December 17, 2012

[Edisi Khusus] Episode Baru Tulangbawang

Oleh Asrian Hendi Caya

KABUPATEN Tulangbawang memasuki episode baru. Episode ini bukan semata karena pergantian kepala daerah (bupati). Pergantian bupati memang menandai episode tersebut. Episode ini dimulai dengan pemekaran wilayah sehingga Kabupaten Tulangbawang dipecah menjadi tiga, yaitu Kabupaten Tulangbawang sebagai kabupaten induk, Kabupaten Mesuji, dan Kabupaten Tulangbawang Barat sebagai kabupaten baru.

Pemekaran ini tentunya punya implikasi yang luas bagi Tulangbawang. Bukan hanya wilayahnya yang berkurang, sehingga konfigurasi sumber daya alam dan manusia berubah. Bersamaan dengan itu, Tulangbawang harus memosisikan ulang perannya dalam konteks kewilayahan. Itulah sebabnya Tulangbawang harus mendefinisikan kembali keberadaannya dan masa depannya.


Inilah episode baru Tulangbawang. Pertama, Tulangbawang harus memosisikan sebagai pusat pelayanan kawasan timur Lampung. Hal ini sangat mungkin karena wilayah sekitar masih belum akan mampu menyediakan pelayanan yang memadai dalam waktu dekat. Sebagai pusat pelayanan, Tulangbawang harus mengangkat skala pelayanan, baik ekonomi maupun sosial. Pusat layanan ini akan menjadi penggerak ekonomi Tulangbawang ke depan.

Di bidang sosial, Universitas Megou Pak merupakan salah satu contohnya sehingga harus dipertahankan bahkan dikembangkan, sementara rumah sakit juga harus demikian. Di bidang ekonomi, Tulangbawang diharapkan dapat menyediakan pusat perdagangan skala regional, termasuk mendorong peningkatan skala layanan perbankan dan lembaga keuangan lainnya.

Kedua, Tulangbawang harus menjadi pusat pertumbuhan wilayah timur Lampung. Pusat pertumbuhan bisa dimulai dengan mengangkat skala pelayanan sehingga merupakan pusat pelayanan wilayah timur Lampung. Sebagai pusat pertumbuhan, Tulangbawang diharapkan dapat mendorong tumbuhnya sektor industri, terutama yang mengolah hasil-hasil pertanian. Misalnya, sebagaimana sudah dipahami Tulangbawang merupakan pusat singkong.

Industri singkong sangat luas sehingga dapat dikembangkan sebagai komoditas utama. Mocaf (tepung singkong) merupakan salah satunya, yang ke depan makin luas penggunaannya, terutama dalam menggantikan sebagian fungsi terigu yang harus diimpor. Apalagi, secara nasional Lampung diarahkan untuk mengembangkan industri tepung-tepungan.

Yang harus dilakukan Tulangbawang adalah membangun iklim usaha yang sehat yaitu dengan mempersiapkan infrastruktur (energi, transportasi, air, serta kawasan), pengaturan yang ramah investasi (perizinan, pungutan, dan lainnya), serta keamanan. Hal ini sangat mungkin dilakukan karena sudah terbangunnya kelembagaan pembangunan serta adanya jalur lintas timur dan melintasnya jaringan gas.

Ketiga, hal ini akan menandai era baru Tulangbawang. Keberadaan bupati baru akan menegaskan hal itu bila disemangati oleh pendefinisian ulang peran Tulangbawang, baik dalam skala lokal maupun regional.

Hal-hal penting lain yang perlu didalami adalah bahwa Tulangbawang masih berstruktur ekonomi pertanian. Sementara pertumbuhan pertanian justru akan mengurangi pekerja di sektor pertanian dan malah meningkatkan pekerja nonpertanian, begitu juga dengan pertumbuhan ekonomi. Artinya, ada kecenderungan pertanian Tulangbawang tumbuh menuju skala menengah-besar.

Pertumbuhan pertanian dan pertumbuhan ekonomi akan mengurangi kemiskinan, baik jumlah penduduk miskin maupun keparahan (P2) dan kedalaman kemiskinan (P1). Hanya saja, keterkaitannya kecil sehingga untuk menanggulangi kemiskinan harus ada perubahan pola pertanian atau justru melalui kegiatan nonpertanian.

Di sisi lain, makin banyak orang bekerja di sektor pertanian, maka kemiskinan akan berkurang, hanya saja keterkaitannya rendah. Justru yang punya keterkaitan kuat dalam pengurangan kemiskinan adalah pekerja informal. Artinya, selama ini penduduk banyak terbantu dengan kegiatan informal.

Kondisi lain yang harus diperhatikan adalah ketimpangan pendapatan di Tulangbawang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan provinsi (Lampung). Angka partisipasi sekolah (APS) umur 10?25 tahun dan melek huruf juga masih di bawah provinsi. Keluhan kesehatan di atas provinsi dan 79% penduduk berobat tidak ke rumah sakit (pemerintah dan swasta) dan puskes/pustu.

Ini merupakan tantangan bupati baru, yang penanganannya akan menandai episode baru Tulangbawang. Selamat datang Tulangbawang baru. Selamat bertugas bupati baru. Semoga sukses Handayo. Semoga jaya Tulangbawang!

Asrian Hendi Caya, Peneliti Pusat Studi dan Informasi Pembangunan (Pusiban) dan Dosen FEB Unila

Sumber: Lampung Post, Senin, 17 Desember 2012

No comments:

Post a Comment