October 10, 2010

Menunggu Durian Jatuh di Kotaagung

DARI setiap rumah di Pekon Mulangmaya, Menggala, dan Sukabanjar, Kotaagung Timur, Tanggamus, menyeruak harum wangi durian.

Sejak sebulan lalu, trotoar-trotoar yang dikenal sebagai sentra penjualan durian di Bandar Lampung mulai menyediakan buah durian lokal. Ini adalah tengara ada salah satu belahan wilayah Lampung yang sedang musim panen durian. Terdapatlah informasi bahwa buah-buah berduri itu berasal dari Kotaagung dan sekitarnya.

Mengendus aroma legit itu, satu perjalanan dibuat pada Rabu (6-10) menuju wilayah arah barat Kota Bandar Lampung. Trip ini sengaja dilakukan untuk melabrak asumsi yang mendudukkan seolah berwisata, perjalanan, atau traveling harus ke pantai atau tempat rekreasi lainnya. Dan benar, kebun durian dan rumah warga desa saat musim durian matang tiba adalah pilihan lain me-refresh pikiran dan tubuh yang penat dengan nuansa berbeda.

Perjalanan Bandar Lampung�Kotaagung ditembus dengan 2,5 jam dengan kendaraan roda empat. Suasana musim durian memang sudah terasa sejak lepas dari Bandar Lampung memasuki wilayah Kabupaten Pesawaran. Penjual durian di pinggir jalan sudah menyapa di daerah Kurungannyawa.

Namun, jangan dulu bernafsu di sini. Teruslah menembus beberapa kota kecil untuk kemudian memasuki daerah sejuk, Gisting, di wilayah Tanggamus. Di sini, suasana "Lebaran" durian sangat kentara. Setiap berpapasan dengan tiga sepeda motor, satu di antaranya tergantung durian di boncengan atau bagian lain. Hampir setiap mobil yang bersimpangan selalu menebar aroma menyengat yang menggiurkan itu.

Memasuki jalan melingkar-lingkar di Batu Kramat bagian bawah, pohon-pohon durian yang berpadu dengan tanaman pala itu memperlihatkan produktivitasnya. Durian-durian bergelantungan.

Di pinggir jalan, pedagang juga menjajakan durian. Mobil-sepeda motor berhenti untuk membeli sekalian mencicipi di lokasi. Meskipun menawarkan harga yang sedikit lebih murah dari harga di Bandar Lampung, harga jadinya masih separuhnya. "Pinter-pinter nawarnya aja, kata Indra, warga Talangpadang.

Satu sentra durian yang juga dikenal dengan produsen manggis di Tanggamus ada di Kecamatan Kotaagung Timur, yakni di Pekon Mulangmaya, Menggala, dan Sukabanjar. Sekitar 2 km setelah Simpang Pemda, jalan kecil beraspal menuntun pendatang memasuki Pekon Mulangmaya.

Berjalan di desa ini kemarin (mungkin hari ini juga masih), atmosfer durian sangat terasa. Pada sore hari, perempuan-perempuan setengah baya pulang dari ladang menyunggi (membawa durian dalam bakul di atas kepala). Kebanyakan adalah hasil menunggu durian runtuh dari pohon milik mereka masing-masing. Tetapi ada yang membawakan durian dari ladang ke tengkulak di bawah dengan upah Rp1.000/buah.

Anda bisa membayangkan, betapa udara di desa itu penuh dengan parfum alami yang mengundang air liur melelah.

Di kampung ini juga masih banyak rumah-rumah panggung tua dengan arsitektur Lampung asli berbahan kayu dan beratap seng. Namun, rumah-rumah baru dari tembok juga banyak dan mengurangi suasana desa asli. Satu yang sama dari hampir semua rumah itu saat ini adalah mereka memajang durian di depan rumah-rumah mereka.

"Itu durian dari kebun mereka sendiri. Kalau ada yang beli, dijual. Tetapi kalau enggak, ya dimakan sendiri. Hampir semua penduduk punya pohon durian," kata Azhar, salah satu tokoh warga Mulangmaya.

Pada musim durian, kata Azhar, penduduk tiga desa (Mulangmaya, Menggala, dan Sukabanjar) cukup mendapat berkah. Sebab, Gunuk Gattung (Bukit Gantung) yang berada di belakang kampung ini berisi tanaman durian dan manggis. Bukit itu memang terlihat rimbun dan lestari.

Senada dengan Azhar, Fajarudin, penyuluh pertanian Kotaagung Timur mengatakan daerah ini dijadikan sentra durian dan manggis utama di Tanggamus. "Bukit itu adalah repong (hutan) marga yang dipertahankan sebagai ciri khas daerah. Bahkan, buah manggisnya masuk golongan manggis terbaik dan dieskpor. Kita tidak mampu memenuhi permintaan pasar," kata dia.

Soal durian, Yul, salah satu pedagang pengumpul di Pekon Sukabanjar yang berhadapan dengan laut Teluk Semaka mengaku dirinya hanya menerima dan menjual buah durian jatuhan dan tua di pohon. Menurut dia, satu jenis durian andalan di wilayah ini adalah durian kajang.

"Ini contohnya," kata Yul sambil menujukkan satu gandeng (dua buah) durian kajang. "Bentuknya panjang, kulitnya hijau bersih, durinya panjang. Warna dagingnya kuning, tebal, bijinya kecil. Rasanya manis ekstrem sampai terasa agak pahit. Legit," kata dia.

Meskipun menunjukkan, Yul menolak duriannya untuk dibeli karena sudah dipesan orang. Bahkan, untuk minta bagi satu buah saja untuk mencicipi rasanya tak boleh. "Waduh, maaf. Ini sudah dibayar orang," kata dia.

Yul mengakui durian kajang memang hanya sedikit jumlahnya. "Cuma ada beberapa orang yang punya pohon durian kajang. Sekarang sudah banyak yang nanem, tapi belum buah," kata dia.

Salah satu tokoh Pekon Sukabanjar, Helmi, mengatakan durian sudah menjadi ikon Kotaagung Timur. Ia menambahkan dari repong (hutan) di Gunuk Gattung yang berada di belakang desanya, ribaun pohon durian masih produktif. "Ini masih musim selang (antara). Kalau lagi panen raya, setiap hari bisa bertruk-truk keluar dari desanya dijual ke Jakarta," kata Helmi.

Helmi mengakui banyak petani durian yang tergiur dengan iming-iming pemborong buah dari Jakarta. Para tengkulak, kata dia, membeli secara borongan. "Tidak lagi/pohon, tapi/kebun. Kalau sudah ada yang jatuh matang, pemborong akan mengunduh semua. Padahal, masih banyak yang masih muda. Ini yang ngerusak nama. Tapi, kita enggak bisa mencegah," kata dia.

Selain pemborong yang memanen habis buah, Helmi cukup risau dengan perilaku penduduk yang mulai tergoda menebang pohon untuk dijual kayunya. Bahkan, ada lahan yang sudah terjual ke orang China. Padahal, PPL sudah mengimbau agar pohon yang ditebang yang sudah tidak produktif saja," kata dia.

Makan Durian di Pantai

Berburu durian runtuhan di Kotaagung Timur ini bukan sekadar urusan mulut dan perut. Sebab, desa yang memproduksi ribuan butir buah limited edition ini berhadapan dengan laut Teluk Semaka.

Jika Anda tidak ingin menyantap durian di bawah pohon, di teras rumah-rumah pendududuk, atau di depan pedagang, tinggal bergeser sedikit ke bawah. Di sini angin semilir kencang, debur ombak rata-rata satu meter mengeluarkan suara gemuruh setiap menit, lalu samar hilang ditelan angin, lalu pecah lagi. Juga pemandangan alun bergulung putih akan menemani suasana ceria bersama teman-teman dan keluarga. Sensasi rasa buah yang rasanya nyelekit dengan kadar alkohol cukup tinggi, dan aroma yang menyengat akan membuat nafsu makan Anda bergejolak.

Wilayah daratan di pantai berkerikil hitam itu diproteksi dengan dam batu beton setinggi satu setengah meter. Di belakang dam, pohon-pohon kelapa setinggi 10�12 meter berdiri acak di amparan rerumputan menghijau. Daun nyiurnya menjadi atap dari sengatan matahari. Jika hujan tiba-tiba, rumah-rumah penduduk di pinggir jalan yang mengikuti kontur pantai dengan ramah menerima tumpangan berteduh. (M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 10 Oktober 2010

No comments:

Post a Comment

Post a Comment