akan dianggap sebagai tradisi. Dengan catatan, jika negara ini masih panjang umur. Saya tak antitradisi, pun tak antimodern. Namun, hendaknya berimbanglah menyikapinya. Dalam konteks anggaran 20% di tahun 2010 untuk kesenian di Lampung, jangan nafikan seni modern di Lampung yang lebih berprestasi di level nasional, misalnya sastra dan teater.

Dalam diskusi di UKMBS Unila itu, terbetik usul Ari Pahala Hutabarat agar dibentuk semacam tim, pansus, atau apalah namanya agar memiliki bargaining dengan pemda terhadap nasib kesenian di Lampung. Semacam Tim 8 dalam kasus Century Gate. Usul yang disetujui beberapa pihak itu menggiring saya pada pertanyaan: lantas apa guna "wakil-wakil rakyat" itu, yang merupakan representasi dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk pelaku seni budaya? Apakah mereka sudah terprogram untuk selalu lelet merespons kegelisahan seniman namun responsif dan proaktif mengamankan kepentingan politik?

Bedah lagi orientasi dan paradigma kesenian dan kebudayaan di Lampung yang bias arah dan implementasinya. Evaluasi, kritisi, bila perlu hentikan kegiatan seni budaya yang sifatnya seremonial, berorientasi menyelesaikan proyek, menghabiskan uang, lalu data statistik penuh rekor dan prestasi itu lapuk begitu saja dalam laci arsip, tapi tak berdampak jangka panjang terhadap kesinambungan kesenian dan kebudayaan di Lampung. Janganlah "membangun" kesenian sebatas politik identitas tapi tak menyentuh substansi, serupa membangun gedung mentereng, monumen, dan sebagainya, tapi kelak kosong karena abai membangun jiwa manusianya.

Pemda sebagai inisiator mesti membuat regulasi alternatif terhadap kesenian di Lampung yang melibatkan semua pemangku kepentingan kesenian. Regulasi itu harus menyentuh prinsip-prinsip keadilan hingga tidak muncul nuansa diskriminasi di kalangan pelaku seni di Lampung. Cobalah duduk bersama, rumuskan kembali relasi dan strategi kemitraan antara pemerintah, seniman, kelompok menengah. Rumuskan target jangka pendek, menengah, dan panjang untuk kesenian di Lampung lalu implementasikan dengan konkret.

Akhirnya, di negara yang tiap hari riuh problem, yang "orang-orang besar"-nya piawai menunggangi bahasa (bahkan Tuhan) untuk retorika; wacana; jargon; dan pleidoi, saya percaya seniman di tiap daerah, khususnya Lampung, akan tetap setia berkarya. Merekalah yang akan merawat dan meruwat kesenian dengan perspektif dan caranya sendiri.

* Arman A.Z., cerpenis

Sumber: Lampung Post, Minggu, 3 Januari 2010

January 2, 2010

Sastra Tradisi Sekadar Tempelan Sastra Modern?

Oleh Hazwan Iskandar Jaya*

MASIH patutkah membenturkan dua arus kutub sastra sastra tradisi (lisan/ lokal) dengan sastra modern KRG kontemporer KRG, ketika ruang kreatif makin terbuka? Mengapa pula sastra tradisi (lisan/lokal) makin tak bergeming dari keterpakuannya (baca: stagnan), ketika sastra modern yang melaju kencang?

Menyuguhkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas, tentu tidaklah gampang. Namun paling tidak, Jung Fondation dan Subdin Kebudayaan Dinas Pendidikan Provinsi Lampung mendiskusikannya dalam sebuah forum Diskusi Ragam Sastra Lampung, di Chriza Art Gallery Bandar Lampung, Nopember silam.

Sebuah upaya memberi "pencerahan" kepada 50 peserta dari berbagai siswa SMA/SMK se Bandar Lampung. Dengan harapan peserta dapat mengenal lebih dekat apa dan bagaimana sastra tradisi yang telah lama berkembang di Lampung, dan bagaimana pula proses perkembangan kreativitas perjalanan sastra modern di Lampung.

Maka tak heran bila para sastrawan Lampung dalam dua arus kutub sastra dipertemukan. Ada Havisi Hasan, Azhari Kadir dan Suntan Purnama mewakili kutub sastra tradisi (lisan/lokal) Lampung, sementara Isbedy Stiawan ZS (Paus Sastra Lampung), Oyos Saroso HN (Penyair/Cerpenis) dan AM Zulqarnain (Penyair Lampung) merupakan keterwakilan kutub sastra Indonesia modern.

Pertemuan Dua Arus

Dalam diskusi selama dua hari tersebut, nampak kedua arus sastra itu sengaja hendak dipersandingkan. Christian Heru Cahyo Saputro, Direktur Eksekutif Jung Fondation menegaskan bahwa tradisi sastra lisan dan sastra Indonesia modern (kontemporer) sebagai hasil kreatif para sastrawan merupakan dua kekuatan karya sastra yang saling melengkapi. Kerapkali, muatan lokal mewarnai karya sastra Indonesia modern, sehingga nilai-nilai tradisi lokal cukup memberi unsur kematangan sebuah karya sastra.

Toh, demikian, nilai-nilai lokal yang diusung dalam bentuk sastra tradisi lisan agaknya kurang memperoleh tempat yang layak dalam khazanah kesusastraan di Lampung.

Menurut Havisi Hasan, tidak saja terkendala oleh minat yang kurang dari generasi muda Lampung, akan tetapi juga terkendala oleh penguasaan bahasa. Bayangkan saja! Diantara 50-an peserta yang mengikuti diskusi Ragam Sastra Lampung itu saja, hanya 1 peserta yang "mengaku" memang benar-benar menguasai bahasa Daerah Lampung. Nyaris serupa dengan kendala yang dihadapi di beberapa daerah lain.

Bagaimana mungkin dapat memahami isi dan ruh sastra tradisi lisan Lampung yang sarat dengan makna, jenis dan bentuk yang beragam, jika tak ada penguasaan bahasa. Bagaimana mampu memahami ragam sastra lisan Lampung, seperti dari Pubian Lampung Tengah dan Selatan yang terdapat jenis sastra tradisi lisan yang disebut dengan Pisaan, Pepancokh, Dadi, Babakh Bunyi Sukat dan Pantun Canggot misalnya.

Belum lagi ada jenis sastra Reringget dan Bebandung dari Marga Abung dan Manggala dan masih banyak lagi. Semua mempunyai kekhasan dan aroma adat istiadat yang kental. Menurut data Havisi Hasan, pakar budaya dan pengamat seni tradisi Lampung, terdapat kurang lebih 36 jenis sastra tradisi di Lampung.

Lantas bagaimana jadinya, bila sang apresian dan sastrawan tak memahami atas penguasaan gramatika bahasa daerah itu sendiri? Kendala penguasaan bahasa daerah, agaknya turut memberi pengaruh yang besar pada para sastrawan dalam menentukan pilihan berkarya.

Sebagaimana dikatakan Isbedy Stiawan ZS, para sastrawan Lampung lebih setia menekuni pilihan sastra modern kontemporer sebagai pilihan dalam berkreasi dan berkarya. Apalagi, mereka adalah secara "biologis" memang bukan berangkat dari suku asli Lampung. Tentu agak sulit untuk mengembangkan sastra tradisi lisan yang pernah ada.

Meski tak perlu dipertentangkan, dua arus kutub sastra ini memang saling komplementer. Pengusungan nilai-nilai lokal ini bisa kita tandai dengan adanya karya-karya sastra modern yang kerap bersentuhan dengan nilai tradisi setempat. Sebut saja karya Isbedy Stiawan ZS yang berjudul "Tiyuh", yang diterjemahkan menjadi "Village" dalam sebuah antologi Asia.

Oleh karena itu, sastra tradisi lisan yang memang khas bermuatan karakteristik tradisionalnya, memberi sumbangan penting bagi pengembangan local genius dalam sastra modern.

Meski jika diamati lebih jujur, maka muatan nilai-nilai lokal kadang hanya dijadikan sekadar "tempelan" pada karya sastra modern. Sehingga, tidak tuntas ditampilkan secara utuh, sebagaimana karya-karya tradisi lisan yang telah lama berkembang. Meski hanya sebagai tempelan, pun sesungguhnya sudah cukup untuk memberi warna tersendiri.

Dengan demikian, perlu jangan tengah. Perlu goodwill semua pihak untuk mengembangkan dua arus kutub sastra yang akan terus menggeliat. Sebagaimana yang dikerjakan oleh Jung Fondation dan Subdin Kebudayaan Dinas Pendidikan Kota Bandarlampung. Barangkali perlu segera dimulai! n

* Hazwan Iskandar Jaya, sastrawan Yogyakarta

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 2 Januari 2010

Gebyar Lumbok Ranau III: Pengunjung Dimanja Hidangan Ikan-Kopi Luwak

LIWA (Lampost): Gebyar Pesona Lumbok Ranau III Lampung Barat yang digelar Kamis (31-12) berlangsung meriah. Tidak kurang dari 5.000-an pengunjung memadati event tahunan tersebut.

Selain berbagai perlombaan, Pemkab Lampung Barat bekerja sama dengan Masyarakat Peduli Danau Ranau (MPDR) dan Bank Lampung juga melakukan penglepasan bibit ikan nila sebanyak 30 ribu ke Danau Ranau oleh Bupati Lambar Mukhlis Basri.

Pesona Lumbok Ranau yang dikemas dengan paket akhir tahun tersebut menyedot perhatian warga setempat dan masyarakat luar kota yang akan merayakan tahun baru di daerah wisata Danau Ranau dan Kawasan Wisata Terpadu (KWT) Seminung Lumbok Resort yang terletak di Pekon Lombok Kecamatan Sukau.

Berdasar pemantauan Lampung Post, sejak H-3 seluruh kamar Hotel Seminung Lombok di sekitar areal KWT Seminung Lumbok Resort telah habis dipesan.

Berbagai lomba lain, seperti triatlon tradisonal, kapal motor hias, tarik tambang jukung, dan ngeraas atau memanah di danau lepas semakin membuat acara tutup tahun meriah.

Banyaknya pengunjung yang memadati KWT Seminung Lumbok Resot merupakan bukti keberhasilan dari pihak panitia dalam mengolah acara tersebut. Hal itu terlihat dari penyajian acara dan kegiatan yang dilakukan sejak pagi hari hingga malam menyambut Tahun Baru 2010 pengunjung makin bertambah, memadati KWT yang berada di Pekon Lombok tersebut.

Setelah pengunjung disuguhi tari-tarian dan perlombaan yang tergolong cukup unik, pengunjung juga dimanjakan lidahnya dengan acara makan ikan dan suguhan kopi luwak yang cukup terkenal itu. n CK-7/D-1

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 2 Januari 2010