November 25, 2012

Mamak Kenut, Refleksi Ketulusan dari Lokal

Oleh Selvi Diana Meilinda 


1353818133343707317
“lagi api guwaimu?”

“lagi ngebaca Mamak Kenut”

“api? Mamak Inut? Na, geguwai nunggu langkut da ano.”[i]

Dari warahan Among Ajjong (Nenek Kakek), sejak kecil saya sangat familiar dengan sosok imajiner bernama Mamak Inut yang mungkin sampai sekarang masih saja cepupput nunggu langkut (duduk melamun menunggu kerak nasi), sebuah istilah untuk hal yang tidak produktif.


Lalu zaman ini, saya mengenal Mamak Kenut dari warahan Udo Z. Karzi. Entahlah, Mamak Inut dan Mamak Kenut ini mungkin bersaudara kandung, atau anak kembar yang sengaja di pisahkan karena tabiatnya sangat berbeda. Mamak Inut merupakan personifikasi untuk orang yang kurang produktif, mblelo, tidak banyak pikiran. Sementara Mamak Kenut adalah pemuda yang resah dengan kondisi lokal dan nasional terutama semasa 2002-2004.

Saya mencoba mengingat sedang apa saya ketika mak dawah mak debingi Mamak Kenut dan teman-temannya hendak segegolan, suka kredok, menjadi politisi banjir, terjangkit virus A2DC, kalut membuat kartu kuning, sampai Temon do Aklamasi. Ternyata kala itu, saya tengah dipersimpangan memilih jurusan IPA atau IPS serta belajar di bawah tekanan karena aturan lulus SMA harus dengan nilai minimal 4,01 untuk satu mata pelajaran wajib. Tentu tidak ada waktu saya memahami hiruk pikuk politik, selain karena termasuk kelinci percobaan kebijakan caibucai, saya juga sanak nambi[ii]. Maka dari itu, membaca Mamak Kenut ini membuat saya tidak kehilangan puzzle situasi kenegaraan dan kemasyarakatan kala itu. Jadi, izinkan saya mengategorikan 101 patahan tulisan ini sebagai buku sejarah sosial politik yang renyah tanpa harus mengernyitkan dahi tatkala membacanya di perpustakaan.

Seratus satu tulisan yang tersaji memiliki kekhasan sendiri, renyah mengkerangkeng wacana lokal yang tidak lokalistik. Spontanitas Mamak Kenut dan teman-teman sebagai kaum muda dalam dominasi ruang budaya mengejawantahkan sikap permisif serta berusaha melepaskan diri dari ikatan-ikatan primordial yang dienkulturasikan dan disosialisasikan dalam berbagai wacana sosial politik. Hal ini seperti hendak membawa pesan bahwa pemuda (khususnya di Lampung) tidak lagi sebagai konsumen terhadap nilai-nilai yang dirumuskan oleh generasi tua dalam suatu setting sosial, namun mulai ikut mengendalikan nilai dan menegosiasikan praktik-praktik sosial politik, sebagaimana yang telah diramalkan oleh Griffin dalam representation of youth, 19 tahun silam.

Zaman ini, ketika masih tercecap warisan demokrasi zaman Victoria abad ke-18 dimana novelis, jurnalis, dan politisi berjamaah dalam persekongkolan kemunafikan politik melalui karya-karya linguistik, Mamak Kenut hadir membawa ilustrasi ketulusan, anti kemunafikan. Rasanya kita tak perlu jauh-jauh mencari ketulusan politik dalam bentuk tulisan sampai menghadiri sebuah pertemuan politik untuk menyimak pidato tentang seorang bocah yang menggadaikan kehidupan pribadinya hanya untuk menulis buku melawan Hitler, dalam periode sebelum meletusnya permusuhan antara Inggris dan Jerman seperti setting novel politik Coming Up for Air dari Goerge Orwell. Ketulusan politik itu sudah ada pada pena jurnalis lokal.

Adalah Udo[iii] Z Karzi nama pena dari Zulkarnain Zubairi, generasi muda Lampung penerima hadiah sastra rancage (2008) yang menghidupkan celotehan Mamak Kenut dengan istilah-istilah Lampung secara kental , sehingga saya yang tengah di tanah Jawa Dwipa seketika itu juga lompat sampai ke tanah sai bumi rua jurai, melarung rindu.

Ya, interaksi tokoh yang dimunculkan terasa sungguh nyata. Tokokh mak nyusuk[iv], begitulah orang Lampung, gemar sekali bicara politik dengan polosnya. Bahkan jika ada 5 topik pembicaraan sambil menyesap kopi, 3 diantaranya pasti berceloteh politik, 2 lainnya membahas harga padi, lada, cengkih selebihnya gegerohan kicik angon.[v]

Selain itu, jarang bagi saya menemukan pengamat, jurnalis, kritikus, kolumnis, yang mendedah wacana publik menggunakan istilah Lampung yang segar, mungkin jika banyak yang mengikuti jejak Udo, maka tidak akan ada lagi generasi muda Lampung yang malu berbahasa Lampung bahkan bahasa Lampung akan terbebas dari kategori bahasa yang hampir punah. Jangan sampai bahasa Lampung tekacai, Bahasa Indonesia mak kepegung.[vi] Saya bukan bermaksud hendak membangkitkan etnosentrisme atau sukuisme tapi mungkin benar kiranya Kluckhohn dan Strodtbeck dalam variation in value orientation yang menyatakan bahwa variasi budaya mencerminkan bagaimana masyarakat merespon permasalahan atau isu umum sepanjang waktu, maka saya mengapresiasi diksi dan gaya Udo dalam menulis.

Sampai akhirnya, saya harus mengakui bahwa membaca buku ini membuat batin bergetar karena lidah-lidah api Mamak Kenut dan teman-temannya membakar langit-langit emosi. Selamat untuk para senior, Udo Z Karzi selaku penulis beserta banyak tangan editor dibalik layar seperti Bang Juwendra Asdiansyah, Bang Adian Saputra, Kak Ridwan Hardiansyah, Bang Oki Hajiansyah, Kak Tri Purna Jaya dan teman-teman di Indepth serta Lampung Post. Kiranya, 226 halaman dalam buku berjudul Mamak Kenut Orang Lampung Punya Celoteh ini adalah salah satu wujud karya terbaik para Munsyi Lampung. Proficiat!

Tabik

Yogyakarta, 25 November 2012

[i] “kamu sedang apa?”
“sedang membaca Mamak Kenut”
“apa? Mamak Inut? Oh, seraya nunggu kerak dong itu”
[ii] Anak kemarin sore
[iii] Udo: sapaan untuk anak laki-laki tertua dari orang tua yang juga anak tertua dalam keluarga Lampung khususnya dialek api.
[iv] Sama persis.
[v] Spontanitas melucu dengan fantasi yang berlebihan agar terasa sangat lucu.
[vi] Tak ada satu bahasa pun yang dikuasai


Sumber: Kompasiana, Minggu, 25 November 2012

No comments:

Post a Comment