June 19, 2008

Lomba Cerpen: 'Nasi Aking' Sisihkan 167 Cerita Pendek

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Cerpen Nasi Aking menjadi cerpen terbaik dalam Sayembara Penulisan Cerpen se-Provinsi Lampung 2008 yang digelar Kantor Bahasa Provinsi Lampung. Cerpen karya Miftakhul Lutfiana, siswa SMA Negeri 1 Metro itu menyisihkan 167 cerpen hasil karya 126-an peserta.

Juara kedua diraih Yasmine Papusuny, juga dari SMA 1 Metro, dengan cerpen berjudul Sepatu Haram. Juara ketiga dan harapan pertama direbut Merta Arum Prastika dari SMA 1 Gadingrejo dengan cerpen Reinkarnasi Plot Pegasus dan Muhammad Amin, siswa SMA 1 Kotaagung, Tanggamus, dengan cerpen berjudul Tangisan Umak Tiap Tengah Malam.

Para juara mendapatkan hadiah masing-masing Rp1 juta, Rp750 ribu, Rp500 ribu, dan Rp300 ribu. Karya para pemenang juga berhak diikutkan sayembara penulisan cerpen nasional yang diselenggarakan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (P3B).

Dewan juri yang terdiri Agus Sri Danardana, Isbedy Stiawan Z.S., Oyos Saroso H.N., dan A.M. Zulqornain, memutuskan kualitas karya pemenang di atas rata-rata cerpen lain yang diikutkan sayembara.

Dewan juri menilai cerpen Nasi Aking menampilkan teknik bercerita yang memikat, mengalir lancar, penuh kejutan, dan tema yang kontekstual.

"Nasi aking itu sendiri sebenarnya soal biasa, terutama bagi kehidupan rakyat miskin. Namun, dalam cerpen yang ditulis Miftakhul Lutfiana itu nasi aking begitu mengejutkan. Kejutan terjadi saat nasi aking itu bicara dalam lambung orang yang memakannya. Ini luar biasa, layaknya cerpen yang ditulis pengarang profesional," kata Isbedy Stiawan, Senin (16-6).

Teknik bercerita yang sangat memikat juga dilakukan Yasmine Papusuny dalam cerpen Sepatu Haram. Dengan tema yang sederhana, Yasmine mampu mengeksplorasi tema dengan gaya bercerita mengalir lancar dan memikat.

Isbedy Stiawan mengatakan pada umumnya, peserta sayembara belum paham tentang bagaimana cara menulis cerpen. "Masih banyak hal mendasar tentang cerpen yang belum dikuasai. Selain pola belajar-mengajar sastra di SMA harus ditingkatkan kualitasnya pada masa mendatang dan harus ada pembinaan serius. Di sinilah Kantor Bahasa dan lembaga lain bisa berperan," ujar penyair yang juga penulis cerpen ini. n RIN/S-1

Sumber: Lampung Post, Kamis, 19 Juni 2008

No comments:

Post a Comment