February 6, 2011

Industri Kreatif: Juned Efendi, Menganyam Nasib dengan Bambu

KENINGNYA menggurat galur-galur kerut pertanda tua. Juga di beberapa bagian tubuh lainnya yang mengeriput. Namun, jari-jemari Juned Efendi masih kekar cekatan. Organ pemegang itu terlihat sangat terlatih dengan bilah-bilah bambu lemir yang akan ia ganti bentuk menjadi aneka perkakas rumah tangga.

Ada bakul, tampah, irik, kukusan, dan jenis lainnya yang dihasilkan Juned Efendi. Lelaki 80 tahun warga Dusun Talangkaret, Kampung Lembasung, Way Kanan, itu tak menyerah oleh usia dan kerapuhan tubuh. Ia terus berkarya. Ya, bukan sebagai penjaga karya seni kearifan lokal, tetapi lebih sebagai benteng terakhir untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Rambutnya yang sudah beruban ia cukur pendek. Senyum khasnya untuk setiap tetamu pertanda keramahan. Namun, mesem-ngguyu itu bukan indikator kecukupan ekonominya. Sebab, dalam sebulan, ia hanya mampu membuat peralatan rumah tangga itu sekira 100 unit. Harga jual per potong hanya Rp10 ribu—Rp15 ribu. Padahal, ia juga harus mengeluarkan dana untuk membeli bahan yang tidak sedikit untuk ukuran lelaki sepuh ini.

Di rumahnya yang berukuran sekitar 7 x 6 meter itu, Juned Efendi menganyam bilahan-bilahan bambu untuk dijadikan berbagai bentuk, untuk keperluan rumah tangga. Jika bahan baku yang tersedia mencukupi dan badannya yang mulai renta dalam keadaan sehat, Juned Efendi mampu produksi 100 unit anyaman dalam satu bulan. “Namanya sudah tua, jadi ya kadang sakit. Ini sudah kondisi badan tua. Kalau sedang tidak sehat, yang saya hanya bisa menganyam paling banyak 50 biji,” katanya.

Harga satu tampah hasil produksinya dijual dengan Rp10 ribu per buah, bakul ukuran besar Rp15 ribu, sedangkan yang berukuran kecil nilai jualnya hanya setara dengan harga tampah.

“Ya enggak bisa mahal-mahal, namanya juga dari bambu. Tapi memang masih banyak yang membutuhkan. Sekarang ini bocah-bocah enom (anak-anak muda), tidak ada yang mau menekuni kerjaan seerti ini. Makanya agak langka,” kata dia.

Sesungguhnya Juned juga piawai berkreasi. Ia bisa membuat plafon atau langit-langit ruangan rumah menggunakan bambu yang dibentuk bermotif. Kendati rumit, kata dia, dapat menghasilkan uang yang cukup lumayan. “Kalau untuk plafon, harganya Rp40 ribu dengan ukuran 3 meter kali 1 meter. Jadi ya kita lihat berapa meter yang dibutuhkan untuk plafon itu, tinggal mengalikan saja,” ujar Juned sambil mengisap kreteknya dalam-dalam.

Rumah sederhananya dengan dinding semipermanen, separuh dindingnya terbuat dari bata, sedangkan bagian atas dinding tersebut dari papan. Di tempat itu Juned Efendi terus berkarya. Ditemani istri tercintanya, Parsih (60), yang selalu setia memberikan dukungan.

Sepekan sekali, Juned bersama istrinya menjajakan hasil anyamannya ke pasar-pasar tradisional di Way Kanan. “Ada sebagian yang diambil pedagang ke sini, tapi ada juga yang kami jual langsung ke pasar. Karena enggak mungkin mau nunggu pembeli semua di rumah,” ujarnya.

Hasil karyanya tersebut ternyata mampu menghidupi keempat anak perempuannya yang kini sudah mampu hidup mandiri bersama suami.

“Saya pengen bener mengajarkan kepada anak-anak muda. Karena toh ini juga bisa menghasilkan uang. Kalau memang ada kemampuan mengembangkannya, saya kira akan lebih bagus dan bisa besar karena anyaman bambu ini bisa dibuat berbagai kerajinan. Padahal di lingkungan saya ini saja, banyak anak yang nganggur. Tapi ya itu tadi, mereka enggak mau belajar, malu mungkin,” kata Juned.

Juned berharap pemerintah daerah dapat memberikan dorongan agar usaha seperti ini dapat terus ada. “Kalau ada modalnya memang semua kan lebih baik dan bisa besar. Makanya pemerintah ini harus bisa memperhatikan orang-orang yang usaha kecil seperti saya ini. Karena dengan adanya usaha-usaha seperti ini kan bisa mengurangi pengangguran,” kata dia.

Peraih piagam Inspiring People dari Kelompok Kerja Wartawan (Pokjawan) Way Kanan 2010 itu berpendapat masyarakat yang punya keterampilan cenderung kreatif dan bisa membuka lapangan kerja sendiri. Tetapi hal itu bisa terwujud jika ada perhatian dari pemerintah.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Way Kanan hendaknya dapat bergerak aktif turun ke lapangan mendata keberadaan para perajin. "Saya harapkan keterampilan seperti ini didukung supaya tetap ada. Saya yakin di Way Kanan ini banyak kerajinan seperti ini.” (WARSENO/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 6 Februari 2011

2 comments:

  1. posting alamat mang juned dong admin

    ReplyDelete
  2. posting alamat mang juned dong admin

    ReplyDelete