December 16, 2012

[Perjalanan] Trek Tebing Air Terjun Way Kalam

GUNUNG Rajabasa yang masuk Register 3 itu menyimpan banyak keindahan alam. Salah satunya, air terjun Way Kalam.


Parit yang mengalirkan air pegunungan nan jernih di aliran sungai Way Kalam di Gunung Rajabasa itu tiba-tiba terputus. Tak pelak, jutaan meter kubik air yang turun dari puncak serta-merta jatuh dan terjun ke lembah sedalam sekira 40 meter.

Di lembah, air yang terjun tak henti sepanjang tahun itu membentuk tilas berupa ceruk. Beruntung bebatuan besar mampu menangkis terpaan air sehingga percikannya membuncah bagai salju. Di situlah gemercak air terjun Way Kalam yang bisa dinikmati oleh pengunjung.

Tempat yang spektakuler ini berada di Dusun Way Kalam, Desa Way Kalam, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan. Posisinya berada di kaki Gunung Rajabasa.

Untuk menuju lokasi itu, ada dua rute yang bisa ditempuh. Pertama, melalui jalur Desa Rawi menuju Dusun Merambung, Desa Padan, yang selanjutnya tembus ke Desa Way Kalam. Lalu, rute berikutnya yaitu melalui Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan, menuju ke arah Gunung Rajabasa yang juga tembus ke Desa Way Kalam.

Ada angkutan perdesaan yang bisa ditumpangi jurusan Kalianda?Bakauheni. Dengan angkutan itu, wisatawan akan dikenai tarif relatif cukup murah. Jika naik dari Pasar Inpres, Kalianda, turun di simpang Pasuruan atau simpang Desa Banjarmasin.

Dari simpang itu, perjalanan menuju air terjun Way Kalam dilanjutkan dengan menumpang ojek. Tarif yang ditawarkan para pengojek mulai Rp5.000?Rp7.000 dengan jarak tempuh sekitar 3 km.

Namun, disarankan jika ingin berkunjung ke air terjun Way Kalam, lebih baik menggunakan sepeda motor dengan jalur simpang Desa Banjarmasin menuju Desa Way Kalam.

Setelah sampai di Desa Way Kalam, tanya kepada penduduk desa yang mayoritas bersuku Sunda dan Jawa Serang (Jaseng). Para penduduk yang ramah tamah itu akan menjawab apa pun pertanyaan yang diajukan seputar air terjun Way Kalam.

Dari Desa Way Kalam menuju ke lokasi air terjun, ditempuh dengan waktu sekitar 20 menit menggunakan roda dua maupun roda empat dengan jarak sekitar 2 km. Di sini, pengunjung harus lebih hati-hati. Selain karena jalan menanjak, juga masih onderlaag dan jalan tanah yang licin lantaran berlumut.

Jika menggunakan kendaraan, ada tempat parkir yang berlokasi di perempatan air terjun. Dari tempat ini, air terjun tersebut tinggal sekitar 1 km.

Dari tempat parkir ini, pengunjung dituntut untuk berjalan kaki. Meskipun agak jauh, karena suara deburan air terjun yang jatuh dari ketinggian sekitar 40 meter mulai terdengar membuat terasa dekat. Udara sejuk nan asri juga cukup terasa di lokasi ini.

Tak jarang juga kabut tipis menutupi sekitar lokasi air terjun. Bahkan, jika pengunjung yang beruntung bisa melihat lutung atau monyet yang bergelantungan di atas pepohonan besar yang berada di kasawan Gunung Rajabasa itu.

Primata liar itu menjadi pemandangan tersendiri bagi pengunjung yang datang ke lokasi air terjun Way Kalam. "Kalau cuaca habis hujan kabutnya bisa tebal," kata Umar (22), salah seorang warga setempat.

Dari tempat parkir ke lokasi air terjun, pengunjung juga harus berhati-hati. Sebab, selain rute menurun nan terjal, jalan setapak yang akan dilalui itu licin dan becek. Terlebih jika hujan baru saja turun.

"Jalannya hanya setapak, masih tanah dan licin. Memang harus hati-hati, jika tidak bisa tergelincir," ujar Umar lagi.

Warga asli Way Kalam itu menyebutkan jika kondisi cuaca normal, trek menuju Way Kalam dari tempat parkiran menuju air terjun bisa ditempuh sekitar 15?20 menit. Namun, jika kondisi sehabis hujan, waktu yang dibutuhkan lebih dari itu. "Karena harus hati-hati, kecepatan berjalan juga harus ekstrahati-hati dan perlahan," kata dia.

Menurut Umar, yang sehari-hari berprofesi sebagai pekebun itu, banyak pengunjung yang datang untuk berekreasi melihat keindahan air terjun Way Kalam. Terlebih saat musim liburan para mahasiswa dan hari libur nasional.

Begitu juga dengan kelompok-kelompok mahasiswa pencinta alam yang melakukan perkemahan. "Ya, sudah pernah datang ke sini cukup banyak, mencapai ribuan orang sudah melihat air terjun Way Kalam," ujar dia.

Menapaki jalur setapak itu, ternyata pengunjung memang harus benar-benar berhati-hati. Sebab, jalur tersebut benar-benar licin dan becek. Belum lagi dengan kondisi jalur yang terjal dan cukup membahayakan.

Sebenarnya, pemerintah kabupaten bisa memaksimalkan potensi wisata itu. Dukungan infrastruktur berupa peningkatan jalur menuju lokasi perlu dilakukan sehingga objek wisata itu semakin berkembang dan kian dikenal masyarakat luas.

Tiba di lokasi, rasa lelah setelah melintasi jalur licin nan terjal itu akan terobati begitu melihat air terjun. Betapa tidak, suara deburan air yang jatuh membuat suasana hati terasa damai. Belum lagi dengan suasana sejuk di lokasi menambah kenyamanan dan kenikmatan jiwa bagi siapa pun yang datang untuk melihat panorama alam itu. Terlebih, udara segar yang keluar dari rindangnya pehohonan di sekeliling lokasi.

Track Climbing

Jalur setapak menuju air terjun Way Kalam bisa menjadi salah satu pilihan alternatif bagi para pencinta climbing. Pasalnya, trek air terjun ini cukup terjal, licin, dan menantang. Tentunya kondisi itu sangat cocok untuk memacu adrenalin para pecinta climbing.

Di jalur itu, berbagai tawaran perlintasan memang disuguhkan. Mulai dari merangkak di akar pepohonan besar, meniti bebatuan, sampai melintasi jalan tanah yang licin lantaran terkena hujan dan berlumut.

Jarak sekitar 1 km dari tebing atas menuju lokasi air terjun juga cukup menjadi tantangan tersendiri bagi setiap pengunjung ataupun para pendaki yang ingin mencoba trek tersebut.

Ketika berkunjung ke lokasi itu, setiap pepohonan dan dahan yang berada di jalur tak luput menjadi genggaman untuk menahan beban tubuh. Sebab, jika tidak dibantu dengan berpegangan pohon-pohon kecil yang tumbuh di sekitar jalur, bisa jadi pengunjung tergelincir.

Lokasi air terjun Way Kalam itu sebenarnya berada di antara dua tebing hutan Gunung Rajabasa yang memiliki jurang yang dilintasi air terjun. Jalur menuju air terjun yang biasa digunakan saat ini merupakan tebing sebelah kanan jika menghadap ke air terjun.

Menurut Umar, jalur trek air terjun Way Kalam itu memang kerap dijadikan para organisasi pecinta alam untuk melakukan climbing. ?Kadang mereka datang hanya untuk bolak-balik saja di jalur ini. Tidak untuk melihat air terjun,? kata Umar.

Lebih lanjut, Umar menjelaskan jalur trek air terjun Way Kalam merupakan media untuk pendakian yang disediakan oleh alam. ?Kita tidak perlu menggunakan peralatan serta alat-alat climbing lainnya. Karena, alam sendiri sudah diberikan, tinggal bagaimana kita menggunakanya,? ujar dia.

Namun, kata Umar, jika memang ada pecinta climbing ingin melakukan pemanjatan tebing, di lokasi air terjun Way Kalam memang cocok untuk dijadikan salah satu alternatif. Sebab, di lokasi itu terdapat tebing-tebing bebatuan yang bisa dipanjat.

?Tapi, itu hanya berlaku bagi para climber profesional dengan berbagai perlengkapan yang memadai. Kalau warga biasa cukup membahayakan,? ujarnya. (JUWANTORO/M-1)

Sumber: Lampung Post, Minggu, 16 Desember 2012

2 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Terimakasih Atas Kunjungan Anda ke Air Terjun Way Kalam,
    Semoga bisa memberikan Kesan buat Anda & Mohon Maaf bila ada hal yang kurang berkenan dihati..

    Salam,
    Kunjungi Fanspage kami di :
    https://www.facebook.com/AirterjunWaykalam

    ReplyDelete