May 5, 2013

Budaya Lampung Versus Budaya Global

Oleh M. Benyamin E. Djauhar


AKULTURASI budaya yang semakin njlimet di indonesia mengingatkan penulis pada Umar Kayam, yang menuturkan bahwa pertumbuhan budaya yang semestinya berstandar pada hakikat kebudayaan dan tradisi rakyat.

Ya, kebudayaan kita njlimet karena berbaur dengan menguatnya kebudayaan massa yang jauh dari prospek pertumbuhan jati diri bangsa. Gencarnya dunia informatika yang telah dijuluki ?tuhan kedua? simultan menggeser nilai-nilai tradisi dan budaya kita yang semakin rapuh. Budi pekerti yang disirnakan oleh proses tonggak reformasi yang mencabik nilai nilai hakiki kita, suka atau tidak suka telah merampas spiritualitas secara universal.


Pada pilar skematis dan sistematis, matematika kebudayaan kita telah masuk ke wilayah sadisme. Apa yang diungkap Thomas Hobe berabad lampau tentang homo homini lupus telah menunjukkan kebenarannya.

Perpaduan antara kebanggaan kita terhadap kebudayaan daerah sebagai puncak kebudayaan nasional tergerus oleh liberalisasi politik kebangsaan. Euforia yang tidak berkesudahan menjadikan kita bagian dari topeng-topeng tanpa bentuk.

Konkretnya, kita telah kehilangan kebangsaan kita. Kita telah jauh dari watak relegiositas dan memasuki wilayah abu-abu antara anglo saxon dan continental. Ini, antara lain, karena kita berasyik masuk pada wacana kehendak tanpa sarana dalam baskom kotor yang dibawa oleh kapitalisme.

Kalaulah kita masih percaya, bahwa hidup dan atau kehidupan bangsa ini masih merupakan suatu kekuatan yang mampu bermanfaat bagi orang banyak, seyogianya kita tidak berputus asa terhadap kondisi yang ada dewasa ini. Mungkin sudah saatnya kita terus-menerus menggugah cakrawala dalam bangunan kebudayan itu sendiri, sehingga budaya yang masuk penetrasinya tidak merobek-robek keperawanan spiritualitas dan hakikat kemanusiaan kita.

'Agem-agem' Lima Pasal

Beranjak dari kebesaran bangsa ini, tanpa harus mengutip Moechtar Lubis yang mengatakan kita bangsa yang hipokrit, feodal, dan pemalas, masih banyak hal yang patut digali secara sentrifugal.

Untuk konteks ini, kita tidak usah jauh-jauh, mari kita berangkat dari agem agem lima pasal, yang semuanya sarat dengan nilai kemanusiaan, moralitas, dan hakikat hidup. Secara faktual, kita ambil saja agem-agem lima pasal yang telah akrab dengan kita, yakni fiil pesenggiri, bejuluk badok, nengah nyapur, nemui nyimah, dan sakai sambaian.

Fiil pesenggiri yang selama ini dimikrokan melalui persaingan tidak sehat seyogianya dapat menjadi pilihan pilar yang maknawi, bila fiil pesenggiri dilihat sebagai upaya untuk berkompetisi meningkatkan derajat dalam artian intelektual, sehingga fiil pesenggiri tidak rancu menjadi nilai praksis untuk berkompetisi dengan penonjolan pristise berdasarkan kemewahan. Namun, nilainya lebih dikembangkan pada sudut pandang semangat mengoreksi diri dan mengaktualisasikan nilai-nilai epestimologi kelampungan.

Ini berkorelasi langsung dengan nengah nyappur. Tanpa intelektual, nengah nyappur menjadi hampa meski kita juga patut memahami bahwa bejuluk badok merupakan indikator konkret, bahwa yang satu dengan yang lain harus saling menghormati dalam ruang nengah nyappur, yang gilirannya mampu mentransformasikan apa yang kita sebut dengan nemui nyimah.

Sementara itu, sakai sambayan yang bermakna mutual assistances atau gotong royong dapat saja terus menerus kita kembangkan melalui rasionalitas kebangsaan. Kawula alit dan para perwatin ?yang dimikrokan? oleh temporerisasi semangat gelar kesultanan, dus seharusnya ditata dalam pilar raksonomi penghormatan dalam dimensi pekerjaan tugas yang sakral bagi perwatin, dus bukan komoditas politik semata.

Ini hanyalah sebagian kecil dari usaha kita untuk menampung centang peranangnya akulturasi budaya yang diterobos oleh apa apa yang berbau asing. Lebih jauh lagi, berkali-kali penulis kerap mengatakan janganlah budaya Lampung hanya berada pada titik seremoni. Dalam arti kita harus menjawab pertanyan besar, apa yang telah dihasilkan oleh Festival Krakatau selama ini, tentu hasilnya ada, namun apa tidak hanya terbatas pada usaha menggembirakan birokrasi dan atau segelintir orang dilingkaran kekuasaan.

Perlawanan budaya liberal dapat kita personifikasikan melalui pemahaman pemahaman serius, yakni dengan mengaktualisasikan esensi budaya Lampung secara membumi. Untuk melakukan down to earth (membumi) sejatinya tidak mudah, meski tidak juga sukar.

Namun, apabila kebudayaan massa yang sarat liberalisasi di seantero komunitas komunal sebagai akibat masuknya teknologi komunikasi, tuntutannya bukan pengembangan dan atau perlawannan terhadap budaya global tidak semata-mata memainkan kunci kunci seremoni yang dikeloni oleh birokrasi, tetapi setidaknya terdapat lima pilar penting yang patut kita tawarkan.

Pertama, hilangkan saja mulok kalau sekedar belajar aksara. Di sini penulis tidak akan bermaksud mengecilkan nilai aksara, namun pengembangan aksara hendaknya dibarengi dengan pengembangan perspektif kekaryaan, semisal sulam usus, tapis, fungsi genetika gajah.

Kedua, agem-agem lima pasal yang penulis ajukan diperdebatkan ulang dalam forum nasional, semisal dalam kongres kebudayaan.

Ketiga, sirnakan ekploitasi terhadap pemuka adat, perwatin, dan turunannya dalam konteks politik.

Keempat, seluruh radio di Lampung wajib mentransformasikan universalime nilai nilai yang ada di Lampung.

Kelima, dunia pariwisata yang merupakan bagian integral dari hidupnya suatu provinsi, harus benar-benar digarap serius dan menjauhkan konotasi proyek semata, toh rakyat rindu bila masyarakat perkotaan dikembangkan tidak dalam nafas mereduksi nilai nilai mereka.

M. Benyamin E. Djauhar, peminat masalah sosial budaya.

Sumber: Lampung Post, Minggu, 5 Mei 2013

No comments:

Post a Comment

Post a Comment