December 23, 2012

[Fokus] Ramai-Ramai Menerbitkan Buku

DUNIA kepenulisan di Lampung makin bergema. Penulis-penulis muda bermunculan dari berbagai latar belakang. Karya mereka mencuri perhatian meskipun hanya dicetak oleh penerbit lokal.

Oki Hajiansyah Wahab diundang Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) untuk bedah buku di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Buku karya Oki yang berjudul Terasing di Negeri Sendiri menjadi bahan diskusi yang menarik bagi mahasiswa di negeri jiran itu.


Terasing di Negeri Sendiri adalah buku yang menceritakan tentang pengabaian negara terhadap hak-hak warga Moro-Moro, Register 45, Mesuji. Warga yang sudah tinggal puluhan tahun di wilayah itu tidak mendapat pelayanan kesehatan dan pendidikan. Bahkan, untuk memperoleh

KTP tidak dilayani.

Buku karya mahasiswa program doktor Universitas Diponegoro ini sudah dua kali cetak. Cetakan pertama 1.000 eksemplar habis hanya dalam tiga bulan. Kini dicetak kembali sebanyak 3.000 eksemplar. Ada juga

edisi bahasa Inggrisnya yang dijual ke beberapa negara, seperti Belanda, Prancis, Hong Kong, Malaysia, dan Kanada.

Bagi Oki, menulis adalah menyalurkan hobi sekaligus sebagai tanggung jawab intelektual untuk berbagi pengetahuan dengan masyarakat. ?Dengan buku juga, saya bisa menyuarakan kepentingan orang yang tertindas oleh negara,? kata lulusan magister hukum Unila ini.

Ada lagi Rostuti Lusiwati Sitanggang. Ibu rumah tangga yang juga PNS di Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung itu rajin menulis buku. Di sela-sela kesibukannya, dia masih produktif menulis dan berkarya.

Sejak 2011 hingga kini sudah belasan buku yang dia tulis. ?Kebanyakan buku yang ditulis bersama penulis lain. Hanya satu buku yang ditulis sendiri,? kata ibu dua anak ini.

Tuti memang hobi menulis sejak mahasiswa. Namun, belum banyak berkarya dalam bentuk buku dan tidak dikirim ke media. Setelah bergabung dengan komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN), kemampuannya makin terasah dan mendapat bimbingan dari beberapa orang yang sudah mahir.

Buku yang ditulis lulusan Universitas Hasanudin ini berbagai tema, misalnya cerita anak, pengembangan diri, dan hobi. Buku yang ditulis solo oleh Tuti bercerita tentang tips dan pengalaman merawat hewan peliharaan di rumah. ?Kebetulan saya memang punya pengalaman

panjang merawat berbagai jenis hewan peliharaan. Jadi ini seputar pengalaman sendiri dan membaca berbagai literatur buku dan di internet,? kata dia.

Meskipun masih merasa sebagai penulis pemula, Tuti senang karyanya dibeli penerbit nasional yang sudah memiliki jaringan ke banyak daerah.

Menulis menjadi ajang perempuan 36 tahun ini untuk mencari ketenangan di tengah kebisukan rumah dan kantor. Rutinitas pekerjaan membuatnya suntuk dan membutuhkan aktivitas yang menyenangkan dan membuatnya segar. Dia menilai dengan menulis membuat pikirannya terbuka dan

lebih segar.

?Berkarya lewat buku menjadi ajang pembuktian diri bahwa saya punya kemampuan lain. Tidak hanya menulis, buku saya juga punya nilai jual dan layak dibaca sehingga penerbit pun mau mencetaknya,? kata Tuti.

Juga penulis muda asal Kota Metro, Maulita Anggi Asih, yang berkarya dengan novel perdananya yang berjudul Senar Biola. Meskipun tidak didukung orang tuanya menjadi penulis, dia tetap berkarya. ?Ayah menilai profesi penulis atau sastrawan tidak menjamin masa depan,? kata remaja yang biasa disapa Moli ini.

Pelajar kelas XII SMKN 1 Metro ini awalnya menulis cerita pendek. Setelah cerpennya terkumpul, ada beberapa cerita yang serupa dan bisa disambungkan. Akhirnya, cerpen yang berkaitan dikembangkan lagi menjadi satu cerita utuh dan lahirlah sebuah novel.

Menurut Moli, dengan menulis dia bisa menyampaikan gagasan dan berbagi kepada orang lain. Berbagi pengetahuan, pengalaman, sekaligus menularkan semangat dan pelajaran kehidupan. "Dalam novel saya, menggambarkan perjuangan dan kerja keras, persahabatan, dan cinta. Orang pun bisa belajar dari karya yang saya tulis," kata pemilik nama pena Maulita Mamimore Al-Fakhri.

Lain lagi bagi motivator muda asal Bandar Lampung, Suhendra, yang ingin berbagi tentang cerita kesuksesan lewat buku. Buku berjudul Nyontek itu awalnya dijual dalam bentuk fotokopi seadanya. Walaupun begitu, 1.000 eksemplar langsung habis hanya dalam dua bulan. (PADLI RAMDAN/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 23 Desember 2012
           





No comments:

Post a Comment