December 13, 2008

Traveling: Menggala, Sisa-Sisa Pengobat Rindu

MENGGALA--Tak ada lagi suara tetabuhan talo balak atau kulintang ketika kita melewati Kota Menggala. Namun, nuansa etnis kampung ini masih terasa. Bagi Anda yang ingin bernostalgia, masih ada sisa-sisa pengobat rindu yang mungkin tak terobati.

-------------

Kabupaten Tulangbawang memang belum memiliki andalan daerah wisata yang bisa dijual ke masyarakat sebagai alternatif hiburan warga. Namun, sesungguhnya banyak potensi wisata yang bisa dikembangkan daerah itu. Tetapi sesungguhnya wisata tidak harus menyusuri objek-objek yang bernilai finansial mewah atau harus ke pantai, hutan dan ke mal-mal. Suasana etnik di suatu kampung asli juga bisa menjadi daya tarik tersendiri.

Menggala adalah satu kawasan kota tua yang penuh dengan nuansa etnik tinggi adat Lampung Tulangbawang. Sampai kini, keberadaan bangunan rumah tua, bahasa, dan adat istiadatnya, menjadi daya tarik tersendiri untuk bisa dijadikan kawasan wisata. Rumah-rumah panggung asli khas Lampung, masih banyak terlihat kokoh berdiri meskipun gempuran arsitektur modern terus mengguyur kota berumur ratusan tahun itu. Meskipun tokoh Menggala Rukhat Kesuma Yuda mengakui sudah banyak rumah adat yang berubah bentuk, masih tetap bisa ditemukan beberapa rumah adat berumur ratusan tahun.

Kawasan kota tua Menggala sebagai ibu kota Kabupaten Tulangbawang pun memiliki banyak pesan sejarah yang sangat istimewa bagi perjalanan bangsa hingga kini, termasuk perjalanan Pemerintah Kabupaten Tulangbawang. Memang sulit dilacak adanya bukti fisik sebagai bukti sejarah yang bisa ditemukan dalam museum adat sebagaimana terjadi di kampung-kampung tua lain di Indonesia.

Meskipun tidak ada museum adat, banyak tokoh yang masih bisa menjadi narasumber untuk menceritakan kebesaran Menggala masa silam, termasuk mantan Pejabat Pembantu Bupati Lampung Utara wilayah Menggala tahun 1993--1994 Rukyat Kesuma Yuda (71).

Jika kita memasuki kawasan Kota Menggala, melewati Terminal Menggala, suasana etnis sudah mulai terasa. Dari bentuk bangunan yang berdiri di sepanjang kiri-kanan jalan, rumah-rumah panggung dan bentuk ornamen khas Lampung Menggala, masih terlihat kokoh di sepanjang kota tua tersebut. Meskipun sebagian rumah-rumah itu terkesan mulai memburuk. Berkunjung di kampung adat (tua) yang memiliki banyak bangunan rumah adat, juga bisa menambah pengetahuan masyarakat. Pengunjung bisa bertanya tentang sejarah rumah adat dan keberadaan marga adat.

Di kawasan kota tua Menggala, memang terkesan lain. Dari segi makanan yang tersaji di beberapa rumah makan, terkesan sangat etnis.

Makanan khas Lampung Menggala sangat mudah ditemui di hampir semua rumah makan yang ada. Menu nasi dengan seruit (sambal terasi), ikan bakar, pepes, pindang, dan udang goreng, menjadi nuansa tersendiri yang bisa ditemui hampir setiap rumah makan.

Kemudian, bahasa sehari-hari yang digunakan juga mayoritas bahasa daerah Lampung. Maka jangan heran jika kita kadang kesulitan menangkapnya. Namun, jika lawan bicara diketahui bukan suku Lampung, bahasa Indonesia yang digunakan.

Di kota tua Menggala juga ada Masjid Agung yang merupakan Masjid tertua di Tulangbawang. Di sana tertulis bangunan masjid tahun 1830 Masehi. Meskipun sudah berumur 178 tahun, bangunan masjid itu masih terlihat kokoh dengan menara di samping masjid.

Bekas kejayaan Menggala juga masih terlihat dengan adanya dermaga kapal yang terdapat di Kampung Bugis, Menggala. Tapi sayang, kini kondisinya sangat memprihatinkan. Meskipun demikian, kapal-kapal nelayan masih banyak yang memanfaatkan fasilitas peninggalan zaman dahulu itu. "Hanya sampai sekarang peran pemerintah untuk memberikan bantuan guna melakukan pemugaran rumah-rumah adat belum terdengar. Padahal, wisata harus sarat dengan promosi," ungkap Rukhyat Kesuma Yuda.

Sarana transportasi di kota tua itu sudah cukup memadai. Kota Menggala yang terbelah dengan lima jalan (strat) sebutan masyarakat setempat, umumnya sudah diaspal sehingga aspek transportasi lancar. Di Menggala, kita juga bisa melihat betapa masih berfungsinya Way Tulangbawang sebagai sarana transportasi air untuk beberapa tujuan. Di antaranya, Pagardewan, Gedungmeneng, Gedungaji Lama, Dente Teladas hingga ke Kuala Laut Jawa. Sejarahnya Menggala memang dibangun dari transportasi air. Maka di bawah Kota Menggala sepanjang Way Tulangbawang banyak berdiri kampung-kampung tua.

Legenda Kapal China dan Pulau Daging

Di Menggala juga terdapat cerita adanya Pulau Kapal China dan Pulau Daging. Hanya sampai kini, kata Rukhyat, belum bisa dibuktikan secara ilmiah ataupun bukti sejarah. Pulau Kapal China dan Pulau Daging memang sejak lama melegenda di masyarakat Menggala, tapi lebih besar legendanya daripada sejarahnya. Sampai kini yang disebut-sebut Pulau Kapal China dan Pulau Daging masih terlihat jelas. Tapi berbentuk hutan/belukar yang teletak di tengah rawa.

Dua pulau itu berada di sebelah kantor Kecamatan Menggala lama. Meskipun tidak terbukti secara ilmiah, banyak orang hafal betul tentang cerita tersebut. Menurut cerita tahun 1650 M, datang orang China dengan menggunakan kapal. Namun, sampai di Menggala dirampok, dan mayatnya yang berjumlah sekitar 300-an dibuang di pulau yang sekerang dikenal dengan Pulau Daging. Sementara itu, Pulau Kapal China menjadi legenda karena terbentuk dari kapal China yang dirampok dan terguling. Maka pulau itu terlihat memanjang seperti kapal terguling.

Versi lain, orang-orang China itu datang untuk merampok. Maka orang Menggala menghalau dan menangkapnya.

Yasir Hadibroto, tahun 1982, di Kalianda, juga sempat menceritakan keberadaan Menggala, termasuk keberadaan Pulau Kapal China dan Pulau Daging. Sejauh ini, kata Rukhyat, baru sekali orang melakukan penelitian di Menggala, yaitu tahun 1932--1935 dari Belanda bernama I.W. Naarding. Dari hasil kajian tersebut, pusat Kerajaan Tulangbawang terletak di antara 18--20 km arah barat yang diperkirakan di Pagardewa. n WIDODO/M-1

Sumber: Lampung Post, Minggu, 14 Desember 2008

No comments:

Post a Comment

Post a Comment