March 15, 2014

Memimpikan FIB di PTN Lampung

Oleh Dina Amalia Susamto


TEMPUS mutantur et nos mutamur in illid ialah kata pepatah Latin yang berarti waktu berubah dan kita pun berubah di dalamnya. Kita di sini adalah subjek pencipta kebudayaan sekaligus pengguna kebudayaan. Kita adalah masyarakat yang bergerak seperti apa yang dikatakan ahli-ahli budaya bahwa kebudayaan sebagai hasil budi (akal) dan usaha manusia.

Koentjaraningrat (2009) menjelaskan tentang tujuh unsur-unsur kebudayaan secara universal yaitu bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencarian hidup, religi, dan kesenian. Raymond William dalam Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto (2005) melihat budaya atau culture dengan huruf c sebagai suatu aktivitas keseharian manusia, lebih bersifat demokratis, milik siapa pun, dan tidak ada satu kebudayaan yang lebih adiluhung dari kebudayaan lainnya.


Huruf c pada kata culture tersebut suatu istilah yang menghancurkan pemahaman tentang  kebudayaan yang adiluhung hanya berasal dari dari kalangan elite seperti kaum bangsawan, elite adat. Kata culture berasal dari cult yang artinya cultivation (kultivasi), sesuatu yang ditanamkan dari luar ke dalam diri manusia yang pada masa lalu dengan konteks yang merujuk pada kehidupan masyarakat sehari-hari dalam pemeliharaan ternak, pertanian, upacara religius, berbahasa, berkesenian, dan lain-lain yang bersifat kebiasaan sehari-hari.

Kita pernah hidup dalam konteks masyarakat seperti yang diriwayatkan William. Lampung  pada masa sejak kolonial hingga Orde Baru merupakan wilayah penerima migrasi penduduk untuk membuka dan mengolah lahan-lahan baru bagi pertanian/peternakan dan perkebunan. Pembangunan-pembangunan di Lampung yang kita lihat selama ini mengikuti kebutuhan-kebutuhan tersebut. PTN di Lampung juga didirikan untuk mengisi tenaga kerja di bidang-bidang tersebut.

Melihat sekelumit sejarah Lembaga pendidikan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Lampung Unila (Universitas Lampung) berdasarkan laman http://www.unila.ac.id/sejarah-universitas-lampung, yang berdiri tahun 1965 dengan pertama kali ada fakultas ekonomi dan hukum menunjukkan bahwa PTN ini sudah lumayan mapan.

Tahun-tahun berikutnya, 1967, muncul cikal bakal fakultas pertanian dan diresmikan 1973 untuk menyiapkan sumber daya manusia yang akan mengelola bidang-bidang pembangunan di atas termasuk tidak berselang berapa lama berdiri fakultas teknik dan fakultas keguruan. Unila terakhir tahun 2011 mendirikan fakultas kedokteran, sehingga jumlah fakultas sepuluh dari tahun 1965—2014.

Hampir setengah abad usia Unila, masyarakat Lampung juga terus berubah. Kita terus beranjak untuk memenuhi kebutuhan lain. Kita memikirkan bahasa, kesenian, sejarah peradaban kita sendiri untuk memahami identitas kita, dari mana berasal, apa yang sudah kita lakukan, dan apa yang akan kita lakukan ke depan. Kita sudah tiba untuk memikirkan hakikat kemanusiaan kita dari kebudayaan yang sudah diciptakan dan akan terus diciptakan.

Jika pada 1995 saya yang terlahir hingga menyelesaikan SMA di Metro ingin melanjutkan pendidikan tinggi di bidang sastra (murni), lalu setelah melihat buku panduan ujian masuk PTN hampir menangis, ternyata tidak ada fakultas sastra di Unila. Terpaksa saya mendaftar di daerah lain. Mungkin pengalaman kekecewaan tersebut juga dialami oleh orang lain yang merasa berminat pada bidang sastra tetapi PTN di Lampung tidak menyediakan, sementara tidak semua orang punya kesempatan untuk pergi mengejar studi peminatannya tersebut di universitas lain di luar Lampung.

Orang-orang tersebut masuk Unila dengan pilihan kedua dan ketiga atau bisa jadi bahkan tidak sesuai peminatan, lalu membelokkan cita-citanya dengan belajar sastra secara autodidak. Sayangnya, autodidak hanya diakui masyarakat, tetapi tidak di lingkungan akademik, karena Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ketat menerapkan aturan linearitas dalam studi dan keahlian.

Kini saya belum mendengar kabar ada PTN di Lampung yang bisa menampung keinginan calon mahasiswa yang ingin kuliah di sastra atau arkeologi dan ilmu humaniora lain. Padahal, potensi perkembangan kebudayaan di Lampung sangat besar. Lampung memiliki sastrawan yang produktif di bidang penulisan karya sastra modern dan pertunjukan-pertunjukan budaya seperti teater.

Namun, belum ada lulusan sarjana dari sana yang mengkaji secara ilmiah akademik karya-karya sastrawan Lampung dan karya-karya pertunjukannya. Pendekatan kritik sastra (murni) dan kritik seni pertunjukan masih sangat sepi. Kritikus sastra lahir secara autodidak dari kalangan sastrawannya sendiri. Dunia sastrawan yang ramai di Lampung dan dunia kritik sastra akademik di Lampung berbanding 2:0.

Maraknya perkembangan sastra modern itu juga masih sangat timpang dengan perkembangan bahasa dan sastra daerah Lampung. Bahasa dan sastra daerah diisukan sangat bisa terancam  punah jika tidak ada usaha penggalian dan perkembangannya. Saat ini terlihat mulai digerakkan kembali peminatan terhadap penulisan sastra dalam bahasa daerah dengan adanya dua sastrawan Lampung memperoleh penghargaan Rancage, pementasan teater berbahasa daerah, tetapi lagi-lagi hanya segelintir tokoh-tokoh sastra yang melakukannya. Pembelajaran bahasa daerah Lampung yang pernah dipakarsai oleh Fakultas Keguruan Unila juga bernasib sedih karena harus mengalami penutupan.

Karya-karya sastra klasik dari manuskrip (naskah kuno) Lampung yang berhuruf ka-ga-nga mudah-mudahan masih bertebaran dan disimpan masyarakat pemiliknya (sehingga belum punah) selain yang sudah disimpan di Museum Lampung dan institusi lain di luar Lampung.
Namun, jika karya-karya klasik sastra Lampung tersebut tidak segera digali, dipelajari, diteliti, suatu saat akan hilang sebelum sarjana–sarjana sastra daerah Lampung sempat memahaminya dan menyosialisasikannya pada masyarakat.

Selain bidang sastra, Lampung kaya akan situs-situs arkeologi prasejarah dan sejarah.  Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Balai Arkeologi Jawa Barat memegang informasi situs-situs purbakala di Lampung dari zaman megalitikum (prasejarah) hingga masa sejarah.
Sejarawan luar Lampung di tingkat nasional maupun luar negerilah yang dari masa orientalis hingga masa kini yang mendokumentasikan sejarah Lampung periode prakolonial hingga Orde Baru. 

Kemudian, apakah potensi kekayaan budaya tersebut tidak juga menggerakkan PTN di Lampung untuk membuat suatu wadah di bidang keilmuan yang melahirkan sarjana-sarjana untuk mengelola bidang-bidang tersebut? Unila adalah institusi pendidikan yang lahir dari rahim kebudayaan. Unila hasil dari pemikiran manusia berbudaya dalam termin budaya yang diperbincangkan di atas. Bagaimana Unila mengucapkan terima kasih pada kebudayaan?

Mendirikan fakultas ilmu budaya memang membutuhkan pendekatan akademik. Selain persiapan-persiapan manajemen seperti sumber daya manusia, keuangan, pengadaan program studi maupun departemen, struktur organisasi dan infrastruktur yang menunjang perkuliahan. Kurikulum yang dipersiapkan berbasis kompetensi dengan acuan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang ada berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 2012.

KKNI tersebut terdiri dari level 1—9 yang menjadi acuan untuk pembangunan sumber daya manusia dan tenaga kerja Indonesia. Dari level tujuh sarjana strata satu yang dihasilkan,  pendirian fakultas ilmu budaya dapat membantu upaya pembangunan budaya di Lampung. Para sarjana harus dapat menganalisis persoalan-persoalan budaya di dalam masyarakat baik di Lampung maupun masyarakat Indonesia.

Tentu saja, lulusan sarjana fakultas ilmu budaya dapat memunculkan dan menyumbangkan potensi budaya lokal ke khazanah nasional dan internasional. Perkembangan budaya sekali lagi bukan hanya masalah kesenian, melainkan masalah-masalah keseharian seperti cara pandang masyarakat, kebiasaan termasuk gaya hidup di dalamnya (berdirinya mal-mal, masalah produksi, konsumsi, media, konflik antaretnis, ritual keagamaan, tontonan televisi dan bioskop, masalah-masalah transnasional seperti terorisme dan narkoba, lingkungan hidup, dan seterusnya hingga persoalan politik uang).

Lulusan sarjana FIB dapat mengisi ketenagakerjaan di masyarakat dari lembaga-lembaga milik pemerintah dan non-pemerintah. Ahmad Syafiq dari Carier Development Centre (CDC) Universitas Indonesia mengatakan penyaluran tenaga kerja sarjana ilmu budaya terbukti paling fleksibel menempati ketenagakerjaan di berbagai bidang.

Dari studi pelacak lulusan (tracer study), lulusan FIB dapat memberi warna di berbagai bidang baik di institusi pemerintahan yang membutuhkan sarjana ilmu budaya, lembaga swadaya masyarakat, maupun pihak industri. Sarjana sastra asing mempunyai keahlian bahasa yang dari studi pelacakan menempati posisi penerjemah. Di Sumatera bahkan di Indonesia yang pernah menjadi koloni Belanda dengan begitu banyak arsip berbahasa Belanda, masalah-masalah yang menyangkut hukum terutama daerah-daerah yang pernah dijadikan lahan perkebunan, hanya sedikit sekali orang masa sekarang yang bisa bahasa Belanda. Jurusan sastra dan bahasa Belanda hanya ada satu di PTN Indonesia, yaitu FIB Universitas Indonesia.

Lulusan FIB menurut studi pelacakan juga menempati bidang-bidang industri kreatif seperti penerbitan, pariwisata, media massa, dan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang sosial, lingkungan, dan budaya. Sekarang, apa yang masih ditunggu oleh PTN di Lampung?
Pemerintah daerah sebagai pemangku kepentingan utama memang berkewajiban membuatkan  kebijakan mengenai kurikulum muatan lokal dalam upaya pendirian FIB, selain mendukung  lapangan kerja. Kebijakan yang mempermudah perkembangan industri kreatif sudah saatnya dilakukan selain industri-industri yang bergerak di pengolahan sumber daya alam.
Waktu berubah, masyarakat Lampung berubah. Kota-kota mulai tumbuh di antara kantong-kantong perdesaan. Secara geobudaya, fakultas ilmu budaya dilahirkan untuk menjadi rumah bagi perkembangan keduanya. n

Dina Amalia Susamto, Staf Pengkajian Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 15 Maret 2014


No comments:

Post a Comment