February 9, 2014

[Komunitas] Menggali Budaya Lampung lewat Komunitas Belajar

Oleh Dian Wahyu Kusuma

Sejak awal 2013 lalu berdiri, komunitas Lampung Belajar sudah membuka berbagai kelas belajar, di antaranya  kelas puisi, cetik, dan sulam usus. 

PEGIAT Lampung Belajar, Dewi Sophy Septeka, mengatakan walau baru satu tahun berdiri, komunitas ini sudah melakukan banyak kegiatan belajar bersama. Kelas yang sudah diselenggarakan, di antaranya menulis puisi oleh Ari Pahala Hutabarat dari Komunitas Berkat Yakin (Kober), teknik sulam usus oleh Aan Ibrahim, desainer, pemilik galeri sulam usus dan pegiat sulam usus di Lampung. 


Kelas tentang fasilitator, khusus untuk pegiat komunitas, tentang kebutuhan orang kebanyakan yang diisi Cak Koer, fasilitator nasional asal Lampung. Kelas lain pernah juga materi sejarah dan memainkan musik cetik Lampung, oleh Bli Wayan, orang yang dianggap menguasai cetik di Lampung.  Kelas berjualan di media kafe online juga pernah diisi Muh. Reza, manajer Cafe Dawils di Jalan Kartini.

Pendiri Lampung Belajar adalah Ade Suryani. Dosen yang kini berdomisili di Jakarta. Alasan pendirian komunitas ini dulu ingin menyatukan berbagai komunitas yang ada di  Lampung agar saling mengenal.  “Reaksi peserta selalu ramai, orang muda yang haus untuk belajar, harus konsisten, dan terus sosialisasi,” kata Dewi, beberapa hari lalu.

Dewi didampingi Teguh Prasetyo untuk mengadakan kegiatan Lampung Belajar ini. Untuk menjalankan materi tiap bulan, broadcast di Twitter. Komunitas ini cuma ada di Lampung. Misinya fokus pada budaya Lampung, tapi juga ada beberapa tema lainnya.

Kegiatan belajar dilakukan pada minggu ketiga tiap bulannya di Cafe Dawiels. Peserta yang hadir cukup ramai, berkisar 30 hingga 50 orang dari kalangan mahasiswa, pegawai swasta, dan ibu rumah tangga. “Biasanya pesertanya beda-beda, kalau lagi butuh kelas yang ini ya datang, besoknya mungkin beda lagi yang datang karena tema berbeda,” ujar Dewi.

Menurut dia, banyak orang hebat di Lampung ini yang perlu ditranformasikan keilmuan dan keterampilannya kepada masyarakat luas. Komunitas ini komitmen memprioritaskan para pembicara dari Lampung. “Pada pemateri adalah orang-orang yang berkompeten di bidangnya dan pastinya berasal dari Lampung, banyak orang-orang hebat di Lampung ini.”

Lewat Lampung Belajar para peserta bisa langsung praktik berbagai keilmuan yang disampaikan di sini, dan semua tidak dipungut biaya sama sekali. Dewi dan Teguh menyosialisasikan kegiatan-kegiatan mereka lewat Facebook dan Twitter @lampungbelajar.

 "Semoga bisa berjalan terus dan konsisten untuk terus belajar apa pun lewat komunitas ini," kata alumnus  Jurusan Hukum Universitas Pancasila Jakarta ini.

Lewat komunitas ini, Dewi dan Teguh mengaku mendapat banyak teman baru dan ilmu baru.  "Di kota besar seperti Jakarta dan Bandung sudah ada festival media sosial, kami berharap ke depan Lampung juga bisa ikutan jadi enggak kaget kalo ada event, enggak shock culture,” ujar Dewi. (M2)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 9 Februari 2014

No comments:

Post a Comment