October 19, 2008

Traveling: Rasakan Getar Kedut Ikan Teluk Kiluan

INI adalah event Kiluan Fishing Week (KFW) yang ketiga kalinya yang digelar di teluk eksotis yang terletak di Pekon Kiluannegeri, Kelumbayan, Tanggamus. Tetapi pengalaman fantastisnya selalu menjadi seperti baru untuk pertama kali. Seru!

Melempar mata kail yang telah diisi umpan di belantara air Teluk Kiluan adalah gereget pertama yang ingin segera dilakukan saat berada di tengah arena. Sebab, kejutan-kejutan mendebarkan akan menjadi hari-hari paling menyenangkan selama dalam petualangan.

Kail sudah dilempar. Umpan tenggelam seolah mencari pemangsa terbesar yang ingin diajak bergabung bersama tuannya di geladak kapal. Cukup lama memang. Memancing memang butuh kesabaran dan penghayatan. Mungkin, ini yang membuat setiap kejutan yang berkedut di tangan selalu menjadi spektakuler. Sebab, di tengah penantian yang sunyi, tiba-tiba harapan itu muncul.

Ya, tiba-tiba saya merasakan sebuah pengalaman pertama yang fantastis manakala dengan setengah mati harus menarik joran dengan perlawanan sengit ikan sejenis giant treavally atau Simba, seukuran anak bayi.

Gila!. Ini teluk yang benar-benar menyajikan petualangan memancing yang benar-benar menguras tenaga. Besarnya potensi perikanan di teluk yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia ini seperti pelepas dahaga buat para mancing mania.

Selama tiga hari pada Agustus lalu, berada di Teluk Kiluan, para mancing mania memang langsung dihadapkan dengan cerita-cerita para nelayan setempat tentang ikan blue marlin atau layaran seberat 70 kg yang tidak akan pernah lelah menguras tenaga para pemancing.

"Rasakan sendiri bagaimana kuatnya perlawanan ikan-ikan di sini," ujar Mang Lihin. Dia hendak menggugah penasaran para pemancing yang sudah tidak sabar melempar joran ke tengah laut.

Hari pertama tiba di Teluk Kiluan, Panitia dari Yayasan Ekowisata Cikal menyajikan berbagai macam persembahan, mulai dari tarian Rudhat atau tarian selamat datang kepada para peserta KFW.

Tarian ini murni berasal dari penduduk setempat yang didominasi suku Lampung, Bali, Sulawesi, dan Sunda. Rudhat merupakan tari yang diciptakan dengan mengacu pada ajaran-ajaran Islam. Ini terlihat dari busana tari dan gerakan serta ucapan para penari yang lebih menonjolkan pesan-pesan dan keagungan Tuhan. Salah satunya selawat Nabi Muhammad saw.

Suguhan tidak hanya berhenti pada satu kesenian saja. Pada malam harinya, lagi-lagi Yayasan Ekowisata Cikal menyuguhkan film-film bertema lingkungan untuk mengisi pesta rakyat yang diselingi tari-tarian dari Bali dan Sunda.

Misi Cikal ini sebenarnya bisa dianggap mulia. Dalam event ini mereka menyisipkan betapa pentingnya kelestarian lingkungan bagi kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat Teluk Kiluan.

Cikal adalah yayasan yang pertama kali menyuguhkan konsep pengembangan ekowisata di Teluk Kiluan. Bahkan, bisa jadi yang pertama di Lampung. Dari sekian banyak objek wisata konsepsional yang menjemukan, ekowisata yang ditawarkan Cikal di Teluk Kiluan berupaya mengajak pengunjung di teluk ini untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat. Mulai dari tinggal bersama di rumah penduduk sampai mengajak wisatawan ikut peduli terhadap lingkungan. Bahkan termasuk hal yang kecil sekalipun, seperti tidak membuang sampah sembarangan. Bandingkan dengan wisata lain yang cenderung menjadi tempat mesum, pengelola yang hanya berorientasi pada tiket masuk, dan segala macam yang cenderung menguras habis kocek pengunjung. Sedangkan pengunjung tidak memperoleh manfaat kecuali melihat objek wisata dan pulang tanpa ada "bekas".

Hari kedua, peserta sudah tidak sabar untuk memancing. Sejak pagi mereka sudah mempersiapkan perlengkapan memancing, termasuk panitia yang telah menyiapkan 15 perahu ketinting (perahu khas Teluk Kiluan). Peserta dari Gelora Fishing Club tidak satu perahu, mereka sudah menyiapkan kapal khusus. Ini adalah keikutsertaan Gelora Fishing Club yang pertama kali. Mereka tergiur dengan cerita-cerita tentang ikan di Teluk Kiluan yang terkenal "ganas" dengan pancing.

Karena pelaksanaan KFW ini bertepatan dengan perayaan kemerdekaan Indonesia, panitia yang bekerja sama dengan Anemon Diving Club dari Unila melakukan "penghormatan" kepada bangsa dengan cara yang tidak lazim. Mereka mengibarkan bendera merah putih di dasar laut Teluk Kiluan tepat pukul 10.00 WIB. Pada tahun 1945 lampau, pukul 10.00 merupakan detik-detik Soekarno-Hatta membacakan teks proklamasi.

Perlombaan memancing ini seolah-olah menjadi ajang pertarungan antara pemancing profesional dengan nelayan setempat. Bayangkan pemancing profesional yang dilengkapi dengan alat pancing yang serba modern dengan nelayan yang hanya mengandalkan alat pancing tradisional.

Spot memancing pun dibagi. Umumnya dominasi lokasi pemancing berada tidak jauh dari Teluk Kiluan. Bahkan masih beberapa mil jauhnya dari Samudera Hindia.

Sekitar pukul 13.00 siang, Saiman, nelayan setempat tiba-tiba berteriak dari atas ketinting. Badannya tertarik pancing, seperti hendak jatuh ke laut. Raut wajahnya juga mulai berubah serius. Peserta lain pun terhenyak melihat Saiman yang mulai berkonsentrasi ke pancingnya.

Dua puluh menit lebih Saiman bergelut dengan pancingnya. Ia seperti mulai kewalahan menarik pancingnya yang bergerak kian kemari oleh ikan lemadang (dolphin head) seberat 10 kilogram lebih. Peluhnya mulai bercucuran. Tapi, semakin dekat senar pancing, Saiman semakin bersemangat. Ikan sebesar anak usia dua tahun itu meloncat kuat dari dasar laut.

Tak berapa lama, lagi-lagi nelayan setempat yang umpannya disantap ikan lemadang seberat 12 kilogram lebih. Tetapi Mang Egod, pemegang joran pancing itu, tetap santai. Ini wajar, karena umumnya nelayan di sana adalah nelayan pancing yang terbiasa menarik ikan dengan berat di atas 10 kilo, bahkan lebih.

Sore harinya, Mang Egod dinyatakan sebagai pemenang pertama. Ikan lemadang seberat 12 kilogram menjadi alasannya. Selanjutnya, Abraham, juga warga Teluk Kiluan, menyusul di peringkat kedua dengan ikan lemadang seberat 11 kilogram. Dan Saiman di urutan ketiga yang juga berhasil menaklukan lemadang seberat 10 kilogram.

Sementara itu, pemancing dari luar Teluk Kiluan tidak berhasil menyaingi warga setempat. Meskipun demikian, mereka mengaku takjub dengan besarnya potensi perikanan di Teluk Kiluan.

"Saya berharap acara ini dapat dikelola lebih baik lagi. Karena, potensi untuk wisata memancingnya dibandingkan daerah lain jauh lebih baik. Bahkan sangat layak dijadikan spot memancing di Lampung," kata Andre dari Gelora Fishing Club. n MEZA SWASTIKA/M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 19 Oktober 2008

2 comments:

  1. Info:
    Lomba Mancing di Laut THE SECOND BUPATI TABANAN CUP OCEAN FISHING TOURNAMENT 2008”
    Guna meningkatkan motisivasi masyarakat pesisir khususnya kalangan generasi muda dalam rangka memanfaatkan laut sebagai sumber pendapatan, melalui kegiatan penangkapan ikan dan wisata bahari memancing, maka beberapa upaya telah dilakukan di Kabupaten Tabanan diantaranya lomba memancing di laut yang pelaksanaannya dimulai tahun 2007, melalui Kegiatan ” BUPATI TABANAN CUP TRADISONAL DEEP OCEAN FISHING TURNAMENT dan pada tahun 2008 dan sekaligus dalam rangka memperingati hari Hari Nusantara ke IX kegiatan Lomba Memancing akan kembali diadakan dengan kegiatan ” THE SECOND BUPATI TABANAN CUP OCEAN FISHING TOURNAMENT 2008 ”. Kegiatan ini diharapkan akan menjadi Tournament Memancing di Kabupaten Tabanan yang bersifat tetap setiap tahun.

    Lomba mancing ini bertujuan :
    1. Menggalang kebersamaan di antara para pemancing sehinga bersama-sama
    memiliki satu visi yang memajukan olahraga mancing di Kabupaten Tabanan
    2 Mempromosikan potensi kelautan dan perikanan di Kabupaten Tabanan
    Serta sebagai ajang penyaluran hobi mancing bagi masyarakat Bali khususnya Kabupaten Tabanan.
    3 Menambah wahana pariwisata bahari pada umumnya dan wisata mancing khususnya di Tabanan serta untuk meningkatkan jumlah wisatawan dan waktu kunjungan
    4 Membantu meningkatkan harkat hidup para nelayan dengan melibatkan mereka dalam industri wisata mancing
    5 Menyebarluaskan kesadaran untuk mencintai laut dengan menjaga serta mempertahankan kelestarian laut.

    PELAKSANAAN KEGIATAN

    Lomba mancing ini diberi nama :
    ” THE SECOND BUPATI TABANAN CUP OCEAN FISHING TOURNAMENT 2008”
    Dengan memperlombakan teknik mancing secara bebas ( trolling dan deep fishing) sesuai dengan peraturan memancing dari panitia.)

    Lokasi kegiatan
    Kegiatan lomba mancing akan dilaksanakan di laut selatan perairan Tabanan dengan fishing ground 4 mill dari garis pantai

    Waktu Pelaksanaan
    Hari//tanggal : Minggu 23 Nopember 2008
    Tempat : Pantai Yehgangga ,Desa Sudimara, Kec Tabanan
    Waktu : Jam 07.00 Wita sampai dengan 14.00 Wita

    Peserta
    Peserta lomba mancing diikuti oleh para nelayan di Kabupaten Tabanan serta masyarakat luar penghobi mancing /wisatawan


    Hadiah
    Dalam lomba ini disediakan hadiah dengan nilai total sebesar Rp 150.000.000 ( seratus lima puluh juta rupiah), dengan alokasi sebagai berikut :


    Door prize/hadiah Utama :
    berupa 1 (satu) mobil carry pick up akan diundi untuk peserta tradisional maupun profesional.

    ReplyDelete
  2. Katanya mau dijual ya pantai yang indah ini? saya juga nulis, tapi tak selengkap ini, di General Tutorial And Review

    ReplyDelete