March 16, 2014

Selamat Datang Tetimbai Anak Dalom (2-Habis)

Oleh Iwan Nurdaya-Djafar

SEBAGAI hasil ikutan dari kembalinya Kamus Van der Tuuk itu, kiranya TAD dapat pula diterjemahkan dan diterbitkan secara lengkap. Adapun TDR masih terdapat di Lampung dan sudah diterbitkan sebagai buku oleh Dewan Kesenian Lampung pada tahun 1996 melalui terjemahan Sutan Ratu Gumanti, Razi Arfin, dan Krisna Sempurnadjaja, serta disunting oleh Iwan Nurdaya-Djafar. Buku ini diterbitkan berdasarkan transliterasi dari manuskrip dalam had (huruf) Lampung berbahasa Lampung berbaur dengan bahasa Indonesia yang kurang teratur dan bertitimangsa 1905.

Sinopsis TDR adalah sebagai berikut. Dalam semua versi, Anak Dalom, seorang pemuda yang dilahirkan dari serumpun bambu dan hidup di istana Bengkulu, berlayar ke Patani di Pantai Timur dari Semenanjung Malaya (atau, dalam beberapa teks, ke Siam) dan dia melarikan pengantin pilihannya.

Para putri ini telah bertunangan dengan pangeran-pangeran dari Aceh dan Malaka. Sebuah armada dari Patani dan sekutu-sekutunya menyerang Bengkulu dan menghancurkannya. Keturunan terakhir dari dinasti lama mengundurkan diri ke pegunungan Gunung Bungkuk di pedalaman. Anak Dalom tidak dibunuh dan dibawa ke Patani sebagai tawanan.

Di sana dia mengawini putri musuhnya. Dengan bantuan putranya yang lahir dari perkawinan ini, dia melakukan balas dendam pada Patani. Bersama-sama dengan istri dan putranya, dia kembali ke tanah asal surgawinya.

Inilah versi yang sangat lengkap. Cinta Anak Dalom terhadap dua putri Patani adalah perzinahan atau kendak dengan saudaranya (incestuous), karena mereka adalah saudara-saudara perempuannya di surga sebelum dia berinkarnasi di Bengkulu dan kedua putri itu di Patani. Oleh karena itu, petualangannya hanya bisa berakhir dalam bencana.

Versi tetimbai yang diterbitkan Helfrich mempunyai akhir bahagia (happy ending). Anak Dalom hidup dalam kesenangan di Bengkulu bersama dua istrinya. Tiada dikatakan mengenai asal surgawi mereka. Sebuah versi Malaya Tengah dalam dialek Serawai, juga diterbitkan oleh Helfrich, juga berbeda.

Dinasti Bengkulu diturunkan dari Kerajaan Demak, Jawa. Dinasti itu langsung menjadi suatu akhir sebagai orang Bengkulu yang telah dihancurkan oleh orang Aceh karena Nantu Kesumau, seorang saudara lelaki angkat yang lebih muda dari Anak Dalom, telah menculik seorang putri Aceh.

Di daerah Lampung manuskrip dari kedua epik itu dipelihara sebagai pusaka-pusaka yang amat berharga. Keduanya ditulis dalam tulisan Lampung (had Lappung) dan beberapa salinan mempunyai ilustrasi, kebanyakan kapal dan bangunan. Salinan dari Anak Dalom telah diperoleh oleh naturalis H.O. Forbes dalam tahun 1880 selama perjalanannya di Sumatera Selatan.

Dia membaca sebagian besar dari teks bersama seorang informan Lampung dan menerbitkan salah satu dari ilustrasi-ilustrasi dalam buku perjalanannya. Salinan ini kini berada di Leiden juga. Sebuah versi dari epik ini diterbitkan dalam buku Helfrich (1891) dan ceritanya telah diadaptasi untuk panggung pada 1935.

Berikut ini adalah petikan dari salah satu versi TAD yaitu Anak Dalom Bandar Bengkulu yang merupakan cerita yang sangat masyhur di Sumatera Selatan, termasuk Lampung. Anak Dalom ke luar dari dari dalam buluh seruas, betapa jadi sakti, melarikan putri Rambut Panjang dan Putri Pandan ke Negeri Patani, Thailand (Siam), berperang hebat dengan orang Patani dan orang Aceh.

Kutipan di bawah ini bersubjudul Anak Dalom Bertapa dipetik dari koleksi O.L. Helfrich dalam Lampongsche Teksten, Verh. Bat. Gen XLV, 4, m, halaman 78—79 dan dimasukkan oleh P. Voorhoeve ke dalam buku Puisi Lama susunan Sutan Takdir Alisjahbana yang diterbitkan ulang oleh penerbit Dian Rakyat, cetakan ke-14, 2009, hlm 103-104:

Lamun kupantun kepada pantun
Anak Dalom Bandar Bengkulu
Lagi berkincah1 berkiring-kiring2
Main harabuk3 di bawah tangga
Segala main dimainkan
Main senjata dengan waja
Main sepak setiap hari.
Sedang lama dengan lamanya
Munggah4 bujang Ki Anak Dalom
Sedang ku5 ramai Bandar Bengkulu
Radu kebilang di unggal ruang6
Maka merintah7 Ki8 Anak Dalom
Berkata dengan Raja Muda
Aku meminta empat orang
Bakal kawanku ke Gunung Bungkuk
Pertapaan.
Maka dijawab Raja Muda
Di dalam negeri Bandar Bengkulu
Maka dapat empat orang
Sedang sebangsa dengan dia.
Maka berkata Anak Dalom
Di mana adik keempatnya.
Marilah kita berjalan kini
Lalu berjalan Anak Dalom
Ia dituruti keempat orang
Satu berjuluk9 Ki Anak Dalom
Yang kedua si Manuk Mincur
Yang ketiga si Burung Dinang
Yang keempat si Lemang Batu
Yang kelima si Param Getas.
Maka berjalan kelima orang seperadingan10
Ke Gunung Bungkuk pertapaan
Gantung tigal11 di beringin sungsang
Makan tidak minum pun tidak
Maka sampai satu jumahat
Tutup juga satu bulan
Orang lima seperadingan
Tarak tapa di Gunung Bungkuk
Nasi pun tidak barang sebitah12
Air tidak meski secangkir
Maka ia genap tujuh bulan
Maka ia datang Dewa Tuha
Putih kepala mendara13 bulan
Aduhlah anakku Anak Dalom
Kembali pulang kamu anakku
Apa maksud kukabulkan
Apa cintamu kuperkenankan
Menjawab Ki Anak Dalom
Di mana adik si Burung Dinang
Yang kedua si Manuk Mincur
Yang ketiga si Lemang Batu
Yang keempat si Param Getas
Marilah kita balik pulang ke Bengkulu.


Terhadap kata-kata arkhaik pada petikan di atas diberikan catatan kaki sebagai berikut. 1: giring-giring pada cakping anak-anak; 2: giring-giring; 3: rabuk; 4: naik; 5: “ku” tidak berarti, hanya untuk menyempurnakan irama; 6: telah masyhur di tiap negeri; radu = sudah; 7: bertitah; bertitah; 8: sang; 9: gelar; 10: beradik; 11: kampret; 12: sebutir; 13: lingkung.

Puisi semacam ini dalam bahasa Banjar bernama taki. Bentuk puisi ini, bila dicermati, juga muncul dalam Warahan Radin Jambat: Puisi Lampung Klasik (Dewan Kesenian Lampung, 1995) terjemahan Hilman Hadikusuma dan suntingan Iwan Nurdaya-Djafar.

STA mengelompokkan TAD dalam bentuk bahasa berirama. Secara harfiah, tetimbai dalam bahasa Lampung dialek A logat Pemanggilan berarti ‘dahulu kala,’ ‘zaman dulu,’ ‘kuno’.  Dalam bahasa Lampung dialek O logat Tulangbawang disebut tumbai atau jebei. Sebagai istilah sastra, tetimbai adalah sebuah nyanyian epik.

Tetimbai memiliki tiga ciri: (1) menggunakan bahasa literer yang khusus, (2) bentuk poetikanya terdiri atas baris-baris pendek tanpa rima, masing-masing memiliki suatu aturan empat suku kata yang ditekan, dan (3) bergaya kaleidoskopik. Istilah tetimbai memiliki kesejajaran dengan andai-andai di Malaya Tengah dan andeui-andeui di Rejang. n

Iwan Nurdaya-Djafar, Budayawan

Sumber: Lampung Post, Minggu, 16 Maret 2014






No comments:

Post a Comment