March 24, 2013

[Lentera] Tarian Wayan untuk Keberagaman

I Wayan Mustika
TIDAK banyak peneliti yang mengkhususkan diri pada kesenian Lampung. Apalagi yang menempuh pendidikan formal hingga jenjang doktor dengan konsentrasi seni di Lampung.

I Wayan Mustika memperoleh gelar doktor di Universitas Gadjah Mada (UGM) atas disertasi tentang seni pertunjukan Lampung. Disertasinya berjudul Perkembangan Bentuk Pertunjukan Sakura Dalam Konteks Kehidupan Masyarakat Lampung Barat Tahun 1986-2009. Bisa dikatakan dialah doktor pertama yang khusus mempelajari soal seni pertunjukan di daerah Sai Bumi Rua Jurai.


Gelar magister yang dia peroleh dari almamater yang sama, juga berkat penelitian kesenian Lampung. Wayan meneliti tentang tari bedayu di Tulangbawang yang hampir punah karena sudah tidak ada lagi orang yang membawakannya.

Berkat penelitian panjang dosen Pendidikan Seni Tari di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung ini, tari bedaya berhasil direkonstruksi dan menjadi tarian tradisional Lampung. Tarian ini menyimbolkan pemujaan, permohonan untuk mengusir segala macam penyakit, mengharapkan kesejahteraan, keselamatan, dan hasil panen yang berlimpah.

"Tari bedayu ini menjadi tarian sakral di pura-pura di Lampung. Tarian ini ditetapkan oleh PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) Lampung menjadi pengiring upacara di pura-pura," kata sarjana lulusan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung.

Hampir semua upacara di pura-pura di Lampung diiringi tari bedayu sebagai bentuk penghormatan kebudayaan lokal Lampung. Tari ini juga menjadi materi wajib yang perlu diajarkan dan dikuasai oleh mahasiswa Pendidikan Seni Tari Unila.

Selama tujuh tahun Wayan melakukan penelitian ke desa-desa di Lampung Barat dan Tulangbawang serta mewawancarai puluhan orang Lampung untuk menggali soal seni pertunjukan, khususnya seni sakura dan tari bedayu. Dia bertemu mantan penari Lampung yang pernah menjadi penari di Istana Negara ketika era Soekarno.

Kini, Wayan sudah menulis empat buku tentang kesenian Lampung. Keempat judul buku itu adalah Mengenal Tari Budaya Tulangbawang Sebagai Sebuah Seni Pertunjukan, Mengenal Sekilas Budaya Lampung dan Seni Pertunjukan Tradisionalnya, Tari Muli Siger, dan Teknik Tari Lampung Sebagai Pembelajaran. Buku yang terbit rentang 2009 hingga 2012 ini menambah referensi soal kesenian Lampung yang saat ini sangat jarang ditulis dan diterbitkan.

Kapasitas keilmuan soal seni dan budaya Lampung sudah tidak diragukan. Dia banyak mengisi seminar dan diskusi tentang penggalian budaya lokal Lampung. Kini, Wayan pun menjadi Sekretaris Studi Budaya Lampung di Lembaga Penelitian Unila.

Wayan kelahiran Bali tahun 1975. Dia tiba di Lampung pada usia 5 tahun bersama ayahnya yang ikut dalam program transmigrasi.

Ketika itu, Wayan dan keluarganya tinggal di Seputihbanyak, Lampung Tengah. Dia pun tumbuh dan besar di Lampung dan sudah menjadi orang Lampung. Meskipun beretnis Bali, Wayan punya rasa tanggung jawab moral untuk meneliti soal kesenian Lampung yang kini sudah menjadi daerahnya. ?Saya orang Lampung dan punya kewajiban untuk meneliti soal kesenian Lampung. Referensi soal kesenian Lampung masih sangat sedikit dan ini menjadi tantangan untuk terus melakukan penelitian lebih jauh,? kata dia.

Ketika melakukan penelitian soal seni dan budaya Lampung, guru besar dan dosen yang membimbingnya mengusulkan agar Wayan memilih kesenian daerah lain yang banyak referensi, Bali atau Jawa. Namun, Wayan tidak menyerah dan terus melakukan penelitian hingga sukses menyabet gelar doktor.

Dia justru menemukan referensi soal budaya dan kesenian Lampung dari buku-buku soal hukum adat. Dia pun lebih banyak menggali dengan wawancarai banyak seniman tradisional yang tinggal di pelosok kampung. "Justru para tokoh adat di daerah menerima dengan baik dan selalu mendukung penelitian yang saya lakukan. Semuanya terbuka," kata dia.

Peneliti soal budaya daerah justru bukan dari suku yang bersangkutan. Dia memberi contoh soal penelitian budaya Jawa dan Bali, justru bukan orang dari kedua suku itu. Banyak yang malah orang asing yang lebih mendalami dan mengerti soal budaya Jawa dan Bali.

Menurutnya, meneliti kebudayaan dan kesenian Lampung tidak hanya dari masa ketika Islam masuk. Namun, jauh lebih dalam saat masih kuatnya pengaruh animisme dan pengaruh Hindu di wilayah Lampung. ?Dengan begitu bisa mengetahui soal akar budaya Lampung,? kata dia.

Wayan mengungkapkan Lampung memiliki keragaman seni pertunjukan. Misalnya dalam hal tarian, antardearah atau kabupaten berbeda. Namun, keberagaman ini jangan dijadikan sebagai perpecahan agar diseragamkan. "Justru keberagaman ini menjadi keuntungan. Para tokoh jangan menyalahkan perbedaan keberagaman ini," kata dia.

Sumber: Lampung Post, Minggu, 22 Maret 2013

No comments:

Post a Comment