October 14, 2010

Kearifan Lokal: Rumah Panggung, Pertahanan Adat

MEMASUKI Kota Liwa, Lampung Barat, suasana berbeda langsung terlihat. Di kanan kiri jalan berjajar rumah-rumah panggung Lampung yang disebut nuwou. Rumah adat ini kini tidak mudah ditemui di Bumi Ruwa Jurai Lampung.

Hanya segelintir daerah yang masih memiliki Nuwou di Lampung, antara lain Lampung Barat. Gencarnya transmigrasi dan urbanisasi membuat warga asli Lampung kian terpinggir. Warga Lampung yang tinggal di perkotaan, seperti Bandar Lampung dan Metro, cenderung memilih hidup modern, meninggalkan kebiasaan membuat rumah panggung.

Lampung Barat adalah tanah nenek moyang suku adat Lampung dari marga Saibatin atau pesisir. Mayoritas rumah di wilayah ini masih berupa panggung. Jika pun ada yang bukan, hampir dipastikan itu milik pendatang.

Rumah panggung yang terbuat dari kayu ini mampu bertahan puluhan hingga ratusan tahun. Salah satunya rumah milik Burzan Barnau (45), warga Pekon Lombok, Kecamatan Lombok Seminung. Sejak dibangun tahun 1970, rumah kayu ini masih kokoh berdiri.

Tinggi panggungnya mencapai 1,75 meter dari permukaan tanah. Luasnya menakjubkan, yaitu 300 meter persegi! Untuk membuat rumah panggung seluas ini, dibutuhkan sekitar 50 meter kubik kayu. Awalnya rumah ini sengaja berbentuk panggung untuk mencegah masuknya binatang-binatang buas.

Apalagi, wilayah di sekitar Pekon Lombok berbatasan dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Di sekitar desa ini tidak jarang masih ditemui gajah, harimau, ataupun celeng yang berkeliaran.

Alasan lain warga membangun rumah panggung adalah bahan bakunya, yaitu kayu, masih mudah ditemui. ”Kayu kan mengambil dari kebun sendiri,” ujar Suhairi (44), warga lainnya. Hingga kini, warga masih kerap menyimpan kayu-kayu stok di bawah rumah panggung mereka.

Rumah-rumah ini tidak berpagar. Meski demikian, diungkapkan Burzan, belum pernah ada kejadian harta benda masyarakat setempat raib diambil pencuri. Masuk akal jika pencuri tidak berani beraksi di rumah-rumah panggung.

Karena terbuat dari kayu, lantai di rumah panggung ini mudah berderit. Jangankan berlari, jika kita berjalan pelan, hampir pasti menimbulkan bunyi derit kayu. Ini menjadi ”sensor” alami bagi pemilik rumah untuk mengetahui pergerakan di rumah mereka.

Sebagian Nuwou balak Lampung masih menyimpan ornamen khas, antara lain ukiran khas Lampung, yaitu tapis. Ornamen ukiran tapis ini umumnya terpajang di rumah-rumah milik penyimbang atau pemuka-pemuda adat.

Melindungi dari bencana

Rumah-rumah adat ini nyatanya tidak hanya menjadi ”benteng” pertahanan adat Lampung yang kini makin tersisih, melainkan juga perlindungan dari bencana. Pada 1994, saat terjadi Gempa Liwa yang menghancurkan ribuan rumah di Lampung Barat dan sekitarnya, rumah panggung justru bertahan.

”Di Pekon (Lombok), setahu saya, hanya ada satu rumah panggung yang roboh. Tetapi itu belum jadi. Rumah kayu ini sangat kokoh,” ujar Rusman Effendi, tokoh warga di Pekon Lombok yang juga anggota DPRD Lampung Barat.

Dengan berbagai keunikan adat dan sejarahnya, rumah panggung di Pekon Lombok lalu ditetapkan sebagai daya tarik pendukung dari Desa Wisata Lombok yang terdapat di pinggir Danau Ranau, Lampung Barat. Sebagian rumah panggung ini oleh pemerintah daerah setempat dijadikan tempat menginap para wisatawan.

Untuk menginap di rumah warga ini, pengunjung membayar Rp 150.000 per orang untuk dua hari. Jumlah itu termasuk biaya makan makanan tradisional setempat sebanyak tiga kali sehari. Pola ini bisa menjadi pilihan mengingat harga menginap di hotel di area ini bisa mencapai Rp 300.000 per hari.

Pemkab Lampung Barat juga telah menetapkan desa-desa lainnya yang memiliki rumah- rumah adat, yaitu rumah Sabukh, sebagai desa wisata. Desa yang dimaksud adalah Desa Hujung. Di sini terdapat sejumlah rumah Sabukh yang usianya mencapai 300 tahun. Inilah keunggulan rumah panggung.

(Yulvianus Harjono)

Sumber: Kompas, Kamis, 14 Oktober 2010

3 comments:

  1. Rumah Adat Lampung NUWO BALAK/LAMBAN BALAK/KEDATUN, disamping mempunyai arsitektur yang indah juga mempunyai Nilai2/makna yang Tersirat didalamnya seperti Lawang Kurei maknanya Kesadaran atau istilah lainnya GAPUGHA maknanya Pengampunan karena berasal dr kata GHOFURO/Pengampunan,masih lainnya seperti IJAN TITEI maknanya Tanjakan Penitian tuk mencapai Kesempurnaan .Oleh karena untuk memberikan Keutuhan yg bulat tentang Budaya Lampung kiranya nilai yg masih banyak tersimpan,kiranya dapat diteliti dan diungkap secara luas n benar...dari Suttan Pengiran Pesirah Marga Kedatun Keagungan

    ReplyDelete
  2. Kedatun Keagungan salah satu Rumah Adat Lampung yang selama ini telah menjadi Obyek dan daya tarik WISATA Budaya Lampung,yang telah banyak dikunjungi Wisatawan Manca Negara dan Nusantara serta telah digunakan oleh Pemerintah Prov.Lampung n Kota Bandar Lampung dalam rangka mempromosikan Daerahnya melalui Pemilihan Mulei Meghanai dalm Festival Kratau dan Begawei bandar Lampung serta Kunjungan Tamu Pemda,Syarat dengan Nilai2 yang terkandung didalamnya,tentunya akan lebih menarik Pariwisata Lampung,apabila NILAI2 tersebut diungkap secara luas....tabikpun nabik tabik jamo kuttei ghuppek bahwano nilai2 sai wat peninggalan Leluhur yo mak dapek naghat,khususno Pepadun Nilai2 sai wat Teninggal RAJO ASO (MAHA KUASO)>KITABULLOH>>Kedatun Keagungan Lampung

    ReplyDelete
  3. Terima kasih penjelasannya yang bermanfaat... Jgn lupa mampir ke blog kami homei

    ReplyDelete