May 28, 2013

Buku 'Acropolis Kerajaan Nalar': Wakil Bupati Heri Wardoyo ingin memberi ruh Acropolis kepada Tulangbawang

Sampul buku 'Acropolis Kerajaan Nalar'
WAKIL Bupati Tulangbawang, Provinsi Lampung,  Heri Wardoyo meluncurkan buku Acropolis Kerajaan Nalar pada Minggu, 2 Juni 2013, di Menggala dengan menghadirkan tokoh teras serta budayawan antara lain Mahdud MD, Bagir Manan, Emha Ainun Nadjib, dan Arswendo Atmowiloto.

Buku ini adalah sekumpulan buah pikir Heri yang dipublikasikan di Lampung Post selama dia menjadi wartawan di harian lokal tersebut. Berbagai tulisan yang mencerminkan pemikirannya dilandasi referensi ini dia kemas dalam bahasa jurnalistik, sehingga mudah dipahami oleh pembacanya.


Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Teknokrat, Nasrullah Yusuf, menyebut, buku ini cerdas, karena akan membawa pembacanya kepada pemikiran besar yang dipadukan fakta hidup yang disertai banyak contoh sederhana, peristiwa sepele, atau konvensi yang luput dari perhatian.

“Pendeknya, Heri berpikir global,” kata Nasrullah.

Rektor Universitas Lampung Sugeng P. Harianto menegaskan, buku ini berisi filosofi hidup tentang seseorang yang harus tahu banyak hal untuk kemudian menjadikannya dasar menjalani hidup.

Dan, apa yang ditulis Heri dalam buku ini kemudian dia mengejawantahkan dalam tindakan dalam politik dengan menggapai tangga kekuasaan di salah satu kota kecil di Lampung, Kabupaten Tulangbawang yang beribukota  di Menggala, namanya.

Kota subur dan strategis ini secara sosio-ekonomi telah hancur karena rezim lama salah kelola, sehingga Heri sebagai wakil bupati perlu membangunnya kembali agar kesuburan Tulangbawang ini bisa bermanfaat untuk kesejahteraan rakyatnya.

Tulangbawang ini oleh Heri digambarkan seperti sebuah kota kecil di Athena, Yunani, Acropolis, yang dihancurkan oleh rezim Persia pada 480 tahun sebelum Masehi lalu kemudian dibangun kembali oleh rakyatnya. Dan, sekarang Acropolis menjadi salah satu warisan dunia yang dilindungi UNESCO, badan di Perserikatan Bangsa Bangsa, yang mengurusi kebudayaan dunia.

Apa itu Acropolis?

Acropolis adalah dataran tinggi berbatu setinggi 156 meter, dan ada beberapa reruntuhan bangunan kuno yang dulunya adalah kuil yg menjadi pusat sejarah Athena, Yunnani. Acropolis menjadi bukti sejarah kebanggaan Athena tentang kejayaan sekitar 2.400 tahun lalu.

Acropolis sebenarnya sebuah kota kecil yang permai, sampai kerajaan Persia menghancurkannya di tahun 480 sebelum Masehi. Setahun kemudian tentara Yunani mengalahkan Persia dan membangun ulang kuil-kuil itu. Antara tahun 467 sampai 404 sebelum Masehi, bangunan tersebut selesai dibangun.

Pada tahun 1834 Athena menjadi ibukota Yunani, dan Raja Otto menetapkan Acropolis sebagai bangunan arkeologi yang dilindungi. Tahun 1975 Acropolis direstorasi. Bangunan kuno terbesar di Acropolis adalah Parthenon Demokrasi dalam bidang politik yang kita kenal pada saat ini merupakan salah satu sumbangan dari dinasti Hellenislic (650-30 SM) pada zaman kekaisaran Yunani Kuno, di mana hak-hak sipil untuk menyampaikan pendapat secara bebas diakui.

Sebagai ciri khas pola kota  Yunani Kuno yang berupa Negara kota, di mana ada ruang-ruang terbuka untuk aktivitas demokrasi yang ditandai bangunan-bangunan Negara untuk pihak eksekutif, legislative, dan yudikatif, salah satunya adalah Acropolis. Itulah tradisi Athena yang tidak bertujuan kepada militerisme, sehingga kota-kota di zaman Yunani Kuno sering mendapat serangan dari bangsa-bangsa di sekitarnya, khususnya Persia. Ini sungguh berbeda dari tradisi Spartan yang banyak dijumpai di kota abad pertengahan di kawasan Bavaria atau Jerman sekarang yang memang menunjukkan keunggulan bangsanya melalui kemenangan dalam peperangan.

Dan, Heri Wardoyo sungguh cerdik memilih judul kumpulan tulisannya itu, Acopolis, Kerajaan Nalar. Dia seolah-olah ingin memberi ruh kepada daerahnya bahwa Tulangbawang yang telah hancur secara sosio-ekonomi akibat salah kelola rezim lama harus dibangun dengan hati dan rasionalitas seluruh elemennya agar daerah ini menjadi indah, permai, makmur, seperti Acropolis yang menjadi salah satu keindahan tertua di Eropa sekarang ini. (KRISTA RIYANTO)

Sumber: http://yustisi.com, Selasa, 28 Mei 2013 

No comments:

Post a Comment