November 7, 2010

[Perjalanan] Menjejak Tilas Letusan Krakatau

LETUSAN Gunung Krakatau pada 1883 membuat Indonesia, bahkan dunia berkabung. Menurut sejarah, lebih 36 ribu orang tewas akibat awan panas dan tsunami. Kita tengok beberapa tanda-tanda bekas kedahsyatannya di Lampung.

Satu unit lampu mercusuar yang kini menjadi elemen utama Taman Dipangga, Bandar Lampung ini merupakan bukti sejarah meletusnya Gunung Krakatau pada 1883. Jarak laut dengan lokasi ini cukup jauh dan tinggi. Ini menjadi bukti kedahsyatan letusan dan tsunami Krakatau.

Cerita mengenai letusan Krakatau memang selalu menarik dan menggugah rasa ingin tahu. Saat meletus pada 1883, tsunami yang terjadi pada saat itu, konon merupakan yang terdahsyat di Samudera Hindia sebelum akhirnya datang bencana tsunami di Aceh pada Desember 2004. Lebih dahsyatnya, letusan Krakatau juga mampu mengubah iklim dunia, semburan debu vulkanis bahkan menjangkau belahan negara-negara di dunia, seperti Amerika dan Afrika.

Kini, beberapa penanda atas peristiwa itu bisa ditemukan di Bandar Lampung. Objek utama yang menjadi tujuan orang mencari tilas tentang Krakatau adalah Monumen Krakatau yang letaknya sekitar 45 km dari Gunung Krakatau. Bagi Anda yang tinggal di Bandar Lampung, mungkin sudah tidak asing jika mendengar monumen yang berada di Jalan W.R. Supratman, Telukbetung Selatan, tepat di tengah-tengah Taman Dipangga (Depan Kantor Polda Lampung).

Di tempat ini tersisa peninggalan jejak sejarah letusan Krakatau berupa lampu kapal atau mercusuar yang konon merupakan bagian dari kapal luar negeri yang terdampar. Lampu kapal dengan tinggi sekitar 2 meter, berdiameter 1,5 meter itu, saat ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Tidak jarang pengunjung yang mengabadikan benda sisa sejarah ini melalui jepretan kamera.

Selain bisa melihat bentuk lampu kapal, pada monumen tersebut juga dibuat semacam relief yang menggambarkan kehidupan masyarakat sebelum dan sesaat terjadinya letusan Krakatau. Terlihat gambar masyarakat yang berbondong-bondong mengungsi dengan membawa barang-barang yang diletakkan dia atas kepala. Kemudian, ada juga gambar relief Krakatau yang meletus, hingga kehidupan masyarakat di pesisir laut.

Dengan adanya daya tarik dari lampu kapal peninggalan letusan Krakatau, ditambah sejuk dan asrinya Taman Dipangga karena banyaknya pepohonan yang rindang, membuat Monumen Krakatau ini bisa menjadi salah satu tujuan wisata yang berpotensi menjadi trademark Lampung, selain gajah.

Penjaga Taman Dipangga, Azwar, mengatakan sebelum diletakkan di tengah taman, lampu kapal tersebut sudah dipindah tiga kali. Pertama, letak lampu kapal ini sebelumnya berada di samping kantor Polda Lampung, kemudian dipindah di depan Polda Lampung, dan sekaligus dibuatkan gapura. Terakhir, sekitar 1990-an, benda sejarah ini ditempatkan di Taman Dipangga sekaligus diberikan nama Monumen Krakatau hingga sekarang.

Menurut Azwar, tidak sedikit pengunjung yang datang melihat Monumen Krakatau. Biasanya pengunjung datang pada pagi dan sore hari di saat libur seperti hari Minggu. Bahkan, kata Azwar, hingga malam pun, terutama malam Minggu, lokasi Taman Dipangga ini banyak dikunjungi, terutama bagi para muda-mudi. "Pengunjung yang datang banyak, kadang-kadang ada turis luar negeri, ada juga pelajar dari luar daerah," kata Azwar, Jumat (6-11).

Untuk dapat berkunjung ke tempat ini, dari arah Tanjungkarang, bisa menggunakan angkutan kota jurusan Tanjungkarang—Telukbetung. Namun, dalam perjalanan harus terlebih dahulu mengikuti angkot untuk memutar melewati Terminal Sukaraja. Untuk memakai jasa angkot ini, karena memutar, dikenakan biaya Rp4.000 dengan waktu perjalanan dari Tanjungkarang menuju Taman Dipangga sekitar 35 menit.

Selain Monumen Krakatau, peninggalan letusan Krakatau lainnya yang juga ada di Bandar Lampung, tepatnya terdapat di bilangan Sumurputeri, Telukbetung Utara. Konon, di tempat ini ada sebuah kapal milik Belanda yang juga terdampar.

Ternyata cukup susah untuk mencari lokasi yang satu ini. Selain tempatnya yang terkesan terpelosok, yang lebih ironisnya, bangkai kapal sudah tidak bersisa. Konon, material kapal tersebut, seperti besi dan kayunya dimanfaatkan masyarakat untuk dijual. Sangat disayangkan!

Meskipun tidak mungkin lagi menemukan bangkai kapal tersebut, setidaknya dari penelusuran Lampung Post menemukan jejak cerita di bilangan Telukbetung Barat. Yakni, terkenal dengan nama Kampung Bro. Kampung ini pernah menjadi “tempat singgah” bangkai kapal Belanda yang bernama Kapal Brau selama 44 tahun, yakni dari tahun 1927—1971.

Menurut Suwardi, tokoh masyarakat setempat, Kampung Bro merupakan nama yang disematkan dari Kapal Brau yang terdampar. "Dulu itu ada Kapal Brau milik Belanda yang terdampar akibat letusan Krakatau, karena supaya sebutannya lebih mudah, kemudian kampung ini akhirnya terkenal dengan Kampung Bro hingga sekarang," kata Suwardi, Jumat (6-11).

Suwardi menceritakan akibat letusan Krakatau, awalnya Kapal Brau pertama kali terdampar di bilangan daerah Sumurputeri yang berjarak sekitar 1 km dari Kampung Bro. Kemudian, pada 1927, terjadi banjir besar yang kemudian menghanyutkan bangkai Kapal Brau dan akhirnya terdampar di kampung tempatnya tinggal. Setelah hampir 44 tahun terdampar, pada 1971, kembali terjadi banjir besar, dan membawa bangkai kapal tersebut hingga ke daerah Kuripan. Sejak itulah, kemudian bangkai Kapal Brau habis tidak bersisa dan tidak bisa dilihat saksi sejarahnya.

"Dulu selama terdampar di sini—Kampung Bro, red—-kapal itu hanya menjadi barang tidak berharga, dan tidak ada yang peduli," kata Suwardi.

Namun, Suwardi masih memperlihatkan sedikit benda-benda peninggalan dari kapal tersebut yang berantakkan, yakni sebatang kayu kapal dan material kapal, seperti baut dan lempengan tempat kunci. Kayu yang tersisa tersebut masih sangat kokoh meskipun sudah sangat usang. Bahkan, kokohnya hampir sekuat batu.

Memang tidak ada lagi yang bisa dilihat dari Kapal Brau. Tapi, dengan keberadaan Kampung Bro, tentu paling tidak, ada sedikit pelepas dahaga untuk menelusuri peninggalan letusan Krakatau.

Untuk dapat sampai di Kampung Bro, hanya bisa dikunjungi dengan berkendara sepeda motor atau berjalan kaki. Sebab, akses jalan ke tempat ini terbatas, selain harus melewati kampung-kampung kecil, median jalan yang terlapisi paving block juga hanya memiliki lebar sekitar 1,5 meter.

Dari arah Sumurputeri, tepatnya dari arah kantor PDAM Way Rilau, bahkan harus dilalai dengan berjalan kaki sepanjang kurang lebih 500 meter untuk sampai di Kampung Bro. Sebab, daerah ini terpisah oleh aliran sungai dan tidak memiliki jembatan.

Sedangkan dari arah Kelurahan Negeriolok Gading, Jalan Setya budi, Telukbetung Barat, bisa dilalui menggunakan kendaraan bermotor. Namun, bagi pengguna kendaraan roda empat, terpaksa harus meninggalkan kendaraan di Kampung Serpung yang berjarak sekitar 300 meter dari Kampung Bro. (IYAR JARKASIH/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 7 November 2010

1 comment:

  1. sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan mas :D salam kenal :)

    English Teachers Urgently Required !!!

    A fast-growing National English Language Consultant is hunting for professional English Tutors with the following qualifications:

    i. Competent, Experienced, or Fresh Graduate
    ii. Proficient in English both spoken & written
    iii. Friendly, Communicative, & Creative
    iv. Available for being placed in one of the following branches:
    a. Bandar Lampung, Jln. Ahmad Yani No 7 A Bandar Lampung, Telp: 0721-261135
    b. Denpasar, Jln. HOS Cokroaminoto No 66 Block B, C, D Denpasar, Telp: 0361-422335
    c. Pekanbaru, Jln. Ahmad Yani No 187 Kel. Tanah Datar 28000 Pekanbaru, Telp: 0761-7641321
    d. Batam, Graha Pena Building 5th Floor, Suite 510, Jln. Raya Batam Centre, Batam, Telp: 0778-460785
    e. Balikpapan, BRI Building 8th Floor, Jln. Jend. Sudirman No 37 Klandasan BalikpapanTelp: 0542-737537
    f. Makassar, Graha Pena Building 8th Floor, Suite 807,809-812, Jln. Urip Sumoharjo, No 20 Makassar, Telp: 0411-451510
    g. Medan, Visit http://www.easyspeak.co.id
    h. Banjarmasin, Visit http://www.easyspeak.co.id

    If you meet the qualifications above, please send your resume to the address you are applying for or to our email: easyspeak.recruitment@gmail.com within 2 (two) weeks after this advertisement.

    Visit http://www.easyspeak.co.id for further information about our company.

    ReplyDelete