December 9, 2012

[Komunitas] Pesan Moral melalui Gajah

SEBUAH kota besar dengan gedung-gedung kokoh dan menjulang berdiri bukan di atas tanah. Ini sebuah kota modern yang berbeda dengan daerah lain. Justru bangunan megah dan taman yang hijau sebagai pendukungnya itu berdiri di atas potongan gading gajah.

Ternyata penopang kota dengan gading sebagai tanahnya itu hanyalah dua ranting tua yang kering. Di sisi lain, seekor gajah dari jauh hanya bisa melihat bangunan yang berdiri megah.


Gading milik si gajah menjadi alas kota. Pemandangan itu merupakan isi dari lukisan berjudul Kota-nisasi karya perupa asal Lampung Timur, Eddy Purwantoro. Lukisan cat minyak di atas kanvas itu merupakan salah satu karya yang dipamerkan di Taman Budaya Lampung. Perhetalan yang berlangsung sejak 2?8 Desember itu merupakan pameran perdana yang digelar Kelompok Enam.

Eddy adalah salah satu seniman yang banyak menampilkan karya soal gajah dalam lukisannya. Setidaknya dari 30 lukisan yang dipamerkan, tiga karyanya bercerita tentang makhluk berbelalai panjang itu.

Pelukis lain yang menampilkan gambar gajah dalam versi lain adalah Firmansyah dan Sutanto. Firmansyah menggambarkan gajah yang tergantung dililit oleh kabel-kabel mesin. Karya dari cat minyak yang berjudul Exploitation itu pun ingin menyampaikan kegelisahan yang sama tentang kerusakan alam dan habitatnya.

Perkembangan kota dan pertumbuhan industri seakan menjadi mesin penghancur yang merusak hutan dan fauana. Fauna yang tinggal di dalam hutan pun harus terusir karena pohon dan lingkungan sudah rusak. Hal ini seperti yang tergambar dalam lukisan Terusir karya Eddy Purwantoro.

Meskipun tidak mengusung tema, pameran yang digagas Kelompok Enam ingin menyampaikan pesan yang sama soal kerusakan lingkungan dan persoalan sosial yang ada di sekitar. Di samping lukisan yang sarat akan kritik sosial, ada juga beberapa lukisan abstrak yang dihasilkan Mukhsin Soleh.

Karya yang dibuat Mukhsin pada media acrylic berisi goresan warna-warni yang tidak beraturan. Namun, pada sisi lain ada tulisan dalam bahasa arab. Lukisan itu berjudul Di Rumahku Ada Surga.

Bila diperhatikan saksama dari kejauhan, goresan tidak beraturan itu membentuk kata dalam bahasa arab, arrahman dan arrahim, yang artinya maha pengasih dan maha penyayang.

Menurut Mukhsin, bila di dalam rumah ada sifat saling mengasihi dan menyayangi, akan terwujudlah surga di dalamnya. Lukisan yang merukan curahan hati dan memang manggambarkan suasana batin saat melukis.

Para pelukis itu hanya membutuhkan waktu satu bulan untuk membuat lima lukisan yang ditampilkan dalam pameran. Beberapa pelukis memilih waktu malam hari hingga pagi untuk menyelesaikan lukisan.

Firmansyah dan Mukhsin adalah salah satunya. Keduanya melukis saat malam hari hingga pagi untuk mendapatkan ketenangan dan tidak ada gangguan. ?Kalau meluki siang banyak sekali godaannya, dari mulai bunyi telepon sampai makanan,? kata dia.

Menuru Mukhsin, melukis pada malam hari karena kesibukan di siang hari. Waktu siang dipakai untuk mencari rezeki bagi keluarga sehingga waktu luangnya hanya ada pada malam hari.

Berbeda dengan Sutanto. Dia mulai melukis saat dini hari, sekitar pukul 03.00 hingga siang hari.

Justru setelah bangun tidurlah dia mendapatkan inspirasi melukis. ?Awalnya sering terbangun dini hari karena beberapa tetangga yang baru pulang kerja. Saya pun tidak bisa tidur lagi. Saya tumpahkah kekesalan itu lewat lukisan,? kata dia.

Begi pelukis, menjaga mood melukis sangatlah penting. Bila tidak mood, berjam-jam di depan kanvas dan melukis, tidak akan ada hasilnya. ?Kondisi psikologis itu tergantung dengan suasana hati.?

Para pelukis yang tergabung dalam Kelompok Enam itu memiliki ambisi besar untuk menggelar pameran tunggal. Pameran tunggal menjadi cita-cita besar setiap pelukis. Lewat komunitas inilah mereka membuka jalan untuk terus berkarya dan menghasilkan lukisan berkualitas hingga suatu saat bisa mengadakan pameran sendiri. (PADLI RAMDAN/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 9 Desember 2012     

No comments:

Post a Comment