December 9, 2012

[Fokus] Kreatif dengan Seni Tradisi

MENAMPILKAN seni tradisi Lampung dalam corak dan bentuk yang modern memang tidak selalu mulus. Ada saja pihak yang merasa sebagai ?penjaga tradisi? melihat secara picik dan menganggap modernisasi sebagai hal yang bisa merusak budaya Lampung.

Teater Satu pernah menampilkan lakon Aruk Gugat di Kaliakar, Bandar Lampung, di hadapan para tokoh adat. Awalnya para tokoh adat ini mengkritik teater yang membawakan legenda Aruk dan sastra lisan warahan itu.


Namun, setelah menyaksikan pertunjukan Aruk dalam tampilan teater modern, hampir semua tokoh adat terpingkal-pingkal dan menikmati tontonan. Bahkan ada yang tertawa hingga muntah. Tidak ada lagi kritik dan penolakan terhadap guhanan legenda dan tradisi lisan yang disajikan dalam bentuk yang lebih ngepop.

Pimpinan Umum Teater Satu, Iswadi Pratama, menjelaskan bahwa untuk menampilkan seni tradisi dalam bentuk modern dan menyesuaikan kebutuhan zaman, selalu ada penolakan dan kritik tajam dari mana saja. Namun, itu semua dianggap sebagai masukan.

?Yang perlu ditegaskan, apakah warahan yang bentuknya hanya mendongeng dan diiringi musik gambus bisa diterima generasi saat ini. Generasi MTv, yang dari bangun tidur hingga tidur lagi melihat tontonan televisi,? kata dia.

Supaya bisa diterima generasi saat ini, Iswadi pun memodifikasi warahan dengan memasukkan kultur urban di dalamnya. Jika hanya menyampaikan bentuk aslinya belum tentu bisa diterima semua kalangan. ?Berkompromi antara seni tradisi dan budaya urban dengan tetap menjaga keaslian teater rakyat,? kata Iswadi.

Budaya pop yang dimasukkan adalah adanya musik hip-hop sebagai pengiring teater. Namun, alat musik tradisional seperti rebana dan gambus tetap dipertahankan seperti aslinya. Di setiap pergantian adegan dimasukkan pantun dan dongeng khas Lampung layaknya warahan, teater rakyat. Selain itu, tari, karakter tokoh, dan logat dan cara berbicara, dibuat semirip mungkin dengan orang Lampung.

Menurut Iswadi, tidak ada batasan sejauh mana kompromi dalam memadukan teater rakyat dengan budaya modern. Kesenian tidak punya batasan, tergantung pada si pengarang atau sutradara. Namun, seniman juga harus

arif dengan tetap memunculkan seni tradisi sebagai sebuah kekuatan. ?Jangan malah tradisi yang kemudian tertutupi kemodernan sehingga tidak tampak lagi mana teater rakyatnya,? kata dia.

Mantan jurnalis ini mengingatkan bahwa inti dari menampilkan seni tradisi dalam bentuk yang modern adalah supaya teater rakyat masih tetap hidup dan berkembang. Justru jika seni rakyatnya tidak terlihat lagi, akan hilang esensi dari pelestarian budaya. ?Bentuk

tradisi yang asli harus tetap ada dan dipertahankan supaya bisa dipelajari,? kata dia.

Komunitas Jazz Lampung, Dodo Mikha, mengatakan memadukan cetik atau gamolan dalam jazz bukan semeta-mata hanya mencantolkan alat musik tradisi Lampung itu dalam alunan musik berkelas itu. Justru, cetik-lah yang harus ditonjolkan bukan hanya sebagai tempelan. ?Cetik itu yang

dijadikan line up, alat musik yang lain hanya sebagai pengiring,? kata dia.

Saat Festival Ngayogjazz, alat musik modern, seperti piano, bass, dan drum, dimainkan untuk lebih menghidupkan suara cetik. Justru cetik yang harus dominan supaya orang melihat alat musik dari bambu itu sebagai sajian utama.

Yang dilakukan Dodo dan kawan-kawan dalam membawakan cetik bersama jazz adalah bentuk untuk mengembangkan musik tradisi Lampung. Cetik sebagai alat musik yang tidak tergantikan oleh suara alat musik lain. Tidak ada alat musik yang bisa menghasilkan suara seperti cetik. ?Di situlah keunggulannya Lampung punya alat musik yang khas. Meskipun tidak ada nada fa. Justru itulah yang membuat lebih unik,? katanya.

Lewat jazz, cetik ingin ditampilkan dengan cara yang berbeda dan berkalas ke ajang nasional dan internasional. Hal itu untuk lebih mengenalkan cetik kepada masyarakat bahwa alat musik ini bisa ditamipilkan dalam balutan musik modern.

Menurut Dodo, justru cetik tidak akan berkembang jika hanya ditabuh-tabuh dengan cara biasa. Tugas saat ini bukan hanya melestarikan, melainkan mengembangkan cetik. Dengan mengajarkan tabuhan cetik di sekolah, itu adalah cara untuk melestarikan, tapi pada tahap mengembangkan. "Jangan sampai nanti malah orang dari luar Lampung yang kemudian mengembangkan cetik. Malu jika sampai itu terjadi. Harusnya orang di Lampung sendiri yang mengembangkan dan memainkan dengan cara yang baru yang lebih menarik," kata pria 41 tahun ini.

Hidayat Suroyo Dijoyo, personel grup musik Roadblock Dub Collective yang membuat lagu hip-hop campuran bahasa Inggris dan Lampung, menilai di Lampung terlambat dalam memopulerkan bahasa daerah dalam musik modern. Jawa dan Sunda sudah lebih dahulu berkibar dengan rap bahasa daerah.

Dia menilai keterlambatan itu karena orang-orang pendatang di Lampung kesulitan dalam belajar bahasa daerah. Bahkan orang asli Lampung, sungkan untuk berbahasa daerah. Ada rasa tidak percaya diri jika

memakai bahasa daerah. Hal itulah yang membuat bahasa daerah tidak berkembang. Padahal jika bahasa lampung dieksplorasi lewat musik, tidak kalah menarik dan enak di dengar.

?Anak muda yang punya kemampuan berbahasa Lampung terbatas sehingga tidak bisa berbuat banyak untuk mengembangkan musik berbahasa Lampung,? kata dia.  (PADLI RAMDAN/M-1)
Sumber: Lampung Post, Minggu, 9 Desember 2012     

1 comment:

  1. http://www.reverbnation.com/sekuraclans

    ReplyDelete