July 29, 2010

Pembangunan: Kemiskinan di Lampung di Atas Nasional

Bandar Lampung, Kompas - Angka kemiskinan di Lampung tahun 2010 turun sebesar 5,03 persen dibandingkan dengan tahun 2009. Namun, angka kemiskinan tersebut masih terbilang tinggi, bahkan di atas rata-rata nasional.

”Angka kemiskinan memang turun, tetapi tidak signifikan. Secara kuantitas (persentase) masih tinggi,” kata Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung Moh Razif, Rabu (28/7).

Angka kemiskinan di Lampung berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada Maret 2010 sebanyak 1,479 juta jiwa atau (18,94 persen) dari total penduduk setempat. Angka ini turun 5,03 persen dari jumlah kemiskinan tahun sebelumnya, yaitu 1,558 juta orang. Sementara secara nasional, angka kemiskinan sekitar 13 persen.

Razif menjelaskan, kriteria kemiskinan yang dimaksud antara lain mereka yang mengonsumsi total kalori di bawah 2.100 kalori per kapita. ”Kemiskinan ditentukan dari berapa banyak konsumsi yang dihasilkan. Penghasilan hanya salah satu indikator pendukung,” ungkapnya.

Penduduk dikatakan miskin juga karena hanya berpenghasilan rata-rata Rp 202.414 per kapita per bulan. Angka ini disebut indeks garis kemiskinan.

”Tahun ini, indeks keparahan kemiskinan di Lampung turun dari 3,94 menjadi 2,98. Artinya, pengeluaran penduduk semakin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangan menyempit,” ujar Razif.

Karakter kemiskinan di Lampung juga sangat berbeda dibandingkan dengan daerah lain. Jika secara nasional kemiskinan mayoritas terjadi di perkotaan, di Lampung, sebagian besar penduduk miskin justru tinggal di pedesaan, yaitu 79,61 persen. Jumlahnya cenderung meningkat.

Secara terpisah, menurut Marwan Cik Hasan, Ketua DPRD Provinsi Lampung, kemiskinan di desa terutama dipicu buruknya infrastruktur jalan. Sekitar 75 persen jalan di Lampung dalam kondisi rusak parah.

”Bagaimana mau ke sekolah, menjual hasil bumi, atau berobat ke rumah sakit kalau jalannya saja sudah rusak? Jika mau perbaiki menekan kemiskinan, mulailah dari infrastruktur,” gugat Marawan kemudian. (jon)

Sumber: Kompas, Kamis, 29 Juli 2010

No comments:

Post a Comment

Post a Comment