September 30, 2010

Sastra: 'Taman Pohon Ibu' Raih Krakatau Award 2010

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Setelah melalui perpanjangan waktu, lomba cipta cerpen Krakatau Award 2010 yang ditaja Dewan Kesenian Lampung akhirnya menetapkan cerpen Taman Pohon Ibu karya Benny Arnas (Lubuk Linggau) menjadi juara I.

Ketua Umum Dewan Kesenian Lampung Hj. Syafariah Widianti, biasa disapa Atu Ayi, menjelaskan lomba cipta cerpen tahun ini sungguh menggembirakan.

Agenda tahunan DKL yang berskala nasional itu masih menarik animo pelaku dan penikmat sastra. Hal itu terlihat dari peserta yang berasal dari berbagai kota/provinsi di Tanah Air. "Dari Aceh hingga Sulawesi, inilah yang menggembirakan kami," ujarnya.

Dia juga menjelaskan event Krakatau Award yang merupakan salah satu agenda tahunan DKL. "Inilah bentuk upaya kami mengolaborasikan sastra dengan budaya dan pariwisata. Secara tidak langsung, peserta mencari dan mengeksplorasi khazanah sosial budaya dan pariwisata di Lampung untuk dituangkan dalam karya sastra," kata Syafariah dalam rilis yang diterima Lampung Post, Rabu (29-9).

Hal senada diakui Koordinator Krakatau Award 2010 Isbedy Stiawan Z.S. Dia mengatakan perpanjangan pengiriman naskah itu disebabkan niat DKL untuk menyatukan kegiatan ini dengan Lampung Arts Festival (LAF).

"Mudah-mudahan, pemenangnya bisa diundang ke event LAF dalam waktu dekat ini. Pemenang akan kami kontak lagi jika sudah dijadwalkan," ujar Isbedy.

Krakatau Award 2010 diikuti 117 peserta dan 145 naskah. Mayoritas pesertanya berasal dari Sumatera dan Jawa, sementara segelintir saja dari Sulawesi dan Kalimantan. Isbedy mengatakan bagi pemenang I—IV akan mendapatkan uang tunai.

Dewan juri terdiri dari Kurnia Effendi, Oyos Saroso H.N., dan Arman A.Z. pada rapat Selasa (28-9) malam juga memutuskan juara II—IV, yaitu Sulaiman Pergi ke Tanjung Cina (Hanna Fransisca, Jakarta), Perjumpaan Misterius di Lereng Pesagi (M. Harya Ramdhoni J., Lampung), dan Cerita Lelaki di Balik Pigura (Alexander G.B., Lampung).

Dewan juri juga memilih enam cerpen nominasi non-ranking, yaitu Sisa Abu Hari Ini (M. Yudistira Kusuma, Jakarta), Kelapa Kupung (M. Amin, Lampung), Menunggu Musim Kupu-kupu (Nur Hadi, Jateng), Puan Taman (Alexander G.B., Lampung), Pewaris Tanah Tak Bertuan (Ni Luh Pik Parwati, Bali), dan Perawan Bukit Kulut (M. Harya Ramdhoni, Lampung).

Menurut juri, tema-tema yang ditawarkan peserta Krakatau Award cukup beragam, seperti krisis identitas warga pendatang, problematika sosial masyarakat, dan akulturasi budaya. Sejumlah cerpen berhasil mengangkat gagasan berlatar sejarah yang digarap dengan mengalir. Ada yang berupaya surealis dan simbolik.

Beberapa cerpen lain berkehendak menjejalkan ihwal-ihwal tentang Lampung dalam cerpennya hingga cenderung berlebihan. Masih banyak juga yang memasukkan idiom-idiom atau unsur lokal Lampung sebagai tempelan. (UNI/S-1)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 30 September 2010

September 29, 2010

Tragedi UBL Berdarah: Mahasiswa Tuntut Penyelesaian Tuntas

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Mandek dan tak ada penyelesaian. Begitulah makna aksi teatrikal oleh puluhan mahasiswa yang tergabung Komite 28 September dalam memperingati tragedi UBL Berdarah, Selasa (28-9).

PERINGATAN UBL BERDARAH. Puluhan mahasiswa menggelar aksi solidaritas ddi depan kampus Universitas Bandar Lampung (UBL), Selasa (28-9) memperingati 11 tahun Tragedi UBL Berdarah pada 28 September 1999. (LAMPUNG POST/ZAINUDDIN)

Telah 11 tahun sejak peristiwa unjuk rasa damai mahasiswa yang dibalas tembakan dan pukulan aparat keamanan yang mengakibatkan dua aktivis mahasiswa, M. Yusuf Rizal dan Saidatul Fitria, tewas.

Kala itu, Yusuf Rizal turut ambil bagian dalam aksi mahasiswa menolak Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (RUU PKB). Saidatul adalah aktivis pers mahasiswa pada surat kabar mahasiswa Teknokra yang tengah meliput peristiwa itu. Yusuf Rizal tewas diterjang peluru. Saidatul tewas dipukul popor senapan aparat keamanan.

Dalam pernyataan sikap yang disampaikan di depan kampus UBL kemarin, puluhan mahasiswa itu menuntut pengusutan tuntas kasus tersebut. Aksi diikuti oleh beberapa organisasi kemahasiswaan, seperti Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa Teknokra Unila, Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni Universitas Bandar Lampung, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Partai Rakyat Demokratik (PRD), dan SEMI.

Koordinator lapangan, Amir Harmidan (UKMBS UBL), dalam orasinya menyatakan sangatlah miris jika masyarakat Lampung melupakannya. "Tragedi ini terjadi ketika mahasiswa bersatu menolak kebijakan pemerintah karena bertentangan dengan semangat reformasi," kata Amir.

Ary Beni Santoso dari SKM Teknokra dalam orasinya menuntut perguruan tinggi membuat tugu peringatan. "Agar pengorbanan mereka tidak sia-sia dan semangat berjuang untuk keadilan dan masyarakat tetap terjaga," kata dia.

Sementara guru besar Unila, Irwan Effendi, yang merupakan saksi kunci peristiwa itu, kepada Lampung Post menceritakan penembakan itu tidak semestinya terjadi. "Hasil perundingan di Korem (Garuda Hitam, red), disepakati mahasiswa naik bus untuk langsung ke kantor gubernur. Ada 20 bus yang disiapkan, tapi entah dari mana ada lemparan batu dan terjadilah chaos dan penembakan itu," kata Irwan Effendi.

Berhentinya penyidikan kasus ini, menurut Irwan, karena pihak keluarga tidak melanjutkan tuntutan. Demikian halnya dengan Unila. "Saya tak tahu persis proses penyidikannya karena saya hanya ditugaskan untuk berunding," kata Irwan. (MG14/U-2)

Sumber: Lampung Post, Rabu, 29 September 2010

September 28, 2010

Legenda Danau Ranau Lampung Barat Menjadi Tari Kolosal

Liwa, Lampung Barat, 28/9 (ANTARA) - Cerita legenda Danau Ranau akan dijadikan tari kolosal dalam pelaksanaan Gebyar Danau Ranau Lampung Barat IV.

"Cerita rakyat berupa legenda naga danau akan ditampilkan dalam pembukaan Gebyar Danau Ranau IV di Kabupaten Lampung Barat, Oktober mendatang," kata Kepala Dinas Perhubungan, Pemuda dan Olahraga, Kabupaten Lampung Barat, Sudirman, di Liwa, Selasa.

Dia mengatakan, persiapan untuk itu telah dipersipakan matang," kata dia.

Menurut dia, tari kolosal tersebut akan mampu memberikan pengetahuan pada masyarakat terutama generasi muda.

"Lampung Barat memiliki sejumlah cerita tentang legenda masyarakat yang tak akan habis diceritakan, dan salah salah satu yang paling menarik di sini masyarakat di sekitar Danau Ranau masih mempercayai akan naga danau tersebut, sebab bedasarkan dari cerita turun menurun, naga danau dipercaya menjaga masyarakat sekitar," kata Sudirman.

Cerita rakyat yang mengangkat kehidupan masyarakat Lampung Barat tempo dulu, menjadi daya tarik bagi Lampung Barat.

Akar cerita tersebut memberikan warna bagi kehidupan masyarakat setempat yang kental akan tradisi leluhur yang terus dijaga setiap waktu hingga tak hilang di telan masa.

Cerita legenda naga Danau Ranau, menjadi salah satu cerita rakyat yang menarik untuk disimak dan diingat, sebab dari cerita tersebut, terkandung petuah yang yang bijak.

Tari "Kelekup Gangsa" merupakan garapan sendratari yang diangkat dari cerita legenda masyarakat Lumbok Lampung Barat yang berada di bantaran Danau rRnau, yang bercerita tentang asal mula naga yang menghuni danau tersebut.

Menurut cerita sebagian besar masyarakat dulu, tersebutlan Gelangsa (Kentongan) yang bewarna keemasan yang oleh masyarakat sekitar di sebut "Kelekup Gangsa" memiliki kesaktian, yang mana suaranya terdengar hingga penjuru negeri, selain itu dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Dari kesaktian "Kelengkup Gansa" tersebut, banyak orang yang penasaran ingin melihat benda itu, setelah melihat mereka pun berkeinginan memilikinya, dan mulailah beberapa orang tersebut, merencanakan untuk mencuri "Kelekup Gangsa".

Singkat cerita "Kelengkup Gangsa" berhasil dicuri, namun sesampainya di tepi Danau Ranau, "Kelengkup Gangsa" tersebut, semakin berat karena kekuatan lain menariknya. Akhirnya "Kelengkup Gansa" terlempar ke dalam danau dan berubah menjadi seekor naga keemasan dan membunuh pencuri tersebut.

Dari cerita ini, masyarakat setempat masih mempercayai akan mitos naga danau yang menghuni Danau Ranau.

Tari kolosan "Kelengkup Gansa" naga danau akan ditampilkan dalam Gebyar Danau Ranau IV, pada Oktober mendatang, dan tari legenda ini akan menjadi tari persembahan, karena penari yang berasal dari sanggar Setiwang binaan Pemkab Lampung Barat, akan menari di panggung yang berada di dekat danau.

"Saya optimistis tari kolosal ini akan menyedot ribuan pengunjung yang datang dalam acara tahunan di Danau Ranau, dan cerita rakyat yang diangkat dalam tarian tersebut, tentunya akan dapat mempercantik Lampung Barat sebagai daerah tujuan wisata," katanya.

Sumber: Antara, Selasa, 28 September 2010

Durian Kopi Luwak Minuman Khas Lampung Barat

Liwa, Lampung Barat, 28/9 (ANTARA) - Durian Kopi Luwak menjadi minuman khas dan sangat digemari masyarakat Lampung Barat, Provinsi Lampung.

"Minuman tersebut selain nikmat juga mampu menghangatkan badan serta berkhasiat," kata masyarakat, Pekon (Desa) Kubu Perahu, Kecamatan Balik Bukit Lampung Barat, Junaidi Tamrin (45) sekitar 278 Km dari Bandarlampung, di Kubu Perahu, Selasa.

Dia menjelaskan, kopi yang digunakan dalam minuman ini memiliki cita rasa tinggi, selain itu durian yang memiliki rasa yang khas mampu memberikan rasa yang beda pada minuman tersebut," kata dia.

Menurut dia, minuman durian kopi luwak menjadi minuman musiman.

"Jenis minuman kopi buah ini, tergolong menjadi minuman musiman, pasalnya minuman durian kopi luwak, dapat dijumpai saat musim durian seperti saat ini, sedangkan dihari biasa minuman ini jarang ditemui," kata dia lagi.

Kemudian lanjut dia, durian kopi luwak dapat menghangatkan tubuh dimalam hari, selain itu manfaat dari minuman ini dapat membangkitkan stamina," terangnya.

Kopi luak yang terdapat di Lampung Barat diolah menjadi minuman yang berbeda baik penyajian juga rasa, kopi ini diolah masyarakat setempat untuk dijadikan minuman campuran buah durian, sehingga rasa minuman tersebut begitu khas.

Durian kopi luwak sejak lama di manfatkan masyarakat sebagai minuman penghangat tubuh di malam hari, sebab di daerah itu memiliki suhu yang dingin, sehingga saat musim durian, hampir setiap malam masyarakat membuatnya.

Masyarakat Lampung Barat mempercayai bahwa minuman durian kopi luwak berhasiat memulihkan stamina, selain itu mampu memberikan tenaga baru.

Kopi luwak yang diseduh menggunakan buah durian mampu menciptakan aroma kopi yang unik, selain itu rasa khas kopi luak dan durian dapat menyatu dan menghasilkan rasa yang berbeda.

Minuman ini biasa disuguhkan pada malam hari, disaat suhu dingin mulai menyerang, selain itu minuman durian kopi luak, dapat ditemui pada saat musim durian seperti saat ini, sedangkan dihari biasa jarang sekali ditemui.

Musim durian di beberapa wilayah di sumatera di rasakan pula oleh masyarakat Lampung Barat, terlihat dengan menjamurnya pedagang durian di pasar maupun di di area kota.

Membuat minuman durian kopi luwak tergolong mudah, hanya menyiapkan kopi luwak dan beberapa biji durian, setelah itu dicampur dengan gula, kemudian di aduk, semakin kental minuman tersebut, maka rasanya pun semakin nikmat.

Sementara itu warga lain yang berada di Kota Liwa, Kecamatan Balik Bukit, Lampung Barat, Nurhadi (41) mengatakan, minuman durian kopi luwak menjadi minuman wajib saat musim durian.

"Jenis minuman ini menjadi minuman wajib saat musim durian, bahkan terasa tidak lengkap bila musim durian tidak membuat minuman ini," kata dia.

Dia mengatakan, kopi luwak dipilih dapat memberikan rasa yang khas pada minuman ini," kata dia.

Menurut dia, minuman durian kopi luwak, menjadi minuman khas masyarakat Lampung Barat, dan menjadi minuman saat malam hari.

Sumber: Antara, Selasa, 28 September 2010

September 27, 2010

Pendidikan Sastra, Seuntai Berlian yang Belum Terasah

Oleh Laila Putri Rizalia

Bait-bait menyentuh hati selalu menjadi bunga indah dari pohon-pohon sastra. Dunia sastra senantiasa memberikan nuansa lain dalam kehidupan sosial, dengan menyibak berbagai sisi jagad beserta isinya. Bisa dikatakan, dunia tanpa sastra laksana dunia tanpa cahaya. Sayangnya, hingga kini sastra masih dianaktirikan oleh dunia pendidikan.

Pendidikan sastra secara formal masih menjadi salah satu materi yang diajarkan, mulai dari SD, SMP hingga SMA di dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Namun, pendidikan sastra seolah hanya menjadi pelengkap dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Bulum maksimalnya pendidikan sastra dan berbagai faktor lain memungkinkan lunturnya kekentalan sastra Lampung. Mungkinkah ada perhatian khusus terhadap pendidikan sastra hingga ke sastra daerah kelak?

Selami Nilai Kemanusiaan

Sastrawan Lampung Zulkarnain Zubairi mengatakan, dalam pertumbuhan sastra, peran pendidikan formal hampir tidak bisa disebutkan. "Pendidikan formal relatif sangat kecil untuk menghasilkan sastrawan. Bisa dibilang, penyair besar di jalanan, bukan karena pendidikan sastra," ucapnya sambil tersenyum. Peraih Hadiah Sastra Rancage 2008 lewat karyanya Mak Dawah Mak Dibingi (2007) ini memandang hampir semua sastrawan yang ada di Lampung mahir secara otodidak.

Dia juga mengungkapkan keprihatinannya tentang kurangnya pengetahuan mendasar mengenai sastra dari kalangan guru. Fenomena ini dinilai pria yang mempunyai nama pena Udo Z Karzi ini, mengurangi iklim kesuburan sastra Lampung yang dikenal sebagai negeri penyair atau gudang penyair di kancah sastra nasional. "Sastrawan Lampung banyak lahir karena lingkungannya dan media yang ada," ujarnya.

Dari kacamata Udo, terpisahnya pendidikan sastra dari mata pelajaran Bahasa Indonesia menjadi kondisi ideal pendidikan bidang sastra. "Saat ini keterampilan bahasa siswa yang meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis kurang terasah," sesalnya. Kondisi ini yang melahirkan banyaknya keluhan dari banyak pihak mengenai merosotnya kemampuan menulis masyarakat.

Pada umumnya siswa, bahkan masyarakat Indonesia mulai memiliki kecenderungan kurang tertarik pada bahasa Indonesia. Orang Indonesia mulai lebih bangga dengan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Kalau kemampuan berbahasa Indonesianya payah, sulit berharap mereka menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat kreativitas. "Tapi, masalahnya kreativitas seperti menulis sastra dalam bahasa asing pun hampir tidak bisa dilakukan masyarakat," keluh Udo lagi.

Pengaruh perkembangan teknologi informasi, kata dia, menjadi salah satu faktor dominan dari latar belakang permalasahan ini. Belum lagi menjamurnya berbagai bahasa tidak resmi yang menurut dia kurang jelas asal-muasalnya, seperti bahasa prokem dan bahasa alay. Bahasa-bahasa tersebut jelas tidak bisa turut sumbangsih di dalam dunia sastra, sehingga hanya menjadi benalu.

Udo memaknai sastra sebagai seni bahasa yang berbicara tentang kehidupab. Dengan sastra, manusia bisa memahami nilai-nilai kemanusiaan seperti kejujuran, kebenaran, dan demokrasi. Dengan memba sastra, dia menjamin hati dan jiwa seseorang tidak akan kering. Pemimpin yang membaca sastra pun bisa memutuskan segala perkara dengan sisi empati yang tinggi. Bagi sastrawan sendiri, Udo yakin mereka memiliki kepuasan sosial tersendiri usai menghasilkan karya.

Sejauh ini, Lampung memiliki lingkungan yang sangat kondusif untuk melahirkan sastrawan. Dengan kondisi tidak ideal seperti sekarang saja, Udo telah melihat banyak bibit-bibit generasi penyair atau sastrawan muda yang mempunyai kemampuan wahid. Dia berharap sastra Lampung yang telah tiga tahun mendapatkan penghargaan di kancah nasional, dapat terus berjaya di kemudian hari.

Peran Besar Guru Bahasa Indonesia

Besarnya nama Lampung dalam kancah sastra nasional juga diamini dosen Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Lampung (Unila) Muhammad Fuad. Dia mengakui lemahnya kemampuan guru Bahasa Indonesia terkait materi sastra. Berdasarkanb keluhan banyak guru berbagai tingkat sekolah kepadanya, memang para guru mengalami kesulitan dalam penyampaian materi sastra, sehingga pengetahuan siswa pada ranah sastra belum maksimal.

"Ada hanya untuk menjawab pertanyaan dalam ujian nasional, belum sampai meningkatkan potensi sastra siswa," ujarnya. Kurikulum yang digunakan dalam dunia pendidikan Indonesia sendiri, menurut Fuad, adalah kurikulum yang bebas dikembangkan para guru. Namun, memang praktik di lapangan belum maksimal.

Cara mengajar guru Bahasa Indonesia masih sangat konvensional, meski ada guru Bahasa Indonesia yang memiliki kemampuan dan penalaran yang apik pada bidang sastra. Ketidakmaksimalan guru ini diduga Fuad berdasarkan ketidakintegratifan para guru ketika menyelesaikan masa studinya dulu.

Meski masih diikutsertakan dalam pelajaran Bahasa Indonesia, Fuad mengungkapkan pendidikan sastra akan lebih maksimal manakala pembagian waktu yang diberikan bagi pendididikan sastra diperbanyak. "Hal ini juga tidak lepas dari peran besar guru melalui kompetensi yang memadai," tekannya lagi.

Untuk menarik minat siswa, dia menyarankan agar guru menyampaikan manfaat materi pembelajaran. Fuad beranggapan sastra dapat melatih kejujuran dan pengungkapan ekspresi tentang apa yang dirasakan dan dipikirkan siswa. Dengan terbiasa jujur, maka dalam kehidupan ke depan mereka pun akan terbiasa jujur.

Sikap kritis juga salah satu hal yang positif diungkap melalui sastra. Kritis dalam banyak hal dan perhatian hingga ke hal yang detail. Sastra pula yang melatih daya imajinasi siswa untuk lebih dikembangkan. "Sayangnya, tidak semua guru memiliki pemahaman hingga ke manfaat tersebut. Panggilan jiwa sebagai guru tidak mereka hargai. Hanya mengajar semata untuk memenuhi kewajiban mereka," kritik Fuad.


Sebab minimnya perkembangan pendidikan sastra di sekolah

> Belum terpisahnya pendidikan sastra dari mata pelajaran Bahasa Indonesia

> Minimnya pengetahuan guru mengenai pendidikan sastra

> Banyak sarjana sastra yang tidak menerapkan ilmunya untuk perkembangan pendidikan sastra di sekolah

> Pendidikan bahasa Indonesia lebih mengedepankan tata bahasa, sedangkan sastra hanya sekadar sisipan

> Pengaruh kemajuan teknolgi informasi dan gempuran bahasa lain, seperti bahasa asing, bahasa prokem, dan bahasa alay

Sumber: Siger Post, Edisi 29/TH I, 27 September--3 Oktober 2010

Pergerakan Rakyat Di Liwa Tempo Doeloe

Oleh M. Arief Mahya


Pendahuluan

DALAM rangka menyonsong peresmian Kabupaten Lampung Barat, dengan ibu-kotanya di Liwa, barang kali ada manfaatnya apabila tulisan ini menyingkapkan sekilas pergerakan rakyat di Liwa tempo doeloe, di masa pernah turut berkiprah mengikuti nada dan irama, hiroik perjuangan kebangkitan nasional, di zaman kolonial tahun 1925-1943 (masih di zaman Belanda dan Jepang).

Pengungkapan ini dirasakan perlu, mengingat bahwa partisipasi masyarakat atau "support" rakyat setempat, adalah faktor penting bagi menunjang adanya kenyamanan, bagi keberadaan suatu "zitel" Pemerintahan, baik bagi para pejabat dan pegawai instansi-instansi, dalam menjalankan roda pemerintahan (regeren), maupun membuat pengaturan (ordeneren), menuju tercapainya tujuan pembentukan seperti seluruh rakyat dan kemajuan masyarakat setempat, dalam segala aspect kepentingan bangsa, serta negara RI pada keseluruhannya.

Itulah maksud untuk supaya masyarakat Liwa, yaitu segenap penduduk yang bermukim di Desa Desa dilingkungan bekas Marga Liwa, kiranya dengan menoleh ke belakang, akan lebih berhati tulus disertai penuh kesyukuran kepada Tuhan, mampu dengan semangat yang kuat saat Kabupaten Lampung Barat, yang akan diresmikan tak lama lagi.

Keadaan Di Masa SI

Pada tahun 1925-1926, banyak rakyat Marga Liwa, ditangkapi dan dibuang (di-internir) Pemerintah Kolonial Belanda gigih melakukan razia penduduk, penggeledahan di Dusun Dusun, sehubungan issu banyak penduduk Liwa diduga sebagai Simpatisan SI (Syarikat Islam) Merah, yaitu pergerakan yang pro komunis, masuk secara menyusup dari Sumatera Barat. Situasi pada waktu itu memang pemberontakan "komunis" sedang berkecamuk, juga pada beberapa tempat yang dekat dengan Liwa-Krui, ialah di Padang, di Banten dan lain-lain. Beberapa orang Tokoh PKI Krui waktu itu juga di tangkap dan dibuang ke Boven Digoel. Di antaranya Tokoh anti penjajah terkenal Sadaruddin (Pulau Pisang-Krui) dan lainlain.

Isu mengenai ada penduduk Marga Liwa terlibat SI Merah dan ada hubungan dengan Sadaruddin tersebut, sempat membuat Pemerintah Kolonial bersikeras hendak menangkap K.H.Bakri (Dusun Suka Marga-Liwa)
Usman (Dusun Kesugehan-Liwa), H.Fadhlulloh dan lain-lainnya.

Maka terjadilah Usman ditangkap dan di-internir pula ke Boven Digoel. K.H.Bakri dan H.Fadhlulloh menghindar pergi ke Makkah lalu sekaligus kedua beliau bermukim sambil mendalami ilmu agama, beberapa tahun lamanya di Makkah. Kemudian K.H.Bakri pulang ke tanah air dan pindah ke Negara Batin-Kota Agung (Lampung Selatan). Setelah Indonesia merdeka maka K.H.Bakri diangkat menjadi Kepala Kantor Urusan Agama Kewedanaan Kota Agung. Ketika "Kewedanaan" dihapuskan, K.H.Bakri menjadi Kepala KUA Kecamatan Kota Metro. Kemudian beliau minta pindah, menjadi Kepala KUA Kecamatan Sukadana (Lampung Tengah). Di Sukadana beliau diangkat masyarakat Lampung "Abung Sewo Mego" menjadi saudara (sewaghian). Beliau sempat pensiun kemudian meninggal dan bermakam di Sukadana. Dan H.Fadhlulloh meninggal dunia di Makkah.

Pergerakan Sosial Keagamaan

Pada tahun 1930, organisasi Perserikatan Muhammdiyah masuk Liwa. Atas usaha H.Siraj Idris (Dusun Gedung Asin-Liwa), ayah dari M.Arsyad Siraj (Mantan Kepala Negeri Balik-Bukit). Selaku Initiatief-nemer pembentukan Muhammadiyah Liwa itu, H.Siraj Idris berhubungan langsung dengan Pengurus Muhammadiyah Cabang Betawi (sekarang. Jakarta). Maka pada tahun itu datanglah ke Gedung Asin dari Betawi; Kartosudarmo, Suta Laksana dan Jayasukarta, memberikan petunjuk-petunjuk pengarahan sekaligus meresmikan terbentuknya Muhammadiyah Grup Liwa, yang beranggota baru sebanyak 9 orang saja dengan Pengurus ialah; Dja'far (Dusun Suka Negeri=Kota Liwa Sekarang) selaku Ketua, Abd.Kadir Barlian dan H.Siraj Idris (Dusun Gedung Asin), masing-masing sebagai Sekretaris dan Bendahara yang berkedudukan di Gedung Asin. Dusun Gedung Asin tersebut adalah pernah tempat Pasirah (Kepala Marga) Marga Liwa pada zaman sebelum jabatan Pasirah itu beralih kepada Abd.Rahmat Ulu-Liwa. Pada zaman Kolonial Belanda dan sampai tahun 1944 Marga Liwa termasuk dalam Keresidenan Bengkulu (Benkoelensche-Residentie).

Waktu itu semua kampung yang ada di bawah marga di daerah Keresidenan Bengkulu disebut dengan sebutan "Dusun". Kepala Pemerintahnya disebut "Peroatin". Jadi "Dusun" di daerah Bengkulu dulu itu setingkat dengan "Desa" sekarang. Hanya dulu di atasanya ialah "Marga" yang dikepalai "Pasirah". Sekarang telah diseragamkan di atas Desa ialah "Kecamatan" yang dikepalai "Camat". Semua Marga dan Pasirah telah ditiadakan sesuai Undang-Undang Pokok Pemerintahan di daerah, ketentuan peraturan yang sedang berlaku sekarang.

Dusun Gedung Asin, Liwa itu dulu tempatnya di atas dataran pada kaki bukit "Sepulang" lebih kurang 600 meter dari kota Liwa sekarang. Dusun itu sudah tidak ada lagi akibat gempa hebat tahun 1933 merubuhkan semua rumah penduduk, maka sejak itu semua penduduk Gedung Asin pindah di sekitar Dusun Pekon-Tengah yang kini telah dijadikan satu Desa dengan nama Desa "Sebarus".

Pada tahun-tahun permulaan adanya Muhammadiyah di Liwa itu, pada umumnya penduduk Marga Liwa bahkan penduduk Gedung Asin dan Pekon-Tengah sendiri, banyak belum mau masuk Muhammadiyah itu. Sebab masih diliputi rasa khawatir (Trauma) issu SI Merah sebelumnya seperti tersebut terdahulu. Dan karena Tuan Guru K.H.Abd.Hamid (Penghulu Marga Liwa) penduduk Gedung Asin juga tidak sepaham dengan Muhammadiyah. Beliau adalah penganut paham "Ahlussunnah Wal-Ja ma'ah" yang konsekuen hingga wafatnya. Tetapi beliau adalah seorang Ulama' yang berwibawa besar menjadi panutan kebanyakan ummat Islam bukan saja di Marga Liwa, tetapi juga di seluruh Balik-Bukit zaman itu. Beliau adalah Datuk dari H.Abd.Rahman Raja Pendeta Marga (Pensiunan Peg.Inspeksi Pajak T.Betung) sekarang di Metro. Juga Tuan Guru tersebut, adalah Datuknya Drs.Choirul Tabrani (Ass.Sekwilda Kab.Lampung Utara) sekarang.

Demikian Muhammadiyah yang masih dianggap "Kaum Muda" di masa itu bergerak dan melangkah dengan lebih dahulu membuka "Madrasah Muhammadiyah" bertempat di rumah Syahri Suka negeri (Kota Liwa), dengan murid baru sebanyak 20 orang, dimulai dari tahun 1931 dengan Guru pertama kalinya ialah Mu'allim Hidayat (Jawa-Barat), yang khusus ditugaskan oleh Pengurus Muhammadiyah Cabang Betawi untuk menjadi Guru & Meuballigh Muhammadiyah di Liwa. Sebelum itu Guru Idrus di Krui sudah lebih dahulu membuka "Madrasah" di Pahmungan Krui-Pasar.

Dari Liwa ada juga anak yang dimasukkan di Madrasah tersebut. Mendengar bahwa telah ada "Madrasah Muhammadiyah" di Liwa, maka Guru Idrus segera memindahkan semua muridnya itu ke Madrasah Muhammadiyah di Liwa dan beliau sendiri turut jadi Guru dan membinanya. Sebelum gempa tahu 1933 terjadi, kebetulan Al-Ustaz K.H.Rais Latief (Pekon-Tengah) ayah dari Sazli Rais (Penyiar TVRI), pulang ke Liwa dari Mesir setelah beliau beberapa tahun belajar ilmu agama; pada Al-Azhar University Kairo, maka beliau langsung turut memperkuat bersama H.A.Murad (Gedung Asin) ex.belajar di Makkah juga menghajar pada madrasah Muhammadiyah di Suka Negeri itu mulai tahun 1932 sampai 1935.

Semenjak Madrasah Muhammadiyah itu berkemajuan dengan murid yang bertambah banyak, maka anggota Muhammadiyah Liwa mulai bertambah sehingga mampu membangun rumah sekolah sendiri di Pekon-Tengah.

Turut mempera-karsai dan menyemangatkannya Abd.Hadi (Bengkulu) Mubaligh kawakan Muhammadiyah masih famili Hj.Fatmawati (Isteri Bung Karno/Mantan Ibu Negara Pertama). Maka lalu pada tahun 1936 Madrasah itupun dari Suka Negeri dipindahkan di Pekon-Tengah sekaligus berganti Guru dengan Al-Ustaz K.Harun Syarief (Batubrak) abiturien Al-Irsyad Betawi, ayah dari Fauzi Harun (Peg.Diperta Provinsi Lampung), (Peg. RRI Tanjung Karang). Madrasah Muhammadiyah di Pekon-Tengah ini lantas bertambah maju, muridnya kian bertambah banyak tidak saja dari sekitar Marga Liwa tetapi juga dari Belalau, dengan pelajaran 50% agama dan 50% pengetahuan umum di mana selain Bahasa.Arab, juga diajarkan Bahasa Inggris dan Belanda sesuai leerplan "Standaardschool Muhamamdiyah" secara nasional. Kemudian pada tahun 1939 Muhammadiyah Liwa mendapat Tambahan Guru ialah Darussamin Sa'ada (Sum.Barat) abiturien Sumatera Thowalib & Normal-School. Maka status Muhammadiyah Liwa sejak itu ditingkatkan menjadi "Cabang Liwa". Kegiatannya tidak hanya di bidang persekolahan saja tetapi juga menghidupkan kursus-kursus kewanitaan, kepemudaan dan kepanduan serta penyantunan sosial. Konsolidasi organisasi Pemuda Muhammadiyah, 'Aisyiyah dan Nasyiahnya, Pandu "Hizbul-Wathon" (H.W) digerak dan dimajukan. Anggota dan Grup Muhammadiyah sudah ada pada beberapa Dusun baik di Marga Liwa sendiri juga di daerah Belalau dan Sukau.

Pada tahun 1939 itu diadakan Konperensi Cabang Ke-I Muhammadiyah Liwa, bertempat di Pekon-Tengah yang dihadiri selain oleh utusan Grup grup juga dihadiri Consul Hoofd-Bestuur Muhammadiyah Daerah Lampung, Palembang & Bangka yang diwakili oleh H.Zen Arifin Ketua Wakil Majelis Pemuda Muhammadiyah (WMPM) dari Palembang, juga utusan Muhammadiyah Krui K.R.Chotman Djauhari serta 1 Pasukan H.W. dari Grup Muhammadiyah Talangparis-Bukit Kemuning (orang-orang Liwa) dipimpin Meneer Sutan Sema'in (Sum.Barat), Guru Ghazali Halim (Sum.Barat) abiturien Sumatera Thowalib serta Idris Mu'in (Gedung Asin-Liwa) datang ke Liwa jalan kaki melalui Kebun-Tebu, Mutaralam (Way Tenong), Dusun Baru, Way Semaka (Belalau) selaku pegembira.

Pada tahun 1940 Muhammadiyah Cabang Liwa turut menggembirakan Konperensi Muhammadiyah di Kotabatu (Ranau) dengan 2 Pasukan H.W. Beberapa anggota Muhammadiyah, 'Aisyiyah dan Nasyiah. Dari Krui hadir K.H.Damanhuri.Muhammadiyah Grup Kotabatu (Ranau) waktu itu di tokohi A.Maulana (Kerio Pagar Dewa) dan K.H.Basri (Sukajaya) serta Ishak (Pagar Dewa), dengan Guru & Muballigh Guru Bangsa Raja (Menggala) abiturien Tabligh-School Muhammadiyah Yogyakarta dan Guru Mu'in Ghani (Sum.Barat) abiturien Sumatera Thowalib & Kulliyatul-Mu Ballighien Sum.Barat serta Guru Adli (Pagar Dewa) ex.Malaisia.

Pada tahun 1940 itu juga dilangsungkan Konperensi Cabang Ke-II bertempat di Krui-Pasar. Selain dihadiri para utusan Grup, 'Aisyiyah, Pemuda, Nasyiah, Konperensi di Krui itu juga dihadiri langsung oleh R.Z.Fananie (Consul HB Muhammadiyah Daerah Lampung, Palembang & Bangka), sehingga Konperensi berlangsung lebih meriah dan berbobot, dihibur dengan Toneel-opvoering (Sandiwara) oleh para Pemuda Muhammadiyah Krui, mementaskan cerita "Anak orang kaya dan orang miskin" berkesan suggetief supaya Pemuda Indonesia bergairah menuntut ilmu. Dan kalau pada Konperensi Ke-I di Liwa ditampil 2 orang murid memperlihatkan kebolehan murid Muhammadiyah mentilawah Al-Qur;an dan pidato sejarah perjuangan Nabi Saw, maka pada Konperensi di Krui tersebut ditampilkan pula kebolehan murid Wustho Mu'Allimien Muhammadiyah Liwa berpidato dalam bahasa Inggris dan Belanda.

Tahun 1941 Konperensi Cabang Ke-III diadakan di Pugung Penengahan (Pesisir Utara Krui) yang berlangsung mulus dan menyenangkan, satu dan lain karena pasirah Pugung waktu itu kebetulan simpatisan muhammadiyah, ialah ayah dari H.A.M.Dulaimi (Mantan Camat Balik-Bukit) sekarang di Yosodadi-Metro. Pasirah Pugung tersebut adalah juga Datuknya Henry Yosodinigrat,SH (Pengacara Kondang) asal Lampung Barat.

Memang sebelum Konperensi cabang Ke-II di Krui, tepatnya pada tahun 1939 Muhammadiyah cabang liwa membuka sekolah "Wustho Mu'allimien Muhammadiyah" (onderbouw-Kwewkschool) di kota Liwa, dengan Direktur & Guru vak agama ialah Darussamin Sa'ada. Guru Vakumum (pelajaran-pelajaran: tata negara, algebra, Meetkunde, adryskunde, Dierkunde, Plantkunde, Wetboek van straf-recht, bahasa Inggris dan bahasa Belanda) adalah oleh Meneer Syahar (Sum.Barat) abiturien Mulo Afdeeling B.Sum.Barat. Meneer Syahar sebelumnya itu adalah Pegawai Menengah STANVAC Palembang bergaji 300 gulden/bulan rela minta berhenti dari STANVAC itu, karena demia untuk memajukan WUSTHO MU'ALLIMIEN MUHAMMADIYAH Liwa tersebut, yang oleh Muhammadiyah hanya diberi gaji 40 gulden/bulan plus jaminan makan dan tempat tinggal. Gaji sebegitupun dibayarkan secara cicil-cicilan.

Pada akhir tahun 1941 Meneer Syahar pulang ke Sum.Barat, Guru Darussamin Sa'ad kembali ke tempat martuanya di Dusun Tubuhan-Baturaja (Sum.Selatan),Kemudian ke Lampung dan pada tahun 1942 beliau membuka Kursus Mengetik & Boekhouding "DAS "A D" di Tanjung Karang.

Dari akhir tahun 1941 sampai tahun 1942 Sekolah Muhammadiyah Liwa tersebut, diasuh oleh K.H. Djafar Dahamin (Dusun Kesugehan, Liwa) eks belajar agama beberapa tahun di Malaysia. Kemudian berganti di asuh oleh K.H.Damanhuri (Lintik-Krui) abiturien Jam'iyatul-Khoir Betawi, bersama K.R.Chotman Djauhari (Pedada-Krui) abiturien TABLIGH-SCHOOL & ZU'AMA MUHAMMADIYAH Yogyakarta. Lalu Sekolah itu dipindahkan jadi satu di Pekon-Tengah pada zaman Jepang itu.

Pada tahun 1942-1943 anggota Muhammadiyah telah ada di Sukaraja, Mutaralam (Way Tenong), dengan Pengurus Grupnya di Dusun Karang Agung pernah membuka "Madrasah" juga, meskipun bertempat di kolong rumah penduduk dan bangku mejanya tersebuat dari pelupuh bambu tapi muridnya cukup banyak. Way Tenong di masa itu masih dikelilingi hutan balan-tara dan terisolir. Jalan Raya dari Dusun Baru baru sampai di Way Mengkidik/Way Kabul. Jalan raya Bukitkemuning baru sampai di Bedeng Tinggi dekat Sumber Jaya sekarang.

Unsur Pengurus Besar (Hoofd-Bestuur) Muhammadiyah yang pernah ke Liwa dari Yogyakarta ialah K.H.Hisyam. Hal tragis yang menimpa ialah Ketua (Voorzitter) Muhammadiyah Cabang Liwa waktu itu ialah M.Anwar bin M.Amin (Tanjung, Pekon-Tengah) oleh Pasirah dikenakan BPP (Badan Pembantu Perang) Jepang. Dipaksa turut menggali guwa pertahanan Jepang di Branti (Lampung Selatan). Karena kerja berat dan kurang permakanan serta tanpa pengobatan beliau meninggal dunia menyedihkan tahun 1943 itu, diserang sakit keras (muntaber dan kolera).

Pada sekitar tahun 1936 organisasi sosial keagamaan lainnya menyusul masuk ke Marga Liwa, Yaitu Jam'iyah Nahdlatul Ulama' (NU).

Pembawa pertama NU di Liwa itu adalah K. Ahmad Amirin (Dusun Negeriagung, Liwa) melalui jalur Pengurus NU Cabang Krui, maka disusunlah Majelis Wakil Cabang (MWC-NU Liwa). Dulu disebut MWT-N.O.Liwa berkedudukan di Negeri Agung, Dusun tempat Pasirah Marga Liwa di masa itu. Lalu anggota NU cepat saja menjadi banyak baik di Negeri Agung sendiri maupun di Dusun Lainnya, seperti di Dusun Kesugehan, Suka-Marga, Kesugehan-Baru, Kota-Agung, Gunungsugih, Watos, Padang Dalom, Umbul Limau, Bahway Jejawi, Kuningan dan Teratas, sebagian Way Mengaku, Tanjung-Kemala dan sekitarnya. Bahkan kemudian anggota NU banyak pula di Belalau, antara lain di Dusun Baru, pernah ada Madrasahnya. Juga di Kembahang dan di daerah Sukau. Oleh karena memang kaum muslimin dan muslimat di Dusun dan tempat tersebut, kebanyakanya adalah penganut paham "Ahlussunnah Wal-Jama'ah". Otomatis mudah saja diajak menjadi anggota NU. Minimal mereka sendirinya menjadi Simpatisan NU.

Pergerakan dan kegiatan NU Liwa juga mulanya membuka "Madrasah". memperbanyak Tabligh, pengajian dan kursus-kursus. Meng-organisir kaum muslimat menjadi "Muslimat NU", para pemuda di-ikat menjadi anggota "GP Anshor", para puteri di-organisir ke dalam "Fatayat NU".

Di Liwa GP Anshor waktu itu masih berbentuk dan disebut "PANDU ANSHOR". Aktivitas geraknya baru di sekitar pelajaran kepanduan.

MWC-NU Liwa dengan segala kegiatannya waktu itu menjadi lebih bersemangat kuat dan maju, setelah kedatangan K.H.Fadhil ke Liwa dari Tanjungraja (Marga Rebang Seputih) Kotabumi. Beliau memang seorang Ulama' "tempaan NU" dari sumbernya, karena pernah lama mendalami pemahaman agama dan NU pada para Ulama' dan pendiri NU di Jawa Timur

Selaku Guru & Muballigh NU K.H.Fadhil waktu itu langsung aktief membina organisasi NU Liwa, sambil turut mengajar pada "Madrasah NU" di Negeri Agung. Di masa itu K.H.A.Wahab Hasbulloh selaku Rois 'Am Syuriyah Pengurus Besar NU juga pernah datang ke Negeri Agung, memberikan spirit menyemangatkan pergerakan NU di Liwa.

Kemudian K.H.Fadhil pada akhir tahun 1940 meninggalkan Liwa pulang kembali ke tempatnya. Dan Madrasah NU di Negeri Agung itu terus berjalan dengan asuhan para Guru lainnya yang masih ada.

Tapi, lalu terjadi bak kata pepatah; "patah tumbuh, hilang berganti", pada bulan Januari 1941 K.H.Abd.Hay Ma'mun (Negeri Agung) sampai di Negeri Agung, sekembali beliau dari Makkah bersama rombongan para Muqiemien Indonesia ke tanah air sehubungan perang dunia II.

K.H.Abd.Hay Ma'mun pulang ke Liwa itu setelah beliau bertahun-tahun mendalami ilmu agama pada Darul-'Ulum Makkah. Beliau adalah ayah dari Drs.Zulyaden Abd.Hay (Dosen Unila). Mulai bulan Februari 1941 beliau langsung aktief membina dan menyemangatkan kegiatan NU Liwa, ialah selain selaku Pembina organisasi NU MWC-Liwa, beliaupun segera bertindak mengepalai dan turut mengajar pada Madrasah NU Liwa, menggantikan K.H.Fadhil. Ketika itu Madrasah NU Liwa di Negeri Agung bertambah maju dan kuat. Murid-muridnya semakin banyak, baik murid putera dan juga puteri. Beliau mengajar dibantu oleh para Guru NU ialah; K.H.Husin (Dusun Watos), M.Yatim (Dusun Padang-Dalom), Ma'ad (Krui) dan M.Napis (Manna). Pada masa itu MWC-NU Liwa pernah mengadakan "Openbaar Besar" (Tabligh Akbar) di Negeri Agung, yang berlangsung sangat meriah dan menggelorakan. Tokoh Tokoh NU yang datang dari Palembang: K.H.Abubakar Bastari, Abdulloh Gathmyr dan K.H. Tjik Wan.

Kondisi K.H. Fadhil kini telah sepuh, tetapi beliau tetap selaku salah satu "Sesepuh NU" dengan menetap di Lampung Selatan.

Setelah Indonesia merdeka K.H.Abd.Hay Ma'mun, sempat menjadi Kepala KUA Kecamatan Balik-Bukit hingga pensiun, di mana sebelumnya juga beliau pernah menjabat Penghulu Marga di Marga Liwa. Kini beliau pun telah sepuh dan menetap di Bandar Lampung.

Menggerakkan pendidikan agama di Liwa pada masa itu, juga K.H.A.Fattah (Sukanegeri). Beliau membuka perguruan tarbiyatul-islamiyah (Perti) di Kota Liwa, dengan Santeri yang cukup banyak dari berbagai Dusun Marga Liwa dan dari daerah lainnya, memberikan pelajaran agama 100% mendalami pemahaman dengan menggunakan "kitab-kitab kuning", bagi para Santeri yang telah pandai dan mahir bahasa Arab. Kini K.H. A. Fattah itu telah wafat, dimakamkan di Bandar Lampung.

Pergerakan Politik

Mengenai pergerakan poltik di Liwa tempo doelos (tahun 1937-1943) Partai Politik yang ada waktu itu, hanyalah PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia). Permulaan PSII masuk di Liwa adalah juga pada sekitar tahun 1932. Dibawa oleh Marfa'i (kakak dari Guru Akmal).
Tanjungjati-Ranau, disambut oleh H.Zaini (Pekon-Tengah), Maka terbentuklah Kring PSII Liwa ketika itu dengan pimpinannya ialah H.Zaini. Pada masa itu penduduk Liwa masih enggan untuk menjadi anggota Partai, sebab trauma issu SI Merah masih ada, juga oknum-oknum Pemerintah setempat masih banyak menakut-nakuti agar rakyat tak usah ber-organisasi apapaun juga.

Tetapi karena tindakan pemerintah begitu keras mencurigai penduduk yang menonjol (pandai), juga memperlakukan mereka dengan pembesaran berbagai pajak, pemaksaan mesti kuli memperbaiki jalan, rodi, memecah batu, kerja gemente dan sebagainya, tanpa memberi pertimbangan kebijaksanaan sedikitpun atas keberatan dan halangan rakyat lemah, serta tekanan lain. Maka akibat kezoliman tindakan Kolonial itu malahan lalu membuat banyak penduduk Marga Liwa tertarik dan masuk menjadi anggota PSII. Di mana para Tokoh PSII masa itu ternyata sungguh sungguh banyak membela nasib rakyat yang tertindas, seperti pembelaan oleh HOS Cokroaminoto mengenai persoalan menyangkut rakyat dalam problema kaum tani gunung "Seminung", pembelaan kepada para anggota PSII yang tersangkut dalam tahanan berwajib atau perkara (sipil maupun kriminil) dan sebagainya. Demikian maka PSII di Liwa kala itu kian maju dan berkembang.

Guru Akmal (Pemimpin terkemuka PSII Ranau) ketika itu banyak berkunjung ke Liwa, menyemangatkan pergerakan PSII di Balik-Bukit. Kaum wanita di-organisir ke dalam "Wanita PSII", para pemuda dihimpun teguh dalam PMI (Pemuda Muslimin Indonesia) serta kepanduan Siap (syarikat Islam Afdeeling Pandu). Semua keanggotaan PSII dan anggota organisasi onderbouwnya itu disahkan melalui procedure "candidat" lebih dahulu, Kalau kemudian telah ternyata bersungguh-sungguh mantap berdisiplin, patuh dan setia sesuai "Statuten" (Anggaran Dasar) dan "Huishoudelijke-Regelemen" (Anggaran Rumah-Tangga) Partai," Beginsel" (Tafsir Azas) Partai, barulah disahkan melalui ikror pembai'atan setelah semuanya itu terlaksana, diberikan kepada anggota bersangkutan "Led van maatschap " (Kartu tanda Anggota) Partai.

Semua warga PSII di Liwa waktu itu diberikan pengertian-pengertian mendalam mengenai "Islam dan perjuangan politik", dengan menggiatkan kursus-kursus dan "openbaar-vergadering". Maka pada sekitar tahun 1937 status struktur-organisasi PSII Liwa ditingkatkan menjadi LA (Lajenah Afdeeling) PSII Balik-Bukit, dengan kedudukan kantor pengurusnya di Kotaraja-Liwa. Anggota PSII ketika itu sudah semakin banyak tidak saja hanya di Marga Liwa, tetapi anggota PSII telah ada pula di Kembahang, Batu-Brak, Bedudu (Belalau), Kebun Tebu dan di daerah Sukau.

Tokoh Tokoh PSII yang pernah datang ke Kotaraja selain dari HOS Cokroaminoto sendiri, juga Anwar Cokroaminoto, Harsono Cokroaminoto, Aruji Kartawinata, Nyonya AS Sumadi, Kartosuwiryo, W.Wondo Amiseno, Sudibyo. Guru Pangku Tokoh PSII Muaradua, AS Mattjik dan AR Djalili dari Palembang.

Dari tahun 1939, PSII Liwa membuka Sekolah BPPI (Balai Pendidikan & Pengajaran Islamiyah) bertempat di Kotaraja. Muridnya cukup banyak putera dan puteri bukan saja dari Dusun Dusun di Marga Liwa, tetapi juga ada dari Kembahang, dari Way Tenong. Sekolah PSII Liwa ini juga mengajarkan pelajaran agama dan pengetahuan umum, dengan Guru Gurunya antara lain; K.M.Anwar (Kembahang), dikepalai oleh M.Hasan Manaf (Krui-Pasar) abiturien Sekolah Mulo Gouvernement Betawi (MUlo Afdeeling B.) yang memang di masa itu "bevoegde" untuk mengajarkan ilmu pengetahuan umum. M.Hasan Manaf adalah anak dari Assisten Demang Manaf, tetapi M.Hasan Manaf berjiwa "Islam dan Kebangsaan" (patriotik), merakyat dan kerakyatan, anti "feodalisme" dan beliau adala figur pemberani dalam hal membela "kebenaran dan keadilan" menyangkut diri pribadi sendiri dan orang lain. M.Hasan Manaf walaupun putera dari seorang Ambtenaar, namun ia teguh tak mau bekerja dengan Pemerintah Kolonial. M.Hasan Manaf itu adalah ayah dari Drs.Rosmala Dewi (Guru SMAN 2 T.Karang), yaitu isteri dari Moh.Zainul Nawin (Wadan Denpom II/3 Lampung) sekarang. Setelah Indonesia merdeka, M.Hasan Manaf pernah menjadi Kepala Jawatan Penerangan RI Kab.Lampung-Tengah. Hingga akhir hayatnya beliau adalah Pegawai Japen RI Provinsi Lampung.

M. Hasan Manaf terkenal salah satu Tokoh asal Lampung Barat. Setahu penulis, sebetulnya M.Hasan Manaf itu, Penggugah pertama para Mahasiswa asal Lampung Barat supaya berjuang untuk dapat dibentuk Kabupaten Lampung Barat. Faktanya: ialah pada awal bulan Mei tahun 1969 beliau mendatangi penulis, mengatakan maksudnya akan pergi ke Krui dengan tujuan keperluan itu, sambil beliau memperlihatkan dokumen-dokumen urguementasi pokok-pokok pikiran perlunya meminta Pemerintah agar dapat membentuk Kabupaten Lampung-Barat. Dan penulis tahu waktu kembalinya ke Tanjung Karang dari Krui itu. Karena waktu itu jalan dari Dusun Baru-Sumberjaya belum lancar, hingga kendaraan umum belum ada maka beliau menuju Way Tenong menumpang kendaraan truk dan duduk di bak terbuka (di belakang), menyebabkan beliau terserang "masuk angin" dahsyat, mengakibatkan beliau meninggal dunia setelah beberapa jam beliau di TanjungKarang dari Krui itu. Penulis turut menalkinkan pada waktu seakrabnya hingga berpisah "ruh" beliau dari jasadnya. Dalam "dagboek" penulis tercatat; M.Hasan Manaf Wafat hari Senin tanggal 26 Mei 1969 di Rawa-Subur Tanjung Karang.

Kisah selanjutnya mengenai Sekolah BPPI-PSII di Kotaraja-Liwa, ex.pimpinan dan binaan M.Hasan Manaf itu; pada tahun 1943 berubah nama menjadi "Perguruan Islam" saja, diasuh oleh guru M. Zubair (Semendo) abiturien Sumatera Thowalib, dibantu isteri beliau Ny.Hj. Suhainah Zubair abiturien Diniyah Puteri Padang-Panjang.

Guru M. Zubair setelah itu pernah banyak berjasa di Liwa, memberi ceramah/dakwah dan pengajian. Di antara itu, ada khusus pengajian agama buat para ambtenaar di Liwa waktu itu. Termasuk muridnya; dr. H. A. Moeloek, Demang Abd.Hadi, Ichwan (Pertanian) dan lain-lain.

Yang diajarkan antaranya pergerakan politik PSII di Liwa tahun 1941; ialah PSII LA-Liwa turut menggerakkan GAPI (Gabungan Politik Indonesia) menuntut pada Pemerintah Belanda supaya Indonesia ber-Parlemen (yang dipilih oleh rakyat Indonesia sendiri). GAPI adalah suatu Gerakan Nasional dibentuk dan digerakkan para Politisi bangsa Indonesia masa itu. GAPI banyak mengadakan "moment-Actie" serentak mengadakan "Rapat Umum" dan sebagainya. GAPI di Liwa juga waktu itu pernah mengadakan "Openbaar" di Kota Liwa.

Para aktivis GAPI di Liwa itu adalah; Guru M. Hasan Manaf, Fadhil Hamid, H.Yahya, Sa'dulloh Halil (Kotaraja). M.Jemarip (Bedudu, Belalau), Marzuki (Kesugehan, Liwa). Guru Abd. Ghani (Way Mengaku, Liwa). Tokoh Tokoh GAPI Liwa tersebut adalah anggota Pengurus LA-PSII Liwa. Aktivis PSII/GAPI Krui salah satunya ialah M.Zabur.

Akan tetapi perjuangan GAPI tersebut tak sempat berhasil, karena perang dunia II kian berkecamuk. Pemerintah Kolonial Belanda segera menyatakan S.O.B. (negara dalam perang). Lalu Tentera Jepang masuk bulan Februari tahun 1942. Penguasa Belanda bertekuk lutut. Kemudian Panglima Tentera Jepang memerintahkan pembubaran semua Partai Organisasi pergerakan rakyat. Maka membubarkan dirilah semua organisasi pergerakan rakyat pada tahun 1943 di Liwa termasuk Muhammadiyah dan NU Liwa.

Maka generasi penerus sekarang tentulah wajar jika menggerakkan organisasi sosial keagamaan tersebut kembali, karena hal itu adalah kewajiban selaku ummat kepada Tuhan. Faktornya menyangkut kepentingan pelestarian agama, sekarang dan hari-hari anak-cucu mendatang.

Kesimpulan dan Harapan

Demikianlah pergerakan rakyat di Liwa tempo doeloe, yang semua pada pelaksanaannya di zaman penjajah itu (Belanda dan Jepang), tak sunyi dari gangguan, rintangan dan halangan. Segala perjuangan rakyat telah pernah ada di Liwa, tetapi pelaksanaannya dipersulit oleh mentalitas oknum-oknum aparatur Pemerintah penjajah, untuk supaya rakyat tidak bergerak. Namun begitu, kegiatan mengajar mengaji Al-Qur'an, sekolah swasta, kursus-kursus, rapat umum (openbaar, open lucht), pawai (optocht), pawai-obor (taptoe), sholat hari-raya di lapangan, pementasan sandiwara, artinya semua sudah pernah digerakkan, oleh generasi pendahulu pergerakan di Liwa dan sekitarnya.

Semua nostalgia ini akan dijadikan iktibar oleh kawula muda (generasi penerus), terutama di Liwa sekarang khususnya, para Sarjana asal Liwa umumnya hendaknya bangkit dan jor-joran memberikan "sumbangsih" pemikiran, menggairahkan masyarakat kampung halaman sehubungan kotanya menjadi ibu-kota Kabupaten, tentu memerlukan partisipasi aktief masyarakat yaitu semua penduduk di Desa Desa daerah bekas Marga Liwa untuk bisa mampu menjadi "tuan rumah yang baik" dalam rangka mensukseskan tujuan pembentukan Kabupaten Lampung Barat itu.

Hanya satu sebagai tambahan harapan, berhematlah dalam memiliki tanah bangunan apa lagi tanah lahan pertanian. Karena kalau jadi kehabisan tanah, umpama karena dijual, maka anak-cucu nantinya mau pindah (bertranasmigrasi) ke mana??. Dibalik itu semua seyogyanyalah pada kaitan realisasi, pembentukan Kabupaten Lampung-Barat berterima kasih banyak kepada Pemerintah "Orde Baru", terutama kepada Gubernur Poedjono PRanyoto yang menanggapi dengan penuh bijaksana aspirasi rakyat Lampung-Barat, atas dukungan DPRD TK 1, Lampung di masa pimpinan H.Alimuddin Umar,SH. Serta anggota DPR-RI H.A.Yahya Murad,SH (asal Lampung Barat) dan Pemda TK II Lampung Utara di masa pimpinan Bupati A.H.Djufri Adam, keinginan rakyat itu barulah terpenuhi. Semoga.

* M. Arief Mahya, ulama, tokoh Lampung asal Liwa

September 26, 2010

Sekuraan, Sebuah Pesta Topeng Rakyat Lampung

Oleh Udo Z. Karzi

DI samping sastra (tradisi lisan), ternyata khazanah budaya Lampung juga menyimpan seni tupping (topeng). Di Kabupaten Lampung Barat dan Tanggamus umpamanya, dikenal sekuraan, sebuah pesta topeng tradisi untuk merayakan Hari Raya Idulfitri.


Seperti halnya nasib seni tradisi Lampung lainnya, sekuraan pun tidak luput dari ancaman kepunahan. Gerusan globalisasi dan modernisasi yang tidak tertahankan menghantam dan mengancam keberadaan seni tradisi, tak terkecuali sekuraan. Padahal sekuraan dalam tataran budaya daerah Lampung mempunyai arti yang cukup penting sebagai sarana bersilaturahmi dan juga menampilkan kebebasan berekspresi lewat topeng.

Sekuraan ini hanya dikenal di beberapa kecamatan seperti Belalau, Batubrak, Liwa, dan Sukau (Lampung Barat) serta Kotaagung dan Wonosobo (Tanggamus).



FOTO-FOTO: LAMPUNG POST/ANSORI

Berangkat dari penelitian Lilia Aftika, ada dua versi asal-usul sekuraan. Versi pertama menyebutkan sekuraan sudah ada sejak zaman Hindu. Topeng-topeng yang dikenakan merupakan penjelmaan orang-orang yang dikutuk dewa karena berbuat tidak terpuji. Perbuatan tidak terpuji yang dimaksud adalah tidak mengakui adanya dewa yang patut disembah. Akibatnya, rupa mereka menjadi buruk.

Versi kedua, menurut Lilia yang menulis skripsi tentang seni sekura, menyebutkan sekuraan berasal dan bermula pada zaman Islam. Alasannya, pelaksanaan acara ini diadakan untuk memeriahkan dan menyambut Hari Raya Idulfitri dan umat yang merayakan Idulfitri adalah umat Islam.

"Tidak jelas tahun dan abad berapa acara ini mulai diadakan, tetapi menurut perkiraan, Islam menyebar di Lampung Barat sekitar abad ke-13. Dengan demikian, timbul anggapan sekuraan diadakan pertama kali sekitar abad ke-13," kata Lilia.

Lilia mengatakan versi kedua di atas tampaknya lebih meyakinkan dan lebih masuk akal. Alasan yang menguatkan, yaitu hari perayaannya menggunakan tanggal Islam dan hari raya Islam. Di samping itu, dalam pelaksanaannya tidak menunjukkan dan menonjolkan tokoh-tokoh seperti dewa-dewa atau nama-nama yang berkaitan ajaran Hindu.

Dalam sekuraan, terdapat sekura. Bedanya, sekuraan meliputi perayaan dengan tahap-tahapannya. Sedangkan sekura berkenaan orangnya. "Sekura itu orang yang berusaha menutupi wajah dan badannya sedemikian rupa agar tidak dikenali dalam tradisi sekuraan," kata Lilia.

Ada dua jenis sekura, yaitu sekura kamak dan sekura kecah. Sekura kamak berarti sekura kotor yang berfungsi sebagai penghibur bagi penonton. Sekura ini disebut demikian karena pakaian dan topeng yang dikenakannya kotor, misalnya busana tani atau tetumbuhan. Fungsinya menghibur pengunjung.

Sedangkan sekura kecah berarti sekura bersih. Disebut demikian karena kostum yang dikenakan bersih-bersih dan rapi. Sekura jenis ini berfungsi sebagai pemeriah dan peramai peserta. Sekura inilah yang berkeliling pekon atau dusun untuk melihat-lihat dan berjumpa dengan gadis pujaannya, sekura kecah diperankan meghanai.

Pendatang yang tidak menjadi sekura dalam tradisi sekuraan pada Hari Raya Idulfitri, sekura khususnya kaum wanita dan anak-anak langsung singgah ke rumah kerabatnya yang disebut dengan tumpak'an. Setibanya di sana mereka disambut tuan rumah dengan senyum ramah dan disambut pula dengan jamuan makan kue Lebaran.

Pendatang yang ingin menjadi sekura biasanya hanya singgah sebentar sebagai pemberitahuan kepada famili bahwa dia hadir dan datang dalam rangka memeriahkan acara.

Sekelompok sekura terlihat apabila calon peserta berganti kostum dan mengenakan topeng serta berbagai atribut lainnya. Acara sekuraan ini mulai sekitar pukul 9.00 atau bersamaan dengan berdatangannya penduduk dari berbagai pekon.

Sekelompok sekura pertama kali muncul adalah sekura yang bertindak sebagai inisiator penyelenggara. Kemudian disusul kelompok-kelompok sekura lainnya. Jarak antarkelompok 4--5 meter. Pawai keliling kelompok-kelompok sekura inilah yang disebut sekuraan. Para sekura berkeliling mengikuti rute yang ditentukan, mereka berkelompok-kelompok sesuai dengan jenisnya. Sekura kecah bergabung sesama sekura kecah dan sekura kamak bergabung sesama sekura kamak.

Penonton mulai bermunculan (baik yang baru datang maupun yang lama berada di rumah tumpak'an-nya) jika sekura telah pawai keliling. Wanita dan anak-anak duduk-duduk di beranda rumah milik warga menyaksikan sekuraan disertai senda gurau, sedangkan kaum pria turun ke jalan meskipun hanya sekadar menonton, tidak menjadi sekura.

Para sekura awalnya hanya sekadar berkeliling mengikuti rute dan melihat-lihat saja. Mereka beraksi dan berusaha mencari perhatian apabila melihat banyak penonton yang menyaksikan mereka. Sekura mulai melakukan hal-hal aneh seperti berjingkrak-jingkrak tak tentu arah atau menyanyi melantunkan lagu yang dibuat sekehendak hati si pelantunnya. Ada sekura yang bergerak-gerak seolah-olah menari, tetapi dibuat-buat sehingga memperlihatkan kelucuannya.

Ada juga sekura yang seolah-olah hamil dan mengikuti/mencontoh gerakan ibu hamil, ada pula sekura yang bertingkah layaknya wanita dan dibuat-buat seanggun mungkin dan masih banyak lagi tingkah sekura lainnya. Semua sekura mencari-cari agar menjadi pusat perhatian penonton dengan tingkah yang dibuat-buat, sehingga tidak salah jika ada pendapat yang mengatakan sekura berarti injuk kera (seperti kera/monyet) karena tingkahnya seperti kera.

Udo Z. Karzi, penyair, tinggal di Lampung

Sumber: Lampung Post, Minggu, 26 September 2010

Saatnya Mendiskusikan Teater dan Disabilitas

-- Wahyu Heriyadi

SEWAKTU di Bandar Lampung, saya adalah penonton teater, baik itu Teater Kurusetra UKMBS, Teater Satu, maupun Kober. Selain menonton, saya pernah menulis resensi atau liputan teater yang dipublikasikan di selebaran pers kampus Fakultas Hukum Universitas Lampung sekitar 2004—2007. Hal yang saya lakukan tersebut adalah sebuah wujud dari apresiasi sebuah pertunjukkan teater yang tidak hanya berakhir di panggung, tetapi juga membawa pengalaman menonton untuk mendiskusikan kembali wacananya. Bahkan, yang lebih mengasyikkan lagi adalah menuliskannya kembali meskipun hanya dalam berkisar 500 kata.

Hingga kini di Lampung belum ada sebuah pendidikan menengah setingkat SMA yang memiliki jurusan teater, apalagi di tingkat perguruan tinggi atau universitas. Dalam keterbatasannya tersebut, ternyata tak menyurutkan perkembangan kehidupan teater di Lampung. Mahasiswa, pelajar, dan masyarakat masih bisa menyalurkan dan mengembangkan kemampuan berteaternya di kampus melalui organisasi teater kampus, atau komunitas teater di luar kampus, seperti Teater Satu dan juga Kober.

Melalui tulisan ini, saya mempertanyakan kenapa jarang ada orang dengan disabilitas yang ikut tampil dalam teater? Kemudian saya bermaksud mendiskusikan wacana teater dan disabilitas. Istilah disabilitas merupakan kata serapan dari disability, sebagai bentuk keselarasan dengan Convention on The Right of Person With Disability (disingkat CPD) tahun 1996. Sementara itu, di Amerika, disability act telah ada sejak tahun 1990. Istilah disabilitas ini masih bisa diperdebatkan secara linguistik, sosiologis, arsitektur, hukum, medis, estetik, hingga filosofis. Orang dengan disabilitas berdasarkan CPD adalah mereka yang memiliki kelainan fisik, mental, intelektual, atau sensorik secara permanen yang dalam interaksinya dengan berbagai hambatan dapat merintangi partisipasi mereka dalam masyarakat secara penuh dan efektif berdasar pada asas kesetaraan.

Beberapa aspek dari CPD yang berkaitan dengan teater di antaranya hidup bebas dan berhak untuk ikut serta dalam komunitas. Bebas berekspresi dan berpendapat, dan memperoleh akses dalam memperoleh informasi. Berpartisipasi dalam kebudayaan, rekreasi, menikmati waktu senggang, dan olahraga.

Pada partisipasi di dalam budaya inilah dikemukakan bahwa orang dengan disabilitas harus mendapatkan hak-haknya dalam menikmati akses program televisi, film, teater, dan aktivitas kebudayaan lainnya dalam format yang dapat diterima. Selain itu, orang dengan disabilitas harus mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan dan memanfaatkan kreativitas, artistik, dan potensi intelektualnya, bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga bagi masyarakat.

Di Indonesia, Undang-Undang Penyandang Cacat telah ada sejak 1997, kedepannya istilah disabilitas ini tentunya akan sangat berpengaruh pada setiap bentuk peraturan untuk menggantikan istilah cacat. Disabilitas dapat kita lihat di antaranya pada orang yang memang terlahir disable (memiliki keterbatasan tertentu) dan orang yang akibat kecelakaan atau sakit sehingga menyebabkan disabilitas. Bukan tidak mungkin salah satu dari kita atau keluarga kita suatu hari mengalami sakit atau kecelakaan sehingga disabilitas, kita mesti siap dengan keadaan tersebut, salah satunya adalah dengan tetap berkarya.

Pada pengembangan wacana disabilitas kekinian, di mana disabilitas ini mulai berkembang melalui gerakan disabilitas, di antaranya melalui akses keadilan hingga undang-undang yang menaunginya, partisipasi di ruang publik, filsafat yang berpersfektif disabilitas, arsitektur yang berpihak kepada disabilitas, hingga aktivitas kebudayaan dan kesenian. Gerakan ini juga berdampak pada institusi akademik seperti halnya beberapa kampus di Indonesia yang mulai mendirikan Pusat Kajian Disabilitas, meskipun pada kenyataannya masih saja mahasiswa dengan disabilitas belum banyak melanjutkan studinya ke jenjang perguruan tinggi.

Ini mengingatkan kita pada sejarah institusi pendidikan yang diungkapkan Gadis Arivia dalam Filsafat Berperspektif Feminimis (2003), yang pada awalnya dipenuhi lelaki. Sebaliknya, perempuan kesulitan untuk mengakses pendidikan tinggi. Budaya masyarakat seakan mengungkungnya untuk lebih aktif di sektor domestik: rumah tangga. Begitu halnya pada orang dengan disabilitas. Orang dengan disablitas ini pada kenyataannya dalam masyarakat menjadi tak berdaya dan paling hanya melakukan pekerjaan urusan rumah tangga, klaim bahwa setidaknya cukup bisa untuk mengurus diri sendiri saja, pendidikan yang secukupnya, tentunya ini adalah penghalang budaya untuk memajukan potensi disabilitas, apalagi hendak berkegiatan dalam kesenian seperti teater misalnya. Inilah marjinalisasi budaya yang dilabelkan pada disabilitas.

Lalu, seperti pada tema yang akan kita diskusikan melalui tulisan ini adalah bagaimanakah kita dapat mengembangkan wacana disabilitas dan teater. Dalam Body In Commotion: Disability And Performance (2005), yang merupakan esai yang dihimpun Carrie Sandahl dan Philip Auslander, mendiskusikan bagaimana mengembangkan estetika disabilitas seniman teater dan tari, dengan maksud hendak mengeluarkan dan menetralkan marginalisasi budaya terhadap orang dengan disabilitas tubuh dan penglihatan.

Dari aspek historis, Rosemary Garland Thomson mengungkapkan melalui Extraordinary Bodies (1997) bahwa pertunjukan disabilitas ini dapat dilihat melalui kerja budaya The Freak Show (1835–1940), sebuah ajang mempertontonkan orang dengan disabilitas yang pada waktu itu memberikan visualisasi kengerian sekaligus keprihatinan dalam menciptakan kode simbolik untuk membangun hubungan antara tontonan dan penonton. Dalam pertunjukan tersebut, tubuh dipamerkan menjadi teks yang ditulis sehingga harus diuraikan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan para penonton. Ini mengingatkan pada sirkus keliling yang singgah di kota kita lalu berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Di dalam pertunjukkannya kita melihat bagaimana orang dengan disabilitas mempertontonkan keahliannya.

Bagi Ann Cooper Albright dalam Choreographing Difference: The Body And Identity In Contemporary Dance (1997), dis dalam disability memberikan stereotip yang negatif. Oleh sebab itu, ia menolak dan tidak nyaman dengan istilah disabled. Namun, ia tetap memberikan apresiasi terhadap istilah disability, terkadang ditulis dengan dis/ability. Baginya, garis miring tersebut sebagai tanda untuk menolak kenyamanan dari stereotip yang diberikan. Dalam hal tari, ia membahas bahwa tari tidak seperti produk budaya lainnya, buku atau lukisan, karena dalam seni pertunjukan, tubuh akan langsung terlihat dan bergerak dalam merepresentasikan pementasannya. Kemudian, jika kita menonton tarian dengan penari yang disabilitas, kita akan menonton sebuah koreografi dan disabilitas. Dalam teater kita juga menonton dan menikmati tari, melihat pandangan Albright, jika kita menonton teater dengan aktor yang disabilitas: menonton akting dan disabilitas.

Sebagai bentuk kerja teater dan disabilitas, sudah saatnya pekerja/aktivis teater mengajak orang dengan disabilitas ke dalam kerja-kerja teaternya. Selain mengangkat wacana tentang diabilitas dalam seni pertunjukkannya, juga tentunya memungkinkan pengembangan wacana estetika disabilitas. Hal ini akan menantang penulis naskah teater, sutradara, aktor, dan kelompok teater untuk mewacanakan bagaimana disabilitas hadir dalam teater dan naskah teksnya, juga akan memikirkan dan mengembangkan bagaimana orang dengan disabilitas dapat juga berkegiatan teater sebagai bagian dari kehidupan berkesenian dan kebudayaan.

Wahyu Heriyadi
, alumnus Universitas Lampung, saat ini bekerja di Kementerian Sosial RI

Sumber: Lampung Post, Minggu, 26 September 2010

September 25, 2010

Rekreasi: Asyiknya Memancing di "Taman Laut" Bakauheni

HARI beranjak siang. Bayang-bayang matahari memantul di air kebiru-biruan. Namun, tidak lazimnya di pinggir laut, terik matahari tak begitu terasa. Mungkin karena semilir angin yang terasa sejuk di badan atau indahnya pemandangan laut biru terhampar di depan.

Belasan orang bersandar di tepi dermaga. Namun, mereka bukan ingin naik kapal feri, melainkan menjalankan ritual hobi, yaitu memancing. Di depan mereka, hilir mudik sejumlah kapal feri yang mengangkut penumpang dari Bakauheni ke Merak atau sebaliknya.

Tidak banyak yang tahu, Pelabuhan Bakauheni bukan sekadar pelabuhan penyeberangan, melainkan juga salah satu titik terfavorit bagi pehobi rekreasi memancing. Pagi hingga sore hari Anda akan mudah menemukan para pemancing berjajar di dermaga-dermaga pancang, yaitu Dermaga IV atau Dermaga V yang kini tengah dibangun.

Defino (23) salah satunya. Warga Lampung Selatan ini hampir tiap hari nongkrong di Dermaga V Bakauheni untuk memancing. Sepulang kerja, dia menggunakan peralatan seadanya, joran pendek dan kail tunggal rutin memancing sekadar menghilangkan stres.

”Asyik aja memancing di sini. Air lautnya masih bersih dan yang pasti banyak ikannya,” ujarnya. Di sini, ia kerap mendapatkan ikan-ikan karang, seperti ikan kerapu, selar, dan bawal. Pernah ia mendapat seekor kerapu berukuran besar, yaitu 3 kilogram, di Dermaga V.

Padahal, untuk mendapatkan ikan-ikan besar seukuran itu, para pemancing umumnya harus mencarinya di tengah laut. ”Inilah keunggulan lainnya memancing di sini. Lautnya cukup dalam. Di tempat lain tidak bisa, harus menyewa kapal agar bisa keluar ratusan ribu deh,” ujar Defino.

Perairan di kawasan Dermaga IV dan Dermaga V Bakauheni memang masih sangat terjaga keasriannya. Terumbu-terumbu karang masih alamiah dan tidak terusik tangan-tangan jahil, termasuk pembom ikan yang marak di Lampung. Berbagai anemon dan karang lunak dapat dilihat dengan mata telanjang dari atas dermaga.

Di sekitarnya juga masih banyak terdapat pohon-pohon bakau yang menjadi habitat ikan, udang, dan kepiting untuk bertelur. Yang membuatnya unik, di pinggir dermaga, lautnya dalam, yaitu 15-20 meter. Tak heran, banyak ditemui ikan-ikan karang laut dalam di sini.

”Ini yang membedakan Bakauheni dengan Merak. Kalau di Merak mungkin karena sudah agak tercemar, ikan-ikannya sedikit. Beda dengan di sini, terumbu karang masih bagus, tanaman bakaunya masih banyak. Karena itulah tempat ini mendapat julukan Bakauheni,” ujar Syaifuddin Hadi, salah seorang petugas penjaga dermaga.

Yang tidak kalah uniknya, kawasan di Dermaga IV dan V ini masih bebas dimasuki oleh warga sekitar. Warga tidak dilarang untuk memancing. Bahkan, pada hari-hari tertentu, banyak dijumpai warga setempat berenang di sekitar perairan ini.

Mungkin karena letaknya yang agak jauh, 400 meter dari pusat administrasi pelabuhan, dermaga yang letaknya ada di ujung barat ini relatif kurang terawasi. Sehari-harinya, diakui Hadi, Dermaga V jarang digunakan untuk sandar kapal.

”Sehari-harinya ya digunakan untuk memancing ini,” ujarnya sambil tertawa.

Saking banyaknya ikan di kawasan perairan ini, untuk memperolehnya tidak perlu repot menyiapkan umpan khusus. Jangankan udang atau cacing, bakwan sisa pun dilahap ikan-ikan yang ada di sini.

Umpan gorengan

Ini dibuktikan Ujang (53). Meskipun hanya menggunakan bakwan sisa gorengan sebagai umpan, kailnya ternyata mampu dimakan ikan bawal dan selar. Ukurannya pun cukup besar, sekitar 0,5 kg. ”Ajaib, ikan saja doyan gorengan. Jangan-jangan umpan pakai nasi juga mau, he-he-he,” ujar Andi (34), salah seorang warga, berkelakar.

Karena perairannya cukup dalam dan banyak ikan, para pemancing profesional juga kerap menggunakan trik pancing rawe di sini. Pancing rawe adalah sejenis teknik memancing yang menggunakan joran panjang dan mata kail yang banyak (10- 15 buah) yang berjajar di senar.

Umpannya menggunakan pita-pita berwarna putih. Oleh ikan karang, pita-pita yang terkena arus air ini terlihat seperti sekawanan ikan teri.

”Jadi, pakai rawe, sekali tarik bisa dapat 10 ikan sekaligus,” ungkap Defino, yang sesekali memancing rawe. Ikan-ikan kembung banyak didapat dari memancing rawe ini.

Itulah sekilas keunikan Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Tempat ini tidak hanya membantu menyeberangkan warga ke Jawa, tetapi juga banyak menghibur warga Lampung dan sekitarnya. (jon)

Sumber: Kompas, Sabtu, 25 September 2010

September 23, 2010

Tenaga Kerja: Tekan Kemiskinan, TKI Dilatih di Hongkong

Bandar Lampung, Kompas - Pemerintah Provinsi Lampung meluncurkan kebijakan pemberian pelatihan bagi calon-calon TKI di Hongkong, China. Kebijakan itu diklaim merupakan upaya mengurangi kemiskinan di daerah tersebut.

Tahun ini, sebanyak 50 calon TKW dikirim ke Hongkong untuk belajar bekerja di sektor informal selama enam bulan. Seluruh biaya, baik pengiriman dan akomodasi, ditanggung Pemprov Lampung.

”Ini merupakan salah satu program gubernur untuk mengurangi kemiskinan. Di sana mereka akan belajar bahasa Mandarin, mengasuh bayi, merawat jompo, dan membersihkan rumah. Usai pelatihan itu, mereka sudah mahir dan bisa langsung bekerja,” ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Lampung Setiato, Rabu (22/9).

Kebijakan melatih dan mengirim TKI ke Hongkong ini bisa pula menjadi solusi menyusul larangan pengiriman TKI informal ke Malaysia. Negara jiran tersebut selama ini merupakan daerah tujuan utama TKI asal Lampung.

Jumlah TKI asal Lampung yang resmi tercatat mencapai 12.000 orang. ”Namun, kalau dilihat di bandara tiap tahun, jumlahnya selalu lebih dari itu. Bisa 20.000-an. Datanya memang tidak klop karena cukup banyak yang bekerja ilegal,” ujarnya.

Program pelatihan calon TKI ke Hongkong itu diharapkan pula bisa menjadi peredam banyaknya TKI-TKI ilegal. Namun, ia mengakui, salah satu kekurangannya adalah terbatasnya kuota. ”Tahun ini mungkin hanya 50 orang. Tahun 2011 selanjutnya ya mudah-mudahan bisa lebih banyak lagi, minimal 100 orang,” ujar Setiato.

Dengan berbekal keterampilan yang memadai dan jalur yang resmi, para TKI tersebut diharapkan akan lebih terlindungi dan kesejahteraan pun bisa lebih meningkat lagi. Kondisi itu pada akhirnya, ucap Setiato, akan turut berperan mengurangi angka kemiskinan di daerah asalnya.

Berdasarkan data Susenas per Maret 2010, jumlah penduduk miskin di Lampung mencapai sekitar 1,4 juta orang. Ini sekitar 18 persen dari total penduduk di Lampung yang berjumlah 7,5 juta jiwa. (jon)

Sumber: Kompas, Kamis, 23 September 2010

Sastra: Tanggamus Gelar Batu Bedil Award

KOTAAGUNG (Lampost): Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tanggamus menggelar lomba penulisan puisi tingkat nasional bertajuk Batu Bedil Award. Kegiatan ini diselenggarakan untuk memeriahkan Festival Teluksemaka (FTS) 2010.

"Tahun ini pelaksanaan FTS jatuh pada tanggal 22—26 November 2010, seluruh kegiatan berpusat di Kotaagung, Tanggamus," Kata Alfian A. Husin, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tanggamus dalam siaran pers yang diterima Lampung Post, Rabu (22-9).

Menurut Alfian, event ini diharapkan mampu menyegarkan kembali identitas kultural masyarakat Kabupaten Tanggamus agar dikenal di tingkat nasional dan internasional.

Selain lomba cipta puisi, FTS berisi beberapa kegiatan lain, seperti musyawarah adat, pemberian adok atau gelar adat, ruwat laut, festival musik, lintas alam, lomba tari tradisional, lomba lagu pop daerah, gitar klasik, lomba mewarnai, pawai budaya, dan lain-lain.

Lomba cipta puisi yang bertajuk Batu Bedil Award 2010 ini, kata Alfian, sebagai upaya untuk mengeksplorasi seni budaya, pariwisata, tradisi, dan unsur-unsur kearifan lokal di Kabupaten Tanggamus secara kreatif melalui ide-ide dan gagasan yang segar. Bukan sekadar data geografis dan angka statistik tentang kunjungan wisatawan.

“Batu Bedil Award diharapkan dapat menjadi pemantik bagi masyarakat yang berada di luar Kabupaten Tanggamus untuk menelusuri potensi budaya wisata," ujar Alfian.

Syarat-syarat lomba cipta puisi Batu Bedil Award, kata Alfian, mengambil tema Eksplorasi kreatif seni budaya, tradisi, dan pariwisata khusus di Kabupaten Tanggamus. Sedangkan peserta terbuka untuk umum, naskah murni karya sendiri (bukan tiruan/plagiarisme ataupun hasil saduran dari naskah mana pun), belum pernah dimuat atau dipublikasikan di media massa atau sedang diikutsertakan dalam lomba penulisan di tempat lain. "Peserta dapat mengirim maksimal 3 (tiga) naskah puisi, naskah diketik 1,5 spasi di kertas kuarto rangkap 4 (empat)," ujarnya.

Peserta lomba dapat mengirimkan naskah ke Panitia Batu Bedil Award (Festival Teluksemaka 2010), dengan alamat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tanggamus, kompleks Perkantoran Pemkab Tanggamus, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kotaagung Timur, Kabupaten Tanggamus, 35384, paling lambat 10 November 2010 (cap pos). (*/S-2)

Sumber: Lampung Post, Kamis, 23 September 2010

September 22, 2010

Pesta Rakyat Ramaikan HUT Lampung Barat

Liwa, Lampung Barat, 22/9 (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Barat akan menggelar pesta rakyat yang mendatangkan tiga grup band untuk memeriahkan HUT Lampung Barat ke-19,

"Puncak acara HUT Lampung Barat ke-19 akan dilaksanakan 26 september, acara yang akan diisi permainan rakyat dan mendatangkan band ternama," kata Kabag Humas dan Protokol, Sekertariat Lampung Barat, Ismed Inoni, di Liwa, Rabu.

Dia menjelaskan, persiapan puncak acara pesta rakyat mencapai 80 persen.

"Persiapan puncak acara pesta rakyat ini mencapai 80 persen, diprediksi H-1 persiapan pesta rakyat tersebut mencapai 99 persen," katanya.

Menurut dia, pesta rakyat yang digelar sebagai apresiasi pada masyarakat.

"Acara pesta rakyat yang diselenggarakan ini, sebagai wujud apresiasi pada masyarakat Lampung Barat, yang selama ini turut aktif mendukung progam pembangunan, selain itu acara yang digelar, akan memupuk jiwa silaturahmi," katanya.

Kemudian menurut dia, puncak acara pesta rakyat diperkirakan akan menyedot ribuan masyarakat.

"Diprediksi pesta rakyat yang digelar nanti akan menyedot ribuan masyarakat, baik yang tinggal di kota juga di pedalaman, membludaknya penonton nanti sudah diantisipasi sejak awal oleh panitia," katanya.

Hari ulang tahun Kabupaten Lampung Barat ke-19 yang jatuh pada 24 September mendatang, untuk memeriahkan perayaan HUT Lampung Barat ini, Pemkab Lampung Barat menggelar kegiatan pesta rakyat yang akan dilaksanakan 26 September di Lapangan Pemkab Lampung Barat.

Pada kegiatan pesta rakyat ini, Pemkab Lampung Barat mendatangkan tiga grub band asal Provinsi Lampung yang telah menorehkan prestasi pada kancah musik nasional, mereka adalah Hijau Daun, Stiker, dan I Love You Band.

Tiga band tersebut, sengaja didatangkan untuk memeriahkan HUT Lampung Barat ini memiliki makna besar, salah satunya untuk memberikan semangat dan spirit kaula muda Lampung Barat untuk mengikuti jejak mereka dalam menorehkan prestasi.

Selain mendatangkan grup band, Pemkab Lampung Barat juga menggelar acara permainan rakyat yakni panjat pinang dan Sekura, dalam puncak acara nanti terdapat puluhan pinang akan ditanam di arena uatama tempat pelaksanaan kegiatan pesta rakyat yang menyuguhkan puluhan hadiah.

Pemkab Lampung Barat sengaja menggelar acara pesta rakyat ini, sebagai apresiasi pada masyarakat Lampung Barat yang telah ikut membatu pemerintah dalam memajukan pembangunan daerah disegala bidang.

HUT Lampung Barat ke-19 menjadi langkah awal bagi kabupaten ini menuju arah pembangunan daerah dengan potensi yang dimiliki, diusia yang ke-19 ini, Lampung Barat patut berbangga pasalnya prestasi yang gemilang telah diraih, diantaranya juara umum MTQ ke 38 dan peraih piala Adipura untuk kota kecil yang bersih, serta prestasi prestasi lain yang menjadikan Lampung Barat bersaing dengan daerah lain.

Acara yang bertajuk pesta rakyat ini diprediksi akan menyedot ribuan masyarakat, sehingga untuk mengantisipasi membludaknya masyarkat panitia telah menyiapkan lokasi yang lapang, sehingga masyarkat tidak terlalu berdesakan.

Untuk menyukseskan acara pesta rakyat HUT Lampung Barat ini, Polres Lampung Barat, akan menerjunkan puluhan personil keamanan.

Perayaan pesta rakyat dalam HUT Lampung Barat ke-19 tahun 2010 ini, diharapkan dapat memotivasi masyarakat dalam menyukseskan pembangunan di daerah ini, sehingga kedepan ini Lampung Barat dapat mengejar ketertinggalan dari daerah lain di Provinsi Lampung.

"Saya berharap pesta rakyat yang digelar nanti dapat berjalan amn dan nyaman, selain itu berharap pula, saat pelaksanaan pesta rakyat nanti, cuaca akn mendukung, sehingga acara ini akan semakin semarak," kata Ismed.

Sumber: Antara, Rabu, 22 September 2010

Lampung Tuan Rumah Pertemuan Sastra MPU

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung memastikan sebagai tuan rumah Pertemuan Sastra Mitra Praja Utama (MPU) V, 1�3 Oktober.

Hingga Senin (20-9) yang sudah memastikan hadir dari DKI Jakarta, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Provinsi Bali. Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. dijadwalkan menyambut peserta sekaligus membuka kegiatan ini di Balai Keratun, Jumat (1-10) malam.

Menurut Kepala Dinas Budpar Lampung Gatot Hudi Utomo, pertemuan sastra MPU ini diikuti peserta Mitra Praja Utama, yaitu Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jateng, Yogyakarta, Jatim, Bali, NTB, dan NTT.

�Tetapi, yang belum konfirmasi selain Banten yakni Jabar, Jateng, NTB, dan NTT,� ujar Kadis Budpar Gatot Hudi Utomo didampingi Kabid Kebudayaan dan Kesenian Yusup Rusman kemarin.

Gatot menjelaskan Pertemuan Sastra MPU V di Lampung ini mengangkat tema Lokal global dalam sastra Indonesia dengan subtema Sastra lokal di hadapan sastra global dan multikulturalisme dalam sastra Indonesia.

�Kami sudah meminta para narasumber yang kami nilai berkompeten. (Narasumber) dari Lampung yakni Damanhuri, Iswadi Pratama, dan Asarpin, sedangkan dari luar Lampung yakni Jamal D. Rahman, Yanusa Nugoroho (Jakarta), dan Triyanto Triwikromo (Semarang),� kata dia.

Pertemuan Sastra MPU di Lampung akan dipusatkan di Taman Budaya Lampung (TBL). Kegiatan akan diisi dengan diskusi pada pagi hingga siang, sedangkan pertunjukan sastra akan dilangsungkan dari sore sampai malam di Teater Tertutup TBL. �Para peserta akan menginap di Bumi Kedaton. Hal itu sudah disetujui Gubernur Lampung Bapak Sjachroedin Z.P.,� kata Gatot.

Bumi Kedaton dijadikan sebagai tempat menginap para peserta, menurut Gatot Hudi Utomo, untuk mempromosikan objek wisata yang ada di Kota Bandar Lampung. Selain lokasinya nyaman, tempatnya juga layak bagi para seniman. �Para tamu yang notabene sastrawan biasanya memerlukan ketenangan maka di Bumi Kedaton sangat cocok.�

Sementara itu, Yusup Rusman mengatakan sejumlah sastrawan sudah mengirimkan karya-karya sastranya. �Tapi, yang terbanyak dari Jawa Timur, sedangkan sastrawan Lampung dan yang lainnya masih kami tunggu karyanya,� ujarnya.

Yusup berharap karya-karya sastra peserta Pertemuan Sastra MPU V akan dibukukan. Hal itu sudah menjadi komitmen Budpar dan Dewan Kesenian Lampung. �Mudah-mudahan saja rencana penerbitan buku Sastra MPU terwujud,� kata Yusup.

Yusup melanjutkan karena pertemuan ini diikuti sembilan provinsi peserta MPU, sedikitnya seratus tamu dari luar Lampung akan hadir. Karena itu, ia menekankan hal ini menjadi momentum bagi promosi pariwisata di daerah ini. (MG14/S-1)

Sumber: Lampung Post, Rabu, 22 September 2010

Unila Gelar Lomba Bahasa Lampung

BANDAR LAMPUNG (Lamost): Untuk pertama kalinya Unit Pelaksana Teknis Balai Bahasa Universitas Lampung (Unila) menggelar lomba pidato dan baca puisi berbahasa Lampung.

"Kami berharap adanya lomba kecakapan berbahasa Lampung, baik dalam pidato maupun dalam pembacaan puisi, ini dapat memasyarakatkan kembali penggunaan bahasa Lampung," kata Deddy Supriyadi, kepala Balai Bahasa Unila, kemarin (21-9).

Deddy mengatakan saat ini pengguna aktif bahasa Lampung dalam kehidupan sehari-hari semakin sedikit. Ia berharap maraknya kegiatan serupa dapat menstimulus murid SMP maupun SMA untuk mengenal bahasa daerah tersebut.

"Harapan kami, bahasa Lampung dapat menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri. Kalau kita perhatikan, di daerah lain bahasa ibu bahkan menjadi bahasa sehari-hari, bahkan menjadi bahasa dalam berbisnis," kata dia.

Ia mencontohkan etnis China di Palembang dalam kesehariannya bisa berbahasa Palembang, di Jawa Tengah juga demikian, termasuk juga di Padang. Fenomena ini anehnya tidak terjadi di Lampung.

Meskipun waktu terbatas dalam hal sosialisasi, animo murid SMP se-Bandar Lampung untuk mengikuti lomba ini cukup tinggi. Kami berencana meneruskan kegiatan serupa di masa mendatang.

Pada lomba yang berlangsung sejak Senin (20-9) hingga Selasa (21-9) itu, gelar juara I lomba baca puisi bahasa Lampung diraih Meutia Marta, diikuti M. Lutfi Arif (juara II) dan Fitria Jelita (juara III). Kemudian, gelar juara I lomba pidato bahasa Lampung diraih Restu Pratiwi, diikuti Iranda (juara II) dan Irma Melati (juara III).

Sementara itu, gelar juara I lomba pidato berbahasa Inggris diraih Almi Darajati Utomo dari SMAN 2 Bandar Lampung, diikuti Fitrua Handayani dari SMA Al Kautsar (juara II) dan Hany Prima yang juga dari SMA Al Kautsar (juara III).

"Para pemenang akan mendapatkan piala, piagam, dan uang pembinaan dari panitia," kata dia.

Eddy menambahkan selain lomba pidato berbahasa Lampung, lomba membaca puisi berbahasa Lampung, dan pidato berbahasa Lampung, Balai Bahasa Unila juga menggelar lomba debat berbahasa Inggris antarmahasiswa di lingkungan Unila. (MG14/S-1)

Sumber: Lampung Post, Rabu, 22 September 2010

September 21, 2010

Setop Penggerusan Bukit

-- Ahmad Supartono

ARAHAN Gubernur Lampung pada acara pelantikan wali kota dan wakil wali kota Bandar Lampung untuk mengevaluasi rencana pembangunan yang merusak lingkungan, terutama maraknya penggerusan bukit di Bandar Lampung patut untuk diapresiasi dan segera diimplementasikan. Beliau menyatakan pembangunan Bandar Lampung selama ini sepertinya tidak memperhatikan dampak lingkungan. Banyak bukit di Bandar Lampung yang habis digerus oleh orang-orang yang hanya mencari keuntungan sendiri. "Bukit digerus dibiarkan saja. Padahal itu hanya untuk keuntungan seseorang, tapi kerugiannya harus ditanggung masyarakat Kota Bandar Lampung." (Lampung Post, 15 September 2010)

Kita masih ingat bencana tsunami yang melanda aceh pada 2004, wilayah aceh yang indah luluh lantak dalam sekejab diterjang gelombang tsunami di pagi hari. Kaitan dengan keberadaan bukit di Bandar Lampung seharusnya dipertahankan untuk mengantisipasi tsunami yang mungkin terjadi.

Sebab, apabila terjadi terjangan gelombang tsunami setinggi 10 sampai dengan 25 meter, akan tertahan oleh perbukitan sehingga air tidak langsung tumpah ke daratan namun gelombang air akan terpecah sehingga energi dan kecepatan terjangan gelombang air dapat direduksi sekecil mungkin. Terjangan angin dan badai pun dapat diredam sebuah bukit maupun gunung sehingga efek yang timbul dapat dinetralisasi. Bukankah kita tidak menginginkan bencana tsunami, angin topan, dan badai terjadi di wilayah kita?

Kawasan perbukitan di suatu wilayah juga bermanfaat sebagai daerah hutan kota dan daerah resapan air. Evaporasi air laut menimbulkan uap air yang naik dan dibawa angin yang bertiup dari daerah yang bertekanan tinggi menuju daerah yang bertekanan rendah yang dalam perjalanannya akan melewati daerah pegunungan, akan terkondensasi karena suhu yang dingin sehingga hujan akan turun. Turunnya air hujan akan membasahi wilayah pegunungan maupun perbukitan yang kemudian mengalir menurut gravitasi dan melalui saluran yang terbentuk secara alamiah. Oleh sebab itu, fungsi gunung dan bukit menjadi penting bagi daerah resapan air. Apa jadinya apabila wilayah perbukitan yang memiliki fungsi ekologis menjadi hilang? Tentu yang terjadi adalah bencana ekologis bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

Dengan adanya pembangunan di sebuah wilayah, kadangkala sebuah bukit memiliki nilai ekonomis karena gundukan tanah besar dan luas dapat diperjualbelikan tanpa menjual lokasi objek tanah itu sendiri. Namun, justru di sinilah letak persoalannya berlanjut karena penggerusan bukit menyentuh ranah ekologis kawasan yang memiliki dampak penting terhadap lingkungan. Ibarat dua sisi mata uang, kita dihadapkan pada kepentingan ekonomi dari kandungan tanah untuk mengurug bagi kawasan lain yang membutuhkan atau lokasi perbukitan yang telah rata dapat dijadikan perumahan dan pada sisi lainnya adalah aspek ekologis yang menyangkut hubungan yang timbal balik antara manusia dan lingkungannya.

Solusi Penyelamatan Bukit

Untuk menyelamatkan bukit-bukit yang ada, seharusnya pemerintah segera menghentikan tindakan penggerusan bukit agar sisa wilayah perbukitan yang masih ada dapat terselamatkan. Bukit harus dipandang sebagai sumber daya yang dapat didayagunakan untuk bidang ekonomi maupun bidang lainnya, dan bukan sebagai sesuatu yang harus diratakan. Hal ini penting untuk dipahami bahwa meratakan bukit untuk kenikmatan sesaat sama halnya dengan menggali lubang kubur sendiri bagi kita saat ini dan anak cucu kita mendatang.

Upaya-upaya untuk menghasilkan pendapatan asli daerah bukan hanya dengan menggerus bukit yang dapat menimbulkan berbagai bencana dikemudian hari, tapi bukit dapat dikelola menjadi tempat tempat wisata alam. Misalnya bila wilayah perbukitan itu dilalui aliran sungai dapat dibuat kolam renang yang bernuansa alam, dapat dibuat saluran air guna mengairi lahan pertanian secara kontinu. Penyediaan air bersih bagi masyarakat, hutan penelitian bagi masyarakat dan pelajar, penangkaran hewan langka, kebun buah unggulan, seperti kebun Mekarsari di Jakarta, tempat berlatih ketangkasan olahraga dan lain sebagainya yang dapat mendatangkan manfaat kesehatan. Selain itu, ketangkasan maupun keilmuan bagi masyarakat dan menjual wisata alam yang dapat diunggulkan dan menambah pendapatan asli daerah bagi pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya. Wallahualam bisawab.

* Ahmad Supartono, Perencana pada Bappeda Kota Metro

Sumber: Lampung Post, Selasa, 21 September 2010

Hipmala akan Gelar Pentas Seni

BANDAR LAMPUNG (Lampost) : Himpunan Pelajar Mahasiswa Lampung di Yogyakarta (Hipmala) menggelar pentas seni dan temu alumni 2010. Selain syiar budaya Lampung, ajang ini diharapkan dapat menjadi upaya untuk mempererat ikatan mahasiswa pelajar asal Lampung.

"Kegiatan pentas seni dan pelantikan pengurus baru Hipmala akan dilaksanakan pada 23 Oktober mendatang," kata Arie Al Ishar, calon ketua Hipmala yang akan dilantik pada 23 Oktober mendatang saat bersilaturahmi ke Lampung Post, Senin (20-9).

Izhar mengatakan berdasarkan data Dinas Pendidikan Nasional setempat, jumlah mahasiswa dan pelajar Lampung di Yogyakarta pada pendataan tahun 2009 mencapai 8.000 orang. "Jumlah ini tentu akan bertambah setelah penerimaan mahasiswa baru tahun ini."

Ia mengatakan mahasiswa asal Lampung yang berkuliah di berbagai universitas di Yogyakarta tidak hanya berkewajiban untuk menyelesaikan studi semata. "Adalah tugas dan kewajiban kami menjadi duta pendidikan dan budaya dari provinsi asal kami, Lampung."

Izhar menambahkan kegiatan ini merupakan ajang budaya berskala nasional karena selain memperkenalkan budaya Lampung, panitia juga telah mengundang beberapa daerah lainnya, seperti Aceh, Yogyakarta, Riau, Bali, dan Kalimantan Barat.

Mantan Ketua Hipmala A. Jaka Mirdinata mengatakan kegiatan pentas seni dan budaya Lampung sudah menjadi ajang tahunan. Menurut rencana, event ini akan dihadiri langsung oleh gubernur Lampung dan gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Ciri khas dari kegiatan ini yakni penampilan seni tari dan musik dari berbagai daerah provinsi yang kami undang. Untuk diketahui, peran mahasiswa Lampung Yogyakarta cukup baik. Kami selalu masuk lima besar dalam ajang kompetisi seni daerah dari 33 provinsi lainnya," kata dia. (MG13/K-1)

Sumber: Lampung Post, Selasa, 21 September 2010

September 20, 2010

Pertemuan Sastra MPU Digelar di Lampung

JAKARTA, KOMPAS.com- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung menjadi tuan rumah Pertemuan Sastra Mitra Praja Utama (MPU) V, 1-3 Oktober mendatang. Hingga Senin (20/9/2010), yang sudah memastikan akan hadir antara lain dari DKI Jakarta, Jawa Timur, DI Yogyakarta, dan Provinsi Bali.

Gubernur Lampung Sjachroedin ZP dijadwalkan akan menyambut peserta, sekaligus membuka kegiatan ini di Balai Keratun, Jumat (1/10) malam.

Kepala Dinas Budpar Lampung Gatot Hudi Utomo mengatakan, Pertemuan Sastra MPU ini akan diikuti provinsi peserta Mitra Praja Utama, yaitu Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jateng, Yogyakarta, Jatim, Bali, NTB, dan NTT. "Tetapi yang belum konfirmasi, selain Banten adalah Jabar, Jateng, NTB, dan NTT," ujar Kadis Budpar Gatot Hudi Utomo didampingi Kabid Kebudayaan dan Kesenian Yusup Rusman, Senin (20/9).

Pertemuan Sastra MPU V di Lampung ini mengangkat tema "Lokal Global dalam Sastra Indonesia" dengan subtema "Sastra Lokal di Hadapan Sastra Global dan Multikulturalisme dalam Sastra Indonesia."

Narasumber yang akan tampil antara lain dari Lampung Damanhuri, Iswadi Pratama, dan Asarpin. Sedangkan dari luar Lampung: Jamal D Rahman, Yanusa Nugoroho (Jakarta) dan Triyanto Triwikromo (Semarang).

Gatot menjelaskan, Pertemuan Sastra MPU di Lampung akan dipusatkan di Taman Budaya Lampung (TBL). Kegiatan akan diisi dengan diskusi pada pagi hingga siang, sementara pertunjukan sastra akan dilangsungkan dari sore sampai malam di Teater Tertutup TBL.

"Para peserta akan menginap di Bumi Kedaton. Hal itu sudah disetujui Gubernur Lampung Bapak Sjachroedin ZP," kata Gatot.

Menunjuk Bumi Kedaton, menurut Gatot Hudi Utomo, karena untuk mempromosikan obyek wisata yang ada di Kota Bandar Lampung. Selain lokasinya nyaman, juga tempatnya layak bagi para seniman. Para tamu yang notabene adalah sastrawan biasanya memerlukan ketenangan, maka di Bumi Kedaton sangat cocok.

Kabid Kebudayaan dan Kesenian Budpar Lampung Yusup Rusman mengatakan, sejumlah sastrawan sudah mengirimkan karya-karya sastranya. Tapi yang terbanyak dari Jawa Timur. "Sedangkan sastrawan Lampung dan yang lainnya, masih kami tunggu karyanya," ujarnya.

Yusup berharap karya-ka rya sastra peserta Pertemuan Sastra MPU V akan dibukukan. Hal itu sudah menjadi komitmen Budpar dan Dewan Kesenian Lampung.

Karena pertemuan ini diikuti sembilan provinsi peserta MPU, maka sedikitnya 100 tamu dari luar Lampung akan hadir. Karena itu, ia menekankan, hal ini momentum bagi promosi pariwisata di daerah ini.

Penulis: Yurnaldi | Editor: Marcus Suprihadi

Sumber: Oase Kompas.com, Senin, 20 September 2010

Lampung Tuan Rumah Pertemuan Sastra MPU

Bandarlampung, 20/9 (ANTARA) - Provinsi Lampung akan menjadi tuan rumah Pertemuan Sastra Mitra Praja Utama V, 1-3 Oktober 2010.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Provinsi Lampung Gatot Hudi Utomo, di Bandarlampung, Senin, mengatakan, pertemuan sastra MPU tersebut akan diikuti provinsi peserta Mitra Praja Utama yaitu Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

"Tetapi yang belum konfirmasi, selain Banten adalah Jabar, Jateng, NTB, dan NTT," kata Kadis Budpar Gatot Hudi Utomo didampingi Kabid Kebudayaan dan Kesenian Yusup Rusman.

Hingga hari ini, kata dia, yang memastikan akan hadir dari DKI Jakarta, Jawa Timur, DI Yogyakarta, dan Provinsi Bali.

"Gubernur Lampung Sjachroedin ZP dijadwalkan akan menyambut peserta, sekaligus membuka kegiatan ini di Balai Keratun, Jumat (1/10) malam," katanya.

Gatot menjelaskan, Pertemuan Sastra MPU V di Lampung itu mengangkat tema "Lokal Global dalam Sastra Indonesia" dengan subtema "Sastra Lokal di Hadapan Sastra Global dan Multikulturalisme dalam Sastra Indonesia".

"Kami sudah meminta para narasumber yang kami nilai kompeten. Dari Lampung Damanhuri, Iswadi Pratama, dan Asarpin. Sedangkan dari luar Lampung: Jamal D. Rahman, Yanusa Nugoroho (Jakarta) dan Triyanto Triwikromo (Semarang)," katanya.

Pertemuan Sastra MPU di Lampung akan dipusatkan di Taman Budaya Lampung (TBL) dengan kegiatan berupa diskusi pada pagi hingga siang,

sementara itu, pertunjukan sastra akan berlangsung dari sore sampai malam di Teater Tertutup TBL. "Para peserta akan menginap di Bumi Kedaton. Hal itu sudah disetujui Gubernur Lampung Sjachroedin ZP," kata Gatot.

Menunjuk Bumi Kedaton, menurut Gatot Hudi Utomo, karena untuk mempromosikan objek wisata yang ada di Kota Bandar Lampung. Selain lokasinya nyaman, juga tempatnya layak bagi para seniman.

"Para tamu yang notabene adalah sastrawan biasanya memerlukan ketenangan, maka di Bumi Kedaton sangat cocok," ujarnya.

Kabid Kebudayaan dan Kesenian Budpar Lampung Yusup Rusman mengatakan, sejumlah sastrawan sudah mengirimkan karya-karya sastranya.

"Tetapi yang terbanyak dari Jawa Timur. Sedangkan sastrawan Lampung dan yang lainnya, masih kami tunggu karyanya," katanya.

Yusup berharap karya-karya sastra peserta Pertemuan Sastra MPU V akan dibukukan karena hal itu sudah menjadi komitmen Budpar dan Dewan Kesenian Lampung.

"Mudah-mudahan saja, rencana penerbitan buku Sastra MPU terwujud," kata Yusup.

Ia mengatakan karena pertemuan tersebut diikuti sembilan provinsi peserta MPU, maka sedikitnya seratus tamu dari luar Lampung akan hadir.

Oleh karena itu, ia menekankan hal tersebut merupakan momentum bagi promosi pariwisata di daerah ini.

Sumber: Antara, Senin, 20 September 2010

Semarakkan Lebaran dengan Topeng Sekura

LIWA – Pesta topeng sekura meramaikan perayaan Idul Fitri di Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung.

Beragam cara masyarakat di daerah menyemarakkan Lebaran 2010 ini. Pesta topeng sekura adalah salah satu tradisi masyarakat Lampung untuk memeriahkan Idul Fitri.

“Puluhan batang pinang ditanam di depan rumah warga yang berada dekat jalur lintas barat. Batang pinang yang ditanam tersebut guna perayaan pesta Sekura,” kata Endang Guntoro, Panitia Sekura di Pekon Canggu, Kecamatan Batu Brak, Lampung Barat, beberapa waktu lalu. Dia menjelaskan pesta sekura merupakan simbol kemenangan.

”Pelaksanaan pesta sekura setiap tahun diselenggarakan saat Idul Fitri di Lampung Barat. Perayaan sekura sebagai simbol kemenangan bagi masyarakat Lampung Barat setelah melaksanakan ibadah puasa,” katanya.

Endang melanjutkan, Lampung Barat masih memegang teguh adat dan budaya. “Daerah ini sangat kental terhadap budaya asli nenek moyang sehingga budaya asli daerah ini secara keseluruhan masih terus dilestarikan, dan salah satunya sekura,” kata Endang. Diakuinya, pesta sekura menyedot ribuan penonton.

“Acara yang digelar dipastikan menyedot ribuan masyarakat untuk menyaksikannya, bahkan panitia kewalahan mengatur masyarakat yang hendak menyaksikan pelaksanaan pesta sekura tersebut,” katanya. Puncak Idul Fitri disambut dengan suka cita oleh masyarakat Lampung Barat.

Bahkan pada lebaran hari kelima, ribuan warga memadati arena panjat pinang yang berada di jalur lintas barat.

Sekura sebagai salah satu budaya khas masyarakat Lampung Barat kian lestari. Hal itu terbukti dengan digelarnya acara tersebut setiap tahun oleh masyarakat.

Pelaksanaan pesta sekura terkesan meriah. Jalur lintas barat sangat cantik dengan ornamen batang pinang yang dihiasi dengan berbagai macam hadiah.

Yang paling menarik dalam pelaksanaan tersebut adalah saat lomba memanjat pohon pinang dengan menggunakan kostum unik, yang disematkan topeng sekura.

Ritual pesta sekura selalu dilaksanakan masyarakat Lampung Barat. Pasalnya, pesta sekura merupakan simbol kemenangan bagi masyarakat yang telah menjalani ibadah puasa sebulan penuh.

Kegiatan Budaya Selain pesta sekura, berbagai kegiatan budaya tidak ketinggalan digelar, di antaranya hahiwang, bubanding, bethetah, hadra, muayak, dan sijik.

Rangkaian acara budaya tersebut merupakan upaya masyarakat dalam pelestarian seni dan budaya, yang saat ini disinyalir hampir punah.

“Saya berharap agar budaya sekura selalu diselenggarakan setiap tahunnya sehingga budaya asli Lampung Barat senantiasa lestari seiring dengan persaingan budaya Barat di tengah masyarakat,” kata Endang.

Sementara itu, Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri mengatakan Lampung Barat kaya akan budaya daerah. “Daerah ini kaya akan budaya daerah yang kental sehingga menjadi daya tarik bagi Lampung Barat untuk menarik insvestor,” katanya.

Dia menjelaskan masyarakat masih memegang teguh tatanan adat yang berlaku. “Saya melihat masyarakat masih memegang teguh tatanan budaya adat yang telah ada sejak zaman nenek moyang dulu, dan sampai saat ini budaya tersebut masih menjadi kewajiban masyarakat untuk melaksanakan, dan optimistis budaya di Lampung Barat akan senantiasa lestari,” kata Bupati.

Dia berharap generasi muda dapat terpacu menyukai budaya asli daerah sehingga kelak dapat terjaga dengan baik. PL/L-1

Sumber: Koran Jakarta, Senin, 20 September 2010

September 19, 2010

[Buku] Letusan Krakatau dalam Syair Melayu

Oleh Damhuri Muhammad

LEBIH dari seribu kajian tentang letusan Krakatau telah ditulis, baik oleh ahli geologi, vulkanologi, metereologi, maupun oseanografi. Bermunculan pula sejumlah prosa karya seniman Eropa dari tahun 1889 hingga 1969, juga beberapa film yang menggambarkan bencana akbar itu. Akan tetapi, kajian dan karya seni dengan sudut pandang penduduk lokal masih langka.

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO


Buku Syair Lampung Karam karya Suryadi ini pantas disebut sebagai penemuan yang mengejutkan. Ahli filologi dan peneliti sastra klasik di Universitas Leiden ini menemukan naskah usang mengenai peristiwa letusan Krakatau 1883, bertajuk Syair Lampung Karam (SLK) karya Muhammad Saleh, diterbitkan di Singapura pada akhir abad ke-19.

Suryadi mencatat, SLK pernah terbit dalam bentuk litografi (cetak batu) dengan aksara Arab-Melayu sebanyak 4 kali. Edisi 1 berjudul Syair Negeri Lampung yang Dinaiki oleh Air dan Hujan Abu (1883/1884) kini tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) dan The Russian State Library, Moskwa.

Edisi 2, Inilah Syair Lampung Dinaiki Air laut (1884), juga tersimpan di PNRI. Edisi 3, Syair Lampung dan Anyer dan Tanjung Karang (1886), tersimpan di Cambridge University Library, dan edisi 4, Inilah Syair Lampung Karam Adanya (1888), penyalinnya Encik Ibrahim dan penerbitnya ”Al-Hajj Muhammad Tayib” di Singapura, tersimpan di PNRI, Perpustakaan Universitas Leiden, SOAS University of London, Universiti Malaya dan dalam koleksi kitab-kitab Melayu milik penginjil Methodist Emil Luring di Frankfurt, Jerman.

Syair kewartawanan

Muhammad Saleh berasal dari Tanjung Karang (Lampung), tempat ia secara langsung menyaksikan bencana letusan Gunung Krakatau pada 1883. Awal mula hamba berpikir/Di Tanjung Karang tempat musyafir (bait 4). Namun, dia menulis SLK di Kampung Bengkulu (kini Bencoolen Street) Singapura. Di Singapura duduk mengarang/Di Kampung Bangkahulu disebut orang (bait 369). Boleh jadi ia salah seorang pengungsi dari Lampung yang menyeberang ke Singapura selepas bencana. Orang banyak nyatalah tentu/bilangan lebih daripada seribu/mati sekalian orangnya itu/ditimpa lumpur, api dan abu (bait 128). Demikian salah satu potret suasana setelah letusan Krakatau dalam SLK.

Sejumlah peneliti menyebutnya ”syair kewartawanan”, semacam laporan pandangan mata tentang sebuah peristiwa, sebagaimana kerja jurnalistik masa kini. Namun, aspek khayali (imajinasi) dan efek dramatik tentu tak lepas dari kerja kepenyairan. Tak diragukan bahwa SLK bersandar pada fakta-fakta di seputar peristiwa letusan Krakatau 1883. Namun, penyair biasanya tidak semata-mata menyalin rupa peristiwa. Mata kepenyairan lebih menukik pada labirin suasana hati saat berhadapan dengan fakta (bukan fakta itu sendiri), atau yang disebut ”stimmung” oleh filsuf eksistensialis Jerman, Martin Heidegger (1889-1976).

Tengoklah pengakuan Muhammad Saleh pada bait 2: Fakir yang daif dagang yang hina/mengarang syair sebarang guna/sajaknya janggal banyak tak kena. Ungkapan perihal kekhilafan yang bisa saja terjadi. Lagi pula, bukankah teks sastra terikat pada bahasa yang digunakannya? Sementara realitas itu semakin dibahasakan, bukan semakin terang, tetapi justru semakin menyusut. Itu sebabnya Ludwig Wittgeisten (1889-1951) mensinyalir bahwa bahasa bersifat ”sewenang-wenang” terhadap realitas.

Gugatan kebenaran

Lalu, argumentasi apa yang dapat memperkuat hipotesis bahwa SLK bisa ditempatkan sebagai dokumentasi historis tentang letusan Krakatau? Sementara dalam ulasannya untuk bait penutup—Kerana hati gundah gulana/Terlalu banyak pikir kiranya/Terkena demam hampir matinya—Suryadi mengakui, tak ada jaminan apa yang digambarkan penyair sepenuhnya benar sebab dalam sastra selalu terbuka ruang untuk berimajinasi (hal 18).

Pada bait 235, penyair bahkan menegaskan permohonan maaf bila penggambarannya tentang peristiwa penting itu salah: Sekadar itulah hamba sebutkan/Kabar yang betul hamba katakan/tetapi tidak dengan penglihatan/Jikalau salah Tuan maafkan. Terbuka kemungkinan bahwa beberapa bagian dari 375 bait dalam SLK bukan sebagai laporan pandang mata, tetapi sebatas tafsir terhadap cerita yang didengar penyair dari sumber tertentu, sebagaimana diakuinya pada bait 84: Neneknya sendiri yang membilang/Bukannya hamba mengarang-ngarang.

Kesulitan menjangkau rujukan faktual dari naskah kuno berupa teks sastra pernah pula dialami Henri Chambert-Loir (2009) saat menelaah Hikayat Nakhoda Asik (HNA) dan Hikayat Merpati Mas, terbit pada paruh kedua abad ke-19. Rujukan geografis dalam kedua teks itu kabur. Hanya ada satu unsur yang dipertahankan pengarang—itu pun hanya dalam HNA—yaitu laut. Namun ’laut’ di sini sukar ditimbang sebagai rujukan geografis karena lebih terasa sebagai laut simbolik. Hikayat Merpati Mas juga menggambarkan tentang sebuah negeri yang dilanda petaka. Pada suatu malam datanglah air dari sebelah wetan, gemuruh suaranya, maka segala isi negeri habislah, ada yang berlari ke sana kemari, ada yang mencari pohon yang tinggi-tinggi. Menurut Henri, teks ini erat kaitannya dengan SLK.

Ketimbang menegaskan bahwa Hikayat Merpati Mas mengandung fakta-fakta tentang letusan Krakatau 1883, Henri hanya merujuk pada SLK yang berusia lebih tua. Lagi pula, siapa yang menjamin tidak akan ditemukan lagi naskah yang lebih tua? Maka, daripada memartabatkan SLK dalam kerangka kerja historiografi, akan lebih bebas risiko menempatkannya sebagai teks yang menjalankan fungsi konservasi terhadap sebuah kenangan yang mengharukan, tentang bencana besar yang pernah melanda negeri ini, agar kita tak lupa, tak lena, dan selalu waspada.

Damhuri Muhammad, Cerpenis

Sumber: Kompas, Minggu, 19 September 2010